Bunyi bel di atas pintu kafe menjadi penanda kehadirannya. Kepalanya mengangguk singkat sebagai bentuk balasan dari sapaan ramah pelayan yang berdiri di balik counter. Matanya bergulir mencari sosok bersurai cokelat dan langsung menemukan si empunya duduk membelakangi pintu dengan kepala sedikit tertunduk. Kakinya melangkah menghampiri dan berhenti tepat saat pria itu mendongak dari layar gawai yang tengah dicermati.
“Hei, udah nunggu lama?” tanyanya basa-basi selagi mengambil tempat di seberang. Oikawa menggeleng sambil melipat tangan di atas meja. Iwaizumi melirik sekilas dan mendapati kekasihnya itu tersenyum simpul.
Nyaris seperti dipaksakan.
“Belum, tapi aku udah mesen minuman duluan. Tadinya kamu mau aku pesenin juga, tapi takutnya kamu udah minum kopi hari ini.”
Iwaizumi meneguk ludahnya kasar. Bahkan di situasi canggung seperti ini, pria itu masih memedulikan kondisi kesehatannya.
“Makasih. Aku... emang udah minum kopi tadi pagi.”
Oikawa mengangguk. Pria itu lantas mengalihkan atensi ke arah lukisan di samping meja mereka seakan enggan untuk menatapnya.
“Kamu nggak laper?” tanyanya lagi, demi memecah keheningan tak nyaman tersebut. “Kalau mau sekalian pesen makan juga nggak apa-apa.”
Surai cokelat itu sedikit bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti gerakan pemiliknya. Oikawa memberi jawaban tanpa membuka mulut sama sekali. Dari sekian lama mereka saling mengenal, baru sekarang Iwaizumi melihat pria itu sebisu ini.
Tanpa bisa ditahan, Iwaizumi lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri.
“Aku—”
“Hajime.”
Alarm berbunyi di kepalanya. Nada itu terdengar tidak menyenangkan— tidak dengan nada ceria seperti yang biasa Oikawa Tooru lontarkan. Ada dorongan yang amat kuat untuk meraih Oikawa detik ini juga dan menghapus raut sedih yang terpatri di wajah mulus sang kekasih.
Kendati begitu, tubuhnya justru terduduk kaku dengan berbagai skenario terlintas di benaknya. Skenario terburuk adalah Oikawa akan memutuskan hubungan mereka detik itu juga tanpa ada kesempatan baginya untuk menjelaskan.
“Mungkin selama ini... aku yang udah nganggep terlalu serius hubungan kita. Mungkin bagi kamu... masih sulit buat nerima aku yang dulu selalu ngejar-ngejar kamu duluan. Mungkin aku yang udah terlalu maksa dan aku pun nggak akan nyalahin kalau kamu emang ngerasa kayak gitu. Cuma aku pikir... kalau kamu emang nggak ngerasain hal yang sama, harusnya kamu tolak aja aku dari awal. Daripada kamu terpaksa atau malu ngejalanin hubungan ini sama aku. Kalau kamu emang mau kita udahan, bilang aja. Aku pasti bakalan per—”
“Stop.”
Berhenti. Semua terasa ikut berhenti di sekitarnya. Musik yang mengalun pelan. Langkah kaki pelayan yang sibuk membersihkan meja bekas pengunjung. Jantungnya. Napasnya.
Oikawa-nya.
Netra sewarna batang pohon itu mengerjap cepat. Gerakan itu membuat lapisan bening di atasnya perlahan menghilang dan Iwaizumi harus menahan dirinya sendiri agar tidak memukul dinding di samping mereka. Napasnya keluar dalam ritme cepat dan ia harus memejamkan mata sesaat untuk membiarkan udara masuk kembali ke paru-parunya.
“Bukan. Kamu salah paham.”
Sejujurnya, ada hari di mana Iwaizumi selalu menunggu saat-saat di mana hubungan mereka akan berjalan ke arah yang salah. Ia merasakan takut yang amat sangat sehingga tanpa sadar memasang ekspektasi yang rumit. Ia takut kebahagiaan yang dirasakannya selama bersama Oikawa akan menghilang suatu hari nanti. Dan tanpa sadar, ketakutannya itu membungkus dirinya sendiri dalam gelembung besar yang menghalau siapa pun untuk melangkah mendekat.
Termasuk Oikawa.
“Kamu... pantes dapetin orang yang lebih baik dari aku.”
“Bullshit.”
Nada itu mengeras; tak lagi rapuh dengan keraguan dan kemungkinan-kemungkinan tak berdasar. Netra itu menatapnya tajam seakan siap menghalau segala pembelaan yang akan keluar dari mulutnya kapan saja.
“Kamu tau itu alasan paling klasik, Hajime. Kalau kamu emang mau mutusin aku, at least cari alasan yang lebih bagus.”
Kepalanya menggeleng berulang kali. Tidakkah Oikawa paham? Ia tidak seperti yang selama ini orang-orang pikirkan. Ia tidak pantas. Oikawa terlalu baik— terlalu sempurna untuk dirinya yang kerap kali meragukan segala hal.
“Aku ditawarin pindah kerja ke cabang luar negeri. Irvine, California.”
Bahkan dari sudut mata, ia bisa melihat Oikawa menarik napas terkejut.
“Apa?”
Iwaizumi meneguk ludahnya sekali lagi. Rasanya seperti berusaha mengeluarkan racun yang ada di dalam tubuhnya selama ini— sakit, tetapi memang diharuskan.
“Aku belum ngasih jawaban. Atasanku bakalan nunggu sampai minggu depan.”
“Apa kamu bakal... nerima?”
Oikawa terdengar takut. Ada getar tak kasatmata yang mampu ia deteksi dengan jelas. Iwaizumi membayangkan mereka seperti tengah melangkah di atas selapis kaca yang amat rapuh. Tinggal menunggu seseorang untuk melangkah sebelum lapisan itu hancur berkeping-keping.
Setidaknya, Iwaizumi tidak akan membiarkan Oikawa terjatuh pertama kali.
“Kemungkinan besar... iya.”
Ada isak yang lolos terdengar dari seberang meja. Iwaizumi mengangkat wajah dengan terkejut. Namun, sebelum dirinya melihat pemandangan yang paling dibencinya itu, Oikawa sudah berdiri dan berlari keluar dengan bunyi bel menggema bagai penanda berakhirnya hubungan mereka.
@fakeloveros