“Kok lama banget, sih, nggak keluar-keluaaar?”
“Sabar, dong.”
Jawaban itu terdengar teredam dari dalam kamar. Oikawa melanjutkan aktivitas bersantainya di depan TV selagi menunggu kekasihnya keluar. Matanya melirik jam, tinggal 15 menit lagi sebelum pria itu seharusnya berangkat kerja.
“Tooru, liat jam aku, nggak?”
Suara Iwaizumi tiba-tiba terdengar lebih jelas.
“Jam? Jam yang mana? Emang terakhir kamu ta— holy shit.”
Iwaizumi keluar dari kamar dengan kepala yang ditengokkan ke seluruh penjuru apartemen— tidak menyadari keterdiaman mendadak dari Oikawa.
“Terakhir aku lepas pas kemaren kita selesai makan malem, kan...” si pemilik netra zaitun menoleh ke arahnya, raut wajah pria itu terlihat frustrasi, “cuma aku lupa taro di— kamu kenapa? Kok diem?”
Oikawa tercengang. Matanya mengerjap berulang kali. Keripik kentang yang ada di tangannya terus terabaikan. Kalau tidak segera menutup mulut, air liurnya mungkin akan mengalir turun sebentar lagi.
Namun, untuk alasan yang berbeda.
“Apa, sih? Kenapa? Ada yang nempel ya, di wajahku?” tanya Iwaizumi polos, malah berjalan menuju cermin yang tergantung di dinding. Pria itu mengerutkan kening kala tak menemukan apa pun di sana. “Nggak ada, kok.”
“Kamu...” Oikawa perlahan menurunkan tangannya yang masih mengambang di udara, “itu seragam kamu... yang sekarang? Kamu ngajar kayak gitu?”
Yang ditanya hanya mengangguk, ikut menggulirkan pandangan ke bawah seakan berusaha mencari keanehan di seragamnya— di setelan training hitam polos dengan aksen garis berwarna putih di dekat bahu.
“Gila!” Oikawa meremas bungkus camilannya dengan kesal. “Menang banyak berarti, ya, mahasiwa-mahasiwa yang kamu ajar itu! Tampilan trainernya aja begini! Pasti jelalatan semua tuh mata mereka!”
Iwaizumi hanya berkedip. Lambat. Sebelum sudut bibir pria itu mulai tertarik ke atas dan ada gelegar tawa yang menyusul. Oikawa mengerucutkan bibir, lantas bangkit dari posisi setengah tidurannya di atas sofa untuk menghampiri sang kekasih.
“Jangan ketawa... aku lagi kesel banget sekarang liat kamu!”
Mendengar hal itu, Iwaizumi justru tertawa kian keras. Saat Oikawa melangkah semakin dekat, pria itu otomatis menariknya dan mengubur wajah di bahunya— masih sambil tergelak. Oikawa diam seribu bahasa, bahkan tak membalas pelukan pria itu sama sekali.
Beberapa menit kemudian, setelah tawa itu berubah menjadi kekehan kecil dan tak ada lagi getaran hebat yang ikut terasa di tubuhnya, barulah Oikawa angkat suara.
“Sana ganti baju! Pasti ada, kan? Pake aja kaos yang lebih gedean gitu atau celana yang lebih longgar? Kamu pasti punya, kan?”
Terdengar helas napas dari pria yang masih menyembunyikan wajah, kini di ceruk lehernya. Anehnya, Oikawa justru merasa pria itu sedang tersenyum.
“Punya, sih... tapi mana mungkin aku pake baju kayak gitu? Ini seragam resminya Birtwistle, jadi harus aku pake, dong.”
“Ini ukurannya kekecilan, ya?”
“Nggak. Ini udah yang paling besar malah.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Terus kenapa keliatannya ngepas banget di kamu?!” Oikawa berseru lantang, ikut frustrasi. Meski tahu ini sesuatu yang konyol untuk dibahas, ia tak mampu menahan diri untuk tidak merasa kesal melihat penampilan Iwaizumi. Otot lengan dan dada hasil olahraga bertahun-tahun serta profesi pria itu sendiri membuat apa yang ada di depan matanya terlihat sungguh... menggiurkan. Parahnya, bukan dirinya yang melihat penampilan sang kekasih seperti itu setiap hari. Oikawa tidak terima.
Ada embusan napas yang menggelitik lehernya sekali lagi sebelum si pemilik surai hitam memberi kecupan ringan di sana.
“Baby.”
Iwaizumi pura-pura tidak menyadari tubuhnya yang berubah kaku saat mendengar panggilan itu.
“Nggak ada yang peduli mau bajuku ngepas atau nggak. Kamu tau? Di sana cuma ada orang-orang ambis olahraga. Kayak kamu.”
Oikawa tak mampu menjawab. Otaknya keburu hilang fungsi mendengar panggilan yang tak biasa barusan. Setelah dua tahun berpacaran jarak jauh, baru kali ini Iwaizumi memanggilnya seperti itu. Wajahnya mulai memanas, terlebih ketika sang kekasih belum mengalihkan atensi dari ceruk lehernya, diikuti permukaan tangan sedikit kasar yang kini menyelinap ke balik kausnya.
“Shit. Aku bisa telat,” gumam pria itu di atas kulitnya, tetapi tanpa menghentikan gerakan sama sekali. Oikawa ingin membalas, persetan sama murid-murid kamu itu. Namun, bibirnya justru mengeluarkan desah tertahan manakala tangan Iwaizumi kian menjamah abdomennya.
Di detik kewarasannya nyaris menghilang, Iwaizumi tiba-tiba melepas rengkuhan dan menjatuhkan ciuman cepat di bibirnya sebelum memperlebar jarak.
“Aku mau banget lanjutin, tapi nggak akan sempet kalau harus mandi lagi habis itu. Tunggu aku pulang aja, ya.”
Dan setelah mengikrarkan janji sarat makna tersebut, Iwaizumi tersenyum miring sebelum berbalik, mengambil tas, dan berjalan menuju pintu.
“Oh, ini dia jamku ketemu.”
Adalah kalimat terakhir yang masuk ke gendang telinganya sebelum disusul oleh bunyi pintu apartemen yang tertutup otomatis. Setelah beberapa menit berdiri dalam keterkejutan, Oikawa buru-buru kembali ke atas sofa dan duduk di sana. Tatapannya menerawang.
Mungkin ia harus segera menghubungi manajernya dan meminta izin untuk diberi waktu liburan lebih lama.
@fakeloveros