sua

Oikawa menunggu kedatangan Tobio dengan jantung berdegup kencang. Tangannya yang berkeringat, berulang kali ia gesekkan di atas celana. Ada beberapa butir pasir yang masih tertinggal di sana sehingga senyumnya otomatis mengembang. Meski begitu, pengalaman tak terlupakan yang tadi didapatnya di panti asuhan tidak mampu menutupi kegugupan yang melandanya sekarang.

Bagaimana kalau ternyata Tobio menolak idenya tersebut?

Oikawa tidak sempat memikirkan kemungkinan itu lebih lanjut ketika tiba-tiba kursi di hadapannya ditarik dan duduklah sosok pemuda yang ditunggunya sedari tadi. Tobio muncul dalam balutan seragam SMA yang ditutupi oleh jaket berwarna biru. Tampang anaknya itu datar seperti biasa, tetapi Oikawa bisa menangkap sekelebat rasa penasaran begitu Tobio sudah memberinya atensi penuh.

“Kamu mau pesen dulu?” mulainya, berusaha menjaga nadanya tetap netral. Namun, Tobio menggeleng selagi merapatkan jaket.

“Masih kenyang, pa,” jawab anaknya itu singkat.

“Oh, oke.”

“Papa mau ngomongin apa, sih?”

Sungguh khas Tobio— pikirnya seraya mengeluarkan hela napas kecil. Anaknya itu memang paling tidak suka berbasa-basi, selalu to the point. Tapi, mungkin memang lebih baik ia mengutarakan langsung tanpa perlu berputar-putar.

“Sebenernya… papa kepikiran sesuatu,” cakapnya hati-hati. “Dan papa mau tau pendapat kamu gimana. Jadi, jawab yang jujur, ya.”

Tobio mengangguk tanpa suara.

“Papa… kepikiran buat ngadopsi anak lagi.”

Hening. Tapi, ada sedikit keterkejutan bermain di netra gelap anaknya.

“Papa udah bilang soal ini juga ke ayah kamu, cuma… kayaknya ayah kamu masih ragu. Tapi, biar itu jadi urusan papa sama ayah. Yang penting sekarang papa mau tau dulu pendapat kamu gimana…”

Suaranya menghilang seiring kesunyian yang terus melingkupi mereka. Tobio diam tak bergerak seperti patung. Oikawa hanya tahu anaknya itu masih memproses ucapannya dilihat dari napas yang ditarik dan dikeluarkan perlahan.

“Itu yang bikin kalian berantem?” tembak anaknya tiba-tiba, membuat Oikawa tertegun sesaat.

“Eh… papa sama ayah nggak sampai berantem, sih…” Tangannya memainkan tisu yang ada di atas meja dengan sedikit gugup. “Kita cuma… belum ngobrolin ini lebih jauh.”

Tobio membetulkan posisi duduk. Kening pemuda itu terlihat mengerut dalam. “Apa yang bikin ayah nggak langsung nge-iya-in?”

Bahunya terangkat otomatis. “Jujur, papa belum nanya. Ayah kamu cuma bilang papa perlu mikirin soal itu sekali lagi.” Kini, giliran keningnya yang berkerut tak paham. “Apa menurut kamu juga… kemauan papa itu aneh? Nggak tepat?”

Tobio tak langsung menjawabnya. Tatapan pemuda itu turun dan nampak memperhatikan meja kayu yang memisahkan mereka. Oikawa menunggu dengan sabar, walau detik yang kian berlalu justru menambah rasa waswasnya.

“Kenapa?”

Satu pertanyaan itu membuat Oikawa mengerjapkan mata. “Apa?”

“Kenapa papa mau ngadopsi anak lagi?”

Oikawa tentu sudah memikirkan alasannya, jauh sebelum ia mengutarakan hal itu kepada suaminya sendiri. Dan mungkin ini akan terdengar aneh, tapi ia sendiri tidak memiliki alasan persis. Oikawa hanya sering membayangkan kehadiran satu orang lagi tentu akan menambah keramaian di rumah mereka dan itu tervisualisasi sangat menyenangkan di benaknya. Ia sendiri tumbuh besar sebagai anak tunggal, dan walau hal itu tetap dia syukuri, Oikawa seringkali membayangkan kehadiran kakak atau adik yang bisa menemaninya.

Jadi, ia pikir Tobio pun pernah merasakan hal yang sama. Namun, alasan itu rasanya sulit ia jabarkan secara langsung.

“Soalnya…” Oikawa memutar otak, mencari kalimat yang tepat, “bukannya asik kalau rumah kita ketambahan satu orang lagi? Ada yang bisa nemenin papa juga pas ayah kamu lagi dinas luar atau kamu ada training camp. Kamu juga bisa punya temen ngob—”

“Jadi,” Tobio tiba-tiba memotongnya, “papa mau ngadopsi anak lagi cuma biar nggak kesepian di rumah?”

Oikawa membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi tak ada suara yang keluar. Hanya perasaannya kah, atau memang nada Tobio terdengar menuduh?

“Emangnya ada ayah sama aku aja kurang, pa? Harus banget kita nambah anggota keluarga baru? Kalau papa nggak mau sendirian, kan bisa ke rumah oma. Toh, tinggal jalan kaki. Atau bisa juga ke rumah Om Suga, kan? Lagian akhir-akhir ini ayah juga udah jarang dinas luar. Aku juga udah kelas tiga, udah nggak bisa lagi ikut training camp.”

Oikawa mengerjap-ngerjap, berusaha melenyapkan selaput tipis air yang tanpa sadar membuat penglihatannya mengabur. Ia berdeham dan berusaha tersenyum, walau ada sesak yang mulai menghimpit dadanya. Oikawa menarik napas dalam sebelum kembali bersuara.

“Oke, jadi…” sial— suaranya terdengar gemetar, “apa itu artinya kamu nggak setuju?”

Tobio memalingkan muka, mungkin sadar dengan kekecewaan yang melingkupi nada dari pertanyannya. Oikawa lantas memainkan jari-jarinya dengan gelisah, menunggu jawaban final si anak semata wayang.

Karena kalau Tobio tidak setuju maka tidak ada yang bisa dilakukannya lagi.

“Aku… bakal coba pikirin lagi.”

Oikawa mengembuskan napas yang ditahannya sedari tadi. Setidaknya, itu lebih baik dibanding penolakan frontal. Untuk sekarang.

“Oke,” Oikawa berupaya kembali menyunggingkan senyum. “Nanti kasih tau papa, ya, keputusan fix kamu,” ucapnya selembut mungkin, meski sesak di dadanya belum juga berkurang.

Saat Tobio mengangguk, Oikawa menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dengan lelah. Matanya tanpa sengaja menangkap kembali butir-butir pasir yang masih mengotori celananya. Ia menatap butiran itu lama— teringat kembali dengan senyum ceria seorang anak perempuan yang ditemuinya di panti asuhan.

Mungkin, itu memang hanya akan menjadi kenangan tak terlupakannya.


@fakeloveros

“Kalau bener kamu ngerencanain sesuatu, aku bakal ngambek selama seminggu penuh.”

Pria yang diancamnya malah tertawa selagi menarik pinggangnya mendekat. “Cuma seminggu?”

“Apa? Cuma? Emang kamu mau lebih?!”

Iwaizumi menjatuhkan kecupan ringan di pipinya, mengabaikan pertanyaan konyolnya.

“Kamu udah siap?”

Oikawa menunjuk ke arah lantai dan sang kekasih mengikuti arah tunjuknya.

“Nih, aku beneran pake running shoes sesuai yang kamu suruh!”

Iwaizumi mengangguk-angguk, ada senyum kecil terlukis di wajah tampan pria itu. Walaupun masih merasa curiga, Oikawa lebih memilih untuk tidak menanyakan apa pun lagi— tahu persis bahwa usahanya akan sia-sia karena sang atlet profesional pun sama keras kepalanya dengan dia. Oikawa hanya berharap tidak ada satu pun paparazzi yang akan benar-benar mengenali dan mengejar mereka.

“Manajerku udah reserve di ruangan privat pake nama dia. Ada kenalannya juga ternyata yang kerja di sana, jadi nggak perlu khawatir,” ujar Iwaizumi selagi mereka melangkah menuju tempat parkir. Oikawa setengah mendengarkan karena sibuk membenarkan topi dan kacamatanya. Iwaizumi sendiri mengenakan hoodie dan masker yang menutupi nyaris setengah wajah. Seharusnya dengan dandanan seperti ini tidak akan ada yang sadar mereka siapa. Namun entah mengapa, beberapa hari belakangan media mulai curiga akan hubungan mereka— seorang model dan atlet boxing papan atas. Demi keberlangsungan profesi masing-masing, turun perintah dari agensinya untuk merahasiakan hubungan walaupun awalnya Oikawa menolak keras. Ia justru ingin semua orang tahu karena bagaimanapun, perjalanan kisah asmara mereka tidak terbilang mudah. Dan semua itu diawali dari pertemuan yang sebenarnya sangat konyol jika diingat-ingat lagi.

Tapi lambat laun, Iwaizumi sendiri akhirnya menyetujui syarat dalam hubungan mereka. Oikawa sebenarnya masih mempertanyakan hal itu sampai sekarang, tapi selama hubungan mereka berjalan lancar, ia hanya menyimpannya dalam hati.

Mereka tidak menghabiskan banyak waktu di jalanan, mengingat itu belum memasuki jam pulang kerja. Saat mereka disambut sopan oleh pelayan, Oikawa menggulirkan matanya ke penjuru restoran— sejauh ini, tidak ada yang terlihat mencurigakan.

“Silakan ke sebelah sini,” tukas pelayan wanita yang menyambut mereka sambil menunjuk ke satu arah. Oikawa yang mulai rileks pun mengikuti langkah Iwaizumi yang berjalan di depannya.

Setelah masuk ke ruangan privat yang disediakan dan memesan beberapa menu, Oikawa segera mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar sang manajer. Namun, saat sedang membaca beberapa pesan masuk, ketukan dari atas meja berulang kali mengalihkan fokusnya. Iwaizumi yang merasa tepergok langsung menarik tangan, berdeham, dan memperhatikan lukisan di dinding dengan penuh minat.

“Kamu kenapa, sih?” tanyanya, yang merasa heran melihat kelakuan tak biasa sang kekasih. “Kok keliatan nervous gitu?”

“Siapa yang nervous?”

Jawaban cepat itu justru menimbulkan kecurigaan dalam dirinya yang tadi sempat hilang. Oikawa meletakkan ponsel lalu memperhatikan pria di hadapannya dengan mata memicing.

“Ayo ngaku, kamu habis ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain, kok.”

Beruntung, pria itu diselamatkan oleh dua pelayan yang masuk mengantarkan pesanan. Perutnya yang lapar pun terpaksa membuat sesi interogasi itu ditunda. Meski begitu, bukan berarti Oikawa tidak mengawasi gerak-gerik kekasihnya, bahkan selama makan. Iwaizumi kerap kali melirik ke arah ponsel seakan menunggu seseorang menghubungi. Oikawa tidak mengungkit hal tersebut dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan makan sembari sesekali mengajak ngobrol sang kekasih.

Begitu makanan di atas meja telah tandas dan mereka sedang menunggu pelayan membawakan bill, Oikawa mencondongkan tubuh dan menatap Iwaizumi tepat di manik mata.

“Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu. Ya, kan?”

Pria yang sedang memasukkan ponsel ke dalam kantung celana itu menghentikan gerakan sesaat lalu menatapnya balik. “Nyembunyiin apa? Nggak, kok.”

“Jangan bohong,” tuduhnya tajam. “Emang dari tadi kamu kira aku nggak merhatiin apa? Lagi makan aja kamu ngeliatin HP terus kayak nungguin chat atau telpon dari seseorang. Siapa, tuh? Ada urusan apa?”

“Tooru,” Iwaizumi menghela napas keras, “aku nggak lagi nungguin chat atau telpon dari siapa-siapa. Beneran.”

“Tapi, dari tadi kamu—”

Ucapannya terhenti akibat pelayan yang tiba-tiba membuka pintu dan menyerahkan bill. Oikawa melirik kesal ke arah sang kekasih, tetapi bibirnya terpaksa dikatupkan rapat. Setelah menyelesaikan proses pembayaran dan bersiap keluar, Oikawa bertekad akan mendiamkan Iwaizumi sampai pria itu mau berkata jujur lalu—

“Shit.”

Umpatan keras dari pria di belakangnya membuat Oikawa menoleh. Keningnya mengerut bingung melihat Iwaizumi yang nampak pucat. Bukan melihat ke arahnya, melainkan ke satu arah di mana…

“ITU MEREKA! OIKAWA SAMA IWAIZUMI!”

…ada segerombolan paparazzi yang berdiri di dekat pintu masuk restoran.

Oikawa belum sempat memproses apa yang terjadi, tetapi Iwaizumi sudah keburu menarik tangannya hingga ia terpaksa berlari. Beberapa pejalan kaki menoleh ke arah mereka, nampak terkejut dengan aksi kejar mengejar yang terjadi di tengah kota. Oikawa sempat menoleh dan menghitung ada tujuh orang berkacamata hitam dan mengenakan masker tengah mengejar mereka. Keningnya mengernyit karena entah mengapa, ada sesuatu yang familier dari ketujuh orang tersebut.

“Tooru! Ke sini!”

Tarikan yang terasa di pergelangannya membuat fokusnya kembali ke depan. Langkah cepat Iwaizumi menuntun mereka masuk ke jalanan yang lebih kecil, jauh dari jalur pejalan kaki dan mobil yang lalu-lalang. Dadanya mulai kesulitan mengambil napas hingga ia berusaha menarik tangan Iwaizumi agar memperlambat lari. Namun, apalah tenaganya dibanding seorang atlet boxing yang terbiasa memukul mundur lawan-lawannya.

Iwaizumi mungkin bisa merasakan langkahnya yang melambat. Pria itu menoleh ke arahnya dan berteriak sambil tersenyum.

Eh? Tersenyum?

“Ayo! Sedikit lagi!”

Oikawa ingin bertanya, ke mana tujuan pria itu sebenarnya? Tapi saat mulutnya terbuka, yang keluar hanyalah deru napas liar. Dengan sisa-sisa tenaganya, Oikawa memaksa agar kakinya terus bergerak— persetan dengan orang-orang yang masih mengejar mereka di belakang.

Tiba-tiba, lingkungan di sekitar mereka terlihat sungguh tidak asing.

Otaknya berputar cepat— berpikir kapan ia pernah melewati toko kelontong berwarna biru cerah itu atau rumah di tikungan yang memiliki kotak surat dengan patung burung hantu kecil di atasnya. Taman kecil yang barusan mereka lewati pun seperti tidak asing. Begitu pula dengan—

“T-tunggu! Stop!”

Oikawa refleks berseru lantang manakala semua terpasang pas di memorinya, seperti potongan puzzle yang menemukan tempat masing-masing. Iwaizumi berhenti dengan napas terengah begitu mendengar teriakannya. Oikawa memutar tubuh dan memperhatikan lingkungan yang masih persis sama seperti dalam ingatannya dua tahun lalu.

Ia ingat pernah kabur dari kejaran paparazzi juga di jalan ini, tapi malah tak sengaja memukul seseorang.

“Astaga! Kamu lari terus dan nggak sengaja malah bawa kita ke sini! Ih, kamu inget tempat ini? Ini, kan, tempat pas kita ketemu pertama kali! Inget, nggak? Waktu itu aku lagi dikejar-kejar paparazzi, terus tau-tau kamu muncul dari tikungan situ, bikin kaget aku, dan taunya aku malah nggak sengaja mukul kamu! Ya ampun, aku bahkan masih inget tampang bete kamu waktu itu soalnya—”

“Tooru…”

“Dan manajer aku nyari-nyariin, tapi baterai HP-ku habis jadi terpaksa minjem punya kamu. Dan pas itu pun kamu masih bete gara-gara kamu nganggap aku cerewet banget! Terus—”

“Tooru.”

“Tapi, kan, bukan salahku wajah kamu jadi memar! Siapa suruh kamu muncul tiba-tiba! Dan habis itu aku baru tau ternyata kamu atlet boxing! Jadi, harusnya kamu udah biasa, dong, nerima pukulan kayak gitu. Kenapa waktu itu kamu malah—”

“Oikawa Tooru.”

Oikawa berhenti begitu nama lengkapnya disebut. Ia tidak sadar dari tadi sudah meracau panjang lebar. Untunglah Iwaizumi hanya memutar kedua bola mata sembari tersenyum maklum. Pria itu maju, lantas mengusap salah satu pipinya lembut dengan ibu jari.

“Nggak berubah. Kamu masih cerewet kayak dua tahun lalu.”

“Eh, siapa bilang!” protesnya tidak terima. Namun, bibirnya segera mengatup kembali begitu ada ciuman yang mendarat di keningnya.

“Tapi, buat dua menit aja, gantian aku yang jadi cerewet sekarang.”

Bibirnya membuka untuk kesekian kali, tapi tatapan memperingatkan Iwaizumi membuatnya diam.

Kekasihnya menarik napas panjang.

“Aku juga masih inget jelas pertemuan pertama kita di sini. Waktu itu, aku lagi nyari rumah temen, tapi malah nyasar ke jalan kecil yang lumayan sepi ini. Aku muter ke sana kemari, tapi nggak ada satu pun orang yang bisa ditanya. Jadi, bayangin seberapa kagetnya aku pas tau-tau malah ketemu cowok yang lebih tinggi dari aku, rambut cokelat, pake jaket denim dan kacamata item, terus teriak kenceng banget sebelum ninju aku keras.”

Oikawa merona malu, tapi nampaknya, sang kekasih belum selesai berbicara.

“Aku nggak begitu suka nonton TV, jadi nggak langsung tau cowok itu siapa. Baru setelahnya, aku liat wajah dia di papan iklan yang ada di pinggir jalan, di cover majalah, di poster depan jendela minimarket, juga di… mana-mana. Cowok itu ada di mana-mana selama ini dan aku baru sadar setelah dipukul dia.”

Oikawa mendengus, masih belum paham alasan Iwaizumi membicarakan soal itu sekarang. Ia ingin segera memotong, tapi Iwaizumi yang paham langsung melatakkan telunjuk di atas bibirnya— mendiamkan secara halus.

“Tunggu, aku belum selesai,” bisik pria itu, dengan senyum yang kian merekah.

“Tapi ini udah lebih dari dua menit…” keluhnya sembari menyingkirkan telunjuk pria itu dari atas bibirnya. “Kamu ngapain ngomongin ini sekarang, sih? Kita bukannya lagi dikejar—”

“Lucunya, habis kejadian dipukul itu, aku nggak bisa berhenti mikirin dia.”

Iwaizumi seolah tidak mendengarnya dan terus melanjutkan cerita. Oikawa otomatis terdiam setelah mendengar kalimat barusan.

“Aku nggak tau itu karena first impression dia kuat banget, atau karena aku selalu liat wajah dia di mana-mana, atau itu sekadar feeling.”

Feeling?” Oikawa mengulangi— bingung sekaligus tidak percaya.

Feeling,” angguk sang lawan bicara, terlihat amat yakin. “Feeling bahwa sekalinya aku kenal dia, ngobrol, makan bareng, atau jalan bareng— semua itu nggak bakalan bikin aku puas. Aku pasti bakal mau lebih, lebih, dan lebih sampai dia ngerasain hal yang sama. Sampai dia juga mau terus kenal aku, ngobrol, makan dan jalan bareng. Sampai dia bisa cerita tentang semua hal ke aku, nangis ke aku, seneng-seneng sama aku, dan nyaman di aku. Aku mau dia ngerasain itu juga sampai kata ‘mau’ berubah jadi ‘butuh’. Sampai kita nggak bisa hidup tanpa satu sama lain.”

Oikawa, yang terkenal tak pernah diam dalam hidupnya, kini bahkan terlalu terkejut untuk mengeluarkan satu patah kata. Terlebih, saat Iwaizumi mulai mengambil jarak, meraih tangannya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna navy dari dalam kantung hoodie.

Oikawa Tooru, will you marry me?

Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. Iwaizumi masih menatapnya— menunggu. Kendati pria itu terlihat tenang, ada gugup yang bermain di balik iris hijaunya. Oikawa sendiri tidak bisa menebak seperti apa ekspresinya kini. Terkejut? Jelas. Terharu? Apalagi. Senang? Luar biasa.

Tapi, mereka bahkan masih merahasiakan hubungan dari mata publik. Bagaimana jadinya kalau tiba-tiba mereka menikah sekarang? Bukankah itu akan lebih menjadi omongan…?

Iwaizumi Hajime pastilah seorang cenayang.

“Hal lain bisa kita pikirin nanti,” jari yang mengusap lembut di atas miliknya masih belum berhenti, “yang penting sekarang…” Iwaizumi menarik napas dalam, kelopak pria itu ikut mengerjap beberapa kali, “kalau kamu nggak mau liat aku kena serangan jantung di sini, mending cepetan kasih jawaban.”

Oikawa tertawa renyah. Ada lapisan tipis air yang menggenang di pelupuk matanya. Ia menghapusnya dengan telunjuk sebelum tersenyum cerah ke arah pria itu.

Well, kalau kamu mikir aku bakalan jawab nggak, kayaknya aku yang bakal kena serangan jantung di sini,” jawabnya lugas. “So, yes, I’ll marry you.

Dari bibirnya lolos pekikan riang saat Iwaizumi tiba-tiba meraihnya dan menciumnya keras. Bibir sang kekasih menekannya dengan jutaan emosi yang mampu ia terka— puas, lega, dan bahagia. Oikawa mengalungkan lengannya di sekitar leher pria itu, ikut memberikan sentimennya sendiri dari tautan bibir yang mulai melembut. Terakhir, saat Iwaizumi membisikkan kata cinta di ujung bibirnya, barulah momen persetujuan itu terasa begitu nyata.

Itu sebelum tiba-tiba terdengar suara jepretan kamera dari belakang punggungnya.

Oikawa menengok dengan panik— mendapati paparazzi yang mengejar mereka tadi ternyata sudah berada di belakangnya. Ia baru akan menarik tangan Iwaizumi untuk mengajak kabur, sebelum berhenti ketika salah satu paparazzi membuka topi dan kacamata gelap yang dikenakan.

“YOHOOOO!!! SELAMAT BUAT PASANGAN BARU KITA!!”

“CONGRATS, YAA! AKHIRNYA BAKAL NIKAH JUGA KALIAN!”

“UDAHLAH NGGAK USAH BACKSTREET LAGI! CEPETAN UMUMIN TANGGALNYA!”

Dan sorakan lain dari orang-orang yang jelas dikenalnya dalam lingkup pertemanan sang kekasih. Matsukawa dan Hanamaki berdiri paling depan, memimpin sorak sorai itu. Kunimi dan Watari berdiri di samping, sibuk memotret mereka dengan kamera besar yang entah didapat dari mana. Kindaichi dan Yahaba membuat gerakan-gerakan aneh dengan tangan mereka selagi ikut menghebohkan suasana. Sedangnya Kyoutani hanya berdiri sambil melipat kedua tangan, mengawasi dengan tampang galak kendati ada sedikit senyum yang terpatri di sana.

Bukannya ikut terkejut, Iwaizumi malah tertawa terbahak-bahak di sebelahnya. Oikawa memproses cepat, kemudian tersadar bahwa semua ini pastilah telah direncanakan.

“Pantesan aja kamu nyuruh aku pake running shoes! Ternyata udah tau kita bakalan dikejar sama… mereka!” sungutnya dengan bibir mengerucut maju. “Dari kapan kamu ngerencanain ini, hah?”

Dengan sisa tawa di bibir pria itu, Iwaizumi meraih tangannya kembali dan menyelipkan sebuah cincin perak di sana. Kekesalannya lantas terlupakan— mengagumi indahnya cincin itu di atas kulitnya. Iwaizumi membawa jari yang dilingkari cincin itu, kemudian mengecupnya lembut.

“Dari pertama kali aku ketemu kamu.”

Walaupun Oikawa tahu jelas-jelas itu mustahil, setidaknya ia bisa paham sekarang apa maksud dari feeling yang dimaksud Iwaizumi di awal. Namun, yang perlu ia pusingkan sekarang tinggal bagaimana mengumumkan pertunangannya di hadapan publik.

Mungkin sambil mencari tanggal yang tepat.


@fakeloveros

Entah apakah perkataannya ternyata memiliki pengaruh yang amat besar, tetapi Suguru benar-benar tak menghubunginya lagi setelah malam itu.

Dalam hati, Satoru merasa kecewa. Mungkinkah memang ini akhir dari pertemanan mereka yang telah terjalin begitu lama? Di sinikah akhir perjuangannya?

Meski begitu, Satoru tidak menyesal. Setidaknya ada beban yang terangkat setelah perasaannya benar-benar tersampaikan. Lucunya, ia masih bisa tersenyum kendati matanya yang terus melirik ke arah layar ponsel menunggu notifikasi muncul dari sebuah nama tidak membuahkan hasil. Ia mampu menjalani kembali aktivitas kuliahnya seperti biasa, mengikuti bimbingan (walaupun sempat diomeli dosen pembimbingnya karena beberapa hari izin), bahkan menanggapi candaan teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Semua berjalan baik-baik saja.

Atau begitulah setidaknya yang ia pikir.

Sampai di hari kelima Suguru tidak memunculkan batang hidungnya, ada banyak panggilan masuk dari Shoko begitu ia selesai kelas. Dengan kening berkerut, Satoru balik menghubungi nomor wanita itu. Baru di dering kedua, panggilannya sudah dijawab dan belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, suara wanita itu terdengar lebih dulu.

“Woy, ke mana aja, sih, gue telpon dari tadi nggak diangkat?” seru wanita itu, terdengar tak sabar.

Satoru tersenyum dan melambai kepada beberapa junior yang menyapa sebelum kembali memfokuskan atensi ke sambungan tersebut. “Gue habis kelaslah, anjir. Ada apaan, sih? Misscall lo sampe banyak banget.”

Terdengar hela napas berat dari seberang sana. “Lo habis ini masih ada jadwal?”

“Nggak, sih, udah kosong. Kenapa?”

“Bisa ke kos-an Suguru sekarang?”

Satoru berhenti melangkah. Setelah sekian lama tidak mendengar nama pria itu, tak ayal memunculkan kembali pengakuannya di malam ia mabuk. Ia berdeham, kemudian bertanya dengan nada senetral mungkin. “Kenapa emang?”

“Suguru sakit,” jawab wanita itu singkat. “Dan dia nyariin lo.”

Kalau ada yang lebih mengejutkan Satoru dibanding sang sahabat yang mencarinya, yaitu kenyataan bahwa seorang Suguru jatuh sakit. Pasalnya, seumur hidup Satoru mengenal pria itu, Suguru jarang sekali sakit. Pria itu terlalu atletis untuk dirinya yang justru malas berolahraga.

“Dia… sakit apa?”

“Demam, batuk, pusing, dan kawan-kawannya— nggak tau deh gue, tapi nih orang lemes banget.”

“Terus kenapa dia nyariin gue?” tanya Satoru, berusaha tetap terdengar tenang meski kakinya gatal untuk segera berlari ke sana. “Kan udah ada lo?”

“Dia—” Suara Shoko terdengar terputus dan digantikan dengan bunyi pintu yang tertutup serta langkah kaki, “dia nggak nyeritain secara lengkap or detail omongan kalian waktu itu, tapi gue tau dari dia, lo udah ngomong jujur. Ya, kan?”

Satoru mengangguk, lupa bahwa Shoko tidak bisa melihatnya sekarang. Namun, keterdiamannya dianggap sebagai jawaban.

“Dan habis kejadian malem itu, Suguru nggak berani langsung ketemuan sama lo. Katanya takut bikin lo makin kecewa dan marah sama dia— whatever-lah, jujur gue nggak paham sama jalan pikiran tuh orang. Padahal udah jelas-jelas dia juga ngerasain hal yang sama—”

“Pause dulu,” potongnya terkejut. “Lo bilang apa barusan? Dia… apa?

“Ru,” Shoko terdengar lelah, sesuatu yang baru kali ini didengarnya dari teman wanitanya itu, “sadar nggak, sih, kalian berdua tuh sama-sama bego selama ini?”

Satoru tidak tahu harus merespons apa. Pikirannya seperti benang yang sulit terurai.

“Gue nggak akan ngomong secara jelasnya karena itu bukan hak gue. Gue juga nggak mau ngebela siapa-siapa di sini, tapi…” tekan wanita itu dengan nada yang lebih tajam, “gue nggak mau liat lo galau lagi dan gue nggak mau liat Suguru jauh lebih nyesel dibanding sekarang. Kalian harus ngomong. Sekarang juga.”

“Gue nggak gal—” Namun, sebelum omongannya terselesaikan, sambungan di seberang sana telah diputus. Satoru menatap layar ponselnya tak percaya sembari memikirkan makna perkataan temannya yang satu itu.

Gue nggak mau liat Suguru jauh lebih nyesel dibanding sekarang.

Menyesal karena apa, lebih tepatnya?

Satoru menggigit bibir— otaknya berputar cepat. Langit mulai meredup di atasnya, menandakan petang yang kian dekat. Suasana kampus mulai sepi, hanya diisi segelintir orang yang berlalu lalang. Beberapa menyapanya, namun ia seolah tidak bisa mendengar apa pun lagi.

Begitu tersadar, kakinya tahu-tahu sudah melangkah ke arah luar gerbang.


Perjalanan ke kos-an Suguru bahkan tidak mencapai sepuluh menit, mengingat lokasinya memang lebih dekat ke kampus dibanding kos-annya sendiri. Sesampainya di luar, Satoru mengirim pesan singkat kepada Shoko— memberitahukan kedatangannya. Ia menunggu dengan jantung berdegup kencang sampai gerbang itu terbuka dan memperlihatkan sang wanita berambut cokelat.

Shoko tidak langsung menyuruhnya masuk, hanya menatapnya dari atas ke bawah seolah tengah menilai sesuatu.

“Apa?” tanyanya, yang lama-lama jengah dipandangi seperti itu.

“Nggak apa-apa. Sini masuk, temen lo lagi tidur habis minum obat tadi siang,” ungkap wanita itu dengan nada datar. “Gue habis ini ada acara, jadi gantian ya, lo yang temenin dia.”

“Eh? Kok lo tiba-tiba malah mau pergi, sih?! Di sini aja, dong, temenin gue!” serunya lantang karena terkejut.

Shoko berputar dan menunjuk-nunjuk dadanya dengan tampang galak. “Gue udah dengerin curhatan Suguru dari kemaren. Gue juga udah sering nemenin lo galau. Gue capek— butuh break. Stop berantem kayak orang tolol, dan selesein masalah ini layaknya orang dewasa. Suruh dia dengerin omongan lo, dan lo harus dengerin omongan dia. Nggak boleh ada yang disembunyiin lagi. Kalau habis ini belum baikan juga, gue nggak akan mau lagi jadi tempat curhat kalian. Ngerti?”

Satoru ternganga— kepalanya otomatis mengangguk patuh.

“Bagus,” ucap wanita itu, terlihat amat puas. “Gih, sana lo ke kamar dia, gue mau balik sekarang. Nanti malem lo beliin tuh orang makan, ya. Kalau obatnya udah gue taro di atas meja. Bye!”

Setelah wanita itu berlalu, Satoru berdiri di pekarangan kos-an sang sahabat dengan sedikit tercenung. Bisa saja ia langsung berbalik dan pulang— toh, Suguru tidak akan mengetahuinya.

Namun, nasihat panjang lebar Shoko entah mengapa menempel di otaknya dan membuatnya penasaran. Sembari mengedikkan bahu, ia pun mencoba berjalan santai menuju kamar yang telah didatanginya ratusan kali selama mereka berkuliah. Tak dipedulikan tangannya yang tiba-tiba berkeringat dingin begitu ingin mengetuk pintu. Padahal di hari-hari biasa, ia pasti akan langsung masuk tanpa memberi pengumuman.

Setelah menguatkan mental, tangannya terangkat untuk mengetuk. Ia menunggu selama beberapa detik, namun tak kunjung mendapat balasan. Sang pemilik kamar pastilah tertidur amat nyenyak.

Satoru pun dengan berhati-hati membuka pintu kamar itu— berusaha seminimal mungkin dalam menimbulkan suara. Matanya langsung terarah ke gundukan di balik selimut yang tak bergerak sama sekali. Setelah berhasil menutup pintu, kakinya berjinjit untuk melangkah tanpa suara.

Suguru yang sakit benar-benar terlihat berbeda.

Pria itu terlihat sedikit pucat dengan kantung mata yang kasatmata— mengingatkan Satoru akan sepupunya, Yuuta. Ada peluh yang menempel di sekitar kening dan pelipis— membuat Satoru tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh kening Suguru dengan punggung tangan. Panas di bawah kulitnya sontak membuatnya menarik tangan. Namun, gerakan itu justru menimbulkan reaksi dari si pemilik tubuh yang tengah berbaring. Satoru meneguk ludah saat menyaksikan kelopak pria itu bergerak lalu perlahan terbuka. Suguru mengerjap-ngerjapkan mata sebelum melirik ke samping dan bertemu pandang dengannya. Kendati terlihat begitu sayu, ia mampu mendapati keterkejutan di sana.

Mereka hanya berpandangan selama beberapa saat.

“Hai,” sapanya, memecah keheningan. Satoru berdeham untuk menghilangkan serak yang tiba-tiba timbul. “Kata Shoko… lo sakit, jadi gue jenguk ke sini. Cuma kalau lo mau sendirian buat istirahata juga nggak apa-apa! Gue bisa balik ke kos—”

“…Ru.”

Gumam lemah Suguru memotong racauannya.

“Ru… ini… beneran lo? Gue nggak lagi mimpi?”

Satoru tertegun— menyambut uluran tangan Suguru yang terasa lemah dan panas di atas miliknya. Meski jantungnya berdegup kencang, ia berusaha menciptakan canda di tengah suasana itu. “Kenapa? Barusan lo habis mimpiin gue, ya?” tanyanya sembari menyeringai lebar.

Suguru yang masih memegang tangannya lantas mengangguk— tidak melepaskan tatapan seolah takut dirinya akan menghilang.

“Di mimpi lo, gue lagi ngapain emang?” pancingnya ingin tahu.

“Lo… pergi,” bisik Suguru, terdengar serak. “Terus gue… manggil-manggil lo, tapi lo… nggak mau nengok.”

Tautan di tangannya mengerat untuk beberapa sekon.

“Jangan pergi, Ru…” ucap Suguru, terdengar seperti orang yang kehilangan fokus. “Bukannya kita udah janji bakal bareng terus?”

“Bukannya lo yang mau gue pergi?” balasnya refleks.

Suguru menggeleng frantik. Pria itu meringis selagi berusaha untuk bangun, sedangkan Satoru masih berdiri di tempatnya— menunggu kejujuran dari sahabatnya. Dan untuk kali ini, seperti nasihat Shoko, ia akan mendengarkan hingga tuntas.

“Gue… nggak pernah pengen lo pergi,” ucap Suguru, setelah berhasil duduk di tempat tidur. Posisi mereka membuat pria itu harus menengadah dan Satoru bisa melihat dengan jelas keputusasaan yang berada di balik netra gelap si empunya. “Gue nggak mau lo salah paham… cewek itu… bukan siapa-siapa. Nggak pernah jadi siapa-siapa gue juga… Gue udah bilang ke dia ada orang lain… Orang yang udah gue sayang dari dulu…”

Satoru berusaha agar suaranya tak terdengar pecah saat bertanya, “Siapa?”

Bukannya menjawab, Suguru— yang walaupun sakit ternyata masih memiliki tenaga — malah menariknya cepat hingga ia ikut terduduk di atas kasur. Satoru terlalu terkejut untuk bereaksi sehingga ia hanya terdiam saat pria itu menariknya ke dalam pelukan. Panas tubuh Suguru menghantar lekat, ikut membuatnya bisa merasakan detak jantung lain yang bukan miliknya.

Deru napas pria itu terasa membara di tengkuk lehernya. Satoru menggeliat, tetapi lengan yang melingkarinya justru bertambah kencang.

“Jangan bercanda lagi.”

Satu kalimat itu membuatnya berhenti menggeliat. Kali ini ia yakin Suguru tidak lagi menganggapnya sekadar mimpi. “Gue nggak pernah bercanda,” balasnya pelan.

Ada anggukan samar yang terasa di bahunya. Surai legam pria itu menggelitik lehernya, menghadirkan aliran listrik yang membuatnya terhenyak.

“Jangan anggap gue nggak serius juga.”

Satoru terkekeh, omongan sahabatnya itu terdengar lucu. “Bukannya di antara kita, emang lo yang selalu lebih serius?”

“Termasuk kalau gue bilang sayang?”

Suguru menarik diri pelan, namun tidak begitu jauh hingga kedua sisi wajahnya dengan mudah direngkuh pria itu.

“Termasuk kalau gue… ngelakuin ini?”

Ini yang dimaksud yaitu saat tanpa aba-aba— namun penuh perhitungan sehingga bisa saja Satoru mendorong pria itu jika mau— Suguru menjatuhkan kecupan tepat di ujung bibirnya. Hanya sebentar— tak berlangsung lebih dari tiga detik. Tetapi, dampaknya sungguh luar biasa bagi jantungnya yang seolah baru saja berlari ratusan kilometer.

Suguru lantas menatap penuh sabar, seolah menunggu reaksinya. Atau ledakannya.

“Kalau habis begini kita masih sahabatan,” Suguru bergumam pelan, sedikit memperlihatkan semburat yang entah akibat demam atau rasa malu, “gue bakal diketawain Shoko habis-habisan.”

“Kalau gitu,” Satoru mengangkat tangan dan mencengkeram pergelangan Suguru yang masih belum melepaskan rengkuhan di wajahnya, “harusnya lo cium gue yang bener.”

Netra yang tadinya terlihat sayu, melebar untuk sesaat sebelum berganti menjadi ingin yang amat jelas. Satoru tak bohong— perubahan raut wajah pria di hadapannya itu membuat darahnya berdesir.

Jempol Suguru bergeser dan mengusap bawah bibirnya dengan pandang penuh lekat. “Nanti kamu ketularan…”

Dan kalau dipikir Satoru akan membiarkan, terlebih setelah panggilan pria itu berubah terhadapnya, maka Suguru salah besar. Ia ganti menarik kerah kaus Suguru sedikit paksa, membuat jarak mereka kembali terkikis.

Sebelum kali ini bibir mereka benar-benar bersentuhan, Satoru berbisik pelan, “Nggak apa-apa, nanti aku bisa izin sakit lagi.”

Suguru tersenyum di atas ciuman mereka.

Meskipun sedang sakit, pria yang selama ini memiliki label sahabat itu, tidak gagal menghanyutkannya dalam lumatan lembut. Bibir pria itu mulanya terasa sedikit kering, jelas dampak dari sakit yang tengah didera. Namun, hal itu justru membuat Satoru semakin berkeinginan untuk memperdalam ciuman mereka. Suguru menyambut antusias dan ganti menyelipkan tangan di balik surainya untuk menarik lebih dekat. Panas yang bercampur akibat suhu tubuh pria itu dengan gerak frantik mereka membuat Satoru melepaskan desah kecil. Suguru menggigit bibir bagian bawahnya sebelum melepas ciuman mereka diiringi deru napas yang saling bertemu.

Damn…” Pria itu mengumpat pelan. Satoru ingin mengatakan hal yang sama, tetapi bibirnya yang terasa bengkak hanya terbuka kecil tanpa sanggup bersuara.

Entah apa yang dilihat Suguru dari ekspresinya hingga membuat pria itu mengerang dan menjatuhkan kening di atas bahunya. Mereka mengatur napas sementara Satoru berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah mimpi, ataupun efek khayal dari mabuk.

“Maaf, ya…” Tiba-tiba, Suguru bergumam pelan di atas kulitnya. “Malem itu… aku terlalu shock buat ngomong sesuatu. Aku takut… kamu bakal tiba-tiba bilang itu bercanda lagi. Aku takut harapanku yang tadinya udah tinggi, jadi jatuh lagi. Aku takut kamu bakal pergi lebih jauh lagi. Aku takut… kamu nggak bakal balik lagi, kayak di mimpiku tadi.”

“Terus, kenapa malah kamu yang tiba-tiba ngejauh?” tanyanya, tanpa bisa menahan diri.

Suguru mengangkat wajah, jarak mereka begitu dekat hingga rasanya ia sanggup menghitung setiap bulu mata yang menaungi netra kelam itu. “Aku ini orangnya penakut, Ru. Dibanding kamu, aku nggak ada apa-apanya. Aku perlu mikirin banyak hal. Tapi Shoko bilang, aku bego kalau masih ngerasa ragu. Dia bahkan nyumpahin aku biar nyesel seumur hidup. Aku disuruh bayangin, gimana seandainya keburu ada orang lain yang ngerebut kamu…”

“Itu yang aku rasain pas liat kamu bareng cewek itu,” Satoru mengakui cepat, tidak bisa tidak menyelipkan nada sedih di baliknya. “Bayangin apa yang aku rasain pas liat cewek itu nyium pipi kamu!”

Suguru mengangguk, ekspresinya terlihat muram. “Maafin aku… harusnya dari awal aku nolak tegas dia. Mungkin aku masih kebawa emosi gara-gara omongan terakhir kita sebelum kamu ngehindar waktu itu.”

“Itu, kan, salah kamu juga yang nganggep aku cuma bercanda!” Kendati amarahnya sudah berkurang jika mengingat kejadian itu, Satoru tetap menjatuhkan pukulan ringan di dada Suguru sebagai gestur kekesalannya. Pria itu lantas mengaduh pelan, kemudian mengusap-usap bagian yang dipukulnya.

“Kamu, kok, tega sih sama orang yang lagi sakit…”

“Biarin! Ayo, minta maaf sekali lagi!”

Suguru menghela napas, lantas menariknya lebih dekat. Seperti tadi.

“Maaf, ya…” ucap pria itu lembut seraya mencium pipinya. “Maafin aku udah bikin kamu kesel…” Lalu, satu ciuman lagi di keningnya. “Maafin aku karena udah ngira kamu bercanda…” Bibir pria itu turun perlahan dan mencium rahangnya. “Maaf karena aku nggak peka dan malah deket-deket sama cewek lain…” Kemudian, turun lagi hingga menyentuh ceruk lehernya. “Maaf karena aku butuh waktu lama buat mikir dan tau-tau malah keburu sakit…” Pria itu menyelipkan tawa kecil.

Terakhir, bibir pria itu naik kembali dan berhenti di atas bilah miliknya yang sedikit terbuka. Satoru sempat memejamkan mata manakala pria itu berbisik di sana.

“Maaf kalau persahabatan kita harus selesai di sini…”

Satoru membuka netranya dan meneguk saliva dengan gugup.

”…dan digantiin sama hubungan lain.”

Suguru tersenyum, mendadak terlihat jauh lebih segar dibanding saat kedatangannya di awal. Satoru bahkan nyaris yakin pria itu hanya berpura-pura sakit untuk memancing kedatangannya.

Namun, asumsi konyol itu segera lenyap begitu terlontar pertanyaan selanjutnya.

“Ru, mau nunjukkin ke orang-orang kalau kita bukan sahabat lagi sekarang?”


@fakeloveros

Kepalanya sakit luar biasa.

Padahal, mau menghabiskan dua atau tiga botol pun biasanya tak masalah. Tapi kali ini, Satoru tahu kesadarannya sudah berada di ambang batas sehingga yang bisa ia lakukan hanya menelungkupkan wajah di lipatan tangan yang diletakkan di atas meja. Samar, telinganya bisa menangkap ingar-bingar musik serta percakapan teman-temannya. Namun, semua itu bagai angin lalu karena hanya ada muak yang menyelimutinya.

Ia ingin pulang.

Ia ingin merebahkan diri di atas kasur.

Ia juga ingin bertemu Suguru.

Niatnya malam ini adalah melupakan pria itu. Tapi bahkan dalam keadaan seperti ini, alam bawah sadarnya masih mengingat jelas rupa sang sahabat— senyumnya, tawanya, surai panjangnya yang terayun lembut saat tertiup angin. Semuanya.

Satoru benci merasa bahwa hanya ia satu-satunya yang membutuhkan Suguru, sedangkan pria itu bisa bersenang-senang dengan orang lain. Mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Jadi, bukankah baru bisa dikatakan adil jika mereka bisa bersama hingga akhir?

Satoru meloloskan tawa kecil. Ia tahu itu pemikiran egois— ingin memiliki Suguru tanpa perlu berbagi dengan orang lain. Terlebih, karena dirinya tahu pasti bukan itu yang diinginkan Suguru. Jadi, lebih baik dia kabur seperti ini daripada keegoisannya mengambil alih.

Toh, Suguru lama-lama pasti akan lelah juga mencarinya.

Diiringi erangan kecil, Satoru mengangkat kepala. Matanya perlu mengerjap beberapa kali terlebih dulu sebelum bisa fokus ke satu titik. Ia melihat punggung Sukuna, temannya itu nampak sedang berbicara dengan seseorang. Baru mulutnya membuka untuk minta diambilkan air, tapi temannya itu keburu menyingkir dan pergi. Satoru menutup mulutnya dengan kecewa dan berniat akan mencari teman lain yang dikenalnya ketika orang yang barusan diajak berbincang Sukuna terlihat di depan mata. Satoru pikir ia mabuk berat sampai berkhayal seperti itu.

Karena mana mungkin, kan, Suguru tiba-tiba ada di sini?

Suguru dalam khayalannya itu berjalan mendekat. Tampang pria itu dipenuhi oleh berbagai emosi yang baru kali ini ia temui— marah, kecewa, bingung, dan… sedih?

Kenapa Suguru merasa sedih? Bukankah pria itu harusnya merasa senang karena sudah memiliki kekasih? Suguru dalam khayalannya sungguh aneh, begitu pikir Satoru selagi netra sayunya mengikuti gerak pria itu.

“Gue nyariin lo ke mana-mana.”

Sampai suaranya aja mirip…

“Udah minum berapa banyak lo?”

Satoru mengernyitkan kening. Saat Suguru khayalan itu duduk di sampingnya, semua terasa begitu nyata hingga ia perlu menegakkan diri dan mengucek mata berulang kali. Begitu Suguru khyalan tak hilang juga dari pandangan, ia menyuarakan kebingungannya.

“Lo… beneran Suguru?”

Yang ditanya pun ikut mengerutkan kening, seolah apa yang dilontarkannya barusan sangatlah konyol.

“Lo ngomong apa, sih? Udah mabok banget, ya?”

Satoru beringsut mendekat, tangannya terangkat tanpa ragu menyentuh wajah pria yang mirip sahabatnya itu. Suguru yang ada di depannya meringis pelan, tetapi langsung terdiam begitu jarinya menelusuri setiap inci. Mata gelap pria itu mengunci tatapannya yang tak berkedip.

“Lo bukan Suguru khayalan?” tanyanya bodoh. “Beneran Suguru yang annoying itu?”

Ganti tangan pria itu yang terangkat lalu menarik pergelangan tangannya secara halus. Meski tangannya diturunkan, tatapan pria itu masih belum beranjak darinya. “Ini beneran gue.”

Satoru meneguk ludahnya— bingung, senang, marah, dan sedih mendadak bercampur jadi satu. Otomatis ia melepaskan cengkeraman pria itu kasar dan segera berdiri. Namun, linglung yang menguasai sontak membuat kepalanya berputar hingga ia nyaris terjungkal. Untungnya segera ada dua lengan kokoh yang menangkapnya sebelum kepalanya membentur meja. Suguru terlihat khawatir, tetapi Satoru terlalu kesal untuk berterima kasih dan langsung melepaskan pria itu sekali lagi. Tanpa memedulikan teriakan Suguru yang memanggil namanya, ia membelah kerumunan dan keluar dari pintu belakang. Tak dipedulikannya pula teman-temannya yang entah berada di mana.

Saat udara malam sudah terhirup olehnya, Satoru menoleh ke belakang. Suguru sepertinya tidak mengikuti karena batang hidung pria itu tidak nampak sama sekali. Satoru lanjut berjalan, walau langkahnya sedikit terseok karena pusing yang masih menyerang. Namun setidaknya, ia bisa melihat lebih jernih tanpa adanya asap rokok atau kerumunan yang menghalangi. Tangannya merogoh ke dalam kantung untuk mencari ponselnya, tapi justru nihil yang ia temukan. Ia mengumpat— karena mana mungkin dirinya kembali ke dalam sekarang.

Tiba-tiba, ada tangan yang menariknya kuat hingga badannya terputar 180 derajat ke belakang.

“Lo mau pergi ke mana?! HP lo ada di gue! Jangan pergi jauh-jauh kalau lagi mabok kayak gini!”

Satoru memejamkan mata— kenapa Suguru berhasil mengejarnya secepat ini?

Dan kenapa pria itu terlihat peduli?

“Lepasin. Gue bisa jalan sendiri,” ucapnya lantang sembari berupaya melepaskan pegangan kuat yang menahan langkahnya. Saat Suguru tak menjawab ataupun bergerak seinci pun, Satoru mulai kehilangan kesabaran. Kalau tidak sedang dikuasai alkohol, dia pasti bisa melawan lebih kuat.

“Gue bilang lepas—”

“Tunggu sebentar,” potong Suguru cepat. “Kita perlu ngomong.”

“Mau ngomongin apa?” tanyanya, seraya memutar kedua bola— Satoru harap, ekspresinya sudah cukup menjelaskan. “Gue nggak pengen ngomong apa-apa tuh?”

Suguru seakan tidak memedulikan ucapannya. “Kenapa lo ngehindarin gue dari minggu kemaren? Gue udah bikin salah apa sama lo?”

Satoru mencoba menarik tangannya untuk kedua kali dan barulah Suguru melepaskan. Tapi, tatapan pria itu terlihat tajam seolah mengancamnya tanpa suara bahwa ia takkan dibiarkan kabur lagi.

“Siapa yang ngehindar? Biasa aja, kok. Gue lagi banyak revisi aja makanya nggak sempet bales chat lo,” kilahnya, walau tahu alasan itu tidak akan bekerja terhadap Suguru.

“Gue nggak bego, Ru. Gue bahkan udah nanya langsung ke dosbing lo, tapi katanya lo bahkan izin beberapa hari nggak ikut bimbingan karena alasan sakit. Gue juga udah dateng ke kos-an lo, tapi pasti lo nggak ada di sana terus. Gue udah ngelilingin satu kampus, bahkan sampai datengin fakultas sepupu lo, si Yuuta, buat nanyain lo ada di mana, tapi dia juga nggak tau. Kalau lo masih ngeles juga, gue nggak bakal ngebiarinin lo balik sampai ngaku.”

Satoru menghela napas lelah— mungkin di sinilah ujung dari usahanya untuk menghindar. Lagi pula, seharusnya dia tahu bahwa Suguru pasti akan terus mencarinya untuk menuntut jawaban.

Kalau sudah begini, apa yang harus dikatakannya?

Satoru menyenderkan punggungnya ke dinding yang kebetulan masih menjadi bagian gedung club malam yang ia datangi barusan. Matanya menelusuri sekitar, tapi tak banyak ia dapati kecuali beberapa orang yang tengah merokok di dekat pintu masuk. Lalu, ia mengalihkan pandangan ke arah langit yang malam itu tak berbintang sama sekali. Satoru tahu Suguru masih menunggu jawaban, tapi ia pun perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian.

“Lo tau kita udah bareng dari orok, kan? Dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah sekarang kita juga bareng-bareng terus. Semua yang kenal gue, pasti kenal lo, dan gitu juga sebaliknya. Gue seneng karena orang-orang tau kita sahabatan. Tapi kadang, gue juga benci sama label itu.”

Suguru terlihat terkejut, tapi Satoru pura-pura tak memperhatikan. Matanya masih tertuju pada langit polos di atas mereka.

“Makanya gue suka bercanda— karena gue pikir, lo bakal anggap serius candaan gue itu suatu hari nanti. Tapi kayaknya, gue yang berharap terlalu banyak. Padahal jelas-jelas lo nganggep gue cuma sebagai sahabat. Ya, kan?” imbuhnya, kini menurunkan tatapan lalu menyeringai lebar saat dilihatnya Suguru bagai orang yang baru saja tersambar petir. “Soal yang waktu itu lupain aja. Lagian buat lo itu juga cuma candaan, kan?”

Satoru menegakkan tubuh lalu bersiap untuk beranjak dari sana. Tapi belum sempat kakinya melangkah, tangannya keburu kembali ditahan. Jantungnya refleks memompa cepat karena ia pikir Suguru pada akhirnya akan—

“Gue bakal anter lo balik ke kos-an.”

Satoru mengangguk pasrah— kecewa dengan reaksi pasif pria itu. Mungkin ini memang benar-benar final dari usahanya berlari dan mengejar. Suguru pun langsung memalingkan wajah sehingga sulit baginya untuk membaca ekspresi sang empunya. Namun, tak perlu disuarakan secara lantang pun, Satoru sudah tahu dari gestur pria itu jawaban yang diterimanya.

Kendati begitu, Satoru bersyukur ia masih bisa menikmati tautan hangat tangan Suguru yang tak pernah melepaskannya malam itu.


@fakeloveros

Suatu hari, Shoko pernah bertanya padanya seperti ini—

“Satoru, tuh, hidupnya pernah ngerasa sedih nggak, sih?”

Mereka waktu itu sama-sama sedang pusing dilanda tugas yang kian menumpuk. Maklum, namanya juga semester tiga. Jadi, Suguru pikir Shoko bertanya karena sedang mumet saja. Bukan karena hal lain yang lebih spesifik.

“Kenapa emang?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.

Wanita yang siang hari itu menjadi kawan bicaranya, mengembuskan asap rokok ke udara lalu mengangkat bahu. “Habis, orangnya suka bercanda. Apa-apa dibawa lucu sama dia. Ngeri aja tuh orang punya kelainan.”

Suguru terkekeh, ikut mengembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara. Kebetulan karena ada beberapa anak semester satu yang lewat dan menyapa mereka dengan sopan. Shoko hanya mengangguk, sementara dirinya melambai ringan. Setelah beberapa menit berlalu, ucapan Shoko terngiang kembali di otaknya.

“Terakhir gue cek, sih, dia nggak punya kelainan,” Suguru membalas serius, “emang suka bercandain banyak hal aja orangnya.”

“Aneh,” balas sang wanita dengan ekspresi datar. “Lo tahan temenan sama orang kayak gitu? Maksud gue, gimana kalau misalnya lo lagi marah, tapi malah dibawa bercanda sama dia? Emang nggak bakal sakit hati?”

“Udah biasa,” jawabnya singkat, lebih seperti tanggapan otomatis manakala ada yang menyinggung soal tabiat aneh teman sejak kecilnya tersebut. Ia pun tidak bisa membela banyak karena memang seperti itulah Satoru Gojo di matanya— orang yang suka bercanda hingga sulit dibedakan antara omongan serius atau bukan. Jadi, tidak heran ketika lambat laun hal itu pun berpengaruh padanya.

Dua puluh tahun lebih mereka berteman dan Suguru sudah amat terlatih dalam menganggap segala omongan Satoru sebagai candaan.

“Terus sebenernya lo pacaran nggak, sih, sama dia?”

Tahu-tahu Shoko bertanya lagi, kali ini dengan senyum tipis bermain di wajah wanita itu. Terlihat sedikit jahil, seolah sebenarnya sudah tahu jawaban yang akan diutarakannya.

“Lo tau sendiri jawabannya,” tukas Suguru, terlalu lelah untuk berelaborasi lebih jauh. Kendati begitu, jawabannya yang tanpa antusiasme itu dianggap lucu sehingga wanita di sebelahnya tertawa keras.

“Junior kita tuh pada ngira kalian pacaran, tau. Makanya beberapa orang suka pada nanyain ke gue. Yaah, gue sih mastiin lagi aja, siapa tau status kalian udah berubah sekarang.”

Suguru mendengus. Tidak heran banyak yang bertanya-tanya dan ia pun sudah terbiasa mendengar asumsi semacam itu. Justru yang membuatnya belum terbiasa adalah tanggapan Satoru ketika ia menyampaikan asumsi orang-orang.

“Nggak apa-apa, dong, kita dikira pacaran~ Kan kita emang keliatan cocok!”

Suguru tidak paham, dirinya kah yang terlalu sensitif hingga tidak bisa ikut tertawa, atau kekecewaannya terlalu besar hingga melupakan fakta bahwa sahabatnya itu memang orang yang suka bercanda?

Yang jelas semenjak itu, Suguru tidak pernah ambil pusing lagi terhadap tanggapan orang-orang soal hubungan dekat mereka yang terkesan ‘lebih’ dari sekadar sahabat. Walau sampai sekarang harapan untuk melewati batas itu masih membumbung tinggi di dadanya, ia tahu tak ada yang bisa dilakukan selagi Satoru menganggap semuanya sebagai sekadar candaan.

Biarlah hanya dirinya yang menganggap serius perasaan ini.

“Kayaknya mau sampai kapan pun, semuanya bakal dianggap candaan sama dia,” Suguru berujar setelahnya, sembari mematikan puntung rokok. Tangannya merogoh kantung celana dan mengeluarkan ponsel untuk mengecek jam yang tertera di layar. Dia masih punya waktu sepuluh menit untuk memperpanjang obrolan.

“Masa, sih, dia nggak pernah ngomong serius sekali aja?” tanya Shoko dengan nada tak percaya.

“Mungkin pernah, cuma jadinya gue nggak bisa bedain,” Suguru menjawab jujur. Ia menimbang-nimbang sesaat sebelum melanjutkan, “Pernah dia... ngomong suka ke gue pas awal-awal kuliah.”

Wanita bersurai cokelat itu mendadak terbatuk heboh. Suguru menunggu dengan sabar sampai batuk itu mereda. Shoko menarik bahunya hingga mereka berhadapan hingga mata terbelalak lebar milik wanita itulah yang menyambutnya.

“Dia... pernah ngomong suka sama lo? Terus... lo jawab apa?”

Suguru menyeringai lebar, pertanyaan itu membawanya kembali ke kenangan masa lalu yang sejujurnya sangat ia benci. Kendati bibirnya menyiratkan senyuman, tak ada humor yang bermain di matanya— dan iya yakin temannya bisa melihat hal tersebut dengan jelas.

“Jangan bilang... itu cuma bercanda?!” seru Shoko, terkesiap kaget.

“Kalau serius, gue sama dia pasti udah pacaran sekarang.”

Shoko masih belum mengatupkan bibir dan pemandangan itu sesungguhnya amatlah lucu kalau bukan karena topik mengenaskan yang sedang mereka bahas sekarang.

“Dia tau lo suka sama dia?” bisik wanita itu, kali ini dengan raut wajah yang menunjukkan rasa simpati.

“Kalaupun gue ngomong, apa itu bakal dianggap serius sama dia?”

“Gila kalian,” tukas Shoko cepat seraya menggelengkan kepala dan kembali menghadap ke depan. “Kalau ternyata selama ini kalian sama-sama suka, gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain kalian. Liat aja nanti.”

Suguru membetulkan posisi tas selempangnya. Tinggal lima menit lagi sebelum Satoru keluar kelas.

“Kalau gitu gue harap, lo bakal ngetawain gue sama Satoru suatu hari nanti.”


Suguru memperhatikan dari jarak aman saat pintu kelas Satoru terbuka dan beberapa mahasiswa langsung menghambur keluar. Ia menunggu dengan sabar munculnya pria jangkung bersurai nyentrik yang mampu ia deteksi, bahkan dari kejauhan. Jangankan melihat, Suguru bahkan bisa mengenali suara lantang Satoru dari jarak yang amat jauh sekalipun— seperti sekarang.

Suguru mendengar sebelum melihatnya.

Pria itu dikelilingi oleh banyak orang. Mereka saling tertawa seolah sedang terlibat obrolan yang amat lucu. Satoru tertawa terbahak-bahak sembari merangkul salah satu orang yang tak ia ketahui identitasnya. Tapi, itu pemandangan yang sudah biasa. Maka siapalah dia untuk melarang, kendati tangannya yang terkepal di dalam kantung cukup untuk mengindikasikan kecemburuannya.

Satoru lantas menghadap ke depan hingga mereka tak sengaja bertemu pandang. Pria itu langsung tersenyum lebar, mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya sebelum menghampirinya dengan langkah ringan.

“Hai.”

“Hai.” Suguru membalas singkat sebelum mengedikkan bahu ke arah pintu keluar. Mereka pun berjalan beriringan menyusuri koridor. Ada aroma menyenangkan dari tanah dan rerumputan yang masih basah akibat hujan tadi pagi. Langkah mereka sempat beberapa kali terhenti karena cukup banyak yang menyapa, terutama Satoru. Dan pria itu seperti biasa membalas ceria seolah hari ini pun tidak memiliki beban sama sekali.

“Eh, mau drive thru McD dulu nggak sebelum ke rumah lo?” tanya Satoru begitu mereka telah tiba di tempat parkir. Beberapa hari sebelumnya, Satoru memang mengusulkan agar mereka mengerjakan revisi skripsi di rumahnya.

(Ganti suasana aja, lagi bosen ngerjain di perpus atau kafe!)

Dan seperti yang sudah-sudah, kali itu pun Suguru langsung mengiyakan tanpa banyak protes. Mendadak, ledekan Shoko tempo lalu terlintas di benaknya— lo tuh udah kayak anjing peliharaannya Satoru tau, nggak? Ke mana-mana ngintilin... apa-apa langsung diiyain... atau emang gitu ya, yang namanya bucin?

Bisa jadi... jawab Suguru waktu itu dalam hati, sedangkan bibirnya hanya mengulas senyum tipis.

“Kenapa lo senyum-senyum sendiri?” todong Satoru dengan mata menyipit curiga kala mereka sudah tiba di depan mobilnya. Ia bahkan tidak sadar sudah melamun.

“Nggak apa-apa. Eh, btw—”

“P-permisi, Kak...”

Kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Tiba-tiba ada seorang perempuan berambut panjang yang tengah memeluk buku di depan dada dengan erat dan menatap mereka berdua bergantian takut-takut. Satoru mengangkat sebelah alis, sedangkan dirinya buru-buru bertanya, “Iya, ada apa?”

“Boleh... minta waktu kakak sebentar...?”

“Maksudnya saya?” Suguru menunjuk dirinya, “atau dia?” lalu ikut menunjuk Satoru yang kini berdiri sambil menyilangkan kedua tangan. Tampang temannya mendadak terlihat tak bersahabat.

“Sama... kakak,” jawab perempuan itu sambil menunjuk dirinya malu-malu. Suguru membentuk O kecil dengan mulutnya, lalu melirik ke arah Satoru yang hanya mengedikkan bahu.

“Gue tunggu dalem mobil, ya.”

Tapi, belum dirinya mengatakan apa pun, Satoru telah bergerak lebih dulu untuk membuka pintu mobil. Mulutnya membuka untuk menahan, tapi sesuatu dari ekspresi Satoru membuatnya mengurungkan diri. Ia pun menghela napas dan ganti mengalihkan atensi kepada sosok perempuan yang masih menunggu jawabannya.

“Jadi, mau ngomongin apa?”


“Mau ngerjain di ruang tamu atau kamar gue aja?”

Satoru menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menghiraukan pertanyaan Suguru sepenuhnya. Masih terbayang pemandangan tadi di tempat parkir sebelum mereka pulang. Padahal Satoru tahu itu bukan pertama kalinya dan ia pun paham penyebabnya.

“Satoru?”

Begitu namanya disebut, Satoru mengusap wajahnya kasar dan setengah bangkit sambil menopang tubuhnya dengan kedua siku. Ia memperhatikan raut kebingungan temannya. Bahkan dengan ekspresi seperti itu pun, Suguru masih terlihat tampan.

Suguru memang selalu terlihat tampan.

Entah sejak kapan Satoru menyadarinya— perubahan fisik Suguru serta perasaannya yang tak lagi bisa dikatakan tulus sebagai teman. Atau dalam artian, ia mulai menginginkan lebih. Mungkin sejak mereka naik ke SMA dan penampilan dewasa Suguru mulai memikatnya. Hilang sudah jejak kekanakkan seperti pipi tembam dan lengan yang terlihat ringkih, apalagi sejak pria itu rutin berolahraga. Sungguh luar biasa bagaimana ia sanggup menahan, bahkan ketika kini sudah sama-sama duduk di bangku kuliah semester akhir. Suguru telah tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang mampu mengalihkan perhatian siapa pun saat mereka lewat. Dada bidang, senyum menawan, serta rambut panjang sewarna langit malam itu kerap kali membuat Satoru lupa akan posisinya. Pernah, tanpa sadar, ia mengutarakan rasa sukanya begitu melihat Suguru sengaja datang menjemputnya di kampus, padahal pria itu tidak ada kelas sama sekali. Namun, keterdiaman Suguru waktu itu langsung membuatnya panik. Refleks ia pun berseru bahwa itu hanya candaan— bahwa itu hanya perasaan tulusnya sebagai teman. Mungkin ia juga yang bodoh karena kejadian fatal tersebut malah dijadikannya sebagai suatu kebiasaan baru;

di saat rasa sukanya sedang tak terbendung, ia akan mengatakan suka. Begitu saja. Tanpa berpikir dua kali.

Seperti yang akan dilakukannya sekarang.

“Suguru,” panggilnya sembari bangkit perlahan untuk duduk. Yang dipanggil namanya masih menatap bingung, kendati ada kilat ingin tahu di balik obsidian sang empunya.

“Apa?” Suguru menyahut tanpa rasa curiga.

“Gue suka sama lo.”

Satoru yakin, bahka jika ada jarum yang jatuh di atas lantai kamar itu, mereka bisa mendengarnya dengan amat jelas karena keheningan yang begitu memekikkan. Ada kilat yang tak bisa ia artikan dari balik iris gelap sang sahabat sebelum menghilang dan digantikan dengan tatapan kosong.

“Gue—”

“Satoru,” sang lawan bicara memotong dengan nada lelah, “lo nggak capek bercanda kayak gitu terus?”

Bibirnya dikatupkan kembali. Walau sudah menduga reaksi Suguru, ia tak menyangka ungkapannya masih saja dianggap sebagai sekadar candaan.

“Gue ngerti lo emang orangnya suka bercanda, even lagi di saat-saat serius. Dan gue bukannya mau bilang itu hal yang buruk. Tapi, Satoru, lo harusnya tau kalau candaan itu juga ada batasnya. Apa yang bagi lo lucu, bukan berarti dianggap sama di mata atau telinga orang lain.”

Seolah memang ada jarum yang terbengkalai di kamar itu, Suguru pasti telah mengambil dan menusuknya tanpa sadar dengan rentetan kalimat barusan. Mereka berpandangan cukup lama sampai Suguru yang pertama kali memalingkan muka.

“Udahlah. Mending kita langsung—”

“Gimana kalau gue nggak bercanda?”

Suguru berhenti melangkah.

“Gimana kalau kata-kata yang selama ini gue bilang ke lo itu bukan bercanda? Gimana kalau gue serius?”

Kening pria di hadapannya mengernyit dalam. Mereka sudah berteman hampir dua puluh tahun, tetapi Satoru masih belum bisa mengartikan tatapan milik pria itu. Walau terkadang ia sering menangkap basah Suguru yang menatapnya lama— Satoru tetap tak paham. Pun tak berani menyimpulkan dan membuat asumsi macam-macam.

Tapi, dirinya tak berbohong manakala membuat hipotesis bahwa ada satu titik di mana perasaannya bersambut. Dan ia memiliki banyak faktor yang bisa diutarakan seandainya ada yang bertanya. Namun, di keheningan ini, Satoru tidak memprediksi lecutan yang datang selanjutnya.

“Bukannya lo pernah bilang? Lo suka sama gue cuma sebagai temen? Bukannya itu yang lo anggap serius, Satoru?”

Lecutan kedua adalah tatapan kecewa yang dilayangkan Suguru.

“Gue nggak ngerti kenapa lo suka ngomong kayak begitu. Orang-orang bisa salah paham. Baru tadi siang Shoko ngomong ke gue banyak yang ngira kita pacaran. Kalau emang yang kayak begitu di mata lo ternyata lucu, berarti selera humor kita beda dan gue akan sangat berterima kasih kalau lo mau berhenti bercanda kayak gitu.”

Satoru memejamkan matanya sejenak, berusaha mengusir sesak di dadanya yang mulai merenggut napas. Ia tidak mengerti bagaimana katastrofe ini bermula, tapi yang jelas, dirinya tahu telah membuat kesalahan.

Ia juga tahu bahwa, mungkin, hipotesisnya selama ini hanyalah angan-angan.

Dan begitulah bagaimana waktu berlalu di antara mereka sampai Satoru menjadi yang pertama bergerak. Ia mengangguk singkat dan berusaha tersenyum. Tangannya yang terasa sedikit kaku meraih tas dari atas lantai.

“Oke. Gue nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Sori kalau gue udah buat ini jadi... aneh. Gue nggak bermaksud kayak gitu.”

Satoru tidak menggubris makanan yang telah mereka beli di atas meja. Ia tidak memedulikan Suguru yang tetap diam di tempat tanpa meliriknya sedikit pun. Ia pun berusaha melenyapkan harapan bahwa Suguru akan menahannya sambil berkata, Tunggu, jangan pergi dulu. Ayo omongin ini baik-baik.

Karena yang masuk ke benaknya saat ini hanyalah suara pintu yang tertutup di belakangnya, tanpa tahu apakah akan terbuka kembali untuknya nanti.


“Kok gue liat akhir-akhir ini lo jarang bareng Satoru, sih? Biasanya dia ngintilin lo terus. Ke mana tuh orang?”

Lantang pertanyaan Shoko membuat Suguru tersadar dari lamunan. Wanita itu mengangkat sebelah alis, menanti jawaban yang perlu ia pikirkan sejenak.

Karena Suguru sendiri tak tahu Satoru menghilang ke mana.

“Lagi banyak tugas kali,” jawabnya singkat, sembari mengangkat bahu— berusaha terlihat tak peduli, meski lingkar gelap di bawah matanya jelas menunjukkan hal sebaliknya.

Netra wanita di hadapannya memicing curiga. Namun, tak ada pertanyaan lain yang terlontar setelahnya. Suguru pun kembali memainkan sedotan di gelasnya dengan pandangan menerawang.

“Beberapa hari lalu, gue liat lo lagi jalan ke parkiran sama cewek.”

Kepalanya menengadah, ganti dirinya yang menunggu karena nada Shoko terdengar seperti belum usai. Kendati begitu, tak perlu menjadi jenius untuk menebak arah pembicaraan tersebut.

“Dia mantan adek kelas gue dulu pas SMA, baru masuk sini semester lalu,” jelasnya tanpa perlu ditanya.

“Terus? Lo lagi deket sama dia?” kejar Shoko, kali ini terlihat sedikit tak sabar.

Suguru mengangguk, netranya memperhatikan lelehan es batu yang mengembun di luar gelas— membasahi tangannya yang mencengkeram erat.

“Lo gila, ya?”

Saat tuduhan itu akhirnya terdengar, barulah Suguru berdecak pelan— defensif. “Lo harusnya bukan bilang gitu ke gue.”

“Terus ke siapa? Ke Satoru yang, biar gue tebak, lagi ngejauhin lo sekarang? Pasti ada apa-apa, kan, di antara kalian? Nggak mungkin lo berdua tiba-tiba saling ngejauh kayak gini kalau bukan tanpa sebab.”

“Menurut lo,” potongnya tanpa memedulikan tatapan tajam wanita di hadapannya, “sejauh apa orang bisa dianggap bercanda? Kalau misalnya ada temen deket lo nekenin bahwa dia suka sama lo, apa lo bakal percaya gitu aja? Apa lo bakal berharap?”

Shoko menghela napas. Jari lentik wanita itu mengetuk-ngetuk meja, berusaha menarik perhatiannya. Begitu pandangan mereka bertemu, Shoko tiba-tiba menyentil keningnya kencang.

“Aduh! Apaan, sih, lo?” keluhnya, sembari mengusap-usap bagian tengah keningnya yang sebenarnya tidak begitu sakit.

“Sori. Nggak nyangka aja ternyata lo segoblok ini,” tukas wanita itu ringan seraya menyeringai lebar. “Gue sebenernya punya tebakan dan pengen jelasin ke lo, tapi... mager, ah. Biarin aja lo kesiksa sendiri.”

“Ngomong apa, sih, lo...” ujarnya malas sembari meraih ponselnya yang tiba-tiba menyala karena notifikasi masuk. Nama seorang gadis tertera di layarnya. “Eh, gue duluan, ya.”

“Suguru,” panggil wanita itu tiba-tiba dengan nada yang lebih serius, “kalau gue boleh kasih saran, mending coba lo deketin Satoru dan omongin baik-baik. Dan buat sekali itu, jangan anggap dia bercanda. Siapa yang tau kalau ternyata dia serius, kan?”

“Gue juga mau ngomong sama dia,” balas Suguru cepat sambil berdiri dan meluruskan jaketnya, “tapi, dia yang nggak mau ngomong sama gue. Dia yang ngehindarin gue.”

“Itu berarti, lo yang harus ngejar dia duluan. Masa gitu aja nggak kepikiran?”

Dan pemandangan terakhir yang ditangkapnya adalah ekspresi menyudutkan Shoko, serta bayangan wajah muram sahabatnya minggu lalu.


Satoru ingin sekali berbicara dengan Suguru.

Tapi, nyalinya ternyata belum sebesar itu. Beberapa hari belakangan dirinya bahkan dengan sengaja mengabaikan pesan dan panggilan masuk dari sahabatnya tersebut. Tak jarang, dia juga akan langsung berbalik begitu melihat punggung Suguru dari kejauhan. Dan sudah beberapa kali pula Satoru melihat pria itu jalan beriringan di lingkungan kampus bersama gadis yang tempo lalu menghampiri mereka di tempat parkir. Otomatis, segala asumsi buruk singgah di kepalanya.

Sejak kapan dua orang itu jadi sangat dekat? Apa Suguru menyukai gadis itu? Apa ini berarti sudah tak ada harapan lagi baginya? Apa omongannya yang dulu-dulu benar-benar dianggap sebagai candaan?

“Sialan,” gumamnya pelan seraya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Satoru mengacak rambutnya, terlalu lama duduk sendirian di dalam kafe sepertinya tidak sehat untuk pikirannya yang semakin semrawut. Tangannya gatal ingin memukul sesuatu. Ia merindukan Suguru— senyum menenangkan pria itu, tawa rendah yang membuat mata pria itu melengkung manis, hingga ke surai legam yang selalu terasa lembut di bawah sentuhan jarinya.

Mungkin, tak apa dianggap sahabat selamanya asalkan dia masih bisa bersama Suguru.

Anggapan konyol itu membuatnya menelan ludah. Netranya menelusuri jalanan di dekat taman kampus yang terlihat dari balik jendela. Ia menyukai spot ini karena dari sudut pandangnya, siapa pun yang baru keluar dari perpustaan besar kampus mereka bisa terlihat dan—

ia tak sengaja melihat Suguru.

Pria jangkung itu berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung jaket, terlihat tengah mendengarkan serius celotehan gadis yang berjalan di sampingnya. Satoru merasakan dadanya berdetak kencang melihat pemandangan tersebut, antara benci serta rindu yang bergabung jadi satu. Tangannya terkepal di atas pangkuan melihat atensi Suguru seolah tak terbagi, persis seperti bagaimana biasanya pria itu mendengarkan dirinya kala berbicara.

Satoru benci melihatnya.

Satoru benci melihat perlakuan istimewa Suguru ternyata tidak tertuju hanya untuk dirinya.

Meski begitu, matanya terus mengikuti dua orang yang kini berhenti di dekat taman. Suguru mengangguk-angguk, masih mendengarkan dengan serius omongan gadis itu. Satoru penasaran apa yang kedua orang itu obrolkan, walau di sisi lain ia jauh lebih ingin mendengarkan suara Suguru.

Pikirannya langsung terputus begitu pemandangannya berubah menjadi sesuatu yang tak terduga.

Gadis itu tiba-tiba berjinjit sambil meraih lengan Suguru. Pria itu terlihat terkejut saat otomatis menunduk dan menerima kecupan di pipi. Gadis itu kemudian melepas Suguru, mengucapkan sesuatu, dan dengan langkah cepat segera berlalu dari sana. Jantungnya memompa kian cepat seiring keterkejutan Suguru yang nampaknya masih menguasai sehingga pria itu hanya berdiri di sana seraya memegang pipi.

Setelah beberapa menit berlalu, barulah Suguru beranjak pergi— tanpa mengetahui ada sepasang mata yang menatap punggungnya nanar.

Kalau memang ini garis yang ditarik Suguru di antara hubungan mereka, tak ada pilihan lain bagi Satoru selain mengikhlaskan.


@fakeloveros

Ada hal-hal tak masuk akal yang sering diutarakan oleh salah satu temannya, Sugawara. Dan sesungguhnya, Iwaizumi tidak keberatan mendengarkan karena, toh, ia tahu itu hanyalah guyonan semata. Sesuatu yang tidak perlu dianggap serius.

Kecuali, saat suatu hari temannya mengusulkan begini—

“Mending lo ngadopsi anak.”

Kopi yang sudah melewati bibirnya nyaris ia semburkan keluar begitu mendengar ucapan ringan tersebut. Yang mengusulkan sendiri hanya menopang dagu dengan satu tangan tanpa merasa bersalah. Daichi, yang duduk di samping Sugawara pun, hanya tersenyum kecil sambil mengesap kopi yang baru diantarkan pelayan— seolah tidak terpengaruh sama sekali.

Pantas saja Tuhan memasangkan mereka berdua, pikirnya waktu itu.

“Gila lo,” ucapnya singkat, sembari meletakkan cangkirnya yang isinya belum berkurang banyak, tiba-tiba kehilangan selera. “Kalau lo ngusulin gue ngadopsi kucing atau anjing, gue nggak akan heran. Tapi, lo malah ngusulin gue ngadopsi anak?”

“Loh? Tadi yang ngeluh kesepian karena tinggal sendiri siapa? Sedangkan semua orang juga tau lo nggak suka melihara hewan. Mau nyari pasangan? Hilalnya aja belum ada. Yang terakhir udah lo putusin dua bulan lalu. Ya udah, mending lo punya anak aja buat nemenin di rumah, kan?”

Iwaizumi geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan ide yang melintas di otak temannya tersebut. Bayangan yang berputar di otaknya soal mengadopsi anak sangatlah mengerikan. Memang dikira membesarkan anak itu mudah, seperti merawat tanaman? Mengurus diri sendiri saja ia masih suka lalai, bagaimana jika tiba-tiba harus mengasuh satu makhluk bernyawa lain?

“Nggak, nggak. Usulan lo gila. Lagian apa kata emak bapak gue nanti kalau tiba-tiba mau ngadopsi anak, tapi nggak ada pendampingnya?” Iwaizumi memundurkan tubuhnya secara defensif, agak ngeri dengan pemikiran yang sebenarnya perlahan mulai mengendap di otaknya sendiri. Mengadopsi anak...? Apa itu mungkin?

“Lo lupa ya, gue dulu juga ngadopsi Yuu pas belum sama nih orang, kan?” seloroh temannya sambil menunjuk sang suami yang hanya menyeringai. “Jadi nggak masalah woy, asal lo bisa ngasih tuh anak makan, rumah, pakaian, sama pendidikan yang layak.”

“Kalau soal itu, sih, gue juga tau,” selanya cepat, kali ini berusaha berargumen dengan pikiran jernih. “Yang jadi masalah tuh, gimana kalau gue salah didik? Gimana kalau nanti dia malah jadi anak nakal? Gimana kalau dia nggak mau dengerin kata-kata gue?”

“Lo, kan, athletic trainer, Wa.”

Daichi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kali ini ikut angkat bicara dan mengutarakan fakta yang tak ia pahami korelasinya.

“Terus...?” tanyanya bingung, “apa hubungannya?”

“Lo bisa ngelatih orang-orang. Lo bisa bikin mereka mau dengerin kata-kata lo. Jadi, gue yakin anak lo nanti pasti mau nurut sama lo.”

Iwaizumi menepuk keningnya keras, bahkan Sugawara pun tertawa terbahak-bahak. Tak dipedulikannya tatapan pengunjung kafe yang mungkin berpikiran aneh melihat tiga pria dewasa tengah berkumpul di satu meja dan membicarakan soal mengadopsi anak.

“Aduh, lucu banget sih kamu!” seru Sugawara gemas sembari mencubit pipi sang suami. “Tapi, itu masuk akal! Lo punya bakat alami buat bikin orang-orang mau dengerin kata-kata lo, Wa. Lagian... kalau ngadopsi anak, kan, lo bisa pilih umurnya. Kalau mau tuh anak gampang nurut sama lo, pilih aja umurnya yang udah gedean dikit.”

“Pilih... pilih... lo kira ini kayak main gacha?” balasnya sewot.

“Gacha, kan, isinya random, Wa. Kalau ngadopsi anak, bener masih bisa milih,” tukas Daichi lagi, masih dengan nada kalem yang sama. Iwaizumi hanya memutar bola mata, tak ingin mendengar lebih jauh usulan gila dari kedua orang tersebut.

Pokoknya, ia tidak akan mengadopsi anak. Titik.


Atau seharusnya Iwaizumi tidak bertekad seperti itu karena pada dasarnya, ia hanyalah manusia yang posisinya teramat kecil di hadapan Tuhan.

Atau seperti kata orang— manusia bisa merencanakan, Tuhan yang memutuskan.

Karena beberapa minggu setelah percakapan gila tersebut, tahu-tahu roda mobilnya sudah melaju sendiri ke arah rumah besar yang di depan gerbangnya terdapat plang PANTI ASUHAN RAFAILA. Kartu nama berwarna putih gading yang di pertemuan tempo lalu disodorkan padanya oleh sang teman menjadi panduan dalam menemukan lokasi tersebut. Sugawara menambahkan sebelum mereka berpisah waktu itu, dengan intonasi yang lebih lembut.

“Gue dulu ketemu sama Yuu di sini. Kalau lo emang belum siap, nggak apa-apa. Tapi, nggak ada salahnya, kan, coba-coba main ke sana? Anak-anak di sana nggak seberuntung kita, Wa. Mereka pasti bakalan seneng kalau ada orang dari luar yang mau ngajakin ngobrol sama main. Nih, alamatnya. Ke sananya pas lo lagi senggang aja.”

Dibandingkan dirinya, Sugawara-lah yang sebenarnya selalu memiliki cara untuk membuat orang-orang mendengarkan dan memahami niat baik yang pria itu utarakan. Sulit untuk mengabaikan, apalagi karena ia sendiri telah bertemu dengan Yuu dan melihat bagaimana temannya itu berinteraksi dengan sang anak adopsi. Tidak ada kecanggungan sebagaimana dua orang asing yang dipertemukan. Mereka benar-benar seperti ayah dan anak sejak awal. Memori itulah yang mendorongnya untuk berbuat nekat seperti ini.

Mungkin... ia juga bisa menemukan sesuatu atau seseorang di sana.

Awalnya kakinya melangkah ragu, tetapi netranya keburu bertemu pandang dengan seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu di pekarangan depan. Wanita itu lantas tersenyum dan menyapa dengan ramah.

“Halo, ada yang bisa saya bantu?”

“Oh, halo... selamat sore. Ehm, saya... ke sini mau... eh, saya mau...” Iwaizumi menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung bagaimana harus menjelaskan maksud kedatangannya. “Saya... disaranin ke sini sama temen, namanya Sugawara Koushi...?”

Wanita itu meletakkan sapu di dekat dinding sebelum merespons dengan antusias. “Oh! Mas Suga? Saya kenal, kok, iya. Jadi... mas ini temannya, ya?”

“Iya, bu. Makanya saya ke sini mau... kenalan dulu, mungkin, sama beberapa anak?” ucapnya tak yakin karena ia masih sulit memercayai keputusannya sendiri.

“Boleh, boleh. Silakan masuk. Kalau jam segini, anak-anak lagi pada main di halaman belakang. Mas bisa ajak ngobrol atau main sama mereka. Tapi, nggak perlu dikasih apa-apa, mas. Itu peraturannya.”

Iwaizumi mengangguk, mengikuti langkah pasti sang wanita yang memutari rumah menuju halaman belakang. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara anak-anak yang tengah ramai bersenda gurau. Tangannya mendadak kebas dan punggungnya mengeluarkan keringat dingin. Ia bukanlah orang yang sering berinteraksi dengan anak kecil. Bagaimana kalau seandainya dirinyalah yang justru tidak disukai oleh anak-anak itu?

“Oh ya, nama mas siapa?” tanya wanita itu dan Iwaizumi bersyukur, ada sesuatu yang mampu mendistraksi pikirannya walau hanya sebentar.

“Saya Iwaizumi. Iwaizumi Hajime.”

Wanita itu mengangguk dengan senyum yang terulas ramah. Tak lama, mereka pun tiba di pekarangan luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang, kebun kecil, serta semacam meja piknik yang terletak di pinggir. Iwaizumi menyisiri pemandangan tersebut dengan cepat— menganalisis umur anak-anak yang tersebar di sana. Ia tak melihat banyak remaja, mungkin paling besar berkisar 14 atau 15 tahun, itu pun hanya satu dan dua orang. Sisanya, banyak anak sesuai sekolah dasar yang memenuhi pekarangan.

Seolah bisa membaca pikirannya, wanita itu mulai menjelaskan. “Anak-anak di sini kebanyakan masih duduk di sekolah dasar, mas. Kelas satu sampai kelas 6 ada. Yang paling besar kelas tiga SMP dan yang paling kecil usia balita. Ada yang dulu sejak lahir dititipkan kerabat, yang asal-usulnya kurang kami ketahui dengan jelas, atau... yang menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri. Tapi, semua sama, mas. Semua berusaha kami rawat dengan baik dan pastinya membutuhkan orang yang benar-benar bisa menyayangi mereka sebagaimana orang tua semestinya. Santai aja ngobrol sama mereka, mas. Mereka anak-anak baik, kok. Nanti kalau ada perlu apa-apa atau kalau mas udah selesai, masuk ke dalam aja. Saya bakal nunggu di sana.”

“Oh, iya, bu. Terima kasih banyak.”

Iwaizumi tak begitu memperhatikan kepergian wanita itu. Matanya langsung terfokus pada pandangan yang ada di hadapannya. Beberapa anak sudah menyadari kedatangannya dan menatap ingin tahu. Memutuskan bahwa ia sudah tak bisa mundur lagi, Iwaizumi pun mulai melangkah menuju lapangan yang didominasi oleh anak laki-laki.

“Halo, semua. Om boleh ikutan main?”

Salah satu anak mendongak dan menatapnya dengan penuh semangat. “Om bisa main sepak bola?”

“Bisa, dong,” balasnya percaya diri dan mulai menggulung lengan kemejanya. “Nah, siapa yang mau jadi lawan om?”

Sambutan antusias terdengar dari sekelilingnya. Tahu-tahu, tim sudah terbentuk dan mereka memulai permainan. Walau keahlian sesungguhnya ada di voli, semangat anak-anak itu tidak menghalanginya untuk mengerahkan seluruh kemampuan. Beberapa kali ia dibuat tertawa, bahkan ikut berteriak karena terbawa suasana— lupa bahwa ia ke sini untuk suatu tujuan spesifik. Kendati begitu, saat tanpa terasa 45 menit telah berlalu, Iwaizumi izin untuk undur diri dari permainan. Ia lupa bahwa energinya tidak lagi sebanyak anak-anak itu. Melihat meja piknik yang hanya diduduki beberapa anak, kakinya pun melangkah ke sana. Matanya entah mengapa tertuju pada satu anak laki-laki yang duduk sendirian di bangku panjang. Anak itu hanya menatap lapangan dengan tampang datar— nyaris bosan. Ada bola voli lusuh yang dipangku anak itu dengan penuh sayang. Iwaizumi tersenyum, anak itu sedikit mengingatkan dengan dirinya yang dulu.

“Halo, om boleh duduk di sini?”

Anak itu hanya meliriknya sebentar lalu mengangguk. Iwaizumi pun mengambil tempat di sebelah anak itu seraya membuka kancing teratas kemejanya. Angin sore hari yang sepoi-sepoi cukup untuk menghilangkah letih serta menghapus keringatnya akibat bermain bola barusan. Setelah lima menit berlalu, Iwaizumi baru menyadari tak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara.

“Kamu, kok, nggak ikut main sama anak-anak yang ada di lapangan?” Iwaizumi membuka obrolan, sedikit heran dengan tingkah anak itu yang benar-benar hanya diam di sebelahnya seperti patung. Awalnya pun ia pikir anak itu takkan menjawab karena setelah ditunggu beberapa detik, tak ada balasan yang keluar. Mulutnya baru membuka untuk mencoba bertanya lagi ketika tahu-tahu anak itu bergumam pelan.

“Nggak suka.”

“Nggak suka? Nggak suka apa? Nggak suka main sepak bola?”

Anak itu mengangguk, masih belum menatapnya meskipun Iwaizumi sendiri memperhatikan dengan lekat. Anak itu malah mengeratkan rengkuhan terhadap bola voli yang berada di pangkuan. Iwaizumi memperhatikan gestur tersebut dan mengambil sebuah kesimpulan.

“Kamu sukanya main voli?”

Anak itu mengangguk lagi, kali ini lebih pasti. “Tapi, nggak ada yang mau ikut main.”

“Nggak ada yang mau main voli? Kenapa?” Iwaizumi bertanya hati-hati.

“Katanya susah.”

Iwaizumi bergumam panjang, memikirkan jawaban selanjutnya. “Oh, ya? Padahal main voli asik banget.”

Kaki anak itu bergerak-gerak di atas anah. Sepatu biru yang dikenakan sang anak menendang kerikil kecil sebelum kepala yang dihiasi surai hitam itu mendongak dan kali ini membalas tatapannya.

“Om bisa main voli?”

“Wah, jangan salah. Om gini-gini dulunya jadi ace di sekolah,” ucapnya bangga sembari membusungkan dada— senang karena berhasil menarik perhatian anak itu.

“E...is?” Sang anak yang belum ia ketahui namanya itu melafalkan dengan bingung. Ada ketertarikan di balik netra yang baru Iwaizumi sadari berwarna biru gelap. Mengingatkannya akan warna lautan yang paling dalam.

“A, c, e—ace. Artinya yang paling jago. Dulu posisi om wing spiker. Kamu tau wing spiker?”

Anak itu mengangguk berulang kali. Matanya yang besar berbinar penuh semangat seakan baru saja menemukan harta karun yang berharga. Jarinya yang kecil menunjuk diri sendiri dan berucap penuh semangat, “aku setter!”

“Setter?” Iwaizumi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Untuk anak seusia itu, mengklaim diri sendiri sebagai setter bukanlah hal yang ringan. Tapi, Iwaizumi bisa melihat determinasi yang ada di balik gestur anak itu sehingga mau tak mau ia percaya dan semangatnya pun ikut terpancing.

“Kalau gitu, apa kamu— eh, iya, nama kamu siapa? Om boleh tau?”

Anak itu menunduk kembali dan mulai memutar-mutar bola yang masih berada di pangkuan. Iwaizumi menunggu dengan sabar sampai anak itu menengadahkan kepala.

“Tobio.”

Iwaizumi tersenyum dan menepuk-nepuk celananya yang ternyata sudah bernoda tanah akibat tadi bermain bola. Matanya menyisiri sudut lapangan yang bisa mereka gunakan untuk bermain voli dengan leluasa. Setelah menemukan, ia menunjuk lokasi tersebut sembari menoleh ke arah anak yang masih menatapnya.

“Tobio mau main voli sama om di sana?”


@fakeloveros

Oikawa nyaris tidak bisa merasakan getar yang ada di dalam kantungnya— terima kasih kepada hujan di luar sana yang berhasil membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Namun, seharusnya ia sudah memperkirakan cuaca buruk yang tiba-tiba datang tepat di jam pulang kerja mengingat beberapa hari belakangan memang sering turun hujan di kala petang. Dirinya saja yang terlalu keras kepala (Oikawa tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia malas) hingga menolak untuk membawa payung. Padahal, Iwaizumi sudah menasihatinya berulang kali untuk membawa benda yang sering diletakkan di depan pintu apartemen mereka. Sekarang dialah yang harus menanggung akibat dari kelalaiannya tersebut.

Omong-omong soal sang kekasih, ia yakin panggilan serta denting notifikasi yang dari tadi masuk ke ponselnya berasal dari pria itu. Namun, Oikawa hanya ingin cepat-cepat sampai ke apartemen sehingga ia terpaksa mengabaikan semua itu. Setelah menyeringai lebar kepada penjaga keamanan di bangunan apartemennya— yang hanya menatapnya penuh simpati melihat keadaan tubuhnya sekarang —Oikawa buru-buru masuk ke lift dan memencet tombol lantai 17. Tangannya mengeratkan jaketnya yang basah seolah itu akan membantu memberi kehangatan.

Setelah lift berhenti, kakinya yang berat berusaha menyeret tubuhnya secepat mungkin. Ia tidak sabar untuk segera melepas baju dan berdiri di bawah pancuran air mandi yang hangat. Mungkin, dia juga bisa membujuk kekasihnya untuk membuatkan segelas cokelat hangat.

Bayangan itu sungguh menakjubkan di kepalanya hingga Oikawa tidak sadar pintu apartemennya terbuka duluan di saat tangannya bersamaan menyentuh gagang. Kepalanya hampir saja terbentur kalau dirinya tidak segera melangkah mundur. Ia nyaris mengumpat kalau bukan karena lebih dulu melihat Iwaizumi berdiri di ambang pintu dengan payung dan kunci mobil di tangan kanan. Kening pria itu berkerut dalam dan ada kekhawatiran tersirat di balik iris hijau yang menatapnya terkejut.

“Tooru?”

Nada pria itu terdengar lebih terkejut lagi, terutama saat memperhatikan penampilannya yang pastinya terlihat seperti anjing kecebur got.

“Loh, aku baru mau jemput kamu! Kenapa teleponku nggak diangkat?” tanya sang pemilik suara seraya membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan dirinya masuk. Oikawa mengerang selagi menyambut kehangatan apartemen dengan penuh sukacita.

“Sori, sori. Soalnya tadi udah di jalan dan aku cuma pengen cepet-cepet sampai makanya nggak sempet jawab telepon kamu,” jawabnya cepat sembari menjatuhkan tas ke atas lantai dan mulai melepas satu per satu kain yang menempel di kulitnya. “Bentar ya, kamu boleh marahin aku nanti, tapi aku mau mandi dulu!”

Ia tidak sempat mendengar jawaban sang lawan bicara karena pintu kamar mandi keburu menjadi penghalang di antara mereka berdua. Oikawa cepat-cepat menyalakan shower dan mendesah puas saat air hangat yang keluar mulai menghilangkan jejak dingin di kulitnya. Kendati begitu, ia tidak ingin berlama-lama di kamar mandi. Setelah memastikan tubuhnya sudah cukup hangat, ia keluar dan melihat satu setel pakaian bersih diletakkan di atas kabinet kamar mandi. Oikawa mengeringkan tubuhnya, lantas mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek yang ia yakini disediakan oleh sang kekasih. Oikawa tersenyum manakala keluar dari kamar mandi dan disambut oleh pemandangan Iwaizumi yang sudah berada di balik selimut dengan punggung menyender di kepala kasur. Pria itu tidak mengangkat wajah dari layar ponsel, sekalipun Oikawa sudah ikut bergabung. Barulah ketika Oikawa meringkuk mendekat dan melingkarkan tangan di sekitar pinggang serta menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Iwaizumi, pria itu angkat bicara.

“Lain kali jangan lupa bawa payung.”

Oikawa menggumam pelan dan hanya mengeratkan pelukannya sembari menghidu aroma maskulin si pemilik netra hijau lebih dalam.

“Kalau lupa lagi, seenggaknya jangan nekat pulang dulu, apalagi kalau hujannya lebat. Minta jemput aja apa susahnya, sih?”

Yang terakhir, diucapkan dengan sedikit menggerutu. Meski begitu, Oikawa hanya menyeringai tanpa rasa bersalah di atas kulit hangat kekasihnya.

“Kamu anget,” tukasnya, sambil menarik pria itu seolah jarak yang terkikis di antara mereka belumlah cukup. Iwaizumi tidak membalas, hanya mengangkat tangan kanan untuk mengusap kepalanya dan bermain di antara surai cokelatnya.

Oikawa menghela napas nyaman dan memejamkan mata agar dapat lebih menikmati gestur lembut tersebut. Beberapa menit kemudian, telinganya menangkap bunyi barang diletakkan di atas nakas sebelum tiba-tiba ada dua tangan yang kini ganti menariknya lebih erat.

“Sini.”

Oikawa tersenyum senang manakala perintah halus itu terdengar. Tangan Iwaizumi tak lagi bermain di rambutnya, melainkan membuat gerakan maju mundur di atas kulit pahanya yang terpamerkan berkat celana pendek yang ia kenakan. Oikawa sengaja menaikkan salah satu tungkai kakinya di atas pangkuan sang kekasih. Seperti biasa. Dan walau Iwaizumi sering mengeluh berat, pria itu tidak pernah mendorongnya menjauh sama sekali.

Oikawa tidak tahu sejak kapan dirinya jatuh tertidur, tetapi saat merasakan sentuhan di kening dan pipinya, ia membuka matanya sedikit.

“Kamu udah ngantuk?”

Pertanyaan itu dibisikkan pelan seolah keheningan yang ada belum cukup membantu. Oikawa menganggukkan kepala seiring kelopaknya yang terpejam kembali.

“Nggak mau aku bikinin cokelat panas dulu?”

Oikawa tersenyum dalam tidurnya. Mana mungkin dia menolak tawaran menggiurkan tersebut?

“Mau,” gumamnya di antara kantuk yang masih menguasai. Samar, ia bisa merasakan selimut disingkap dan beban yang mulai berkurang dari atas kasur. Namun, sebelum Iwaizumi benar-benar mampu beranjak, tangannya meraih pria itu tanpa sadar.

“Cium dulu.”

Apa Oikawa melafalkan dua kata itu dengan jelas? Atau ia perlu mengulangi? Karena setelahnya, tidak ada apa pun yang terjadi. Baru ia ingin membuka mulut untuk kembali berucap, sudah ada lembut bilah bibir yang mendiamkannya.

Ciuman itu singkat dan hanya sedikit tenaga yang bisa ia keluarkan untuk membalas. Meski begitu, tak ada yang bisa mengalahkan manisnya.

Sekalipun lawannya adalah cokelat panas yang disukainya.


Prompt 70. You're Warm

@fakeloveros

“Semalem aku mimpiin kamu.”

Ada jari-jari yang terselip di antara surai cokelatnya— mengelus lambat sambil sesekali memijat pelan. Oikawa masih memejamkan mata kendati tahu bahwa matahari mulai menyapa di luar sana.

Toh, itu hari Sabtu.

“Mimpiinnya gimana?” Suaranya terdengar teredam karena kepalanya masih terbenam di atas bantal dengan posisi menelungkup. Sentuhan Iwaizumi yang begitu lembut bagaikan lagu pengantar tidur, menyuruhnya kembali bergabung bersama alam mimpi dan melupakan sejenak apa yang ada di dunia nyata.

Kekasihnya itu tak langsung menjawab. Oikawa hanya merasakan kasur yang bergerak pelan saat pria di sebelahnya mengubah posisi.

“Di mimpiku kamu nggak mau balik ke sini, maunya di Argentina terus. Eh, tiba-tiba aku udah nyamperin kamu ke sana. Pas aku tanya, kamu bilang nggak mau pulang soalnya matahari di sana sama di sini beda. Angetnya beda.”

Jangan salahkan Oikawa yang awalnya tidak begitu fokus dengan cerita mimpi milik sang kekasih. Atensinya teralihkan sedikit (atau banyak?) oleh suara parau Iwaizumi di pagi hari. Ditambah lagi, jemari yang tadinya bergerak penuh kehati-hatian di antara surai tebalnya, kini mulai turun dan merambat menuju punggung mulusnya yang terekspos udara. Punggung tangan kekasihnya itu bergerak lambat, kemudian digantikan dengan telunjuk yang berputar dan membentuk pola-pola abstrak di atas kulitnya. Oikawa tanpa sadar bergidik pelan, tetapi Iwaizumi tetap melanjutkan cerita— entah karena tidak sadar dengan reaksinya atau memang sengaja.

(Oikawa memilih yang kedua.)

“Awalnya aku masih maksa kamu buat pulang, tapi habis itu kamu ngajak aku ke tempat tinggal kamu di sana. Taunya rumah kamu ada di pinggir pantai, terus jarak mataharinya ke rumah kamu dekeeet banget. Aku langsung keringetan banyak, tapi anehnya kamu fine-fine aja dan malah ngajak aku keliling rumah.”

Kali ini, Oikawa mengeluarkan dengusan kecil. Baru teregistrasi di otaknya bahwa mimpi itu sangatlah konyol. Ia menelengkan kepala dan membuka satu mata— mendapati ekspresi berpikir yang terpatri di wajah tampan kekasihnya.

“Terus endingnya gimana?” tanyanya, kembali menenggelamkan wajah di atas bantal.

“Endingnya kamu tetep nggak mau pulang. Aku bilang boleh aja, tapi syaratnya kamu harus pindah rumah. Jangan di situ lagi soalnya panas!”

Oikawa memutar badannya hingga telentang, kemudian tertawa terbahak-bahak, lebih karena nada yang digunakan Iwaizumi mengingatkannya sewaktu mereka masih SMA dan pemuda itu mengeluhkan panasnya cuaca di musim panas, terutama saat sesi latihan indoor berlangsung.

“Apa sih, mimpi kamu aneh banget!”

Lawan bicaranya diam saja. Hanya sisa-sisa tawa Oikawa yang masih mengisi kamar tersebut. Matahari di luar sana semakin tinggi— terlihat jelas dari cahayanya yang mulai menyusup lewat celah jendela. Kendati begitu, rasa malas justru kian menguasai karena setelah tawanya reda, bukannya bangkit, Oikawa malah menghela napas dan menatap langit-langit kamar ditemani senyuman lebar.

“Aku males bangun,” tukasnya, memecah keheningan.

“Ya udah, nggak usah bangun,” balas Iwaizumi, yang baru disadari Oikawa ternyata sudah menatapnya dari tadi dengan satu tangan menopang pipi.

“Emang kamu nggak laper?”

Iwaizumi mengangkat satu bahu. “Biasa aja.”

“Masa? Padahal kayaknya semalem kamu yang paling ngeluarin tenaga.”

Akhirnya, ada permainan ekspresi yang Oikawa tangkap dari pria di hadapannya. Sudut bibir Iwaizumi terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang pastinya bisa memberhentikan jantung siapa saja yang melihat.

Tidak terkecuali Oikawa.

“Nggak kerasa capeknya soalnya kamu enak,” balas Iwaizumi ringan seolah itu hal yang lumrah dikatakan.

“Hah? Maksudnya kamu kayak udah makan aku gitu? Makanya kamu nggak laper sekarang?”

Yang ditanya hanya memberi anggukan sebagai jawaban sembari menarik pinggangnya agar lebih mendekat. Oikawa tidak berusaha melawan dan justru menikmati proksimitas yang menciptakan kenyamanan tersebut.

“Ada yang sakit, nggak?”

Oikawa mengerjap sedikit mendengar pertanyaan tersebut. Gelengan pun ia berikan diikuti senyum menenangkan.

“Nggak kerasa juga, soalnya kamu enak ngegempurnya.”

Oikawa menerima satu sentilan di keningnya.

”Berarti kalau kita skip sarapan dan seharian stay di kasur aja, kamu masih sanggup?”

Tangannya yang barusan mengusap-usap keningnya sendiri dalam lagak menghilangkan rasa sakit, otomatis berhenti.

“Sanggup, tapi nanti buat makan siang, aku maunya kamu yang masakin,” usulnya, sebelum menggeliat kegelian karena ibu jari Iwaizumi bermain di pinggulnya. Pria itu tersenyum sekilas dan berbisik “deal” sebelum beringsut maju dan menciumnya tepat di bibir.

Ciuman itu lambat— malas. Hanya diisi oleh lumatan penuh rasa di mana keduanya sama-sama menikmati waktu yang ada. Tidak terburu-buru meskipun mereka tahu limit waktu sudah berdiri menunggu.

Iwaizumi menjatuhkan kecupan dalam di ujung bibirnya manakala memberinya waktu untuk mengisi paru-paru. Tangan pria itu perlahan naik untuk mengusap lembut rahangnya dan tidak ada kehangatan lain yang Oikawa inginkan selain dari sentuhan kekasihnya. Sahabatnya sejak kecil. Pendukung, serta penyemangatnya dalam meraih cita-cita.

Meskipun mereka harus dipisahkan oleh jarak yang jauh.

“Kamu sering-sering, ya, mampir ke mimpi aku nanti.”

Di tengah suasana intim tersebut, Iwaizumi berbisik pelan di atas bibirnya. Oikawa bertanya melalui tatapan matanya dan Iwaizumi melanjutkan,

“Supaya pas kita udah pisah lagi, aku bisa tetep liat kamu, bahkan waktu lagi tidur.”

Oikawa tertawa rendah, tangannya meraih kedua sisi wajah Iwaizumi dan membawa bibir mereka kembali bertemu hangat.

Sí, señor. Aku pasti bakal mampir ke mimpi kamu nanti.”


Prompt 7. I dreamt about you last night.

Sí, señor: iya, Tuan

@fakeloveros

Kalau orang-orang mengira Kageyama adalah orang yang pendiam, pemuda itu akan jadi jauh lebih pendiam manakala mereka tengah berada di kerumunan atau sekelompok teman.

Awalnya Hinata masih berusaha membuat pemuda itu sedikit berbicara— “nggak apa-apa, jb jb aja.” —tapi, toh, usahanya tetap sia-sia karena si surai hitam itu sendiri mengaku lebih suka mendengarkan daripada ikut membuka suara. Akhirnya, sekarang setiap berkumpul dengan teman-teman kuliah yang sama-sama mereka kenal, Kageyama hanya akan duduk diam di sebelahnya sambil sesekali mengangguk dan baru menjawab jika ditanya.

Hinata tak keberatan. Lagi pula, hanya dirinyalah yang mengetahui bisa sevokal apa Kageyama kalau mereka sudah berduaan.

Itu, dan maksudnya Kageyama justru bisa menjadi orang yang amat cerewet.

“Pake jaket kamu, di luar dingin.”

“Jangan pulang kemaleman. Inget, kereta hari ini cuma sampai jam 11.”

“HP kamu charge dulu baterainya sebelum pergi. Kebiasaan, nanti nggak bisa aku hubungin kayak waktu itu.”

Dan segala macam titah yang terkadang membuat Hinata hanya memutar kedua bola mata. Tapi, ia tahu Kageyama begitu karena dirinya disayang.

“Kamu aslinya cerewet, ya, ternyata.”

Katanya suatu hari, setelah Kageyama memberikan ultimatum agar dirinya jangan naik motor kalau tugas kelompoknya selesai sampai larut malam.

(”Kamu nginep aja di rumah Yamaguchi, baliknya besok pagi.”)

Pemuda itu hanya mendengus sebelum kembali menghabiskan vanilla shake yang sudah dipesan hingga sisa setengah. Ini juga yang lucu, yang sering disalahpahami oleh banyak orang— walaupun memiliki tampang masam, aslinya sang kekasih menyukai minuman dan makanan manis. Sangat kontra dengan dirinya yang justru lebih menyukai Americano di balik pribadi penuh energi.

“Kamu orangnya cepet ngantuk. Nanti kalau di jalan kenapa-kenapa, gimana?”

Hinata terpekur. Lama. Padahal itu kalimat biasa (dan harus diakui memang sesuai fakta), tetapi jantungnya tak ayal berdetak lebih cepat saat mendengarnya.

(Hinata merasa disayang.)

“Permisi, Anda pesan satu americano?”

Suara dari pelayan yang datang mengalihkan atensi keduanya. Pelayan itu tersenyum sekilas selagi meletakkan secangkir minuman pekat itu di depan Kageyama. Kekasihnya mengangkat satu alis, tetapi tidak mengatakan apa pun untuk mengoreksi.

Hinata menyeringai lebar.

Begitu pelayan telah pergi, Hinata menjulurkan tangan— bermaksud meraih cangkir kopi tersebut ke arahnya. Namun, tangan Kageyama terjulur lebih dulu ke tumpukan gula batu yang ikut diletakkan di piring kecil sebelah cangkir. Jari lentik kekasihnya mengambil dua sembari bertanya,

“Gulanya dua, kan?”

Tanpa menunggu jawaban, gula itu dimasukkan ke dalam cangkir yang masih mengeluarkan asap tipis lalu diaduk pelan.

Hinata mengerjap. Tangannya perlahan kembali ke pangkuan.

“Pokoknya,” Kageyama tiba-tiba kembali bersuara sambil mendorong cangkir kopi tersebut ke arahnya, “kamu mending nginep aja atau kalau nggak mau ngerepotin Yamaguchi, kamu bisa telepon aku buat minta jemput.”

“Tapi nanti yang ada aku malah ngerepotin kamu.”

Kening mulus milik sang kekasih berkerut dalam dan biner biru itu menatapnya tajam.

“Ngerepotin apa, sih? Kalau kamu kenapa-kenapa, itu baru namanya ngerepotin.”

Hinata tak membantah. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman penuh arti.

“Apa?” tanya Kageyama, agaknya paham ada sesuatu yang tidak langsung dikatakannya.

“Kamu perhatian banget, ya, ternyata.”

Lawan bicaranya mendengus pelan. Kendati begitu, Hinata bisa melihat ujung telinga Kageyama sedikit memerah.

“Cuma ke kamu,” gumam sang kekasih. Pelan. Karena memang hanya ditujukan untuk dirinya.

Hinata tak pernah lagi berusaha membuat Kageyama berbicara di depan orang banyak karena pemuda itu memang pendiam.

Tetapi sayang yang diberikan untuknya, terdengar begitu keras.


Prompt 64. It's two sugars, right?

@fakeloveros

“Kok lama banget, sih, nggak keluar-keluaaar?”

“Sabar, dong.”

Jawaban itu terdengar teredam dari dalam kamar. Oikawa melanjutkan aktivitas bersantainya di depan TV selagi menunggu kekasihnya keluar. Matanya melirik jam, tinggal 15 menit lagi sebelum pria itu seharusnya berangkat kerja.

“Tooru, liat jam aku, nggak?”

Suara Iwaizumi tiba-tiba terdengar lebih jelas.

“Jam? Jam yang mana? Emang terakhir kamu ta— holy shit.”

Iwaizumi keluar dari kamar dengan kepala yang ditengokkan ke seluruh penjuru apartemen— tidak menyadari keterdiaman mendadak dari Oikawa.

“Terakhir aku lepas pas kemaren kita selesai makan malem, kan...” si pemilik netra zaitun menoleh ke arahnya, raut wajah pria itu terlihat frustrasi, “cuma aku lupa taro di— kamu kenapa? Kok diem?”

Oikawa tercengang. Matanya mengerjap berulang kali. Keripik kentang yang ada di tangannya terus terabaikan. Kalau tidak segera menutup mulut, air liurnya mungkin akan mengalir turun sebentar lagi.

Namun, untuk alasan yang berbeda.

“Apa, sih? Kenapa? Ada yang nempel ya, di wajahku?” tanya Iwaizumi polos, malah berjalan menuju cermin yang tergantung di dinding. Pria itu mengerutkan kening kala tak menemukan apa pun di sana. “Nggak ada, kok.”

“Kamu...” Oikawa perlahan menurunkan tangannya yang masih mengambang di udara, “itu seragam kamu... yang sekarang? Kamu ngajar kayak gitu?”

Yang ditanya hanya mengangguk, ikut menggulirkan pandangan ke bawah seakan berusaha mencari keanehan di seragamnya— di setelan training hitam polos dengan aksen garis berwarna putih di dekat bahu.

“Gila!” Oikawa meremas bungkus camilannya dengan kesal. “Menang banyak berarti, ya, mahasiwa-mahasiwa yang kamu ajar itu! Tampilan trainernya aja begini! Pasti jelalatan semua tuh mata mereka!”

Iwaizumi hanya berkedip. Lambat. Sebelum sudut bibir pria itu mulai tertarik ke atas dan ada gelegar tawa yang menyusul. Oikawa mengerucutkan bibir, lantas bangkit dari posisi setengah tidurannya di atas sofa untuk menghampiri sang kekasih.

“Jangan ketawa... aku lagi kesel banget sekarang liat kamu!”

Mendengar hal itu, Iwaizumi justru tertawa kian keras. Saat Oikawa melangkah semakin dekat, pria itu otomatis menariknya dan mengubur wajah di bahunya— masih sambil tergelak. Oikawa diam seribu bahasa, bahkan tak membalas pelukan pria itu sama sekali.

Beberapa menit kemudian, setelah tawa itu berubah menjadi kekehan kecil dan tak ada lagi getaran hebat yang ikut terasa di tubuhnya, barulah Oikawa angkat suara.

“Sana ganti baju! Pasti ada, kan? Pake aja kaos yang lebih gedean gitu atau celana yang lebih longgar? Kamu pasti punya, kan?”

Terdengar helas napas dari pria yang masih menyembunyikan wajah, kini di ceruk lehernya. Anehnya, Oikawa justru merasa pria itu sedang tersenyum.

“Punya, sih... tapi mana mungkin aku pake baju kayak gitu? Ini seragam resminya Birtwistle, jadi harus aku pake, dong.”

“Ini ukurannya kekecilan, ya?”

“Nggak. Ini udah yang paling besar malah.”

“Bohong.”

“Serius.”

“Terus kenapa keliatannya ngepas banget di kamu?!” Oikawa berseru lantang, ikut frustrasi. Meski tahu ini sesuatu yang konyol untuk dibahas, ia tak mampu menahan diri untuk tidak merasa kesal melihat penampilan Iwaizumi. Otot lengan dan dada hasil olahraga bertahun-tahun serta profesi pria itu sendiri membuat apa yang ada di depan matanya terlihat sungguh... menggiurkan. Parahnya, bukan dirinya yang melihat penampilan sang kekasih seperti itu setiap hari. Oikawa tidak terima.

Ada embusan napas yang menggelitik lehernya sekali lagi sebelum si pemilik surai hitam memberi kecupan ringan di sana.

Baby.”

Iwaizumi pura-pura tidak menyadari tubuhnya yang berubah kaku saat mendengar panggilan itu.

“Nggak ada yang peduli mau bajuku ngepas atau nggak. Kamu tau? Di sana cuma ada orang-orang ambis olahraga. Kayak kamu.”

Oikawa tak mampu menjawab. Otaknya keburu hilang fungsi mendengar panggilan yang tak biasa barusan. Setelah dua tahun berpacaran jarak jauh, baru kali ini Iwaizumi memanggilnya seperti itu. Wajahnya mulai memanas, terlebih ketika sang kekasih belum mengalihkan atensi dari ceruk lehernya, diikuti permukaan tangan sedikit kasar yang kini menyelinap ke balik kausnya.

Shit. Aku bisa telat,” gumam pria itu di atas kulitnya, tetapi tanpa menghentikan gerakan sama sekali. Oikawa ingin membalas, persetan sama murid-murid kamu itu. Namun, bibirnya justru mengeluarkan desah tertahan manakala tangan Iwaizumi kian menjamah abdomennya.

Di detik kewarasannya nyaris menghilang, Iwaizumi tiba-tiba melepas rengkuhan dan menjatuhkan ciuman cepat di bibirnya sebelum memperlebar jarak.

“Aku mau banget lanjutin, tapi nggak akan sempet kalau harus mandi lagi habis itu. Tunggu aku pulang aja, ya.”

Dan setelah mengikrarkan janji sarat makna tersebut, Iwaizumi tersenyum miring sebelum berbalik, mengambil tas, dan berjalan menuju pintu.

“Oh, ini dia jamku ketemu.”

Adalah kalimat terakhir yang masuk ke gendang telinganya sebelum disusul oleh bunyi pintu apartemen yang tertutup otomatis. Setelah beberapa menit berdiri dalam keterkejutan, Oikawa buru-buru kembali ke atas sofa dan duduk di sana. Tatapannya menerawang.

Mungkin ia harus segera menghubungi manajernya dan meminta izin untuk diberi waktu liburan lebih lama.


@fakeloveros