Tidak ada orang yang tidak membenci hari Senin.
Setidaknya filosofi itu berlaku pula untuknya. Matanya terasa berat meski sebelum berangkat sudah menghabiskan secangkir kopi pekatnya. Perutnya masih terasa amat kosong karena baru ada sebuah apel yang masuk. Kalau seseorang mengetahui hal ini, dirinya pasti sudah diomeli habis-habisan.
Udah aku bilangin, sebelum berangkat tuh seenggaknya kamu harus sarapan, Hajime! Nanti kalau pingsan di jalan gimana??
Bayangan itu setidaknya mampu mengangkat sudut bibirnya sedikit meski beban di hatinya belum juga berkurang sejak semalam. Ia merasa bersalah karena lagi-lagi harus kabur seperti ini. Mungkin kalau tidak berhasil menjadi pekerja kantoran, dia akan banting setir menjadi atlet lari sekarang. Setidaknya dengan begitu, kemampuannya tidak akan terbuang percuma.
“Pagi-pagi muka udah ditekuk aja.”
Adalah sapaan yang diterimanya pertama kali dari pria jangkung dengan kemeja berwarna marun. Iwaizumi mengernyit melihat pilihan warna itu, tetapi tak mengatakan apa pun yang mampu menimbulkan konflik di pagi hari. Ia sudah tahu alasan Kuroo menghampirinya pagi ini, bahkan sebelum maksud itu disuarakan.
“Gue kemaren ketemu Oikawa.”
Iwaizumi berpura-pura membereskan beberapa barangnya yang berserakan di atas meja.
“Gue baru tau lo pacaran sama dia. Kenapa nggak bilang, bro?”
Sekarang, tangannya sibuk menyalakan mesin komputer sembari membuka-buka laci seolah sedang mencari sesuatu.
“Dan dia keliatannya kaget karena selama ini lo nggak ngasih tau orang-orang di kantor.”
“Emangnya perlu?”
Layar komputer akhirnya menyala— memperlihatkan kolom kosong yang harus diisi dengan sederet password. Tanggal ulang tahun Oikawa.
“Hah?” Kuroo bertanya, setitik ketidakpercayaan terdengar di baliknya. “Emangnya perlu? Ya, perlulah! Apalagi di sini bukan cuma gue yang kenal sama Oikawa.”
“Ushijima tau, kok.”
Iwaizumi menjawab seolah itu bisa menjadi penyelesaian. Kuroo terbelalak, lantas menarik kursi dari kubikel sebelah untuk berbicara dari jarak lebih dekat dengannya. Pria itu memasang wajah paling serius yang pernah dilihat Iwaizumi selama mereka bekerja tiga tahun belakangan.
“Wa, ini mungkin kedengerannya kayak hal simpel. Bagi lo dengan ngasih tau Ushijima doang, mungkin masalah bisa selesai. Tapi lo sadar, nggak, di mata Oikawa sikap lo sekarang keliatan kayak gimana?”
Diam seribu bahasa menjadi jawabannya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar kaca. Pertanyaan Kuroo menusuk batin, sekaligus rasa bersalah yang selama ini berusaha ia sembunyikan.
“Nggak ada yang suka hubungannya sama partner sendiri dirahasiain kayak gitu, apalagi dari temen-temen pasangannya. Either lo nganggep hubungan itu secret affair atau lo malu sama—”
“Nggak pernah,” bibirnya membuka tanpa sadar dengan jari-jari terkepal di atas meja, “gue nggak pernah ngerasa malu sama hubungan gue dengan Oikawa. Jaga omongan lo.”
“Kalau gitu,” Kuroo beringsut maju dan sengaja menurunkan volume ucapan karena beberapa orang sudah mulai masuk ke dalam ruangan, “apa masalah lo sampe nyembunyiin hal itu?”
Bibirnya terbuka tanpa ada satu silabel pun yang keluar meski dia tahu persis jawabannya.
Masalahnya bukan di Oikawa.
Bukan pula di hubungan mereka yang sudah berjalan selama enam bulan.
Masalah itu terletak di dirinya.
“Tolong rahasiain dulu dari orang lain. Gue belum siap kalau orang-orang tau sekarang.”
Bukannya menjawab, Iwaizumi malah melontarkan permintaan yang membuat Kuroo melemparkan tatapan kekecewaan ke arahnya.
“Apa Oikawa udah tau lo ditawarin pindah cabang ke luar?”
Ia memalingkan muka. Tenggorokannya terasa kering dengan segumpal kapas yang seolah menyumbat di sana. Kepalanya terasa ditusuk oleh ratusan jarum dan punggungnya mulai mengeluarkan peluh tak nyaman.
Tanpa menjawab pun, Kuroo pasti sudah bisa menebak jawabannya.
@fakeloveros