“Semalem aku mimpiin kamu.”

Ada jari-jari yang terselip di antara surai cokelatnya— mengelus lambat sambil sesekali memijat pelan. Oikawa masih memejamkan mata kendati tahu bahwa matahari mulai menyapa di luar sana.

Toh, itu hari Sabtu.

“Mimpiinnya gimana?” Suaranya terdengar teredam karena kepalanya masih terbenam di atas bantal dengan posisi menelungkup. Sentuhan Iwaizumi yang begitu lembut bagaikan lagu pengantar tidur, menyuruhnya kembali bergabung bersama alam mimpi dan melupakan sejenak apa yang ada di dunia nyata.

Kekasihnya itu tak langsung menjawab. Oikawa hanya merasakan kasur yang bergerak pelan saat pria di sebelahnya mengubah posisi.

“Di mimpiku kamu nggak mau balik ke sini, maunya di Argentina terus. Eh, tiba-tiba aku udah nyamperin kamu ke sana. Pas aku tanya, kamu bilang nggak mau pulang soalnya matahari di sana sama di sini beda. Angetnya beda.”

Jangan salahkan Oikawa yang awalnya tidak begitu fokus dengan cerita mimpi milik sang kekasih. Atensinya teralihkan sedikit (atau banyak?) oleh suara parau Iwaizumi di pagi hari. Ditambah lagi, jemari yang tadinya bergerak penuh kehati-hatian di antara surai tebalnya, kini mulai turun dan merambat menuju punggung mulusnya yang terekspos udara. Punggung tangan kekasihnya itu bergerak lambat, kemudian digantikan dengan telunjuk yang berputar dan membentuk pola-pola abstrak di atas kulitnya. Oikawa tanpa sadar bergidik pelan, tetapi Iwaizumi tetap melanjutkan cerita— entah karena tidak sadar dengan reaksinya atau memang sengaja.

(Oikawa memilih yang kedua.)

“Awalnya aku masih maksa kamu buat pulang, tapi habis itu kamu ngajak aku ke tempat tinggal kamu di sana. Taunya rumah kamu ada di pinggir pantai, terus jarak mataharinya ke rumah kamu dekeeet banget. Aku langsung keringetan banyak, tapi anehnya kamu fine-fine aja dan malah ngajak aku keliling rumah.”

Kali ini, Oikawa mengeluarkan dengusan kecil. Baru teregistrasi di otaknya bahwa mimpi itu sangatlah konyol. Ia menelengkan kepala dan membuka satu mata— mendapati ekspresi berpikir yang terpatri di wajah tampan kekasihnya.

“Terus endingnya gimana?” tanyanya, kembali menenggelamkan wajah di atas bantal.

“Endingnya kamu tetep nggak mau pulang. Aku bilang boleh aja, tapi syaratnya kamu harus pindah rumah. Jangan di situ lagi soalnya panas!”

Oikawa memutar badannya hingga telentang, kemudian tertawa terbahak-bahak, lebih karena nada yang digunakan Iwaizumi mengingatkannya sewaktu mereka masih SMA dan pemuda itu mengeluhkan panasnya cuaca di musim panas, terutama saat sesi latihan indoor berlangsung.

“Apa sih, mimpi kamu aneh banget!”

Lawan bicaranya diam saja. Hanya sisa-sisa tawa Oikawa yang masih mengisi kamar tersebut. Matahari di luar sana semakin tinggi— terlihat jelas dari cahayanya yang mulai menyusup lewat celah jendela. Kendati begitu, rasa malas justru kian menguasai karena setelah tawanya reda, bukannya bangkit, Oikawa malah menghela napas dan menatap langit-langit kamar ditemani senyuman lebar.

“Aku males bangun,” tukasnya, memecah keheningan.

“Ya udah, nggak usah bangun,” balas Iwaizumi, yang baru disadari Oikawa ternyata sudah menatapnya dari tadi dengan satu tangan menopang pipi.

“Emang kamu nggak laper?”

Iwaizumi mengangkat satu bahu. “Biasa aja.”

“Masa? Padahal kayaknya semalem kamu yang paling ngeluarin tenaga.”

Akhirnya, ada permainan ekspresi yang Oikawa tangkap dari pria di hadapannya. Sudut bibir Iwaizumi terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang pastinya bisa memberhentikan jantung siapa saja yang melihat.

Tidak terkecuali Oikawa.

“Nggak kerasa capeknya soalnya kamu enak,” balas Iwaizumi ringan seolah itu hal yang lumrah dikatakan.

“Hah? Maksudnya kamu kayak udah makan aku gitu? Makanya kamu nggak laper sekarang?”

Yang ditanya hanya memberi anggukan sebagai jawaban sembari menarik pinggangnya agar lebih mendekat. Oikawa tidak berusaha melawan dan justru menikmati proksimitas yang menciptakan kenyamanan tersebut.

“Ada yang sakit, nggak?”

Oikawa mengerjap sedikit mendengar pertanyaan tersebut. Gelengan pun ia berikan diikuti senyum menenangkan.

“Nggak kerasa juga, soalnya kamu enak ngegempurnya.”

Oikawa menerima satu sentilan di keningnya.

”Berarti kalau kita skip sarapan dan seharian stay di kasur aja, kamu masih sanggup?”

Tangannya yang barusan mengusap-usap keningnya sendiri dalam lagak menghilangkan rasa sakit, otomatis berhenti.

“Sanggup, tapi nanti buat makan siang, aku maunya kamu yang masakin,” usulnya, sebelum menggeliat kegelian karena ibu jari Iwaizumi bermain di pinggulnya. Pria itu tersenyum sekilas dan berbisik “deal” sebelum beringsut maju dan menciumnya tepat di bibir.

Ciuman itu lambat— malas. Hanya diisi oleh lumatan penuh rasa di mana keduanya sama-sama menikmati waktu yang ada. Tidak terburu-buru meskipun mereka tahu limit waktu sudah berdiri menunggu.

Iwaizumi menjatuhkan kecupan dalam di ujung bibirnya manakala memberinya waktu untuk mengisi paru-paru. Tangan pria itu perlahan naik untuk mengusap lembut rahangnya dan tidak ada kehangatan lain yang Oikawa inginkan selain dari sentuhan kekasihnya. Sahabatnya sejak kecil. Pendukung, serta penyemangatnya dalam meraih cita-cita.

Meskipun mereka harus dipisahkan oleh jarak yang jauh.

“Kamu sering-sering, ya, mampir ke mimpi aku nanti.”

Di tengah suasana intim tersebut, Iwaizumi berbisik pelan di atas bibirnya. Oikawa bertanya melalui tatapan matanya dan Iwaizumi melanjutkan,

“Supaya pas kita udah pisah lagi, aku bisa tetep liat kamu, bahkan waktu lagi tidur.”

Oikawa tertawa rendah, tangannya meraih kedua sisi wajah Iwaizumi dan membawa bibir mereka kembali bertemu hangat.

Sí, señor. Aku pasti bakal mampir ke mimpi kamu nanti.”


Prompt 7. I dreamt about you last night.

Sí, señor: iya, Tuan

@fakeloveros