“Uno!”

Oikawa mengerang dan melemparkan sisa kartunya ke atas lantai sementara pria yang meneriakkan kata barusan terlihat sangat puas. Ini sudah permainan ketiga mereka dan terhitung tiga kali pula semenjak kekalahan Oikawa.

“Kamu curang, ya?” tuduhnya kesal sebelum menenggak soda yang tinggal setengah dari kalengnya. “Masa dari tadi aku kalah terus, sih?!”

“Sayang,” tutur pria itu ringan sembari membereskan kartu yang berserakan— bahkan panggilan penuh afeksi tersebut tidak berhasil menghilangkan kerutan di kening Oikawa, “bukan aku yang curang, tapi kamunya aja yang payah.”

“Main yang lain aja deh, kalau gitu!”

Iwaizumi mengedikkan bahu, seakan usulan itu tidak akan membawa pengaruh yang berbeda.

“Fine,” balas pria itu singkat. “Mau main apa?”

“Monopoli!” Tanpa menunggu persetujuan dari sang kekasih, Oikawa lantas berdiri dan berjalan menuju lemari yang terletak di bawah TV apartemen mereka. Ia membukanya dan mengeluarkan satu set permainan yang sudah tersimpan lama di sana. “Udah lama, kan, kita nggak main Monopoli?” tanyanya licik, tahu betul bahwa kesempatannya untuk menang kali ini benar-benar akan datang.

Sejak mereka kecil, Iwaizumi payah dalam bermain Monopoli.

Oikawa membawa papan permainan itu ke lantai yang beralaskan karpet tempat mereka bersantai sejak sore. Dari tirai jendela yang sengaja disingkap, lampu-lampu kota mulai menyala demi meramaikan malam Minggu. Tidak seperti biasanya, kali ini mereka berdua sepakat untuk menghabiskan weekend di rumah. Memang Oikawa-lah yang mengusulkan pertama kali, tetapi untungnya, Iwaizumi tidak menolak, bahkan menyambut usulan tersebut dengan sukacita.

Mood-nya yang sempat turun akibat kalah tiga kali dalam permainan pertama mereka, terangkat kembali begitu melihat ekspresi masam kekasihnya.

“Kalau ini sih, kamu yang curang namanya,” celetuk Iwaizumi manakala Oikawa dengan penuh semangat mulai menyusun kartu dan uang-uang palsu di atas papan kertas.

“Mulai aja belum, kok, kamu udah nuduh aku curang?!”

“Kalau ini, kan, udah pasti aku bakal kalah...”

“Kalau gitu,” Oikawa menghentikan kesibukannya dan menegakkan diri— senyum lebar terpatri di bibirnya, “gimana kalau yang sekarang kita pake taruhan?”

Netra hijau di hadapannya mengerling tertarik mendengar kata ‘taruhan’. Mau sekompetitif apa pun Oikawa, orang-orang sesungguhnya tak mengetahui bahwa Iwaizumi bisa menjadi lebih ambisius dibanding dirinya.

“Boleh. Yang menang bakal dapet apa?”

Oikawa menggumam panjang seraya menggulirkan tatapannya ke sekeliling apartemen.

“Apa, ya... gimana kalau... dapet cium?”

“Cuma cium?”

Oikawa mengerucutkan bibirnya, tahu persis pembicaraan itu akan mengarah ke mana.

“Maunya lebih?”

“Iya, dong,” balas Iwaizumi ringan, kini mulai ikut membantunya mengatur papan permainan. “Ini aja, deh. Yang menang boleh minta apa aja ke yang kalah.”

“Terus yang kalah harus nurut?”

Iwaizumi mengangguk, kemudian dengan gerakan hiperbolis mulai menggulung lengan baju lalu mencondongkan tubuh.

“Siap-siap kalah, ya, kamu.”

Oikawa hanya memutar kedua bola matanya. Bahkan sebelum permainan dimulai pun ia sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi pemenang.


Sesuai dugaannya, Iwaizumi kalah telak.

Pria itu melempar satu lembar terakhir uang palsu ke atas papan dan menutup wajah dengan kedua tangan sementara Oikawa tertawa terbahak-bahak.

“Makanya jangan sombong!” serunya lantang seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Nah, sesuai perjanjian di awal, kamu harus nurutin apa perintah aku.”

Terdengar hela napas putus asa dari sang kekasih. Iwaizumi mengangkat wajah dan menatapnya dengan bibir tertekuk ke bawah.

“Jangan minta yang aneh-aneh, loh. Awas.”

Oikawa membuat ekspresi berpikir, berpura-pura tidak mendengar peringatan itu sama sekali.

“Aku penasaran sama sesuatu.”

Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi— mungkin tidak menyangka dengan nada serius yang tiba-tiba digunakan Oikawa.

“Mungkin kamu nggak inget, soalnya dulu kamu ngakuin hal ini ke aku pas lagi mabuk. Cuma waktu itu... kamu ngaku pernah mau ngirim surat ke aku pas kita masih LDR... dan kita kebetulan lagi berantem.”

Sekujur tubuh Iwaizumi otomatis membeku. Raut wajah pria itu pun sama. Oikawa nyaris tertawa karena tidak mengira satu pernyataan itu mampu menimbulkan efek yang tak biasa.

“Aku mau liat suratnya, boleh?”

“Nggak boleh.”

Tawanya menggelegar lagi. Jawaban itu datang terlalu cepat diiringi wajah merona sang kekasih hingga membuatnya terpingkal-pingkal di atas lantai. Oikawa menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut dan berusaha berbicara di sela-sela tawanya.

“Awww, kamu malu, ya?”

“Pokoknya nggak boleh,” imbuh pria itu tegas.

Oikawa beringsut maju, menendang papan Monopoli yang menghalangi lalu duduk di atas pangkuan Iwaizumi. Kendati wajah dan leher pria itu masih bersemburat merah, lengan berotot yang melingkari pinggangnya menyambut otomatis.

Telunjuknya menusuk-nusuk pipi pria itu hingga sang empunya memalingkan muka. Oikawa tersenyum dan mengeratkan rangkulannya di leher sang kekasih.

“Kalau kamu mau ngasih liat surat itu... malem ini bebas kamu mau ngelakuin apa aja ke aku,” bisiknya seduktif seraya mulai menciumi leher kekasihnya perlahan. Aroma musk yang maskulin masuk ke hidungnya dan Oikawa menghidu dalam-dalam tanpa menghentikan gerak bibirnya. Saat Iwaizumi mendesah dan mendongakkan kepala beberapa inci untuk memberinya akses, Oikawa tahu dirinya telah menang.

“Apa aja?” tanya pria itu dengan suara yang terdengar sedikit parau.

“Apa aja.”

“Oke.” Iwaizumi menggeram dan dengan kekuatan yang amat luar biasa, pria itu berdiri dengan dirinya yang masih berada di pangkuan. Oikawa memekik pelan dan otomatis mengeratkan pelukan. Tapi ia tahu, Iwaizumi tentu tidak akan membiarkannya terjatuh.

“Nanti bakal aku liatin suratnya ke kamu. Tapi sebelum itu...”

Tanpa menyelesaikan ucapan, pria bersurai hitam itu segera melesat menuju kamar mereka. Tawanya berderai mengisi seantero apartemen, merasakan kebahagiaan yang meluap di dadanya.


Oikawa terbangun di tengah malam.

Matanya mengerjap pelan sebagai upaya membiasakan diri dalam kegelapan. Tangannya turun dan tak sengaja menyentuh lengan yang berada di atas perutnya. Ia menoleh dan mendapati Iwaizumi tertidur pulas dengan kepala yang bersender di bahunya.

Jam berapa sekarang...? Oikawa menengok ke arah nakas dan mendapati jam digital menunjukkan pukul satu lewat sepuluh menit. Ia tidak ingat sejak kapan tertidur. Namun, tubuh telanjangnya yang berada di balik selimut, serta bokongnya yang sedikit sakit membawa memori atas malam sebelumnya.

Bagai sudah terprogram otomatis, tangannya meraih handphone dari atas meja untuk memeriksa beberapa notifikasi yang masuk. Matanya memicing dalam kegelapan dan langsung terbuka lebar begitu mendapati notifikasi email dari nama yang amat familier.

Rasa kantuknya sontak menghilang.

Oikawa membuka email masuk tersebut dengan jantung berdebar dan mulai membacanya.

Ia mulai membacanya.


@fakeloveros