sua

“Uno!”

Oikawa mengerang dan melemparkan sisa kartunya ke atas lantai sementara pria yang meneriakkan kata barusan terlihat sangat puas. Ini sudah permainan ketiga mereka dan terhitung tiga kali pula semenjak kekalahan Oikawa.

“Kamu curang, ya?” tuduhnya kesal sebelum menenggak soda yang tinggal setengah dari kalengnya. “Masa dari tadi aku kalah terus, sih?!”

“Sayang,” tutur pria itu ringan sembari membereskan kartu yang berserakan— bahkan panggilan penuh afeksi tersebut tidak berhasil menghilangkan kerutan di kening Oikawa, “bukan aku yang curang, tapi kamunya aja yang payah.”

“Main yang lain aja deh, kalau gitu!”

Iwaizumi mengedikkan bahu, seakan usulan itu tidak akan membawa pengaruh yang berbeda.

“Fine,” balas pria itu singkat. “Mau main apa?”

“Monopoli!” Tanpa menunggu persetujuan dari sang kekasih, Oikawa lantas berdiri dan berjalan menuju lemari yang terletak di bawah TV apartemen mereka. Ia membukanya dan mengeluarkan satu set permainan yang sudah tersimpan lama di sana. “Udah lama, kan, kita nggak main Monopoli?” tanyanya licik, tahu betul bahwa kesempatannya untuk menang kali ini benar-benar akan datang.

Sejak mereka kecil, Iwaizumi payah dalam bermain Monopoli.

Oikawa membawa papan permainan itu ke lantai yang beralaskan karpet tempat mereka bersantai sejak sore. Dari tirai jendela yang sengaja disingkap, lampu-lampu kota mulai menyala demi meramaikan malam Minggu. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka berdua sepakat untuk menghabiskan weekend di rumah. Memang Oikawa-lah yang mengusulkan pertama kali, tetapi untungnya, Iwaizumi tidak menolak, bahkan menyambut usulan tersebut dengan sukacita.

Mood-nya yang sempat turun akibat kalah tiga kali dalam permainan pertama mereka, terangkat kembali begitu melihat ekspresi masam kekasihnya.

“Kalau ini sih, kamu yang curang namanya,” celetuk Iwaizumi manakala Oikawa dengan penuh semangat mulai menyusun kartu dan uang-uang palsu di atas papan kertas.

“Mulai aja belum, kok, kamu udah nuduh aku curang?!”

“Kalau ini, kan, udah pasti aku bakal kalah...”

“Kalau gitu,” Oikawa menghentikan kesibukannya dan menegakkan diri— senyum lebar terpatri di bibirnya, “gimana kalau yang sekarang kita pake taruhan?”

Netra hijau di hadapannya mengerling tertarik mendengar kata ‘taruhan’. Mau sekompetitif apa pun Oikawa, orang-orang sesungguhnya tak mengetahui bahwa Iwaizumi bisa menjadi lebih ambisius dibanding dirinya.

“Boleh. Yang menang bakal dapet apa?”

Oikawa menggumam panjang seraya menggulirkan tatapannya ke sekeliling apartemen.

“Apa, ya... gimana kalau... dapet cium?”

“Cuma cium?”

Oikawa mengerucutkan bibirnya, tahu persis pembicaraan itu akan mengarah ke mana.

“Maunya lebih?”

“Iya, dong,” balas Iwaizumi ringan, kini mulai ikut membantunya mengatur papan permainan. “Ini aja, deh. Yang menang boleh minta apa aja ke yang kalah.”

“Terus yang kalah harus nurut?”

Iwaizumi mengangguk, kemudian dengan gerakan hiperbolis mulai menggulung lengan baju lalu mencondongkan tubuh.

“Siap-siap kalah, ya, kamu.”

Oikawa hanya memutar kedua bola matanya. Bahkan sebelum permainan dimulai pun ia sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenang.


Sesuai dugaannya, Iwaizumi kalah telak.

Pria itu melempar satu lembar terakhir uang palsu ke atas papan dan menutup wajah dengan kedua tangan sementara Oikawa tertawa terbahak-bahak.

“Makanya jangan sombong!” serunya lantang seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Nah, sesuai perjanjian di awal, kamu harus nurutin apa perintah aku.”

Terdengar hela napas putus asa dari sang kekasih. Iwaizumi mengangkat wajah dan menatapnya dengan bibir tertekuk ke bawah.

“Jangan minta yang aneh-aneh, loh. Awas.”

Oikawa membuat ekspresi berpikir, berpura-pura tidak mendengar peringatan itu sama sekali.

“Aku penasaran sama sesuatu.”

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi— mungkin tidak menyangka dengan nada serius yang tiba-tiba digunakan Oikawa.

“Mungkin kamu nggak inget, soalnya dulu kamu ngakuin hal ini ke aku pas lagi mabuk. Cuma waktu itu... kamu ngaku pernah mau ngirim surat ke aku pas kita masih LDR... dan kita kebetulan lagi berantem.”

Sekujur tubuh Iwaizumi otomatis membeku. Raut wajah pria itu pun sama. Oikawa nyaris tertawa karena tidak mengira satu pernyataan itu mampu menimbulkan efek yang tak biasa.

“Aku mau liat suratnya, boleh?”

“Nggak boleh.”

Tawanya menggelegar lagi. Jawaban itu datang terlalu cepat diiringi wajah merona sang kekasih hingga membuatnya terpingkal-pingkal di atas lantai. Oikawa menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut dan berusaha berbicara di sela-sela tawanya.

“Awww, kamu malu, ya?”

“Pokoknya nggak boleh,” imbuh pria itu tegas.

Oikawa beringsut maju, menendang papan Monopoli yang menghalangi lalu duduk di atas pangkuan Iwaizumi. Kendati wajah dan leher pria itu masih bersemburat merah, lengan berotot yang melingkari pinggangnya menyambut otomatis.

Telunjuknya menusuk-nusuk pipi pria itu hingga sang empunya memalingkan muka. Oikawa tersenyum dan mengeratkan rangkulannya di leher sang kekasih.

“Kalau kamu mau ngasih liat surat itu... malem ini bebas kamu mau ngelakuin apa aja ke aku,” bisiknya seduktif seraya mulai menciumi leher kekasihnya perlahan. Aroma musk yang maskulin masuk ke hidungnya dan Oikawa menghidu dalam-dalam tanpa menghentikan gerak bibirnya. Saat Iwaizumi mendesah dan mendongakkan kepala beberapa inci untuk memberinya akses, Oikawa tahu dirinya telah menang.

“Apa aja?” tanya pria itu dengan suara yang terdengar sedikit parau.

“Apa aja.”

“Oke.” Iwaizumi menggeram dan dengan kekuatan yang amat luar biasa, pria itu berdiri dengan dirinya yang masih berada di pangkuan. Oikawa memekik pelan dan otomatis mengeratkan pelukan. Tapi ia tahu, Iwaizumi tentu tidak akan membiarkannya terjatuh.

“Nanti bakal aku liatin suratnya ke kamu. Tapi sebelum itu...”

Tanpa menyelesaikan ucapan, pria bersurai hitam itu segera melesat menuju kamar mereka. Tawanya berderai mengisi seantero apartemen, merasakan kebahagiaan yang meluap di dadanya.


Oikawa terbangun di tengah malam.

Matanya mengerjap pelan sebagai upaya membiasakan diri dalam kegelapan. Tangannya turun dan tak sengaja menyentuh lengan yang berada di atas perutnya. Ia menoleh dan mendapati Iwaizumi tertidur pulas dengan kepala yang bersender di bahunya.

Jam berapa sekarang...? Oikawa menengok ke arah nakas dan mendapati jam digital menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Ia tidak ingat sejak kapan tertidur. Namun, tubuh telanjangnya yang berada di balik selimut, serta bokongnya yang sedikit sakit membawa memori atas malam sebelumnya.

Bagai sudah terprogram otomatis, tangannya meraih handphone dari atas meja untuk memeriksa beberapa notifikasi yang masuk. Matanya memicing dalam kegelapan dan langsung terbuka lebar begitu mendapati notifikasi email dari nama yang amat familier.

Rasa kantuknya sontak menghilang.

Oikawa membuka email masuk tersebut dengan jantung berdebar dan mulai membacanya.

Ia mulai membacanya.


@fakeloveros

Bunyi bel di atas pintu kafe menjadi penanda kehadirannya. Kepalanya mengangguk singkat sebagai bentuk balasan dari sapaan ramah pelayan yang berdiri di balik counter. Matanya bergulir mencari sosok bersurai cokelat dan langsung menemukan si empunya duduk membelakangi pintu dengan kepala sedikit tertunduk. Kakinya melangkah menghampiri dan berhenti tepat saat pria itu mendongak dari layar gawai yang tengah dicermati.

“Hei, udah nunggu lama?” tanyanya basa-basi selagi mengambil tempat di seberang. Oikawa menggeleng sambil melipat tangan di atas meja. Iwaizumi melirik sekilas dan mendapati kekasihnya itu tersenyum simpul.

Nyaris seperti dipaksakan.

“Belum, tapi aku udah mesen minuman duluan. Tadinya kamu mau aku pesenin juga, tapi takutnya kamu udah minum kopi hari ini.”

Iwaizumi meneguk ludahnya kasar. Bahkan di situasi canggung seperti ini, pria itu masih memedulikan kondisi kesehatannya.

“Makasih. Aku... emang udah minum kopi tadi pagi.”

Oikawa mengangguk. Pria itu lantas mengalihkan atensi ke arah lukisan di samping meja mereka seakan enggan untuk menatapnya.

“Kamu nggak laper?” tanyanya lagi, demi memecah keheningan tak nyaman tersebut. “Kalau mau sekalian pesen makan juga nggak apa-apa.”

Surai cokelat itu sedikit bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti gerakan pemiliknya. Oikawa memberi jawaban tanpa membuka mulut sama sekali. Dari sekian lama mereka saling mengenal, baru sekarang Iwaizumi melihat pria itu sebisu ini.

Tanpa bisa ditahan, Iwaizumi lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri.

“Aku—”

“Hajime.”

Alarm berbunyi di kepalanya. Nada itu terdengar tidak menyenangkan— tidak dengan nada ceria seperti yang biasa Oikawa Tooru lontarkan. Ada dorongan yang amat kuat untuk meraih Oikawa detik ini juga dan menghapus raut sedih yang terpatri di wajah mulus sang kekasih.

Kendati begitu, tubuhnya justru terduduk kaku dengan berbagai skenario terlintas di benaknya. Skenario terburuk adalah Oikawa akan memutuskan hubungan mereka detik itu juga tanpa ada kesempatan baginya untuk menjelaskan.

“Mungkin selama ini... aku yang udah nganggep terlalu serius hubungan kita. Mungkin bagi kamu... masih sulit buat nerima aku yang dulu selalu ngejar-ngejar kamu duluan. Mungkin aku yang udah terlalu maksa dan aku pun nggak akan nyalahin kalau kamu emang ngerasa kayak gitu. Cuma aku pikir... kalau kamu emang nggak ngerasain hal yang sama, harusnya kamu tolak aja aku dari awal. Daripada kamu terpaksa atau malu ngejalanin hubungan ini sama aku. Kalau kamu emang mau kita udahan, bilang aja. Aku pasti bakalan per—”

“Stop.”

Berhenti. Semua terasa ikut berhenti di sekitarnya. Musik yang mengalun pelan. Langkah kaki pelayan yang sibuk membersihkan meja bekas pengunjung. Jantungnya. Napasnya.

Oikawa-nya.

Netra sewarna batang pohon itu mengerjap cepat. Gerakan itu membuat lapisan bening di atasnya perlahan menghilang dan Iwaizumi harus menahan dirinya sendiri agar tidak memukul dinding di samping mereka. Napasnya keluar dalam ritme cepat dan ia harus memejamkan mata sesaat untuk membiarkan udara masuk kembali ke paru-parunya.

“Bukan. Kamu salah paham.”

Sejujurnya, ada hari di mana Iwaizumi selalu menunggu saat-saat di mana hubungan mereka akan berjalan ke arah yang salah. Ia merasakan takut yang amat sangat sehingga tanpa sadar memasang ekspektasi yang rumit. Ia takut kebahagiaan yang dirasakannya selama bersama Oikawa akan menghilang suatu hari nanti. Dan tanpa sadar, ketakutannya itu membungkus dirinya sendiri dalam gelembung besar yang menghalau siapa pun untuk melangkah mendekat.

Termasuk Oikawa.

“Kamu... pantes dapetin orang yang lebih baik dari aku.”

“Bullshit.”

Nada itu mengeras; tak lagi rapuh dengan keraguan dan kemungkinan-kemungkinan tak berdasar. Netra itu menatapnya tajam seakan siap menghalau segala pembelaan yang akan keluar dari mulutnya kapan saja.

“Kamu tau itu alasan paling klasik, Hajime. Kalau kamu emang mau mutusin aku, at least cari alasan yang lebih bagus.”

Kepalanya menggeleng berulang kali. Tidakkah Oikawa paham? Ia tidak seperti yang selama ini orang-orang pikirkan. Ia tidak pantas. Oikawa terlalu baik— terlalu sempurna untuk dirinya yang kerap kali meragukan segala hal.

“Aku ditawarin pindah kerja ke cabang luar negeri. Irvine, California.”

Bahkan dari sudut mata, ia bisa melihat Oikawa menarik napas terkejut.

“Apa?”

Iwaizumi meneguk ludahnya sekali lagi. Rasanya seperti berusaha mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuhnya selama ini— sakit, tetapi memang diharuskan.

“Aku belum ngasih jawaban. Atasanku bakalan nunggu sampai minggu depan.”

“Apa kamu bakal... nerima?”

Oikawa terdengar takut. Ada getar tak kasatmata yang mampu ia deteksi dengan jelas. Iwaizumi membayangkan mereka seperti tengah melangkah di atas selapis kaca yang amat rapuh. Tinggal menunggu seseorang untuk melangkah sebelum lapisan itu hancur berkeping-keping.

Setidaknya, Iwaizumi tidak akan membiarkan Oikawa terjatuh pertama kali.

“Kemungkinan besar... iya.”

Ada isak yang lolos terdengar dari seberang meja. Iwaizumi mengangkat wajah dengan terkejut. Namun, sebelum dirinya melihat pemandangan yang paling dibencinya itu, Oikawa sudah berdiri dan berlari keluar dengan bunyi bel menggema bagai penanda berakhirnya hubungan mereka.


@fakeloveros

Tidak ada orang yang tidak membenci hari Senin.

Setidaknya filosofi itu berlaku pula untuknya. Matanya terasa berat meski sebelum berangkat sudah menghabiskan secangkir kopi pekatnya. Perutnya masih terasa amat kosong karena baru ada sebuah apel yang masuk. Kalau seseorang mengetahui hal ini, dirinya pasti sudah diomeli habis-habisan.

Udah aku bilangin, sebelum berangkat tuh seenggaknya kamu harus sarapan, Hajime! Nanti kalau pingsan di jalan gimana??

Bayangan itu setidaknya mampu mengangkat sudut bibirnya sedikit meski beban di hatinya belum juga berkurang sejak semalam. Ia merasa bersalah karena lagi-lagi harus kabur seperti ini. Mungkin kalau tidak berhasil menjadi pekerja kantoran, dia akan banting setir menjadi atlet lari sekarang. Setidaknya dengan begitu, kemampuannya tidak akan terbuang percuma.

“Pagi-pagi muka udah ditekuk aja.”

Adalah sapaan yang diterimanya pertama kali dari pria jangkung dengan kemeja berwarna marun. Iwaizumi mengernyit melihat pilihan warna itu, tetapi tak mengatakan apa pun yang mampu menimbulkan konflik di pagi hari. Ia sudah tahu alasan Kuroo menghampirinya pagi ini, bahkan sebelum maksud itu disuarakan.

“Gue kemaren ketemu Oikawa.”

Iwaizumi berpura-pura membereskan beberapa barangnya yang berserakan di atas meja.

“Gue baru tau lo pacaran sama dia. Kenapa nggak bilang, bro?”

Sekarang, tangannya sibuk menyalakan mesin komputer sembari membuka-buka laci seolah sedang mencari sesuatu.

“Dan dia keliatannya kaget karena selama ini lo nggak ngasih tau orang-orang di kantor.”

“Emangnya perlu?”

Layar komputer akhirnya menyala— memperlihatkan kolom kosong yang harus diisi dengan sederet password. Tanggal ulang tahun Oikawa.

“Hah?” Kuroo bertanya, setitik ketidakpercayaan terdengar di baliknya. “Emangnya perlu? Ya, perlulah! Apalagi di sini bukan cuma gue yang kenal sama Oikawa.”

“Ushijima tau, kok.”

Iwaizumi menjawab seolah itu bisa menjadi penyelesaian. Kuroo terbelalak, lantas menarik kursi dari kubikel sebelah untuk berbicara dari jarak lebih dekat dengannya. Pria itu memasang wajah paling serius yang pernah dilihat Iwaizumi selama mereka bekerja tiga tahun belakangan.

“Wa, ini mungkin kedengerannya kayak hal simpel. Bagi lo dengan ngasih tau Ushijima doang, mungkin masalah bisa selesai. Tapi lo sadar, nggak, di mata Oikawa sikap lo sekarang keliatan kayak gimana?”

Diam seribu bahasa menjadi jawabannya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar kaca. Pertanyaan Kuroo menusuk batin, sekaligus rasa bersalah yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

“Nggak ada yang suka hubungannya sama partner sendiri dirahasiain kayak gitu, apalagi dari temen-temen pasangannya. Either lo nganggep hubungan itu secret affair atau lo malu sama—”

“Nggak pernah,” bibirnya membuka tanpa sadar dengan jari-jari terkepal di atas meja, “gue nggak pernah ngerasa malu sama hubungan gue dengan Oikawa. Jaga omongan lo.”

“Kalau gitu,” Kuroo beringsut maju dan sengaja menurunkan volume ucapan karena beberapa orang sudah mulai masuk ke dalam ruangan, “apa masalah lo sampe nyembunyiin hal itu?”

Bibirnya terbuka tanpa ada satu silabel pun yang keluar meski dia tahu persis jawabannya.

Masalahnya bukan di Oikawa.

Bukan pula di hubungan mereka yang sudah berjalan selama enam bulan.

Masalah itu terletak di dirinya.

“Tolong rahasiain dulu dari orang lain. Gue belum siap kalau orang-orang tau sekarang.”

Bukannya menjawab, Iwaizumi malah melontarkan permintaan yang membuat Kuroo melemparkan tatapan kekecewaan ke arahnya.

“Apa Oikawa udah tau lo ditawarin pindah cabang ke luar?”

Ia memalingkan muka. Tenggorokannya terasa kering dengan segumpal kapas yang seolah menyumbat di sana. Kepalanya terasa ditusuk oleh ratusan jarum dan punggungnya mulai mengeluarkan peluh tak nyaman.

Tanpa menjawab pun, Kuroo pasti sudah bisa menebak jawabannya.


@fakeloveros

Iwaizumi menatap layar gawainya lama. Ia sudah membuka pesan singkat itu sejak beberapa menit lalu. Oikawa mungkin sudah sadar sekarang bahwa ia hanya membaca tanpa membalas. Jarinya nyaris bergerak mengetikkan sesuatu kalau bukan karena suara Ushijima yang memotong gerakannya.

“Lo mau pesen apa?”

Dirinya mendongak. Kelopaknya mengerjap beberapa kali sebelum bahunya terangkat otomatis.

“Terserah. Gue ngikut aja.”

Lalu matanya dikembalikan ke layar.

Ushijima menggumam dari seberang dan menyebutkan beberapa menu kepada pelayan yang tengah menunggu. Iwaizumi mendengarkan samar-sama. Otaknya tidak bisa memikirkan apa pun. Ia hanya memandangi deretan kalimat itu tanpa berkedip seakan ada magnet yang mengubahnya jadi makhluk pasif.

“Kenapa lo dari tadi bengong?”

Iwaizumi mengangkat kepala untuk kedua kali. Tangannya perlahan turun hingga akhirnya mengunci layar dan meletakkan gawainya kembali ke dalam kantung. Ushijima mengikuti gerakannya itu dengan pandangan bertanya. Meski begitu, temannya tetap diam dan lebih menunggu dirinya untuk berbicara terlebih dulu.

“Nggak apa-apa. Cuma kepikiran aja soal yang tadi siang di kantor.”

Dan dirinya lebih memilih untuk berbohong.

Ushijima mengangguk. Tangan pria itu meraih gelas berisi air yang ada di atas meja. Keheningan jatuh sesaat sementara temannya itu menenggak cairan hingga setengah.

“Mendadak banget, sih, emang... apalagi negaranya lumayan jauh.”

“Lumayan?” Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. “California lo bilang lumayan jauh?”

“Oke. Jauh banget, maksud gue.” Temannya mengoreksi sembari mengedikkan bahu. “Tapi itu kesempatan bagus. Nggak banyak orang yang bisa kepilih tiap tahunnya. Pasti bakal lo ambil, kan?”

Bibirnya terkatup rapat, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara. Pesan singkat itu kembali memenuhi benaknya dan tangannya gatal ingin meraih gawainya dari kantung untuk menghubungi pria yang mungkin tengah menunggu balasan darinya. Tapi Iwaizumi merasa dirinya terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan itu malam ini. Jadi, dirinya hanya diam sampai pelayan datang untuk mengantarkan hidangan mereka.

“Gue... masih belum tau,” bisiknya saat pelayan itu sudah pergi. Dari sudut mata, Iwaizumi bisa melihat gerakan tangan Ushijima terhenti di udara. Saat netra mereka bersinggungan, ia bisa melihat kepemahaman mulai terbentuk di balik iris temannya itu.

“It’s okay. Lo masih punya waktu seminggu buat ngasih jawaban ke atasan kita. Sebelum itu lo bisa... berdiskusi dulu, mungkin, sama Oikawa?”

Perutnya bergejolak saat mendengar nama itu disebutkan. Pesan yang ia abaikan pun terasa seperti mimpi buruk yang siap menghantuinya malam ini. Ia bukan orang yang berani, jauh dari itu bahkan. Meski begitu, orang-orang selalu menganggapnya kebalikan. Mereka tidak tahu bahwa Iwaizumi menyimpan kekhawatiran yang berlimpah di balik topengnya. Mereka tidak tahu pergolakan batinnya jauh melampaui apa pun yang orang biasa mampu bayangkan.

Mereka tidak tahu bahwa Iwaizumi Hajime sedang merasa takut sekarang.


@fakeloveros

Suara rintik hujan menyapa gendang telinganya pagi itu. Iwaizumi mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran selagi meregistrasi waktu dan keberadaan. Permukaan halus dan empuk di bawahnya, serta cahaya dari luar yang masih menyambut malu-malu, menjadi alasan yang cukup untuk kembali ke alam bawah sadar. Namun, presensi hangat di sampingnya membuat Iwaizumi justru enggan melaksanakan niatan tersebut.

Diikuti hela napas kecil, Iwaizumi memiringkan tubuh dan mendekap prianya dari belakang. Hujan deras di luar sana membuat tubuh telanjang mereka saling menghantarkan panas. Ia menyerukkan wajah di tengkuk kekasihnya dan mencium kulit pucat yang menguarkan aroma khas. Bibirnya membentuk senyum tanpa sadar saat Oikawa menggeliat dalam tidur yang terlampau lelap.

Salahkan dirinya yang kerap kali terlalu bersemangat menghabiskan malam panjang itu dengan mencumbui sang kekasih tanpa jeda. Seakan-akan tidak ada malam selanjutnya. Ibarat inilah kesempatan satu-satunya untuk membuat pria itu merintih di bawah napas yang saling menderu.

Meski begitu, Oikawa tidak pernah mengeluh. Iwaizumi paham bahwa libido mereka sama-sama tinggi, terutama setelah berpisah ratusan, bahkan ribuan kilometer. Waktu menjadi hal yang berharga bagi keduanya. Pertemuan tatap muka menjadi hal yang krusial. Tidak ada satu detik pun terlewatkan tanpa mereka saling melontarkan kasih yang biasanya hanya mampu disampaikan lewat bantuan teknologi. Biarlah dirinya dikatakan egois karena tidak membiarkan Oikawa bertemu dengan teman-teman mereka dulu semasa sekolah. Toh, rindunya tidak mungkin cukup dipuaskan hanya dalam waktu 24 jam.

Jadi, di sinilah mereka sekarang— berbaring nyaman di atas kasur yang hangat dengan rintik hujan menjadi latar penenang. Iwaizumi mengeratkan pelukannya dan berandai gila bahwa jika sekarang terjadi kiamat pun ia akan mati dalam keadaan bahagia.

“Tooru,” bisiknya di atas kulit yang mulai berubah warna— semburat merah menghiasi titik-titik kecokelatan layaknya taburan gula. Manis. Iwaizumi tidak bisa berhenti menciumi tengkuk sang kekasih meski barusan bertekad tidak akan membangunkan.

Tangannya membuat lingkaran-lingkaran abstrak di atas abdomen yang sangat terbentuk berkat latihan rutin di atas lapangan. Iwaizumi tahu tubuh adonis dalam dekapannya itu dikagumi oleh hampir semua orang. Oikawa pun bukan tipe yang canggung dalam memperlihatkan— tahu persis bahwa kaum hawa akan meneriakkan kalimat penuh puja. Namun, di malam-malam penuh kerinduan, Oikawa paham oleh siapa tubuhnya itu berhak diberi tanda kepemilikan.

Iwaizumi menyingkap fabrik yang sedikit menutupi tubuh mereka berdua. Jarinya bergulir ke bawah bagai sapuan bulu angsa. Ia berusaha meminimalisir urgensi yang dirasakan agar pria dalam dekapan eratnya tidak terbangun. Tangannya mencengkeram halus pangkal paha sang kekasih dan membukanya sedikit agar ada celah baginya untuk masuk ke antara.

Iwaizumi harus menahan desahnya yang hampir lolos begitu masifnya mendapat tempat di antara hangat selangkangan sang kekasih. Demi menyalurkan hasrat yang mulai bangun, tangannya membuat gerak meremas di sintal padat tersebut. Tak jarang, jika insting paling liarnya lebih menguasai, tangisan penuh nikmat Oikawa-lah yang mendorong dirinya untuk berbuat lebih— seperti menampar bokong itu berulang kali demi memunculkan bekas kemerahan yang terpatri dalam ingatan.

Iwaizumi ingat— di setiap tayangan ulang pertandingan voli tim Argentina, selain berfokus pada kemampuan Oikawa yang luar biasa meningkat, ada objek lain yang menyita atensinya. Meski pernah merasakan langsung kenikmatan di antara dua bongkah kencang tersebut, pemandangan Oikawa dalam balutan celana pendek tetap membuat kewarasannya berdiri di ujung jurang. Saat pria itu bergerak atau melompat, celana yang lebih banyak menampilkan tungkai panjang sang kekasih akan sedikit terangkat sehingga menampilkan godaan untuk ribuan mata. Ada kalanya Iwaizumi berpikir Oikawa sengaja melakukan itu— tahu persis bahwa dirinya pasti menonton. Ditambah, titik kelemahannya memang berada persis di sana.

Satu kali, Iwaizumi merasa benar-benar konyol saat menyadari miliknya bisa naik hanya dari menyaksikan pertandingan voli di layar kaca. Kalau anggota timnya melihat, ia pasti akan diledek habis-habisan.

Maka saat hidangan itu menjadi miliknya seorang, Iwaizumi tidak pernah menyia-nyiakan. Lagi pula, ada anggapan yang menyatakan bahwa tidak menghabiskan makanan itu merupakan dosa besar, bukan?

Masih sambil merengkuh Oikawa dalam setengah pelukan, Iwaizumi mulai bergerak pelan— tak ingin membangunkan sang adonis yang masih dibuai oleh mimpi. Tubuhnya bergetar, entah karena hawa dingin yang menyapu kulit, atau justru perpaduan hangat yang membuat kejantanannya kian bersemangat.

Orang-orang menganggap dirinya pria penuh moral, tetapi Oikawa mampu membuatnya menjadi pria penuh dosa tanpa nalar.

Iwaizumi menggigit bibirnya keras-keras. Ritmenya mulai naik seperti gesekan biola yang kian cepat seiring arahan dirigen. Ada basah yang membuat hentakan kecilnya semakin mulus. Padat itu pun semakin menjepit, membuat akal sehatnya ikut menyempit.

“Tooru...” Nama sang kekasih kembali dibisikkan penuh candu. Bibirnya bergerak ke atas telinga kekasihnya dan menyampaikan hasrat lewat deru napas. Hunjamannya mengeras menghasilkan goyangan kecil pada kasur. Iwaizumi mungkin akan memberi tepukan berdiri apabila setelah ini Oikawa masih saja tertidur pulas.

Suara hujan bagai teredam oleh jantungnya yang memompa cepat. Nafsunya terbakar oleh jilatan api dalam entitas Oikawa Tooru. Rasanya Iwaizumi mampu berubah gila karena rasa ingin yang semakin tak terbendung. Bibirnya tak lagi membuat batasan untuk lenguh yang keluar berlomba-lomba. Giginya meraup rakus kulit kemerahan milik sang surai cokelat sehingga meninggalkan tanda. Ada gumam kecil yang lolos dari pria di dekapannya dan Iwaizumi meraih sinyal itu untuk bermanuver semakin cepat.

“Hajime—” Akhirnya, ada suara parau Oikawa yang terdengar di antara deru napasnya sendiri. Lengannya dicengkeram tanpa maksud menghentikan saat hunjamannya membuat tubuh mereka sama-sama terdorong ke depan. Oikawa mendesah panjang begitu benar-benar menyadari apa yang tengah terjadi.

“K-kamu ngapain...?” Pria itu tergagap dan langsung disusul oleh pekik tertahan saat giginya menggigit gemas daun telinga sang empunya. Iwaizumi tidak menjawab, lebih memilih memperlihatkan jawabannya lewat aksi dibanding kata-kata.

Hujan terus turun seakan belum cukup membasahi bumi. Bunyinya seperti menertawai dua makhluk adam yang tengah mencumbu penuh ekstasi. Iwaizumi meraih rahang Oikawa dari belakang dan menolehkan pria itu agar menghadap ke arahnya. Mereka berciuman seperti manusia yang kehausan di tengah padang pasir. Oase terlupakan karena mereka telah memiliki satu sama lain. Meski begitu, tak ada yang diinginkan Iwaizumi selain lepas dan menyerahkan segala miliknya untuk Oikawa. Ia bebas untuk dimiliki pria itu, sebagaimana Oikawa pun seutuhnya masuk ke dalam rengkuhan jiwanya.

Surga mungkin tengah menyambutnya penuh sukacita begitu Iwaizumi bertemu dengan pelepasannya.

Iwaizumi menempelkan keningnya di bahu sang kekasih yang bergetar akibat menahan tawa. Tangannya terurai lemas dan membiarkan Oikawa terbebas dari jeratannya. Kendati begitu, mereka tetap berada di posisi serupa dengan Oikawa yang semakin tertawa lepas.

“Kenapa nggak bangunin aku dari tadi?”

Pertanyaan sang kekasih membuat dirinya menghela napas. Ada sedikit malu yang akhirnya melingkupi, membuatnya menenggelamkan wajah di punggung lebar sang atlet voli.

“Kamu tidurnya nyenyak banget. Aku nggak tega bangunin,” tukasnya pelan, meski alasan itu terdengar tidak masuk akal karena perbuatannya justru membangunkan Oikawa.

Oikawa bergumam panjang. Nadanya terdengar penuh kontemplasi.

“Udah terlanjur, Hajime. Sekarang aku malah kebangun.”

Iwaizumi tak bersuara. Takut ketahuan bahwa dirinya tak merasa bersalah sama sekali.

“Sekalian aja gimana? Kita lanjutin yang semalem?”

Iwaizumi mendongak secepat kilat. Bagian bawah tubuhnya masih terasa basah dan lengket akibat putihnya yang keluar berantakan. Seakan tak acuh, Oikawa justru mulai bergerak pelan. Pria itu mendorong ke belakang seakan menegaskan maksud pertanyaan barusan. Iwaizumi tersentak saat kejantanannya tiba-tiba diraih oleh pria itu.

Oikawa menoleh dan menerbitkan seringai penuh tipu daya. Manik cokelat itu mengerling penuh goda ditemani suara halus yang terdengar memohon— mampu membuat siapa pun bertekuk lutut.

“Mau, kan?”

Dan Iwaizumi sudah bertekuk, bahkan sebelum pria itu meminta.


@fakeloveros

Bukannya mendapat jawaban berupa teks, handphone-nya justru mengeluarkan nada dering yang menandakan ada telepon masuk. Hinata mengerutkan kening saat mendapati caller ID yang tertera di layarnya adalah Kageyema.

“Halo?” jawabnya tanpa mengulur waktu lebih lama.

“Lo di mana? Di rumah?” tanya pemuda dari seberang sana tanpa berbasa-basi.

“Iyalah. Kenapa emang?”

“Gue mau ke sana. Ortu sama adek lo lagi ada di rumah, nggak?”

Hinata melirik jam yang ada dinding. Tak ayal, keningnya pun mengernyit semakin dalam.

“Jam segini? Mau ngapain emang?”

Hening sebentar.

“Ya mau ketemu lo aja. Nggak boleh?”

“Boleh, kok, boleh bangeeet,” tukas Hinata seraya diam-diam menyunggingkan senyum kecil. “Nanti kasih tau aja kalau lo udah otw.”

“Oke.”

Dan setelah memberi salam, mereka sama-sama memutus sambungan tersebut. Hinata segera bangkit dan meraih kabel charger dari atas meja untuk mengisi daya handphone-nya yang tinggal setengah. Selagi berdiri, matanya tak sengaja menangkap refleksi dirinya di dalam kaca. Ia menghela napas keras-keras dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak awal.

“Duh, ganti baju deh sekalian... mumpung Tobio mau ke sini.”


“Mana? Katanya ada ayah ibu lo di rumah?” tanya pemuda bersurai hitam itu begitu Hinata mempersilakan masuk dan menutup pintu di belakang mereka.

“Udah pada di kamar,” balasnya singkat sembari mendorong punggung kekasihnya agar mulai berjalan. “Lo mau minum apa? Gue ambilin.”

Kageyama menggeleng dan malah menarik tangan Hinata. Mereka berjalan cepat menuju kamar hingga Hinata pun membiarkan begitu pintu kamarnya segera ditutup. Hinata bahkan tidak sempat mengeluarkan protes dan hanya mengeluarkan pekikan tertahan saat tubuhnya didorong ke atas tempat tidur. Sedetik kemudian, ada beban yang ikut berbaring dan memeluknya erat.

Yang lebih mungil itu mengerjapkan mata berulang kali. Hinata sedikit menegakkan duduknya supaya bisa bersandar di kepala tempat tidur. Kageyama mengikuti gerak tubuhnya tanpa melepaskan rengkuhan di sekitar perutnya sedikit pun.

“Ngapain lo?” tanyanya dengan sedikit bingung. Meski begitu, tangannya tetap terangkat untuk menyentuh surai hitam yang menguarkan aroma segar tersebut.

“Meluk lo. Nggak liat?” balasan Kageyama terdengar sedikit teredam karena pemuda jangkung itu masih menenggelamkan wajah di perutnya.

Hinata merotasikan kedua bola matanya. “Maksud gue, tumben amat gitu, loh? Kerasukan apa lo?”

“Anjing galak.”

“Hah?” Hinata membeo tak paham. “Kok anjing galak?”

“Lain kali,” Kageyama sedikit mendongak dan Hinata tertegun saat mendapati wajah kekasihnya mengeluarkan semburat merah, “kalau ada yang nembak lo lagi, bilang lo udah punya pacar dan pacarnya galak.”

“Kayak anjing... galak?” Hinata bertanya memastikan. Bibirnya mulai melengkung ke atas sembari bersusah payah menahan tawa.

Kageyama tidak mengeluarkan suara dan hanya mengangguk sebelum menenggelamkan wajah di perutnya lagi. Hinata menggeliat kegelian, tetapi tak mendorong pemuda itu menjauh.

“Ada-ada aja...” Dirinya menggeleng tak habis pikir. Kendati begitu, tangannya tak berhenti memainkan setiap surai lembut yang berada di antara jemarinya.

Untuk sesaat, yang terdengar hanya tarikan napas teratur milik mereka berdua dan deru halus pendingin udara di dalam kamar.

“Sho,” panggil kekasihnya lagi setelah beberapa saat diliputi keheningan.

“Hm?”

“Boleh cium, nggak?”

Jantungnya otomatis memompa lebih cepat manakala pertanyaan itu terlontar dari bibir Kageyama. Tangannya berhenti bergerak dan Kageyama langsung melentangkan tubuh. Hinata menunduk hingga netra mereka bertemu pandang.

“Nggak boleh?” tanya Kageyama sekali lagi, dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisikan. Hinata refleks mencengkeram celana piyamanya karena mana mungkin dia menolak permintaan tersebut meski dirinya masih merasa sedikit aneh karena mereka baru meresmikan hubungan beberapa minggu lalu.

Hinata pikir dulunya Kageyama takkan pernah menganggapnya lebih dari sekadar teman dekat, terutama karena mereka sudah saling mengenal sejak SMA. Namun, begitu masuk kuliah, Hinata tidak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama. Ia sadar, seiring bertambahnya umur, ada dorongan afeksi yang kian ingin dia lakukan bersama si pemilik netra biru.

Maka saat diketahui bahwa perasaannya bersambut, Hinata merasa ia telah menjadi pemuda paling bahagia di seluruh dunia.

Lucunya, afeksi berupa sentuhan masih canggung mereka lakukan, terutama di depan umum. Mereka pun masih bersikap layaknya tak ada yang berubah di hadapan publik. Mungkin itu sebabnya masih ada beberapa orang yang mengira hubungan keduanya masih berada dalam zona pertemanan.

Sekarang, Hinata justru bersyukur Kageyama bukan lagi hanya teman dekatnya.

“Boleh.”

Bagai lampu lalu lintas yang berubah jadi hijau, Kageyama langsung meneggakan tubuh dan meraih bagian belakang kepalanya. Hinata memejamkan mata dan merasakan bibir yang cukup familier bersentuhan dengan miliknya. Jantungnya bertalu cepat mengalahkan suara kendaraan di luar sana yang menandakan malam masih begitu hidup.

Hinata menutup kelopaknya semakin erat dan mengeratkan cengkeraman di bagian depan kaus milik sang kekasih begitu merasaka sapuan kecil lidah di atas bibirnya— izin tanpa suara sang kekasih agar dirinya memberi ruang lebih untuk mereka saling mencumbu kasih.

Dan Hinata membiarkan— selalu. Dari dulu. Seperti halnya Kageyama yang sudah masuk ke hatinya, bahkan sebelum pemuda itu menuntut izin.

“Mhmh—” Bibirnya meloloskan satu desahan kecil saat Kageyama dengan sengaja menggigit bagian bawah bibirnya sebelum memberi jarak untuk memasok udara. Dada mereka sama-sama naik turun. Matanya terasa berat. Hinata dengan malu mengangkat tangan untuk menyeka sekitar mulutnya yang terasa basah dan berantakan oleh saliva. Netra biru gelap di hadapannya mengikuti gerakan tersebut sebelum memejamkan mata sejenak.

“Shit.” Kageyama mengutuk di bawah napas dan langsung menyembunyikan wajah di bahu Hinata. Dirinya melirik ke bawah dan mendapati telinga dan leher pemuda itu sudah memerah. “Gue suka banget sama lo.”

Hinata tak bergerak. Tak mampu bergerak.

“Makanya gue nggak mau ada orang lain yang deketin lo lagi. Gue mau mereka semua tau lo udah punya pacar.”

Hinata menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang barusan sudah terkulai lemas, kini terangkat kembali untuk merengkuh kekasihnya.

“Kalau gitu, kita tunjukkin aja ke orang-orang.”


@fakeloveros

Oikawa keluar dari lift dan berjalan cepat menuju lobi utama gedung kantornya. Saat mendapati tidak ada siapa pun yang berdiri di dekat meja resepsionis, dirinya langsung melangkah menuju deretan sofa yang berada di dekat pintu masuk. Sofa-sofa beralaskan karpet itu memang biasanya dijadikan tempat untuk bertemu tamu dari luar atau pengantar makanan serta kiriman lain. Dan benar saja, dalam sekali lihat dia bisa langsung menemukan kekasihnya duduk di salah satu sofa. Pria itu langsung berdiri menyambutnya begitu langkahnya kian mendekat.

“Kamu udah di sini dari tadi?” tanyanya begitu sang kekasih melepas rengkuhan terhadap dirinya. Oikawa melirik tidak enak ke sekitar, tetapi sepertinya tidak ada yang begitu memperhatikan aksi PDA kecil itu.

“Nggak, kok. Aku nge-chat kamu pas banget baru nyampe di sini.” Iwaizumi menjawab selagi memperhatikan wajahnya dengan saksama. “Kenapa kamu keliatan kayak orang tegang gitu? Apa aku udah ganggu dengan dateng ke sini tiba-tiba?”

“Eh, kata siapa!” Oikawa buru-buru menyanggah. “Aku cuma kaget aja. Beneran.” Oikawa memperhatikan sekilas penampilan pria itu dan kembali bertanya sebelum Iwaizumi melayangkan kecurigaan lain. “Kamu udah makan siang? Kalau belum, mau ke kantin aja? Biar kita ngobrolnya juga bisa lebih enak di sana. Gimana?”

“Boleh, tapi tunggu sebentar. Temenku juga katanya lagi jalan ke sini.”

Oikawa meneguk ludah tanpa sadar. “Oh... yang namanya Ushijima itu?”

“Iya,” sang kekasih mengangguk lalu menatapnya dengan kedua alis saling menyatu. “Ngomong-ngomong, kamu yakin belum pernah ketemu dia? Pas aku tanya katanya dia pernah ketemu kamu, ngobrol sebentar juga bahkan.”

Apa?

“Masa, sih? Apa aku aja yang nggak inget, ya...” Oikawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal selagi berusaha mengingat-ingat. Mungkin dia memang lupa pernah bertemu karena jika belum sama sekali, tentunya nama itu tidak akan terdengar sedikit familier.

“Bisa jadi.” Iwaizumi mengangguk singkat sebelum mengambil satu langkah lebih dekat untuk meraih pergelangan tangannya. “Hari ini masih ada yang ngirimin kamu bunga?”

Aduh, sial.

“Eh... hari ini—”

“Ehem.”

Belum sempat Oikawa memutuskan akan berbohong atau tidak, terdengar suara dehaman pria dari belakangnya. Ia ingin berbalik, tetapi Iwaizumi masih menahan pergelangan tangannya.

“Baru dateng?” tanya pria yang bunyi sepatunya terdengar mendekati mereka. “Maaf ya, tadi gue ada urusan dulu sebentar.”

“No problem. Gue juga nggak buru-buru mau balik, kok,” jawab Iwaizumi ringan sembari mengubah cengkeraman halus di pergelangan tangannya menjadi tautan antar telapak tangan. “Sekalian gue mau ngenalin lo juga sama pacar gue karena katanya dia nggak inget pernah ketemu sama lo di sini.”

“Oh, ya?”

Oikawa melirik ke samping begitu presensi pria asing itu tiba di dekat mereka. Teman kekasihnya itu tinggi dan berbadan cukup besar. Surai pria itu berwarna cokelat gelap dengan warna iris nyaris serupa. Pria itu tidak menampilkan ekspresi apa pun dan begitu netra mereka bersibobrok, Oikawa meloloskan satu desah terkejut.

“Oh!”

Dua pria di hadapannya sama-sama mengangkat satu alis.

“Oikawa, kan? Oikawa Tooru?” ucap Ushijima disusul seulas senyum miring— seolah tidak mengindahkan sama sekali ekspresi malunya setelah itu. Sekilas, Oikawa mampu merasakan genggaman tangan Iwaizumi mengerat untuk sepersekian detik.

“Aku— eh, saya inget! Kita waktu itu ketemu pas lagi di lantai tiga sebelum rapat divisi, kan? Eita yang waktu itu ngenalin kita.”

Ushijima mengangguk seraya menjulurkan tangan. “Kita bisa kenalan sekali lagi biar kamu inget. Saya Ushijima, temen kuliahnya Iwaizumi dulu di Irvine. Baru pindah ke sini sekitar sebulan lalu, jadi wajar kalau kamu sempet nggak inget saya.”

“Ooh, halo... salam kenal,” sambutnya dengan satu tangan yang bebas. Ushijima melirik sejenak ke arah tangannya yang masih digenggam erat oleh Iwaizumi, tetapi begitu Oikawa ingin memastikan sekali lagi, tatapan pria itu telah kembali ke arahnya.

“Kamu di bagian Marketing, kan? Saya juga beberapa kali ke sana karena ada keperluan dan kita pernah ketemu. Tapi kayaknya kamu juga nggak inget, ya?”

Oikawa menggeleng. Mungkin di beberapa kesempatan itu ia sedang terburu-buru hingga tak sempat mengingat kehadiran Ushijima. Bagaimanapun, ada ratusan pegawai di kantor mereka. Meski begitu, ada yang tak asing dari cara pembawaan diri pria dengan manik cokelat tersebut. Rasanya seperti mengingatkan Oikawa akan sesuatu yang ia sendiri tak tahu itu apa. Ushijima pun terus menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Namun, kentara sekali ada setitik kilat penasaran di balik ekspresi datar itu seakan tengah menunggunya mengungkapkan sesuatu.

“Kalau gitu, nanti saya—”

“Gimana kalau kita lanjutin nanti?” Iwaizumi tiba-tiba memotong, tahu-tahu sudah berdiri di depannya seakan berusaha menghalangi pandangan, meskipun percuma karena Oikawa masih lebih tinggi. Kendati begitu, nada yang digunakan kekasihnya terdengar begitu dingin hingga bulu kuduknya sedikit berdiri. “Kita bisa ngomongin soal reuni minggu depan pas lagi sama-sama luang di tempat lain. Gue rasa kalau di sini... agak susah suasananya.”

“Oke. Boleh aja.” Tak disangka, Ushijima menyetuji dengan santai. Oikawa mengangkat wajah dan lagi-lagi pandangannya dengan pria itu bertemu. “Nanti lo chat gue aja bisanya kapan dan di mana,” imbuh pria itu tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun. Oikawa bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Ia tidak menyukai tatapan pria itu maupun genggaman tangan sang kekasih yang kian meremukkan. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.

“Hajime...” bisiknya pelan sembari agak menarik lengannya— mengirim sinyal bahwa punggung tangannya mulai merasaka sakit. Iwaizumi nampaknya paham karena genggaman tangan mereka langsung dilonggarkan, meskipun aksi itu tidak mengurangi sama sekali kegugupan yang dirasakannya.

“Nanti gue kabarin,” balas Iwaizumi, kemudian dengan cepat langsung berputar dan mulai berjalan. Oikawa hanya sempat mengangguk singkat kepada Ushijima yang memperhatikan dalam diam sebelum terpaksa mengikuti langkah cepat sang kekasih. Raut wajah Iwaizumi terlihat tidak mengenakkan dan Oikawa memiliki firasat akan menerima banyak wejangan setelah ini.

Ia pun memiliki firasat reuni minggu depan tidak akan berjalan dengan begitu menyenangkan.


@fakeloveros

Bukannya sapaan berupa gimana hari ini? Capek, nggak? Yang diterima pertama kali olehnya saat masuk ke dalam mobil hitam itu justru—

“Bunganya udah dibuang, kan?”

Oikawa memutar bola mata. Setelah meletakkan tas dan memutar arah pendingin udara hingga menghadap ke arahnya, barulah ia mampu menjawab.

“Udah, Hajime. Nih, aku punya buktinya,” jawabnya seraya membuka gallery handphone dan memperlihatkan foto buket bunga yang tak lagi menghiasi mejanya, melainkan tempat sampah. Seolah merasa puas, Iwaizumi hanya mengangguk sekali sebelum mulai menyalakan mesin mobil.

“Aku udah nanya ke resepsionis kantor kamu.”

Oikawa menegakkan tubuh dan menolehkan wajah ke arah sang kekasih. Jantungnya otomatis berdetak lebih cepat manakala menanti jawaban yang akan keluar.

“Terus? Apa katanya? Gimana ciri-ciri pengirimnya?”

“Yang nganterin ternyata kurir. Dan katanya, kurir itu juga nggak nerima identitas pengirim. Dia cuma dikasih tahu kalau bunga-bunga itu perlu dikirim ke kamu.”

“Apa?” Oikawa tak memercayai apa yang baru saja didengarnya. Yang benar saja. Jadi, pengirim bunga-bunga itu sebegitunya ingin merahasiakan identitas? Tapi... kenapa? Apa karena dirinya sudah punya kekasih? Kalau begitu, seharusnya sejak awal orang itu tidak perlu repot-repot sampai mengirimi bunga segala.

Mereka berhenti di lampu merah. Tatapannya menerawang memperhatikan kedip angka yang terus berubah. Oikawa mengangkat jempol dan refleks menggigitinya— sebuah kebiasaan sejak kecil yang sulit dihilangkan tatkala dirinya merasa gugup atau gelisah. Ia teringat perkataan Kenji tadi sebelum pulang dan bagaimana dua minggu lalu ada yang menanyakan sesuatu soal dirinya.

Tiba-tiba, ada tangan yang meraih jemarinya dengan lembut dari samping.

“Jangan digigitin. Nanti luka.”

Oikawa dengan patuh melepaskan gigitan jempolnya. Iwaizumi masih menyetir dengan netra terfokus pada jalanan. Tangan mereka masih bertautan dan dirinya menatap lama pemandangan itu sebelum tanpa sadar bibirnya bergerak sendiri.

“Tadi… aku nanya ke temen-temenku yang ada di Marketing, siapa kira-kira yang habis ngasih nomorku ke orang lain dan jawabannya nggak ada. Cuma ternyata… dua minggu lalu ada yang nanyain soal—“

TRING TRING

Ucapannya terpotong oleh suara dering handphone. Iwaizumi otomatis melepaskan genggaman tangan mereka dan meraih ke dalam kantung jeans.

“Sorry, Tooru, boleh liatin siapa yang nelpon aku? Takutnya penting.”

Oikawa mengangguk meski tahu pria itu takkan bisa melihatnya. Ia mengambil benda pipih itu dan menatap layar yang menampilkan sederet nama cukup asing.

Sekaligus familier.

“Ushijima... Wakatoshi?” ucapnya lantang seraya menoleh ke arah sang kekasih. “Ini penting? Mau aku yang angkatin?”

“Boleh. Bilang aja aku lagi nyetir.”

Setelah menerima persetujuan, Oikawa menggeser simbol hijau itu ke atas.

“Halo? Maaf, Ha— Iwaizumi sekarang lagi nggak bisa angkat telepon soalnya lagi nyetir.”

Ada jeda yang panjang dari seberang sana.

“Halo?” Panggilnya sekali lagi seraya menjauhkan layar untuk memastikan sambungannya belum terputus. Iwaizumi meliriknya dari spion tengah, tetapi tidak mengatakan apa pun.

“Halo,” balas pria di seberang sana pada akhirnya. “Maaf. Sekarang saya sedang bicara dengan...?”

“Oh, saya Oikawa. Pacarnya. Kalau ada yang penting, boleh langsung diomongin aja. Nanti biar saya yang sampein ke Iwaizumi.”

Lagi-lagi ada yang jeda yang membuat Oikawa mengerutkan kening. Namun, tidak hanya itu. Entah mengapa seperti ada yang menusuk-nusuk bagian kepalanya untuk mengingat nama itu. Ia yakin pernah mendengar nama Ushijima Wakatoshi di suatu tempat.

Tapi di mana, ya... Oikawa berusaha mengingat-ingat.

“Kalau begitu, biar nanti saya telepon lagi Iwaizumi. Saya cuma mau mastiin jadwal pertemuan untuk minggu depan. Selamat sore, Oikawa.”

“Oh, iya. Selamat—”

TUT

Kali ini, Oikawa benar-benar menjauhkan handphone dari telinganya dan menatap layar yang sudah menampilkan tampilan home screen dengan kening berkerut bingung. Padahal dirinya belum selesai berbicara, tapi orang itu dengan seenaknya langsung memutus hubungan. Ia pun menyerahkan kembali benda itu kepada sang pemilik dan menyampaikan pesan yang barusan didengarnya.

“Itu... temen kamu, katanya nanti bakal nelpon lagi. Katanya juga cuma mau mastiin jadwal pertemuan buat minggu depan...?”

“Gitu katanya? Hmm, oke.”

“Itu siapa? Temen kamu di kantor? Kok kayaknya aku baru denger...?” tanyanya sedikit penasaran dengan asal muasal pria yang sejak tadi sedikit menyita pikirannya.

“Loh, kamu belum pernah ketemu orangnya di kantor? Dia temen aku dulu pas kuliah dan baru pindah kerja ke kantor kamu, cuma beda divisi aja. Dia ditempatin di tim perencanaan produk kalau nggak salah. Aku pernah ngasih tau, kok, kalian kerja di kantor yang sama.” Iwaizumi menjelaskan panjang lebar seraya memanuver setir mobil dengan lihai. Kalau tidak sedang memproses kalimat itu baik-baik, dirinya pasti sudah terdistraksi dengan gerakan barusan.

“By the way,” Iwaizumi kembali menyela di tengah laju pikirannya yang ke sana kemari, “tadi kamu mau ngomong apa?”

Ushijima Wakatoshi... Tim perencanaan produk... Orang baru di kantor...

“Oh, nggak. Tadi aku cuma mau ngajakin kamu dinner malem ini. Gimana?”


@fakeloveros

Baru saja Oikawa melangkah keluar dari gedung, ia sudah menyesali keputusan yang dibuatnya tadi pagi.

Mampus, dirinya merutuk dalam hati.

Di sana, di tempat biasa kekasihnya menunggu, si pemilik mobil tidak seperti biasa justru keluar dan berdiri sembari menyenderkan tubuh dengan tangan terlipat di depan dada. Bahkan dari kejauhan, Oikawa bisa melihat kening pria itu mengerut bingung begitu mendapati benda yang ada di tangannya.

Rasanya Oikawa ingin melempar buket bunga yang ada di tangannya detik itu juga.

“Bunga dari siapa itu?”

Ia bahkan baru membuka mulut untuk menyapa, tetapi Iwaizumi keburu mendahuluinya dengan pertanyaan yang sudah diduganya akan datang.

“Aku jelasin dalem mobil, ya? Ayo masuk dulu biar nggak diliatin orang-orang,” bujuknya sedikit gugup seraya memutari mobil menuju kursi penumpang. Yang diajak bicara tidak mengatakan apa pun meski kening pria itu berkerut kian dalam. Untungnya, Iwaizumi mendengarkan kata-katanya karena tak beberapa lama setelah dirinya menutup pintu mobil, terdengar bunyi yang sama dari sebelahnya.

“Siapa yang ngasih itu ke kamu?”

Oikawa menghela napas. Tidak ada gunanya dia mengulur waktu. Lagi pula, lebih cepat diselesaikan tentu akan lebih baik, bukan?

Iya, kan? Dirinya berusaha memastikan dalam hati.

“Nggak tau dari siapa. Tapi ini... udah dikirimin dari kemaren.”

“Dari kemaren? Maksudnya?”

“Maksudku,” Oikawa meletakkan bunga itu di atas dashboard dan Iwaizumi mengikuti gerak tangannya seakan ia sedang memegang sesuatu yang berbahaya, “udah dari hari Senin ada yang ngirimin aku bunga, tapi nggak ada nama pengirimnya. Jadi, aku nggak tau itu dari siapa. Cuma kata resepsionis bener— itu buat aku.”

Ada keheningan panjang yang menyusul setelahnya. Oikawa bergerak gelisah selagi diam-diam menantikan reaksi pria itu.

Namun, nihil. Iwaizumi hanya terdiam tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Tak urung, Oikawa pun mengerutkan kening dengan waswas.

“Kamu... nggak marah?” Tumben.

“Kata siapa aku nggak marah?”

Oh.

“Te...rus? Kok diem aja?”

“Aku lagi mikir gimana caranya biar orang yang suka ngirimin kamu bunga ini tahu kalau kamu udah punya pacar,” jawab Iwaizumi sembari meraih buket bunga itu dan memainkan beberapa kelopaknya. Kalimat itu dikatakan dengan tenang, tapi Oikawa tahu lebih baik dari siapa pun bahwa tenangnya Iwaizumi Hajime ketika sedang marah atau kesal justru jauh— jauh lebih mengerikan.

“Kata temenku... bisa aja orang ini udah tahu, cuma dia tipe yang... nggak mau nyerah?” Setelah melemparkan jawaban yang lebih berupa pertanyaan, Oikawa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Netra pria itu telah kembali ke arahnya dan kali ini dilayangkan penuh kontemplasi.

“Kamu tahu siapa kira-kira orang yang ngirimin ini?”

Oikawa menggeleng— mungkin terkesan terlampau cepat hingga kekasihnya langsung mengangkat satu alis.

“Kamu yakin?”

Ia mengulangi gestur yang sama untuk kedua kali. Manik cokelatnya hanya bergulir mengikuti gerakan Iwaizumi yang meletakkan bunga itu di jok belakang. Namun, belum ada sedetik otaknya meregistrasi apa yang terjadi selanjutnya, Iwaizumi telah menyudutkannya hingga membuatnya menarik napas tercekat. Sayang, itu satu-satunya pasokan udara yang berhasil masuk sebelum sang kekasih menggigit bibir bawahnya dan memberi pagutan keras di sana. Untungnya, refleks pria itu bekerja lebih cepat saat meletakkan satu tangan di belakang kepalanya hingga tak sampai menabrak jendela mobil.

Oikawa sendiri mencengkeram bahu pria itu sebagai gerak spontan. Matanya terpejam erat kala Iwaizumi membuka bibirnya dan melesakkan lidah begitu saja. Dalam sedetik, Oikawa langsung melupakan apa sumber kegelisahannya maupun rasa gugup yang menyerangnya saat jam pulang kantor tiba— tahu bahwa mau tak mau, dia harus mengatakan kejadian berturut-turut yang tak bisa dibilang menyenangkan tersebut.

Karena memang seperti itulah rasanya berciuman dengan Iwaizumi. Ia bagai merasakan begitu banyak hal sekaligus mati rasa dalam waktu yang bersamaan. Ia melupakan semuanya, juga mengingat satu per satu memori dengan pria itu yang tertinggal di atas kulitnya. Iwaizumi layaknya api yang membakar semua, tetapi juga gulungan ombak di lautan yang membuatnya hanyut dalam tenang.

“Ha-Hajime...” Oikawa tergagap dalam ciuman mereka yang terjeda. Pipinya mengeluarkan semburat merah saat menyaksikan sebenang tipis saliva yang menghubungkan mereka terputus begitu sang kekasih mengambil jarak. Ia menggigit bibir saat Iwaizumi menunduk dan ganti menyerang ceruk lehernya dengan ciuman yang tak kalah panas. Matanya bergulir panik saat mendapati sekumpulan orang berjalan menuju tempat parkir. Meski tahu jendela mobil pria itu berwarna hitam pekat, tetap saja rasanya seperti bercumbu di ruangan terbuka.

“T-tunggu... Hajime... J-jangan di sini...” Ia berusaha menghentikan pria itu menandai lehernya lebih banyak. Sudah terbayang seberapa tebal concealer yang harus ia gunakan besok. Tetapi untuk sekarang, mereka punya urgensi lain. “Gimana kalau kita... lanjutin di apartemenku? Jangan di sini... Banyak orang...”

Untuk sedetik, Oikawa pikir Iwaizumi takkan mengindahkannya dan benar-benar melanjutkan aktivitas panas mereka di dalam mobil. Tak disangka, pria itu justru menarik diri menjauh dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi mobil. Oikawa menarik napas lega lalu menegakkan tubuh dan menghadap kembali ke depan.

“Oke. Kita lanjutin ini di apartemen kamu. Dan besok...” Iwaizumi tahu-tahu menarik pinggangnya hingga bahunya menyentuh dada bidang pria itu. Oikawa mencengkeram lengan sang kekasih saat telinganya menerima gigitan kecil dan bisikan yang terdengar sedikit mengancam di sana.

“Besok... kamu nggak boleh nerima bunga itu lagi, atau aku bakal bener-bener cari orangnya.”


@fakeloveros

“Mungkin kita harusnya nggak—”

Omongannya dipotong, bahkan sebelum Akaashi mampu menyampaikan maksudnya. Namun, kentara sekali, pria yang tengah meminimalisir pergerakannya dengan menghimpitnya ke dinding itu tidak ingin mendengar sama sekali.

“Aku udah nunggu selama sepuluh tahun, Keiji,” ucap pria itu di atas rahangnya dengan napas tersengal. “Jadi, jangan suruh aku nunggu lagi.”

Yang lebih muda tentu saja ingin menyetujui perkataan tersebut, tapi lain cerita apabila mereka melakukan ini sekarang di tempat terbuka seperti—

“Kita ke tempat Kakak aja,” bujuknya setelah pagutan di bibirnya dilepas. Di balik kacamatanya yang sudah miring, Akaashi menggulirkan netra dengan panik ke sekeliling ruangan.

“Kejauhan.”

Pertanyaan tapi gimana kalau ada yang masuk? terpaksa ditelan kembali karena bibirnya sudah dialihfungsikan menjadi pemuas hasrat. Tanpa perlu membohongi diri sendiri, Akaashi tahu percuma saja berusaha melawan pria yang kini telah mengantongi titel sebagai kekasihnya. Ia memejamkan matanya rapat saat ada sapuan lidah di atas bibirnya yang tengah meminta izin. Akaashi pun tahu pertahanan dirinya sudah menyeluruh sempurna dari awal manakala pria itu menariknya ke dalam ruangan kecil ini.

Padahal setelah sepuluh itu, Akaashi yakin sekali bahwa mereka tidak akan—

“Kebiasaan.”

Akaashi tersentak, lantas membuka maka tatkala bisikan itu terdengar di atas telinganya. Napas hangat yang menerpa di sana membuat si surai hitam otomatis mencengkeram lengan berotot sang kekasih dengan lebih kencang.

“Kebiasaan,” ulang pria itu sekali lagi. “Pikiran kamu selalu ada di mana-mana kalau kita lagi kayak gini.”

“Ma— ah.” Akaashi menggigit bibir sebelum kata maaf yang sudah berada di ujung lidah berubah menjadi lenguhan panjang. “Maaf...” lirihnya berbarengan dengan napas lega yang keluar setelah Bokuto sedikit menarik diri dan menatap lehernya dengan tampang puas.

“Kamu mikirin apa, sih?” tanya pria itu, kali ini sambil menarik pinggangnya lalu memanuver tubuh mereka menuju kursi besar yang ada di balik meja. “Oikawa?”

Akaashi baru akan menggeleng, tetapi ia sedang tidak ingin menjelaskan dilema perihal hubungan mereka yang memiliki status baru ini. Jadi, ia pun menganggukkan kepala yang langsung disambut oleh senyum menenangkan.

“Tenang aja. Acaranya masih lama, kan? Lagian dia juga yang nyuruh kamu nggak usah nemenin. Terus kamu kepikiran apa lagi?”

Banyak sebenarnya yang Akaashi pikirkan— bibir Bokuto yang kerap menciumi garis rahangnya, lengan pria itu yang mengurungnya bagai rantai besi, serta sesuatu yang agaknya sudah mengeras di balik celana pria itu dan menyentuh selangkangannya tanpa ada penyangkalan.

Namun, Akaashi menelan itu semua dan lebih memilih melontarkan jawaban yang masuk akal.

“Kepikiran aja... gimana kalau si buaya ngomong sesuatu yang nggak-nggak ke Oikawa...”

“Apa? Si buaya?”

Bokuto memundurkan wajah dan menatapnya penasaran. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat iris emas yang berdilatasi dalam bayangan wajahnya sendiri. Tanpa bisa menahan diri, Akaashi menangkup kedua sisi wajah kekasihnya lalu mencondongkan tubuh untuk kembali mempertemukan bibir mereka.

“Nggak, bukan siapa-siapa.”

“Keiji—”

CEKLEK

Akaashi mendorong bahu Bokuto, kemudian buru-buru bangkit begitu mendengar suara pintu di belakangnya terbuka. Dengan wajah memerah menahan malu, ia menoleh untuk melihat siapa pelakunya.

“Oh. Sorry. Gue ganggu, ya?”

Keningnya berkerut kecil saat netranya bersibobrok dengan manik hijau yang menatap tanpa rasa bersalah meskipun bibir itu telah menukaskan kata maaf. Iwaizumi hanya meliriknya sekilas sebelum memusatkan perhatian pada Bokuto yang tengah mengerang lantang.

“Ganggu banget, bangsat.”

“Santai aja, dong,” ucap Iwaizumi seraya memutar bola mata. “Lagian kirain udah nggak ada orang di sini. Gue mau kunci-kunci. Lo cari tempat lain gih.”

“Lah, lo mau balik? Katanya mau agak lamaan di sini...?”

“Nggak, gue—” Iwaizumi meliriknya lagi, sebelum berdeham dan melanjutkan. “Gue emang mau stay di sini agak lama, tapi ruangan lain mau gue kunci sekarang. Perintah Saeko.”

Bokuto mendecak sebal dan akhirnya ikut bangkit sembari mengambil jaket yang berada di atas lantai. Semburat di pipinya kian terang kala mengingat bahwa itu merupakan hasil perbuatan tangannya dalam gerak frantik mereka menghapus jarak.

“Betah amat, sih, lo di gym. Pantesan aja gym kita aman dari gangguan setan. Penunggunya lo, sih.”

Yang diajak bicara tidak menjawab— hanya menyingkirkan tubuh dari depan pintu selagi mereka berdua berusaha lewat. Akaashi sudah hampir berjalan melewati pria itu, tetapi ada dorongan yang menghentikannya. Bokuto yang sudah hampir berlalu pun ikut berhenti dan menatapnya bingung.

Iwaizumi hanya memasang ekspresi datar sembari menunggunya berbicara.

“Oikawa itu... bukan cuma gue anggap temen, tapi juga udah kayak kakak sendiri. Emang kadang-kadang kelakuannya masih childish dan harus gue ingetin segala macem soal ini itu, tapi bukan berarti dia bodoh atau nggak peka kayak yang orang-orang bilang. Bukan berarti dia juga nggak berperasaan dan ignorant. Oikawa cuma... terlalu sering nyembunyiin perasaannya dan ngerasa bahwa semua orang yang deketin dia pasti ada maunya.”

Akaashi menarik napas dalam dan kali ini, menatap pria di hadapannya sungguh-sungguh.

“Gue nggak mau liat Oikawa ngerasain sakit lagi. Dia udah terlalu sering nerima omongan-omongan buruk dari orang-orang yang nggak tahu apa-apa. Gue bakalan dukung kalau emang dia seneng deket sama lo, tapi kalau lo sendiri punya maksud lain deketin dia...” Akaashi maju, lantas menatap tajam pria yang tak menampilkan perubahan raut wajah sedikit pun tersebut, “jangan harap habis itu hidup lo bakalan tenang.”

Setelah puas— setelah berhasil memuntahkan ancaman yang memang ingin ia utarakan di depan wajah pria itu langsung —Akaashi berbalik dan menarik tangan Bokuto agar meninggalkan tempat itu. Kekasihnya yang sedari tadi hanya memperhatikan dalam diam, turut mengikuti tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.

Akaashi pun tidak perlu tahu ekspresi seperti apa yang diperlihatkan Iwaizumi setelahnya.


@fakeloveros