Bukannya mendapat jawaban berupa teks, handphone-nya justru mengeluarkan nada dering yang menandakan ada telepon masuk. Hinata mengerutkan kening saat mendapati caller ID yang tertera di layarnya adalah Kageyema.

“Halo?” jawabnya tanpa mengulur waktu lebih lama.

“Lo di mana? Di rumah?” tanya pemuda dari seberang sana tanpa berbasa-basi.

“Iyalah. Kenapa emang?”

“Gue mau ke sana. Ortu sama adek lo lagi ada di rumah, nggak?”

Hinata melirik jam yang ada dinding. Tak ayal, keningnya pun mengernyit semakin dalam.

“Jam segini? Mau ngapain emang?”

Hening sebentar.

“Ya mau ketemu lo aja. Nggak boleh?”

“Boleh, kok, boleh bangeeet,” tukas Hinata seraya diam-diam menyunggingkan senyum kecil. “Nanti kasih tau aja kalau lo udah otw.”

“Oke.”

Dan setelah memberi salam, mereka sama-sama memutus sambungan tersebut. Hinata segera bangkit dan meraih kabel charger dari atas meja untuk mengisi daya handphone-nya yang tinggal setengah. Selagi berdiri, matanya tak sengaja menangkap refleksi dirinya di dalam kaca. Ia menghela napas keras-keras dan mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak awal.

“Duh, ganti baju deh sekalian... mumpung Tobio mau ke sini.”


“Mana? Katanya ada ayah ibu lo di rumah?” tanya pemuda bersurai hitam itu begitu Hinata mempersilakan masuk dan menutup pintu di belakang mereka.

“Udah pada di kamar,” balasnya singkat sembari mendorong punggung kekasihnya agar mulai berjalan. “Lo mau minum apa? Gue ambilin.”

Kageyama menggeleng dan malah menarik tangan Hinata. Mereka berjalan cepat menuju kamar hingga Hinata pun membiarkan begitu pintu kamarnya segera ditutup. Hinata bahkan tidak sempat mengeluarkan protes dan hanya mengeluarkan pekikan tertahan saat tubuhnya didorong ke atas tempat tidur. Sedetik kemudian, ada beban yang ikut berbaring dan memeluknya erat.

Yang lebih mungil itu mengerjapkan mata berulang kali. Hinata sedikit menegakkan duduknya supaya bisa bersandar di kepala tempat tidur. Kageyama mengikuti gerak tubuhnya tanpa melepaskan rengkuhan di sekitar perutnya sedikit pun.

“Ngapain lo?” tanyanya dengan sedikit bingung. Meski begitu, tangannya tetap terangkat untuk menyentuh surai hitam yang menguarkan aroma segar tersebut.

“Meluk lo. Nggak liat?” balasan Kageyama terdengar sedikit teredam karena pemuda jangkung itu masih menenggelamkan wajah di perutnya.

Hinata merotasikan kedua bola matanya. “Maksud gue, tumben amat gitu, loh? Kerasukan apa lo?”

“Anjing galak.”

“Hah?” Hinata membeo tak paham. “Kok anjing galak?”

“Lain kali,” Kageyama sedikit mendongak dan Hinata tertegun saat mendapati wajah kekasihnya mengeluarkan semburat merah, “kalau ada yang nembak lo lagi, bilang lo udah punya pacar dan pacarnya galak.”

“Kayak anjing... galak?” Hinata bertanya memastikan. Bibirnya mulai melengkung ke atas sembari bersusah payah menahan tawa.

Kageyama tidak mengeluarkan suara dan hanya mengangguk sebelum menenggelamkan wajah di perutnya lagi. Hinata menggeliat kegelian, tetapi tak mendorong pemuda itu menjauh.

“Ada-ada aja...” Dirinya menggeleng tak habis pikir. Kendati begitu, tangannya tak berhenti memainkan setiap surai lembut yang berada di antara jemarinya.

Untuk sesaat, yang terdengar hanya tarikan napas teratur milik mereka berdua dan deru halus pendingin udara di dalam kamar.

“Sho,” panggil kekasihnya lagi setelah beberapa saat diliputi keheningan.

“Hm?”

“Boleh cium, nggak?”

Jantungnya otomatis memompa lebih cepat manakala pertanyaan itu terlontar dari bibir Kageyama. Tangannya berhenti bergerak dan Kageyama langsung melentangkan tubuh. Hinata menunduk hingga netra mereka bertemu pandang.

“Nggak boleh?” tanya Kageyama sekali lagi, dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisikan. Hinata refleks mencengkeram celana piyamanya karena mana mungkin dia menolak permintaan tersebut meski dirinya masih merasa sedikit aneh karena mereka baru meresmikan hubungan beberapa minggu lalu.

Hinata pikir dulunya Kageyama takkan pernah menganggapnya lebih dari sekadar teman dekat, terutama karena mereka sudah saling mengenal sejak SMA. Namun, begitu masuk kuliah, Hinata tidak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama. Ia sadar, seiring bertambahnya umur, ada dorongan afeksi yang kian ingin dia lakukan bersama si pemilik netra biru.

Maka saat diketahui bahwa perasaannya bersambut, Hinata merasa ia telah menjadi pemuda paling bahagia di seluruh dunia.

Lucunya, afeksi berupa sentuhan masih canggung mereka lakukan, terutama di depan umum. Mereka pun masih bersikap layaknya tak ada yang berubah di hadapan publik. Mungkin itu sebabnya masih ada beberapa orang yang mengira hubungan keduanya masih berada dalam zona pertemanan.

Sekarang, Hinata justru bersyukur Kageyama bukan lagi hanya teman dekatnya.

“Boleh.”

Bagai lampu lalu lintas yang berubah jadi hijau, Kageyama langsung meneggakan tubuh dan meraih bagian belakang kepalanya. Hinata memejamkan mata dan merasakan bibir yang cukup familier bersentuhan dengan miliknya. Jantungnya bertalu cepat mengalahkan suara kendaraan di luar sana yang menandakan malam masih begitu hidup.

Hinata menutup kelopaknya semakin erat dan mengeratkan cengkeraman di bagian depan kaus milik sang kekasih begitu merasaka sapuan kecil lidah di atas bibirnya— izin tanpa suara sang kekasih agar dirinya memberi ruang lebih untuk mereka saling mencumbu kasih.

Dan Hinata membiarkan— selalu. Dari dulu. Seperti halnya Kageyama yang sudah masuk ke hatinya, bahkan sebelum pemuda itu menuntut izin.

“Mhmh—” Bibirnya meloloskan satu desahan kecil saat Kageyama dengan sengaja menggigit bagian bawah bibirnya sebelum memberi jarak untuk memasok udara. Dada mereka sama-sama naik turun. Matanya terasa berat. Hinata dengan malu mengangkat tangan untuk menyeka sekitar mulutnya yang terasa basah dan berantakan oleh saliva. Netra biru gelap di hadapannya mengikuti gerakan tersebut sebelum memejamkan mata sejenak.

“Shit.” Kageyama mengutuk di bawah napas dan langsung menyembunyikan wajah di bahu Hinata. Dirinya melirik ke bawah dan mendapati telinga dan leher pemuda itu sudah memerah. “Gue suka banget sama lo.”

Hinata tak bergerak. Tak mampu bergerak.

“Makanya gue nggak mau ada orang lain yang deketin lo lagi. Gue mau mereka semua tau lo udah punya pacar.”

Hinata menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang barusan sudah terkulai lemas, kini terangkat kembali untuk merengkuh kekasihnya.

“Kalau gitu, kita tunjukkin aja ke orang-orang.”


@fakeloveros