sua

“Serius?”

Dokja mengangguk, untuk yang kesekian kalinya.

“Serius Joonghyuk nggak pernah ngomong sayang?”

Kali ini, dia mengembuskan napas besar sampai poninya ikut tertiup sedikit. Sooyoung telah mengulangi pertanyaan itu setidaknya lima kali dan dia sudah lelah menjawab dengan perkataan yang sama.

”Iya, serius. Lo nanya sekali lagi gue tinggal nih, ya,” ancamnya pada wanita berambut sebahu yang lagi-lagi hanya menganga tak percaya. Dokja menggerutu dalam hati— memang apa salahnya kalau pacarnya nggak pernah bilang sayang?

“Terus lo… nggak apa-apa gitu dia nggak pernah ngomong sayang?”

”Emang kalau pacaran harus banget ngomong sayang?” Tanyanya datar.

Pertanyaannya itu malah mengundang tatapan aneh dari wanita di hadapannya. Dokja hanya merotasikan kedua bola mata, lantas meraih cangkir kopinya yang tinggal setengah. Tangan satunya lagi digunakan untuk mengetuk layar handphone sehingga bisa melihat dengan jelas menit-menit yang sudah mereka lewati di bagian luar kafe. Sooyoung yang paling tidak menyukai suasana gerah, awalnya melontarkan protes karena dia sengaja memilih bagian outdoor. Namun, ini harus dilakukan demi menuruti titah sang kekasih sebelum dirinya berangkat tadi siang.

Biar aku gampang jemputnya.

Dokja bukan orang yang suka diperintah, tapi untuk suatu alasan yang sulit dijelaskan, ia suka melihat Joonghyuk bersikap penuh perhatian terhadapnya. Terlepas dari status hubungan mereka, ia suka melihat pria dengan tampang datar itu menunjukkan kepedulian; jauh dari anggapan orang-orang yang tidak mengenal pria itu dengan baik.

Berbeda dengan dirinya.

“Aneh banget gaya pacaran kalian,” tukas Sooyoung lagi setelah Dokja memastikan dia masih mempunyai waktu sepuluh menit sebelum sosok jangkung itu datang menjemput.

Bukannya tersinggung, Dokja malah tersenyum kecil. “Mungkin buat beberapa orang aneh, tapi karena gue tau Joonghyuk orangnya gimana, itu jadi bukan masalah. Lagian, gue tetep tau kok dia sayang sama gue tanpa perlu dikasih tau,” jawabnya panjang lebar.

Satu alis Sooyoung terangkat naik. “Gimana caranya?”

“Ya bukan lewat kata-katalah. Soalnya Joonghyuk itu… lebih bisa nyampein apa yg dia rasain lewat aksi. Lo pasti paham istilah acts of service, kan? Nah, itu tuh Joonghyuk banget,” jelasnya sambil memainkan sendok kecil yang ada di dalam cangkirnya. Ia lalu mengangkat benda mungil itu dan menunjuk Sooyoung sambil menyeringai. “Lo pasti nggak setuju sama gue.”

“Iyalah!” Tangan wanita itu memukul meja, membuat perhatian beberapa pengunjung teralihkan ke arah mereka. “Menurut gue, yang namanya sayang itu juga perlu disampein lewat kata-kata.”

Dokja hanya tersenyum di balik cangkir kopinya.

Dilihatnya dari sudut mata, Sooyoung sudah membuka mulut untuk— mungkin —menyampaikan argumen lain. Tapi, belum sempat suara wanita itu terdengar, ada interupsi lain yang mendahului.

“Dokja.”

Matanya otomatis mencari sosok pemilik suara bariton tersebut. Begitu dipertemukan dengan netra gelap yang sudah terlebih dulu menyambutnya, ia tersenyum lebar. Di sebelahnya, didengarnya Sooyoung mendengus kecil.

On time banget sih jemputnya. Tenang aja padahal, pacar lo nggak bakalan ilang,” seloroh Sooyoung dengan ekspresi yang dibuat sejutek mungkin. Dokja tak berusaha mencegah ‘pertengkaran’ yang dimulai oleh temannya dan lebih memilih membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Toh, ia sudah terbiasa.

“Tetep bisa gawat jadinya kalau kelamaan sama lo. Nanti pacar gue dapet pengaruh yang aneh-aneh,” balas Joonghyuk tanpa ekspresi— seperti biasa. Sooyoung langsung menjulurkan lidah dan membuat gerakan seolah ingin menonjok, tapi kekasihnya tidak menggubris sama sekali.

Dokja mengenakan tasnya kemudian menjulurkan kedua lengan untuk memeluk Sooyoung sebagai salam perpisahan. “Makasih ya, udah bantuin gue hari ini. Sori nggak bisa lama-lama,” ucapnya sambil mengedikkan kepala ke arah Joonghyuk dengan penuh arti. Sooyoung lagi-lagi hanya mencibir, walau sedetik kemudian, berubah menjadi senyuman tulus.

No problem. Kalau ada yang perlu dibantuin lagi, hubungin gue aja. Cuma lain kali, please! Kita diskusiinnya di indoor aja. Suruh pacar lo masuk ke dalem kafe kalau mau jemput! Jangan manja!” Seru wanita itu keras-keras (yang pastinya sengaja) sambil melepaskan diri dari pelukannya lalu menatap tajam Joonghyuk yang tetap diam membisu. Dokja tertawa kecil dan segera beranjak sambil melambaikan tangan.

“Daah! Nanti gue chat, ya!”

Dokja pun ganti menaruh atensi kepada sang kekasih yang langsung menarik tangannya. Mereka sama-sama berjalan menuju mobil hitam yang sudah terparkir di seberang jalan. Sayangnya, begitu Dokja membuka pintu mobil dan mendudukkan diri di kursi penumpang, ia menepuk jidat karena baru teringat meninggalkan sesuatu di atas meja kafe.

“Eh, sebentar! Aku lupa ada yang ketinggalan di atas meja sana. Tunggu ya, biar aku ambil du—“

Tangannya yang ingin membuka pintu mobil langsung diraih. Mata mengerjap, lalu menoleh bingung ke arah Joonghyuk yang sudah membuka pintu mobil duluan.

“Nggak usah, kamu duduk aja. Biar aku yang ambilin.”

Belum sempat bibirnya melontarkan larangan, pria itu sudah keluar dari mobil dan menyeberangi jalan. Dokja memperhatikan sosok jangkung yang menjauh itu dari jendela sambil merenung.

Tiba-tiba saja, ia teringat dengan perkataan Sooyoung tentang bagaimana sepasang kekasih sewajarnya menyampaikan sayang lewat kata-kata.

Bukannya ia tidak ingin mendengar kata ‘sayang’ terlontar dari bibir Joonghyuk, melainkan apa yang didapatnya kini— apa yang telah diberikan pria itu padanya kini, lebih dari cukup. Walau awal hubungan mereka tidak berjalan mulus, sudah bisa seperti sekarang saja Dokja amat bersyukur.

Rasanya terlalu egois jika dia berharap ‘lebih’.

Lagi pula, memang tidak semua hal perlu disampaikan lewat kata-kata, bukan?

“Nih, udah. Nggak ada lagi, kan, yang ketinggalan?”

Dokja terlonjak saat tahu-tahu suara Joonghyuk menyapa gendang telinganya. Ia baru tersadar sudah melamun cukup lama sampai tidak menyadari kehadiran pria itu. Dokja menerima barangnya yang dijulurkan sambil berterima kasih lalu menggeleng pelan.

“Nggak ada, kok. Yuk, buruan jalan. Nanti keburu macet.”

Divokalkan atau tidak, ia tetap tahu bahwa Joonghyuk menyayanginya.


“Kak, mau balik bareng nggak?”

Kepalanya terangkat mendengar suara pemuda yang sudah terlampau familier tersebut. Setelah memproses selama beberapa detik, barulah dirinya menggeleng.

“Hari ini nggak, nih. Kamu duluan aja.”

Gilyoung mengangguk, kemudian ada suara feminin yang langsung menimpali.

“Dokja pasti mau ke rumah Joonghyuk, ya?

Tahu-tahu, Sangah sudah menghampiri dan berdiri di sebelah kubikelnya. Wanita itu tersenyum, sebagaimana biasanya, kendati ada tatapan menggoda yang membuat Dokja bersemburat merah.

“Kok tau, sih?” Tanyanya, mempertahankan mimik polos yang dipasangnya.

“Tadi aku liat berita, Joonghyuk menang lomba lagi, kan? Jadi tebakanku, kamu pasti bakal ngerayain berdua hari ini di rumahnya,” balas wanita itu sambil membetulkan posisi tas tangan dengan anggun. Sangah tidak langsung beranjak pergi, tetapi malah mengawasi gerak-geriknya dengan tatapan penuh ingin tahu.

”Kenapa?” Dokja yang memiliki insting kuat, langsung memancing wanita itu.

“Nggak… aku masih bingung aja kenapa kalian nggak sekalian tinggal bareng. Kalian, kan, juga udah pacaran lumayan lama.” Ekspresi wanita itu dengan cepat berubah ragu— mungkin tidak enak karena merasa telah ikut campur. “Eh, tapi itu urusan kalian, sih… nggak perlu dijawab, kok.”

Dokja meraih tasnya dan memberi gestur pada wanita itu agar mereka sama-sama berjalan menuju lift. Senyumnya menunjukkan bahwa dia tidak keberatan sama sekali ditanyai seperti itu.

Karena sejujurnya, Joonghyuk pun sering mempertanyakan hal yang sama.

“Hmm… nggak ada alasan persisnya, sih. Cuma butuh waktu sedikit lagi aja sebelum tinggal bareng dia.” Tanpa bisa menahan diri, derai tawanya mengiringi langkah kaki mereka. “Soalnya kebayang kalau udah tinggal bareng dia, pasti bakalan… yah, gitu deh, aku yakin kamu bisa nebak. Kamu tau sendiri Joonghyuk orangnya gimana.”

Sangah mengangguk, kini terlihat paham. “Pasti bakalan jadi lebih protektif?”

“Itu, sama…” Dokja menyeringai, teringat dengan paras kekasihnya yang selalu ditekuk setiap kali dia harus melaksanakan dinas luar kota atau lembur, “bisa-bisa aku disuruh berhenti kerja.”

Sangah ikut tertawa, membuat beberapa pria yang sedang menunggu di depan lift menoleh dan memperhatikan dengan mulut sedikit terbuka. Kencatikan teman wanitanya itu memang tidak pernah gagal dalam mengalihkan atensi setiap pria.

Dan dia merasa beruntung karena Sangah mau berteman dengannya di kantor ini.

“Oke, deh. Kalau gitu, sampein salamku buat Joonghyuk, ya! Oh ya, sekalian sampein selamat karena udah menang lombanya.” Sangah melambai kemudian berjalan ke arah berlawanan begitu mereka telah keluar dari gedung.

“Oke!” Balasnya ringan sebelum menyapukan pandangan ke sekeliling jalan, berusaha mencegat taksi yang lewat. Ia harus segera pergi dari sana sebelum handphone-nya dibombardir dengan pesan yang menyuruhnya untuk cepat datang.

Dokja mafhum— toh, Yoo Joonghyuk memang terkenal sebagai pribadi yang tidak sabaran.


“Hei, selamat, ya…”

Dokja bisa merasakan pelukannya dibalas dengan sama eratnya. Tangannya mengusap punggung lebar sementara kekasihnya menenggelamkan wajah di bahunya. Aroma sabun dan detergen yang menguar menjadi penanda bahwa pria itu pasti baru saja selesai mandi. Sedangkan Dokja merasa dirinya pasti sudah bau matahari bercampur keringat setelah bekerja seharian penuh.

“Hyuk, emang aku nggak bau apa? Mau numpang mandi deh, tapi aku lupa bawa baju ganti,” ucapnya penuh sesal sambil mendorong bahu pria itu. Ia lupa bahwa kekasihnya memiliki tubuh bak batu besar di pinggir pantai sehingga usahanya menjauhkan pria itu tak membuahkan hasil.

“Pake punyaku aja nanti.”

Dokja mengerucutkan bibir, tangannya gatal ingin segera melepas kemejanya yang terasa lengket. Ia tak tahan ingin segera mandi di bawah shower mahal milik sang kekasih. “Baju kamu suka kegedean di aku.”

Mendengar balasannya, barulah Joonghyuk mengangkat kepala. Walau sekilas menampilkan mimik datar, Dokja bisa menangkap tatapan heran di balik iris gelap kekasihnya.

“Lagian kamu ke sini kenapa nggak bawa baju?” Tanya pria itu, terlihat penuh ekspektasi.

“Kenapa aku harus bawa baju?”

Sekarang, Joonghyuk memandangnya seolah di kepalanya tumbuh makhluk aneh.

“Emang kamu bakalan langsung pulang?” Tanya Joonghyuk lagi dengan alis yang saling menyatu, membuat wajah sang kekasih terlihat jauh lebih tampan dari seharusnya.

“Loh, emang nggak?” Dokja bertanya dengan nada sepolos mungkin.

Hela napas pria itu terdengar amat jelas di telinganya saat tubuhnya kembali dipeluk erat. Kakinya bahkan nyaris terangkat dari lantai.

“Jangan pulang. Nginep aja di sini.”

Dokja menggeliat saat Joonghyuk tiba-tiba menjatuhkan gigitan kecil di ceruk lehernya. “Tapi besok aku harus tetep kerja,” protesnya sambil berusaha mendorong pria yang malam itu hanya mengenakan kaus putih dan sweatpants abu-abu— sukses membuat bibirnya kering dan langsung menimbang tawaran menginap barusan.

Ralat. Perintah menginap barusan.

“Padahal kalau kita tinggal bareng, kamu nggak perlu kerja di perusahaan sialan itu lagi,” gumam Joonghyuk sepenuh hati seakan memiliki dendam kesumat terhadap perusahaan tempatnya bekerja.

Setelah berhasil melepas pelukan kekasihnya, Dokja menepuk-nepuk bahu pria itu. Senyumnya terkulum sementara Joonghyuk menampilkan tatapan cemberut (yang sering disalahpahami sebagai ekspresi marah oleh orang lain).

“Jangan harap aku bakal berhenti kerja.”

Tanpa menunggu tanggapan kekasihnya, Dokja langsung melenggang menuju kamar mandi— tahu ada dua pasang mata yang mengikutinya dari belakang.


Dokja punya kebiasaan buruk sering terbangun tengah malam.

Entah karena apa, ia juga masih sulit memahami hingga sekarang. Yang jelas, sulit baginya untuk kembali tidur dan biasanya inilah yang membuatnya terjaga sepanjang malam sehingga pagi harinya dia terpaksa berangkat kerja ditemani lingkaran hitam di bawah mata. Joonghyuk sudah sering menasihatinya soal ini, tapi salah pria itu juga yang memilih berargumen dengan seseorang yang keras kepala.

Tidak terkecuali malam ini.

Dokja terbangun dalam keadaan disorientasi. Ada beban di sekitar pinggangnya yang menghalanginya untuk bergerak. Ia menunduk, berusaha melihat benda apa yang menahan pergerakannya. Baru setelah mengerjap beberapa kali untuk membiasakan penglihatannya dalam gelap, Dokja menyadari lengan Joonghyuk-lah yang tengah memerangkapnya bagai lilitan ular.

Berhati-hati agar tidak membangunkan pria itu, Dokja bergerak perlahan mengangkat lengan yang memeluk pinggangnya erat. Ada lima menit sendiri ia habiskan sebelum akhirnya bisa bangkit dari tempat tidur. Beruntung Joonghyuk termasuk tipe yang tak mudah terbangun meski ada suara sekecil apa pun.

Dinginnya lantai menyentuh kaki telanjangnya. Dokja memeluk tubuhnya sendiri, mencari hangat dari lapisan piyama milik sang kekasih yang membungkusnya. Ia melangkah berjinjit menuju dapur lalu membuka kulkas untuk mencari apa pun yang bisa mengisi perutnya. Sungguh berbeda dengan miliknya, berbagai macam buah, karton susu, yoghurt, serta sayur mayur memenuhi isi kulkas sang kekasih. Tapi itu wajar karena meskipun berprofesi sebagai pro-gamer, Joonghyuk tetap perlu memperhatikan pola makan agar mampu bertanding dalam keadaan prima.

Lain cerita dengan dirinya yang hanya pegawai biasa.

Setelah mengambil satu apel dan sebotol yoghurt, Dokja kembali ke ruang tengah. Dia tidak ingin mengganggu Joonghyuk dengan aktivitas malamnya. Biarlah dia bergelung di sofa sambil membaca webnovel sampai nanti ketiduran.

Begitu mudah rasanya tenggelam dalam dunia fiksi yang dimainkan oleh tokoh protagonis favoritnya. Dalam sekejap, Dokja melupakan lingkungan di sekitarnya dan berandai-andai jatuh ke dalam dunia khayalan— tidak menyadari ada presensi yang perlahan menghampirinya.

“Kamu kebangun?”

Dokja kira, itu hantu yang berbicara karena ia hampir melupakan fakta tengah bermalam di apartemen Joonghyuk. Hampir saja dirinya berteriak kalau bukan karena sosok jangkung kekasihnya segera mengambil langkah lebar dan duduk di sebelahnya. Meski baru terbangun dari tidur, pria itu tetap terlihat tampan dengan baju dan rambut yang sama-sama berantakan. Dokja memberi apresiasi lewat tatapannya, kendati cahaya yang masuk ke ruangan begitu minim.

Berbanding terbalik dengan dirinya, Joonghyuk justru mengkerutkan kening tak suka. Pria itu menjulurkan tangan hingga mencapai pipinya dan memberi usapan lembut di sana.

“Nggak bisa tidur lagi?”

Dokja mengangguk, lantas memejamkan mata untuk menikmati lebih dalam sentuhan sang kekasih.

“Kenapa nggak bangunin aku?” Tanya Joonghyuk lagi dalam suaranya yang terdengar lebih parau— khas orang yang bangun tidur.

“Ngapain? Nanti aku cuma ganggu waktu istirahat kamu. Pagi ini, kan, kata kamu ada meeting penting.” Tangan Dokja ikut terangkat untuk menyentuh pergelangan Joonghyuk. Ia kembali membuka mata dan menemukan iris hitam itu masih memakunya di tempat.

“Kamu juga penting buat aku.”

Bisikan yang mengalun di tengah heningnya malam menjadikan suara pria itu seakan menggema di dalam kepalanya. Di hatinya. Mengalirkan hangat yang bahkan tak dia dapatkan dari lapisan fabrik mahal yang menyelimuti tubuhnya sekarang.

”Makasih,” balasnya tulus, yang kemudian direspons lewat gumaman kecil.

“Ayo, balik tidur lagi. Kalau begadang, nanti pagi kamu bakal keburu capek,” ujar Joonghyuk sambil menarik handphone-nya lembut dari tangan dan meletakkannya di atas meja. Dokja tak menuai protes, pasrah ditarik berdiri dan berjalan kembali menuju kamar.

Sesampainya di ruangan berpendingin udara tersebut, Dokja buru-buru naik ke atas kasur dan menarik selimut. Ia bergelung seperti kepompong, tetapi Joonghyuk justru masih berdiri di sebelah tempat tidur sembari memperhatikannya.

“Kenapa?”

“Kamu mau aku buatin susu anget? Siapa tau bisa bikin kamu jadi ngantuk lagi,” tawar pria itu, yang langsung memunculkan senyum di wajahnya.

“Kamu mau bikinin?”

Joonghyuk mengangguk tanpa suara.

“Kalau gitu mau.”

Dokja pikir, setelah menjawab, Joonghyuk akan langsung pergi menuju dapur. Yang tak diduganya adalah pria itu justru mencondongkan tubuh, menyibak poninya ke belakang, lalu menjatuhkan kecupan kecil di dahinya. Lembut hela napas pria itu terdengar pelan, seolah menyampaikan kata-kata yang jarang disampaikan.

Kata yang menurutnya tak perlu disampaikan dengan keras karena aksi pria itu selalu lebih kencang mendobrak pertahanan jantungnya.

Dan, mungkin, inilah sosok Joonghyuk yang Sooyoung— atau siapa pun —tidak pahami. Karena Yoo Joonghyuk sejatinya adalah epitome dari pemberi sayang yang tahu bagaimana menafsirkannya dalam diam.

Namun, untuk kali ini, ada dorongan ego yang ingin ia penuhi.

Jadi, manakala pria itu hampir menarik diri, Dokja segera meraih lengan kekasihnya dan menatap lurus-lurus sambil bertanya, “Kamu sayang nggak sama aku?”

Detik-detik yang terlewati seakan memberinya jeda untuk menarik napas— mempersiapkan diri untuk menerima jawaban apa pun yang akan terlontar.

(dan ia tahu Joonghyuk tidak akan mengecewakannya.)

“Selalu,” pria itu maju lalu mengunci kedua bilah bibirnya dalam lumatan lembut. “Dan nggak akan pernah berhenti.”

Sayang-nya pria itu memang tidak tersampaikan lantang seperti ekspektasi pada umumnya, tapi Dokja tahu limpahan kasih untuknya tetap ada— ibarat konstelasi bintang yang takkan lenyap, meski langit tak lagi diliputi kelam.


Happy birthday, Yoo Joonghyuk!

Prompts by ‘one hundred ways to say i love you’

no.53 “Sit down, I’ll get it.” no.20 “You can borrow mine.” no.66 “Stay over.” no.84 “You’re important too.”

Hinata benci hari Senin.

Untuk alasan yang sudah jelas, siapa pun akan membenci hari pertama di awal minggu tersebut. Dan Hinata, sebagai pria dewasa yang telah seutuhnya mengabdikan diri di sebuah perusahaan swasta cukup besar, membenci hari itu sepenuh hati.

Setelah melewati hampir setengah jam perjalanan yang menguras tenaga, Hinata akhirnya mampu menghela napas dengan bebas dan mengendurkan ototnya di depan lift. Ia menunggu bersama orang-orang berpakaian rapi, mengutuk hari Senin dalam hati selagi tangannya merogoh ponsel dalam kantung.

Belum sempat mengeluarkan ponselnya, pintu lift akhirnya berdenting dan terbuka. Hinata, merasa beruntung karena memiliki badan yang cukup kecil, segera melesakkan diri untuk masuk. Karena departemennya tidak terletak di lantai yang sangat tinggi, hanya membutuhkan beberapa menit hingga dirinya tiba di tujuan.

Saat pintu lift tertutup di belakangnya, Hinata menghela napas sekali lagi. Belum ada setengah hari berjalan, tapi dia sudah merasa lelah. Apakah memang seperti ini rasanya tumbuh dewasa? Selalu cepat merasa lelah? Padahal dulu sewaktu SMA ia dikenal sebagai pemuda yang kelebihan tenaga— sungguh kontras dengan kondisinya sekarang.

Kakinya melangkah terseok-seok menuju kubikelnya tanpa menyadari sosok jangkung yang baru saja keluar dari pantry dan nyaris bertubrukan dengannya. Hinata berhasil menghentikan langkahnya tepat waktu, dalam hati bersyukur karena refleksnya setidaknya masih setajam saat dulu dia menekuni voli.

Kepalanya mendongak, walau ia sudah bisa menebak sosok yang menghadangnya pagi-pagi begini.

”Tampang lo kacau banget.”

Hinata mendengus— reaksi yang sebenarnya bisa dianggap tidak sopan mengingat pria di hadapannya bukan pegawai biasa. Ia terkadang harus mengingatkan diri sendiri bahwa pria itu merupakan anak tunggal dari petinggi perusahaan mereka.

Atau dengan kata lain, calon pewaris perusahaan tempat dirinya bekerja saat ini.

Kendati reaksinya seperti itu, Kageyama tidak menunjukkan perubahan ekspresi apa pun. Hanya terus menatapnya seolah menunggunya bersuara.

”Ini hari Senin. Siapa yang bakal nyambut Senin pake tampang ceria?” Balasnya lelah sambil melanjutkan langkah. Ia tidak peduli Kageyama mengikutinya atau tidak.

”Tumben lo nggak telat hari ini,” ucap pria itu lagi, yang terdengar lebih seperti pertanyaan. Hinata, yang masih merasa terkuras tenaganya setelah berdesak-desakkan di kereta, langsung mendudukkan diri dan menelungkupkan wajah di atas meja. Ia bergumam tak jelas sebentar sebelum mengintip dari balik lengan.

Kageyama masih berdiri di sebelah kubikelnya— menunggu jawaban.

Dan inilah yang Hinata tidak pahami.

Secara logika, Hinata-lah yang terlebih dulu bekerja di perusahaan itu. Baru setelahnya, manajer divisi mereka mengumumkan bahwa anak pemilik perusahaan akan mulai bekerja di departemen yang sama. Tujuannya— menurut kabar yang tersebar —adalah untuk melatih kemampuan pria itu sebelum benar-benar bisa mewarisi perusahaan. Sungguh khas orang kaya. Hinata yang mendengarnya hanya menganggap berita itu angin lalu. Toh, firasatnya mengatakan ia tidak akan berhubungan banyak dengan anak pemilik perusahaan.

Yang tidak ia sangka adalah sang pewaris ternyata masih sangat muda— seumuran dengannya.

Dan sangat jangkung.

Juga sangat tampan.

Awalnya pria itu tidak banyak berbicara. Para koleganya pun enggan mendekati terlebih dulu karena Kageyama selalu menampilkan ekspresi dingin dan cuek. Ditambah sikap pria itu yang hanya berbicara seperlunya serta baru menjawab setelah ditanya. Hinata pun awalnya enggan berinteraksi, sampai suatu hari ia ditugaskan menyelesaikan suatu proyek bersama pria itu.

Singkat cerita, semenjak itu Kageyama seringkali mengajaknya mengobrol. Walau awalnya masih terbatas soal pekerjaan, lambat laun basa-basi ringan pun mulai banyak dilontarkan pria itu. Hinata menanggapi santai seperti biasa, bahkan mereka mulai saling melontarkan ledekan setelah beberapa minggu berlalu. Menurut anggapannya, Kageyama hanya mulai merasa nyaman karena memiliki teman seusia yang bisa diajak bersenda gurau.

Meski begitu, beberapa koleganya memiliki spekulasi lain.

“Kata aku nih ya,” bisik Sugawara, salah satu seniornya, saat jam makan siang di hari Kamis yang cerah, “Kageyama naksir sama kamu.”

Hinata nyaris menyemburkan nasi yang ada di mulutnya. Ia melihat ke sekeliling dengan panik, berdoa semoga tidak ada yang mendengar omongan asal si pria bersurai perak barusan.

“Kakak ngomong apa, sih?” Tanyanya setelah bersusah payah menelan makanannya. “Mana ada dia naksir aku!”

Sugawara mengangkat satu alis dengan pandangan skeptis— terlihat tidak sependapat.

”Buktinya kamu doang yang suka diajak ngobrol sama dia,” tuduh pria itu sambil menunjuknya dengan sumpit.

Hinata memutar bola matanya. “Soalnya cuma aku, kan, yang seumuran sama dia di divisi kita?”

Sugawara menggeleng hingga poni pria itu terlihat ikut bergoyang. “Kamu nggak liat tatapan dia, sih.”

“Tatapan?” Hinata mengulangi dengan bingung. “Tatapan ke siapa?”

“Tatapan dia ke kamulah. Tau nggak kayak apa?” Saat dirinya menggeleng, seniornya melanjutkan ditemani senyuman lebar. “Kayak orang yang lagi jatuh cinta.”

Kali itu Hinata benar-benar menyemburkan nasi yang ada di mulutnya.

Ia menganggap asumsi itu sungguh tidak masuk akal sehingga melarang sang senior untuk mengungkitnya lagi. Sayangnya, bukan hanya Sugawara yang menarik kesimpulan seperti itu.

“Kamu pacaran ya, sama Kageyama?” Tanya Daichi, manajernya, begitu mereka selesai rapat. Kebetulan di ruangan itu tinggal mereka berdua yang masih membereskan berkas-berkas.

Hinata mengerang— entah kenapa tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan tersebut terlontar dari atasannya. “Bapak kok bisa, sih, ngambil kesimpulan kayak gitu?”

Netra atasannya terlihat membulat sepersekian detik. “Jadi beneran? Kamu pacaran sama dia?”

“Nggak, Pak. Saya nggak pacaran sama Kageyama,” jawabnya lelah, tak sabar ingin segera menyudahi pembicaraan itu.

“Oh, ya? Saya kira kalian pacaran…” Jawaban manajernya terdengar menggantung sehingga mau tak mau Hinata jadi penasaran.

“Bapak belum jawab pertanyaan saya. Bapak kok bisa ngira saya pacaran sama Kageyama, sih?”

Daichi mengedikkan bahu, ada senyum kecil yang menghiasi wajah pria itu. “Soalnya cara Kageyama tiap ngobrol sama kamu beda.”

Hinata ingin bertanya lebih lanjut, tetapi pintu ruangan keburu diketuk karena ada tim lain yang ingin mengadakan rapat di sana.

Intinya, Hinata sendiri masih bingung dengan alasan orang-orang yang menganggapnya memiliki hubungan spesial dengan Kageyama.

Hinata tidak sadar sudah melamun cukup lama sampai ada tangan yang tiba-tiba menyentuh rambutnya.

“Lo masih ngantuk, ya?”

Tubuhnya terlonjak, membuat si pemilik tangan yang beberapa detik lalu masih memainkan rambutnya ikut menjauh. Ada ragu yang tergurat di sana, membuat Hinata sedikit tak enak.

Tapi, ia benar-benar terkejut karena sentuhan Kageyama barusan seperti menimbulkan aliran listrik di sepanjang tubuhnya. Seingatnya, baru kali ini Kageyama dengan sengaja menyentuhnya. Biasanya hanya tangan atau bahu mereka yang tak sengaja saling bersentuhan. Itu pun ketika keduanya sedang amat berkonsentrasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

“K-kayaknya… hahaha! Duh, kayaknya gue butuh kopi,” ucapnya buru-buru sambil berdiri. Untunglah kali ini Kageyama tidak mengikutinya, tapi ia bisa tetap merasakan tatapan yang mengikuti punggungnya dari belakang.

Mendadak, Hinata mulai memikirkan dengan serius perkataan Sugawara tempo lalu.

Kata aku nih ya, Kageyama naksir sama kamu.

Hinata mendengus. Mau dipikirkan sesering apa pun, tetap saja itu terdengar mustahil.


Malam di hari yang sama, Hinata terpaksa lembur.

Semua karena tadi sore, tepat lima belas menit sebelum jam pulang kerja tiba, Daichi menghampiri mejanya dan menyampaikan bahwa laporan dari proyek minggu lalu ternyata harus diserahkan esok pagi. Pria itu bahkan berbaik hati sudah menawari bantuan, tetapi Hinata langsung menolak karena ia merasa mampu mengerjakannya sendirian. Lagi pula, itu memang pekerjaannya. Ia tidak ingin merepotkan orang lain.

Walaupun harus mengorbankan jam pulang kerja, Hinata beranggapan lebih baik ia lembur di kantor karena tahu tidak akan mudah mengerjakannya di rumah. Ada ibu dan adik perempuannya yang mungkin akan merasa terganggu kalau ia bekerja hingga larut.

Jadi, di sinilah dia— setia di kubikelnya dengan layar komputer menyala dan dua kaleng bekas kopi yang sudah tandas. Tidak ada siapa pun lagi di ruangan, membuat bunyi pendingin udara (Daichi sudah meminta kepada penjaga gedung agar tidak mematikannya selama Hinata masih berada di ruangan) terdengar jelas. Hinata memang bukan orang yang penakut, tapi sepinya ruangan tetap membuatnya ingin segera menyelesaikan pekerjaan.

“Kok belum pulang?”

Hinata terlonjak saat ada suara femilier yang tiba-tiba terdengar di tengah sunyi. Ia lantas mengerang dalam hati— kenapa juga harus Kageyama yang mendadak muncul?

“Lagi lembur, nih,” jawabnya sambil setengah melirik— mendapati pria itu sedang berjalan menuju kubikelnya. Dua kancing teratas pria itu sudah dilepas dan lengan kemejanya sudah digulung setengah. Hinata otomatis menelan ludah karena pemandangan itu membuat perutnya bergejolak aneh. “Lo sendiri ngapain masih ada di sini? Kirain tadi udah pulang.”

“Barusan habis dari lantai atas. Terus tadi baru inget ada barang yang ketinggalan.”

Hinata membentuk huruf o dengan mulutnya tanpa bersuara. ‘Lantai atas’ yang dimaksud Kageyama pastilah ruangan ayah pria itu alias sang pemilik perusahaan. Ia tidak bertanya apa pun lagi dan berusaha kembali fokus melanjutkan laporan yang masih setengah.

“Masih banyak yang harus dikerjain?” Tanya Kageyama begitu tiba di sebelah kubikelnya. Pria itu menunduk sedikit untuk menatap layar komputernya sehingga tercium sekilas aroma parfum yang cukup segar. “Mau dibantuin?”

Hinata tertawa, berusaha menyembunyikan gugupnya. “Wah, tumben lo baik? Ada angin apa, nih?”

“Kalau nggak mau, ya udah.”

Hinata pikir Kageyama akan langsung beranjak setelah mengatakan hal tersebut. Nyatanya, pria itu justru menarik kursi dari kubikel lain dan duduk di sampingnya. Matanya terbelalak melihat aksi pria itu sehingga refleks bertanya, “Lo ngapain?”

“Duduk,” jawab Kageyama, seolah itu sudah sangat menjelaskan.

“Maksud gue, lo ngapain masih di sini? Nggak balik?”

“Lo ngusir gue?”

Hinata membuka mulut, tapi tak ada jawaban yang keluar. Pada akhirnya, ia memilih bungkam sembari mengangkat bahu. “Terserah lo, deh.”

Setelah itu, keheningan menyelimuti mereka sementara Hinata mencoba kembali fokus pada pekerjaannya meski sangat sulit dilakukan. Kageyama memang tidak mengganggunya, tetapi tatapan pria itu dari samping cukup membuatnya salah ketik beberapa kali. Ia tidak ingin mengakui perkataan Sugawara ada benarnya, tetapi jika Kageyama bersikap seperti ini tanpa mengatakan apa pun… siapa pun jelas akan salah sangka.

Termasuk dirinya.

“Beberapa hari lalu… Pak Daichi nanya sesuatu ke gue.”

Tahu-tahu, bibirnya sudah melafalkan kalimat pembuka itu tanpa dirinya bisa menahan diri. Hinata buru-buru menggigit bibir, menyesali ucapan yang sudah terlanjur keluar. Sayangnya, ia tidak mungkin menarik perkataan karena Kageyama sudah keburu memiringkan kepala, menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Dia nanya…” Hinata berdeham, menghilangkan getar dalam suaranya. “Dia nanya… apa kita berdua… pacaran…”

Suaranya semakin hilang di ujung. Kepalanya tidak berani ditolehkan untuk melihat reaksi pria itu. Hinata rasanya ingin menghilang— ia sungguh menyesal telah mengaku jujur. Anggapan Sugawara pastilah salah. Kageyama pasti akan meledeknya setelah ini dan mereka tidak akan mengobrol lagi di kan—

“Terus lo jawab apa?”

Tangannya berhenti, tak lagi berpura-pura mengetik. Perlahan, Hinata memberanikan diri untuk menoleh ke samping— ke arah pria yang masih menatapnya dengan ekspresi statis.

“Yah… gue jawab nggak, dong? Kita nggak pacaran…?” Jawabannya justru terdengar seperti orang yang bertanya. Anehnya, Kageyama tetap diam; tidak langsung melontarkan sanggahan atau cemoohan yang tadinya ia perkirakan.

Gerigi di otaknya berputar dengan cepat. Ia harus mengatakan sesuatu.

“Gue… nggak tau kenapa Pak Daichi bisa mikir kayak gitu, tapi kalau misalnya ada yang nanya lagi atau salah paham… bakal langsung gue jawab nggak, kok,” selorohnya sambil tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. Pikirnya, keterdiaman pria itu justru mungkin karena amarah yang sulit disampaikan. Ia berkata seperti itu karena akan sangat disayangkan kalau hubungan mereka jadi merenggang akibat kesalahpahaman kecil atau rumor tak berdasar.

Karena mau sekaku apa pun Kageyama Tobio, Hinata menyukai fakta bahwa hanya dirinya yang sering diajak berinteraksi. Dan ia tidak ingin kehilangan momen tersebut.

Namun, manakala dilihatnya Kageyama terus terdiam, Hinata menyimpulkan bahwa tak ada lagi yang perlu dibahas. Walau diam-diam merasa sedikit kecewa, ia yakin inilah jalan terbaik. Hinata cepat-cepat menyimpan pekerjaannya setelah memutuskan akan melanjutkan di rumah. Persetan seandainya setelah ini ia tidak akan tidur. Ia hanya ingin cepat pergi dari sana.

Hinata sedang sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ketika ada tangan yang tiba-tiba terjulur dan menahan pergelangannya. Terkejut, ia menoleh ke arah satu-satunya orang yang sedari tadi masih menemaninya. Kageyama nampak sulit berkata-kata, namun ada determinasi kuat yang tak pernah diperlihatkan pria itu sebelumnya, sekalipun dalam urusan pekerjaan.

“Kenapa?” Hinata melontarkan pertanyaan singkat itu lebih untuk mengisi hening. Pun, untuk meredakan jantungnya yang berdentum liar.

“Kalau…” Pria itu memulai, suaranya terdengar parau. Hinata menelan ludah, matanya melirik ke arah pergelangan tangannya yang masih dicekal Kageyama. Meski tidak begitu kuat, rasanya ia dibuat tidak bisa bergerak sama sekali.

“Kalau kita pacaran beneran aja gimana?”

Kageyama, dengan iris birunya yang lebih menyerupai laut terdalam, menatap serius seakan kata-kata barusan mengandung makna yang setara. Hinata tahu matanya terbelalak lebar. Hinata tahu mulutnya terbuka sedikit. Hinata tahu keterkejutannya membuat dirinya terlihat bodoh sekarang. Hinata juga tahu ada jawaban yang harus diberikan setelah pertanyaan barusan diajukan.

Hinata biasanya benci hari Senin.

Tapi khusus untuk hari ini, ia bisa membuat pengecualian.

-tbc

@fakeloveros

contents warning: heavy make out scene

Begitu Oikawa keluar dari kamar mandi, dilihatnya Iwaizumi sudah berada di atas tempat tidur dengan punggung yang menyender di kepala kasur. Entah apa yang dilihat pria itu di layar ponsel hingga begitu fokus dan baru mengangkat kepala saat dirinya bertanya, “Kamu kalau tidur lampunya dinyalain atau dimatiin?”

Iwaizumi tertawa, suaranya membuat Oikawa menelan ludah. Sebenarnya ia mengeluarkan pertanyaan apa saja demi mengalihkan perhatian matanya dari Iwaizumi yang bertelanjang dada. Pria itu nampak nyaman hanya dengan mengenakan sweatpants berwarna hitam. Oikawa rasanya ingin berteriak— sungguh tidak adil seseorang bisa terlihat semenawan itu dalam penampilan yang amat minimalis. Matanya melirik sedikit ke arah kaca, menilai penampilannya sendiri yang mengenakan setelan andalan baju tidurnya— kaus putih kebesaran dan celana pendek. Tapi celana itu sudah ia kenakan bertahun-tahun, bahkan ketika tingginya terus bertambah. Tidak heran kalau kini ujung celana itu bahkan tidak mencapai setengah pahanya.

Dan Oikawa tidak melewatkan, bagaimana mata Iwaizumi menelusuri tungkai kakinya sebelum menjawab ringan, “Aku bisa dua-duanya, kok.”

“Berarti matiin aja nggak apa-apa, kan? Aku nggak bisa tidur kalau ada cahaya soalnya,” tukasnya sambil memalingkan mukanya yang terasa panas. Rasa-rasanya ia tidak sanggup menatap mata Iwaizumi sekarang.

“Nggak apa-apa.”

Oikawa mengangguk lalu berjalan menuju tasnya dan berpura-pura sibuk mencari sesuatu. Badannya membelakangi pria itu, tapi ia masih bisa merasakan tatapan di punggungnya.

“Boleh aku nanya sesuatu?”

Pertanyaan itu mengejutkannya sehingga ia langsung menoleh ke belakang. “Mau nanya apa?”

“Kenapa kamu mau-mau aja aku ajak ke Bandung?”

“Kenapa nggak?” Balasnya bingung. Tangannya berhenti, tak lagi berpura-pura mencari sesuatu dari dalam tas.

“Maksudku, kita baru kenal beberapa bulan, kan. Emang kamu nggak takut kita bakal canggung atau gimana?”

Oikawa mengerutnya keningnya. Ia pun berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah mengambil posisi ternyaman dengan ikut menyenderkan punggung di kepala kasur, Oikawa berpikir sejenak.

“Istilahnya kita emang baru mulai ngobrol dan jalan beberapa bulan terakhir, tapi kita udah saling kenal pas awal masuk kantor, kan, jadi…” Oikawa mengangkat bahu, “aku sih nggak ngerasa canggung. Lagian kamu yang nawarin mau traktir aku, masa rejeki ditolak?” Tambahnya lagi sambil menyeringai lebar.

Iwaizumi mendengus dan meletakkan ponsel di atas nakas. Pria itu mengubah posisi hingga menghadap sedikit ke arahnya. “Gimana kalau ternyata aku ngajak kamu ke sini karena punya niat aneh?”

“Gaji kita sama, apa yang kamu mau curi dari aku?” Ucap Oikawa dengan sedikit jenaka. “Terus kalau kamu mau bunuh aku… hmm…” Oikawa meneruskan sambil menggelengkan kepala. “Nggak ada untungnya juga deh kayaknya buat kamu selain bisa dapet penginapan gratis di penjara.”

“Emang mukaku nggak kayak orang jahat, ya?”

Oikawa tergelak, ikut memiringkan badannya hingga mereka saling berhadapan. “Muka kamu serem sih kalau lagi diem, tapi nggak sampai level orang jahat juga.”

“Kalau niat anehku kayak gini gimana?”

Tiba-tiba, dalam satu kedipan mata, Iwaizumi mencondongkan tubuh hingga menyisakan mereka dalam jarak satu jengkal. Gerakan pria itu sangat mendadak sampai Oikawa secara otomatis menahan napas. Wajah mereka teramat dekat, ia bisa merasakan hembusan napas pria itu menerpa lehernya.

“Kayak gini nggak apa-apa?” Iwaizumi nampaknya berusaha memancing agar dirinya beraksi, bukannya terdiam seperti patung. Tapi pria itu pasti tidak tahu betapa cepat jantungnya berdegup sekarang sampai ia takut akan kedengaran. Dan bukannya tidak ingin bersuara juga, tapi lidahnya amat kelu sehingga tidak ada kata-kata yang mampu terlontar.

“Kita bisa kayak gini semaleman,” lirih pria itu membuat Oikawa menelan ludah dan menjilat bibir. Iwaizumi mengikuti gerakan kecil itu dengan matanya sebelum kembali beradu pandang. “Atau kamu bisa ngangguk…”

Suaranya terdengar serak saat bertanya, “Emang kenapa kalau aku ngangguk?”

“Mungkin aku bisa…” Pria itu sengaja menggantungkan kalimat selagi menatap bibirnya, kali ini secara terang-terangan, “bikin kamu jadi lebih rileks.” Iwaizumi mengangkat sudut bibir, membentuk senyuman miring. “Soalnya kamu keliatan tegang banget sekarang.”

Tidak diragukan lagi, suara debar jantungnya pasti sudah terdengar sekarang. Oikawa sesungguhnya tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Bisikan pria itu seperti menghipnotis, jadi ia pun mengangguk pelan.

Oikawa tadinya ingin menghitung sampai tiga di kepala seraya menunggu apa yang akan dilakukan pria itu. Tapi, baru angka satu terucap di kepalanya, matanya keburu dipejamkan saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Oikawa tidak berani bernapas, takut merusak suasana tersebut atau tahu-tahu ia terbangun dari mimpi yang sangat indah.

“Jangan tahan napas.”

Kata-kata Iwaizumi benar-benar bagai menghipnotis— Oikawa langsung menghela napas dan mengambil pasokan udara baru untuk mengisi paru-parunya yang terasa panas. Selama itu, Iwaizumi mengangkat tangan dan mengelus rahangnya lembut.

Setelah napasnya kembali normal, Oikawa baru berani menatap mata sang lawan bicara. Iwaizumi tersenyum kecil dan beringsut maju untuk kedua kalinya.

Kali ini, Oikawa sudah lebih siap menerima ciuman itu.

Walau masih terasa lembut dan penuh kehati-hatian, pagutan Iwaizumi menjadi lebih dalam. Pria itu tidak seperti ragu saat menjilat bagian terluar bibirnya hingga membuatnya terkesiap. Oikawa harus mencari pegangan, dan tahu-tahu tangannya menemukan apa yang dicari di sekitar leher pria itu. Kulit bertemu dengan kulit. Tangan Iwaizumi masih merengkuh wajahnya, namun yang satu lagi berada di pinggangnya untuk menariknya lebih dekat.

Kepalanya terasa pening. Ia membutuhkan udara, tapi di satu sisi tidak ingin berhenti. Gerakan mereka semakin cepat, seperti berkompetisi siapa yang akan menyerah duluan.

Tekadnya langsung lenyap begitu merasakan sentuhan panas yang meyusup ke balik kausnya.

Oikawa mendesah. Keras. Dan matanya langsung terbelalak begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, tetapi Iwaizumi seperti tidak menaruh peduli dan terus menciuminya. Bibir pria itu berusaha mencapai semua yang bisa diraih; sudut bibir, pipi, rahang, dan turun ke lehernya. Namun, posisi mereka yang sedikit aneh di atas kasur membuat Oikawa kesulitan mendongakkan kepala.

Seolah bisa membaca pikirannya, Iwaizumi langsung menarik pinggangnya dan memosisikannya di atas pangkuan pria itu. Oikawa lagi-lagi terkesiap karena Iwaizumi begitu mudah memindahkannya seakan-akan berat tubuhnya tidaklah seberapa. Namun, dengan posisi yang lebih sugestif itu, membuat Oikawa bisa merasakan sesuatu yang keras di bawahnya.

“Maaf…” Iwaizumi berbisik rendah diiringi napas berderu saat melihat tatapannya mengarah ke mana. Oikawa buru-buru menggeleng dan menarik wajah pria itu agar bibir mereka kembali dipertemukan.

Sekujur tubuhnya sekarang terasa panas. Sesak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak dan menuntut akan sesuatu. Tapi, Oikawa tidak tahu bagaimana harus menyuarakannya. Ia terlalu terlena oleh segara friksi yang diciptakan pria itu sehingga pikirannya dengan mudah teralihkan.

Tapi bukan berarti tubuhnya tidak bisa menyampaikan keinginan tersebut.

Iwaizumi menggigit bibirnya saat pinggulnya tidak sengaja menekan ke bawah, tepat di atas tonjolan yang bergesekan dengannya. Oikawa menekan lagi karena gerakan kecil barusan menimbulkan gelenyar nikmat yang belum pernah ia rasakan. Rengkuhan yang ada di pinggangnya menguat sesaat dan Iwaizumi mengeluarkan geraman kecil.

“Oikawa…” pria itu menyebut namanya susah payah, “kalau kamu terus-terusan begitu, aku nggak bakal bisa nahan diri.”

“Jangan,” selorohnya cepat sambil dengan sengaja membuat gerakan menekan dan memutar. Iwaizumi mendesah keras di atas bibirnya. “Jangan ditahan.”

“Kamu yakin?”

Oikawa mengangguk frantik. Ia tahu apa yang diinginkannya dan kebahagiannya sekarang sungguh tak terkira karena mengetahui Iwaizumi menginginkan hal yang sama. Jadi kali ini, ia bertekad tidak akan melewatkan kesempatan yang hadir di depan mata.

“Kalau gitu,” Iwaizumi berbisik tepat di atas telinganya, menghantarkan panas lewat suara yang membuatnya bergerak tak sabar, “anggap ini hadiah ulang tahunku buat kamu.”

@fakeloveros

“Laper…”

Entah sudah berapa kali Oikawa mengumamkan satu kata itu dibarengi gerakan mengusap-usap perutnya bak wanita hamil. Matanya melirik ke arah jam yang tertera di sudut layar komputer— 8.15 malam. Padahal pekerjaannya tinggal sedikit lagi selesai, tetapi perutnya tak mau lagi diajak berkompromi.

Oikawa menghela napas, suaranya sampai terdengar mengisi ruangan kantor yang hening dan gelap. Ia menengokkan lehernya ke kiri dan kanan, juga memutar setengah tubuhnya yang sedari tadi menempel di atas kursi demi menghilangkan pegal. Oikawa melepas kacamata dan memijit bagian pangkal hidungnya sembari sekali lagi menghela napas berat.

“Aduh, anjrit laper banget,” ucapnya keras-keras seolah dengan begitu penderitaannya akan sedikit berkurang. Tapi untuk makan ia membutuhkan uang, dan untuk menghasilkan uang ia harus bekerja. Pun, bagian dari pekerjaan adalah rela lembur demi menyelesaikan tugas yang menumpuk.

Layar komputer menatap nyalang seakan mengejek nasibnya yang belum bisa menyentuh sepiring nasi. Oikawa balik menatap tajam halaman excel yang terbuka seolah tengah menantang berkelahi. Bukannya cepat-cepat mengerjakan, dia malah ganti merenung dan bertanya-tanya dalam hati apakah sekembalinya nanti ke kos-an, abang yang menjual nasi goreng akan tetap ada?

“Bangsat. Laper banget gue,” keluhnya sembari memajukan kursi dan kembali memakai kacamata.

“Oikawa?”

Kepalanya menoleh secepat kilat, takut itu hantu yang berbicara. Namun, yang didapatinya justru sosok seorang pria yang tengah memasukkan handphone ke dalam kantung celana sambil menatapnya datar.

“Kamu belum pulang?” Tanya pria itu lagi, kini sambil melangkah sedikit menuju kubikelnya.

“Eh, Pak… belum, nih. Masih ada kerjaan sedikit lagi. Bapak sendiri… baru mau pulang?” Matanya menelusuri tampilan pria itu yang terlihat tanpa cela meskipun sudah bekerja seharian. Walau dasi yang tadi pagi dikenakan sudah tak terlihat dan lengan kemejanya sudah digulung setengah, pria itu tetap terlihat… menawan. Oikawa tak bisa mengalihkan tatapannya dari lengan berotot yang (kalau berdasar gosip di antara para pegawai) hampir setiap hari bertemu gym. Ia tak bisa menyalahkan apabila banyak pegawai wanita yang berusaha mendekati atasan mereka tersebut.

Bahkan dirinya saja suka.

“Emang kerjaannya nggak bisa dilanjut Senin nanti?”

Pertanyaan itu sedikit membuatnya gelagapan. Oikawa pikir atasannya itu hanya akan menjawab basa-basi, kemudian pergi meninggalkannya seorang diri. Namun, pria dengan surai hitam itu malah berjalan semakin mendekatinya.

“Eh? Bisa aja sih, Pak. Tapi… tanggung,” jawabnya sekenanya. Perkataannya itu disambut gumaman panjang dan tahu-tahu pria itu sudah menyender di kubikelnya.

Kalau dipikir-pikir, Oikawa sering mendengar berbagai rumor soal Hajime Iwaizumi.

Pria bermodalkan ekspresi datar, bahkan cenderung galak itu memang sering menjadi buah bibir. Banyak pujian yang sering dilontarkan oleh para pegawai— tampan, memiliki badan yang bagus, sering mentraktir makan para pegawai, serta bersikap adil terhadap semuanya. Pertama kali, siapa pun akan dibuat terheran-teran karena kontrasnya raut wajah dengan sikap pria itu. Jika ada yang membuat kesalahan, Iwaizumi tidak pernah menaikkan nada suara maupun menasihati di depan umum. Pria itu juga tidak pernah terlihat keberatan atau bosan jika harus menjelaskan sesuatu kepada para pegawai yang belum mengerti. Walaupun memiliki sifat bak malaikat, tetap tidak ada yang berani bersikap kurang ajar. Semua menghormati, meski pria itu masih tergolong muda untuk menempati posisi tinggi. Oikawa pun ikut memberi respek kendati ia tahu umur mereka berdua sama.

Namun, sesempurnanya manusia bukan berarti tidak memiliki kekurangan.

“Kalau disuruh milih,” bisik Alisa, di suatu siang sekembalinya mereka dari lobi untuk mengambil pesanan kopi, “gue bakal lebih pilih Pak Kuroo dibanding Pak Iwa.”

Oikawa nyaris tersedak dolce latte-nya. “Kenapa gitu?”

“Yaaah, walapun Pak Kuroo rada boomer dikit, at least tuh orang masih bisa senyum. Tapi coba kalau Pak Iwa?” Alisa membuat tubuhnya seolah bergidik. Wanita itu mencondongkan tubuh, lantas berbisik lebih pelan, “Lo bayangin kalau jadi pacarnya, bakal jarang banget dikasih senyum!”

Setelahnya, Oikawa memikirkan perkataan tersebut. Tanpa sadar ia mulai lebih memperhatikan untuk mencari bukti bahwa atasan mereka mana mungkin tidak pernah tersenyum.

Tapi, baru lima hari mengawasi ia sudah menyerah. Mau berada dalam keadaan apa pun, Iwaizumi Hajime memang tidak pernah tersenyum.

Tapi gue nggak keberatan, kok, jadi pacarnya… benaknya mengangguk setuju, mengikuti arah pandangnya terhadap sang atasan yang hari itu mengenakan setelan jas lengkap karena ada rapat penting dengan petinggi perusahaan lain. Sekilas, ia yakin tatapan mereka sempat bersirobok, namun Oikawa cepat-cepat menunduk dan pura-pura berkonsentrasi dengan pekerjaan di dalam layar.

Lalu sekarang, tiba-tiba ia mendapat kesempatan berbincang dengan pria itu. Hanya berdua.

“Kamu udah makan?”

Kalau tadi Oikawa gelagapan, sekarang ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.

“Eh… belum, Pak.”

Oikawa tidak berani menatap pria itu langsung, jadi matanya sengaja ia arahkan ke tangan dengan warna kulit terbakar matahari yang sedang memainkan kunci mobil.

Anjrit. Tangannya aja ganteng.

“Emang nggak laper?”

Keningnya mengernyit bingung. Ia mulai merasa sedikit aneh karena ditanya-tanyai seperti itu. Bukannya tidak boleh, melainkan ia tahu Iwaizumi bukanlah tipe atasan yang senang berbasa-basi atau membuat obrolan-obrolan kecil. Sudah banyak buktinya karena selain soal pekerjaan, tidak ada lagi yang sering dibicarakan pria itu di depan umum.

“Laper, sih, Pak…” Oikawa mengaku jujur, kunci mobil yang dimainkan pria itu kini berhenti. “Tapi… tanggung…”

Ia akhirnya memberanikan diri untuk mendongak sedikit, dan menemukan netra pria itu sudah terarah padanya. Entah sejak kapan.

“Jangan gitu. Kalau nunda makan, kamu bisa sakit.”

Oikawa (berusaha) tertawa sopan. “Kenapa emang, Pak? Bapak mau traktir saya?”

Pertanyaannya tidak langsung disambut balasan.

“Eh, Pak, saya cuma bercanda,” imbuhnya panik karena mengira perkataannya sudah melewati batas. Meski begitu, sang lawan bicara malah menatapnya penuh atensi.

“Saya emang mau ngajak makan,” tukas Iwaizumi tanpa adanya perubahan ekspresi. Namun, keterkejutannya yang lagi-lagi tampak jelas mungkin berhasil membuat pria itu sedikit ragu sehingga melambatkan intonasi. “Itu juga… kalau kamu bersedia?”

Oikawa yakin dirinya terlihat bodoh dengan mata mengerjap-ngerjap dan mulut yang sedikit terbuka.

“Lagian kita searah, nanti pulangnya kamu bisa saya anter. Kamu biasanya naik kereta, kan?”

Oikawa mengangguk, masih tak memercayai suaranya untuk turut andil dalam kejadian tak terduga ini.

“Jadi, kamu mau?”

Dirinya tersentak, baru disadari bahwa pria itu menunggu jawaban verbal darinya. Buru-buru Oikawa menegakkan tubuh dan berusaha tersenyum lebar. “Eh, m-mau, Pak! Tapi… beneran nggak apa-apa? Saya nyelesein ini terus makan nanti pas nyampe di kos-an juga bisa kok, Pak. Lagian ini hari Jumat, besok libur. Bapak nggak ada janji sama siapa-siapa gitu…?”

Yang terakhir sengaja— memancing. Karena berdasarkan salah satu rumor yang kepastiannya ingin diketahui banyak orang, Hajime Iwaizumi belum memiliki pasangan.

“Nggak apa-apa,” jawab pria itu sambil mengangkat bahu. “Saya nggak ada janji sama siapa-siapa juga—“ Iwaizumi berhenti, terlihat seolah ingin menambahkan sesuatu. “Kalau maksudnya sama pacar, saya emang nggak punya.”

Oikawa membentuk O dengan bibirnya tanpa bersuara sambil mengangguk-angguk sopan. Gotcha!

“Maaf, ralat. Bukan nggak punya, tapi belum.”

Hah?

Pandangan mereka kembali bertemu dan Oikawa bersumpah ia melihat pria itu mengangkat sudut bibir beberapa derajat. Ia tercengang, bagai baru saja menyaksikan salah satu keajaiban dunia.

Hajime Iwaizumi tersenyum.

“Kalau beneran mau saya traktir, lanjutin kerjaannya hari Senin aja. Sekarang beresin barang-barang kamu, terus kita jalan,” titah pria itu seraya mengecek jam di pergelangan tangan. Oikawa langsung tersadar dan otomatis segera melaksanakan perintah tersebut— pekerjaannya disimpan, komputernya dimatikan, dan memastikan tak ada yang tertinggal sebelum berdiri dan mengenakan jaketnya.

“Udah ready, Pak!” Oikawa tersenyum lebar, mendadak merasa bersemangat karena tahu akan ditraktir makan oleh sang atasan. Kapan lagi, kan, ia dapat kesempatan emas seperti ini?

Iwaizumi hanya mengangguk, lalu mulai berjalan menuju lift. Oikawa mengikuti dengan langkah ringan di samping pria itu. Kalau tidak menahan diri, bibirnya nyaris saja berdendang.

“Oikawa.” Namanya disebut tiba-tiba saat mereka tengah menunggu lift datang.

“Iya, Pak?” Sahutnya sambil menoleh ke si lawan bicara yang sedang mendongak memperhatian angka yang mulai naik. Masih ada tujuh lantai yang harus dilewati sebelum lift itu tiba.

“Sekarang nggak usah panggil ‘Pak’, panggil nama aja. Kita, kan, seumuran.”

Senyumnya mulai lenyap. Atasannya benar-benar mengejutkannya hari itu. Tapi, ia tak berani membantah karena ucapan Iwaizumi memang benar. Lagi pula, ini juga sudah di luar jam kerja.

“Ooh… oke deh, Pak— eh, sori, maksudnya… oke… Wa.”

Kepalanya buru-buru ditolehkan ke depan, tidak ingin tertangkap basah sedang membuat ekspresi canggung.

“Oikawa.”

Duh, apaan lagi, sih?

“Ya?” Sambutnya singkat, ikut mendongak untuk mengecek keberadaan lift.

TING

Lift yang sedari tadi mereka tunggu ternyata baru saja tiba.

“Kamu udah punya pacar?”

Tidak ada yang melangkah masuk. Pintu lift terus terbuka dan beberapa detik sebelum tertutup, Iwaizumi dengan cekatan menjulurkan tangan untuk memencet tombol. Kosongnya lift menjadi pemandangan Oikawa karena ia tidak berani menoleh— karena ia tahu Iwaizumi tengah menatapnya.

Dan menunggu jawaban.

Oikawa menggeleng, lalu berkata lirih, “belum…”

“Oke. Bagus.”

Pria itulah yang kemudian melangkah pertama kali masuk ke dalam lift. Mau tak mau akhirnya mereka bertatapan dan Oikawa tidak tahu mimik seperti apa yang sedang ditampilkannya kini.

Yang pasti, ia bisa melihat dengan jelas raut wajah Iwaizumi.

Pria itu tersenyum. Kecil. Namun, itu tetap bisa disebut… senyuman.

“Kamu nggak mau naik?”

Oikawa mengutuk dalam hati dan buru-buru masuk. Selama perjalanan menuju lantai bawah, mereka diselimuti hening. Tapi kini, saat bayangannya terefleksikan di pintu lift, ia akhirnya bisa melihat air mukanya sendiri.

Bibirnya ikut melengkung membentuk senyuman, sebagaimana hal yang sama masih terpetak jelas di wajah sang atasan.

Mungkin, tidak ada ruginya dia memutuskan lembur malam itu.

@fakeloveros

Oikawa sesungguhnya tak begitu terkejut melihat anak lelakinya itu belum tidur dan malah muncul di ruang tamu dengan tampang risau yang sama. Mungkin anaknya mendengar dia membuka pintu kamar sehingga ikut keluar dan menghampirinya seperti sekarang. Sugawara yang tengah menanti setengah mati ceritanya bisa menunggu, tapi—

Tapi tidak untuk Tobio.

“Sori, kamu kebangun gara-gara papa, ya?” Mulutnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu— berpura-pura tidak tahu.

Tobio menggeleng, terlihat sedikit ragu sebelum mengambil tempat di sebelahnya seperti sebelum Iwaizumi menginterupsi mereka. “Pa…”

“Hm?”

“Papa, kan, bilang alasan mau ngadopsi anak lagi biar nggak kesepian kalau misalnya ayah ada dinas luar…”

Oikawa berhenti berpura-pura melihat layar ponselnya. Ini awal percakapan yang berada di luar ekspektasinya. “Hmm… itu salah satu alasannya, sih. Kenapa emang?”

“Kalau udah ada yang nemenin… emang papa nggak bakal kangen sama ayah?”

Oikawa diam— memperhatikan figur anaknya dari samping yang, tanpa ia sendiri sadari, telah tumbuh menjadi lebih dewasa. Hilang ekspresi polos yang dulu sering menyambutnya di depan pintu, walau sorot mata yang menampilkan kesan cuek itu masih ada. Oikawa sering merasa lucu karena meskipun Tobio jelas-jelas diadopsi, sifat anak itu amat mirip dengan Iwaizumi.

Kendati begitu, ada kalanya Tobio lebih sulit dibaca dibanding suaminya. Oikawa terkadang harus lebih berhati-hati dalam memilih perkataan, terutama dalam situasi seperti ini.

“Jangankan pas lagi dinas luar, ayah kamu lagi kerja aja papa masih kangen,” Oikawa sedikit terkekeh, “jadi… walaupun ada yang nemenin, papa bakal tetep kangenlah. Lagian ayah kamu, kan, bakal tetep pulang juga. Nahan kangen beberapa hari doang mah papa bisalah,” tukasnya sambil membusungkan dada.

“Kalau lebih dari setahun, pa?”

Oikawa mengerjap dan bahunya otomatis turun. “Apa?”

“Kalau ayah perginya lebih dari setahun atau dua tahun, papa bakal tetep bisa tahan?”

Sekarang, Oikawa benar-benar merasa harus tahu masalah apa yang sedang menimpa anaknya.

“Kalau perginya emang karena alasan kerja…” Oikawa meneliti Tobio dari samping, masih berusaha menerka, “papa pasti bakalan nunggu.”

Tobio nampak seperti kesulitan memilih kata-kata selanjutnya. Dan Oikawa lagi-lagi dibuat sadar, inilah yang sedikit membedakan sang anak dengan suaminya. Tatkala Iwaizumi takkan ragu menyuarakan keberatan atau kesulitan dengan sendirinya, Tobio punya tendensi untuk menyimpannya sendiri kecuali mendapat dorongan.

“Kalau papa boleh tau…” Oikawa memulai kala menyadari Tobio takkan membuka mulut dalam waktu dekat, “siapa emang yang mau pergi?”

Meski tanpa perlu dijawab, Oikawa mampu menebak jawabannya sekarang.

“Shoyou—“ Tobio berhenti, tangannya memainkan ujung kaus tanpa henti, “katanya mau kuliah di luar negeri.”

“Oh.

Hanya itu reaksi yang bisa dia berikan.

Manakala dirinya masih diliputi keterkejutan, Tobio melanjutkan, “Katanya dia cuma iseng daftar habis disaranin guru olahraga… Dia cuma ngikutin step-stepnya, tapi tau-tau keterima. Habis lulus nanti… dia bisa langsung berangkat.”

Oikawa tidak tahu harus mengatakan apa. “Apa dia… nggak bilang ke kamu sebelumnya kalau mau daftar di luar?”

Tobio menggeleng. “Nggak bilang karena katanya dia sendiri yakin nggak bakal lolos.”

Oikawa menelan ludah. Ruang tamu itu lantas diselimuti keheningan. Ia berusaha membayangkan, bagaimana jadinya jika dia yang berada di posisi Tobio sekarang? Bagaimana kalau Iwaizumi yang akan pergi selama itu? Walau tadi ia bilang akan tetap menunggu, Oikawa tahu betapa kata-kata seringnya lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan.

“Kamu… nggak nyakin bisa nunggu selama itu?” Tanyanya hati-hati. Kalian, kan, masih bisa LDR— Oikawa ingin menambahkan, tetapi langsung menahannya begitu mendengar hela napas keras dari sebelahnya.

“Nggak tau, pa,” jawab anaknya pelan. “Padahal aku udah ngerencanain semuanya. Aku sama dia bakal kuliah bareng, lulus bareng, kerja, terus…” Oikawa seolah bisa mendengar nada frustrasi yang digunakan anaknya, “nggak tau. Sekarang aku nggak tau lagi.”

Oikawa ingin menjulurkan tangan dan memberi tepukan di bahu untuk sekadar menenangkan anak semata wayangnya. Tapi ia tahu, sebagaimana hari-harinya menghadapi Tobio, anak itu perlu diberi waktu— diberi ruang untuk berpikir.

Dan mendadak, persoalan mengadopsi anak menjadi yang terakhir dipikirkannya.

@fakeloveros

Oikawa benar-benar pulang malam itu.

Setidaknya perasaannya memang lebih ringan setelah mengatakan yang sejujurnya kepada sang suami. Walau masih merasa bersalah karena telah berbohong, Oikawa bersyukur setidaknya Iwaizumi masih mengharapkannya pulang— tentu saja. Ditambah, Iwaizumi sudah berjanji akan mengutarakan alasan penyebab pria itu tidak langsung menerima usulannya. Dan Oikawa sendiri berjanji dalam hati bahwa dia akan mendengarkan dengan pikiran lebih terbuka. Seandainya memang Iwaizumi dan Tobio benar-benar menganggap berat keputusannya, dia tidak akan memaksa.

Omong-omong soal Tobio…

Oikawa yang baru menutup pintu ruang tamu, sedikit terkejut menemukan anak semata wayangnya sedang duduk sendirian di sofa depan TV. Yang lebih mengejutkan lagi, layar TV menampilkan tayangan dokumenter yang ia tahu hanya disukai oleh sang suami di rumah mereka. Jadi, berani bertaruh bahwa Tobio tidak menonton acara itu sama sekali.

Oikawa berjalan mendekati sang anak yang nampaknya belum menyadari kehadirannya. “Tobio? Ngapain? Kok jam segini belum tidur?”

Yang diajak mengobrol tersentak, lantas mengalihkan tatapan ke arahnya dengan mata terbelalak. “Eh, papa? Kapan balik?”

“Barusan. Emang nggak kedengeran?”

Tobio menggaruk kepala— membuat rambut pemuda itu semakin acak-acakan. “Nggak. Aku… lagi ngelamun kayaknya tadi.”

Oikawa duduk di sebelah anaknya dan menatap penuh rasa ingin tahu. “Tumben ngelamun? Lagi mikirin apaan emang?”

Anaknya itu tak langsung menjawab. Oikawa mengawasi dalam diam ekspresi Tobio yang terlihat risau. Biasanya hanya ada beberapa alasan yang bisa membuat Tobio galau seperti ini. Kalau bukan basket berarti—

“Ada hubungannya sama Hinata?”

Tobio menoleh. Cepat. Pemuda itu baru membuka mulut ketika tiba-tiba satu suara lain memotong mereka.

“Tooru?”

Oikawa ganti mengalihkan atensinya ke sang suami yang tahu-tahu muncul dari arah lorong kamar mereka dan memanggil namanya penuh kelegaan. Bibirnya otomatis menyunggingkan senyum melihat suaminya; baru disadari betapa ia sangat merindukan sosok si pemilik surai hitam tersebut.

“Besok aja, pa. Sekarang aku udah mau tidur.”

“Eh?”

Belum sempat Oikawa menahan anaknya, Tobio terlanjur beranjak dan melesat pergi menuju kamar. Iwaizumi pun hanya menatap bingung sang anak yang lewat begitu saja, sebelum keheningan serta merta melingkupi mereka.

Di saat tinggal berdua seperti itu, kegugupan otomatis menyerangnya. Oikawa memainkan ujung kausnya sembari tersenyum ragu. “Hai? Maaf ya, aku pulangnya malem banget. Tadi ibu ngajakin makan malem dulu soalnya.”

Tanpa diduga, dalam tiga langkah besar, Iwaizumi menghampiri dan menariknya ke dalam pelukan. Oikawa pasrah dan sebagai gantinya menghirup napas dalam— menghidu aroma maskulin dan campuran sabun yang menempel di kaus sang suami. Padahal cuma semalam dia menginap di tempat lain, namun rasanya seperti sudah puluhan tahun dia tidak bertemu Iwaizumi.

Mereka berpelukan seperti itu selama beberapa saat. Oikawa menenggelamkan kepalanya di atas bahu lebar sang suami, tersenyum saat merasakan pria itu menjatuhi ciuman di puncak kepalanya.

“Kamu nggak akan kabur lagi, kan?” Tanya Iwaizumi, yang dijawabnya dengan gelengan kepala selagi masih berada di posisi yang sama.

“Nggak akan nyembunyiin apa-apa lagi dari aku juga?”

Kali ini, Oikawa mengangkat kepala. Ia menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap jelas netra suaminya.

“Tergantung. Kalau kamu juga beneran mau ngasih tau aku alasan soal… itu, aku nggak bakal main rahasia-rahasiaan lagi.”

Iwaizumi mengangguk. Tatapan pria itu kini tampak serius. “Tapi kamu perlu tau juga, walaupun aku punya alasan, bukan berarti aku nolak.”

Oikawa menandang ragu. “Jadi… beneran sebenernya kamu mau?”

“Mau, kok. Apalagi anak cewek. Kamu maunya anak cewek, kan?”

Kepalanya dianggukkan, sedikit tersipu malu. “Yah, terlepas dari alasan utama, bayanginnya seru aja gitu kalau punya anak cewek…”

“Karena bajunya lucu-lucu?” Selidik sang suami sambil tersenyum kecil.

“Eh? Kok tau?”

Iwaizumi memutar kedua bola. “Lupa ya, IG kamu ada di HP aku juga? Pas kamu nge-like banyak postingan baju anak cewek, ya aku sadar, dong.”

Kali ini Oikawa benar-benar tidak bisa menyembunyikan semburat malunya. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena setelahnya ia teringat pula dengan Tobio.

“Eh, tapi Tobio…” Oikawa menggantung ucapannya, dan kepemahaman pun terlintas di mata suaminya.

“Iya, aku tau.” Iwaizumi terdiam sejenak. “Apa gara-gara itu dia pundung dari tadi? Tadi juga aku ajak makan nggak mau, nggak laper katanya.”

Tobio? Nggak laper? Bagi Oikawa, itu konsep yang aneh— karena seingatnya selama ini, nafsu makan tertinggi masih dipegang oleh Tobio di kediaman mereka. Tidak peduli meskipun latihan basketnya tak berjalan lancar atau kalah dalam pertandingan, Tobio pasti tidak akan meninggalkan kata makan. Apalagi jika sudah ada Hinata mampir ke rumah mereka untuk ikut makan, Tobio bisa dalam sekejap melupakan segala masalah.

“Kayaknya bener, deh…” gumam Oikawa pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Pasti ada hubungannya sama Hinata, tambahnya lagi dalam hati.

“Apa? Apa yang bener?” Sahut Iwaizumi, meraih rahangnya dengan kedua tangan agar wajahnya terangkat. “Kamu ngomong apa barusan?”

Oikawa memilih tidak mengatakan apa pun untuk sekarang. Kalau Tobio memang mau membicarakannya, pemuda itu pasti akan datang sendiri nanti.

“Nggak, barusan aku ngomong sendiri, kok. Ngomong-ngomong, aku mandi dulu ya, baru kita lanjutin ngomong di kamar. Oke?” Oikawa mencium suaminya cepat, dan baru akan beranjak manakala Iwaizumi menahan gerakannya. “Apa?”

“Cuma mau bilang…” mulai sang suami, sambil membawa tangannya ke dalam genggaman hangat, “keputusan apa pun nanti, atau mau jadi berapa pun anggota keluarga kita nanti, kamu masih yang paling penting buat aku. Jadi, jangan anggap kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Aku nggak mau kamu mikir kayak gitu.”

Oikawa tak berkutik, teringat dengan pemikiran konyolnya yang merasa dirinya hanyalah pendatang baru. Bagaimana Iwaizumi bisa tahu?

“Kamu inget dulu pernah bilang apa ke Tobio?” Iwaizumi melanjutkan, seolah pura-pura tidak melihat keterkejutannya.

Oikawa menggeleng. Ludahnya diteguk pelan.

“Sayangku buat kamu itu seluas langit,” bisik pria itu, merengkuh wajahnya dengan kedua tangan dan menempelkan kening mereka. “Nggak ada ujungnya, nggak ada batasnya. Bukan cuma buat Tobio, tapi kamu juga.”

Oikawa tertegun, tak menyangka ucapan itu masih diingat oleh suaminya. Ia mengangguk, menahan rasa haru sembari ikut menggenggam tangan Iwaizumi yang masih merengkuh wajahnya.

Seandainya harapannya tidak bisa terkabulkan, Oikawa akan tetap bersyukur karena setidaknya ia tahu langit di atasnya akan selalu utuh.

@fakeloveros

Hinata tidak pernah berjalan secepat itu.

Ia bahkan nyaris tersandung kakinya sendiri saat tengah memakai sandal. Topi yang diraihnya dari atas meja makan pun dipakai secara asal-asalan. Tangannya hanya melambai singkat kepada anjing menggonggong kepunyaan pemilik kafe sebelah gedung apartemennya. Hinata menggenggam ponselnya erat seiring laju detak jantungnya yang kian memompa di setiap langkah cepat yang ia ambil.

Kalau Tobio beneran ada di sini…

Hinata menelan ludahnya gugup. Seandainya sang kekasih sungguh berada di tempat yang sama dengannya, di sinidi Brazil, tempatnya mengejar impian maka itu akan menjadi hadiah ulang tahun paling sempurna. Tapi, kalau pria itu tidak ada dan ternyata semua ini hanya candaan iseng semata (yang mungkin diusulkan oleh Atsumu atau Kuroo), Hinata mungkin tidak akan mau berbicara dengan Tobio selama sebulan.

Karena rindunya bukan main-main; bukan sekadar ucapan tanpa makna yang akan hilang dalam sekejap melalui video call berjam-jam atau teks panjang yang nantinya hanya dibalas satu-dua kalimat oleh sang kekasih.

Hinata sering memendamnya sendiri; tahu bahwa rindu yang diucapkan berulang-ulang hanya akan menjadi beban bagi mereka berdua. Dan ia mendapat firasat Tobio pun melakukan hal yang sama demi berlangsungnya hubungan jarak jauh mereka. Oleh sebab itu, perbuatan seperti ini tentu tak pernah terpikirkan olehnya, terlebih jika memang benar dilakukan oleh seorang Kageyama Tobio.

Hinata menelusuri pantai dengan matanya begitu tiba. Ia berulang kali memastikan dengan foto yang dipasang Tobio di Instagram Story. Kalau pengamatannya benar, seharusnya Tobio berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Napasnya otomatis tertahan saat matanya menangkap sosok jangkung yang luar biasa familier— duduk di atas pasir sambil memainkan bola voli di tangan. Rambut hitam yang mengintip sedikit di bawah topi biru semakin menambah keyakinannya. Jadi, tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun, ia mulai menghampiri sosok misterius tersebut.

Ketika tinggal terpisah beberapa jarak, subjek yang ditujunya mengangkat kepala.

Hinata nyaris berlari dan menubrukkan tubuhnya ke pria itu, tapi akibat keterkejutan yang terlalu menguasai, kakinya bahkan tidak sanggup bergerak lebih jauh. Syukurlah Tobio lebih cepat tanggap karena pria itu langsung berdiri dan menghampirinya dalam langkah besar.

“Surprise…?” bisik pria itu— yang lebih terdengar seperti pertanyaan —tepat di depan telinganya ketika tubuhnya diraup dalam rengkuhan erat. Hinata mengeratkan pelukan dan Tobio serta merta mengangkat tubuhnya hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah.

Dan walau memang ada beberapa pengunjung pantai yang melirik penuh rasa ingin tahu ke arah mereka, Hinata bisa mengabaikan karena tidak ada yang lebih penting dibanding kedatangan sang kekasih. Lagi pula, ini Brazil— orang lebih bebas melakukan apa saja di sini tanpa perlu memedulikan tatapan menghakimi dari sekitar.

Jadi, itulah yang dilakukannya begitu kakinya kembali menapak tanah.

Hinata hanya menjauhkan wajahnya sedikit, lantas mencium pria yang masih merengkuhnya tanpa aba-aba. Tidak diperlukan waktu lama hingga Tobio membalas ciumannya— keras dan menuntut. Ada juga rindu yang sama persis karena jarak ribuan kilometer itu akhirnya lenyap; akhirnya bersua dengan sentimen yang sama.

Ada tawa penuh ketidakpercayaan yang terlontar dari bibirnya ketika mereka berdua sama-sama membutuhkan oksigen. “Kamu gila.”

Sang kekasih menyeringai lebar, dan sesungguhnya Hinata bisa terbiasa dengan pemandangan ini; Tobio di bawah sinar mentari sore Brazil yang mulai merayap malu-malu. Dan hanya sebatas itu yang membuatnya kembali berjinjit, lalu menjatuhkan satu kecupan cepat di bibir kekasihnya yang masih tersenyum.

“Selamat ulang tahun,” lirih Tobio, ada semburat merah muda yang membuat Hinata semakin gemas ingin mencium pria itu sekali lagi. “Maaf aku telat ngucapin, lagi di pesawat soalnya.”

Kepalanya menggeleng-geleng, diikuti decak penuh canda. Pipinya mulai sakit akibat senyumnya yang terlalu lebar. Tapi, semua setara dengan apa yang menyambutnya sekarang.

“Kapan kamu ngerencanain ini? Emang gampang dapet tiketnya? Terus jadwal kamu gimana? Berarti ini ngambil cuti, dong?” tanyanya beruntun dengan mata berbinar penuh semangat. Langsung tersusun di otaknya beragam skenario dalam menghabiskan waktu bersama sang kekasih. Tidak mungkin, kan, Tobio ke sini hanya untuk satu-dua hari?

“Dari dua bulan lalu, terus sengaja langsung cari tiket sama minta cuti biar pas udah deket semuanya lancar,” biru netra pria itu mengamatinya lekat dari atas sampai bawah. “Kamu nggak nambah tinggi, ya?”

Kali ini, Hinata tak ragu dalam mencubit pinggang pria yang dilapisi kaus tipis berwarna putih itu hingga menimbulkan pekik kesakitan dari sang empunya.

“Heh! Seenggaknya sekarang aku lebih berotot,” pamernya sambil menunjukkan bisep hasil dari latihan kerasnya selama ini di atas pasir. Tobio mengangguk-angguk, mencondongkan tubuh hingga proksimitas mereka mampu membuatnya mengidentifikasi arti tatapan sang kekasih.

“Keliatan,” balas Tobio singkat. Penuh makna.

Hinata berdeham, lantas memperhatikan tempat yang tadi diduduki Tobio. Tas ransel pria itu masih teronggok di bawah pohon kelapa, ditemani bola voli yang terlupakan dan sebotol air minum. Jelas sekali pria itu langsung ke sini setibanya dari bandara.

“Mau ke tempatku sekarang? Kamu pasti capek.”

Dibilang seperti itu, Tobio meregangkan tubuh— mengangkat kedua tangan ke atas kepala hingga tatapan Hinata otomatis terarah ke abdomen yang nampaknya sangat mengundang untuk disentuh. Hinata harus menelan ludahnya sekali lagi sebelum cepat-cepat mengalihkan tatapan.

Sayang, gerakannya terlalu lambat untuk kecepatan refleks yang dimiliki Tobio berkat profesinya sebagai setter untuk tim nasional. Namun, pria itu tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih meraih tas dan barang lainnya yang tersebar di atas pasir.

“Ayo, deh. Mau cepet-cepet mandi rasanya, panas banget.”

Saat mereka mulai berjalan bersisian, Hinata menuturkan satu pertanyaan yang terlintas di otaknya, “Malem ini enaknya kita ngapain? Kalau kamu nggak capek, ada restoran yang enak banget di pinggir pantai. Nanti kita bisa makan malem di sana, gimana?”

Tobio hanya terus melangkah dengan wajah datar, tapi Hinata tahu pria itu tengah menimbang-nimbang jawaban.

“Besok aja, deh,” akhirnya, kekasihnya itu menjawab.

“Boleh. Kalau sekarang masih jet lag, ya?”

“Nggak juga karena sebenernya aku di pesawat banyak tidur,” gelengan dari Tobio ikut memberi jawaban. “Tapi aku belum ngasih kado ke kamu, kan.”

“Hah?” bibirnya membentuk O dengan bingung. “Emang bukan ini hadiahnya?”

Tobio mengangkat satu alis. “Apa? Aku yang dateng tiba-tiba gini maksudnya?”

Kepalanya dianggukkan tanpa suara.

“Katanya kamu mau dikasih surprise,” mulai pria itu dengan nada yang tak berubah; tetap datar, namun menimbulkan puluhan teka-teki.

“Iya, te… rus? Ini udah, kan? Aku kaget banget, loh, asal kamu tau!”

Tobio terkekeh; suara yang jarang sekali diperdengarkan dan hanya beberapa orang berkesempatan mendapat privilege tersebut. Hinata salah satunya, dan yang paling sering.

“Aku mungkin nggak pinter bikin kejutan, tapi…” salah satu tangan pria itu merangkul pundaknya dari samping selagi mereka tetap berjalan. Tobio menunduk dan menempelkan kening di pelipisnya sehingga pria itu mampu berbisik dengan mudah. “Bukan berarti aku nggak tau cara jadi pacar yang baik.”

Hinata menahan napasnya; tidak berkedip sama sekali untuk beberapa sekon.

Entah apa yang direncanakan sang kekasih, tetapi apa pun itu, Hinata punya firasat ia akan sangat menyukainya.


Berjam-jam setelahnya, ketika malam sudah memberi gelap di dalam ruangan berpendingin udara tersebut, ada dua insan yang terbaring menatap langit-langit. Hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur itu masih terdengar dari luar, menjadi latar pengisi keheningan serta alunan nina bobo yang nyaris membuat matanya terpejam. Namun, sentuhan halus di sepanjang lengannya sukses menggagagalkan niatan tidur tersebut.

Hinata menoleh ke samping— ke arah pria yang sudah mengubah posisi hingga tidur menyamping menghadapnya. Tatapannya sempat bergulir ke bawah karena dada telanjang kekasihnya itu sempat membuatnya sulit memfokuskan atensi— teringat Tobio yang tadi memerangkapnya dalam rengkuh tanpa jarak manakala mereka sama-sama mengejar nikmat.

Tapi, itu bisa direka ulang nanti.

“Sebenernya aku punya satu hadiah lagi.”

Hinata sontak mengerjap tak percaya saat suara Tobio memecah keheningan— ada lagi?

“Ini beneran Tobio bukan, sih? Lama-lama curiga deh Tobio yang asli udah diculik, terus gantinya ini alien yang dateng,” ujarnya tak masuk akal seraya mencubit pipi pria itu. Ia tiba-tiba teringat dengan salah satu film alien yang pernah ditontonnya bersama Oikawa.

Tobio hanya menyingkirkan tangannya lembut sebelum membawanya ke depan bibir untuk dikecup singkat. “Serius, aku ada satu hadiah lagi. Tapi kayaknya besok aja aku kasihnya.”

“Loh, kenapa? Sekarang aja!” Protesnya tak terima. Hinata berusaha menarik tangannya, tapi pria itu tetap menahan di sana.

Kekasihnya hanya menggeleng dua kali. “Besok aja.”

Hinata menunggu, tapi yang lebih jangkung itu tak kunjung memberi alasan. Jadi, ia berpura-pura merajuk dengan menarik paksa tangannya, lalu berputar sehingga hanya punggungnya yang menghadap ke arah Tobio.

“Ya udah, terserah!”

Sesaat, tak ada apa pun yang terdengar kecuali bunyi selimut dan derit kasur. Tahu-tahu, ada hangat yang melingkupi punggungnya dari belakang, diikuti hela napas hangat di ceruk lehernya. Pinggangnya dilingkari dua lengan kokoh yang menarik tubuhnya lebih dekat.

“Kalau aku kasih sekarang, janji kamu nggak akan teriak, ya?”

Hinata menggeliat kegelian saat napas pria itu berderu menyapa telinganya. “Emang kadonya bikin kaget? Atau bikin takut?”

“…Dua-duanya.”

Dan, berhenti di sana— Tobio tak melanjutkan untuk sekadar memberi alasan.

“Kenapa gitu?” pancingnya tak ingin kalah, dikuasai rasa penasaran.

“Kamu bakal kaget dan nuduh aku alien lagi— oh ya, mending kamu nggak bergaul lagi sama Oikawa, kamu mulai diracunin yang aneh-aneh sama dia— terus bakal bikin takut karena kalau udah nerima hadiahnya, kamu nggak boleh pergi ke mana-mana lagi.”

Itu penjelasan yang panjang, namun sulit dimengerti. Hanya perintah untuk berhenti menghabiskan waktu dengan Oikawa-lah yang terigester di otaknya. Dan Hinata yakin bukan itu poin terpentingnya.

“Aku janji nggak akan teriak,” tukasnya yakin, diikuti anggukan mantap. Kepalanya ditolehkan sedikit untuk menatap sang kekasih. “Janji.”

Walau Tobio menatapnya tak percaya, ada rasa puas yang bermain di balik iris warna blueberry tersebut. Hinata mengira, memang itulah jawaban yang diharapkan Tobio keluar dari mulutnya.

“Kalau gitu, tutup mata kamu. Aku ambil dulu hadiahnya— eh, jangan coba-coba ngintip, ya.”

Hinata mengikuti perintah tersebut dan menenggelamkan wajahnya ke atas bantal sehingga sekalipun ia membuka mata, hanya gelap yang akan terlihat. Ia menunggu dengan jantung berdebar keras sementara bunyi-bunyi seperti langkah kaki, ritsleting tas yang dibuka, lalu langkah kaki lagi, kemudian derit kasur mengisi telinganya. Saat keadaan kembali hening, Hinata menahan napas selagi menunggu.

“Sho,” panggil Tobio dari sisinya— pelan, tapi penuh kepastian, “coba buka mata kamu.”

Dan Hinata membuka mata.

Ia membuka mata.


@fakeloveros

Satu pesan singkat itu berhasil membuatnya tertegun lama. Oikawa yang baru turun dari bus dan hendak melangkah, mendadak berhenti hingga membuat beberapa orang di belakangnya menggerutu. Tanpa memedulikan reaksi orang-orang di sekitarnya, ia hanya terdiam di tempat sembari menatap nyalang layar yang masih memperlihatkan pertanyaan tak terduga sang kekasih.

Oikawa sendiri bertanya-tanya— bagaimana Iwaizumi bisa tahu?

Perutnya bergejolak aneh. Ada rasa tak nyaman yang menjalar, membuat tangan dan punggungnya terasa dingin. Refleks, kepalanya menoleh ke berbagai arah. Jangan-jangan Iwaizumi ada di sekitar sini? Namun, orang-orang yang turun dari bus berbarengan dengannya barusan sudah tak terlihat. Hanya tersisa segelintir orang yang tengah menunggu di halte tersebut.

Oikawa kembali menatap layar ponselnya. Pesan itu masih terpampang jelas seakan mengolok— seakan menuduh karena ia sudah berbohong. Oikawa tidak tahu harus membalas apa, kendati Iwaizumi pasti sudah melihat tanda read kecil yang tertera.

Yang jelas, kepalanya memerintahkan agar kakinya melangkah secepat mungkin menuju apartemen mereka. Tidak dipedulikannya pesan lain dari pria yang memang hari itu ia temui. Sekarang yang ada di kepalanya hanya bagaimana menjelaskan ini semua kepada Iwaizumi.

“Shit,” umpatnya pelan kepada udara kosong selagi mengantungi ponselnya ke dalam kantung jaket. Dengan jantung yang mulai berdetak tak karuan, Oikawa bergerak secepat mungkin di tengah udara musim panas.

Sesungguhnya, banyak alasan yang membuatnya jadi sepanik ini. Kalau tidak mengenal baik Iwaizumi Hajime— sangat baik malah —mungkin dia bisa berpikir jernih sekarang dan menyusun rangkaian kalimat penjelasan di dalam otak. Tapi ia tahu bisa jadi secemburu apa kekasihnya, bahkan untuk sekadar hal kecil. Terkadang Oikawa memiliki kepuasan sendiri dalam menggoda pria itu. Ada kalanya, dia dengan sengaja melancarkan jurus flirting-nya dengan orang lain— sekadar untuk membangkitkan segelintir emosi di wajah sang kekasih. Dan caranya selalu berhasil, meski sudah ratusan kali Oikawa mengungkapkan bahwa itu candaan dan ia hanya bersikap ramah.

Tapi, kecemburuan seperti itu masih bisa diatasi. Oikawa hanya perlu memanjakan pria itu; meyakinkan berulang kali bahwa Iwaizumi masih segalanya baginya. Diiringi ciuman, serta satu blowjob jika memang diperlukan, dan setelahnya Iwaizumi akan kembali bersikap biasa.

Sayangnya, Oikawa tahu betul ia telah melakukan kesalahan besar kali ini. Pertama, ia pergi dengan Ushijima Wakatoshi, pria yang selama ini telah menjadi rivalnya sejak SMA (selain Kageyama, tentu saja). Kedua, Oikawa berbohong soal alasan kepergiannya— bahwa hari itu ia hanya akan pergi me time di sebuah pusat perbelanjaan sehingga sang kekasih tidak perlu ikut menemani. Walau masih penasaran bagaimana Iwaizumi bisa mengetahui soal kebohongannya, itu tak penting sekarang.

Oikawa memencet tombol lift dengan tidak sabar begitu tiba di gedung apartemen. Bibirnya sempat menyunggingkan senyum sopan begitu pintu lift terbuka dan keluarlah seorang wanita paruh baya bersama seekor anjing. Cepat-cepat ia masuk, membetulkan posisi tas yang sedikit merosot, lalu menarik napas dalam.

Saat lift akhirnya berhenti di lantai yang ditujunya, Oikawa mengeratkan cengkeraman di strap tasnya. Ia memperlambat langkah, baru kali itu otaknya kosong tanpa terlintas satu pun alasan yang bisa dipakai. Pintu yang menyambutnya pun nampak seperti gerbang kematian. Mungkin setelah ini dia akan—

Oke. Mungkin itu terlalu berlebihan.

Mungkin Iwaizumi hanya akan memperlihatkan kecemburuan seperti biasa. Oikawa pun hanya perlu meminta maaf dan menggunakan cara seperti biasa. Lalu setelah itu, mereka akan bersantai di depan TV dan memesan makanan seperti biasa pula. Dan hari pekannya akan berakhir seperti biasa.

Jadi, dengan keberanian baru, Oikawa memasukkan kode pintu apartemen mereka lalu membukanya seberisik mungkin— memberitahukan kehadirannya.

“Hajime?” panggilnya di tengah keheningan apartemen. Ruang tamu yang masih bergabung dengan dapur pun terlihat kosong. Tidak ada suara air mengalir pula dari dalam kamar mandi. Barulah ketika ia meletakkan tas di atas sofa dan melepas jaket, matanya menangkap pintu kamar tidur mereka yang tertutup.

Tanpa memasang ekspektasi bahwa Iwaizumi akan berada di dalam, Oikawa membuka pintu kamar.

“Oh,” batinnya otomatis saat melihat subjek yang dicarinya. Iwaizumi yang sedang berbaring dengan punggung bersender di kepala tempat tidur hanya meliriknya sekilas sebelum kembali menatap layar iPad.

“Aku kira… kamu nggak ada di rumah,” ucapnya pelan sembari menghampiri dengan langkah hati-hati. Jendela kamar mereka yang biasanya ditutup setiap malam, dibiarkan terbuka sehingga memperlihatkan cahaya dari gedung-gedung tinggi di luar sana. Apartemen mereka terletak di lantai 17; praktis memperlihatkan pemandangan indah kota di kala malam.

Tapi, bahkan keindahan pemandangan kota tidak bisa mengurangi aura dingin yang menguar dari sang kekasih.

Oikawa meneguk ludahnya dengan gugup. Perlahan ia menududukkan diri di atas kasur; di sebelah pria itu. Iwaizumi masih belum mendongak menatapnya, entah apa yang ditekuni pria itu dalam layar.

“Kamu udah makan? Kalau belum, mau pesen sekarang?” cobanya lagi dalam upaya memancing pria itu bersuara. Tapi yang diterimanya lagi-lagi hanya keheningan dan Oikawa mulai kehabisan kesabaran.

Oikawa mengembuskan napas kencang hingga poninya tertiup sedikit. “Aku tau kamu marah karena aku udah bohong soal alasan pergi hari ini. Tapi, aku tau kamu nggak bakal ngizinin kalau aku bilang bakal pergi sama Ushiwaka. Dan aku nggak tau gimana kamu bisa tau, atau apa yang kamu liat, tapi sumpah!” Oikawa mengangkat kedua telapak tangannya, “Aku sama dia nggak ngapa-ngapain! Aku cuma dengerin dia nanya-nanya soal—”

“Aku nggak nanya kamu sama dia ngapain aja.”

Bibirnya terbungkam secara otomatis. Saat ia mencoba membukanya lagi, tak ada suara yang keluar. Keningnya berkerut defensif; tidak menyukai nada yang digunakan sang kekasih.

“Terus? Sekarang kamu marah, kan, tapi? Ini aku lagi berusaha jelasin, jadi at least kamu bisa dengerin dulu daripada ada salah paham.”

Kali ini, Oikawa berucap setegas mungkin. Ia tidak menampilkan kesan bercanda agar Iwaizumi pun menganggapnya serius. Ia paling benci jika ada miskomunikasi di antara mereka. Baginya, komunikasi tetaplah penting, sekalipun mereka telah mengenal satu sama lain sejak kecil.

Oikawa memang mengharapkan respons, tapi yang tidak disangkanya adalah ketika Iwaizumi tahu-tahu mengeluarkan tawa kosong. Netra gelap pria itu akhirnya menatap lurus dirinya dan Oikawa harus menahan gelenyar dingin yang merambat di sepanjang lengan agar kegugupannya tidak tertangkap jelas.

“Lucu kamu bilang begitu,” Iwaizumi menukas tanpa ada humor terselip di dalamnya. “Apa kamu bakal jelasin juga seandainya nggak ketauan bohong? Baru pas ketauan kayak gini kamu takut ada salah paham di antara kita?”

“Aku nggak—” Oikawa berusaha membela diri, tapi kata-kata apa pun yang nyaris keluar segera ditelannya kembali. Dalam hati ia berusaha menenangkan diri. Jika mereka berdua sama-sama terpancing emosi, tentu masalah ini akan semakin merembet ke mana-mana. “Oke, sebelumnya, aku minta maaf karena udah nggak jujur. Aku cuma mikir lebih baik… kamu nggak tau. Toh, aku juga nggak ngapa-ngapain sama Ushiwaka. Aku pun nggak ada niatan buat ketemu dia lagi habis ini, jadi… aku minta maaf pokoknya.”

Belum ada sepuluh detik Oikawa mengutarakan rentetan kalimat tersebut, Iwaizumi kembali mendengus pelan. Pria itu akhirnya bergerak— mematikan layar iPad dan meletakkannya di atas nakas. Matanya mengikuti tanpa sadar; menunggu apa yang akan diucapkan atau dilakukan sang kekasih.

“Oke.”

Oikawa mengeluarkan napas lega.

“Tapi malem ini, aku nggak akan berhenti gitu aja.”

“Apa?” tanyanya, tak paham maksud pria itu.

“Di mana HP kamu?” potong pria itu cepat— mengejutkannya.

“Eh? Di… di dalem jaket, di ruang tamu,” jawabnya bingung.

“Aku mau habis ini kamu hapus nomor dia. Ngerti?”

Oikawa meneguk ludahnya kasar. Kepalanya mengangguk tanpa sadar mendengar titah tersebut. Ia tidak perlu bertanya siapa dia yang dimaksud. Saat Iwaizumi nampak puas dengan jawaban tanpa suaranya, pria itu tanpa aba-aba meraih dagunya di antara telunjuk dan ibu jari. Oikawa hanya sempat menarik napas selama tiga detik sebelum bibirnya dikuasai penuh. Bukannya ia sendiri tidak melihat hal itu datang, tapi saat kekagetan dari sebelumnya belumlah lenyap, apa pun yang dilakukan pria itu terasa bagai kejutan listrik.

Namun, tidak butuh waktu lama bagi Oikawa untuk menyambut ciuman yang mulai melibatkan lidah dan saliva tersebut. Ini— masih bisa dia handle. Masih bisa ia balas dengan hasrat yang sama. Rasa frustrasinya atas masalah mereka sebelum ini menguap seketika. Tangannya terangkat dan dikalungkan di sekitar leher sang kekasih sebagai upaya menghapus jarak. Tetapi saat Oikawa menekan tubuhnya agar hangat pria itu kian tersalurkan, Iwaizumi justru melepaskan ciuman mereka. Bibirnya mengeluarkan desah kecewa dan kelopaknya mengerjap terbuka.

Di situlah ia baru sadar, Iwaizumi belum menyentuhnya sama sekali kecuali adu bibir yang tadi mereka lakukan. Tatapan penuh tanda tanyanya pastilah tertangkap jelas. Tersenyum miring, Iwaizumi meraih sesuatu dari dalam nakas. Matanya terbelalak saat mendapati benda tak asing yang diraih pria itu.

“Aku mau kamu nurut sama aku malem ini. Bisa?”

-tbc


@fakeloveros

Padahal Oikawa hanya bercanda saat mengatakan akan mengenakan sesuatu yang konyol seandainya Iwaizumi menang adu panco melawan murid dari sekolah lain. Pasalnya, murid itu memiliki perawakan fisik yang jauh lebih besar dari sang sahabat, jadi Oikawa yakin dirinya akan memenangkan taruhan mereka (ia sendiri berencana menyuruh Iwaizumi mengenakan kaus berwarna pink stabilo— sesuatu yang benar-benar dibenci pria itu).

Sayang, ia lupa bahwa Iwaizumi Hajime bukanlah orang yang suka menerima kekalahan; sifat yang seharusnya tak asing lagi karena dirinya pun begitu.

Oikawa sudah menyiapkan mental seandainya Iwaizumi menyuruhnya mengenakan kaus Godzilla berwarna hijau terang yang dimiliki pria itu. Dari sekian banyak gaya fashion yang dimiliki Iwaizumi, kaus itulah yang paling dibencinya. Dan Oikawa yakin, Iwaizumi mengetahui kebenciannya tersebut sehingga akan dijadikan titik lemah.

Matanya menyipit curiga manakala Iwaizumi menyuruhnya datang ke gudang olahraga kala pulang sekolah hari itu. Kalau memang ingin mempermalukannya, bukankah seharusnya Iwaizumi memilih jam yang lebih ramai? Bahkan sekarang tak begitu banyak murid yang tersisa kecuali segelintir di lapangan, serta yang sedang mengikuti kegiatan klub. Praktis, kecurigaannya kian bertambah saat membuka pintu gudang dan menemukan sahabatnya sudah menunggu di sana.

Gudang itu tak terlalu gelap walaupun lampunya dimatikan. Jendela yang ada di ruangan cukup memberikan pencahayaan dari sinar matahari sore. Oikawa menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekat— mencari-cari dengan matanya letak kaus berwarna hijau yang akan dikenakannya di depan umum sebentar lagi. Namun, Iwaizumi hanya menegakkan tubuh dan menyerahkan kain bermotif kotak-kotak begitu Oikaw tiba di depan temannya itu. Oikawa memperhatikan baik-baik sebelum menyadari bahwa yang disodorkan kepadanya adalah rok seragam sekolah mereka.

Tangannya menerima fabrik itu sedikit ragu. “Kok, lo malah bawa rok…?”

Awalnya, Iwaizumi tak langsung menjawab. Pria itu hanya menatapnya lekat seakan memiliki ekspektasi terhadap sesuatu. Oikawa mengerutkan kening, lantas menatap kain di tangannya dengan bingung.

“Jangan bilang… lo mau gue pake ini?”

Saat akhirnya pria itu memberikan reaksi berupa anggukan, Oikawa refleks beringsut mundur dengan tangannya yang memegang rok terjulur ke depan. “Hah? Lo gila, ya?! Ogah! Gue nggak mau pake itu!”

“Di perjanjian kita nggak ada aturan khusus, kan? Berarti, gue bisa nyuruh lo pake apa aja,” respons Iwaizumi datar dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat Oikawa berhenti mengerut jijik dan ganti menatap sang sahabat dengan penuh tanda tanya.

“Lo serius mau gue pake ini?”

Iwaizumi mengangguk mantap.

“Terus, habis itu gue harus keluar? Biar anak-anak liat?” Oikawa mengerang. Ia sudah bisa membayangkan reaksi murid di sekolah mereka, terutama Matsukawa dan Hanamaki. Dua sejoli itu pasti akan meledeknya habis-habisan, setidaknya selama setahun penuh sampai kelulusan.

“Nggak usah.”

Balasan Iwaizumi membuatnya mengangkat satu alis. “Hah?”

“Nggak usah keluar. Pake di sini aja, depan gue.”

“Kenapa gitu?” tanyanya otomatis. Ia pikir, esensi dari taruhan mereka adalah untuk mempermalukan pihak yang kalah? Kalau hanya Iwaizumi yang melihat, bukankah itu akan menjadi percuma? Oikawa berusaha menebak jalan pikiran sahabatnya. “Ooh, atau lo mau foto gue, terus nanti fotonya lo sebarin? Iya, ya? Gitu, ya?” tuduhnya, dengan nada sedikit sewot.

“Nggak,” lagi-lagi Iwaizumi hanya menggeleng. “Cuma gue yang bakal liat lo pake itu.”

Oikawa membuka mulut untuk kembali menyudutkan pria itu. Namun, determinasi yang ada di balik obsidian sahabatnya membuat Oikawa mengurungkan niat tersebut. Pandangannya beralih ke rok yang ada di genggamannya— mungkin lebih cepat lebih baik. Ia bahkan sudah tidak terlalu peduli untuk bertanya dari mana Iwaizumi mendapatkan rok tersebut.

“Oke.” Bahunya terangkat ringan; ia pikir itu bukan masalah. Lagi pula, apa susahnya, sih, mengenakan rok?

“Lepas celana lo juga.”

Saat titah itu terlontar, Oikawa menunduk menatap celana seragamnya, kemudian balik ke Iwaizumi yang terlihat serius dengan kata-kata barusan. Mendadak, suhu di dalam gudang tersebut seolah naik. Oikawa berdeham untuk menghilangkan kegugupan, lantas dengan santai mulai membuka ritsleting celananya.

Oikawa berusaha mengabaikan tatapan Iwaizumi yang mengikuti gerakannya— membuatnya seakan ditelanjangi, padahal ia pun masih mengenakan bokser putih di balik celana kotak-kotaknya.

Setelah melepas celana dan meletakkannya di atas salah satu matras senam lantai yang ada di sana, Oikawa meloloskan kakinya satu per satu ke dalam rok dan menaikkan ritsletingnya dengan mudah. Dalam hati ia terkejut karena ukuran rok itu sangat pas untuknya walaupun jika diukur berdasarkan tinggi, ternyata cukup pendek sehingga mengekspos pahanya sedemikian rupa. Oikawa menepuk-nepuk rok itu, seolah membersihkan debu yang kasatmata. Kenyataannya, ia hanya tidak berani mengangkat kepala dan menemukan tatapan Iwaizumi masih terpaku di dirinya.

“Berapa lama gue harus pake ini?”

Sunyi senyap— tak ada jawaban yang terdengar. Menyerah, Oikawa pun mengangkat kepala. Serta merta pemandangannya disambut oleh Iwaizumi yang mengambil langkah besar dan tahu-tahu berdiri di depannya. Pria itu bagai menjulang, walau jelas-jelas dirinyalah yang lebih tinggi. Gelap netra itu, Oikawa punya firasat, tak ada hubungannya sama sekali dengan ruangan yang minim cahaya. Ia menelan ludahnya gugup dan hampir mengambil langkah mundur. Seketika, Iwaizumi menahan tangannya cepat.

“Tunggu. Tunggu sebentar.” Pria itu terlihat kesulitan bicara. “Jangan… gerak dulu.” Iwaizumi mencondongkan tubuh dan memerangkap Oikawa dalam tatapannya. “Gue… mau coba sesuatu, kalau boleh.”

Oikawa tak bergerak— tak mampu bergerak. Dan mungkin rapat bibirnya yang terkatup ditandai sebagai gestur persetujuannya. Masih dengan tatap penuh intensitas yang membuat wajahnya memanas, Iwaizumi perlahan menghilangkan jarak hingga menyudutkannya di antara dua lemari. Oikawa bingung kenapa dirinya tidak menolak atau mendorong pria itu sekalian, terlebih saat Iwaizumi menahan pinggangnya dengan kedua tangan.

“Gini nggak apa-apa?”

Lidahnya terlalu kelu untuk sekadar mengeluarkan kata ya. Namun, Iwaizumi nampaknya paham karena pria itu hanya menyunggingkan senyum kecil sebelum lebih menghimpitnya. Tangan pria itu perlahan turun hingga menyentuh ujung roknya. Oikawa yakin tubunya bergetar manakala tangan besar Iwaizumi menyusup ke balik rok dan mengelus bagian dalam pahanya naik turun— amat perlahan, seperti mengetes reaksinya. Kasar kulit pria itu di atas pahanya yang tak tertutup apa pun menimbulkan sensasi aneh. Oikawa terpaksa memejamkan matanya erat dan menggigit bibirnya, berupaya tidak mengeluarkan suara-suara aneh.

Tiba-tiba, ada sentuhan mengejutkan yang menyapa kulit lehernya.

Oikawa membuka mata dan terkesiap. Tangannya yang tadinya terjulur kaku di samping tubuh, otomatis terangkat untuk mencengkeram lengan Iwaizumi. Otot pria itu seakan berkontraksi di bawah sentuhannya. Meski demikian, Iwaizumi tidak menghentikan gerak bibir di lehernya— malah bergerak naik menyusuri rahang, lalu turun kembali dan menjatuhkan kecupan di ceruknya.

“Wa…” lirihnya, tanpa tahu apa yang ingin dikatakan. Kakinya lemas dan mungkin ia sudah terjatuh seandainya tidak ada Iwaizumi yang menopang beban tubuhnya. “T-tunggu…” Namun, satu kata akhirnya berhasil keluar manakala dirasakannya tangan Iwaizumi kian merangkak naik. Pria itu seketika berhenti dan menjauhkan wajah sedikit untuk menatapnya. Kalau tidak salah mengartikan, Oikawa paham bahwa itu adalah tatapan penuh hasrat.

“Lo… ngapain?” tanyanya lagi, enggan menyuarakan secara lantang bahwa berhentinya pria itu malah membuatnya frustrasi.

“Nggak boleh?” Bukannya menjawab, Iwaizumi malah balik bertanya dalam lirih yang sama. “Kalau nggak boleh ngomong aja, gue bakal langsung berhenti.”

Bukannya nggak boleh, Oikawa berpikir selagi mengalihkan tatapan. Tapi, mereka selama ini kan cuma sahabat…

“Tooru.”

Oikawa tertegun saat nama kecilnya diucap jelas; tatapannya kembali ke depan. Iwaizumi, dengan tangan kiri yang bebas, mengusap pipinya dengan punggung tangan. “Kalau nggak boleh juga ngga apa-apa. Kita bisa ngelupain ini.”

Pria itu mulai menarik diri, tetapi gerak tangannya jauh lebih cepat dibanding gerigi di otaknya dalam meregister situasi.

“Nggak apa-apa,” Oikawa sadar bibirnya bergerak menyuarakan hal tersebut. “Coba… lanjut aja.”

“Yakin?” Iwaizumi mencari-cari netranya. Oikawa mengangguk tanpa suara dan berusaha untuk tidak mendesah lega saat Iwaizumi kembali menipiskan jarak. “Kalau lo berubah pikiran, bilang aja. Gue pasti bakal langsung berhenti.”

Mungkin itu hanya ungkapan formalitas karena setelahnya, Iwaizumi justru bergerak bagai mobil yang baru saja diberikan lampu hijau. Tangan pria itu kembali menyusup— kali ini penuh urgensi. Oikawa tak bisa menahan erangannya saat menerima remasan di pahanya yang masih dijamahi.

“Lo… cocok banget pake ini,” gumam Iwaizumi, tanpa terdengar mengejek sama sekali. “Gue suka liatnya,” lanjut pria itu dengan suara seperti tercekat.

Kepalanya berputar pening— tidak pernah terbayangkan olehnya mereka akan melakukan hal sefrontal seperti ini. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, bukan berarti matanya tak pernah menelusuri punggung dan abdomen sang sahabat yang kian terbentuk manakala mereka sedang berganti baju setelah latihan. Beberapa kali ia pun pernah tak sengaja menangkap basah Iwaizumi melakukan hal yang sama. Ada kalanya, sentuhan pria itu di punggungnya saat memuji di lapangan terasa berbeda— seperti berlama-lama untuk mengharapkan suatu reaksi.

Mungkin, hasrat itu sudah ada di antara mereka sejak dulu dan Iwaizumi mendapat keberanian untuk mengkonfrontasinya lewat taruhan konyol mereka.

Jujur saja, Oikawa tidak keberatan sama sekali.

“O-oh, ya?” tanyanya kesulitan, lebih-lebih ketika dua tangan yang kerap bergerak aktif itu meremas bokongnya tanpa aba-aba. Oikawa menjatuhkan kepalanya di atas bahu pria itu— mendesah di sana saat roknya disingkap ke atas dan Iwaizumi bersusah payah menurunkan celananya. “Seberapa… suka?”

Napas pria itu terdengar liar di telinganya. “Lo… tau? Tiap kita latihan, seberapa susahnya fokus gara-gara celana lo yang kependekan itu? Dan gue selalu bayangin, apa rasanya kalau bisa megang tanpa penghalang sama sekali. Apa rasanya kalau bisa nandain paha lo yang mulus ini. Kalau bisa—” Iwaizumi memotong ucapannya sendiri untuk mengumpat pelan. Dan Oikawa nyaris saja tertawa kalau bukan karena keras yang tiba-tiba beradu dengan miliknya di bawah sana. Oikawa menunduk dan mendapati pria itu telah menurunkan celana hingga lutut— memperlihatkan ukuran masif yang berdiri tegang. Oikawa meneguk ludah dan mengangkat wajah hingga beradu pandang dengan Iwaizumi.

“Sori, gue nggak bisa nahan,” aku pria itu tanpa malu-malu. Oikawa mendengus keras, namun tak berlangsung lama karena bibirnya kembali meloloskan desah panjang saat kejantanan mereka beradu untuk kedua kalinya. Keningnya ia senderkan di bahu pria itu sembari menatap pemandangan di bawah dengan dada yang naik turun. Tangan Iwaizumi yang berukuran lebih besar darinya menyatukan penis mereka dan mulai memompanya naik turun. Saat ia nyaris berteriak agar pria itu mempercepat gerakan, Iwaizumi meludahi telapak tangan, kemudian mengulangi gerak yang sama dengan ritme tanpa ampun. Basah tangan pria itu membuat gerakan naik-turun yang dilakukan semakin lancar; menaikkan libidonya. Lenguhannya ia perdengarkan tanpa ragu, mengisi gudang seolah berlomba dengan geram rendah yang dikeluarkan Iwaizumi.

Tangannya mencengkeram bahu pria itu kuat— dilanda dilema antara ingin terus memperhatikan dan memejamkan mata karena aktivitas erotis yang tengah berlangsung. Iwaizumi tak perlu lagi meludahi tangan karena licin itu mulai terasa alami berkat cairan yang perlahan keluar dari ujung masing-masing. Oikawa melingkarkan tangannya di sekitar leher Iwaizumi dan mendekap sahabatnya erat; mengikuti hentakan yang dituntun pria itu demi mengejar pelepasan mereka. Wajah dan tubuhnya terasa panas. Peluh mengalir deras membasahi kausnya yang terasa sesak. Ada gumpalan panas yang terasa di dasar perutnya sebelum Iwaizumi mengocok lebih cepat hingga erangan mereka bersatu kala putih itu keluar bebas. Iwaizumi memperlambat gerak tangan, sedang Oikawa berusaha mengatur napas akibat orgasme yang baginya luar biasa tersebut. Ia seakan tidak bisa berhenti, sekalipun sentuhan Iwaizumi mulai membuatnya sensitif.

Begitu tak ada tenaga yang tersisa, Oikawa memasrahkan diri di pelukan pria itu. Iwaizumi menurunkan roknya dan ganti memeluk pinggangnya selagi ikut menenggelamkan diri di atas bahunya. Oikawa memejamkan mata walau otaknya mulai meneriakkan apa yang baru saja terjadi.

Mereka tetap berada di posisi itu selama beberapa menit.

Hingga Iwaizumi menjadi yang pertama melepaskan diri untuk melarikan pandangan ke bawah.

“Simpen aja roknya, itu buat lo.”

Oikawa memutar kedua bola mata. Iwaizumi hanya tersenyum lebar dan melanjutkan dengan nada sugestif.

“Dan mungkin… kita bisa taruhan lagi buat hal lain nanti.”


@fakeloveros

Satu dari sekian banyak sifat buruknya, Oikawa paham betul bahwa inilah yang paling sulit ditolerir.

Kepalanya dimiringkan di atas bantal, jendela kamarnya— kamar lamanya — terbuka lebar hingga memperlihatkan pemandangan langit biru cerah yang teriknya sungguh kontras dengan mendung di hatinya. Matanya menatap kosong, meski suara-suara di benaknya silih berganti menghampiri— membuat pikirannya jauh melayang tanpa memedulikan getar ponsel di atas nakas yang nampaknya tidak ada tanda-tanda untuk berhenti.

Tanpa perlu melihat pun, Oikawa tahu siapa yang sedang berusaha menghubunginya.

Oikawa memalingkan muka dan menenggelamkan wajahnya di atas bantal. Ia hirup dalam-dalam aroma deterjen familier yang melingkupi bantalnya, kemudian dilepaskannya dengan berat. Meski telah melakukannya berulang kali, tetap saja tak ada cara untuk mengurangi sesak di dada yang menghimpitnya sejak tadi pagi— sejak dia mengucapkan salam perpisahan kepada sosok wanita paruh baya yang kerap menyambutnya hangat diiringi sorot mata penuh pengertian, terlebih saat tangannya menggandeng seorang anak perempuan berkuncir dua.

“Mas nggak perlu ngerasa nggak enak. Silakan datang lagi ke sini kapan aja, sama Mas Iwa juga boleh. Saya juga kangen pengen liat Tobio.”

Oikawa berharap senyumnya tidak terlihat pahit manakala gelengan ia berikan, sekaligus alasan yang menyertai.

“Saya… belum tau, Bu, bisa ke sini lagi atau nggak. Tapi nanti kalau ada waktu, saya bisa kasih tau Tobio buat sekali-sekali main ke sini.”

Ibu yang merawat panti asuhan itu lagi-lagi hanya tersenyum, kemudian meninggalkannya dengan anak perempuan yang masih menggenggam tangannya erat. Ada tarikan konsisten di celananya yang membuatnya menunduk menatap sosok kecil itu.

“Om mau main pasir lagi?”

Bohong kalau Oikawa tidak ingin menangis saat itu juga.

Dan itu memang pertanda manakala air mata yang sedari tadi menggenang tahu-tahu jatuh dan langsung diserap oleh bantalnya. Oikawa memiringkan kepalanya kembali, menghirup dalam-dalam udara walau semakin sulit dengan gumpalan tak kasatmata yang memenuhi tenggorokannya.

Setelah beberapa menit berbaring dengan posisi seperti itu, telinganya menangkap ketukan samar di pintu kamarnya. Tak lama, kepala ibunya muncul dari balik pintu. Lagi-lagi, Oikawa bisa menebak apa yang akan dikatakan ibunya, bahkan sebelum wanita itu membuka mulut.

“Suamimu dateng, tuh… katanya mau jemput. Ibu suruh tunggu di bawah aja atau naik ke sini?”

Oikawa tahu ini sikap yang kekanak-kanakan, tapi sekarang ia sedang tidak ingin bertemu siapa pun. Meski begitu, bagian lain dari dirinya merasa bersalah karena telah menempatkan suaminya dalam posisi yang sulit. Tapi, demi apa pun, ia takut jika bertatap muka dengan suaminya sekarang, air mata yang tidak ingin diperlihatkannya justru akan jatuh tanpa aba-aba. Oikawa tidak ingin dianggap merajuk atau memberikan kesan bahwa ia sengaja melakukan itu.

“Bilang aja…” Oikawa berdeham karena suaranya terdengar serak, “suruh tunggu di rumah, nanti sore atau malem aku bakal pulang, kok.”

Oikawa belum mengutarakan apa pun kepada ibunya, namun dari sorot mata teduh yang dilayangkan, nampaknya sang wanita pun paham ada masalah di antara dirinya dengan Iwaizumi. Ia cukup mensyukuri ibunya tidak memaksa dirinya untuk bercerita. Setidaknya untuk sekarang.

“Ya udah, ibu bilangin dulu ke mas gantengmu itu.”

Oikawa tersenyum kecil mendengar ibunya masih memanggil Iwaizumi dengan panggilan yang sama sejak dulu. Setelah pintu kamarnya ditutup pelan, Oikawa mengubah posisi tidurnya hingga menghadap langit-langit kamar. Matahari masih bersinar cerah di luar sana, tetapi bukan itu sebabnya memejamkan mata.

Saat tak ada suara-suara lagi yang terdengar dari lantai bawah dan kantuk mulai menyerangnya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, dengan setengah mengantuk, Oikawa meraih benda pipih itu dan membaca chat yang masuk dari notifikasi layar. Nama suaminya tertera di sana dengan isi pesan yang mau tak mau mengundang dengus pelan.

Kalau nanti malem kamu gak pulang juga, aku bakal masuk ke kamar kamu lewat jendela

Satu getaran lagi terasa.

Bukannya aku gak mau punya anak lagi

Jantungnya berdebar kencang, netranya otomatis terbuka lebih lebar.

Tp aku mau ngasih tau alasanku dulu ke kamu

Oikawa menatap layarnya lama. Jarinya bergerak untuk membuka kunci, tapi ada satu pesan lagi yang tiba-tiba masuk.

Jadi nanti kamu pulang ya? Please.


@fakeloveros