Suara rintik hujan menyapa gendang telinganya pagi itu. Iwaizumi mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran selagi meregistrasi waktu dan keberadaan. Permukaan halus dan empuk di bawahnya, serta cahaya dari luar yang masih menyambut malu-malu, menjadi alasan yang cukup untuk kembali ke alam bawah sadar. Namun, presensi hangat di sampingnya membuat Iwaizumi justru enggan melaksanakan niatan tersebut.
Diikuti hela napas kecil, Iwaizumi memiringkan tubuh dan mendekap prianya dari belakang. Hujan deras di luar sana membuat tubuh telanjang mereka saling menghantarkan panas. Ia menyerukkan wajah di tengkuk kekasihnya dan mencium kulit pucat yang menguarkan aroma khas. Bibirnya membentuk senyum tanpa sadar saat Oikawa menggeliat dalam tidur yang terlampau lelap.
Salahkan dirinya yang kerap kali terlalu bersemangat menghabiskan malam panjang itu dengan mencumbui sang kekasih tanpa jeda. Seakan-akan tidak ada malam selanjutnya. Ibarat inilah kesempatan satu-satunya untuk membuat pria itu merintih di bawah napas yang saling menderu.
Meski begitu, Oikawa tidak pernah mengeluh. Iwaizumi paham bahwa libido mereka sama-sama tinggi, terutama setelah berpisah ratusan, bahkan ribuan kilometer. Waktu menjadi hal yang berharga bagi keduanya. Pertemuan tatap muka menjadi hal yang krusial. Tidak ada satu detik pun terlewatkan tanpa mereka saling melontarkan kasih yang biasanya hanya mampu disampaikan lewat bantuan teknologi. Biarlah dirinya dikatakan egois karena tidak membiarkan Oikawa bertemu dengan teman-teman mereka dulu semasa sekolah. Toh, rindunya tidak mungkin cukup dipuaskan hanya dalam waktu 24 jam.
Jadi, di sinilah mereka sekarang— berbaring nyaman di atas kasur yang hangat dengan rintik hujan menjadi latar penenang. Iwaizumi mengeratkan pelukannya dan berandai gila bahwa jika sekarang terjadi kiamat pun ia akan mati dalam keadaan bahagia.
“Tooru,” bisiknya di atas kulit yang mulai berubah warna— semburat merah menghiasi titik-titik kecokelatan layaknya taburan gula. Manis. Iwaizumi tidak bisa berhenti menciumi tengkuk sang kekasih meski barusan bertekad tidak akan membangunkan.
Tangannya membuat lingkaran-lingkaran abstrak di atas abdomen yang sangat terbentuk berkat latihan rutin di atas lapangan. Iwaizumi tahu tubuh adonis dalam dekapannya itu dikagumi oleh hampir semua orang. Oikawa pun bukan tipe yang canggung dalam memperlihatkan— tahu persis bahwa kaum hawa akan meneriakkan kalimat penuh puja. Namun, di malam-malam penuh kerinduan, Oikawa paham oleh siapa tubuhnya itu berhak diberi tanda kepemilikan.
Iwaizumi menyingkap fabrik yang sedikit menutupi tubuh mereka berdua. Jarinya bergulir ke bawah bagai sapuan bulu angsa. Ia berusaha meminimalisir urgensi yang dirasakan agar pria dalam dekapan eratnya tidak terbangun. Tangannya mencengkeram halus pangkal paha sang kekasih dan membukanya sedikit agar ada celah baginya untuk masuk ke antara.
Iwaizumi harus menahan desahnya yang hampir lolos begitu masifnya mendapat tempat di antara hangat selangkangan sang kekasih. Demi menyalurkan hasrat yang mulai bangun, tangannya membuat gerak meremas di sintal padat tersebut. Tak jarang, jika insting paling liarnya lebih menguasai, tangisan penuh nikmat Oikawa-lah yang mendorong dirinya untuk berbuat lebih— seperti menampar bokong itu berulang kali demi memunculkan bekas kemerahan yang terpatri dalam ingatan.
Iwaizumi ingat— di setiap tayangan ulang pertandingan voli tim Argentina, selain berfokus pada kemampuan Oikawa yang luar biasa meningkat, ada objek lain yang menyita atensinya. Meski pernah merasakan langsung kenikmatan di antara dua bongkah kencang tersebut, pemandangan Oikawa dalam balutan celana pendek tetap membuat kewarasannya berdiri di ujung jurang. Saat pria itu bergerak atau melompat, celana yang lebih banyak menampilkan tungkai panjang sang kekasih akan sedikit terangkat sehingga menampilkan godaan untuk ribuan mata. Ada kalanya Iwaizumi berpikir Oikawa sengaja melakukan itu— tahu persis bahwa dirinya pasti menonton. Ditambah, titik kelemahannya memang berada persis di sana.
Satu kali, Iwaizumi merasa benar-benar konyol saat menyadari miliknya bisa naik hanya dari menyaksikan pertandingan voli di layar kaca. Kalau anggota timnya melihat, ia pasti akan diledek habis-habisan.
Maka saat hidangan itu menjadi miliknya seorang, Iwaizumi tidak pernah menyia-nyiakan. Lagi pula, ada anggapan yang menyatakan bahwa tidak menghabiskan makanan itu merupakan dosa besar, bukan?
Masih sambil merengkuh Oikawa dalam setengah pelukan, Iwaizumi mulai bergerak pelan— tak ingin membangunkan sang adonis yang masih dibuai oleh mimpi. Tubuhnya bergetar, entah karena hawa dingin yang menyapu kulit, atau justru perpaduan hangat yang membuat kejantanannya kian bersemangat.
Orang-orang menganggap dirinya pria penuh moral, tetapi Oikawa mampu membuatnya menjadi pria penuh dosa tanpa nalar.
Iwaizumi menggigit bibirnya keras-keras. Ritmenya mulai naik seperti gesekan biola yang kian cepat seiring arahan dirigen. Ada basah yang membuat hentakan kecilnya semakin mulus. Padat itu pun semakin menjepit, membuat akal sehatnya ikut menyempit.
“Tooru...” Nama sang kekasih kembali dibisikkan penuh candu. Bibirnya bergerak ke atas telinga kekasihnya dan menyampaikan hasrat lewat deru napas. Hunjamannya mengeras menghasilkan goyangan kecil pada kasur. Iwaizumi mungkin akan memberi tepukan berdiri apabila setelah ini Oikawa masih saja tertidur pulas.
Suara hujan bagai teredam oleh jantungnya yang memompa cepat. Nafsunya terbakar oleh jilatan api dalam entitas Oikawa Tooru. Rasanya Iwaizumi mampu berubah gila karena rasa ingin yang semakin tak terbendung. Bibirnya tak lagi membuat batasan untuk lenguh yang keluar berlomba-lomba. Giginya meraup rakus kulit kemerahan milik sang surai cokelat sehingga meninggalkan tanda. Ada gumam kecil yang lolos dari pria di dekapannya dan Iwaizumi meraih sinyal itu untuk bermanuver semakin cepat.
“Hajime—” Akhirnya, ada suara parau Oikawa yang terdengar di antara deru napasnya sendiri. Lengannya dicengkeram tanpa maksud menghentikan saat hunjamannya membuat tubuh mereka sama-sama terdorong ke depan. Oikawa mendesah panjang begitu benar-benar menyadari apa yang tengah terjadi.
“K-kamu ngapain...?” Pria itu tergagap dan langsung disusul oleh pekik tertahan saat giginya menggigit gemas daun telinga sang empunya. Iwaizumi tidak menjawab, lebih memilih memperlihatkan jawabannya lewat aksi dibanding kata-kata.
Hujan terus turun seakan belum cukup membasahi bumi. Bunyinya seperti menertawai dua makhluk adam yang tengah mencumbu penuh ekstasi. Iwaizumi meraih rahang Oikawa dari belakang dan menolehkan pria itu agar menghadap ke arahnya. Mereka berciuman seperti manusia yang kehausan di tengah padang pasir. Oase terlupakan karena mereka telah memiliki satu sama lain. Meski begitu, tak ada yang diinginkan Iwaizumi selain lepas dan menyerahkan segala miliknya untuk Oikawa. Ia bebas untuk dimiliki pria itu, sebagaimana Oikawa pun seutuhnya masuk ke dalam rengkuhan jiwanya.
Surga mungkin tengah menyambutnya penuh sukacita begitu Iwaizumi bertemu dengan pelepasannya.
Iwaizumi menempelkan keningnya di bahu sang kekasih yang bergetar akibat menahan tawa. Tangannya terurai lemas dan membiarkan Oikawa terbebas dari jeratannya. Kendati begitu, mereka tetap berada di posisi serupa dengan Oikawa yang semakin tertawa lepas.
“Kenapa nggak bangunin aku dari tadi?”
Pertanyaan sang kekasih membuat dirinya menghela napas. Ada sedikit malu yang akhirnya melingkupi, membuatnya menenggelamkan wajah di punggung lebar sang atlet voli.
“Kamu tidurnya nyenyak banget. Aku nggak tega bangunin,” tukasnya pelan, meski alasan itu terdengar tidak masuk akal karena perbuatannya justru membangunkan Oikawa.
Oikawa bergumam panjang. Nadanya terdengar penuh kontemplasi.
“Udah terlanjur, Hajime. Sekarang aku malah kebangun.”
Iwaizumi tak bersuara. Takut ketahuan bahwa dirinya tak merasa bersalah sama sekali.
“Sekalian aja gimana? Kita lanjutin yang semalem?”
Iwaizumi mendongak secepat kilat. Bagian bawah tubuhnya masih terasa basah dan lengket akibat putihnya yang keluar berantakan. Seakan tak acuh, Oikawa justru mulai bergerak pelan. Pria itu mendorong ke belakang seakan menegaskan maksud pertanyaan barusan. Iwaizumi tersentak saat kejantanannya tiba-tiba diraih oleh pria itu.
Oikawa menoleh dan menerbitkan seringai penuh tipu daya. Manik cokelat itu mengerling penuh goda ditemani suara halus yang terdengar memohon— mampu membuat siapa pun bertekuk lutut.
“Mau, kan?”
Dan Iwaizumi sudah bertekuk, bahkan sebelum pria itu meminta.
@fakeloveros