Entah apakah perkataannya ternyata memiliki pengaruh yang amat besar, tetapi Suguru benar-benar tak menghubunginya lagi setelah malam itu.
Dalam hati, Satoru merasa kecewa. Mungkinkah memang ini akhir dari pertemanan mereka yang telah terjalin begitu lama? Di sinikah akhir perjuangannya?
Meski begitu, Satoru tidak menyesal. Setidaknya ada beban yang terangkat setelah perasaannya benar-benar tersampaikan. Lucunya, ia masih bisa tersenyum kendati matanya yang terus melirik ke arah layar ponsel menunggu notifikasi muncul dari sebuah nama tidak membuahkan hasil. Ia mampu menjalani kembali aktivitas kuliahnya seperti biasa, mengikuti bimbingan (walaupun sempat diomeli dosen pembimbingnya karena beberapa hari izin), bahkan menanggapi candaan teman-temannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Semua berjalan baik-baik saja.
Atau begitulah setidaknya yang ia pikir.
Sampai di hari kelima Suguru tidak memunculkan batang hidungnya, ada banyak panggilan masuk dari Shoko begitu ia selesai kelas. Dengan kening berkerut, Satoru balik menghubungi nomor wanita itu. Baru di dering kedua, panggilannya sudah dijawab dan belum sempat ia membuka mulut untuk menyapa, suara wanita itu terdengar lebih dulu.
“Woy, ke mana aja, sih, gue telpon dari tadi nggak diangkat?” seru wanita itu, terdengar tak sabar.
Satoru tersenyum dan melambai kepada beberapa junior yang menyapa sebelum kembali memfokuskan atensi ke sambungan tersebut. “Gue habis kelaslah, anjir. Ada apaan, sih? Misscall lo sampe banyak banget.”
Terdengar hela napas berat dari seberang sana. “Lo habis ini masih ada jadwal?”
“Nggak, sih, udah kosong. Kenapa?”
“Bisa ke kos-an Suguru sekarang?”
Satoru berhenti melangkah. Setelah sekian lama tidak mendengar nama pria itu, tak ayal memunculkan kembali pengakuannya di malam ia mabuk. Ia berdeham, kemudian bertanya dengan nada senetral mungkin. “Kenapa emang?”
“Suguru sakit,” jawab wanita itu singkat. “Dan dia nyariin lo.”
Kalau ada yang lebih mengejutkan Satoru dibanding sang sahabat yang mencarinya, yaitu kenyataan bahwa seorang Suguru jatuh sakit. Pasalnya, seumur hidup Satoru mengenal pria itu, Suguru jarang sekali sakit. Pria itu terlalu atletis untuk dirinya yang justru malas berolahraga.
“Dia… sakit apa?”
“Demam, batuk, pusing, dan kawan-kawannya— nggak tau deh gue, tapi nih orang lemes banget.”
“Terus kenapa dia nyariin gue?” tanya Satoru, berusaha tetap terdengar tenang meski kakinya gatal untuk segera berlari ke sana. “Kan udah ada lo?”
“Dia—” Suara Shoko terdengar terputus dan digantikan dengan bunyi pintu yang tertutup serta langkah kaki, “dia nggak nyeritain secara lengkap or detail omongan kalian waktu itu, tapi gue tau dari dia, lo udah ngomong jujur. Ya, kan?”
Satoru mengangguk, lupa bahwa Shoko tidak bisa melihatnya sekarang. Namun, keterdiamannya dianggap sebagai jawaban.
“Dan habis kejadian malem itu, Suguru nggak berani langsung ketemuan sama lo. Katanya takut bikin lo makin kecewa dan marah sama dia— whatever-lah, jujur gue nggak paham sama jalan pikiran tuh orang. Padahal udah jelas-jelas dia juga ngerasain hal yang sama—”
“Pause dulu,” potongnya terkejut. “Lo bilang apa barusan? Dia… apa?”
“Ru,” Shoko terdengar lelah, sesuatu yang baru kali ini didengarnya dari teman wanitanya itu, “sadar nggak, sih, kalian berdua tuh sama-sama bego selama ini?”
Satoru tidak tahu harus merespons apa. Pikirannya seperti benang yang sulit terurai.
“Gue nggak akan ngomong secara jelasnya karena itu bukan hak gue. Gue juga nggak mau ngebela siapa-siapa di sini, tapi…” tekan wanita itu dengan nada yang lebih tajam, “gue nggak mau liat lo galau lagi dan gue nggak mau liat Suguru jauh lebih nyesel dibanding sekarang. Kalian harus ngomong. Sekarang juga.”
“Gue nggak gal—” Namun, sebelum omongannya terselesaikan, sambungan di seberang sana telah diputus. Satoru menatap layar ponselnya tak percaya sembari memikirkan makna perkataan temannya yang satu itu.
Gue nggak mau liat Suguru jauh lebih nyesel dibanding sekarang.
Menyesal karena apa, lebih tepatnya?
Satoru menggigit bibir— otaknya berputar cepat. Langit mulai meredup di atasnya, menandakan petang yang kian dekat. Suasana kampus mulai sepi, hanya diisi segelintir orang yang berlalu lalang. Beberapa menyapanya, namun ia seolah tidak bisa mendengar apa pun lagi.
Begitu tersadar, kakinya tahu-tahu sudah melangkah ke arah luar gerbang.
Perjalanan ke kos-an Suguru bahkan tidak mencapai sepuluh menit, mengingat lokasinya memang lebih dekat ke kampus dibanding kos-annya sendiri. Sesampainya di luar, Satoru mengirim pesan singkat kepada Shoko— memberitahukan kedatangannya. Ia menunggu dengan jantung berdegup kencang sampai gerbang itu terbuka dan memperlihatkan sang wanita berambut cokelat.
Shoko tidak langsung menyuruhnya masuk, hanya menatapnya dari atas ke bawah seolah tengah menilai sesuatu.
“Apa?” tanyanya, yang lama-lama jengah dipandangi seperti itu.
“Nggak apa-apa. Sini masuk, temen lo lagi tidur habis minum obat tadi siang,” ungkap wanita itu dengan nada datar. “Gue habis ini ada acara, jadi gantian ya, lo yang temenin dia.”
“Eh? Kok lo tiba-tiba malah mau pergi, sih?! Di sini aja, dong, temenin gue!” serunya lantang karena terkejut.
Shoko berputar dan menunjuk-nunjuk dadanya dengan tampang galak. “Gue udah dengerin curhatan Suguru dari kemaren. Gue juga udah sering nemenin lo galau. Gue capek— butuh break. Stop berantem kayak orang tolol, dan selesein masalah ini layaknya orang dewasa. Suruh dia dengerin omongan lo, dan lo harus dengerin omongan dia. Nggak boleh ada yang disembunyiin lagi. Kalau habis ini belum baikan juga, gue nggak akan mau lagi jadi tempat curhat kalian. Ngerti?”
Satoru ternganga— kepalanya otomatis mengangguk patuh.
“Bagus,” ucap wanita itu, terlihat amat puas. “Gih, sana lo ke kamar dia, gue mau balik sekarang. Nanti malem lo beliin tuh orang makan, ya. Kalau obatnya udah gue taro di atas meja. Bye!”
Setelah wanita itu berlalu, Satoru berdiri di pekarangan kos-an sang sahabat dengan sedikit tercenung. Bisa saja ia langsung berbalik dan pulang— toh, Suguru tidak akan mengetahuinya.
Namun, nasihat panjang lebar Shoko entah mengapa menempel di otaknya dan membuatnya penasaran. Sembari mengedikkan bahu, ia pun mencoba berjalan santai menuju kamar yang telah didatanginya ratusan kali selama mereka berkuliah. Tak dipedulikan tangannya yang tiba-tiba berkeringat dingin begitu ingin mengetuk pintu. Padahal di hari-hari biasa, ia pasti akan langsung masuk tanpa memberi pengumuman.
Setelah menguatkan mental, tangannya terangkat untuk mengetuk. Ia menunggu selama beberapa detik, namun tak kunjung mendapat balasan. Sang pemilik kamar pastilah tertidur amat nyenyak.
Satoru pun dengan berhati-hati membuka pintu kamar itu— berusaha seminimal mungkin dalam menimbulkan suara. Matanya langsung terarah ke gundukan di balik selimut yang tak bergerak sama sekali. Setelah berhasil menutup pintu, kakinya berjinjit untuk melangkah tanpa suara.
Suguru yang sakit benar-benar terlihat berbeda.
Pria itu terlihat sedikit pucat dengan kantung mata yang kasatmata— mengingatkan Satoru akan sepupunya, Yuuta. Ada peluh yang menempel di sekitar kening dan pelipis— membuat Satoru tanpa sadar mengulurkan tangan dan menyentuh kening Suguru dengan punggung tangan. Panas di bawah kulitnya sontak membuatnya menarik tangan. Namun, gerakan itu justru menimbulkan reaksi dari si pemilik tubuh yang tengah berbaring. Satoru meneguk ludah saat menyaksikan kelopak pria itu bergerak lalu perlahan terbuka. Suguru mengerjap-ngerjapkan mata sebelum melirik ke samping dan bertemu pandang dengannya. Kendati terlihat begitu sayu, ia mampu mendapati keterkejutan di sana.
Mereka hanya berpandangan selama beberapa saat.
“Hai,” sapanya, memecah keheningan. Satoru berdeham untuk menghilangkan serak yang tiba-tiba timbul. “Kata Shoko… lo sakit, jadi gue jenguk ke sini. Cuma kalau lo mau sendirian buat istirahata juga nggak apa-apa! Gue bisa balik ke kos—”
“…Ru.”
Gumam lemah Suguru memotong racauannya.
“Ru… ini… beneran lo? Gue nggak lagi mimpi?”
Satoru tertegun— menyambut uluran tangan Suguru yang terasa lemah dan panas di atas miliknya. Meski jantungnya berdegup kencang, ia berusaha menciptakan canda di tengah suasana itu. “Kenapa? Barusan lo habis mimpiin gue, ya?” tanyanya sembari menyeringai lebar.
Suguru yang masih memegang tangannya lantas mengangguk— tidak melepaskan tatapan seolah takut dirinya akan menghilang.
“Di mimpi lo, gue lagi ngapain emang?” pancingnya ingin tahu.
“Lo… pergi,” bisik Suguru, terdengar serak. “Terus gue… manggil-manggil lo, tapi lo… nggak mau nengok.”
Tautan di tangannya mengerat untuk beberapa sekon.
“Jangan pergi, Ru…” ucap Suguru, terdengar seperti orang yang kehilangan fokus. “Bukannya kita udah janji bakal bareng terus?”
“Bukannya lo yang mau gue pergi?” balasnya refleks.
Suguru menggeleng frantik. Pria itu meringis selagi berusaha untuk bangun, sedangkan Satoru masih berdiri di tempatnya— menunggu kejujuran dari sahabatnya. Dan untuk kali ini, seperti nasihat Shoko, ia akan mendengarkan hingga tuntas.
“Gue… nggak pernah pengen lo pergi,” ucap Suguru, setelah berhasil duduk di tempat tidur. Posisi mereka membuat pria itu harus menengadah dan Satoru bisa melihat dengan jelas keputusasaan yang berada di balik netra gelap si empunya. “Gue nggak mau lo salah paham… cewek itu… bukan siapa-siapa. Nggak pernah jadi siapa-siapa gue juga… Gue udah bilang ke dia ada orang lain… Orang yang udah gue sayang dari dulu…”
Satoru berusaha agar suaranya tak terdengar pecah saat bertanya, “Siapa?”
Bukannya menjawab, Suguru— yang walaupun sakit ternyata masih memiliki tenaga — malah menariknya cepat hingga ia ikut terduduk di atas kasur. Satoru terlalu terkejut untuk bereaksi sehingga ia hanya terdiam saat pria itu menariknya ke dalam pelukan. Panas tubuh Suguru menghantar lekat, ikut membuatnya bisa merasakan detak jantung lain yang bukan miliknya.
Deru napas pria itu terasa membara di tengkuk lehernya. Satoru menggeliat, tetapi lengan yang melingkarinya justru bertambah kencang.
“Jangan bercanda lagi.”
Satu kalimat itu membuatnya berhenti menggeliat. Kali ini ia yakin Suguru tidak lagi menganggapnya sekadar mimpi. “Gue nggak pernah bercanda,” balasnya pelan.
Ada anggukan samar yang terasa di bahunya. Surai legam pria itu menggelitik lehernya, menghadirkan aliran listrik yang membuatnya terhenyak.
“Jangan anggap gue nggak serius juga.”
Satoru terkekeh, omongan sahabatnya itu terdengar lucu. “Bukannya di antara kita, emang lo yang selalu lebih serius?”
“Termasuk kalau gue bilang sayang?”
Suguru menarik diri pelan, namun tidak begitu jauh hingga kedua sisi wajahnya dengan mudah direngkuh pria itu.
“Termasuk kalau gue… ngelakuin ini?”
Ini yang dimaksud yaitu saat tanpa aba-aba— namun penuh perhitungan sehingga bisa saja Satoru mendorong pria itu jika mau— Suguru menjatuhkan kecupan tepat di ujung bibirnya. Hanya sebentar— tak berlangsung lebih dari tiga detik. Tetapi, dampaknya sungguh luar biasa bagi jantungnya yang seolah baru saja berlari ratusan kilometer.
Suguru lantas menatap penuh sabar, seolah menunggu reaksinya. Atau ledakannya.
“Kalau habis begini kita masih sahabatan,” Suguru bergumam pelan, sedikit memperlihatkan semburat yang entah akibat demam atau rasa malu, “gue bakal diketawain Shoko habis-habisan.”
“Kalau gitu,” Satoru mengangkat tangan dan mencengkeram pergelangan Suguru yang masih belum melepaskan rengkuhan di wajahnya, “harusnya lo cium gue yang bener.”
Netra yang tadinya terlihat sayu, melebar untuk sesaat sebelum berganti menjadi ingin yang amat jelas. Satoru tak bohong— perubahan raut wajah pria di hadapannya itu membuat darahnya berdesir.
Jempol Suguru bergeser dan mengusap bawah bibirnya dengan pandang penuh lekat. “Nanti kamu ketularan…”
Dan kalau dipikir Satoru akan membiarkan, terlebih setelah panggilan pria itu berubah terhadapnya, maka Suguru salah besar. Ia ganti menarik kerah kaus Suguru sedikit paksa, membuat jarak mereka kembali terkikis.
Sebelum kali ini bibir mereka benar-benar bersentuhan, Satoru berbisik pelan, “Nggak apa-apa, nanti aku bisa izin sakit lagi.”
Suguru tersenyum di atas ciuman mereka.
Meskipun sedang sakit, pria yang selama ini memiliki label sahabat itu, tidak gagal menghanyutkannya dalam lumatan lembut. Bibir pria itu mulanya terasa sedikit kering, jelas dampak dari sakit yang tengah didera. Namun, hal itu justru membuat Satoru semakin berkeinginan untuk memperdalam ciuman mereka. Suguru menyambut antusias dan ganti menyelipkan tangan di balik surainya untuk menarik lebih dekat. Panas yang bercampur akibat suhu tubuh pria itu dengan gerak frantik mereka membuat Satoru melepaskan desah kecil. Suguru menggigit bibir bagian bawahnya sebelum melepas ciuman mereka diiringi deru napas yang saling bertemu.
“Damn…” Pria itu mengumpat pelan. Satoru ingin mengatakan hal yang sama, tetapi bibirnya yang terasa bengkak hanya terbuka kecil tanpa sanggup bersuara.
Entah apa yang dilihat Suguru dari ekspresinya hingga membuat pria itu mengerang dan menjatuhkan kening di atas bahunya. Mereka mengatur napas sementara Satoru berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukanlah mimpi, ataupun efek khayal dari mabuk.
“Maaf, ya…” Tiba-tiba, Suguru bergumam pelan di atas kulitnya. “Malem itu… aku terlalu shock buat ngomong sesuatu. Aku takut… kamu bakal tiba-tiba bilang itu bercanda lagi. Aku takut harapanku yang tadinya udah tinggi, jadi jatuh lagi. Aku takut kamu bakal pergi lebih jauh lagi. Aku takut… kamu nggak bakal balik lagi, kayak di mimpiku tadi.”
“Terus, kenapa malah kamu yang tiba-tiba ngejauh?” tanyanya, tanpa bisa menahan diri.
Suguru mengangkat wajah, jarak mereka begitu dekat hingga rasanya ia sanggup menghitung setiap bulu mata yang menaungi netra kelam itu. “Aku ini orangnya penakut, Ru. Dibanding kamu, aku nggak ada apa-apanya. Aku perlu mikirin banyak hal. Tapi Shoko bilang, aku bego kalau masih ngerasa ragu. Dia bahkan nyumpahin aku biar nyesel seumur hidup. Aku disuruh bayangin, gimana seandainya keburu ada orang lain yang ngerebut kamu…”
“Itu yang aku rasain pas liat kamu bareng cewek itu,” Satoru mengakui cepat, tidak bisa tidak menyelipkan nada sedih di baliknya. “Bayangin apa yang aku rasain pas liat cewek itu nyium pipi kamu!”
Suguru mengangguk, ekspresinya terlihat muram. “Maafin aku… harusnya dari awal aku nolak tegas dia. Mungkin aku masih kebawa emosi gara-gara omongan terakhir kita sebelum kamu ngehindar waktu itu.”
“Itu, kan, salah kamu juga yang nganggep aku cuma bercanda!” Kendati amarahnya sudah berkurang jika mengingat kejadian itu, Satoru tetap menjatuhkan pukulan ringan di dada Suguru sebagai gestur kekesalannya. Pria itu lantas mengaduh pelan, kemudian mengusap-usap bagian yang dipukulnya.
“Kamu, kok, tega sih sama orang yang lagi sakit…”
“Biarin! Ayo, minta maaf sekali lagi!”
Suguru menghela napas, lantas menariknya lebih dekat. Seperti tadi.
“Maaf, ya…” ucap pria itu lembut seraya mencium pipinya. “Maafin aku udah bikin kamu kesel…” Lalu, satu ciuman lagi di keningnya. “Maafin aku karena udah ngira kamu bercanda…” Bibir pria itu turun perlahan dan mencium rahangnya. “Maaf karena aku nggak peka dan malah deket-deket sama cewek lain…” Kemudian, turun lagi hingga menyentuh ceruk lehernya. “Maaf karena aku butuh waktu lama buat mikir dan tau-tau malah keburu sakit…” Pria itu menyelipkan tawa kecil.
Terakhir, bibir pria itu naik kembali dan berhenti di atas bilah miliknya yang sedikit terbuka. Satoru sempat memejamkan mata manakala pria itu berbisik di sana.
“Maaf kalau persahabatan kita harus selesai di sini…”
Satoru membuka netranya dan meneguk saliva dengan gugup.
”…dan digantiin sama hubungan lain.”
Suguru tersenyum, mendadak terlihat jauh lebih segar dibanding saat kedatangannya di awal. Satoru bahkan nyaris yakin pria itu hanya berpura-pura sakit untuk memancing kedatangannya.
Namun, asumsi konyol itu segera lenyap begitu terlontar pertanyaan selanjutnya.
“Ru, mau nunjukkin ke orang-orang kalau kita bukan sahabat lagi sekarang?”
@fakeloveros