Suatu hari, Shoko pernah bertanya padanya seperti ini—

“Satoru, tuh, hidupnya pernah ngerasa sedih nggak, sih?”

Mereka waktu itu sama-sama sedang pusing dilanda tugas yang kian menumpuk. Maklum, namanya juga semester tiga. Jadi, Suguru pikir Shoko bertanya karena sedang mumet saja. Bukan karena hal lain yang lebih spesifik.

“Kenapa emang?” Bukannya menjawab, ia malah balik bertanya.

Wanita yang siang hari itu menjadi kawan bicaranya, mengembuskan asap rokok ke udara lalu mengangkat bahu. “Habis, orangnya suka bercanda. Apa-apa dibawa lucu sama dia. Ngeri aja tuh orang punya kelainan.”

Suguru terkekeh, ikut mengembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi ke udara. Kebetulan karena ada beberapa anak semester satu yang lewat dan menyapa mereka dengan sopan. Shoko hanya mengangguk, sementara dirinya melambai ringan. Setelah beberapa menit berlalu, ucapan Shoko terngiang kembali di otaknya.

“Terakhir gue cek, sih, dia nggak punya kelainan,” Suguru membalas serius, “emang suka bercandain banyak hal aja orangnya.”

“Aneh,” balas sang wanita dengan ekspresi datar. “Lo tahan temenan sama orang kayak gitu? Maksud gue, gimana kalau misalnya lo lagi marah, tapi malah dibawa bercanda sama dia? Emang nggak bakal sakit hati?”

“Udah biasa,” jawabnya singkat, lebih seperti tanggapan otomatis manakala ada yang menyinggung soal tabiat aneh teman sejak kecilnya tersebut. Ia pun tidak bisa membela banyak karena memang seperti itulah Satoru Gojo di matanya— orang yang suka bercanda hingga sulit dibedakan antara omongan serius atau bukan. Jadi, tidak heran ketika lambat laun hal itu pun berpengaruh padanya.

Dua puluh tahun lebih mereka berteman dan Suguru sudah amat terlatih dalam menganggap segala omongan Satoru sebagai candaan.

“Terus sebenernya lo pacaran nggak, sih, sama dia?”

Tahu-tahu Shoko bertanya lagi, kali ini dengan senyum tipis bermain di wajah wanita itu. Terlihat sedikit jahil, seolah sebenarnya sudah tahu jawaban yang akan diutarakannya.

“Lo tau sendiri jawabannya,” tukas Suguru, terlalu lelah untuk berelaborasi lebih jauh. Kendati begitu, jawabannya yang tanpa antusiasme itu dianggap lucu sehingga wanita di sebelahnya tertawa keras.

“Junior kita tuh pada ngira kalian pacaran, tau. Makanya beberapa orang suka pada nanyain ke gue. Yaah, gue sih mastiin lagi aja, siapa tau status kalian udah berubah sekarang.”

Suguru mendengus. Tidak heran banyak yang bertanya-tanya dan ia pun sudah terbiasa mendengar asumsi semacam itu. Justru yang membuatnya belum terbiasa adalah tanggapan Satoru ketika ia menyampaikan asumsi orang-orang.

“Nggak apa-apa, dong, kita dikira pacaran~ Kan kita emang keliatan cocok!”

Suguru tidak paham, dirinya kah yang terlalu sensitif hingga tidak bisa ikut tertawa, atau kekecewaannya terlalu besar hingga melupakan fakta bahwa sahabatnya itu memang orang yang suka bercanda?

Yang jelas semenjak itu, Suguru tidak pernah ambil pusing lagi terhadap tanggapan orang-orang soal hubungan dekat mereka yang terkesan ‘lebih’ dari sekadar sahabat. Walau sampai sekarang harapan untuk melewati batas itu masih membumbung tinggi di dadanya, ia tahu tak ada yang bisa dilakukan selagi Satoru menganggap semuanya sebagai sekadar candaan.

Biarlah hanya dirinya yang menganggap serius perasaan ini.

“Kayaknya mau sampai kapan pun, semuanya bakal dianggap candaan sama dia,” Suguru berujar setelahnya, sembari mematikan puntung rokok. Tangannya merogoh kantung celana dan mengeluarkan ponsel untuk mengecek jam yang tertera di layar. Dia masih punya waktu sepuluh menit untuk memperpanjang obrolan.

“Masa, sih, dia nggak pernah ngomong serius sekali aja?” tanya Shoko dengan nada tak percaya.

“Mungkin pernah, cuma jadinya gue nggak bisa bedain,” Suguru menjawab jujur. Ia menimbang-nimbang sesaat sebelum melanjutkan, “Pernah dia... ngomong suka ke gue pas awal-awal kuliah.”

Wanita bersurai cokelat itu mendadak terbatuk heboh. Suguru menunggu dengan sabar sampai batuk itu mereda. Shoko menarik bahunya hingga mereka berhadapan hingga mata terbelalak lebar milik wanita itulah yang menyambutnya.

“Dia... pernah ngomong suka sama lo? Terus... lo jawab apa?”

Suguru menyeringai lebar, pertanyaan itu membawanya kembali ke kenangan masa lalu yang sejujurnya sangat ia benci. Kendati bibirnya menyiratkan senyuman, tak ada humor yang bermain di matanya— dan iya yakin temannya bisa melihat hal tersebut dengan jelas.

“Jangan bilang... itu cuma bercanda?!” seru Shoko, terkesiap kaget.

“Kalau serius, gue sama dia pasti udah pacaran sekarang.”

Shoko masih belum mengatupkan bibir dan pemandangan itu sesungguhnya amatlah lucu kalau bukan karena topik mengenaskan yang sedang mereka bahas sekarang.

“Dia tau lo suka sama dia?” bisik wanita itu, kali ini dengan raut wajah yang menunjukkan rasa simpati.

“Kalaupun gue ngomong, apa itu bakal dianggap serius sama dia?”

“Gila kalian,” tukas Shoko cepat seraya menggelengkan kepala dan kembali menghadap ke depan. “Kalau ternyata selama ini kalian sama-sama suka, gue bakal jadi orang pertama yang ngetawain kalian. Liat aja nanti.”

Suguru membetulkan posisi tas selempangnya. Tinggal lima menit lagi sebelum Satoru keluar kelas.

“Kalau gitu gue harap, lo bakal ngetawain gue sama Satoru suatu hari nanti.”


Suguru memperhatikan dari jarak aman saat pintu kelas Satoru terbuka dan beberapa mahasiswa langsung menghambur keluar. Ia menunggu dengan sabar munculnya pria jangkung bersurai nyentrik yang mampu ia deteksi, bahkan dari kejauhan. Jangankan melihat, Suguru bahkan bisa mengenali suara lantang Satoru dari jarak yang amat jauh sekalipun— seperti sekarang.

Suguru mendengar sebelum melihatnya.

Pria itu dikelilingi oleh banyak orang. Mereka saling tertawa seolah sedang terlibat obrolan yang amat lucu. Satoru tertawa terbahak-bahak sembari merangkul salah satu orang yang tak ia ketahui identitasnya. Tapi, itu pemandangan yang sudah biasa. Maka siapalah dia untuk melarang, kendati tangannya yang terkepal di dalam kantung cukup untuk mengindikasikan kecemburuannya.

Satoru lantas menghadap ke depan hingga mereka tak sengaja bertemu pandang. Pria itu langsung tersenyum lebar, mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya sebelum menghampirinya dengan langkah ringan.

“Hai.”

“Hai.” Suguru membalas singkat sebelum mengedikkan bahu ke arah pintu keluar. Mereka pun berjalan beriringan menyusuri koridor. Ada aroma menyenangkan dari tanah dan rerumputan yang masih basah akibat hujan tadi pagi. Langkah mereka sempat beberapa kali terhenti karena cukup banyak yang menyapa, terutama Satoru. Dan pria itu seperti biasa membalas ceria seolah hari ini pun tidak memiliki beban sama sekali.

“Eh, mau drive thru McD dulu nggak sebelum ke rumah lo?” tanya Satoru begitu mereka telah tiba di tempat parkir. Beberapa hari sebelumnya, Satoru memang mengusulkan agar mereka mengerjakan revisi skripsi di rumahnya.

(Ganti suasana aja, lagi bosen ngerjain di perpus atau kafe!)

Dan seperti yang sudah-sudah, kali itu pun Suguru langsung mengiyakan tanpa banyak protes. Mendadak, ledekan Shoko tempo lalu terlintas di benaknya— lo tuh udah kayak anjing peliharaannya Satoru tau, nggak? Ke mana-mana ngintilin... apa-apa langsung diiyain... atau emang gitu ya, yang namanya bucin?

Bisa jadi... jawab Suguru waktu itu dalam hati, sedangkan bibirnya hanya mengulas senyum tipis.

“Kenapa lo senyum-senyum sendiri?” todong Satoru dengan mata menyipit curiga kala mereka sudah tiba di depan mobilnya. Ia bahkan tidak sadar sudah melamun.

“Nggak apa-apa. Eh, btw—”

“P-permisi, Kak...”

Kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Tiba-tiba ada seorang perempuan berambut panjang yang tengah memeluk buku di depan dada dengan erat dan menatap mereka berdua bergantian takut-takut. Satoru mengangkat sebelah alis, sedangkan dirinya buru-buru bertanya, “Iya, ada apa?”

“Boleh... minta waktu kakak sebentar...?”

“Maksudnya saya?” Suguru menunjuk dirinya, “atau dia?” lalu ikut menunjuk Satoru yang kini berdiri sambil menyilangkan kedua tangan. Tampang temannya mendadak terlihat tak bersahabat.

“Sama... kakak,” jawab perempuan itu sambil menunjuk dirinya malu-malu. Suguru membentuk O kecil dengan mulutnya, lalu melirik ke arah Satoru yang hanya mengedikkan bahu.

“Gue tunggu dalem mobil, ya.”

Tapi, belum dirinya mengatakan apa pun, Satoru telah bergerak lebih dulu untuk membuka pintu mobil. Mulutnya membuka untuk menahan, tapi sesuatu dari ekspresi Satoru membuatnya mengurungkan diri. Ia pun menghela napas dan ganti mengalihkan atensi kepada sosok perempuan yang masih menunggu jawabannya.

“Jadi, mau ngomongin apa?”


“Mau ngerjain di ruang tamu atau kamar gue aja?”

Satoru menghempaskan tubuhnya di atas kasur, menghiraukan pertanyaan Suguru sepenuhnya. Masih terbayang pemandangan tadi di tempat parkir sebelum mereka pulang. Padahal Satoru tahu itu bukan pertama kalinya dan ia pun paham penyebabnya.

“Satoru?”

Begitu namanya disebut, Satoru mengusap wajahnya kasar dan setengah bangkit sambil menopang tubuhnya dengan kedua siku. Ia memperhatikan raut kebingungan temannya. Bahkan dengan ekspresi seperti itu pun, Suguru masih terlihat tampan.

Suguru memang selalu terlihat tampan.

Entah sejak kapan Satoru menyadarinya— perubahan fisik Suguru serta perasaannya yang tak lagi bisa dikatakan tulus sebagai teman. Atau dalam artian, ia mulai menginginkan lebih. Mungkin sejak mereka naik ke SMA dan penampilan dewasa Suguru mulai memikatnya. Hilang sudah jejak kekanakkan seperti pipi tembam dan lengan yang terlihat ringkih, apalagi sejak pria itu rutin berolahraga. Sungguh luar biasa bagaimana ia sanggup menahan, bahkan ketika kini sudah sama-sama duduk di bangku kuliah semester akhir. Suguru telah tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang mampu mengalihkan perhatian siapa pun saat mereka lewat. Dada bidang, senyum menawan, serta rambut panjang sewarna langit malam itu kerap kali membuat Satoru lupa akan posisinya. Pernah, tanpa sadar, ia mengutarakan rasa sukanya begitu melihat Suguru sengaja datang menjemputnya di kampus, padahal pria itu tidak ada kelas sama sekali. Namun, keterdiaman Suguru waktu itu langsung membuatnya panik. Refleks ia pun berseru bahwa itu hanya candaan— bahwa itu hanya perasaan tulusnya sebagai teman. Mungkin ia juga yang bodoh karena kejadian fatal tersebut malah dijadikannya sebagai suatu kebiasaan baru;

di saat rasa sukanya sedang tak terbendung, ia akan mengatakan suka. Begitu saja. Tanpa berpikir dua kali.

Seperti yang akan dilakukannya sekarang.

“Suguru,” panggilnya sembari bangkit perlahan untuk duduk. Yang dipanggil namanya masih menatap bingung, kendati ada kilat ingin tahu di balik obsidian sang empunya.

“Apa?” Suguru menyahut tanpa rasa curiga.

“Gue suka sama lo.”

Satoru yakin, bahka jika ada jarum yang jatuh di atas lantai kamar itu, mereka bisa mendengarnya dengan amat jelas karena keheningan yang begitu memekikkan. Ada kilat yang tak bisa ia artikan dari balik iris gelap sang sahabat sebelum menghilang dan digantikan dengan tatapan kosong.

“Gue—”

“Satoru,” sang lawan bicara memotong dengan nada lelah, “lo nggak capek bercanda kayak gitu terus?”

Bibirnya dikatupkan kembali. Walau sudah menduga reaksi Suguru, ia tak menyangka ungkapannya masih saja dianggap sebagai sekadar candaan.

“Gue ngerti lo emang orangnya suka bercanda, even lagi di saat-saat serius. Dan gue bukannya mau bilang itu hal yang buruk. Tapi, Satoru, lo harusnya tau kalau candaan itu juga ada batasnya. Apa yang bagi lo lucu, bukan berarti dianggap sama di mata atau telinga orang lain.”

Seolah memang ada jarum yang terbengkalai di kamar itu, Suguru pasti telah mengambil dan menusuknya tanpa sadar dengan rentetan kalimat barusan. Mereka berpandangan cukup lama sampai Suguru yang pertama kali memalingkan muka.

“Udahlah. Mending kita langsung—”

“Gimana kalau gue nggak bercanda?”

Suguru berhenti melangkah.

“Gimana kalau kata-kata yang selama ini gue bilang ke lo itu bukan bercanda? Gimana kalau gue serius?”

Kening pria di hadapannya mengernyit dalam. Mereka sudah berteman hampir dua puluh tahun, tetapi Satoru masih belum bisa mengartikan tatapan milik pria itu. Walau terkadang ia sering menangkap basah Suguru yang menatapnya lama— Satoru tetap tak paham. Pun tak berani menyimpulkan dan membuat asumsi macam-macam.

Tapi, dirinya tak berbohong manakala membuat hipotesis bahwa ada satu titik di mana perasaannya bersambut. Dan ia memiliki banyak faktor yang bisa diutarakan seandainya ada yang bertanya. Namun, di keheningan ini, Satoru tidak memprediksi lecutan yang datang selanjutnya.

“Bukannya lo pernah bilang? Lo suka sama gue cuma sebagai temen? Bukannya itu yang lo anggap serius, Satoru?”

Lecutan kedua adalah tatapan kecewa yang dilayangkan Suguru.

“Gue nggak ngerti kenapa lo suka ngomong kayak begitu. Orang-orang bisa salah paham. Baru tadi siang Shoko ngomong ke gue banyak yang ngira kita pacaran. Kalau emang yang kayak begitu di mata lo ternyata lucu, berarti selera humor kita beda dan gue akan sangat berterima kasih kalau lo mau berhenti bercanda kayak gitu.”

Satoru memejamkan matanya sejenak, berusaha mengusir sesak di dadanya yang mulai merenggut napas. Ia tidak mengerti bagaimana katastrofe ini bermula, tapi yang jelas, dirinya tahu telah membuat kesalahan.

Ia juga tahu bahwa, mungkin, hipotesisnya selama ini hanyalah angan-angan.

Dan begitulah bagaimana waktu berlalu di antara mereka sampai Satoru menjadi yang pertama bergerak. Ia mengangguk singkat dan berusaha tersenyum. Tangannya yang terasa sedikit kaku meraih tas dari atas lantai.

“Oke. Gue nggak akan ngomong kayak gitu lagi. Sori kalau gue udah buat ini jadi... aneh. Gue nggak bermaksud kayak gitu.”

Satoru tidak menggubris makanan yang telah mereka beli di atas meja. Ia tidak memedulikan Suguru yang tetap diam di tempat tanpa meliriknya sedikit pun. Ia pun berusaha melenyapkan harapan bahwa Suguru akan menahannya sambil berkata, Tunggu, jangan pergi dulu. Ayo omongin ini baik-baik.

Karena yang masuk ke benaknya saat ini hanyalah suara pintu yang tertutup di belakangnya, tanpa tahu apakah akan terbuka kembali untuknya nanti.


“Kok gue liat akhir-akhir ini lo jarang bareng Satoru, sih? Biasanya dia ngintilin lo terus. Ke mana tuh orang?”

Lantang pertanyaan Shoko membuat Suguru tersadar dari lamunan. Wanita itu mengangkat sebelah alis, menanti jawaban yang perlu ia pikirkan sejenak.

Karena Suguru sendiri tak tahu Satoru menghilang ke mana.

“Lagi banyak tugas kali,” jawabnya singkat, sembari mengangkat bahu— berusaha terlihat tak peduli, meski lingkar gelap di bawah matanya jelas menunjukkan hal sebaliknya.

Netra wanita di hadapannya memicing curiga. Namun, tak ada pertanyaan lain yang terlontar setelahnya. Suguru pun kembali memainkan sedotan di gelasnya dengan pandangan menerawang.

“Beberapa hari lalu, gue liat lo lagi jalan ke parkiran sama cewek.”

Kepalanya menengadah, ganti dirinya yang menunggu karena nada Shoko terdengar seperti belum usai. Kendati begitu, tak perlu menjadi jenius untuk menebak arah pembicaraan tersebut.

“Dia mantan adek kelas gue dulu pas SMA, baru masuk sini semester lalu,” jelasnya tanpa perlu ditanya.

“Terus? Lo lagi deket sama dia?” kejar Shoko, kali ini terlihat sedikit tak sabar.

Suguru mengangguk, netranya memperhatikan lelehan es batu yang mengembun di luar gelas— membasahi tangannya yang mencengkeram erat.

“Lo gila, ya?”

Saat tuduhan itu akhirnya terdengar, barulah Suguru berdecak pelan— defensif. “Lo harusnya bukan bilang gitu ke gue.”

“Terus ke siapa? Ke Satoru yang, biar gue tebak, lagi ngejauhin lo sekarang? Pasti ada apa-apa, kan, di antara kalian? Nggak mungkin lo berdua tiba-tiba saling ngejauh kayak gini kalau bukan tanpa sebab.”

“Menurut lo,” potongnya tanpa memedulikan tatapan tajam wanita di hadapannya, “sejauh apa orang bisa dianggap bercanda? Kalau misalnya ada temen deket lo nekenin bahwa dia suka sama lo, apa lo bakal percaya gitu aja? Apa lo bakal berharap?”

Shoko menghela napas. Jari lentik wanita itu mengetuk-ngetuk meja, berusaha menarik perhatiannya. Begitu pandangan mereka bertemu, Shoko tiba-tiba menyentil keningnya kencang.

“Aduh! Apaan, sih, lo?” keluhnya, sembari mengusap-usap bagian tengah keningnya yang sebenarnya tidak begitu sakit.

“Sori. Nggak nyangka aja ternyata lo segoblok ini,” tukas wanita itu ringan seraya menyeringai lebar. “Gue sebenernya punya tebakan dan pengen jelasin ke lo, tapi... mager, ah. Biarin aja lo kesiksa sendiri.”

“Ngomong apa, sih, lo...” ujarnya malas sembari meraih ponselnya yang tiba-tiba menyala karena notifikasi masuk. Nama seorang gadis tertera di layarnya. “Eh, gue duluan, ya.”

“Suguru,” panggil wanita itu tiba-tiba dengan nada yang lebih serius, “kalau gue boleh kasih saran, mending coba lo deketin Satoru dan omongin baik-baik. Dan buat sekali itu, jangan anggap dia bercanda. Siapa yang tau kalau ternyata dia serius, kan?”

“Gue juga mau ngomong sama dia,” balas Suguru cepat sambil berdiri dan meluruskan jaketnya, “tapi, dia yang nggak mau ngomong sama gue. Dia yang ngehindarin gue.”

“Itu berarti, lo yang harus ngejar dia duluan. Masa gitu aja nggak kepikiran?”

Dan pemandangan terakhir yang ditangkapnya adalah ekspresi menyudutkan Shoko, serta bayangan wajah muram sahabatnya minggu lalu.


Satoru ingin sekali berbicara dengan Suguru.

Tapi, nyalinya ternyata belum sebesar itu. Beberapa hari belakangan dirinya bahkan dengan sengaja mengabaikan pesan dan panggilan masuk dari sahabatnya tersebut. Tak jarang, dia juga akan langsung berbalik begitu melihat punggung Suguru dari kejauhan. Dan sudah beberapa kali pula Satoru melihat pria itu jalan beriringan di lingkungan kampus bersama gadis yang tempo lalu menghampiri mereka di tempat parkir. Otomatis, segala asumsi buruk singgah di kepalanya.

Sejak kapan dua orang itu jadi sangat dekat? Apa Suguru menyukai gadis itu? Apa ini berarti sudah tak ada harapan lagi baginya? Apa omongannya yang dulu-dulu benar-benar dianggap sebagai candaan?

“Sialan,” gumamnya pelan seraya mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Satoru mengacak rambutnya, terlalu lama duduk sendirian di dalam kafe sepertinya tidak sehat untuk pikirannya yang semakin semrawut. Tangannya gatal ingin memukul sesuatu. Ia merindukan Suguru— senyum menenangkan pria itu, tawa rendah yang membuat mata pria itu melengkung manis, hingga ke surai legam yang selalu terasa lembut di bawah sentuhan jarinya.

Mungkin, tak apa dianggap sahabat selamanya asalkan dia masih bisa bersama Suguru.

Anggapan konyol itu membuatnya menelan ludah. Netranya menelusuri jalanan di dekat taman kampus yang terlihat dari balik jendela. Ia menyukai spot ini karena dari sudut pandangnya, siapa pun yang baru keluar dari perpustaan besar kampus mereka bisa terlihat dan—

ia tak sengaja melihat Suguru.

Pria jangkung itu berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung jaket, terlihat tengah mendengarkan serius celotehan gadis yang berjalan di sampingnya. Satoru merasakan dadanya berdetak kencang melihat pemandangan tersebut, antara benci serta rindu yang bergabung jadi satu. Tangannya terkepal di atas pangkuan melihat atensi Suguru seolah tak terbagi, persis seperti bagaimana biasanya pria itu mendengarkan dirinya kala berbicara.

Satoru benci melihatnya.

Satoru benci melihat perlakuan istimewa Suguru ternyata tidak tertuju hanya untuk dirinya.

Meski begitu, matanya terus mengikuti dua orang yang kini berhenti di dekat taman. Suguru mengangguk-angguk, masih mendengarkan dengan serius omongan gadis itu. Satoru penasaran apa yang kedua orang itu obrolkan, walau di sisi lain ia jauh lebih ingin mendengarkan suara Suguru.

Pikirannya langsung terputus begitu pemandangannya berubah menjadi sesuatu yang tak terduga.

Gadis itu tiba-tiba berjinjit sambil meraih lengan Suguru. Pria itu terlihat terkejut saat otomatis menunduk dan menerima kecupan di pipi. Gadis itu kemudian melepas Suguru, mengucapkan sesuatu, dan dengan langkah cepat segera berlalu dari sana. Jantungnya memompa kian cepat seiring keterkejutan Suguru yang nampaknya masih menguasai sehingga pria itu hanya berdiri di sana seraya memegang pipi.

Setelah beberapa menit berlalu, barulah Suguru beranjak pergi— tanpa mengetahui ada sepasang mata yang menatap punggungnya nanar.

Kalau memang ini garis yang ditarik Suguru di antara hubungan mereka, tak ada pilihan lain bagi Satoru selain mengikhlaskan.


@fakeloveros