Senin pagi, dan ia baru melangkah ke dalam ruangan berpendingin udara tempat para coach kerap kali berkumpul, ketika suara menggelegar Kuroo lah yang justru pertama kali menyambutnya.

“Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga!!”

Iwaizumi melengos malas. Ia lantas mendudukkan diri selagi mengeluarkan gawai yang tidak sempat diisi daya baterainya kemarin malam. Ia pura-pura tidak menyadari tatapan lekat Kuroo yang mengikuti setiap gerak-geriknya.

Barulah saat tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk menghindar, Iwaizumi menyerah, dan menghadap ke depan.

“Kalau pertanyaannya susah, gue nggak mau jawab,” selorohnya lebih dulu bahkan sebelum Kuroo membuka mulut. Dilihatnya pria itu mengatupkan bibir sebelum sedetik kemudian mengguratkan seringai lebar.

“Tadinya gue mau interogasi lo soal Akaashi. Tapi ya udahlah, lagian lo juga bilang kalau itu udah cerita lama. Mendingan sekarang... kita bahas soal gebetan baru lo itu. Ayo, sini, keluarin semua kebingungan lo. Dijamin gue bisa bantu.”

Rentetan kalimat itu diucapkan penuh khidmat. Kuroo bahkan meletakkan satu tangan dengan posisi melintang di depan dada seakan membuat jaminan.

Iwaizumi menimbang-nimbang. Sebenarnya ia paling malas mengumbar-umbar kehidupan pribadinya seperti ini. Tapi kalau boleh jujur, ia memang sedang berada di ujung jalan buntu sekarang.

Mungkin tidak ada salahnya mendengar pendapat orang lain, sekalipun itu dari Kuroo.

“Oke.” Iwaizumi menyetujui seraya berdoa dalam hati semoga setelah ini dia tidak akan menyesal. “Di chat terakhir kita, lo ngatain gue bego. Itu kenapa?”

“Goblok. Gue ngatain lo goblok.”

Iwaizumi sudah setengah bangkit untuk minggat dari ruangan tersebut.

“Oke, oke, sebentar. Gue bisa jelasin,” cegah Kuroo buru-buru sambil mengangkat kedua tangan. “Jadi gini loh, Mas Athletic Trainer. Dari sudut pandang gue yang lebih berpengalaman ini, pendekatan lo salah banget. Oke, lo boleh-boleh aja ngegas sama dia. Justru gue sangat mendukung. Tapi,” temannya menekankan satu kata tersebut. “Harusnya lo nggak nembak dia pas kalian baru aja tau bahwa Akaashi yang notabene mantan lo, ternyata temennya dia juga. Kalau kayak gitu, bisa-bisa dia mikir cuma dianggap pelarian.”

“Tapi,” Iwaizumi menyamai nada penuh tekanan yang barusan digunakan Kuroo. “Gue udah bilang kalau Akaashi itu cerita lama. Gue udah bener-bener nggak ada rasa lagi sama dia. Lagian, hei, lo tau sendiri hubungan Akaashi sama Bokuto sekarang gimana. Apa lo pikir gue segoblok itu buat gangguin hubungan orang?” balasnya berapi-api tanpa sadar. Sepertinya baru kali ini dia benar-benar harus memutar otak saat menghadapi seseorang.

Oikawa benar-benar menguji kesabarannya.

“Apa lo bilang ke... siapa namanya? Oikawa, ya? Apa lo bilang ke dia kalau Akaashi udah punya tunangan sekarang?”

Iwaizumi menggeleng. “Karena Akaashi temennya, jadi gue pikir dia pasti udah tau.”

“Oalah...” Kuroo menyenderkan tubuh ke sandaran kursi dengan gaya sok lemas dan menggeleng pelan. “Nggak deh, gue rasa si Oikawa ini belum tau, dan lo juga dengan gobloknya nggak nyinggung soal itu.”

“Bisa nggak,” Iwaizumi meremas dengan kesal gelas kertas bekas kopinya pagi itu sampai tidak berbentuk lagi. “Berhenti bilang gue goblok? Lo tinggal kasih tau, apa yang harus gue lakuin sekarang. Udah.”

“Nggak segampang itu, Amigo. Gue harus mengupas segala hal sebelum ngambil kesimpulan, nih,” balas Kuroo dengan sewot. Pria itu lantas memajukan tubuh dan meletakkan kedua tangan di atas meja dengan sikap mulai serius. “Btw, kenapa lo bisa suka sama si Oikawa ini? Oke, gue tau dia tetangga lo dan deket sama Tobio. Terus? Apa lagi?”

“Dia...” Iwaizumi memperhatikan dinding putih yang ada di belakang Kuroo dengan tatapan menerawang. “Dia keliatan tulus dan emang bikin effort buat deket sama Tobio. Awalnya dia sendiri emang ngaku deketin Tobio buat kenalan sama gue. Dan gue ladenin dia juga karena... pengen tau bakal sejauh mana dia berusaha.”

“Pause dulu,” potong Kuroo sambil mengangkat satu tangan. “Apa yang bedain dia sama orang-orang sebelumnya? Bukannya lo pernah cerita, beberapa orang yang sempet deketin Tobio juga pada punya tujuan yang sama?”

“Bedanya,” Iwaizumi ikut mencondongkan tubuh dan menjawab dengan sorot mata yakin. “Tobio nggak suka sama mereka. Mau dikasih jajanan atau mainan segunung pun, anak gue tetep sebel sama mereka. Yah, walaupun Tobio nggak pernah ngomong terang-terangan, tapi gue sebagai ayah langsung tau lah.”

“Tapi kalau sama Oikawa, Tobio suka? Dan gara-gara itu lo jadi ikutan suka sama si Oikawa ini?” tanya Kuroo dengan sedikit nada skeptis terselip di baliknya.

Iwaizumi mengangkat kedua bahu. “Why not? Ada ungkapan like son like father, kan?”

“Kebalik, gob—” Kuroo mengembuskan napas besar, lantas mendecakkan lidah berulang kali. “Sumpah nggak ada alasan lain?”

“Pertanyaan lo kayak anak SMA tau, nggak? Mesti ada alasan spesifik buat suka sama seseorang. Nih, kalau emang perlu gue jabarin. Dia manis, pinter — apa gue udah pernah bilang dia kerja di keuangan? — emang nggak bisa masak, tapi nggak apa-apa. Dia juga nyambung diajak ngobrol, nyambung sama gue, Tobio, temen-temen gue, bahkan ART yang kerja di rumah gue. Gue bisa liat dia punya ambisi besar, tapi di saat bersamaan dia selfless orangnya. Lumayan playful dan witty, tapi itu nggak menjadikan dia sosok murahan di mata gue. Selain sifat, gue penasaran gimana rasanya jadi temen deket dia. Gue penasaran gimana rasanya jadi orang yang diperlakukan spesial sama dia. Gue penasaran pengen liat dia seserius apa kalau lagi nyusun laporan. Gue penasaran pengen liat dia kalau lagi tidur gimana, kalau lagi ketawa keras-keras, nonton film yang dia suka, atau ngobrol lama sama Tobio. Gue penasaran sama Oikawa Tooru, dan gue nggak mau cuma jadi sekadar temen buat memenuhi rasa penasaran itu.”

Dilihatnya sang teman tercengang. Bibir dan mata pria itu terbuka lebar seolah tidak memercayai apa yang baru saja dilontarkannya. Namun dirinya pun sama. Rasanya sulit dipercaya dia bisa membuat pengakuan sebegitu jujur dan panjang lebar.

“Bro...” Kuroo mengerjap berulang kali sebelum mengeluarkan kalimat selanjutnya. “Kayaknya sepanjang kita kerja bareng, atau temenan, baru kali ini gue denger lo ngomong sepanjang itu.”

“Jangan lebay,” Iwaizumi mendengus sembari melempar gumpalan kertas di tangannya ke tempat sampah. Meski begitu, ia yakin telinganya sudah ikut memerah sekarang.

“Serius gue. Coba kalau lo ngomong kayak gitu pas nembak dia, dijamin bakal langsung diterima!” Kuroo bertepuk tangan heboh— seperti menyaksikan tim voli mereka memenangkan medali emas di pertandingan.

Iwaizumi tidak menjawab. Lebih memilih untuk memperhatikan corak bunga-bunga di dasi Kuroo hari ini seolah itu adalah pemandangan yang paling menarik.

“Tapi, tadi katanya lo penasaran sama dia. Terus kalau udah nggak penasaran lagi, apa artinya lo bakal nggak suka lagi sama dia?”

Iwaizumi mengangkat kepalanya dengan terkejut. Senyum lebar yang barusan terpatri di wajah sang teman kini tersapu bersih, dan digantikan dengan keseriusan lain.

“Soalnya kalau lo ngebet di awal cuma gara-gara itu, lo certified berengsek,” lanjut Kuroo dengan nada dingin. “Dan kalau lo udah punya tanda-tanda kayak gitu, mending bunuh aja ego lo itu dan jauhin si Oikawa sekarang. Bisa-bisa anak lo juga nanti yang jadi korban.”

Rasanya baru kali ini Iwaizumi ingin mengoyak wajah serius temannya itu dengan satu pukulan keras. Bahkan tidak, sekalipun Kuroo pernah melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaan. Baru kali ini, ada yang mendidih di dalam dadanya.

“Perasaan gue nggak sedangkal itu. Cuma karena gue belum lama kenal sama dia, atau alasan yang barusan gue bilang termasuk konyol, bukan berarti gue cuma jadiin ini permainan.”

Oikawa menggertakkan gigi dan menahan tangannya tetap berada di atas meja. Otot-otot sendinya sudah berkedut minta digerakkan untuk menjatuhkan bogem mentah di atas seringai yang kini terpampang lebar. Namun ia berusaha menahan diri.

Itu pertanyaan wajar. Ia sendiri maklum.

“Oke, gue pegang omongan lo. Tapi gue baru bakalan bener-bener percaya kalau lo sama si Oikawa ini udah ada di pelaminan nanti. Until then? Good luck with the chasing,” ucap Kuroo seraya menyenderkan tubuh kembali dengan gaya yang lebih rileks. Namun pria itu langsung meringis dengan wajah penuh rasa bersalah begitu melihat dirinya yang belum bisa santai sama sekali.

“Iwa... aduh, santai aja atuh, gue teh ngetes lo doang tadi. Buat kebaikan lo juga... Tobio juga... Oikawa juga... aduh, itu otot lo biasa aja napa... jangan pukul gue, please...” pinta Kuroo dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.

Iwaizumi mencibir, tetapi menuruti juga apa kata Kuroo dan mulai melemaskan otot-otonya.

“Percuma gue cerita sama lo, nggak dapet apa-apa,” keluhnya dengan wajah datar sementara bangkit dan berjalan menuju dispenser di ujung ruangan.

“Eits, siapa bilang?? Ini gue mau ngasih saran!” balas Kuroo tak terima dengan setengah berteriak. Iwaizumi mendelik ke arah pintu ruangan yang masih tertutup. Namun dia bisa mendengar suara-suara langkah kaki dan gumam percakapan yang menandakan kantor mereka mulai ramai.

“Ya udah, cepetan, apa saran lo? Gue mesti briefing, nih.”

“Tembak lagi aja si Oikawa,” tukas Kuroo dengan wajah sumringah sambil menjentikkan jari. “Kali ini kasih tau juga alasan lo yang panjang itu— OH! Sama jangan lupa kasih tau kalau Akaashi udah punya tunangan!”

Mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum Iwaizumi menghela napas dan kembali ke tempat duduk untuk meraih gawainya. Sekilas, Iwaizumi mendapati notifikasi chat yang belum terbaca dari Tobio. Namun untuk sekarang, ia harus segera keluar dari ruangan ini.

“Beneran nggak guna gue cerita sama lo, Kur,” ucapnya terakhir kali sebelum membuka pintu. Protes dari Kuroo langsung terpotong begitu pintu di belakangnya tertutup.

Namun, Iwaizumi tersenyum dalam hati karena ada hal yang tidak diketahui oleh Kuroo—

bahwa dia memang sudah merencanakan hal itu di acara makan malam mereka nanti. Dan kali ini, ia tidak akan menerima penolakan untuk kedua kalinya dari Oikawa.


@fakeloveros