“Mungkin kita harusnya nggak—”
Omongannya dipotong, bahkan sebelum Akaashi mampu menyampaikan maksudnya. Namun, kentara sekali, pria yang tengah meminimalisir pergerakannya dengan menghimpitnya ke dinding itu tidak ingin mendengar sama sekali.
“Aku udah nunggu selama sepuluh tahun, Keiji,” ucap pria itu di atas rahangnya dengan napas tersengal. “Jadi, jangan suruh aku nunggu lagi.”
Yang lebih muda tentu saja ingin menyetujui perkataan tersebut, tapi lain cerita apabila mereka melakukan ini sekarang di tempat terbuka seperti—
“Kita ke tempat Kakak aja,” bujuknya setelah pagutan di bibirnya dilepas. Di balik kacamatanya yang sudah miring, Akaashi menggulirkan netra dengan panik ke sekeliling ruangan.
“Kejauhan.”
Pertanyaan tapi gimana kalau ada yang masuk? terpaksa ditelan kembali karena bibirnya sudah dialihfungsikan menjadi pemuas hasrat. Tanpa perlu membohongi diri sendiri, Akaashi tahu percuma saja berusaha melawan pria yang kini telah mengantongi titel sebagai kekasihnya. Ia memejamkan matanya rapat saat ada sapuan lidah di atas bibirnya yang tengah meminta izin. Akaashi pun tahu pertahanan dirinya sudah menyeluruh sempurna dari awal manakala pria itu menariknya ke dalam ruangan kecil ini.
Padahal setelah sepuluh itu, Akaashi yakin sekali bahwa mereka tidak akan—
“Kebiasaan.”
Akaashi tersentak, lantas membuka maka tatkala bisikan itu terdengar di atas telinganya. Napas hangat yang menerpa di sana membuat si surai hitam otomatis mencengkeram lengan berotot sang kekasih dengan lebih kencang.
“Kebiasaan,” ulang pria itu sekali lagi. “Pikiran kamu selalu ada di mana-mana kalau kita lagi kayak gini.”
“Ma— ah.” Akaashi menggigit bibir sebelum kata maaf yang sudah berada di ujung lidah berubah menjadi lenguhan panjang. “Maaf...” lirihnya berbarengan dengan napas lega yang keluar setelah Bokuto sedikit menarik diri dan menatap lehernya dengan tampang puas.
“Kamu mikirin apa, sih?” tanya pria itu, kali ini sambil menarik pinggangnya lalu memanuver tubuh mereka menuju kursi besar yang ada di balik meja. “Oikawa?”
Akaashi baru akan menggeleng, tetapi ia sedang tidak ingin menjelaskan dilema perihal hubungan mereka yang memiliki status baru ini. Jadi, ia pun menganggukkan kepala yang langsung disambut oleh senyum menenangkan.
“Tenang aja. Acaranya masih lama, kan? Lagian dia juga yang nyuruh kamu nggak usah nemenin. Terus kamu kepikiran apa lagi?”
Banyak sebenarnya yang Akaashi pikirkan— bibir Bokuto yang kerap menciumi garis rahangnya, lengan pria itu yang mengurungnya bagai rantai besi, serta sesuatu yang agaknya sudah mengeras di balik celana pria itu dan menyentuh selangkangannya tanpa ada penyangkalan.
Namun, Akaashi menelan itu semua dan lebih memilih melontarkan jawaban yang masuk akal.
“Kepikiran aja... gimana kalau si buaya ngomong sesuatu yang nggak-nggak ke Oikawa...”
“Apa? Si buaya?”
Bokuto memundurkan wajah dan menatapnya penasaran. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat iris emas yang berdilatasi dalam bayangan wajahnya sendiri. Tanpa bisa menahan diri, Akaashi menangkup kedua sisi wajah kekasihnya lalu mencondongkan tubuh untuk kembali mempertemukan bibir mereka.
“Nggak, bukan siapa-siapa.”
“Keiji—”
CEKLEK
Akaashi mendorong bahu Bokuto, kemudian buru-buru bangkit begitu mendengar suara pintu di belakangnya terbuka. Dengan wajah memerah menahan malu, ia menoleh untuk melihat siapa pelakunya.
“Oh. Sorry. Gue ganggu, ya?”
Keningnya berkerut kecil saat netranya bersibobrok dengan manik hijau yang menatap tanpa rasa bersalah meskipun bibir itu telah menukaskan kata maaf. Iwaizumi hanya meliriknya sekilas sebelum memusatkan perhatian pada Bokuto yang tengah mengerang lantang.
“Ganggu banget, bangsat.”
“Santai aja, dong,” ucap Iwaizumi seraya memutar bola mata. “Lagian kirain udah nggak ada orang di sini. Gue mau kunci-kunci. Lo cari tempat lain gih.”
“Lah, lo mau balik? Katanya mau agak lamaan di sini...?”
“Nggak, gue—” Iwaizumi meliriknya lagi, sebelum berdeham dan melanjutkan. “Gue emang mau stay di sini agak lama, tapi ruangan lain mau gue kunci sekarang. Perintah Saeko.”
Bokuto mendecak sebal dan akhirnya ikut bangkit sembari mengambil jaket yang berada di atas lantai. Semburat di pipinya kian terang kala mengingat bahwa itu merupakan hasil perbuatan tangannya dalam gerak frantik mereka menghapus jarak.
“Betah amat, sih, lo di gym. Pantesan aja gym kita aman dari gangguan setan. Penunggunya lo, sih.”
Yang diajak bicara tidak menjawab— hanya menyingkirkan tubuh dari depan pintu selagi mereka berdua berusaha lewat. Akaashi sudah hampir berjalan melewati pria itu, tetapi ada dorongan yang menghentikannya. Bokuto yang sudah hampir berlalu pun ikut berhenti dan menatapnya bingung.
Iwaizumi hanya memasang ekspresi datar sembari menunggunya berbicara.
“Oikawa itu... bukan cuma gue anggap temen, tapi juga udah kayak kakak sendiri. Emang kadang-kadang kelakuannya masih childish dan harus gue ingetin segala macem soal ini itu, tapi bukan berarti dia bodoh atau nggak peka kayak yang orang-orang bilang. Bukan berarti dia juga nggak berperasaan dan ignorant. Oikawa cuma... terlalu sering nyembunyiin perasaannya dan ngerasa bahwa semua orang yang deketin dia pasti ada maunya.”
Akaashi menarik napas dalam dan kali ini, menatap pria di hadapannya sungguh-sungguh.
“Gue nggak mau liat Oikawa ngerasain sakit lagi. Dia udah terlalu sering nerima omongan-omongan buruk dari orang-orang yang nggak tahu apa-apa. Gue bakalan dukung kalau emang dia seneng deket sama lo, tapi kalau lo sendiri punya maksud lain deketin dia...” Akaashi maju, lantas menatap tajam pria yang tak menampilkan perubahan raut wajah sedikit pun tersebut, “jangan harap habis itu hidup lo bakalan tenang.”
Setelah puas— setelah berhasil memuntahkan ancaman yang memang ingin ia utarakan di depan wajah pria itu langsung —Akaashi berbalik dan menarik tangan Bokuto agar meninggalkan tempat itu. Kekasihnya yang sedari tadi hanya memperhatikan dalam diam, turut mengikuti tanpa memberikan perlawanan sedikit pun.
Akaashi pun tidak perlu tahu ekspresi seperti apa yang diperlihatkan Iwaizumi setelahnya.
@fakeloveros