Iwaizumi menatap layar gawainya lama. Ia sudah membuka pesan singkat itu sejak beberapa menit lalu. Oikawa mungkin sudah sadar sekarang bahwa ia hanya membaca tanpa membalas. Jarinya nyaris bergerak mengetikkan sesuatu kalau bukan karena suara Ushijima yang memotong gerakannya.

“Lo mau pesen apa?”

Dirinya mendongak. Kelopaknya mengerjap beberapa kali sebelum bahunya terangkat otomatis.

“Terserah. Gue ngikut aja.”

Lalu matanya dikembalikan ke layar.

Ushijima menggumam dari seberang dan menyebutkan beberapa menu kepada pelayan yang tengah menunggu. Iwaizumi mendengarkan samar-sama. Otaknya tidak bisa memikirkan apa pun. Ia hanya memandangi deretan kalimat itu tanpa berkedip seakan ada magnet yang mengubahnya jadi makhluk pasif.

“Kenapa lo dari tadi bengong?”

Iwaizumi mengangkat kepala untuk kedua kali. Tangannya perlahan turun hingga akhirnya mengunci layar dan meletakkan gawainya kembali ke dalam kantung. Ushijima mengikuti gerakannya itu dengan pandangan bertanya. Meski begitu, temannya tetap diam dan lebih menunggu dirinya untuk berbicara terlebih dulu.

“Nggak apa-apa. Cuma kepikiran aja soal yang tadi siang di kantor.”

Dan dirinya lebih memilih untuk berbohong.

Ushijima mengangguk. Tangan pria itu meraih gelas berisi air yang ada di atas meja. Keheningan jatuh sesaat sementara temannya itu menenggak cairan hingga setengah.

“Mendadak banget, sih, emang... apalagi negaranya lumayan jauh.”

“Lumayan?” Iwaizumi mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. “California lo bilang lumayan jauh?”

“Oke. Jauh banget, maksud gue.” Temannya mengoreksi sembari mengedikkan bahu. “Tapi itu kesempatan bagus. Nggak banyak orang yang bisa kepilih tiap tahunnya. Pasti bakal lo ambil, kan?”

Bibirnya terkatup rapat, membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara. Pesan singkat itu kembali memenuhi benaknya dan tangannya gatal ingin meraih gawainya dari kantung untuk menghubungi pria yang mungkin tengah menunggu balasan darinya. Tapi Iwaizumi merasa dirinya terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan itu malam ini. Jadi, dirinya hanya diam sampai pelayan datang untuk mengantarkan hidangan mereka.

“Gue... masih belum tau,” bisiknya saat pelayan itu sudah pergi. Dari sudut mata, Iwaizumi bisa melihat gerakan tangan Ushijima terhenti di udara. Saat netra mereka bersinggungan, ia bisa melihat kepemahaman mulai terbentuk di balik iris temannya itu.

“It’s okay. Lo masih punya waktu seminggu buat ngasih jawaban ke atasan kita. Sebelum itu lo bisa... berdiskusi dulu, mungkin, sama Oikawa?”

Perutnya bergejolak saat mendengar nama itu disebutkan. Pesan yang ia abaikan pun terasa seperti mimpi buruk yang siap menghantuinya malam ini. Ia bukan orang yang berani, jauh dari itu bahkan. Meski begitu, orang-orang selalu menganggapnya kebalikan. Mereka tidak tahu bahwa Iwaizumi menyimpan kekhawatiran yang berlimpah di balik topengnya. Mereka tidak tahu pergolakan batinnya jauh melampaui apa pun yang orang biasa mampu bayangkan.

Mereka tidak tahu bahwa Iwaizumi Hajime sedang merasa takut sekarang.


@fakeloveros