Bukannya sapaan berupa gimana hari ini? Capek, nggak? Yang diterima pertama kali olehnya saat masuk ke dalam mobil hitam itu justru—
“Bunganya udah dibuang, kan?”
Oikawa memutar bola mata. Setelah meletakkan tas dan memutar arah pendingin udara hingga menghadap ke arahnya, barulah ia mampu menjawab.
“Udah, Hajime. Nih, aku punya buktinya,” jawabnya seraya membuka gallery handphone dan memperlihatkan foto buket bunga yang tak lagi menghiasi mejanya, melainkan tempat sampah. Seolah merasa puas, Iwaizumi hanya mengangguk sekali sebelum mulai menyalakan mesin mobil.
“Aku udah nanya ke resepsionis kantor kamu.”
Oikawa menegakkan tubuh dan menolehkan wajah ke arah sang kekasih. Jantungnya otomatis berdetak lebih cepat manakala menanti jawaban yang akan keluar.
“Terus? Apa katanya? Gimana ciri-ciri pengirimnya?”
“Yang nganterin ternyata kurir. Dan katanya, kurir itu juga nggak nerima identitas pengirim. Dia cuma dikasih tahu kalau bunga-bunga itu perlu dikirim ke kamu.”
“Apa?” Oikawa tak memercayai apa yang baru saja didengarnya. Yang benar saja. Jadi, pengirim bunga-bunga itu sebegitunya ingin merahasiakan identitas? Tapi... kenapa? Apa karena dirinya sudah punya kekasih? Kalau begitu, seharusnya sejak awal orang itu tidak perlu repot-repot sampai mengirimi bunga segala.
Mereka berhenti di lampu merah. Tatapannya menerawang memperhatikan kedip angka yang terus berubah. Oikawa mengangkat jempol dan refleks menggigitinya— sebuah kebiasaan sejak kecil yang sulit dihilangkan tatkala dirinya merasa gugup atau gelisah. Ia teringat perkataan Kenji tadi sebelum pulang dan bagaimana dua minggu lalu ada yang menanyakan sesuatu soal dirinya.
Tiba-tiba, ada tangan yang meraih jemarinya dengan lembut dari samping.
“Jangan digigitin. Nanti luka.”
Oikawa dengan patuh melepaskan gigitan jempolnya. Iwaizumi masih menyetir dengan netra terfokus pada jalanan. Tangan mereka masih bertautan dan dirinya menatap lama pemandangan itu sebelum tanpa sadar bibirnya bergerak sendiri.
“Tadi… aku nanya ke temen-temenku yang ada di Marketing, siapa kira-kira yang habis ngasih nomorku ke orang lain dan jawabannya nggak ada. Cuma ternyata… dua minggu lalu ada yang nanyain soal—“
TRING TRING
Ucapannya terpotong oleh suara dering handphone. Iwaizumi otomatis melepaskan genggaman tangan mereka dan meraih ke dalam kantung jeans.
“Sorry, Tooru, boleh liatin siapa yang nelpon aku? Takutnya penting.”
Oikawa mengangguk meski tahu pria itu takkan bisa melihatnya. Ia mengambil benda pipih itu dan menatap layar yang menampilkan sederet nama cukup asing.
Sekaligus familier.
“Ushijima... Wakatoshi?” ucapnya lantang seraya menoleh ke arah sang kekasih. “Ini penting? Mau aku yang angkatin?”
“Boleh. Bilang aja aku lagi nyetir.”
Setelah menerima persetujuan, Oikawa menggeser simbol hijau itu ke atas.
“Halo? Maaf, Ha— Iwaizumi sekarang lagi nggak bisa angkat telepon soalnya lagi nyetir.”
Ada jeda yang panjang dari seberang sana.
“Halo?” Panggilnya sekali lagi seraya menjauhkan layar untuk memastikan sambungannya belum terputus. Iwaizumi meliriknya dari spion tengah, tetapi tidak mengatakan apa pun.
“Halo,” balas pria di seberang sana pada akhirnya. “Maaf. Sekarang saya sedang bicara dengan...?”
“Oh, saya Oikawa. Pacarnya. Kalau ada yang penting, boleh langsung diomongin aja. Nanti biar saya yang sampein ke Iwaizumi.”
Lagi-lagi ada yang jeda yang membuat Oikawa mengerutkan kening. Namun, tidak hanya itu. Entah mengapa seperti ada yang menusuk-nusuk bagian kepalanya untuk mengingat nama itu. Ia yakin pernah mendengar nama Ushijima Wakatoshi di suatu tempat.
Tapi di mana, ya... Oikawa berusaha mengingat-ingat.
“Kalau begitu, biar nanti saya telepon lagi Iwaizumi. Saya cuma mau mastiin jadwal pertemuan untuk minggu depan. Selamat sore, Oikawa.”
“Oh, iya. Selamat—”
TUT
Kali ini, Oikawa benar-benar menjauhkan handphone dari telinganya dan menatap layar yang sudah menampilkan tampilan home screen dengan kening berkerut bingung. Padahal dirinya belum selesai berbicara, tapi orang itu dengan seenaknya langsung memutus hubungan. Ia pun menyerahkan kembali benda itu kepada sang pemilik dan menyampaikan pesan yang barusan didengarnya.
“Itu... temen kamu, katanya nanti bakal nelpon lagi. Katanya juga cuma mau mastiin jadwal pertemuan buat minggu depan...?”
“Gitu katanya? Hmm, oke.”
“Itu siapa? Temen kamu di kantor? Kok kayaknya aku baru denger...?” tanyanya sedikit penasaran dengan asal muasal pria yang sejak tadi sedikit menyita pikirannya.
“Loh, kamu belum pernah ketemu orangnya di kantor? Dia temen aku dulu pas kuliah dan baru pindah kerja ke kantor kamu, cuma beda divisi aja. Dia ditempatin di tim perencanaan produk kalau nggak salah. Aku pernah ngasih tau, kok, kalian kerja di kantor yang sama.” Iwaizumi menjelaskan panjang lebar seraya memanuver setir mobil dengan lihai. Kalau tidak sedang memproses kalimat itu baik-baik, dirinya pasti sudah terdistraksi dengan gerakan barusan.
“By the way,” Iwaizumi kembali menyela di tengah laju pikirannya yang ke sana kemari, “tadi kamu mau ngomong apa?”
Ushijima Wakatoshi... Tim perencanaan produk... Orang baru di kantor...
“Oh, nggak. Tadi aku cuma mau ngajakin kamu dinner malem ini. Gimana?”
@fakeloveros