Baru saja Oikawa melangkah keluar dari gedung, ia sudah menyesali keputusan yang dibuatnya tadi pagi.

Mampus, dirinya merutuk dalam hati.

Di sana, di tempat biasa kekasihnya menunggu, si pemilik mobil tidak seperti biasa justru keluar dan berdiri sembari menyenderkan tubuh dengan tangan terlipat di depan dada. Bahkan dari kejauhan, Oikawa bisa melihat kening pria itu mengerut bingung begitu mendapati benda yang ada di tangannya.

Rasanya Oikawa ingin melempar buket bunga yang ada di tangannya detik itu juga.

“Bunga dari siapa itu?”

Ia bahkan baru membuka mulut untuk menyapa, tetapi Iwaizumi keburu mendahuluinya dengan pertanyaan yang sudah diduganya akan datang.

“Aku jelasin dalem mobil, ya? Ayo masuk dulu biar nggak diliatin orang-orang,” bujuknya sedikit gugup seraya memutari mobil menuju kursi penumpang. Yang diajak bicara tidak mengatakan apa pun meski kening pria itu berkerut kian dalam. Untungnya, Iwaizumi mendengarkan kata-katanya karena tak beberapa lama setelah dirinya menutup pintu mobil, terdengar bunyi yang sama dari sebelahnya.

“Siapa yang ngasih itu ke kamu?”

Oikawa menghela napas. Tidak ada gunanya dia mengulur waktu. Lagi pula, lebih cepat diselesaikan tentu akan lebih baik, bukan?

Iya, kan? Dirinya berusaha memastikan dalam hati.

“Nggak tau dari siapa. Tapi ini... udah dikirimin dari kemaren.”

“Dari kemaren? Maksudnya?”

“Maksudku,” Oikawa meletakkan bunga itu di atas dashboard dan Iwaizumi mengikuti gerak tangannya seakan ia sedang memegang sesuatu yang berbahaya, “udah dari hari Senin ada yang ngirimin aku bunga, tapi nggak ada nama pengirimnya. Jadi, aku nggak tau itu dari siapa. Cuma kata resepsionis bener— itu buat aku.”

Ada keheningan panjang yang menyusul setelahnya. Oikawa bergerak gelisah selagi diam-diam menantikan reaksi pria itu.

Namun, nihil. Iwaizumi hanya terdiam tanpa menunjukkan perubahan ekspresi. Tak urung, Oikawa pun mengerutkan kening dengan waswas.

“Kamu... nggak marah?” Tumben.

“Kata siapa aku nggak marah?”

Oh.

“Te...rus? Kok diem aja?”

“Aku lagi mikir gimana caranya biar orang yang suka ngirimin kamu bunga ini tahu kalau kamu udah punya pacar,” jawab Iwaizumi sembari meraih buket bunga itu dan memainkan beberapa kelopaknya. Kalimat itu dikatakan dengan tenang, tapi Oikawa tahu lebih baik dari siapa pun bahwa tenangnya Iwaizumi Hajime ketika sedang marah atau kesal justru jauh— jauh lebih mengerikan.

“Kata temenku... bisa aja orang ini udah tahu, cuma dia tipe yang... nggak mau nyerah?” Setelah melemparkan jawaban yang lebih berupa pertanyaan, Oikawa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Netra pria itu telah kembali ke arahnya dan kali ini dilayangkan penuh kontemplasi.

“Kamu tahu siapa kira-kira orang yang ngirimin ini?”

Oikawa menggeleng— mungkin terkesan terlampau cepat hingga kekasihnya langsung mengangkat satu alis.

“Kamu yakin?”

Ia mengulangi gestur yang sama untuk kedua kali. Manik cokelatnya hanya bergulir mengikuti gerakan Iwaizumi yang meletakkan bunga itu di jok belakang. Namun, belum ada sedetik otaknya meregistrasi apa yang terjadi selanjutnya, Iwaizumi telah menyudutkannya hingga membuatnya menarik napas tercekat. Sayang, itu satu-satunya pasokan udara yang berhasil masuk sebelum sang kekasih menggigit bibir bawahnya dan memberi pagutan keras di sana. Untungnya, refleks pria itu bekerja lebih cepat saat meletakkan satu tangan di belakang kepalanya hingga tak sampai menabrak jendela mobil.

Oikawa sendiri mencengkeram bahu pria itu sebagai gerak spontan. Matanya terpejam erat kala Iwaizumi membuka bibirnya dan melesakkan lidah begitu saja. Dalam sedetik, Oikawa langsung melupakan apa sumber kegelisahannya maupun rasa gugup yang menyerangnya saat jam pulang kantor tiba— tahu bahwa mau tak mau, dia harus mengatakan kejadian berturut-turut yang tak bisa dibilang menyenangkan tersebut.

Karena memang seperti itulah rasanya berciuman dengan Iwaizumi. Ia bagai merasakan begitu banyak hal sekaligus mati rasa dalam waktu yang bersamaan. Ia melupakan semuanya, juga mengingat satu per satu memori dengan pria itu yang tertinggal di atas kulitnya. Iwaizumi layaknya api yang membakar semua, tetapi juga gulungan ombak di lautan yang membuatnya hanyut dalam tenang.

“Ha-Hajime...” Oikawa tergagap dalam ciuman mereka yang terjeda. Pipinya mengeluarkan semburat merah saat menyaksikan sebenang tipis saliva yang menghubungkan mereka terputus begitu sang kekasih mengambil jarak. Ia menggigit bibir saat Iwaizumi menunduk dan ganti menyerang ceruk lehernya dengan ciuman yang tak kalah panas. Matanya bergulir panik saat mendapati sekumpulan orang berjalan menuju tempat parkir. Meski tahu jendela mobil pria itu berwarna hitam pekat, tetap saja rasanya seperti bercumbu di ruangan terbuka.

“T-tunggu... Hajime... J-jangan di sini...” Ia berusaha menghentikan pria itu menandai lehernya lebih banyak. Sudah terbayang seberapa tebal concealer yang harus ia gunakan besok. Tetapi untuk sekarang, mereka punya urgensi lain. “Gimana kalau kita... lanjutin di apartemenku? Jangan di sini... Banyak orang...”

Untuk sedetik, Oikawa pikir Iwaizumi takkan mengindahkannya dan benar-benar melanjutkan aktivitas panas mereka di dalam mobil. Tak disangka, pria itu justru menarik diri menjauh dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi mobil. Oikawa menarik napas lega lalu menegakkan tubuh dan menghadap kembali ke depan.

“Oke. Kita lanjutin ini di apartemen kamu. Dan besok...” Iwaizumi tahu-tahu menarik pinggangnya hingga bahunya menyentuh dada bidang pria itu. Oikawa mencengkeram lengan sang kekasih saat telinganya menerima gigitan kecil dan bisikan yang terdengar sedikit mengancam di sana.

“Besok... kamu nggak boleh nerima bunga itu lagi, atau aku bakal bener-bener cari orangnya.”


@fakeloveros