sua

“Jangan marah...”

Tidak ada jawaban.

“Hajime... ih, jangan marah, dong. Aku kan cuma lupa ngabarin.”

“Aku nggak marah.”

“Nggak marah, tapi wajahnya ditekuk gitu,” tukas Oikawa, seraya menyentuh pipi sang kekasih dengan satu telunjuknya— berharap aura ketegangan yang dikeluarkan pria itu akan segera mereda. “Kamu marah gara-gara udah capek-capek ke kantorku, ya? Maaf, deh...”

“Bukan,” Iwaizumi menghela napas, lantas meraih tangannya yang masih mengambang di udara untuk digenggam, “mungkin buat kamu masalah nggak ngabarin itu hal sepele, tapi aku ada sedikit trauma soal itu.”

Oikawa terdiam. Ia memperhatikan rintik hujan yang mulai membasahi jendela mobil. Mereka masih belum beranjak dari tempat parkir restoran yang Oikawa datangi bersama koleganya. Dan semenjak dirinya masuk ke dalam mobil, Iwaizumi belum mengatakan apa pun. Pria itu hanya menyambutnya dengan tatapan datar, dan bibir yang dikatupkan rapat.

“Apa ada hubungannya sama kejadian pas aku naik gunung itu?”

Sejenak, kembali tak ada jawaban.

“Siapa yang cerita ke kamu?” tanya pria itu pada akhirnya.

“Hanamaki. Katanya kamu sampe nyamperin ke vilanya waktu itu.” Oikawa menghadap ke depan, hanya melirik Iwaizumi dari sudut matanya. “Kamu takut aku ngilang lagi kayak waitu itu?”

Genggaman di tangannya mengerat. Meski begitu, raut wajah pria di sampingnya tetap tak menunjukkan perubahan apa pun.

“Kalau iya, apa menurut kamu itu berlebihan?”

Awalnya Oikawa ingin menjawab iya, tetapi itu lebih karena selama ini tidak ada yang pernah mengkhawatirkannya sampai sejauh itu. Jadi, sedikit banyak ia berusaha memahami kejadian tersebut dari sudut pandang kekasihnya.

Bagaimana seandainya Iwaizumi lah yang menghilang waktu itu?

“Nggak,” Oikawa menggeleng pasti, “kalau aku jadi kamu, pasti aku bakal khawatir juga.”

“Sampai rasanya kayak mau gila?”

Oikawa menoleh otomatis, meminta lewat tatapan matanya supaya pria itu membuat elaborasi lebih jauh.

“Soalnya pas kamu ngilang waktu itu, rasanya aku hampir jadi gila.”

Iwaizumi kini ikut menoleh hingga pandangan mereka saling bersibobrok. Padahal Oikawa tahu love languange kekasihnya bukanlah kata-kata manis. Namun, kalimat yang diucapkan Iwaizumi barusan seperti melelehkan hatinya.

“Segitunya?” tanyanya pelan, merasa sedikit egois karena memerlukan afirmasi.

“Segitunya,” Iwaizumi meyakinkan, dengan genggaman yang semakin mengerat. Pria itu lantas mengangkat tangan mereka yang saling bertaut untuk dibawa ke depan bibir. Oikawa merasakan bulu kuduknya meremang saat punggung tangannya menyentuh permukaan bibir hangat sang kekasih— sungguh kontras dengan cuaca di luar sana. “Tapi aku nggak pernah mau bilang karena aku yakin kamu bakal nganggap itu berlebihan, dan aku nggak mau usahaku deketin kamu waktu itu bakal jadi sia-sia.”

“Aku jadi penasaran...” Oikawa menelan ludah setelah memproses kalimat itu baik-baik, “emang kamu udah suka sama aku dari kapan?”

“Lama banget. Sebelum kamu pokoknya.”

“Ih,” Oikawa kali ini memberi tatapan tak terima, “kok yakin banget kamu duluan yang suka?”

“Waktu pertama kali Matsun ngenalin kita pokoknya,” Iwaizumi berseloroh santai. “Kamu emang inget itu pas kapan?”

“Hah? Itu bukannya...” Waktu kita masih kuliah semester akhir?

“Makanya,” Iwaizumi berujar seolah bisa membaca pertanyaan dalam pikirannya, “mana rela aku kalau kamu jadi ilfeel gara-gara kejadian itu.”

“Aku nggak bakalan ilfeel...” lirihnya sambil merunduk malu. “Lagian menurutku itu nggak berlebihan, kok. Aku malah... seneng kalau ada yang khawatirin segitunya.”

“Ya, tapi jangan dibiasain,” tegur sang kekasih seraya mencubit pipinya hingga Oikawa mengaduh pelan. “Pulang duluan boleh, makan siang sama kolega kamu juga boleh, asal jangan lupa kabarin aku, Tooru.”

“Iya, iya, maaf.... eh—” Oikawa lantas teringat pesan terakhir yang dikirimkan Hanamaki. “Aku dikasih tau Hanamaki, katanya ada cara buat bikin kamu nggak marah lagi.”

Iwaizumi mengangkat sebelah alis. “Gimana caranya?”

Oikawa tersenyum jahil, lalu menarik kedua sisi wajah sang kekasih. Oikawa memperhatikan netra Iwaizumi membulat karena terkejut selama beberepa detik, sebelum miliknya sendiri ia pejamkan selagi memberi pria itu kecupan cepat di bibir.

“Gitu caranya,” ucapnya bangga karena berhasil membuat Iwaizumi kehilangan kata-kata. “Jadi, sekarang kamu nggak— hmph!

Oikawa menarik napas tercekat. Iwaizumi menariknya lebih dekat dengan meletakkan satu tangan di belakang kepalanya, dan tangan lain meraih pinggangnya. Oikawa refleks berpegangan pada lengan sang kekasih saat bibir pria itu membuka kepunyaannya untuk mengeksplor lebih jauh. Badannya semakin terdorong ke belakang seiring ciuman mereka yang semakin intens. Di sudut pikirannya yang masih dikuasai akal sehat, Oikawa bersyukur mobil pria itu memiliki kaca yang gelap.

“Kalau mau minta cium harusnya tinggal bilang. Nggak usah pake alasan kayak gitu,” bisik Iwaizumi di depan bibirnya saat mereka berusaha meraup udara. Ada nada jenaka yang terselip di balik ucapan sang kekasih sehingga membuat pipinya memanas.

“Siapa yang minta ci—”

Namun, Iwaizumi tak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimat tersebut karena lagi-lagi bibirnya dibungkam. Kali ini, Oikawa hanya pasrah dan menikmati radiasi hangat dari tubuh atletis Iwaizumi yang semakin menghimpitnya. Mau di luar ada hujan badai pun sepertinya dia takkan peduli.

Dan mungkin setelah ini, Oikawa harus berterima kasih pada Hanamaki.


Lagi hujan di rumahku... tapi nggak ada yang meluk... sad.

fakeloveros

Sepertinya sudah sepuluh menit lebih Tobio mengamati pria yang mengajaknya pergi di Sabtu sore itu mengobrak-abrik belanjaan mereka dengan panik. Pasalnya, beberapa menit setelah mereka keluar dari arena perbelanjaan menuju tempat parkir, Oikawa tiba-tiba merogoh kantong celananya, lantas berseru kaget bahwa dompetnya tidak ada.

“Ada di dalem kali, om...” ujarnya pertama kali begitu Oikawa terlihat kalang kabut. Ia sudah siap akan kembali ke dalam, tetapi suara resah Oikawa keburu menahan langkahnya.

“Nggak mungkin! Kamu kan tadi liat sendiri om habis bayar belanjaan kita. Duh, keselip apa, ya?”

Dan begitulah awal cerita bagaimana kini mereka berada di antara mobil-mobil dengan Oikawa yang sibuk membuka satu per satu kantong yang mereka bawa. Tobio baru ingin berlutut, dan ikut mencari ketika dari sudut mata ia menangkap ada seseorang yang tengah berlari ke arah mereka. Dirinya lantas menegakkan tubuh, dan langsung terperanjat begitu menyadari sosok bersurai jingga lah yang tengah menghampirinya.

“Hina... ta?” bisiknya tak percaya dengan netra yang terbelalak lebar. Oikawa, mungkin karena mendengar bisik keterkejutannya, ikut menoleh ke arah titik pandangnya.

“Hinata? Hinata yang suka rebutan lapangan sama kamu itu?” Oikawa ikut bertanya, untuk sedetik melupakan masalah dompet yang hilang. Namun, ia hanya mampu membisu karena kini sosok itu semakin mendekat. Ini pertama kalinya Tobio melihat pemuda itu mengenakan pakaian lain yang bukan seragam. Dan harus diakui, Hinata terlihat... berbeda dalam balutan kemeja flanel kotak-kotak hijau, serta kaus putih polos di dalamnya.

(Tobio tidak sadar dia menatap lebih lama dari seharusnya.)

Barulah saat pemuda itu berhenti di hadapannya, dengan napas tersengal dan peluh bercucuran, Tobio tersadar dia harus mengatakan sesuatu.

“Lo... ngapain?” tanyanya, sedikit tersendat karena masih tidak memercayai kenyataan bahwa mereka bertemu di luar sekolah, dan terlebih lagi bukan untuk berebut lapangan.

“Ini...” Hinata memulai, berusaha meraup udara sebanyak mungkin supaya mampu berbicara dengan lebih jelas, “tadi... gue liat pas lo keluar... eh, ini... jatoh. Kayaknya punya om lo...”

Tobio menunduk, dan menemukan sebuah dompet tengah dijulurkan Hinata padanya. Sebelum dirinya sempat bereaksi, Oikawa lah yang terlebih dulu bangkit dari posisi jongkok, dan terpekik senang.

“Eh, iya! Ini dompet om! Ya, ampun... ternyata jatoh, ya!”

Hinata mengangguk, lantas menyerahkan dompet tersebut kepada sang empunya yang kini tak lagi terlihat seperti hampir menangis.

“Saya nggak buka dompetnya kok, om. Jadi harusnya sih masih aman isinya...” ucap Hinata sedikit kikuk. Netra madu pemuda itu berulang kali melirik ke arahnya. Kendatipun begitu, Tobio hanya berdiri diam selagi menyaksikan interaksi ajaib tersebut— terlampau bingung untuk mengatakan sesuatu.

“Oh, nggak apa-apa, Hinata! Om percaya kok sama kamu. Makasih banyak ya, udah capek-capek lari sampai ke sini buat balikin dompet om. Duh, coba kalau yang nemuin orang lain! Kan belum tentu bakal ada yang jujur,” balas Oikawa dengan senyum riang. Hinata ikut tersenyum walau raut wajah sang pemuda menunjukkan keheranan.

“Om... tau nama saya?”

“Oh? Tau, dong! Tobio kan sering cerita soal—”

“OM!” Tobio tanpa sadar langsung berteriak untuk memotong pembicaraan yang semakin memasuki zona berbahaya tersebut. Dirinya dengan panik menunduk, dan mulai membereskan plastik belanjaan yang dibiarkan begitu saja oleh Oikawa. “Om, kan udah ketemu dompetnya, ini langsung beresin, dong. Nanti kalau ada yang ilang lagi kan ribet,” omelnya, tanpa berani mengangkat wajah untuk melihat ekspresi keduanya.

Terutama, eskpresi dari Hinata karena Tobio tahu pemuda itu tengah mengamatinya.

“Duh, iya, kamu cerewet deh kayak ayah kamu...” gerutu sang pria sebelum kembali menghadap ke depan, dan melanjutkan perbincangan dengan Hinata. “Eh, ngomong-ngomong, kamu ke sini sama siapa? Habis ini ada acara, nggak?”

“Oh, saya tadi bareng ibu sama adek ke sini. Cuma saya suruh mereka pulang duluan soalnya mau balikin dompet om yang nggak sengaja saya liat jatoh ke jalan.”

Tobio berhenti, lalu mendongak sedikit untuk menatap sang pemuda.

Jadi dia punya adek...

“Eh, serius? Wah, gara-gara itu kamu jadi ditinggal, dong...” tukas Oikawa dengan nada tak enak. “Kalau gitu mau mampir ke rumah om buat makan malem, nggak? Sama Tobio juga. Rumah om nggak jauh kok dari sini, cuma sepuluh menitan. Nanti pulangnya bisa Tobio anter pake motor. Ya, kan, Tobio?”

“Hah?”

Dirinya hanya tercengang— sama sekali tak memiliki persiapan atas 'serangan' mendadak yang dilancarkan Oikawa. Setidaknya, Hinata pun terlihat sama bingungnya meski pemuda itu tetap menyunggingkan senyum lebar.

“Nggak usah kok, om... nggak apa-apa, nanti saya bisa pulang naik angkot atau gojol. Rumah saya juga nggak begitu jauh dari sini,” tolak Hinata sesopan mungkin. Namun, saat mendengar penolakan tersebut, ada sebersit kekecewaan yang terselip di hatinya.

Tobio gatal ingin menampar pipinya sendiri atas pemikiran tak masuk akal tersebut.

“Yah, tapi om mau ngucapin makasih ke kamu, dan kebetulan di rumah om lagi ada banyak makanan! Om denger dari Tobio katanya kamu main voli? Om juga dulu pemain voli loh di SMA, siapa tau kita bisa cerita-cerita. Tobio juga dulu suka voli, nih. Eh, tiba-tiba dia belok ke basket sekarang.”

“Oh, ya?”

Netra sewarna madu itu kembali bergulir ke arahnya, penuh rasa ingin tahu. Tobio otomatis menunduk, dan berpura-pura membereskan kembali kantong-kantong belanjaan mereka.

“Kalau misalnya nggak ngerepotin, sih... saya ada waktu.”

“Nggak kok, nggak! Om seneng malah kalau kamu mau dateng!” sambut Oikawa penuh semangat. “Tobio, nggak apa-apa kan Hinata ikut sama kita?” Pria itu lantas menoleh ke arahnya, dan terselip nada jahil yang membuatnya memutar kedua bola mata tanpa sadar.

Tobio berdeham, kemudian mengangkat semua kantong yang sudah ia kumpulkan ke satu tangan.

“Nggak apa-apa.”

“Pulangnya nanti anterin Hinata juga, ya?”

“Eh, kalau itu nggak usah repot—”

“Iya, nanti aku anter.”

Lagi. Tobio tak berani menoleh ke arah sang pemuda saat memotong penolakan tersebut. Ia hanya melirik sekilas sebelum membalikkan badan, dan mulai berjalan ke arah mobil Oikawa yang terparkir tak jauh dari sana.

Di belakangnya, Oikawa dan Hinata mulai terlibat perbincangan seru. Entah kenapa, ia tidak heran melihat dua orang itu segera menemukan kecocokan. Tobio justru bersyukur karena jadinya tidak perlu repot-repot mencari topik untuk dibicarakan dengan Hinata. Ia cukup mendengarkan.

Tobio hanya berharap kedua orang itu tidak mendengar suara jantungnya yang bertalu kencang.


@fakeloveros

“Katanya mau ngajakin aku jalan-jalan.”

“Ayo.”

Oikawa menunggu— satu detik… dua detik…

“Ayo, tapi kok nggak gerak-gerak?” gertaknya pada sang pria yang justru masih sibuk dengan gawai di tangan. Oikawa merengut, dan mengangkat sedikit badannya untuk diposisikan bertumpu pada dada telanjang sang kekasih. Iwaizumi hanya bergumam, serta menggeliat kecil sebelum kembali fokus menarikan jari di layar gawai.

“Aku jalan-jalan sendiri aja, deh,” ucap Oikawa, begitu dilihatnya sang kekasih tak bergerak juga barang seinci, “paling bakal nyasar doang nanti di sini.”

Iwaizumi mendengus, tetapi setelah itu, tidak mengatakan apa pun lagi.

“Kalau nggak nyasar, paling aku nanti diculik sama bule sini. Nggak apa-apa sih, siapa tau yang nyulik mafia Italia gitu. Kan mereka ganteng-ganteng,” tukasnya lagi, mulai kesal karena sang pria tidak juga memberikan respons.

“Kalau nggak nyasar atau diculik, paling nanti aku—”

“Tooru, sayang, sebentar.”

Oikawa menelan semua kalimat yang hampir terucap saat mendengar titah halus tersebut. Meski begitu, bibirnya tetap dikerucutkan ke depan sembari membuat menanti sang kekasih menaruh atensi padanya.

“Apa? Kamu lagi ngapain, sih?” Oikawa bertanya tak sabar. Pasalnya, ini liburan pertama mereka berdua setelah resmi menjadi sepasang kekasih. Kedua orang tuanya bahkan sudah berbaik hati menawarkan bantuan untuk menjaga Tobio selama kepergian mereka. Cutinya yang menumpuk karena pandemi tahun lalu pun akhirnya bisa dia gunakan sepuas mungkin.

Namun, lihatlah sekarang— bukannya beranjak untuk mulai bersiap atau apa, Iwaizumi justru sibuk dengan layar gawai, dan urusan entah-apa-itu yang membuatnya dinomorduakan begini.

Oikawa menghela napas lelah. Mungkin Iwaizumi memang sedang sibuk sekarang, dan tak bisa diganggu sedetik pun. Ia sudah bersiap untuk beranjak dengan niatan membuat sarapan, tetapi mendadak ada tangan yang menariknya hingga dia kembali terbaring di atas kasur.

“Aduh! Apaan—”

“Kan aku bilang tunggu, Tooru.”

Tahu-tahu, sudah ada Iwaizumi yang mengungkungnya dari atas. Oikawa refleks mendongak untuk memberi akses lebih saat pria itu mulai menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang lehernya.

“Kamu lama, sih... kita udah jauh-jauh ke sini masa mau di atas kasur doang seharian?” gerutunya setengah hati sebab apa yang tengah dilakukan Iwaizumi sekarang justru membuatnya tak ingin segera beranjak. Oikawa memejamkan mata saat ciuman-ciuman kecil itu mulai berubah menjadi gigitan yang ia yakin akan meninggalkan tanda. Kaus putihnya terangkat sepertiga saat ada dua tangan yang terasa kasar di atas kulit mulai menggerayangi abdomennya. Oikawa tak sengaja mengeluarkan desah kecil saat jemari sang pria memberi usapan lembut di dua titik sensitifnya yang sudah mengeras.

Ajakan untuk pergi keluar, dan melihat-lihat pemandangan negara asing itu langsung menguap di udara. Tak perlu diragukan, Iwaizumi benar-benar tahu cara untuk membuatnya terdistraksi.

“Tadi aku lagi milih foto.”

Seperti gelembung sabun yang dipecahkan tiba-tiba, intensitas itu hilang tanpa aba-aba. Tak ada lagi bibir yang menempel di atas kulitnya, atau beban yang menahannya di atas kasur. Iwaizumi menarik diri sehingga Oikawa terpaksa membuka mata.

“Apa?” tanyanya, sedikit linglung akibat perubahan sikap Iwaizumi. Namun, kekasihnya itu hanya tersenyum, dan kembali meraih gawai yang ternyata sempat terabaikan.

“Tobio ngechat aku, katanya aku disuruh ganti foto kontak.”

“Biar apa?”

“Katanya dia bosen liatnya,” jawab Iwaizumi dengan senyum lembut yang belum juga sirna. Oikawa menatap pemandangan itu sedikit lebih lama; tidak bisa memutuskan antara segera mengambil gawainya sendiri untuk mengabadikan, atau justru mencium sang pria sampai mereka kehabisan napas.

Oikawa memutuskan pilihan pertama akan jauh lebih banyak memberinya keuntungan. Untuk sekarang.

“Kalau gitu pake foto baru aja. Sini, aku fotoin,” tawarnya, sambil menjulurkan tangan untuk meraih gawainya yang berada di atas nakas.

“Oh, boleh juga. Nih, pake HP aku aja.”

“Nggak mau. Pake HP aku aja, biar fotonya original dari kamera aku.”

Dari sudut mata, Oikawa melihat Iwaizumi menggeleng tak habis pikir. Kendatipun begitu, kekasihnya menurut tanpa melontarkan protes.

“Gayanya mau gimana?”

“Terserah kamu. Aku ngikut aja,” jawab Iwaizumi pasrah, kentara sekali tak biasa berpose di depan kamera. Pria itu menggaruk tengkuk dengan bingung, sementara Oikawa berpikir keras selagi memperhatikan sekeliling kamar Airbnb mereka.

“Kalau gitu, sini, tiduran aja di sini. Hmm... sambil main HP nih ceritanya. Kayak tadi,” usulnya penuh antusias sembari mendorong Iwaizumi kembali ke posisi semula. Lagi-lagi sang kekasih hanya patuh tanpa mempertanyakan alasan di balik pemilihan pose tersebut.

Oikawa bangkit, dan mundur beberapa langkah. Ia membidikkan lensa, lantas mengambil beberapa pose dari berbagai angle. Setelah selesai, Oikawa tersenyum puas selagi melihat-lihat hasilnya.

“Tuh, aku udah kirimin yang paling bagus.”

“Loh, kok yang dikirim satu doang? Tadi bukannya kamu ngambil banyak?” tanya Iwaizumi, sedikit bingung saat mendapati hanya satu foto yang dikirimkan olehnya. Pria itu terus memperhatikan layar gawai dengan kening berkerut dalam. “Kok wajahku nggak keliatan, sih? Ini adanya badan doang sama jendela.”

“Iya, itu sengaja. Bagusan gitu,” balasnya enteng, seraya mulai mengenakan celana pendeknya yang ternyata semalam terlempar sampai ke ujung ruangan. Oikawa berusaha menggali memorinya bagaimana fabrik itu bisa terlempar begitu jauh. Namun, hasilnya nihil karena yang ia ingat hanya aktivitas panas mereka setelahnya.

“Maksudnya aku bagusan nggak keliatan wajah, gitu?”

“Iya, soalnya,” Oikawa maju, dan memberi ciuman cepat di bibir sang kekasih yang tengah merajuk, “wajah ganteng kamu cuma aku yang boleh liat. Yuk, ah, sarapan. Habis itu kita harus jalan-jalan, aku nggak mau tau. Aku juga mau nyari oleh-oleh buat Tobio.”

Dan sebelum tangan Iwaizumi sempat menariknya kembali ke atas kasur, Oikawa segera melangkah menjauh. Namun, baru tangannya memegang gagang pintu, ia menoleh dan memberi tatapan menggoda dari balik bahu.

“Atau... kita bisa sarapan nanti, terus lanjutin ronde ketiga di dapur?”

Selanjutnya, yang mengisi pagi hari itu hanya tawa berderai milik Oikawa saat didapatinya Iwaizumi buru-buru bangun, dan menyusulnya keluar kamar.

Sepertinya, oleh-oleh untuk Tobio pun terpaksa menunggu.


@fakeloveros

“Sabtu nanti aku mau ngajak Tobio belanja bulanan bareng. Boleh, kan?”

Yang menerima pertanyaan lantas mengangkat muka, lalu meneliti raut wajah sang kekasih yang terlihat tanpa ekspresi. Iwaizumi menghela napas, lantas meletakkan sendoknya.

Sudah sejak minggu kemarin mereka seperti ini— atau lebih tepatnya, Oikawa yang seperti ini; bicara seperlunya, menjawab hanya kalau ditanya, dan acap kali langsung mengalihkan atensi jika pembicaraan mereka sudah terlalu intens.

Iwaizumi tidak tahu di mana letak persis kesalahannya. Dia sudah menggali otak, menerka-nerka segala macam kemungkinan yang membuat hubungan mereka menjadi renggang seperti sekarang. Walaupun Oikawa masih menerima ajakannya untuk pulang pergi bersama, bahkan makan siang di jam istirahat kantor, Iwaizumi memiliki firasat ini hanya aksi formalitas semata dari sang kekasih.

Selama sepersekian detik, netranya bergulir ke sekeliling restoran yang mereka datangi. Letaknya berada di tengah-tengah kantor mereka sehingga tidak akan dibutuhkan waktu lama untuk kembali ke lokasi masing-masing. Iwaizumi pikir, setidaknya dia masih punya waktu tiga puluh menit.

Tiga puluh menit untuk memaksa Oikawa membuka mulut.

“Boleh, tapi,” Iwaizumi memberi jeda, menanti sampai pria di hadapannya benar-benar menatap lurus ke arahnya, “kenapa nggak sama aku aja?”

Tidak ada balasan yang keluar dari mulut Oikawa setelahnya. Pria itu sedikit menggigit bibir dengan ekspresi seolah tengah menghadapi persoalan yang amat sulit.

Iwaizumi menyerah. Selera makannya benar-benar telah menghilang sekarang.

“Tooru...” panggilnya sehalus mungkin; tidak dengan lantang, tapi juga tetap menjaga privasi dengan desibel yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Apa ada yang mau kamu omongin ke aku? Waktu itu kamu janji bakal ngomongin masalah kita, kan? Apa aku ada salah? Kalau iya, aku minta—”

“Jangan,” potong Oikawa cepat dengan tatapan yang semakin nanar. “Jangan minta maaf. Kan aku udah bilang kamu nggak salah.”

“Terus apa masalahnya? Karena kalau dari aku sendiri, aku juga nggak ngerasa kamu ada salah apa-apa.”

Oikawa orang yang suka berceloteh— Iwaizumi yakin akan hal itu. Sekalipun ada keheningan di antara mereka, biasanya hanya jika sang kekasih sedang berkonsentrasi membuat laporan, atau keduanya terlalu sibuk merasai bibir masing-masing.

Yang jelas, tidak pernah ada keheningan seperti ini di masa tiga tahun mereka menjalin hubungan.

Iwaizumi tidak berbohong— perutnya mulai melilit karena tegang.

“Tooru,” panggilnya lagi, kali ini sambil meraih tangan sang kekasih yang terkepal di atas meja. Dielusnya punggung tangan itu sampai sang empunya mendongak, dan menelan ludah dengan susah payah.

“Minggu lalu... aku ketemu mama kamu.”

Gerakannya otomatis melambat. Dari nada yang disematkan Oikawa, pertemuan itu sepertinya tidak menghasilkan sesuatu yang baik.

“Mama kamu... bilang sesuatu,” lanjut Oikawa, dengan mimik wajah seperti orang yang tengah menahan rasa sakit. Refleks, Iwaizumi mengubah posisi tangannya, dan ganti menggenggam jemari milik pria yang dikasihinya.

Padahal, lidahnya sendiri kelu karena firasat buruk yang mulai merambatinya.

“Ini kejadiannya setelah... kamu ngelamar aku waktu itu.”

“Apa?”

Iwaizumi mengerutkan kening. Pernyataan itu baginya terdengar tidak masuk akal karena dia sendiri belum memberitahukan rencana tersebut kepada orang tuanya. Jadi, bagaimana ibunya bisa tahu?

“Aku juga nggak tahu beliau denger dari siapa,” Oikawa buru-buru menyela, mungkin karena melihat tampangnya yang mendadak berubah penuh tanda tanya, “tapi habis itu... mama kamu nanya ke aku...”

“Nanya apa?” tanyanya cepat, ingin segera meluruskan masalah apa pun itu di antara mereka. Mungkin selama ini orang-orang melihatnya sebagai sosok yang kuat; pria dengan pekerjaan stabil, sudah memiliki rumah, bahkan “keluarga kecil” versinya sendiri. Namun orang-orang di luar sana tidak tahu bahwa penopangnya selama tiga tahun belakangan adalah Oikawa. Iwaizumi pun tidak mengira dia akan merasa sebergantung ini pada sang kekasih.

Pikirannya berkelana ke tiga tahun belakang, dan membayangkan kemungkinan buruk apa yang akan terjadi seandainya dia tidak bertemu Oikawa, atau memberanikan diri memulai hubungan serius dengan pria itu. Kenyataannya, hubungan asmara yang pernah dijalaninya selama ini tidak pernah ada yang bertahan lama. Namun dengan Oikawa, Iwaizumi justru yakin untuk mengambil langkah yang semakin jauh.

Hanya dengan Oikawa.

Jadi, jika ada sesuatu, atau seseorang yang menghalangi hubungan mereka, Iwaizumi bersumpah akan melawan penghalang tersebut; tidak peduli meski dilakukan oleh orang terdekatnya sekalipun.

“Mama kamu nanya, apa kamu yakin mau sama aku buat seterusnya...? Gimanapun, kita sama-sama pria dewasa. Bisa bangun keluarga sendiri. Bisa...” Oikawa berhenti, tatapan pria itu seolah menyiratkan lebih baik memotong lidah sendiri daripada melanjutkan pertanyaan apa pun itu yang telah dilontarkan ibunya.

Sayang, tidak perlu seorang jenius untuk menebak kelanjutan kalimat tersebut.

“Bisa... punya keturunan sendiri.”

Dan saat Oikawa memalingkan muka, saat pria itu menarik napas dalam-dalam, maupun saat genggaman tangannya dilepas, Iwaizumi tahu siapa yang harus dia hadapi;

orang tuanya sendiri.


@fakeloveros

Rasanya seperti mengulang memori saat Oikawa pertama kali berkunjung untuk makan malam bersama keluarga kecil itu. Saat ia dengan gamblang menyampaikan ketertarikannya, dan — mungkin — semenjak itu pula mulai ada yang berubah di antara mereka.

Mereka— tidak hanya dengan Iwaizumi, tetapi juga Tobio.

Entah bagaimana dua nama itu berhasil membuat hidupnya yang mundane di tengah pandemi menjadi lebih... memacu adrenalin.

Terutama, si yang lebih tua.

“Nanti kamu pulang, nggak?”

Pertanyaan sang Ibu memecah konsentrasinya yang tengah sibuk menarik benang dari sweater cokelat kesayangannya.

“Hah? Ya pulang lah, Bu!” jawabnya, dengan pipi yang mulai mengeluarkan semburat karena maksud tersirat dari pertanyaan barusan. “Lagian kan Tobio di sini, nanti kalau aku nggak pulang gimana?”

Ibunya malah menaik-turunkan alis dengan gaya menggoda.

“Kalau kamu nggak pulang, ya Tobio nginep aja di sini. Apa susahnya?”

Oikawa menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan imajinasi liar yang sempat terlintas akibat perkataan ibunya. Ia berputar sedikit untuk memeriksa penampilannya sekali lagi di depan kaca sebelum menghadap sang Ibu.

“Nggak, Ibu. Aku bakal pulang kok malem ini,” jawabnya tegas.

“Oke,” sang Ibu membalas ringan. “Tapi kalau sampe jam sebelas nanti batang hidung kamu nggak muncul juga depan pager, ibu kunciin, ya.”

Oikawa lantas memutar bola mata, sudah terlanjur kehabisan kata untuk membalas ibunya.

“Tobio di mana, ngomong-ngomong? Di kamar ibu, ya?” tanyanya saat berjalan beriringan dengan sang wanita menuju pintu keluar. Sejak kedatangan Tobio tadi sore, ia hanya sempat mengobrol dengan anak itu sebentar sebelum dirinya pun bersiap-siap.

“Iya, lagi main noh sama opa-nya.”

“Kalian tuh kenapa, sih... Ibu juga nyuruh Iwaizumi manggil Ibu, kan? Udah kayak apaan aja, deh...” gerutunya sembari memakai sepatu. Ibunya hanya mengeluarkan cengiran lebar selagi bersandar di dekat pintu.

“Kamu tau nggak ucapan itu adalah doa? Apalagi ucapan orang tua. Itu kan sama aja doa biar kamu sama Mas Iwaizumi tuh hubungannya lancar.”

“Iya deh, aku aminin aja dulu...” tukasnya pasrah. “Ya udah, Tooru dinner dulu sama Mas Ganteng ya, Bu, hehe.”

“Halah, kamu nih sendirinya kesenengan! Ya udah, sana! Salam buat Mas Gantengmu itu.”

Setelah berpamitan dengan ibunya, Oikawa melangkah ringan menuju rumah dengan pagar hijau yang telah didatanginya puluhan kali. Meski jantungnya sendiri berdetak tak karuan, kali ini ia tidak ragu untuk melangkah lebih cepat. Diam-diam, ia pun telah sangat menantikan malam ini.

Aku gak mau ada yang interupsi kita lagi nanti.

Oikawa sampai berhenti sebentar untuk menenangkan jantungnya karena mendadak teringat dengan kalimat yang ditulis Iwaizumi tempo lalu. Kalau dirinya tokoh dalam komik, pasti sudah ada asap yang keluar dari atas kepalanya sekarang.

“Ah, gila... gue kenapa jadi kayak ABG gini, sih?” gumamnya, bertepatan dengan kaki yang berhenti di tempat tujuan. Baru tangannya ingin mengirim pemberitahuan bahwa ia telah tiba, pintu rumah itu tiba-tiba terbuka dan Iwaizumi melangkah keluar untuk menyambutnya.

“Padahal aku belum ngasih tau kalau udah dateng?” Oikawa mengangkat satu alisnya dengan heran. “Jangan-jangan kamu nungguin depan pintu, ya?”

Iwaizumi tersenyum, dan membalas singkat. “Feeling aja.”

Oikawa tidak merespons jawaban absurd tersebut dan langsung mengikuti Iwaizumi masuk ke dalam. Begitu pintu ruang tamu tertutup di belakangnya, hidungnya langsung disambut oleh berbagai aroma lezat.

“Damn...” Oikawa berbisik takjub. “Kamu masak apa aja malem ini?”

“Obviously, pasta,” Iwaizumi tersenyum lebar kemudian menuntunnya ke meja makan yang malam itu penuh dengan berbagai hidangan. Matanya berkilat penuh kagum saat memandangi masakan yang bahkan tak ia ketahui namanya. “Sama masakan Italia lainnya. Biar lengkap.”

“Wow.” Rasanya Oikawa ingin melemparkan ratusan pujian, tapi yang sanggup ia keluarkan hanya satu kata tersebut. “Ini ada apa aja?”

“For starter, ada yang namanya Bruschetta. Ini semacam grilled bread gitu yang di atasnya pake simple toppings. Kalau ini... kamu tau lah ya, aku bikin pasta carbonara. Terus aku juga bikin Risotto kalau misalnya nanti kamu belum kenyang. Oh, terus dessert-nya ada Tiramisu Cake di kulkas.”

Oikawa hanya melongo mendengar penjelasan tersebut. Ia memang sering menggoda pria itu untuk membuatkannya masakan enak di acara makan malam mereka hari ini, tetapi apa yang ada di depan matanya sekarang benar-benar di luar dugaan.

“Sama ini...”

Oikawa menengadah. Matanya bersibobrok dengan Iwaizumi yang tahu-tahu tengah mengangkat sebuah botol tinggi dengan label dalam tulisan asing.

“Wine?” tebaknya sedikit ragu.

“Barbaresco.” Kata asing itu mengalun lancar dari bibir Iwaizumi. “One of the finest red wine in Italy. Dia punya aroma yang lebih kuat dibanding rasa. Aku nggak tau kesukaan kamu apa, tapi ini salah satu wine favoritku.”

“No, this is... fine. Thank you,” lirih Oikawa yang benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa, atau bereaksi bagaimana. Tangannya mendadak gatal ingin meraih pria itu untuk— apa saja.

Memeluknya, atau menciumnya sekalian, mungkin.

“Aku udah janji bakal masakin sesuatu yang enak buat kamu malem ini, jadi aku harap... yah, kamu emang bakalan suka.”

Untuk pertama kalinya, Iwaizumi terlihat malu saat melontarkan ucapan tersebut. Pria itu menyentuh tengkuk dengan gestur gugup. Sebuah pemandangan yang benar-benar jarang terlihat.

Oikawa tersenyum, lalu melangkah pelan supaya mereka bisa saling berhadapan. Kegugupannya sendiri mendadak hilang. Oikawa bahkan tidak peduli seandainya nanti ternyata masakan Iwaizumi hambar atau kelebihan garam.

Ia hanya ingin menenangkan pria itu.

“Aku yakin masakan kamu lebih enak dari punya Daichi.”

Iwaizumi mendengus. Pria itu ikut mengguratkan senyum kecil sebelum berputar dan menarik kursi untuk mempersilakannya duduk.

“Kalau soal itu, nggak usah ditanya lagi.”


“Sumpah, saranku nih ya, kamu sama Daichi keluar aja deh dari kerjaan masing-masing terus buka restoran! Aku mau kok yang jadi ngurusin keuangan kalian.”

Ada tawa rendah yang menyusul setelah kalimat itu terlontar. Oikawa sendiri hanya tersenyum lebar selagi mengamati pria yang terlihat santai malam itu dengan kemeja flanel dan kaus hitam di baliknya.

“Oke, aku mau ngaku. Sebenernya aku nanya resep-resep itu juga ke Daichi, bukan belajar sendiri,” ucap Iwaizumi sambil meraih botol wine yang ada di atas meja untuk dituangkan kembali ke gelas mereka berdua. “Walaupun spesialisasi dia lebih ke masakan lokal, sih.”

“Still,” Oikawa menukas lambat. “Menurutku masakan kamu lebih enak dari dia.”

Oikawa mengangkat gelas untuk menyesap substansi merah di dalamnya. Ia memperhatikan obsidian yang balik memandangnya lekat itu dari balik gelas. Untuk sesaat, tidak ada yang memecah sunyi, dan mereka hanya saling beradu pandang penuh arti.

Oikawa tidak ingat kapan mereka menghabiskan semua hidangan yang di atas meja. Namun di detik perutnya seperti akan meledak dan dirinya tidak bisa bergerak lagi, Iwaizumi mengajaknya bersantai di depan TV yang, seperti hari Selasa lalu, dinyalakan hanya sebagai pengisi latar belakang.

Mereka duduk di sofa yang sama, saling berhadapan, dengan segelas wine masing-masing di tangan. Sepertinya, dengan pikiran yang sudah agak berkabut pula meski Oikawa bersumpah ia masih bisa berpikir jernih.

“Kenapa kamu mau jadi athletic trainer?” tanya Oikawa yang akhirnya memutuskan untuk memecah kesunyian tersebut. Ia meletakkan gelasnya di atas meja dan memiringkan badan dengan satu tangan yang menopang kepalanya. Jarak yang memisahkan terlalu tanggung untuk disebut dekat, tapi juga tidak sangat jauh sampai Oikawa tidak bisa menghidu aroma parfum pria itu.

“Aku... seneng aja. Ngetraining para atlet. Knowing that I can help them to reach the peak of their best condition.”

Jawaban menerawang Iwaizumi membuatnya bergumam panjang. Ada perasaan puas karena bisa mengetahui satu hal lagi tentang pria itu malam ini.

Iwaizumi mengalihkan atensi ke arahnya. Kali ini ikut menopang kepala di satu tangan dengan senyum malas terukir di wajah tampan pria itu.

“Kamu sendiri kenapa kerja di bagian finance?”

Oikawa mengedikkan bahu. “Nggak ada alasan spesial. Aku cuma suka ngeliatin angka dari dulu. Waktu orang-orang malah jenuh karena apa-apa yang berurusan sama angka itu biasanya bikin pusing, aku malah semangat karena berasa dikasih tantangan.”

“Oh,” Iwaizumi merespons singkat. “Kita sama soal itu. Suka tantangan.”

Oikawa mengawasi dalam diam saat tangan pria itu terjulur pelan dan menyentuh lututnya yang dilapisi jeans. Ia tidak mengatakan apa-apa, bahkan saat tangan pria itu naik sedikit dan mulai membuat pola abstrak di atas pahanya. Sentuhan pria itu sehalus kapas, tetapi efeknya seperti ada puluhan aliran listrik yang berlomba-lomba mencapai jantungnya.

“Aku nggak yakin kita lagi ngomongin soal tantangan yang sama,” godanya jahil, yang lebih atas rasa penasaran dengan jawaban pria itu selanjutnya.

“Humor me,” pria itu menukas santai dengan gerakan tangan yang belum berhenti. Oikawa bergidik sedikit saat tangan lebar sang athletic trainer mulai memberinya pijatan pelan.

“Menurutku,” Oikawa menggeser duduknya untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Tangan pria itu otomatis mengejarnya, seperti ada muscle memory yang sudah melekat. “Kalau kita ngomongin soal tantangan, kamu yang lebih sulit di sini.”

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi.

“Am I the challenge in this relationship?”

“Is there a relationship to begin with?”

“Oh,” lagi-lagi Iwaizumi membuat ekslamasi yang sama seperti beberapa menit sebelumnya. “Aku tau ini arahnya ke mana.”

Oikawa tersenyum. Tersenyum yang benar-benar— tersenyum. Namun dia tidak berusaha membuat elaborasi lebih lanjut, atau membenarkan dugaan pria itu. Dia ingin Iwaizumi sendiri yang memutuskan.

“Humor me,” balasnya dengan kalimat yang sama— sedikit menahan napas saat mendadak Iwaizumi mencondongkan tubuh, dan meletakkan satu tangan di atas pinggulnya.

“Sebelum itu,” Iwaizumi memulai, dengan bariton yang terdengar lebih berat di telinganya. “Apa boleh aku cium kamu?”

Walaupun tahu semua ini akan mengarah ke mana, atau bagaimana sejak awal Iwaizumi terus menatap bibirnya sehingga ia dengan sengaja selalu mengecap kedua bilah miliknya itu, Oikawa tetap saja dibuat terkejut dengan kegamblangan sang pria. Entah membutuhkan waktu berapa lama supaya dirinya terbiasa.

Meski begitu, Oikawa tidak ingin memperbolehkan dengan mudah.

“Tergantung. Kalau habis ini kamu—”

“Iya, Oikawa, habis ini aku bakalan bilang suka ke kamu puluhan— nggak, bahkan ratusan kali kalau perlu. Dan kita bisa mulai hubungan apa pun itu yang kamu mau asalkan—”

Oikawa meraih kedua sisi wajah pria itu dengan tidak sabar, dan sebelum apa yang mereka nantikan terealisasi, ia berbisik tepat di sekon yang sama.

“Kamu banyak ngomong.”

Setelahnya, semuanya menguap seperti buih sabun. Oikawa tidak ingat makanan apa yang barusan dilahapnya. Oikawa tidak ingat apa yang mereka bicarakan sepuluh atau lima belas menit yang lalu. Oikawa tidak ingat sejak kapan rasa sukanya berkembang menjadi sesuatu yang meledak-ledak seperti ini.

Seperti ciuman mereka yang awalnya terasa seperti diburu waktu— terlalu rusuh. Namun begitu kehangatan, serta aroma cherry dengan sedikit rasa acid dari wine menguasai indra perasanya, Oikawa tidak memedulikan apa pun lagi.

Oikawa memejamkan matanya rapat-rapat. Membiarkan insting menuntunnya, meskipun ia yakin Iwaizumi lah yang membawa pagutan rusuh mereka menjadi lebih pelan. Perlahan. Sensual. Seperti alunan musik yang akhirnya menemukan staccato yang tepat— yang membuat siapa pun mendengar akan ikut memejamkan mata dan terbuai akan indahnya.

Dan saat sang konduktor memberhentikan musik, semua akan ikut menahan napas dan menanti.

Sama ketika akhirnya Iwaizumi memberinya kesempatan untuk menarik napas. Oikawa tetap memejamkan mata dengan dada yang terasa menyempit. Semua perasaan yang sulit terkatakan itu bercampur jadi satu dan membuatnya kewalahan. Ia hanya mampu berpegangan pada kedua bahu sang pria saat garis rahangnya dihidu lambat.

“Ini lebih dari bayanganku.”

Pria itu berbisik pelan. Oikawa bahkan tidak sadar bibir pria itu telah naik dan menetap di daun telinganya. Ia bergidik kembali saat hangat napas pria itu menerpanya di sana.

“Emang... bayangan kamu kayak gimana?” balasnya susah payah setelah mengumpulkan sedikit kewarasan yang tersisa.

“Sama. Kayak gini juga. Cuma kamu tau apa kata orang— yang asli selalu jauh lebih baik dari mimpi.”

Seolah ingin membuktikan pernyataan tersebut, Iwaizumi kembali meraup pinggangnya ke dalam pelukan erat, lantas melumat bibirnya yang tak bisa merasai apa pun lagi selain pria itu. Rasa manis wine di bibirnya seakan menghilang, dan digantikan dengan manis lain yang hanya bisa diberikan Iwaizumi.

Oikawa melingkarkan kedua lengannya di sekitar leher pria itu. Berpegangan erat, meski tahu Iwaizumi tidak akan melepasnya dengan mudah. Satu tangan pria itu ikut naik ke belakang kepalanya, dan memberi tekanan di sana selagi mereka saling memiringkan kepala untuk memperdalam bentuk afeksi tersebut.

Oikawa yakin ia hampir mengeluarkan desahan panjang.

“Sekarang,” Iwaizumi bergumam di depan bibirnya yang terbuka sedikit. Keduanya kembali membutuhkan oksigen, tapi terlampau tak rela untuk saling melepaskan. Oikawa membiarkan napas mereka bersatu di balik sengal masing-masing. “Apa kamu mau nerima aku?”

“Mana,” Oikawa berusaha mengeluarkan kalimat korehen di balik kabut yang semakin menguasai otaknya. “Kata sukanya?”

“Dan barusan kamu bilang aku yang jadi challenge di hubungan ini?” ucap Iwaizumi tak percaya. Pria itu akhirnya mengambil jarak sedikit, meski menurutnya masih sangat dekat karena ia bisa memperhatikan pupil sang athletic trainer membesar saat meraih kedua sisi wajahnya dengan lembut. “Aku suka kamu, Oikawa. Nggak tau sejak kapan. Mungkin sejak kita kenalan di tukang bubur itu. Mungkin juga sejak makan malem kita pertama kali. Atau mungkin sejak nama kamu selalu disebut sama Tobio di meja makan. Dan aku suka, bukan cuma karena kamu udah ikut peduli sama anakku. Atau pengakuan jujur kamu di awal kenapa berusaha deketin Tobio. Tapi aku suka karena... kamu, ya, kamu. Oikawa Tooru. Satu-satunya orang yang berhasil bikin aku penasaran, sampai ngomong nggak pake mikir, sampai bikin aku ngerasa kayak remaja yang baru pertama kali kenal kata suka. Dan itu cuma karena pengen lebih deket sama kamu untuk alasan yang aku sendiri nggak bisa jabarin. Tapi, kalau menurut kamu alasan suka aja udah cukup buat sekarang, aku nggak liat alasan kamu buat nolak. Jadi, apa kamu mau nerima aku?”

“Iya,” kali ini Oikawa tidak perlu berpikir, atau mencari-cari alasan lain yang membutuhkan kevalidan. Jikalau ia masih meragukan pria itu, berarti di sini dialah yang bersikap menyulitkan. “Aku mau.”

“Now,” Iwaizumi menggeram setengah bercanda sebelum menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sudut bibirnya. “Who's the challenge in this relationship?”

Oikawa tersenyum di balik ciuman mereka. Tangannya ikut melingkari pinggang pria itu dan menarik kekasih barunya ke dalam dekapan yang lebih erat. Tiba-tiba terbayang wajah Tobio, dan Oikawa penasaran respons apa yang akan diberikan anak itu jika mengetahui sang Ayah telah menjalin hubungan resmi dengannya. Mungkin, Tobio akan mengajak mereka untuk tidur bertiga lagi.

“Humor me,” balas Oikawa setelah bibirnya diberi kesempatan untuk menjawab. Ia tertawa saat mendengar Iwaizumi berdecak pelan, meski setelahnya tak ada lagi protes dari pria itu karena kali ini Oikawa lah yang maju dan mengikis jarak di antara mereka.

Oikawa tidak yakin dia akan muncul di depan pagar rumahnya sendiri pukul sebelas malam nanti.

End


@fakeloveros

“Coba jawab,” Oikawa meletakkan cangkir tehnya di atas meja, dan kembali menghadap Iwaizumi untuk menatap pria itu lurus-lurus tepat di manik mata. “Apa pendapat kamu dulu waktu pertama kali ketemu sama aku?”

“Hmm...” Iwaizumi terlihat memikirkan pertanyaannya dengan serius sebelum menjawab dengan nada yang sama. “Kamu tinggi, ngingetin aku sama—”

“Please,” Oikawa mengerang, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jangan bilang kayak belalang?”

Iwaizumi tertawa pelan. Mata pria itu tertutup sedikit hingga memperlihatkan bentuk bulan sabit.

“Nggak, tadi aku mau jawab kamu ngingetin aku sama atlet-atlet voli yang tiap hari aku training.”

“Oh.” Oikawa mengangkat wajahnya, lantas mengulum senyum. “Baguslah. Untung kamu nggak jawab aku kayak belalang.”

Oikawa memperhatikan Iwaizumi yang ikut tersenyum kecil selagi meraih cangkir teh milik pria itu sendiri. Mereka sudah selesai — istilahnya — beberes, dan kini tengah bersantai di sofa ruang tengah dengan TV yang dinyalakan dalam volume sangat kecil. Namun tidak ada satu pun yang memedulikan tontonan di layar. Sedari tadi, hanya ada obrolan kecil yang terus berlanjut di antara mereka. Oikawa yang sejak tadi siang dirundung stres karena keadaan Tobio, akhirnya bisa merasa santai karena kehadiran pria di sebelahnya.

“Kamu tau nggak, aku kaget banget pas sadar kalau dulu awal-awal tuh aku dikerjain sama Tobio.”

“Jujur, aku juga nggak tau dia lagi ngerjain kamu waktu itu. Pokoknya dia cuma bilang lagi ngasih tes ke om aneh,” jawab Iwaizumi sambil terkekeh pelan.

“Beneran aku dipanggil om aneh? Emang aku seaneh itu, ya?” tanya Oikawa dengan kedua alis yang saling menyatu. Kalau diingat-ingat lagi, kelakuannya di awal-awal memang sedikit gila— mendadak mengajak seorang anak berkenalan demi mendapatkan sang Ayah. “Astaga, untung aku nggak sampe dikira pedofil atau apa...”

“Mungkin karena Tobio udah nggak aneh lagi kalau dideketin kayak gitu...”

Oikawa merenungi jawaban tersebut. Ia melirik Iwaizumi yang tetap terlihat tenang, dan memutuskan untuk bertanya tentang hal yang selama ini cukup membuatnya penasaran.

“Kata kamu, dia emang sering dideketin kayak gitu sama orang-orang yang tujuannya emang buat deket sama kamu. Terus... yang bikin perlakuan dia ke aku beda tuh apa? Eh, aku bukannya mau sok kepedean atau gimana... cuma... yah, aku yakin kamu paham maksudku.” Oikawa tidak tahu bagaimana harus membuat elaborasi lebih jauh, jadi ia hanya memberikan tatapan penuh arti— berharap Iwaizumi paham akan maksudnya.

“Mungkin karena kamu tetep naruh perhatian sama dia walaupun tau udah dikerjain dan aku pun udah tertarik sama kamu.”

Bukannya dibuat mengerti oleh jawaban lugas tersebut, Oikawa malah dibuat terbatuk-batuk. Ia memukuli dadanya sendiri dengan heboh. Matanya bahkan sampai berair, tetapi ia bisa melihat Iwaizumi hanya tersenyum kecil di balik cangkir yang diangkat dengan tenang.

“Gila, kamu tuh kalau ngomong suka...” Oikawa mengembuskan napas besar-besar sembari berusaha menenangkan diri. Ia memutuskan untuk tidak menyentuh tehnya dulu untuk sementara— takut dibuat tersedak lagi oleh ucapan penuh kejutan dari pria Gemini di sampingnya.

“Sebenernya aku nggak kayak gini orangnya,” seloroh Iwaizumi tiba-tiba.

“Boong banget.”

“Serius.” Iwaizumi ikut meletakkan cangkirnya di atas meja, dan memutar posisi tubuh 180 derajat hingga benar-benar menghadap ke arahnya. “Tapi kalau sama kamu, nggak tau kenapa... aku kayak nggak mikir sebelum ngomong.”

Oikawa kehilangan kata. Ia tidak tahu harus merespons apa.

“Kayak yang waktu itu... aku mau minta maaf lagi karena udah sempet bikin kamu nggak nyaman,” lanjut pria di sebelahnya dengan senyum yang terlihat sedikit menyesal. “Kamu bener, mungkin aku emang agak ketrigger sama masalah Akaashi. Tapi kalau nggak ada soal itu pun, aku sendiri udah yakin... cuma timingnya aja emang nggak pas, ya?”

Oikawa mengeluarkan gumaman tak jelas. Matanya berusaha memandang apa saja asalkan bukan netra penuh rasa ingin tahu yang diarahkan Iwaizumi padanya.

“Apa? Kamu ngomong apa barusan?” tanya pria itu, dengan tubuh yang sedikit dicondongkan.

“Kamu ngomong soal yakin gitu tuh...” Oikawa bisa merasakan pipinya semakin memanas. “Emang kamu udah suka sama aku?”

Tik Tok Tik Tok

Bunyi jarum jam yang sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri membuat Oikawa berkeringat dingin selagi menunggu. Di saat seperti ini, Oikawa membenci dirinya yang selalu haus akan afirmasi. Namun ia teringat dengan perkataan Kunimi; dirinya bukan orang yang suka menebak-nebak. Ia ingin segalanya terpampang jelas, seperti angka-angka dalam setiap laporan yang dibuatnya secermat mungkin.

Dan katakanlah dirinya kekanakkan karena harus meminta kepastian, tetapi kalau Iwaizumi tidak menegaskan soal ini, mau diyakinkan dalam bentuk apa pun, Oikawa pasti akan tetap menuntut jawaban.

“Kalau udah, apa ajakan aku yang waktu itu bakal kamu terima sekarang?”

Sungguh lucu bagaimana yang terpikirkan pertama kali oleh Oikawa justru — ah, ini orang pasti ngomong nggak pake mikir lagi — dan bukannya pikiran yang menyangkal.

Tetapi, begini.

Ajaibnya, alih-alih tersipu seperti gadis SMA yang baru menerima pernyataan suka, kali ini Oikawa menaikkan dagunya sedikit dan membalas tatapan lekat milik sang athletic trainer. Tidak ada yang berusaha memecah keheningan setelah pertanyaan itu diajukan— bahkan tidak ketika Oikawa menyadari tubuh pria itu semakin condong ke arahnya.

“Bisa aja,” Oikawa menjawab per silabel dengan oktaf yang diturunkan. Kali ini ia bisa melihat obsidian di hadapannya semakin jelas— nyaris menyatu dengan bayang-bayang gelap dari layar TV yang tidak seberapa. “Tapi kalau kayak gitu, di mana serunya nanti?”

Iwaizumi mengangkat salah satu sudut bibir, dan perhatian Oikawa otomatis tertuju ke arah sana. Pria itu seperti sengaja, entah untuk mengalihkan atensinya, atau memang ingin menunjukkan maksud dari proksimitas mereka sekarang.

Oikawa mulai bisa menghitung bulu mata yang membingkai kelopak sang pria, dan bunyi detak jantung — entah milik siapa — yang semakin terdengar jelas di telinganya.

“Kamu salah ngomong kayak gitu ke aku.”

Sekarang, Oikawa bisa merasakan hangat embusan napas pria itu menyapu pipinya. Tangannya meremas fabrik celananya sendiri kuat-kuat tanpa sadar.

“Kenapa gitu?”

“Soalnya,” Iwaizumi menjawab lambat seolah memperpanjang detik yang memisahkan mereka. Oikawa menjilat bibirnya yang terasa kering karena terpapar udara, dan Iwaizumi menangkap gerakan itu dengan kedua obsidian yang tak berkedip. “Aku justru suka tantangan.”

Oikawa yakin ini waktu yang tepat untuk memejamkan mata. Ada radiasi hangat yang hampir menyentuh bibirnya, dan ia sudah memantapkan tekad untuk ikut maju menghapus jarak beberapa inci tersebut kalau bukan karena—

“Om Oik...?”

Oikawa tersentak. Refleks, ia mendorong tubuh Iwaizumi menjauh sampai pria itu mengaduh pelan. Oikawa lantas menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Tobio sudah berdiri di samping TV dengan mata yang setengah tertutup. Anak itu membawa gelas kosong di tangan.

“T-Tobio kok bangun? Kenapa? Kepalanya pusing lagi?” Oikawa buru-buru bangkit dan menghampiri sang anak. Wajahnya masih terasa membara akibat mengingat apa yang hampir saja terjadi barusan. Ia berdeham beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya.

Tobio menggeleng pelan. Oikawa mengambil gelas yang ada di tangan anak itu karena khawatir Tobio akan menjatuhkannya.

“Tobio mau minum?”

Kali ini, sang anak mengangguk. Mata Tobio yang tadi masih setengah tertutup kini dibuka sedikit lebih lebar. Oikawa pun berdiri dan berjalan ke arah dispenser untuk mengisi gelas kosong tersebut. Saat melewati sofa, ia berusaha tidak memandang ke arah Iwaizumi yang tengah dihampiri sang anak.

“Ayah kapan pulang?” Samar-samar, Oikawa bisa mendengar Tobio bertanya.

“Tadi jam delapan. Ayah mau pulang cepet, tapi nggak bisa. Untung ada Om Oikawa yang jagain kamu.”

“Om Oik nginep di sini...?”

“Iya, buat nemenin kamu.”

Sekembalinya Oikawa, ia hanya menatap sekilas Iwaizumi sebelum memanggil Tobio untuk kembali ke kamar.

“Om bakal nemenin aku tidur, kan...?” tanya anak itu yang perlahan bangkit dari sofa.

“Iya, makanya ayo balik ke kamar sekarang, biar Tobio istirahat lagi,” jawabnya sambil mengulurkan tangan ke arah anak itu. Tobio menyambutnya, tetapi tidak ikut melangkah dan malah menoleh ke arah pria yang masih duduk diam di atas sofa.

“Kok Ayah nggak ikut...?”

“Ayah nanti nyusul, mau gembok pager dulu sama ngunci pintu depan. Tobio tidur duluan aja sama Om Oikawa.”

Begitu namanya disebut, matanya otomatis bersibobrok dengan Iwaizumi yang sedari tadi ternyata masih memandanginya. Rasanya Oikawa ingin cepat-cepat kabur dari sana, jadi ia menarik lembut tangan Tobio.

“Tuh, nanti Ayah nyusul, jadi ayo Tobio istirahat lagi sekarang.”

Tobio mengangguk patuh. Namun sebelum melangkah lebih jauh, anak itu kembali berhenti dan menengok ke arah sang Ayah.

“Ayah, nanti tidurnya di kamar, ya. Jangan di sofa. Aku mau kita tidur bertiga.”

Oikawa menahan napas menunggu jawaban pria itu. Padahal tadinya ia sudah berencana akan membiarkan Iwaizumi dan Tobio tidur duluan, sedangkan dirinya di sofa. Tapi kalau sudah begini—

“Oke, nanti Ayah pasti tidur di sana juga.”

Obsidian itu masih memandangnya lekat bahkan saat membalas ucapan sang anak. Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain menelan ludah susah payah sebelum memaksakan kakinya untuk bergerak.

Tik Tok Tik Tok

Oikawa tidak bisa menyangkal ketika bunyi jarum jam itu sudah tidak bisa lagi meredam jantungnya yang bertalu kencang.


Besok (semoga) tamat AU-nya... xixixi

@fakeloveros

Iwaizumi tidak ingat kapan terakhir kali dia mengendarai motornya secepat kilat seperti itu. Namun bahkan dengan kecepatan yang biasanya tidak akan ia gunakan, langit yang terlampau gelap seolah mengoloknya bahwa dia tetap terlambat.

“Mas...” Bibi yang sudah bekerja di rumahnya sejak ia mengadopsi Tobio menyambutnya di depan pagar dengan tergopoh-gopoh. Wajah wanita penuh kerutan itu terlihat khawatir meski tetap sigap membukakan pagar, bahkan langsung membantu membawakan tasnya.

“Tobio gimana, Bi?” tanyanya tanpa basa-basi selagi melepas sepatu. “Oikawa masih di sini?”

“Tadi terakhir Bibi cek habis makan malem emang masih anget badannya. Mas Oikawa dari tadi siang masih di sini terus, nemenin Tobio.”

Iwaizumi mengangguk paham. Sebenarnya tentu saja ini bukan kali pertama Tobio terserang demam. Namun keadaan di tengah pandemi seperti ini mau tidak mau membuat kewaspadaannya sebagai ayah meningkat. Walau ia bukan tipe yang kelewat strict terhadap protokol kesehatan, tetap saja berita bahwa suhu badan Tobio yang tadi siang tiba-tiba meningkat membuatnya tak bisa tenang seharian di tempat kerja. Sayangnya, Iwaizumi tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja sehingga ia hanya bisa pasrah dan memantau keadaan Tobio lewat sang Bibi.

Ia sempat menghubungi Oikawa, tetapi pria itu hanya menyarankan agar dirinya tidak panik dan tetap fokus di tempat kerja. Oikawa menambahkan bahwa kemungkinan Tobio hanya terserang demam biasa dan akan terus menemani sang anak hingga dirinya pulang nanti.

Otomatis, kekhawatiran Iwaizumi langsung menyusut setengahnya.

“Bi, ini udah malem, jadi Bibi pulang aja. Udah ada saya ini, jadi nggak apa-apa,” ucapnya dengan perasaan sedikit bersalah karena jadi menahan wanita paruh baya itu lewat dari jam seharusnya. “Kalau besok Tobio masih sakit, kayaknya saya bakal ambil cuti. Bibi datengnya telatan dikit juga nggak apa-apa.”

“Besok Bibi bakal dateng kayak jam biasa kok, Mas... nggak apa-apa. Bibi juga khawatir sama Tobio. Tapi kalau gitu, Bibi pulang sekarang, ya? Mas kalau belum makan, itu masih ada makanan di atas meja, udah Bibi siapin. Mas Oikawa juga belum makan tadi, katanya nanti aja.”

“Oh, iya, nanti saya bakal suruh Oikawa makan juga. Makasih ya, Bi...”

“Iya, Mas, semoga Tobio cepet sembuh, ya. Bibi pulang dulu.”

Setelah menyaksikan wanita paruh baya itu keluar dari pagar, dan memastikan bahwa benar masih ada makanan di atas meja, Iwaizumi melangkah perlahan menuju kamarnya. Asumsinya, kalau ada Oikawa yang menjaga Tobio, mereka pasti ada di kamarnya.

Namun anehnya, ia tidak mendengar suara apa pun.

Apa udah pada tidur...?

Pintu kamarnya tidak tertutup sepenuhnya. Ada celah yang memperlihatkan cahaya dari dalam ruangan tersebut. Ia mendorongnya sedikit, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun agar tidak membangunkan keduanya apabila memang sudah tertidur.

Dugaannya terkonfirmasi saat mendapati dua orang yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Matanya langsung bergulir ke arah Tobio yang tidur dengan kain basah diletakkan di atas kening, dan selimut menutupi sampai dagu. Setelah memastikan tidak ada gejala aneh lagi terlihat di tubuh sang anak, netranya lantas melirik ke arah pria bersurai cokelat yang berbaring miring dengan satu tangan diletakkan di atas selimut anaknya. Masih dengan langkah mengendap-endap, Iwaizumi masuk ke dalam kamar dan memperhatikan dua sosok tersebut dari kaki tempat tidur.

Ia tahu harusnya sekarang khawatir dengan keadaan Tobio, tetapi di saat bersamaan, dirinya tidak bisa menahan rasa hangat yang muncul saat menyaksikan pemandangan di depannya.

Biasanya, kalau Tobio sakit, tidak ada yang bisa ia andalkan selain sang Bibi atau yang paling mendesak adalah meminta bantuan ibunya untuk datang ke rumah. Tapi ia sendiri tidak enak mengambil waktu ibunya, terlebih mereka tidak tinggal di wilayah yang berdekatan meskipun masih satu kota. Jadi begitu ada Oikawa yang dengan sigap langsung menawari—

Tidak. Pria itu bahkan berinisiatif sendiri sebelum Iwaizumi meminta bantuan.

Tidak ingin mengganggu keduanya lagi, Iwaizumi pun memutuskan untuk segera keluar dan menghabiskan sisa malamnya di sofa ruang tamu. Namun baru ia mencapai pintu, ada gumam kecil yang menyebut namanya dari belakang.

“Iwa...?”

Yang dipanggil menoleh, dan mendapati Oikawa setengah bangkit dengan tangan yang mengucek mata. Pria itu mengerjap beberapa kali sebelum memfokuskan tatapan ke arahnya.

“Oh, kamu udah pulang?” bisik Oikawa setelah berhasil mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. “Si Bibi mana?”

“Bibi udah aku suruh pulang tadi. Sori, aku ngebangunin kamu, ya?”

Oikawa menggeleng, dan kali ini benar-benar bangkit untuk mendudukkan diri. Pria itu lantas berpaling ke arah Tobio dan memeriksa kening anak tersebut.

“Tadi siang panas banget badannya, tapi ini sekarang udah mendingan. Dia udah makan sama minum obat juga, tinggal banyakin istirahat aja.” Oikawa kemudian kembali melongok ke arahnya, tetapi dengan pandangan sedikit ragu. “Apa aku... mendingan balik sekarang juga?”

Iwaizumi menelan ludahnya. Ia ingin langsung menjawab jangan, tetapi semenjak kejadian ditolaknya tempo lalu, Iwaizumi sedikit belajar untuk menahan diri dan mementingkan pendapat pria tersebut. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Di tengah konflik batinnya, Oikawa kembali melanjutkan.

“Kalau iya, aku—”

“Nggak usah,” potongnya cepat sebelum ia bisa menahan diri. “Maksudku, kalau kamu nggak keberatan... malam ini gimana kalau kamu nginep di sini aja? Siapa tau... itu... takutnya Tobio nyariin kamu nanti kalau kebangun,” lirihnya terpatah dengan wajah yang sedikit ditundukkan. Namun ia bertekad, bilamana Oikawa tetap bersikeras ingin pulang, dia tidak akan menghalangi.

“Oke.”

Suara halus itu terdengar tak beberapa lama setelahnya. Iwaizumi mengangkat kepala, dan Oikawa tengah menggaruk tengkuknya yang memerah. Namun pria itu tidak melihat ke arahnya sama sekali.

“Aku... bisa stay malem ini kalau kamu emang mau.”

Iwaizumi mengangguk yakin. Ia pun tidak bisa menahan senyumnya yang sedikit keluar, tetapi begitu Oikawa melirik ke arahnya, Iwaizumi langsung memasang wajah serius.

“Tadi si Bibi bilang kamu belum makan. Itu masih ada di makanan di atas meja, gimana kalau kamu makan dulu? Aku mau mandi sama ganti baju juga, nanti aku nyusul.”

Oikawa mengangguk singkat, lantas berdiri dari tempat tidur. Iwaizumi memperhatikan dari sudut mata, pria jangkung itu menunduk untuk memperhatikan kaus putihnya, lalu menukas lirih dengan nada yang terdengar lebih ragu dibandingkan tadi.

“Aku... boleh minjem kaos kamu, nggak? Yang ini udah aku pake dari tadi siang, jadi agak nggak enak rasanya... tapi kalau nggak boleh, aku bisa pulang dulu terus nanti—”

“Nggak usah, nanti aku pinjemin, kok. Kalau kamu mau mandi sekalian juga bisa. Aku ada handuk sama sikat gigi juga kalau kamu mau.”

Oikawa masih terlihat ragu. Pipi pria itu mengeluarkan sedikit semburat yang tanpa sadar Iwaizumi pandangi cukup lama. Namun setelah beberapa detik berlalu dalam keheningan, Oikawa mengangguk juga.

“Boleh... makasih ya, maaf jadi ngerepotin.”

“Ngomong apa, sih? Anggap aja ini ucapan makasih karena kamu udah jagain Tobio.”

Mereka mulai berjalan keluar menuju ruang makan setelah sebelumnya memastikan Tobio tidak terbangun karena gumam percakapan tersebut.

“Tapi aku ikhlas kok jagain Tobio,” balas Oikawa yang terdengar sedikit tidak terima dari belakangnya.

“Kalau gitu,” Iwaizumi berputar, dan hampir saja ia bertabrakan dengan Oikawa yang langsung berhenti akibat manuvernya. Netra cokelat yang sedikit terbuka dengan terkejut tersebut terlihat sangat dekat hingga Iwaizumi harus mengambil satu langkah mundur. Ia bahkan hampir bisa menghidu aroma alami tubuh Oikawa yang bercampur dengan aroma familier kamarnya sendiri— menandakan bahwa sang pria memang berada di kamarnya seharian ini.

“Kalau gitu, anggap aja ini ucapan makasih karena kamu mau stay.”

Iwaizumi tidak tahu apakah Oikawa bisa menangkap maksud lain dari kalimatnya barusan. Namun keterdiaman Oikawa, juga semburat yang semakin terang, membuat dirinya bersorak puas dalam hati sebelum berbalik tanpa menunggu balasan dari pria itu.


@fakeloveros

Senin pagi, dan ia baru melangkah ke dalam ruangan berpendingin udara tempat para coach kerap kali berkumpul, ketika suara menggelegar Kuroo lah yang justru pertama kali menyambutnya.

“Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga!!”

Iwaizumi melengos malas. Ia lantas mendudukkan diri selagi mengeluarkan gawai yang tidak sempat diisi daya baterainya kemarin malam. Ia pura-pura tidak menyadari tatapan lekat Kuroo yang mengikuti setiap gerak-geriknya.

Barulah saat tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk menghindar, Iwaizumi menyerah, dan menghadap ke depan.

“Kalau pertanyaannya susah, gue nggak mau jawab,” selorohnya lebih dulu bahkan sebelum Kuroo membuka mulut. Dilihatnya pria itu mengatupkan bibir sebelum sedetik kemudian mengguratkan seringai lebar.

“Tadinya gue mau interogasi lo soal Akaashi. Tapi ya udahlah, lagian lo juga bilang kalau itu udah cerita lama. Mendingan sekarang... kita bahas soal gebetan baru lo itu. Ayo, sini, keluarin semua kebingungan lo. Dijamin gue bisa bantu.”

Rentetan kalimat itu diucapkan penuh khidmat. Kuroo bahkan meletakkan satu tangan dengan posisi melintang di depan dada seakan membuat jaminan.

Iwaizumi menimbang-nimbang. Sebenarnya ia paling malas mengumbar-umbar kehidupan pribadinya seperti ini. Tapi kalau boleh jujur, ia memang sedang berada di ujung jalan buntu sekarang.

Mungkin tidak ada salahnya mendengar pendapat orang lain, sekalipun itu dari Kuroo.

“Oke.” Iwaizumi menyetujui seraya berdoa dalam hati semoga setelah ini dia tidak akan menyesal. “Di chat terakhir kita, lo ngatain gue bego. Itu kenapa?”

“Goblok. Gue ngatain lo goblok.”

Iwaizumi sudah setengah bangkit untuk minggat dari ruangan tersebut.

“Oke, oke, sebentar. Gue bisa jelasin,” cegah Kuroo buru-buru sambil mengangkat kedua tangan. “Jadi gini loh, Mas Athletic Trainer. Dari sudut pandang gue yang lebih berpengalaman ini, pendekatan lo salah banget. Oke, lo boleh-boleh aja ngegas sama dia. Justru gue sangat mendukung. Tapi,” temannya menekankan satu kata tersebut. “Harusnya lo nggak nembak dia pas kalian baru aja tau bahwa Akaashi yang notabene mantan lo, ternyata temennya dia juga. Kalau kayak gitu, bisa-bisa dia mikir cuma dianggap pelarian.”

“Tapi,” Iwaizumi menyamai nada penuh tekanan yang barusan digunakan Kuroo. “Gue udah bilang kalau Akaashi itu cerita lama. Gue udah bener-bener nggak ada rasa lagi sama dia. Lagian, hei, lo tau sendiri hubungan Akaashi sama Bokuto sekarang gimana. Apa lo pikir gue segoblok itu buat gangguin hubungan orang?” balasnya berapi-api tanpa sadar. Sepertinya baru kali ini dia benar-benar harus memutar otak saat menghadapi seseorang.

Oikawa benar-benar menguji kesabarannya.

“Apa lo bilang ke... siapa namanya? Oikawa, ya? Apa lo bilang ke dia kalau Akaashi udah punya tunangan sekarang?”

Iwaizumi menggeleng. “Karena Akaashi temennya, jadi gue pikir dia pasti udah tau.”

“Oalah...” Kuroo menyenderkan tubuh ke sandaran kursi dengan gaya sok lemas dan menggeleng pelan. “Nggak deh, gue rasa si Oikawa ini belum tau, dan lo juga dengan gobloknya nggak nyinggung soal itu.”

“Bisa nggak,” Iwaizumi meremas dengan kesal gelas kertas bekas kopinya pagi itu sampai tidak berbentuk lagi. “Berhenti bilang gue goblok? Lo tinggal kasih tau, apa yang harus gue lakuin sekarang. Udah.”

“Nggak segampang itu, Amigo. Gue harus mengupas segala hal sebelum ngambil kesimpulan, nih,” balas Kuroo dengan sewot. Pria itu lantas memajukan tubuh dan meletakkan kedua tangan di atas meja dengan sikap mulai serius. “Btw, kenapa lo bisa suka sama si Oikawa ini? Oke, gue tau dia tetangga lo dan deket sama Tobio. Terus? Apa lagi?”

“Dia...” Iwaizumi memperhatikan dinding putih yang ada di belakang Kuroo dengan tatapan menerawang. “Dia keliatan tulus dan emang bikin effort buat deket sama Tobio. Awalnya dia sendiri emang ngaku deketin Tobio buat kenalan sama gue. Dan gue ladenin dia juga karena... pengen tau bakal sejauh mana dia berusaha.”

“Pause dulu,” potong Kuroo sambil mengangkat satu tangan. “Apa yang bedain dia sama orang-orang sebelumnya? Bukannya lo pernah cerita, beberapa orang yang sempet deketin Tobio juga pada punya tujuan yang sama?”

“Bedanya,” Iwaizumi ikut mencondongkan tubuh dan menjawab dengan sorot mata yakin. “Tobio nggak suka sama mereka. Mau dikasih jajanan atau mainan segunung pun, anak gue tetep sebel sama mereka. Yah, walaupun Tobio nggak pernah ngomong terang-terangan, tapi gue sebagai ayah langsung tau lah.”

“Tapi kalau sama Oikawa, Tobio suka? Dan gara-gara itu lo jadi ikutan suka sama si Oikawa ini?” tanya Kuroo dengan sedikit nada skeptis terselip di baliknya.

Iwaizumi mengangkat kedua bahu. “Why not? Ada ungkapan like son like father, kan?”

“Kebalik, gob—” Kuroo mengembuskan napas besar, lantas mendecakkan lidah berulang kali. “Sumpah nggak ada alasan lain?”

“Pertanyaan lo kayak anak SMA tau, nggak? Mesti ada alasan spesifik buat suka sama seseorang. Nih, kalau emang perlu gue jabarin. Dia manis, pinter — apa gue udah pernah bilang dia kerja di keuangan? — emang nggak bisa masak, tapi nggak apa-apa. Dia juga nyambung diajak ngobrol, nyambung sama gue, Tobio, temen-temen gue, bahkan ART yang kerja di rumah gue. Gue bisa liat dia punya ambisi besar, tapi di saat bersamaan dia selfless orangnya. Lumayan playful dan witty, tapi itu nggak menjadikan dia sosok murahan di mata gue. Selain sifat, gue penasaran gimana rasanya jadi temen deket dia. Gue penasaran gimana rasanya jadi orang yang diperlakukan spesial sama dia. Gue penasaran pengen liat dia seserius apa kalau lagi nyusun laporan. Gue penasaran pengen liat dia kalau lagi tidur gimana, kalau lagi ketawa keras-keras, nonton film yang dia suka, atau ngobrol lama sama Tobio. Gue penasaran sama Oikawa Tooru, dan gue nggak mau cuma jadi sekadar temen buat memenuhi rasa penasaran itu.”

Dilihatnya sang teman tercengang. Bibir dan mata pria itu terbuka lebar seolah tidak memercayai apa yang baru saja dilontarkannya. Namun dirinya pun sama. Rasanya sulit dipercaya dia bisa membuat pengakuan sebegitu jujur dan panjang lebar.

“Bro...” Kuroo mengerjap berulang kali sebelum mengeluarkan kalimat selanjutnya. “Kayaknya sepanjang kita kerja bareng, atau temenan, baru kali ini gue denger lo ngomong sepanjang itu.”

“Jangan lebay,” Iwaizumi mendengus sembari melempar gumpalan kertas di tangannya ke tempat sampah. Meski begitu, ia yakin telinganya sudah ikut memerah sekarang.

“Serius gue. Coba kalau lo ngomong kayak gitu pas nembak dia, dijamin bakal langsung diterima!” Kuroo bertepuk tangan heboh— seperti menyaksikan tim voli mereka memenangkan medali emas di pertandingan.

Iwaizumi tidak menjawab. Lebih memilih untuk memperhatikan corak bunga-bunga di dasi Kuroo hari ini seolah itu adalah pemandangan yang paling menarik.

“Tapi, tadi katanya lo penasaran sama dia. Terus kalau udah nggak penasaran lagi, apa artinya lo bakal nggak suka lagi sama dia?”

Iwaizumi mengangkat kepalanya dengan terkejut. Senyum lebar yang barusan terpatri di wajah sang teman kini tersapu bersih, dan digantikan dengan keseriusan lain.

“Soalnya kalau lo ngebet di awal cuma gara-gara itu, lo certified berengsek,” lanjut Kuroo dengan nada dingin. “Dan kalau lo udah punya tanda-tanda kayak gitu, mending bunuh aja ego lo itu dan jauhin si Oikawa sekarang. Bisa-bisa anak lo juga nanti yang jadi korban.”

Rasanya baru kali ini Iwaizumi ingin mengoyak wajah serius temannya itu dengan satu pukulan keras. Bahkan tidak, sekalipun Kuroo pernah melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaan. Baru kali ini, ada yang mendidih di dalam dadanya.

“Perasaan gue nggak sedangkal itu. Cuma karena gue belum lama kenal sama dia, atau alasan yang barusan gue bilang termasuk konyol, bukan berarti gue cuma jadiin ini permainan.”

Oikawa menggertakkan gigi dan menahan tangannya tetap berada di atas meja. Otot-otot sendinya sudah berkedut minta digerakkan untuk menjatuhkan bogem mentah di atas seringai yang kini terpampang lebar. Namun ia berusaha menahan diri.

Itu pertanyaan wajar. Ia sendiri maklum.

“Oke, gue pegang omongan lo. Tapi gue baru bakalan bener-bener percaya kalau lo sama si Oikawa ini udah ada di pelaminan nanti. Until then? Good luck with the chasing,” ucap Kuroo seraya menyenderkan tubuh kembali dengan gaya yang lebih rileks. Namun pria itu langsung meringis dengan wajah penuh rasa bersalah begitu melihat dirinya yang belum bisa santai sama sekali.

“Iwa... aduh, santai aja atuh, gue teh ngetes lo doang tadi. Buat kebaikan lo juga... Tobio juga... Oikawa juga... aduh, itu otot lo biasa aja napa... jangan pukul gue, please...” pinta Kuroo dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.

Iwaizumi mencibir, tetapi menuruti juga apa kata Kuroo dan mulai melemaskan otot-otonya.

“Percuma gue cerita sama lo, nggak dapet apa-apa,” keluhnya dengan wajah datar sementara bangkit dan berjalan menuju dispenser di ujung ruangan.

“Eits, siapa bilang?? Ini gue mau ngasih saran!” balas Kuroo tak terima dengan setengah berteriak. Iwaizumi mendelik ke arah pintu ruangan yang masih tertutup. Namun dia bisa mendengar suara-suara langkah kaki dan gumam percakapan yang menandakan kantor mereka mulai ramai.

“Ya udah, cepetan, apa saran lo? Gue mesti briefing, nih.”

“Tembak lagi aja si Oikawa,” tukas Kuroo dengan wajah sumringah sambil menjentikkan jari. “Kali ini kasih tau juga alasan lo yang panjang itu— OH! Sama jangan lupa kasih tau kalau Akaashi udah punya tunangan!”

Mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum Iwaizumi menghela napas dan kembali ke tempat duduk untuk meraih gawainya. Sekilas, Iwaizumi mendapati notifikasi chat yang belum terbaca dari Tobio. Namun untuk sekarang, ia harus segera keluar dari ruangan ini.

“Beneran nggak guna gue cerita sama lo, Kur,” ucapnya terakhir kali sebelum membuka pintu. Protes dari Kuroo langsung terpotong begitu pintu di belakangnya tertutup.

Namun, Iwaizumi tersenyum dalam hati karena ada hal yang tidak diketahui oleh Kuroo—

bahwa dia memang sudah merencanakan hal itu di acara makan malam mereka nanti. Dan kali ini, ia tidak akan menerima penolakan untuk kedua kalinya dari Oikawa.


@fakeloveros

Oikawa meletakkan gawainya di atas meja, lalu memperhatikan sekeliling ruangan dengan panik. Sebagian dari mereka sudah beranjak untuk mencari makan siang, termasuk teman-teman divisinya. Hanya Yukie, Kenji, dan Hanamaki yang masih setia di kursi masing-masing

“Eh, kalian mau makan siang di mana?” tanyanya, yang langsung menarik perhatian ketiga orang tersebut.

“Mau gofood nih, lo mau ikutan?” jawab Yukie yang langsung sibuk dengan gawai di tangan. “Kan lo lagi nggak bisa jalan jauh juga, mending bareng kita aja.”

“Ng... nggak ada yang mau turun kah? Ke lobi?” tanyanya lagi sambil menggaruk tengkuk dengan gugup. “Ada temen gue soalnya di bawah... ngajakin lunch bareng.”

“Aku mau ke lobi, Kak,” sambar satu suara tiba-tiba dari arah belakangnya. “Mau bareng?”

Oikawa menoleh dan mendapati Kunimi sudah berdiri di sebelah mejanya. Pria itu sibuk memasukkan dompet dan handphone ke dalam kantung, tetapi matanya tertuju ke arah Oikawa.

“Boleh deh, Kun. Nggak apa-apa, kan?”

“Nggak apa-apa, ayo.”

Meskipun hari itu Oikawa memang pergi ke kantor dengan bantuan tongkat, tetapi ia masih membutuhkan orang di samping untuk mengawasi langkahnya. Itu jugalah yang dilakukan Iwaizumi pagi tadi hingga dirinya bisa selamat tiba di dalam kantor. Ia sendiri tadinya berencana menitipkan makan siang pada salah satu teman supaya tidak perlu repot-repot turun ke bawah. Ditambah lagi, jelas-jelas Iwaizumi bilang akan menjemputnya jam empat sore. Lantas kenapa tiba-tiba pria itu mengabarkan sudah menunggunya di lobi?

Apa ini gara-gara isi chat mereka?

Oikawa tentu mempertimbangkan kemungkinan tersebut. Namun tetap saja, ia tidak mengerti alasan Iwaizumi sampai datang mendadak seperti ini.

“Temen Kakak siapa yang dateng?”

Pertanyaan Kunimi memecahkan lamunannya. Ia pun baru tersadar mereka sudah berada di dalam lift, yang untungnya, tidak ada siapa-siapa lagi di sana.

“Si itu, Kun... si cowok beranak satu,” tukasnya pelan selagi menilai pantulan dirinya sendiri di dalam lift. Rapat yang baru berlangsung selama dua jam sudah membuat penampilannya sedikit berantakan, tapi ia bahkan tidak memiliki hasrat untuk sekadar merapikan rambut.

“Terus kok Kakak lemes gitu? Bukannya harusnya seneng?” tanya yang lebih muda dengan raut wajah penasaran. “Lagi berantem ya, Kak? Makanya tadi seharian kayak orang kekurangan ion?”

“Emang keliatan banget, ya?”

“Apanya? Lagi berantemnya, atau kekurangan ion-nya?”

“Ih,” Oikawa menatap Kunimi sedikit kesal. “Ya lemesnya lah! Lagian gue nggak lagi berantem kok sama dia...”

Oikawa menggantung jawabannya sembari menengadah menatap angka lift yang semakin rendah.

Ada pertanyaan besar terlihat jelas di wajah yang lebih muda, tetapi dirinya tidak punya waktu untuk menjelaskan karena di saat yang sama, pintu lift terbuka lebar. Mereka pun melangkah keluar, dan langsung menoleh ke sana kemari.

“Yang mana orangnya, Kak? Itu ya, yang lagi duduk di sofa?”

“Banyak, Kun, yang lagi duduk di sofa...” Oikawa pun ikut mencari-cari dengan matanya.

“Oh, yang itu bukan, sih? Yang lagi nunduk liat HP?”

Mungkin benar anggapan yang bilang bahwa orang akan langsung tersadar jika sedang dibicarakan atau diperhatikan. Begitu Kunimi menunjuk ke satu arah, dan Oikawa mengikuti, Iwaizumi mendongak sehingga mata mereka bertemu pandang.

“Iya, bener itu orangnya. Udah, Kun, sampe sini aja. Makasih banyak, ya.”

Kunimi mengangguk singkat sebelum kembali berbicara. “Nanti kalau mau naik, kasih atau aja, Kak. Aku mau ke kafe sebelah seoalnya, jadi biar sekalian.”

Oikawa mengacungkan jempol, lantas memperhatikan punggung yang lebih muda menjauh. Meski begitu, sisi wajahnya terasa panas karena sadar betul ada yang memperhatikan.

Saat tahu dirinya tak bisa lagi berlama-lama berdiri di tempat, Oikawa menghampiri pria yang kini telah ikut berdiri. Mata pria itu mengawasi lebih intens, seakan takut Oikawa akan tiba-tiba kabur.

Oikawa, berusaha tidak memedulikan suasana canggung yang menyelimuti, langsung memasang senyum terlebarnya.

“Hei, kok jadinya dateng jam segini? Bukannya mau dateng pas jam 4 aja?” tanyanya, dengan suara yang dibuat seceria mungkin.

Awalnya Iwaizumi tak membalas— hanya menatapnya tanpa kata seolah bukan itulah yang terpenting sekarang.

“Aku bawain kamu makan siang.”

Pada akhirnya, Iwaizumi ikut bersuara, meski intonasi pria itu terdengar lebih ragu dari biasanya.

Oikawa menelengkan kepalanya ke satu sisi— baru menyadari bahwa pria itu datang dengan membawa sebuah tote bag di satu tangan.

“Kamu bawain aku makanan?” ulangnya dengan nada takjub yang tak bisa disembunyikan.

Iwaizumi mengangguk, lalu memperhatikan suasana ramai di sekeliling mereka.

“Apa ada tempat di kantor kamu biar kita bisa makan bareng?”

Oikawa refleks mengangguk. Tangannya terangkat, dan menunjuk arah kedatangannya barusan.

“Ada lounge gitu di belokan deket lift sana. Kalau mau, kita bisa makan di sana.”

Tanpa menunggu aba-aba, Oikawa memutar tubuh dan mulai berjalan ke arah yang dimaksud. Ia tidak perlu memastikan apakah Iwaizumi mengikutinya atau tidak karena bisa mendengar jelas langkah pria itu di belakangnya. Jujur saja, tangannya mulai berkeringat karena kegugupan yang sejak tadi ada, kini semakin menyerang dua kali lipat.

Yah, siapa sih, yang tidak akan terkejut saat mengetahui pria yang disuka ternyata mantan dari temannya sendiri? Oikawa pikir, pepatah yang mengatakan dunia itu sempit hanya berlaku untuk beberapa orang, tetapi jelas tidak termasuk dirinya.

Kalau Iwaizumi datang ke sini untuk membicarkan soal itu, apa yang perlu dibahas? Toh, kedua orang itu kan sudah putus.

Ia juga tidak memiliki hak untuk cemburu.

“Di sini nggak apa-apa?”

Oikawa bersyukur saat mendapati ternyata masih ada satu meja bundar dan dua bangku yang kosong. Lounge itu memang disediakan bagi para pegawai yang malas makan di ruangan masing-masing, tetapi tidak ingin sampai kepanasan karena harus keluar gedung. Dan biasanya, lounge itu selalu penuh oleh oleh para pegawai dari berbagai kantor yang menempati gedung tinggi tersebut.

“Nggak apa-apa.”

Iwaizumi menjawab singkat, dan langsung mengikutinya duduk. Oikawa memperhatikan dengan jari yang mengetuk-ngetuk paha, saat pria itu satu per satu mengeluarkan kotak dan peralatan makan.

“Aku bikinin kamu pasta,” Iwaizumi mengumukan, selagi membuka salah satu penutup kotak makan. Langsung saja aroma spaghetti carbonara menguar ke udara dan membuat salivanya hampir menetes. Entah bagaimana, gugupnya seakan ikut terbawa terbang oleh aroma yang menggoda perutnya itu.

“Kamu sempet bikin ini tadi?” tanyanya kagum, lalu menerima tanpa protes garpu yang dijulurkan ke arahnya.

Iwaizumi hanya mengangguk, lantas menunjuk dengan dagu gulungan spaghetti yang menurut Oikawa pantas dijadikan menu restoran bintang lima.

“Ayo, dimakan. Nanti kasih tau enak atau nggak.”

“Hah? Pasti enak lah,” selorohnya, dan tanpa membuang waktu langsung menyuapkan gulungan pertama ke dalam mulut. Begitu indra perasanya bersentuhan dengan makanan tersebut, Oikawa bergumam panjang sekaligus mengangguk-anggukan kepala. “Tuh kan enak! Pake banget!” ucapnya penuh semangat sambil bersiap menyuapkan gulungan yang kedua.

Setelah beberapa saat menikmati hidangan yang memanjakan lidahnya tersebut, Oikawa baru menyadari bahwa Iwaizumi tidak ikut makan. Sang pria hanya menatapnya penuh arti.

“Kok kamu nggak ikut makan?”

“Sebenernya aku ke sini mau mastiin sesuatu.”

Iwaizumi berbicara begitu serius, hingga mau tak mau, Oikawa terpaksa memelankan laju kunyahnya.

“Mau mastiin apa?”

Bisa dikatakan, itu pertanyaan retoris darinya karena ia sendiri bisa menduga ke mana percakapan mereka mengarah.

“Kita... masih oke, kan?”

Oikawa terdiam dengan mata yang membeliak lebar. Ada dua hal yang membuatnya ingin tertawa keras saat itu juga—

pertama, Iwaizumi yang bertanya dengan tatapan khawatir serta intonasi senada,

dan kedua, cara pria itu bertanya seolah-olah menunjukkan maksud bahwa sudah ada sesuatu di antara mereka.

Oikawa tidak tahu mana yang lebih lucu.

“Apa ini soal Akaashi yang ternyata mantan kamu?” Oikawa bertanya dengan satu alis yang terangkat tinggi. Kekhawatiran pria di hadapannya entah kenapa justru membuatnya lebih berani. “Karena kalau iya, jujur, aku emang sempet kepikiran. Tapi, kamu sendiri udah putus lama kan sama dia, jadi apa yang perlu dipermasalahin? Kecuali...”

Oikawa mengambil jeda, dan memastikan netra Iwaizumi tak beralih darinya.

“Kecuali kamu masih punya perasaan sama dia.”

Oikawa baru menghitung tiga detik dalam kepala, ketika Iwaizumi memberinya gelengan mantap. Tak ayal, diam-diam dirinya langsung menghela napas lega karena ketakutan terbesarnya kini tidak terbukti.

“Ada alasan kenapa aku nggak bisa sama dia lagi. Dua tahun itu lama, aku udah nggak punya perasaan apa-apa lagi ke dia.”

Oikawa gatal sekali ingin bertanya alasan kedua orang itu berpisah, tetapi rasanya terlalu pribadi sehingga ia mengurungkan niatan tersebut.

“Kamu masih kontakan sama dia?”

Di situ, barulah Iwaizumi tak bisa langsung memberikan gelengan yang sama.

Ah.

“Maksudku... nggak apa-apa juga kalau kamu masih kontakan. Toh, nggak ada hukumnya juga kan yang ngelarang buat keep in touch sama mantan?” Oikawa tertawa pelan, meski jantungnya kembali berdetak lebih cepat karena ketidaknyamanan. Matanya bergulir ke atas meja— ke arah spaghetti-nya yang tak lagi mengundang selera.

“Tapi aku serius.”

Pernyataan tanpa korelasi tersebut membuat Oikawa mengangkat kepala. Ia menemukan obsidian sang pria masih menatapnya lekat.

“Aku serius mau buat hubungan kita berhasil.”

Pria itu mengulangi, yang justru hanya menimbulkan kebingungan dalam diri Oikawa.

“Kamu... sadar kan, kalau hubungan kita masih sekadar... temen?” tanyanya ragu, merasa omongan pria itu terdengar sedikit ambigu. “Bukannya aku nggak mau naikin hubungan itu ke yang lebih tinggi— heck, bahkan aku yang deketin kamu duluan, tapi emangnya kamu...” udah yakin sama aku?

“Kalau gitu, ayo kita coba sekarang.”

“Apa?” Oikawa hanya sanggup melongo seraya memproses ajakan pria itu barusan.

“Ayo kita pacaran sekarang.”


@fakeloveros

“Kamu ngapain lagi, sih...”

Begitu sapaan yang diterima Oikawa ketika ia melangkah keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Iwaizumi tengah duduk di sofa dekat jendela kamar hotel mereka dengan tangan yang sibuk menari di atas layar handphone. Oikawa tersenyum jahil dan melempar handuknya sebelum menghampiri sang kekasih.

“Apa? Emang aku ngapain?” tanyanya polos sembari melingkarkan tangan di sekitar bahu pria itu dari belakang. Meski mereka menggunakan sabun hotel yang sama, tapi ada aroma khas sang kekasih yang membuatnya menenggelamkan kepala di antara ceruk leher pria itu dan menghidu lebih dalam.

“Nggak usah sok polos, deh. Aku udah liat nih thread yang kamu buat tadi sore di Twitter,” jawab Iwaizumi, dan dengan tangan yang bebas menyentil keningnya pelan. “Rating ciuman? Ada-ada aja.”

Oikawa terkekeh dan menjatuhkan ciuman-ciuman kecil di sepanjang leher kekasihnya. “Nggak apa-apa, dong. Kan biar pada iri sama aku gara-gara bisa nyium kamu, tapi mereka nggak, hehe.”

Iwaizumi mengembuskan napas pasrah. Dari peripheral-nya, Oikawa melihat pria itu masih membaca isi thread yang dia buat dengan saksama.

“Ini,” Sang kekasih tiba-tiba mengetuk layar handphone sebagai gestur ingin minta diperhatikan. “Kamu suka ciuman aku kalau lagi cemburu?”

“Suka.”

“Kalau gitu sini.”

Tanpa memberikan kesempatan bagi Oikawa untuk merespons, Iwaizumi lantas menarik tangannya hingga ia terpaksa berjalan memutari sofa. Tanpa aba-aba, pinggangnya diraih dan Oikawa pun terduduk di atas pangkuan pria itu. Tangannya secara otomatis langsung melingkar di sekitar leher Iwaizumi. Pria itu memberinya tatapan yang biasanya berhasil membuat Oikawa merasa **terintimidasi **sekaligus ingin.

“Kamu tau nggak kalau seharian ini aku habis nahan cemburu?”

Iwaizumi mengeratkan rengkuhan, dan Oikawa menjilat bibirnya tanpa sadar.

“Cemburu kenapa?” pancingnya polos.

“Nggak tau, mungkin karena aku baru sadar kalau liburan ke pantai tuh ternyata ide buruk. Didn't know you'd go shirtless and shit,” gerutu Iwaizumi dari bawah napasnya. Oikawa tertawa pelan karena alasan pria itu benar-benar terdengar konyol.

“Duh, iya lah aku bakal shirtless? Masa aku ke pantai pake sweater?” Oikawa menjulurkan leher dan mencium ujung hidung kekasihnya. “And if we talked about being jealous, harusnya aku nggak sih yang lebih cemburu...? Kamu pikir aku nggak sadar banyak cewek yang ngeliatin badan kamu?”

Untuk menekankan maksudnya, Oikawa menggulirkan netra dari atas ke bawah— ke arah tubuh Iwaizumi yang meskipun tertutup oleh kaus, tetap memperlihatkan lekuk otot hasil olahraga rutin.

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. “Ngapain cemburu? Mereka kan cuma bisa ngeliatin.”

“Oh? Berarti kalau sama aku boleh diapain aja, ya?”

“Iya.” Gantian kini Iwaizumi yang maju dan menjatuhkan kecupan pelan di ujung bibirnya. “Asal aku juga boleh apa-apain kamu.”

Oikawa tidak tahu harus menangis atau tertawa mendengar kalimat tersebut. Tapi ia pun tidak bisa memberi reaksi karena bibirnya terlampau sibuk dilumat oleh sang kekasih. Pagutan yang ritme awalnya lambat itu lama-lama naik hingga hanya deru napas yang mereka kejar. Iwaizumi mengenal tubuhnya lebih dari siapa pun— bahkan mungkin lebih baik dari dirinya sendiri. Pria itu tahu kapan harus memperlambat ciuman untuk memberikan kesempatan menarik napas, atau mempercepatnya kembali hingga hanya pening yang Oikawa rasakan.

Iwaizumi juga tahu kapan waktu yang tepat untuk memperdalam ciuman mereka dan menjelajah setiap incinya tanpa memberikan Oikawa jeda sedikit pun. Nantinya, akan ada tangan yang meremas kuat kaus pria itu karena dari ciuman saja rasanya mampu membuat Oikawa kehilangan akal.

“Coba kasih tau,” Iwaizumi mendadak memberi jarak untuk berbisik di atas bibirnya. “Kalau yang ini ratingnya berapa?”

Otaknya seperti aliran listrik yang terputus— tidak bisa diajak bekerja sama untuk berfungsi. Benaknya terlalu berkabut bahkan untuk sekadar mengingat namanya sendiri.

“Infinity,” jawabnya tak beberapa setelah mampu menyambungkan beberapa gerigi di otaknya. “Kalau sama kamu, ciuman tiap menit juga aku mau. Soalnya enak.”

Iwaizumi tertawa rendah. Satu tangan pria itu naik untuk mengusap rahangnya lembut. Meski begitu, netra yang memakunya intens justru terlihat sangat berlawanan.

“Menurut kamu, apa aku cuma jago di ciuman?”

Oikawa menelan ludah. Ia menggeleng pelan yang disambut dengan senyum miring sang kekasih.

“Mungkin habis ini kamu bisa bikin thread lain soal aku.”

“Thread soal kamu? Misalnya?”

Oikawa tahu ia baru saja melontarkan pertanyaan retoris.

“Gimana kalau aku buktiin dulu? Baru habis itu kamu kasih rating.”

Dan Oikawa hanya bisa terpekik kaget saat Iwaizumi mendadak bangkit. Ia yang tadinya masih duduk di pangkuan pria itu lantas melingkarkan tungkai kakinya agar tidak terjatuh.

Iwaizumi kembali memagut bibirnya sementara pria itu melangkah menuju kasur dan menjatuhkannya di atas permukaan yang empuk. Ia hanya tertawa saat dengan main-main Iwaizumi menggeram kecil dan menggigit bibir bawahnya sebelum ditarik pelan.

“You're shitty, but I love you.”

Oikawa tersenyum di atas bibir Iwaizumi yang juga ikut melengkung lebar.

Iwaizumi tidak perlu membuktikan— ia sudah bisa langsung memberikan penilaian sempurna terhadap apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya sepanjang malam.

Tapi, ide untuk membuat thread lain sepertinya boleh juga.


@fakeloveros