sua

Padahal dari awal Oikawa sudah berjanji tidak akan menormalisasi rasa berdebar serta antisipasi tingginya sebelum datang. Premis yang terbentuk di otaknya pun sederhana—

jangan baper dulu, bego.

(Harusnya, sih, sederhana.)

Tapi di bagian mana yang sederhana kalau sekarang saja kepalanya seperti terbagi dua dengan opini berbeda? Satu menyatakan persetujuan bahwa Iwaizumi itu ibarat walking red flag, sedangkan satu lagi mendiamkan segala alarm tanda bahaya dan meyakinkannya bahwa ini kesempatan bagus.

Oikawa bimbang. Dirinya tidak pernah dibuat seperti itu oleh seorang pria. Biasanya, dialah yang selalu menuntun keadaan dan membuat keputusan.

Apa yang membuat situasinya dengan Iwaizumi kali ini berbeda?

Selagi pergumulan itu menyita konsentrasi, tahu-tahu kakinya sudah tiba di depan pintu yang selama seminggu terakhir tak pernah ia lihat. Tanpa ragu, Oikawa membukanya dan langsung disambut oleh pemandangan sang objek penyita pikiran yang sedang melakukan pemanasan seorang diri. Oikawa terpaku di ambang pintu saat mengawasi pria itu meregangkan lengan, membusungkan dada, dan membuat gerakan-gerakan tinju. Matanya menelusuri penuh minat garis dan lekuk otot di setiap inci kulit matahari terbakar tersebut.

Oikawa menelan ludah.

“Hei, baru dateng? Tumben telat?”

Iwaizumi yang sudah menyadari kehadirannya lantas berhenti dan menyapa ringan. Pria itu berkacak pinggang, yang justru membuat keadaan bertambah gawat karena kaus itu kian memperlihatkan bentuk dada bidang si empunya.

Oikawa langsung menyesal kenapa dirinya tidak berpura-pura pingsan saja barusan. Namun, pertanyaan Iwaizumi sedikit banyak memunculkan kembali rasa kesalnya satu jam yang lalu akibat kedatangan mendadak Terushima ke lokasi syuting. Ternyata pria itu termasuk tipe yang keras kepala dengan seenaknya menagih jawaban secara langsung setelah Oikawa— dengan teramat sengaja —tidak membalas chat yang terus masuk.

Terpaksa, minggu ini ia harus menyenangkan hati sang executive producer dengan menyetujui ajakan untuk datang ke premier film sekaligus makan malam bersama.

Dengan seringai yang sedikit dipaksakan keluar, Oikawa menutup pintu di belakangnya dan melangkah maju. Iwaizumi yang masih melakukan peregangan, menangkap langkah hati-hatinya dengan mata menyipit curiga.

“Kenapa kamu jalannya kayak orang takut gitu? Sini, masuk aja.”

Demi menghilangkan kegugupan, netranya menyisiri ruangan, tetapi tidak menemukan satu sosok tambahan seperti yang sudah dijanjikan Iwaizumi sebelumnya.

“Loh, yang kata kamu mau ikut kita latihan mana? Si... Kageyama itu?”

“Lagi keluar sebentar. Aku suruh dia balik ke sini setengah jam sebelum latihan kita selesai. Banyak yang perlu kita catch up sebelum kamu mulai sparring sama dia.”

Mulutnya membentuk tanda O kecil. Entah perasaannya saja, atau Iwaizumi memang terlihat lebih santai hari itu? Oikawa sendiri terus diingatkan dengan kejadian terakhir di rumah sakit sehingga dirinya tidak bisa berlama-lama menatap bibir pria itu.

Oikawa berdeham, lantas mulai membuka jaket yang menjadi lapisan terluar training suit-nya. Tidak menyadari ada iris hijau di belakang punggungnya yang mengikuti setiap gerakan.

“Ternyata bener, ya.”

Baru Oikawa ingin berputar dan bertanya apa maksud pernyataan tiba-tiba pria itu, ada presensi hangat yang melingkupi punggungnya dari belakang. Oikawa berhenti bergerak saat tangan Iwaizumi menyentuh ringan bahunya. Ia menoleh dan mendapati tatapan Iwaizumi seolah tengah meminta izin.

“Bener apanya?” tanyanya dengan suara yang terdengar sedikit parau. Oikawa berdeham lagi beberapa kali. Namun, lidahnya justru dibuat kelu akibat gerak tangan Iwaizumi yang menelusuri lengannya secara perlahan— sesekali memberi remasan lembut di beberapa titik.

“You do have muscles.”

Tiga detik. Oikawa membiarkan keheningan itu lewat selama tiga detik penuh sebelum mendorong Iwaizumi ditemani bibir yang mengerucut ke depan. Pria yang didorongnya hanya tertawa seolah dorongan itu tidak memberikan efek apa pun.

“Ah, ngeledek, ya!”

“Nggak, nggak. Aku baru mau ngasih kamu pujian.”

Oikawa berusaha menyembunyikan rona di wajahnya yang sudah sewarna kepiting rebus. Cepat-cepat dia berjalan ke pinggir dan meletakkan jaketnya di atas bangku panjang.

“Oikawa.”

“Hm?” gumamnya, setengah berbalik dan mendapati pria itu tengah membuat ekspresi menimbang-nimbang.

“Nggak jadi. Nanti aja. Oh, ya, minggu ini kamu ada acara?”

“Minggu ini?” beonya dengan sedikit terkejut. “Eh, aku kebetulan... udah ada janji, sih. Kenapa?”

“Gitu? Tadinya aku mau ngajakin kamu ngelanjutin nonton film yang waktu itu sempet kepotong gara-gara...” Iwaizumi mengerling dengan tatapan penuh arti dan Oikawa harus mengepalkan tangan agar semburat di wajahnya tidak semakin kentara, “tapi kalau kamu udah ada acara, kapan-kapan aja.”

Oikawa mengeluarkan segara sumpah serapah dalam hati. Berengsek. Seandainya Iwaizumi mengajaknya lebih cepat, tentu dia bisa membuat alasan masuk akal untuk menolak tawaran Terushima. Jangan salah paham. Setidaknya menghabiskan waktu tanpa berpura-pura dengan Iwaizumi tentu lebih menyenangkan dibanding harus tersenyum sepanjang malam di depan yang lebih muda.

Benar. Itu saja. Tidak ada alasan lain.

“Kalau gitu, ayo kita mulai latihannya sekarang. Biar nanti pas Kageyama dateng, kamu udah siap,” celetuk pria itu lagi manakala melihat dirinya yang hanya terdiam di tempat. Oikawa buru-buru mengangguk dan mulai melakukan peregangan.

Sepertinya minggu ini akan menjadi yang terpanjang baginya.


Kageyama— kalau Oikawa boleh menjabarkan secara gamblang —bukanlah pribadi yang menyenangkan untuk diajak bersenda gurau. Pria itu bersikap terlalu serius untuk ukuran orang yang lebih muda dua tahun darinya. Netra biru itu menusuknya tajam saat pertama kali mereka saling berkenalan seolah dirinya telah melakukan suatu kesalahan fatal. Dan Oikawa tidak mengerti bagaimana seseorang bisa sehemat itu dalam berbicara.

Namun, Kageyama mendengarkan dengan baik setiap arahan Iwaizumi. Pria itu patuh tatkala Iwaizumi memerintahkan agar tidak melakukan serangan yang terlalu kencang terhadapnya. Ada kalanya Oikawa harus menahan tawa karena pemandangan yang disuguhkan di depan matanya membuat kedua orang itu terlihat seperti ayah dan anak.

“Dia udah berapa tahun di sini?” tanyanya ingin tahu setelah sesi latihan mereka selesai dan Kageyama sudah pamit pulang. Sisa dirinya dan Iwaizumi yang masih berada di sana— duduk di bangku panjang dengan botol minum di tangan masing-masing. Iwaizumi melirik sekilas saat dirinya bertanya sambil membuka penutup botol.

“Udah mau dua tahun,” jawab pria itu sebelum menengadah dan menenggak air mineral yang ada di dalam botol hingga setengahnya. Oikawa mengikuti gerak jakun pria itu yang naik turun bagai ombak dengan matanya. Barulah ketika Iwaizumi mulai menurunkan tangan, Oikawa buru-buru menghilangkan dahaga dari botolnya sendiri.

Bedanya, Iwaizumi memperhatikannya secara terang-terangan.

Oikawa berusaha untuk tidak tersedak— meskipun sulit —karena tatapan intens pria itu dari samping jelas sekali ditujukan untuk siapa.

“Gimana syuting filmnya? Lancar?” Tanpa diduga-duga, Iwaizumi justru membuka topik yang Oikawa pikir tidak akan pernah dibahas sama sekali. Pasalnya, dari awal pria itu terlihat seolah tidak tertarik dengan profesi yang dijalaninya, sekalipun Oikawa merupakan salah satu aktor paling ternama di negara mereka.

“Hmm, so far so good. Nggak ada kendala, sih. Sutradaraku malah ngasih pujian.”

Iwaizumi memberi anggukan singkat. Oikawa berpura-pura tertarik dengan salah satu poster besar yang menempel di dinding. Ia masih belum berani menoleh.

“Kalau... cowok yang suka jalan sama kamu itu siapa? Apa dia aktor juga?”

DUKH. Oikawa tidak sengaja menjatuhkan botol minumnya. Kepalanya menoleh cepat dengan mulut sedikit terbuka saat mendengar pertanyaan tersebut terlontar tanpa aba-aba.

“Cowok...? Siapa?” tanyanya bingung.

Iwaizumi mengedikkan bahu. Ekspresi pria itu tidak berubah.

“Nggak tau. Aku cuma pernah liat foto kalian sekilas di artikel berita. Kalau nggak salah, headline-nya kalian habis sarapan bareng.”

Oh. “Dia... executive producer film yang sekarang ini.”

Manik hijau itu membulat seolah meniliknya lebih dalam. “Kamu deket sama dia?”

“Nggak, tapi... dia emang beberapa kali ngajak makan bareng.”

Iwaizumi mengeluarkan gumaman panjang. “Berarti dia yang deketin kamu?”

Sekarang Oikawa merasa dirinya seperti sedang diinterogasi.

“Ngapain kamu nanya-nanya soal ini?”

Bukannya langsung menjawab, pria itu malah menampilkan senyum kecil.

“Karena,” balas Iwaizumi setelah Oikawa dibuat menunggu dalam beberapa sekon yang terasa begitu panjang, “kalau habis ini kamu bakal jawab iya buat tawaran aku yang waktu itu, aku nggak mau ada orang lain di luar sana.”

Ada keheningan yang menggantung di udara. Oikawa memberengut demi menutupi kegugupannya yang kembali muncul ke permukaan.

“Aku nggak bilang bakal jawab sekarang, kan.”

“Nggak apa-apa, aku tungguin sampai kamu siap jawab,” tukas sang atlet ringan seolah jawabannya sudah terlebih dulu diprediksi. Oikawa menggerutu di bawah napasnya dan Iwaizumi membalas dengan mendengus pelan.

“Kenapa, sih, pake ditunda-tunda segala? Aku tau kamu mau jawab iya.”

“Sok tau.”

Kendati masih dibuat gelagapan, tak ayal, tudingan pria itu membuatnya kesal. Oikawa sungguh ingin tahu apa yang menyebabkan pria itu amat percaya diri dengan mengatakan bahwa dirinya akan menjawab iya.

“Kalau aku jawab nggak, kamu bakal ngapain emang?” tantang Oikawa dengan dagu yang sedikit diangkat. Ia tidak ingin menjadi pihak yang seolah akan dirugikan di sini. Toh, itu hanya tawaran untuk menjalani hubungan friends (atau colleague?) with benefit. Bukan sekali dua kali Oikawa pun pernah terlibat dalam entitas serupa.

Tapi ketika pertanyaan itu tidak langsung digubris, Oikawa menyatukan kedua alisnya dengan heran karena Iwaizumi hanya menatapnya tanpa suara. Pria itu mungkin orang paling sulit untuk dibaca yang pernah Oikawa temui karena ia tidak bisa mengartikan apa pun dari pandangan tersebut.

“Aku bakal berusaha,” Iwaizumi berhenti sejenak, “supaya kamu jawab iya. Karena aku beneran mau bantuin kamu keluar dari rumor-rumor itu.”

Oikawa mengupayakan agar ekspresinya tetap netral meski dalam hati perasaannya campur aduk. Teringat akan peringatan Akaashi tempo lalu, mungkin memang benar Oikawa harus memikirkan persoalan ini matang-matang.

“Minggu ini aku ada janji dateng ke film premiere sekaligus makan malem bareng Teru— maksudku, executive producer yang tadi kamu tanya-tanya.” Oikawa tidak tahu apa alasan persisnya mengumumkan hal tersebut. Tapi ia sungguh ingin melihat reaksi Iwaizumi. “Kalau sampai selesai acara dan nggak ada jawaban apa-apa dari aku, menurutku... itu artinya kamu nggak perlu usaha lagi.”

Begini lebih baik, pikirnya dalam hati. Oikawa harus memainkan kartunya dengan benar. Dia sudah terbiasa menjadi penentu situasi. Ini bukan saatnya dia memasrahkan diri pada keberuntungan yang belum pasti. Ia udah sering membuat lubang untuk para kelinci agar terjatuh ke dalamnya. Tidak mungkin, kan, jika sekarang dialah yang akan menjadi kelinci tersebut?

Sekalipun ada iming-iming wortel yang melimpah ruah di bawah sana.

“Oke. Kayak yang tadi aku bilang, bakal aku tungguin,” balas Iwaizumi dengan kening sedikit berkerut. “Tapi sekali nanti kamu udah jawab iya, nggak peduli ini mau jadi rahasia kita atau bukan, aku harap kamu nggak bakal deket sama orang lain habis itu.”

Oikawa menyeringai. Tampaknya pria itu belum benar-benar mengenal siapa dirinya.

“Justru aku yang harusnya ngomong begitu, Iwaizumi.”

Karena Oikawa paling tidak suka membagi apa yang sudah menjadi miliknya kepada orang lain.


@fakeloveros

“Bo, coba lo cek jadwal tahun baru nanti, siapa aja yang kosong. Kan member baru harus siap-siap buat dapetin license B.”

Ucapan Saeko yang sedikit teredam syal membuat Bokuto harus mendongak dari aktivitas mengikat tali sepatunya. Ruangan di belakang mereka yang sudah gelap, mengindikasikan bahwa tidak apa siapa pun lagi di sana. Malam itu terasa lebih hening karena satu-satunya orang yang biasa tinggal lebih lama, kini sedang izin beberapa hari.

“Ooh, oke. Besok gue cek,” jawabnya singkat seraya menegakkan tubuh dan membetulkan letak tas selempangnya. Saeko yang sudah berjalan lebih dulu, lantas kembali berbicara.

“Hmm, terus… si Iwa izin sampai kapan, deh?”

“Dia nggak ngasih tau lo?”

Wanita berambut pendek itu hanya mengedikkan bahu. “Kayaknya kelupaan tuh orang. Yah, nggak apa-apa, sih, gue tau dia pasti lagi repot ngurusin ibunya. Eh, tapi berarti dia juga izin ngajar Oikawa, dong?”

“Harusnya, sih—“

Perkataan selanjutnya berhenti di pangkal tenggorokan. Pupilnya membesar manakala mendapati sosok tak asing berdiri di parkiran luar— menyender di sebuah mobil sedan seraya memperhatikan langit seakan hitam polos di sana merupakan pemandangan yang amat menarik. Bokuto menarik napas dalam, dan mengerjap sekali lagi.

Akaashi masih berdiri di sana.

“Loh? Itu bukannya manajer Oikawa? Ngapain dia ke sini malem-malem?” Saeko menyuarakan pertanyaannya lebih dulu berbarengan dengan si objek yang dibicarakan menengok ke arah mereka. Pria itu langsung menegakkan tubuh dan membungkukkan badan begitu Saeko menghampiri.

“Selamat malam…” sapanya halus sembari menyunggingkan senyum kecil.

“Halo, malam! Akaashi ada apa ke sini? Kamu bukan mau nganterin Oikawa latihan, kan?” tanya Saeko dengan kepala yang dijulurkan seakan mencari kehadiran sang aktor ternama.

“Oh, bukan. Saya tau, kok, Iwaizumi lagi izin ngajar. Saya ke sini mau… ketemu sama Kak Bokuto.”

Bokuto yang sedari tadi hanya berdiri diam di belakang Saeko, sedikit tertegun saat mendengar namanya disebut. Tatapannya bertemu manik gelap di balik bingkai kacamata tersebut— menguncinya dalam izin tak terlisan. Bokuto harus menahan tawa karena— mana mungkin dia menolak?

“Ooh, gitu?” Saeko menggumam penuh kontemplasi sebelum menyeringai lebar. “Oke deh, kalau gitu! Bo, gue balik duluan, ya. Jangan lupa pesen gue tadi. Akaashi, duluan ya, daah!”

Dirinya hanya melambai kala sang wanita melenggang santai hingga menghilang di tikungan jalan. Sesaat, tak ada yang berusaha menginterupsi atmosfer sunyi tersebut seolah suara sekecil apa pun dapat membuat salah satu menghilang.

“Ada kafe di deket sini. Mau ke sana?” Bokuto-lah yang pada akhirnya menguraikan senyap tersebut. Ajakannya disambut anggukan dari yang lebih muda, serta kerlingan mata penuh rasa ingin tahu.

“Kakak nggak nanya kenapa aku ke sini tiba-tiba?”

Bokuto bergumam panjang sebelum mematri senyum di wajahnya sendiri.

“Nanti juga kamu bakal cerita, kan? Tapi kalau nggak mau cerita juga nggak masalah. Aku bakal tetep nemenin kamu.”

Bahkan seandainya kamu minta sampai pagi.

Bokuto menambahkan dalam hati. Senyumnya belum hilang tatkala mengedikkan dagu ke arah jalanan yang ada di depan mereka.

“Mau jalan sekarang?”


Tangan lentik itu berkali-kali menaikkan bagian tengah kacamata agar tidak melorot hingga ke ujung hidung. Bokuto diam-diam tersenyum di balik cangkirnya melihat gestur kecil tersebut— sebuah kebiasaan baru yang baru didapatinya sekarang karena dulu penglihatan pria itu masih sesempurna dirinya.

Sama seperti sebelumnya, Bokuto hanya menyimpan opini tersebut dalam hati. Tahu betul bahwa batasan itu masih ada meski lidahnya gatal ingin mengeluarkan ratusan pertanyaan.

Akaashi belum mengatakan apa pun selain ketika menyebutkan pesanan kopi mereka di meja kasir. Setelah dua cangkir yang masih mengepulkan asap tipis itu datang, si pemilik surai hitam hanya menyesap pelan dengan iris tertuju pada pemandangan di luar jendela. Lantunan lagu mendayu dari penyanyi pria yang tak Bokuto ketahui namanya seakan ikut andil dalam mendukung suasana tersebut.

(I start to imagine a world where we don’t collide.)

Bokuto membiarkan karena tahu Akaashi pastilah membutuhkan waktu— untuk apa pun itu.

“Dulu terakhir kita ketemu juga pas musim dingin.”

Netranya yang sempat teralih untuk memperhatikan interior kafe, kembali ke depan saat suara halus itu terdengar. Akaashi tak lagi menatap ke luar jendela. Pria itu meletakkan cangkir dengan hati-hati di atas meja, lalu mengangkat kepala hingga tatapan mereka bersibobrok.

“Kata kebanyakan orang, sepuluh tahun itu harusnya cukup buat ngelupain seseorang,” imbuh Akaashi dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisikan. Bokuto tertegun seraya menunggu kelanjutan kalimat tersebut, tetapi bibir milik pria di hadapannya justru terbungkam semakin rapat.

“Berarti kebanyakan orang itu nggak termasuk aku,” balas Bokuto dengan dada yang perlahan menyempit— entah karena kekecewaan yang kembali muncul ke permukaan, atau rindu terpendam yang memaksa untuk keluar.

Akaashi mengeluarkan tawa getir.

“Kakak pasti marah sama aku.”

(If we can’t stop the bleeding, we don’t have to fix it.)

“Awalnya iya,” mulai Bokuto dengan hati-hati. Dirinya menunggu hingga yang lebih muda kembali menatapnya. “Tapi lama-lama... aku paham, kenapa kamu pergi waktu itu.”

Atau kenapa kamu bilang nggak.

“Aku egois banget, ya, Kak?”

Bokuto tak menjawab. Pikirnya, itu sesuatu yang tak berhak ia beri validasi. Setiap orang selalu memiliki alasan untuk pergi dan kembali. Walau ironi karena hubungan mereka sendiri berakhir bahkan sebelum ada kata mulai yang terucap dari bibir masing-masing.

Meski begitu, dirinya tak bisa menyangkal atas salah siapa katastrofe itu muncul dalam hidupnya.

“Kamu boleh egois.”

Bokuto merangkai kalimat tersebut dalam kesadaran penuh— membuat Akaashi terpekur lama dan itu ia jadikan kesempatan untuk menyelami obsidian favoritnya.

Tentu tidak hanya manik gelap itu yang menjadi favoritnya.

(And it’s making me sick, but we’ll heal and the sun will rise.)

“Kalau aku... mau egois lagi sekarang, apa boleh?”

Tidak perlu menjadi seorang Einstein untuk memahami nada penuh harap di balik pertanyaan tersebut. Seperti ada efek pantul, kini dirinya yang termenung lama menatap pria di hadapannya— pria yang dulu sekali pernah memberinya harapan sebesar gulungan ombak, sekaligus menenggelamkannya setelah terantuk batu karang.

Pria yang pernah membuatnya takut menutup mata karena yakin mimpinya akan dipenuhi sosok bersurai hitam dengan suara selembut beludru.

Pria yang membuatnya yakin bahwa sepuluh tahun itu — omong kosong — takkan pernah cukup untuk membantunya lupa.

Karena Bokuto selalu ingat.

Keiji-nya. Si pemilik netra yang sewarna dengan langit malam.

Dan mungkin, tanpa keduanya sadari, mereka adalah dua orang yang sama-sama egois.

“Boleh, Keiji.”

Bibirnya membuka, lalu tersenyum saat si yang bersangkutan mengerjap lambat.

“Kamu boleh egois kalau sama aku.”

(I will love you either way.)


@fakeloveros

24 jam 12 menit 16 detik.

Bukannya Oikawa menghitung atau apa, tetapi batasan waktu yang baginya tidak wajar itu ternyata cukup menyita perhatiannya seharian. Akaashi sampai harus mengulangi pertanyaan hingga tiga kali manakala Oikawa hanya memperhatikan layar handphone, berikut menantikan pesan dari seseorang yang tak kunjung tiba.

“Nanti malem juga ketemu, kan. Nggak usah ditungguin gitu.”

Adalah omongan sang manajer yang diutarakan dengan kesal saat Oikawa menghela napas besar untuk kesekian kalinya. Oikawa mengernyit, tetapi meletakkan juga benda mutakhir itu di dalam kantung.

Sebenernya yang lebih sibuk gue atau dia, sih?

Pasalnya, kalau ini merupakan langkah retaliasi yang diambil pria itu maka Oikawa harus memberikan standing applause paling meriah karena berhasil membuatnya termenung, terutama akan arti dari ciuman mereka tempo lalu. Ia sudah bosan melemparkan pertanyaan kenapa juga gue nyium dia balik? terhadap dirinya sendiri sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan sekarang hanyalah mempertanyakan aksi pria itu. Sulit dipercaya bahwa ada seseorang yang dengan sangat percaya diri mengatakan akan membuktikan dirinya salah.

Apa Oikawa sebodoh itu hingga percaya ada orang yang mendekatinya tanpa pamrih? Atau memang rasa percayanya saja yang sudah setipis benang?

Kecuali, jika Iwaizumi telah jatuh hati padanya. Tentu itu akan menjadi cerita lain.

Oikawa mendengus tanpa sadar hingga mengundang tatapan penuh tanya dari asisten yang tengah merias wajahnya.

Bahkan kemungkinan itu terdengar jauh lebih mustahil dibanding Terushima yang tiba-tiba tidak bersikap seperti buaya.


“Oikawa, gue dapet chat dari Kak Bokuto.”

Oikawa baru saja merebahkan diri di atas sofa setelah seharian diisi sesi syuting serta interview untuk suatu majalah ketika pengumuman itu terdengar dari mulut sang manajer. Letihnya dalam sedetik terlupakan. Oikawa menegakkan diri, lantas mengunci sang manajer dalam tatapannya.

“Apa? Lo di-chat apa? Soal Iwaizumi?”

Meski lagi-lagi memperlihatkan kernyitan tak suka, Akaashi tetap mengangguk.

“Katanya Iwaizumi nggak bisa ngajar hari ini—”

“Kenapa?!”

“....soalnya ibunya masuk rumah sakit.”

Akaashi mendongak dan menunggu responsnya sambil mengangkat satu alis.

“Oh...” Oikawa hanya sanggup bergumam singkat. Di bawah tatapan elang milik Akaashi, ia berusaha menjaga ekspresinya senetral mungkin.

“Berarti dia emang lagi sibuk aja ngurusin ibunya makanya belum sampe bales chat lo.”

Oikawa mengangguk. Meski begitu, pikirannya mulai diisi oleh banyak pertanyaan— ibunya sakit apa? Apa sakitnya parah? Sampai kapan Iwaizumi bakal izin mengajar? Apa pria itu baik-baik saja?

“Ya udah, berarti schedule lo beres habis ini. Nanti malem pake aja buat istirahat.”

Suara Akaashi terdengar begitu jauh seakan dirinya mulai menghilang ke dunia yang berbeda. Oikawa hanya menatap pantulan dirinya dalam kaca sementara samar-samar ada bunyi langkah kaki mendekatinya.

“Lo kenapa? Kok ngelamun?” Akaashi menyentuh bahunya selagi menatap khawatir. “Capek, ya? Mau balik sekarang?”

“Boleh, nggak,” Oikawa memotong cepat sebelum berubah pikiran, “gue minta nomor Bokuto?”

Ada keheningan yang membungkus atmosfer.

Oikawa dengan panik berusaha membuat alasan di dalam kepala seandainya Akaashi bertanya. Ia sendiri berkali-kali meyakinkan bahwa ini dilakukan hanya karena ingin memastikan latihannya akan tetap berjalan lancar. Kalau Iwaizumi tidak ingin membalas pesannya, mungkin Bokuto bisa membantunya nanti.

Setelah keheningan tak berujung tersebut, Akaashi mengetikkan sesuatu di layar handphone sebelum ada bunyi notifikasi yang berasal dari miliknya sendiri.

“Tuh, udah gue kirim. Gue keluar dulu ya, mau ngabarin yang lain kalau kita mau balik sekarang.”

Tanpa berbasa-basi lebih jauh, Akaashi melenggang santai menuju pintu. Oikawa menatap punggung sang manajer dengan mulut sedikit terbuka. Agaknya, saat pria itu mengatakan sudah lelah mengurusinya, mungkin inilah yang dimaksud.

Oikawa tidak tahu harus menyikapi hal itu sebagai berita baik atau buruk.

Beberapa menit ia habiskan dengan terbengong-bengong sebelum tersadar ada yang harus dilakukannya detik itu juga.

Ia menyimpan kontak yang sudah diberikan, lantas tanpa ragu memencet simbol berwarna hijau. Begitu sambungannya diterima, Oikawa menghela napas lega.

“Halo, Bokuto?”


“Gue nggak akan masuk artikel berita, kan?”

Suara panik itu melontarkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Oikawa memutar kedua bola mata dengan lelah tanpa langsung memberikan jawaban. Kendati begitu, tangannya tetap terangkat untuk merapatkan topi dan syal yang menutupi hampir setengah wajahnya kala mereka berjalan bersisian menuju suatu bangunan berwarna putih.

“Kalaupun masuk, terima aja. Toh, digosipinnya sama gue ini,” jawabnya tenang setelah jarinya memastikan kacamata hitamnya masih berada di tempat yang sama.

“Lo gila, ya?” Suara Bokuto justru terdengar kian panik.

Oikawa mendecak sebal, lantas mempercepat langkah. “Kalau gitu, ayo buruan jalannya.”

Berlawanan dengan perkataannya, Oikawa sebenernya merasakan kepanikan itu sendiri. Berulang kali rasanya ia ingin memutar langkah dan meminta Bokuto untuk mengantarnya kembali ke apartemen. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan cara yang bisa ia lakukan hanyalah membuat bubur itu menjadi lebih enak.

Ia sendiri tidak menyangka rencana impulsifnya ini disetujui oleh Bokuto. Awalnya, Oikawa hanya berbasa-basi menanyakan keadaan Iwaizumi setelah sang ibu dirawat. Namun, Bokuto malah menawarkan untuk mengantarnya langsung ke rumah sakit jika Oikawa benar-benar ingin bertemu langsung.

“Jangan salah paham,” ucap pria itu melalui sambungan telepon sore tadi. “Gue tau lo perlu ngobrol sama Iwaizumi soal... masalah kemaren. Mungkin ini emang bukan waktu yang bener-bener pas, tapi kalau semakin ditunda, kalian sendiri nanti yang bakal susah.”

Oikawa sedikit banyak paham alasan Akaashi memiliki sejarah dengan pria bertubuh kekar tersebut. Lidahnya sungguh gatal ingin bertanya, tapi biarlah itu disimpan untuk lain waktu.

“Iwaizumi bener ada di rumah sakit, kan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Ia tidak ingin kedatangannya menjadi sia-sia.

Bokuto mengangguk mantap. “Udah gue chat sebelum ke sini. Katanya dateng aja kalau mau nengokin.”

Oikawa menggigit bibir dengan ragu sebelum menguraikan pertanyaan selanjutnya. “Ibunya... emang udah dari lama sakit-sakitan gitu, ya?”

“Lumayan,” Bokuto memulai, “tapi seinget gue, mulai sering begini tuh semenjak ketahuan mendiang suaminya ninggalin utang banyak. Dan sekarang itu jadi beban Iwaizumi buat ngelunasin semuanya.”

Oikawa tidak berani bertanya apa-apa lagi. Dia hanya mengikuti langkah cepat Bokuto menuju meja resepsionis. Meski perawat yang menyambut sempat menatapnya curiga, keduanya tetap diperbolehkan masuk tanpa masalah. Mengingat langit di luar sudah gelap, mereka hanya memiliki sedikit waktu sebelum jam besuk berakhir.

Berakting di depan kamera selama bertahun-tahun ternyata tetap tidak mampu menghilangkan rasa gugupnya.

“E-eh, tunggu sebentar!” Oikiawa berbisik panik tatkala mereka sudah tiba di depan pintu dengan nomor yang dimaksud. Tangannya menahan kepalan Bokuto yang sudah terangkat setengah. Pria itu tidak jadi mengetuk, lantas menoleh ke arahnya dengan bingung.

“Apa?”

“B-bisa, nggak, lo aja yang masuk... terus suruh Iwaizumi keluar?”

Bokuto mengerjap pelan. Dalam bayangannya, pria itu terlihat seperti burung hantu berbulu putih dengan iris emas yang menyapunya penuh teliti. Oikawa bergerak impulsif karena belum tahu apa yang akan dikatakannya kepada Iwaizumi saat bertemu nanti.

“Lo nggak mau sekalian nengok ibunya?”

“Bukannya nggak mau. Gue—”

“Kak Bokuto?”

Mereka sama-sama menoleh ketika ada suara halus dari seorang perempuan terdengar dari samping. Matanya menangkap sosok gadis remaja dengan rambut sebahu yang bagian puncaknya diikat beberapa. Gadis itu sepertinya mengenal Bokuto karena yang dipanggil pun langsung menyapa dengan penuh semangat.

“Hitoka! Halo!”

Hitoka? Oikawa menelengkan kepala ke kiri, merasa tidak asing dengan nama tersebut.

“Halo...” Yang bersangkutan menjawab sopan seraya membungkuk beberapa derajat. Netra sang gadis bergulir ke arahnya dengan sedikit ragu. “Kak Bokuto mau jenguk ibu?”

“Oh, iya! Tapi sekalian mau ketemu sama kakak kamu, nih. Ada di dalem, kan?”

Dan kepemahaman langsung melintas di otaknya.

Kakak adek, kok, tapi nggak mirip, ya...? Apa jangan-jangan mereka—

“Oh, kakak tadi lagi keluar sebentar juga, katanya mau beli minum. Harusnya sih sekarang udah balik...”

Berbarengan dengan kalimat terakhir tersebut, matanya tak sengaja menangkap sosok ber-hoodie hitam yang berjalan ke arah mereka. Irisnya melebar begitu mengenali sosok tegap tersebut. Kegugupannya yang tadi sempat lenyap, kini muncul lagi ke permukaan.

Saat Iwaizumi mengangkat wajah, pandangan mereka langsung bertemu.

“Loh, itu dia! Weh, Iwa!” Bokuto melambaikan tangan penuh semangat seakan baru bertemu pria itu setelah sekian lama. Iwaizumi tidak membalas, tetapi pria itu sempat menatapnya lama sebelum beralih ke Bokuto dan sang adik yang ikut berdiri di depan pintu.

“Udah dateng, toh.”

Padahal hanya tidak bertemu sehari, tetapi Oikawa rasanya sudah hampir melupakan suara pria itu.

“Kenapa pada berdiri di luar? Masuk aja,” sambung pria itu lagi saat dilihat tak ada satu pun yang bergerak. Hitoka buru-buru mengangguk dan lagi-lagi meliriknya penuh rasa ingin tahu sebelum menghilang di balik pintu. Oikawa bertanya-tanya dalam hati, sebagus itukah penyamarannya hingga adik Iwaizumi (yang notabene salah satu penggemarnya) sampai tidak mengenali? Bokuto kemudian menyusul setelah memberi anggukan singkat padanya. Bibir pria itu membentuk kata se-ma-ngat yang mau tak mau memunculkan sedikit senyum di wajahnya.

Kini tinggal Oikawa dan Iwaizumi yang berada di luar.

“Ngapain lo ikut ke sini? Manajer lo mana?”

Pertanyaan itu sukses membuat Oikawa kembali ke realitas. Jalannya kaku ketika menyingkir dari depan pintu, tetapi tekadnya bulat manakala sudah berhadapan dengan si pemilik surai hitam.

“Akaashi nggak tahu gue ke sini,” tukasnya hati-hati. “Lo nggak bales chat gue, sedangkan kita perlu ngobrol. Gue ngerti kalau ini mungkin bukan waktu yang pas. Kalau lo emang belum bersedia, gue bisa tunggu. Tapi, please, seenggaknya lo bisa bales chat gue, kan?”

Ketegangan itu menggantung di udara— mencekat napas dan menceloskan jantung seakan Oikawa tengah dilempar dari jurang yang teramat tinggi. Kakinya menyuruhnya untuk kabur dari sana, tetapi hatinya menetapkan untuk tinggal dan mendengar jawaban pria itu.

“Apa yang perlu diomongin? Bukannya lo nggak percaya sama kata-kata gue?” Balasan pria itu terdengar sedikit sinis selagi mendudukkan diri di salah satu kursi panjang. Oikawa mengikuti karena menangkap gestur tersebut sebagai persetujuan untuk berbincang.

“Boleh gue tanya sesuatu?”

Iwaizumi mengangguk. Netra pria itu tertuju pada lantai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung. Oikawa memiringkan tubuhnya sedikit; ada déjà vu yang mengingatkannya ke suatu adegan saat mengobati luka pria itu.

“Lo bilang mau bantuin gue... itu maksudnya gimana?”

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu seolah sudah menebak pertanyaan itu akan datang. “Daripada lo main-main sama banyak cowok di luar sana sambil pasang topeng dan makin munculin banyak gosip, kenapa nggak... settle aja sama satu orang?”

Oikawa yakin mulutnya sudah terbuka lebar.

“Dan orangnya itu... lo?”

Iwaizumi melipat kedua tangan di depan dada. “Iya. Gue.”

“Lo lagi bercanda, kan?”

“Menurut lo sendiri,” seloroh pria itu tiba-tiba sembari mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya, “kenapa malem itu lo nggak bisa nolak?”

Oikawa membuka mulut, tetapi menutupnya kembali sedetik kemudian saat tak menemukan jawaban yang tepat.

“Mau gue kasih tahu jawabannya?”

Tahu-tahu, pria itu beringsut maju hingga Oikawa bisa memeta dengan jelas hijau yang hampir menghilang di balik bayangan. Netranya sekilas menangkap tatapan sang pria yang mengarah ke bibirnya sebelum kembali naik.

“Soalnya lo ngerasain juga. Iya, kan?”

“Ngerasain apa?” Oikawa bertanya balik sembari membetulkan posisi duduknya. Entah ini hanya khayalannya, atau pria itu memang terlihat semakin dekat? “Gue nggak ngerti maksud lo.”

Iwaizumi tersenyum tipis. “Gue yakin lo nggak bodoh sampai harus didiktein semuanya satu-satu.”

Oikawa menggeleng. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tidak. Tidak. Tidak. Dia tidak mau mengaku.

“Kalau lo nggak ngerasain apa-apa, harusnya lo nggak usah repot-repot dateng ke sini. Lo bahkan bisa minta ke Akaashi buat langsung ganti guru. Lo nggak akan ketemu sama gue lagi, dan semua masalah bakalan beres.”

“Tapi lo bisa aja... nyebarin soal kita ke media—”

Tawa yang keluar dari mulut Iwaizumi secara instan mendiamkannya. Namun, tidak ada humor sama sekali di dalam sana. Oikawa tertegun dan mengawasi dengan waspada saat pria itu kian memajukan badan.

“Oikawa, apa gue keliatan kayak orang yang suka nyebarin gosip? Lo nggak liat sekarang ibu gue lagi dirawat di rumah sakit? Ada banyak hal yang lebih penting buat gue urusin sekarang daripada itu.”

Oikawa menyetujui, meski tak menyuarakannya secara gamblang.

“Nggak apa-apa, pikirin aja dulu tawaran gue. Gue tau yang kemaren emang kesannya terlalu maksa. Maaf kalau itu udah bikin lo kaget.”

Dirinya mana menyangka Iwaizumi tiba-tiba akan melontarkan permintaan maaf. Untuk pertama kalinya, pria itu pun terdengar benar-benar tulus hingga Oikawa tidak bisa menemukan celah untuk memberi penyanggahan.

“Dan lo bilang... nggak bakal minta apa-apa buat bantuin gue?” lirihnya terasa bergaung di koridor walau yang bisa mendengar tetaplah pria di hadapannya. Iwaizumi terdiam beberapa saat dan Oikawa harus menahan keterkejutan manakala tangan pria itu terangkat untuk membelai pipinya lembut.

“Apa lo sebegininya nggak percaya sama orang? Sampai ada yang mau bantuin aja, lo tanyain dulu niat di baliknya? Nggak semuanya punya maksud buruk waktu nawarin bantuan, Oikawa. Lo harus belajar soal itu.”

Oikawa tak sanggup berkata-kata sementara permukaan kasar kulit tangan pria itu tetap bergerak lambat di atas miliknya. Mereka berada di posisi tersebut untuk waktu yang cukup lama sebelum bibirnya bergerak di luar kesadaran penuh.

“Oke. Gue bakal pikirin tawaran itu.”

“Bagus.”

Lawan bicaranya tersenyum puas sembari menciptakan jarak. Oikawa menghela napas dan menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Entah apa yang baru saja terjadi, tapi rasanya seperti memasukkan kedua kaki ke dalam permukaan air dingin dan ia tahu bisa terjatuh kapan saja tanpa aba-aba.

“Boleh gue tanya sesuatu?”

Oikawa mengangguk, hampir saja dirinya tersenyum karena itu pertanyaan yang sama persis dilontarkannya di awal.

“Apa gue boleh cium lo lagi? Buat mastiin aja jawaban lo nanti nggak akan berubah.”

Padahal hanya ada dua pertanyaan, tetapi otaknya sungguh sulit meregistrasi sehingga dirinya hanya mampu tergagap.

“H-hah? Kan lo belum tahu gue bakal jawab apa!”

“Tahu, kok. Udah keliatan dari sekarang. Tapi nggak apa-apa, gue bakal tetep ngasih lo waktu buat mikir.” Pria itu berseloroh santai sembari menjulurkan tangan untuk melepas kacamata penyamarannya. “Hebat banget nyamarnya, Hitoka sampe nggak ngenalin lo.”

Oikawa tak menjawab. Lidahnya seperti dicuri kucing malam itu. Matanya hanya mengikuti gerak tangan sang pria yang kini ikut menurunkan syal miliknya.

“Boleh?” Iwaizumi bertanya sekali lagi. Senyum yang barusan sempat terpatri telah memudar. Jika kali pertama persetujuan darinya ditanya dalam penuh tuntutan, kali ini hanya kesabaran yang terlihat di wajah lelah milik pria itu. Oikawa baru menyadari, Iwaizumi memiliki kantung mata yang cukup tebal. Pastilah pria itu sangat kelelahan karena harus bekerja sekaligus bertanggung jawab atas keluarga demi melunasi utang yang ditinggalkan sang ayah.

Anggukan itu ia berikan tanpa berpikir lebih jauh.

Persetan, ucapnya dalam hati seraya merasakan jarak itu tertutup dengan bibirnya yang dikulum lambat. Ada rasa kopi yang bisa ia kecap secara samar menyatu dengan napas bergetarnya ketika pria itu memiringkan kepala untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan pria itu lagi-lagi terangkat untuk merengkuh salah satu sisi wajahnya.

Ini sungguh berbeda dengan ciuman pertama mereka yang sudah mengabur di dalam ingatan karena cepatnya kejadian itu berlangsung. Untuk kali ini, amat terasa bahwa Iwaizumi bertindak lebih berhati-hati seakan dirinya adalah keramik yang cepat rapuh.

Saat sengalnya menjadi pertanda untuk memisahkan diri sejenak, Iwaizumi berpindah ke telinganya, lalu membisikkan ultimatum di sana.

“Aku tunggu jawaban kamu.”


@fakeloveros

“Wow... Bagus banget...”

Walau pujian tersebut sudah terlontar lebih dari tiga kali dari mulutnya, rasanya tetap tidak cukup untuk mengekspresikan kekaguman terhadap pemandangan di depan matanya. Kelopaknya mengerjap berulang kali sebagai upaya untuk memastikan bahwa spektrum yang terhampar di depannya tidak akan berubah.

“Kalau dibuka dikit lagi, lalat bisa masuk, tuh.”

Oikawa buru-buru mengatupkan bibir seiring tawa pelan yang terdengar dari pria di hadapannya. Kakinya bergerak untuk menendang Iwaizumi dari bawah meja, tetapi aksinya itu malah mengundang tawa yang lebih kencang dari sang suami.

“Jangan gitu, dong! Udah lama tau aku nggak ke pantai kayak gini,” belanya sambil mendengus kesal. Tangannya meraih gelas berisi cairan berwarna putih yang tinggal seperempat dan di seberangnya, Iwaizumi hanya tersenyum selagi menatapnya lekat.

Oikawa mengalihkan perhatiannya kembali ke arah pantai. Terkadang, manik pria itu bisa membuatnya panas-dingin seolah-olah mereka masih remaja berusia belasan tahun. Padahal, keduanya sudah menikah hampir selama dua tahun. Jadi, bukankah seharusnya Oikawa sudah terbiasa dengan atensi tak terbagi pria itu terhadapnya?

“Mood kamu kayaknya udah mendingan, ya, sekarang?” tanyanya tanpa bisa menahan diri.

“Maksudnya?”

“Maksudnya...” Oikawa mengeja dengan lambat; berusaha memprediksi reaksi pria itu setelahnya, “semenjak... kejadian di kantor aku waktu itu, kamu keliatan tegang banget soalnya.”

Pernyataannya tidak langsung menerima balasan. Iwaizumi lagi-lagi hanya menatapnya meski senyum di wajah pria itu sedikit memudar. Cahaya remang-remang yang menemani acara makan malam mereka di salah satu restoran tepi pantai itu justru menambah kesan maskulin si pemilik surai hitam. Oikawa tidak yakin, apakah bulu kuduknya yang berdiri merupakan hasil dari terpaan angin laut, atau pandangannya yang masuk ke perangkap pria itu.

Oikawa berusaha tidak tersentak saat tangan Iwaizumi meraih miliknya yang berada di atas meja. Ia pikir pria itu hanya akan menggenggamnya seperti biasa, tetapi tatkala telapaknya yang dingin dibawa ke salah satu sisi wajah, lalu Iwaizumi menelengkan kepala dan menghidu dalam bagai mencari sumber oksigen, barulah Oikawa menahan napas.

Seandainya public display of affection merupakan hal yang lumrah bagi mereka, Oikawa pasti sudah memafhumi sikap suaminya sekarang ini.

Begitu Iwaizumi membuka mata yang sempat terpejam dan untuk kesekian kali mengobservasi tanpa suara seakan Oikawa adalah objek paling menarik dari segala pemandangan, barulah bibir pria itu ikut berfungsi.

“Seandainya ada cara yang lebih efektif selain ini,” Iwaizumi menyentuh cincin perak yang melingkar manis di jarinya sebagai penekanan di silabel terakhir, “buat nunjukin kalau kamu itu punya aku, pasti manajer kamu itu nggak akan berani macem-macem.”

Oikawa menggigit bibir. Ia mengerahkan usaha paling keras agar tidak mengeluarkan reaksi yang bisa mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Oikawa bagai diingatkan bahwa ada maksud tersembunyi yang belum diketahuinya dari liburan kali ini. Namun, pertanyaan atau pembelaan apa pun yang tadinya ingin ia lontarkan, tertelan begitu saja manakala sang suami ganti meraih pipinya dan memberi usapan lembut di sana.

“Wajah kamu merah banget. Aku takut kamu bakal masuk angin kalau kita kelamaan di sini. Gimana kalau kita balik sekarang?”

Padahal itu pertanyaan biasa— hanya maksud harfiah yang tidak akan diartikan macam-macam olehnya di hari biasa. Tapi ini Iwaizumi yang berbicara— terlebih di suasana seperti sekarang —dan bodoh sekali nampaknya apabila Oikawa tidak mengerti arti tatapan di balik iris hijau tersebut.

Oikawa terbatuk. Tidak kencang. Tapi cukup untuk membuat salah satu sudut di bibir Iwaizumi melengkung naik seakan reaksinya sangat menghibur.

“Kamu mau balik sekarang?” Oikawa dengan bodohnya malah balik bertanya.

Iwaizumi bergumam panjang, lantas melirik ke arah langit yang memang sudah menampilkan warna obsidian. “Boleh. Lagian udah mulai muncul bintang juga tuh di langit.”

Ada pertanyaan apa hubungannya? yang sudah menempel di ujung lidah. Tapi rasa-rasanya, Oikawa lebih baik tidak mengetahui maksud omongan tersebut, atau senyum misterius yang lagi-lagi terpatri di wajah tampan sang suami.

“Oke. Ayo balik sekarang.”

Oikawa tidak bisa mencari alasan. Pun, tidak tahu mengapa instingnya mengatakan ia tidak seharusnya semudah itu memberi persetujuan. Kendati begitu, ketika Iwaizumi berdiri tanpa sekalipun melepas tautan tangan mereka, Oikawa sadar ia bukan merasa takut ataupun tegang.

Antisipasi itu muncul kembali ke permukaan. Kali ini lebih kuat dan membuatnya tubuhnya dikelilingi panas untuk alasan yang belum ia yakini seratus persen.

Puncaknya adalah begitu mereka sudah berada di dalam taksi dan Iwaizumi duduk merapat di sampingnya. Oikawa nyaris saja kehilangan komposur manakala sang suami menggigit telinganya pelan, lalu dilanjutkan dengan bisik yang justru menelan segala suara di sekitar mereka.

“Nanti pas kita sampai, bakal aku tunjukin caranya ke kamu.”

Oikawa tidak perlu bertanya, cara apa yang dimaksudkan oleh Iwaizumi.


Kasian deh digantung lagi...

@fakeloveros

Rasanya Oikawa bisa menghitung dengan jari berapa kali dia pernah mengunjungi Pulau Dewata yang kini tengah diinjaknya bersama sang suami. Sesampainya di bandara, mereka langsung disambut hangatnya udara yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan cuaca di ibu kota. Meski begitu, keberagaman yang jelas lebih terlihat di depan mata tak ayal berhasil meningkatkan spiritnya. Liburan yang awalnya meninggalkan kesan terlalu mendadak sehingga dirinya justru dipenuhi oleh kecamasan berlebih, menguap bagaikan gelembung sabun begitu Iwaizumi memimpin langkah mereka keluar dari bandara.

Sekarang, ia justru dibuat penasaran oleh rencana suaminya itu.

“Kamu masih nggak mau ngasih tau kita bakal nginep di mana?” tanyanya selagi berusaha menyamai langkah si surai hitam di antara lalu-lalang manusia. Mungkin karena mendekati akhir tahun, bandara terlihat sangat ramai hari itu.

Iwaizumi hanya menggeleng singkat sebelum meraih sikunya agar tidak bertubrukan dengan orang dari arah berlawanan.

“Emang kenapa, sih, dirahasiain banget? Kalau kamu ngasih tau nama hotelnya juga aku nggak bakal tau, kan?” Oikawa masih belum menyerah untuk mengorek informasi dari pria yang masih mengatupkan bibir secara rapat tersebut. Bahkan sebelum mereka pergi, ia sempat membujuk Tobio untuk mencari tahu rencana rahasia sang Ayah, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Pria itu bagaikan batu di tepi pantai yang tetap berdiri kokoh meski diterjang oleh banyak ombak.

“Tinggal tunggu sampai kita ke tempatnya aja, kan? Nanti juga kamu bisa liat sendiri.”

Begitu balasan Iwaizumi seraya mengerling singkat ke arahnya sebelum dengan sengaja mempercepat langkah. Oikawa mengembuskan napas kesal dan menarik kopernya dengan sedikit paksaan— berharap pria itu menerima sinyal rasa frustrasinya.

Tapi, bisa apa Oikawa melawan batu? Sang suami bahkan bisa lebih keras kepala dibanding dirinya jika sudah bertekad akan sesuatu.

“Tooru.”

Panggilan dari bariton khas tersebut berhasil mengenyahkan lamunannya. Tangannya diraih begitu tiba di sebelah pria yang sedari tadi sudah menunggu di pintu keluar.

“Kamu kalau lagi jalan tuh jangan sambil ngelamun,” omel pria itu sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Oikawa tersenyum dalam hati karena mau sudah berhubungan berapa lama pun, perhatian pria itu terhadapnya selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Rasa kesalnya perlahan menghilang dan digantikan dengan antisipasi tinggi.

Lagi pula, kapan lagi dia bisa melihat sisi Iwaizumi yang seperti ini?


Terkejut mungkin bukan kosakata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang Oikawa rasakan saat ini. Mulutnya menganga menatap sekeliling ruangan sementara telinganya setengah mendengarkan percakapan antara suaminya dengan pemilik airbnb tempat mereka menginap. Fokusnya langsung tersita penuh begitu menginjakkan kaki ke dalam rumah tersebut. Namun, dibandingkan itu, ada hal lain yang membuatnya terpekur lama.

“Oke. Jadi, nanti kalau perlu apa-apa, silakan hubungi nomor saya saja langsung. Tempat tinggal saya juga nggak jauh dari sini, kok,” ucap pria yang nampaknya memiliki umur tak jauh berbeda dari mereka. Pria itu terlihat sangat bersemangat menjelaskan segala fasilitas di dalam rumah yang bisa mereka gunakan— sedikit mengingatkan Oikawa akan Hinata, pacar Tobio, yang memiliki energi serupa.

Oikawa samar-samar mendengar Iwaizumi menanyakan hal lain selagi mengantarkan sang pemilik akomodasi ke luar. Langkahnya pelan menelusuri lantai tatkala bunyi pintu terdengar jauh di belakang. Netranya terangkat dan otomatis menyipit ketika terik matahari menembus melalui jendela besar yang berada tepat di langit-langit kamar.

Tak beberapa lama, ada sepasang lengan yang melingkari pinggangnya erat.

“Gimana?”

Oikawa bergidik pelan manakala ada embusan napas hangat menerpa telinganya. Hidung sang suami menyentuh lehernya dan membuat gerakan naik turun di sana.

“Nggak gampang booking-nya, loh. Soalnya ini high demand,” sambung Iwaizumi saat dirinya masih diam saja. Oikawa menyenderkan tubuhnya dengan lebih rileks ke dada pria itu dan merasakan rengkuhan di pinggangnya mengerat.

“Bagus. Aku suka,” tukasnya sambil menyeringai lebar, “cuma biar apa deh kita nginep di tempat kayak gini? Bukannya aku keberatan, ya, tapi di hotel biasa juga—”

Omongannya terhenti saat tangan Iwaizumi meraih dagunya, dan ditolehkan ke belakang. Bibir pria itu menyapu miliknya dengan lembut walau tak membutuhkan waktu lama sebelum ciuman itu berubah menjadi lebih menuntut. Oikawa menyambut dengan senang hati seraya memutar tubuhnya agar bisa mengalungkan lengan di sekitar leher sang suami.

“Mmhm—” Desahnya ditelan oleh pagutan yang kian menelan kemampuan bersuara. Padahal sudah berkali-kali, ratusan malah, tetapi gerak lihai sang pria yang mengeksplorasi setiap inci rongga mulutnya tak pernah gagal membuatnya melepas hela penuh kepuasan.

Ketika Oikawa hampir yakin mereka takkan berhenti di sana, Iwaizumi mendadak melepas ciuman beserta lengan yang sejak awal memerangkap layaknya lilitan ular. Oikawa mengerjap saat tahu-tahu dirinya memeluk udara, dan pria itu sudah melangkah kembali ke ruang utama.

“Gimana kalau kita ganti baju dulu sekarang? Habis itu cari makan. Kamu pasti udah laper, kan?”

Iwaizumi bertanya dengan sangat ringan seolah beberapa menit lalu pria itu tidak habis melumat bibirnya bagai kelaparan. Ia ingin menghentakkan kaki, lalu meraih pria itu agar menuntaskan apa yang telah dimulai. Namun, melihat ekspresi penuh determinasi sang suami, membuat Oikawa mengurungkan niat tersebut.

Sepertinya Iwaizumi memiliki rencana lain dan untuk pertama kalinya, Oikawa tidak keberatan menjadi pihak yang dikejutkan.


@fakeloveros

“Kalau tangan yang disilang itu ada namanya juga, nggak?”

“Oh, itu sebutannya cross-guard. Jadi, lo nyilangin dua tangan depan dada buat ngelindungin bahu. Coba liat deh, postur lo juga harus dibuat agak bungkuk gitu karena kalau berdiri tegak nanti yang ada malah gampang goyah.”

Oikawa menganggukkan kepala seraya memperhatikan layar TV dengan saksama. Iwaizumi yang duduk di sebelahnya kerap kali menjelaskan beberapa istilah dengan sabar. Oikawa pun rajin menanyakan beberapa hal yang masih terlihat asing. Inilah yang membuatnya senang; Iwaizumi menjelaskan dengan sangat terperinci menggunakan bahasa yang sangat mudah sehingga Oikawa tidak perlu berpikir keras.

“Eh, eh, itu kok bisa begitu?! Emang boleh, ya?”

Terdengar suara tawa kecil dari pria di sebelahnya sebelum diganti dengan penjelasan singkat.

“Boleh, kok. Itu namanya dive. Jadi, lawan bisa pura-pura jatuh kayak udah K.O gitu, padahal sebenernya belum.”

“Ohhh... wow! Keren! Apa lo pernah pake trik itu juga?” Oikawa menoleh dan mendapati Iwaizumi tengah meraih botol minum yang ada di atas meja. Pria itu menggeleng sekilas sebelum pemandangan Oikawa berubah menjadi sesuatu yang menyegarkan; Iwaizumi yang menengadah saat minum. Padahal itu pemandangan yang biasa saat berlatih, tetapi dari jarak sedekat ini, Oikawa harus menelan ludah susah payah saat netranya tanpa sadar mengikuti satu tetes air yang tak sengaja mengalir sampai dagu sang atlet.

“Belum pernah dan kayaknya nggak akan. Gue lebih suka pake serangan langsung daripada trik kayak gitu.” Iwaizumi memperjelas seraya menyeka mulut dan melirik ke arahnya. Oikawa langsung mengalihkan fokusnya kembali ke depan; sedikit merona karena rasanya seperti tertangkap basah ia baru saja menelan pria itu bulat-bulat dengan tatapannya yang lekat.

Setelahnya, tak ada lagi yang mengeluarkan suara. Meski begitu, perhatian Oikawa tetap teralih ke hal lain. Ia menimbang-nimbang selama beberapa menit sembari menilik situasi yang ada. Mereka sudah berada di ruangan kecil itu selama hampir dua jam. Popcorn yang ada di atas meja pun sudah setengahnya habis (kebanyakan hanya dimakan olehnya). Di luar tidak ada siapa-siapa karena seperti biasa, mereka berlatih hanya saat gym sudah kosong.

Praktis, tidak akan ada yang mengganggu keduanya.

“Gue boleh nanya sesuatu, nggak?” Oikawa melontarkan kalimat tersebut dalam satu tarikan napas sebelum berubah pikiran.

“Itu aja lo udah nanya.”

Oikawa mengerucutkan bibir walau dalam hati sedikit terkejut karena Iwaizumi ternyata bisa juga diajak bercanda. Ia meninju pelan bahu pria itu sebelum menukas dengan kesal, “serius nih gue.”

“Mau nanya apa?”

“Kenapa lo mau jadi atlet boxing? Emang enak punya kerjaan dipukulin kayak gitu?”

“Bukan dipukulinlah. Beda.” Iwaizumi terkekeh pelan, kemudian terdiam agak lama. “Alasannya simpel. Karena gue mau ngelindungin orang-orang yang gue sayang. Dulu gue pikir, satu-satunya cara, ya, harus jadi kuat. Bisa... ngelawan gitu istilahnya. Tapi sekarang...”

“Tapi sekarang...?” Oikawa mengulang penuh rasa ingin tahu karena Iwaizumi terdiam kembali dengan ekspresi sendu.

“Tapi sekarang gue sadar bahwa ada hal lain yang diperluin selain jadi kuat buat ngelindungin orang-orang yang gue sayang.” Iwaizumi mengungkapkan dengan tegas sembari menoleh ke arahnya. Oikawa tertegun karena untuk sedetik penuh ia seperti bisa menangkap kilat kebencian di balik iris hijau gelap tersebut.

“Hal lain? Contohnya...?” Oikawa bertanya meski untuk suatu alasan yang sulit dimengerti, ia justru takut mendengar jawaban yang akan diuraikan oleh pria itu.

“Uang.”

Oikawa mengerjap lambat dalam keterkejutannya.

“Tanpa uang, lo nggak bisa ngelakuin apa-apa. Lo nggak punya power buat ngelawan. Percuma jadi kuat kalau ujung-ujungnya lo bakal tetep dianggap remeh karena nggak punya harta berharga sepeser pun.”

Tidak hanya melalui tatapan mata, nada dan postur tubuh si pemilik surai hitam kini memperlihatkan kebencian yang amat sangat— entah terhadap apa, atau siapa. Oikawa mengawasi pemandangan tersebut dengan bibir terkatup rapat. Ia tidak berani mengatakan apa pun karena khawatir mafhumnya tidaklah sejalan.

Baginya, uang bukanlah masalah.

“Maaf,” Iwaizumi tiba-tiba menggumam pelan setelah keheningan yang cukup panjang, “kalau gue ngagetin lo dengan kata-kata barusan. Itu... nggak ada maksud apa-apa, kok.”

Oikawa menunduk; memikirkan faktor apa yang sampai membuat Iwaizumi berapi-api seperti barusan. Pastilah ada kaitannya dengan masalah pribadi, dan itu merupakan ranah yang belum berani Oikawa jajah.

Di luar kuasanya, Oikawa mulai membandingkan kehidupan mereka yang amat sangat berbeda.

“Gue punya uang.”

Ucapannya pastilah sekilas terdengar arogan karena dari sudut matanya, Oikawa menangkap gerak tersentak pria itu.

“Gue punya uang,” Oikawa mengulangi, kali ini sembari mengangkat wajah, “tapi gue tetep nggak punya power buat ngelawan.”

Suara dari layar TV terus mengisi ruangan seolah jika mereka sama-sama tidak berbicara, ketegangan itu akan berkurang. Meski begitu, suara pertandingan dan sorak sorai penonton tetap tidak bisa mengalahkan degup jantungnya sendiri. Mereka saling bertatapan; diam-diam berusaha menyelami pikiran masing-masing dan mencari apa yang membuat perbedaan dalam hidup keduanya bisa memunculkan sentimen yang sama.

Keputusasaan. Kesepian. Kebencian.

“Apa yang mau lo lawan?” bisik pria itu dengan netra yang justru kian memaku intens. “Karena dari sudut pandang gue, lo keliatan udah punya segalanya.”

Oikawa mendengus, lantas disusul dengan tawa pahit. “Bukannya itu yang sering bikin orang salah paham? Mereka cuma ngeliat apa yang ada di permukaan. Kalau lo tanya gue, lo sendiri kayak nggak punya masalah apa-apa. Karena dari apa yang gue liat, lo keliatan enjoy sama kerjaan ini, dikelilingi temen-temen yang baik dan pasti keluarga yang selalu nunggu di rumah. Iya, kan?”

Iwaizumi tak perlu menjawab, tetapi Oikawa tahu tebakannya tepat sasaran.

“Oh, well, kenapa juga kita jadi ngomongin hal berat kayak gini? Kita kan harusnya cuma—”

“Gue bisa bantu lo, Oikawa.”

Tangannya yang tadi ingin mengambil bungkus popcorn, kini mengambang di udara karena ucapan mendadak tersebut. Saat menoleh ke samping, Oikawa merasakan bulu kuduknya berdiri begitu menangkap tatapan Iwaizumi terhadapnya.

“Bantu... apa?” tanyanya hati-hati karena firasatnya mengatakan mereka sedang tidak membicarakan urusan boxing.

“Apa pun,” jawab pria itu singkat, masih dengan tatapan lekat yang sama.

“Gue... nggak paham maksud lo apa.”

“Lo bilang walaupun punya uang, lo tetep ngerasa nggak punya power. Asumsi gue, itu yang bikin lo berlindung di balik topeng kayak sekarang. Skandal-skandal itu nggak mungkin muncul tanpa alasan. Dan gue emang nggak tahu sebenernya apa yang lagi lo cari, tapi kalau gue bisa bantu, kenapa nggak?”

Oikawa berkedip. Satu kali. Dua kali. Dan kalimat itu masih terasa layaknya mimpi baginya.

“Kalau gue terima,” Oikawa berucap lirih, “apa balesan yang harus gue kasih ke lo?”

“Nggak ada.”

Jawaban itu dilontarkan terlalu cepat dan terlampau tegas sehingga responsnya pertama kali adalah mengeluarkan tawa hambar.

“Jangan bohong. Setiap orang yang deketin gue, pasti selalu ada maunya. Gue udah hapal sama kebiasaan itu. Gue udah pernah bilang sama lo pas kita pertama kali latihan, kan?”

“Tapi,” Iwaizumi menyela cepat diikuti oleh tubuh yang perlahan ikut maju, “gimana kalau gue bener-bener nggak mengharapkan apa-apa? Gimana kalau niat gue buat bantu lo itu tulus?”

Bullshit. Lo pikir gue bakal percaya? Lagian siapa di awal yang pengen hubungan ini tetep profesional? Lo amnesia atau gimana?”

“Kalau gue berubah pikiran? Apa lo bakal tetep nolak?”

Berlawanan dengan penyangkalannya yang bertubi-tubi, akibat setiap silabel yang keluar dari bibir pria itu maupun inci yang kian terkikis di antara mereka, keteguhannya justru mulai goyah. Ia tidak ingin percaya. Ia tidak boleh percaya. Pasalnya, tidak pernah ada yang mendekatinya secara tulus. Semua selalu memiliki motif di belakang sehingga lambat laun Oikawa ikut memanfaatkan situasi tersebut.

Kalau memang orang lain hanya ingin memanfaatkannya, lantas kenapa dirinya tidak boleh melakukan hal yang sama? Toh, ia tidak memiliki apa pun untuk dibuang.

Sayangnya, kenyataan itu membuatnya takut jikalau suatu hari akhirnya memiliki sesuatu untuk dijaga, dirinya akan tetap ditinggalkan.

Dan tawaran Iwaizumi barusan terdengar persis seperti ketakutannya selama ini.

Keterdiamannya yang cukup panjang mungkin dianggap sebagai lampu hijau oleh pria di hadapannya. Barulah saat jarak di antara bibir mereka tinggal sejengkal, Oikawa refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.

Iwaizumi berhenti— manik hijau pria itu naik ke miliknya sendiri yang semakin berdilatasi dalam kepanikan. Mereka bertatapan cukup lama sebelum Iwaizumi meraih pergelangannya dengan lembut, lalu menurunkannya perlahan.

Oikawa tidak melawan.

“Bilang nggak dan gue bakalan mundur.”

Ada sirene dalam kepalanya yang berbunyi nyaring. Alam bawah sadarnya memberi peringatan bahwa ini salah— mereka salah. Oikawa tidak seharusnya jatuh semudah ini. Bibirnya seharusnya membuka untuk mengucapkan kata penolakan yang sudah berada di ujung. Tangannya seharusnya tidak bergetar dalam cengkeraman halus pria itu. Kelopaknya seharusnya tidak ikut terpejam saat ada deru napas yang menerpa bibirnya hangat.

“Bilang nggak, Oikawa.”

Terlambat.

Karena Oikawa tidak melawan.


@fakeloveros

Oikawa dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruangannya. Lewat langkah cepat, ditambah punggung yang berkeringat dingin, Oikawa memencet tombol lift. Baru dirinya ingin menghela napas lega, ada tangan besar yang tiba-tiba menahan pintu agar tidak langsung tertutup. Oikawa mengumpat dalam hati begitu menyadari siapa yang menahan lift tersebut.

“Malam, Pak...” sapanya seraya memasang senyum palsu begitu pria paruh baya di hadapannya tersenyum, lalu ikut masuk ke dalam. Refleks, Oikawa bergeser sedikit lebih merapat ke arah dinding.

“Kamu belum pulang, Oikawa?” tanya manajernya itu dengan suara yang sengaja dilembutkan. Oikawa mati-matian menahan rasa jijik selagi berusaha tetap bersikap santai.

“Belum, Pak. Hari ini lembur ngurus audit...”

“Ooh, saya juga lembur, nih. Ini kamu mau ke mana ke bawah? Beli makan, ya? Kalau iya, ayo bareng saya aja.”

Oikawa benar-benar harus menahan ringisannya selagi berdoa dalam hati supaya lift yang mereka naiki bergerak semakin cepat. Matanya melirik ke atas dan mengucap syukur manakala tinggal satu lantai lagi yang tersisa.

“Bukan, Pak... saya... mau ketemu orang di lobby,” jawabnya dengan degup jantung yang memompa semakin cepat.

“Oh, ya? Siapa? Temen kamu?”

“Itu... anu...”

TING

Sungguh sebuah mukjizat karena setelahnya, pintu lift langsung terbuka lebar sehingga berhasil memotong pembicaraan mereka. Oikawa bahkan tidak sadar dirinya sedari tadi ternyata menahan napas. Dengan senyum palsu yang masih terpatri di wajah, Oikawa mempersilakan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya itu untuk keluar terlebih dulu.

“Silakan... Bapak duluan aja.”

“Ayo, jalan bareng aja dulu. Siapa temen kamu? Cewek atau cowok?”

Tak ayal, matanya pun sekonyong-konyong menelusuri lobi kantor untuk mencari sosok suaminya. Tidak butuh lima detik sampai netra cokelatnya menemukan figur pria yang tengah duduk di salah satu sofa panjang. Oikawa menelan ludah begitu mendapati tatapan Iwaizumi ternyata sudah mengarah ke dirinya kali pertama. Pria itu menyatukan alis seolah menemukan sesuatu yang janggal dari ekspresinya sekarang.

“O-orangnya udah ada, Pak. Kalau gitu, saya duluan ya, Pak. Permisi...”

Baru Oikawa ingin pergi menjauh cepat-cepat, lengannya tiba-tiba ditahan oleh sang manajer. Oikawa terbeliak dan langsung memutar tubuh sembari menarik tangannya kembali dengan sedikit panik.

“Kamu, kok, sampai kaget begitu? Saya cuma mau bilang, nanti pulangnya kalau udah kemaleman, biar saya anterin aja. Kereta juga udah nggak ada, kan, nanti? Terus daripada naik gojek, mending kamu—”

“Maaf.”

Oikawa tersentak, lagi-lagi ada yang menarik tangannya. Namun, kali ini ia hapal betul pemilik tangan yang menyentuh pergelangannya secara lembut. Oikawa semakin melebarkan mata saat menyadari Iwaizumi tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tidak melihat ke arahnya sama sekali, melainkan sang manajer yang kini tampak sedikit kesal karena pembicaraan mereka terpotong untuk kedua kalinya.

“Saya suaminya. Jadi, saya yang bakal nungguin dan nganterin dia pulang nanti. Terima kasih atas tawaran Anda.”

Iwaizumi mengatakannya dengan artikulasi yang teramat jelas dan sopan— sungguh berlawanan dengan ekspresi, juga tatapan mata menusuk yang mau tak mau ikut membuat Oikawa bergidik pelan. Ia melirik ke arah sang atasan dan mendapati wajah pria paruh baya itu merah padam— entah karena menahan marah atau malu.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Iwaizumi langsung menarik tangannya. Oikawa hanya sempat memberi anggukan singkat ke arah sang atasan sebelum mengikuti langkah super cepat suaminya. Iwaizumi membawa mereka ke arah lounge yang pastinya telah dihapal oleh pria itu. Karena sudah lewat jam pulang, kebetulan sekali tidak ada siapa pun di sana. Iwaizumi membawa langkah mereka menuju kursi paling pojok dan Oikawa mendudukkan diri di salah satunya.

“Siapa yang barusan?” tanya pria itu tanpa berbasa-basi.

“Manajerku...” jawabnya singkat sembari menatap pria itu sedikit ragu.

“Dia yang lagi deketin kamu sekarang?” Ucapan Iwaizumi terdengar semakin tajam seiring dengan peluh yang kian mengaliri pelipisnya. Oikawa menimbang-nimbang opsi terbaik yang dimiliki sekarang, tetapi hasilnya nihil. Dia tidak ingin berbohong pada suaminya dan jelas sekali permasalahan tidak akan berhenti sampai di sana seandainya Oikawa tetap tidak berterus terang.

Jadi, ia terpaksa berkata jujur.

“Kamu duduk dulu, deh... sini aku ceritain.” Oikawa menarik tangan suaminya lembut agar pria yang tadinya berdiri kaku itu mau ikut duduk di seberangnya. Ia pun mulai bercerita; dari awal kepindahan manajer itu ke divisi keuangan hingga situasi yang perlahan muncul. Kerutan di kening Iwaizumi terlihat semakin dalam begitu Oikawa menyertai alasan diamnya selama ini. Sepanjang bercerita, tidak sekalipun Oikawa melepaskan genggaman tangannya di jemari sang suami. Sesekali Oikawa mengusap cincin perak yang melingkar di sana dan Iwaizumi langsung membalas genggamannya.

“Tooru...”

Oikawa menegakkan tubuh— ia tahu, jika Iwaizumi telah menyebut namanya dengan nada seperti itu, berarti dirinya akan diberi nasihat.

“Kalau urusan audit kamu udah beres, aku mau kamu ngambil cuti.”

“Hah?”

Iwaizumi menaikkan satu alis mendengar respons pasifnya. Oikawa membuka dan menutup mulut layaknya ikan yang baru diangkat ke daratan. Otaknya berusaha meregistrasi kalimat di luar dugaan tersebut.

“Cuti? Buat apa?” Setelah sanggup bersuara, Oikawa akhirnya bertanya. Ia merasa sedikit bodoh karena tidak paham akan jalur pemikiran pria di hadapannya. Itu, atau memang sang suami saja yang sulit dimengerti. “Tanggung banget. Nanti akhir tahun juga ada cuti bersama tahun baru, kan?”

“Cuti kamu masih ada sisa, kan, tapi?”

“Ya, ada...” Oikawa dengan cepat menghitung di dalam otak. “Sisa lima hari buat tahun ini.”

“Oke. Segitu cukup, kok. Ambil semuanya.” Iwaizumi memberi titah tanpa memberi ruang untuk dibantah. “Aku mau ngajak kamu liburan.”

“Liburan? Ke mana?? Sama Tobio juga berarti?”

Pertanyaannya tak langsung dijawab. Iwaizumi malah berdiri, lantas mendekatinya yang masih berada dalam posisi duduk. Oikawa mendongak, sementara Iwaizumi meletakkan satu tangan di belakang kursinya manakala ikut menunduk.

“Nggak sama Tobio. Aku mau kita liburan berdua aja.”

Dengan satu tangan yang bebas, Iwaizumi meraih dagunya lembut. Oikawa otomatis memejamkan mata saat pria itu menjatuhkan satu kecupan di bibirnya.

“Kayaknya kamu perlu diingetin soal sesuatu.”

Oikawa mengerjap lambat— ia tidak mengerti maksud ucapan pria itu sama sekali. Meski begitu, tatapan serta gestur posesif yang kini diperlihatkan sang suami sudah cukup untuk membuatnya bungkam.

Kalau begini, Oikawa tidak memiliki pilihan selain mengajukan cuti.


Requested by gundiknya Iwa & Winnerpedia. Karena isi prompt-nya agak-agak mirip, jadi aku memutuskan buat disatuin aja. Prompt punya Winnerpedia agak aku tweak demi mendukung alur cerita... hehe, hope you don't mind!

Buat yg penasaran prompt mereka apa... nanti aku attach di akhir alias iyes, ini belum selesai, kok. Mau nyicil bikin privatternya dulu, hahaha XD

Also, ini terinspirasi dari cc kemarin karena sempet ada yg nanya, Iwa kalau cemburu tuh gimana... dan aku kebetulan pernah foreshadowing gitu di AU Ayah Iwa bahwa Iwa kalau cemburu tuh... hmm, yah, kita lihat saja nanti.

@fakeloveros

Jarak dari sofa tempatnya berbaring menuju pintu apartemen hanya perlu ditempuh dalam tujuh langkah besar.

Namun, selama kakinya menapak lantai, rasanya Oikawa seperti berusaha meraih sesuatu yang amat sangat tidak mungkin— yang begitu di luar jangkauan sehingga ketika telapaknya yang licin oleh keringat menurunkan gagang pintu, lututnya berubah jadi agar-agar manakala mendapati sosok yang ada di hadapannya.

Oikawa takut jika dirinya berkedip satu detik saja, Iwaizumi akan langsung menghilang layaknya pertunjukan sulap.

Pria yang ditatapnya hanya tersenyum kecil— senyuman khas Iwaizumi Hajime yang terakhir dilihatnya secara langsung dua tahun lalu saat mereka harus berpisah ke jalan masing-masing. Mata pria itu menilik dalam-dalam sebelum satu silabel membuka percakapan— menandai bahwa pria di hadapannya seratus persen nyata.

“Tooru.”

Satu nama. Namanya. Dan diucap begitu jelas sehingga Oikawa tak kuasa menahan isak tangis yang sudah berada di ujung pelupuk mata. Ia melemparkan diri ke arah pria yang dengan sigap langsung merengkuhnya erat. Oikawa menumpahkan segala kerinduan di sana seraya menghidu penuh sukacita aroma yang tak pernah gagal mengisi paru-parunya.

“Kamu nangis?” tanya pria yang masih memerangkapnya dalam pelukan. Tangan Iwaizumi naik ke bagian belakang kepalanya, lantas memberi usapan lembut di sana. “Wah, udah lama aku nggak liat kamu nangis. Terakhir kayaknya SMA pas kita kalah habis tanding lawan—”

“Bisa, nggak—” Oikawa menjauhkan kepalanya sejenak untuk memberi kekasihnya tatapan kesal, “kamu jangan ngungkit soal itu lagi? Aku lagi terharu, nih!”

Iwaizumi menyeringai lebar, lalu menarik kepalanya kembali ke antara ceruk leher yang menguarkan campuran aroma woods dan matahari; sungguh tidak berubah, bahkan setelah lebih dari setahun berpisah berpisah.

Mereka berada di posisi yang sama untuk beberapa lama sampai tak ada lagi sisa air mata yang sanggup Oikawa tumpahkan. Ia menarik diri, lalu menatap sang kekasih lekat-lekat.

“Kamu, kok, nggak ngasih tau kalau mau dateng ke sini? Kuliah kamu gimana? Emang lagi libur? Terus ini gimana bisa masuk dari pintu bawah? Emang penjaganya nggak nanyain? Kenapa—”

“Tooru, gimana kalau kita masuk dulu?” potong Iwaizumi dengan setengah tawa yang keluar. “Nggak enak kalau ada yang liat kita berdiri di koridor kayak gini.”

“O-oh, ya! Sini, sini!”

Begitu pintu apartemennya tertutup di belakang, Iwaizumi mulai menjelaskan.

“Aku udah ngerencanain buat dateng ke sini dari lama dan emang pengin bikin kejutan. Aku izin beberapa hari soalnya jatahku masih banyak. Dan aku bisa masuk ke dalem gedung apartemen ini karena dibantu roommate kamu.”

Oikawa mengernyit bingung mendengar penjelasan runtut barusan. “Jadi, roommate aku tau kamu mau dateng?? Kalian ngerencanain ini bareng-bareng?”

Iwaizumi mengangguk sembari melepas topi dan jaket. Pria itu langsung mendudukkan diri di atas sofa dan membuat gestur agar Oikawa datang mendekat. Tanpa berpikir dua kali, Oikawa menurut, lalu sengaja menyamankan diri di atas pangkuan sang kekasih.

“Kalau nggak gitu nanti aku nggak bisa masuk, kan? Eh, rambut kamu kayaknya panjangan dikit, ya?”

Bulu kuduknya berdiri manakala tangan besar Iwaizumi memainkan anak-anak rambut di pangkal lehernya. Pria itu menatapnya penuh afeksi— sesuatu yang kian sering terjadi begitu mereka meresmikan hubungan, tetapi efeknya selalu membuat Oikawa menahan napas. Sepertinya sampai tua nanti pun Oikawa akan sulit membiasakan diri.

“Kalau rambut kamu sama aja.” Perhatian Oikawa tertuju pada potongan spike yang setia menjadi ciri khas sang pria sejak mereka SMA. Tangannya yang sedari awal melingkar di sekitar leher Iwaizumi, mulai ikut memainkan sejumput yang mampu ia raih.

“Enakan gini, biar nggak panas.”

“Emang di Irvine panas?”

“Maksudku pas dulu kita masih di Jepang. Kalau di Irvine, sih, musim panasnya malah keseringan hujan.”

Oikawa tersenyum tatkala mendengar sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama. Iwaizumi sendiri pernah bercerita saat pertama kali sampai di negara asing itu. Namun, ia membiarkan karena mendengar secara langsung suara Iwaizumi dari jarak sedekat ini sungguh berbeda dibanding lewat Skype.

“Tooru.”

Suara pria itu tiba-tiba memecah lamunannya.

“Hmm?”

“Aku ke sini mau ngelunasin utang.”

“Utang ap— oh!

Oikawa mengerjap berulang kali— teringat dengan pembicaraan mereka sebelum ini di aplikasi pesan singkat.

“Kamu... serius?” tanyanya dengan degup jantung yang kembali memompa cepat.

“Kalau nggak serius, mana mungkin aku nekat dateng ke sini?”

Netranya hanya mampu mengikuti ketika Iwaizumi meraih sesuatu dari kantung jaket yang tersampir tak jauh dari sana. Kala pria itu mengeluarkan kotak beludru warna biru gelap, ia terbeliak tak percaya.

“Holy shit. Kamu serius.”

Iwaizumi hanya tertawa pelan. “Aku, kan, udah bilang.”

“Apa kamu bakal berlutut juga?”

“Bisa aja kalau kamu mau.”

Jujur saja, Oikawa tak yakin dirinya sanggup berdiri sekarang.

“Nggak usah,” lirihnya sembari menggeleng gugup. “G-gini aja... Langsung...”

Otaknya bahkan tidak bisa diajak bekerja sama lagi untuk membentuk satu kalimat koheren.

Seakan mengerti, Iwaizumi lagi-lagi hanya tersenyum sebelum membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya ada cincin perak— berkilau di bawah sinar matahari sore yang menyeruak dari balik jendela. Oikawa menatap tak dengan mulut terbuka seolah apa yang tengah dilihatnya adalah salah satu keajaiban dunia.

“Aku minta cincin ini dibuatin khusus soalnya... coba kamu liat.”

Oikawa menunduk dan berusaha melihat apa yang dimaksud Iwaizumi. Matanya menyipit begitu mendapati ada semacam ukiran di dalamnya.

“You are...” Oikawa berusaha membaca tulisannya.

“Worth the wait.”

Iwaizumi menarik tangannya lembut dan menyelipkan cincin itu di jari manis.

“You always are,” tukas pria itu sekali lagi sambil mencium cincin yang sudah melingkar sempurna di jarinya.

Oikawa merasakan berbagai macam luapan emosi hingga dirinya tak sanggup berkata-kata. Matanya terus tertuju pada benda perak yang menghias jarinya bagai sebuah sumpah; bagai sebuah janji tak terucap.

“Jangan nangis lagi,” ledek Iwaizumi tiba-tiba yang sedari tadi hanya memperhatikan reaksinya. Oikawa mendengus dan memukul bahu pria itu pelan. Meski begitu, tangannya memang terangkat untuk menghapus jejak kecil air mata yang sudah berkumpul di ujung.

“Oke. Utang kamu lunas sekarang.”

Iwaizumi terkekeh, lantas menarik kepalanya mendekat. “Great. Now kiss me.”

Jadi, begini; Oikawa bisa membuka ratusan kamus, tapi tak ada satu pun kata dalam bahasa di dunia ini yang mampu mendeskripsikan ciuman mereka. Meski intensitasnya seingat yang Oikawa rasakan terakhir kali, ada sesuatu yang berbeda kala Iwaizumi menyapu bibirnya dan memberi pagutan habis-habisan di sana. Ciuman itu tidak lembut; cenderung penuh urgensi dan dominasi yang membuat kepalanya berputar. Bahkan ketika Oikawa berusaha menarik napas, Iwaizumi langsung mengejarnya bagai tak rela untuk berpisah barang sedetik.

Namun, beginilah cinta mereka. Sejak dulu, hasrat itu tidak pernah berkurang; justru kian bertambah dengan jarak ribuan kilometer yang memisahkan.

Mau ada sebanyak atau serupawan apa pun orang-orang yang mendekatinya, tidak akan ada yang bisa menyamai kedalaman hijau di netra pria itu saat menatapnya. Atau saat bibir sang pria yang kerap kali menyentuh kulitnya, mulai membisikkan kata yang tidak hanya manis, tetapi juga mengobarkan api dalam jantung yang sudah terlahap sepenuhnya.

Kendatipun begitu, semua tidak pernah cukup. Ia menginginkan lebih, lebih, dan lebih hingga apa yang memuaskannya hanyalah jika seluruh makhluk di jagat raya mengetahui siapa pemilik hatinya.

Lantas ketika akhirnya Iwaizumi memberinya kesempatan untuk menghirup udara dan pria itu memverbalisasikan aku cinta kamu di antara setiap tarikan—

Oikawa percaya bahwa malaikat pun turut mengaminkan.


@fakeloveros

“Oke. Jadi, di sini aja?”

Pertanyaan yang muncul dari pria di sebelahnya berhasil memecah lamunan Oikawa. Ia menoleh, lantas memasang senyum termanisnya begitu sang executive producer balik menatapnya lekat.

“Iya, di sini aja. Makasih ya, Teru. Sorry banget jadi ngerepotin.”

Pria yang lebih muda itu tertawa, lalu menjulurkan satu tangan ke arah Oikawa untuk membetulkan letak kerah jaketnya yang sedikit miring. Oikawa tetap memasang muka riang walau dalam hati ia meringis pelan.

“It's okay. Yang penting, kan, nanti malem acara dinner kita tetep jadi...?”

Oikawa mengangguk, netranya kali ini bergulir ke arah lingkungan di sekitar gym yang tampak hening— memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana. Namun, untuk berjaga-jaga, sengaja dirinya menghubungi Terushima untuk diantarkan ke tempat ini. Karena kalau tidak begitu, bisa lebih gawat apabila dirinya ketahuan datang ke tempat ini sendirian.

Lebih baik ada rumor soal Oikawa Tooru yang ketahuan pergi malam-malam dengan executive producer-nya dibandingkan memunculkan kecurigaan bahwa ia punya affair baru di tempatnya berlatih boxing— persis seperti yang ditakutkan Akaashi. Setidaknya untuk sekarang, Oikawa ingin bermain aman.

“Oke. Kayaknya aman, nih. Aku turun dulu, ya,” pamitnya kepada si pengemudi sebelum membuka pintu mobil. Dengan langkah cepat, Oikawa segera masuk ke dalam bangunan. Untungnya barusan pesannya sempat dibalas oleh Iwaizumi sehingga tidak perlu khawatir kedatangannya akan menjadi sia-sia.

Masih dengan langkah yang sama, Oikawa menaiki tangga dan menelusuri koridor yang kini telah terpatri jelas di otaknya. Pun, ia tidak mencemaskan akan bertemu secara tak sengaja dengan orang lain karena Iwaizumi sendiri lagi-lagi telah meyakinkan bahwa hanya ada pria itu di sana.

Oikawa tidak tahu apa yang merasukinya. Padahal pertemuan terakhirnya dengan pria itu berujung pada suatu ketegangan yang belum terselesaikan. Meski begitu, Oikawa justru berjalan dengan jantung berdegup penuh antisipasi. Entah kenapa, ia justru ingin cepat-cepat bertemu dengan sang atlet— sesuatu yang tidak pernah terjadi di hidupnya, bahkan dengan pria lain.

Oikawa membuka pintu sedikit lebih bersemangat dari yang diinginkan. Matanya tak perlu menelusuri lebih jauh karena pemandangan Iwaizumi yang sedang duduk di kursi panjang dekat dinding langsung menarik perhatiannya. Namun, senyumnya sedikit memudar begitu menyadari apa yang tengah dilakukan pria itu.

Kala masih memutuskan kalimat apa yang sebaiknya diucapkan pertama kali, netra hijau milik sang atlet tak ayal jatuh ke arahnya. Oikawa, yang masih berdiri ragu di ambang pintu, hanya mengangkat tangan untuk memberi lambaian pelan. “Eh... hai? Halo?”

“Masuk aja,” balas pria itu singkat tanpa menghentikan gerakan tangan saat mengobati luka-luka lebam di wajah. Oikawa pun akhirnya mendekati pria itu seraya mengamati kondisi yang begitu terpeta jelas.

“Itu... nggak apa-apa diobatin sendiri? Emang nggak perlu ke rumah sakit?”

Iwaizumi mendengus. Tangan sang pria menyingkirkan beberapa barang dari atas kursi sebelum mengedikkan dagu ke arah sisi kosong tersebut.

“Tuh, duduk.”

Oikawa patuh dan mendudukkan diri di sana tanpa mengalihkan atensi sama sekali dari pria yang terlihat tenang meski memiliki begitu banyak luka di wajah.

“Dan, nggak, ini nggak perlu sampai dibawa ke rumah sakit. Mungkin iya, kalau gue udah sampai patah tulang,” sambung pria itu tak beberapa lama kemudian.

“Tapi apa lo pernah sampai patah tulang?” tanya Oikawa tanpa bisa menahan diri.

“Kalau pernah, gue nggak akan ada di sini sekarang, ngobrol sama lo.”

Oikawa mengatupkan bibir, dalam hati membenarkan ucapan pria tersebut.

“Ngapain lo nyariin gue jam segini? Apa manajer lo tahu kalau lo ke sini?”

Pertanyaan gamblang Iwaizumi sedetik kemudian membuat Oikawa bergerak tidak nyaman. Tangannya naik dan secara refleks membetulkan rambutnya— sebuah kebiasaan yang kerap terjadi apabila dirinya sedang dilanda gugup. Ia berdeham beberapa kali sebelum melontarkan jawaban yang memang menjadi tujuan kedatangannya malam itu.

“Lo, kan, menang taruhan. Tapi lo sendiri belum bilang kita taruhan apa di sini.”

“Dan lo masih setuju? Gimana kalau gue minta yang aneh-aneh?”

Oikawa menurunkan tangannya perlahan. Netranya terpaku pada permukaan mengkilap ring besar berwarna biru yang lagi-lagi menimbulkan pertanyaan dalam dirinya, apakah berdiri di sana sama seperti berada di atas panggung? Apakah sama seperti berdiri di bawah sorotan lampu? Apakah sama seperti menerima ekspektasi dari orang-orang?

Oikawa sesungguhnya ingin bertanya, tetapi Iwaizumi yang masih menunggu jawabannya, lagi-lagi membangkitkan suatu perasaan asing. Dalam diam, pria itu seakan mendorongnya untuk melontarkan apa pun itu yang selama ini telah ia pendam sendirian.

“Aneh-anehnya lo... paling apa, sih?” Oikawa tertawa hambar. “Gue udah biasa sama orang-orang yang minta banyak hal— entah itu duit, posisi penting, atau sekadar pelampiasan. Jadi, kalau apa yang lo mau emang ada di salah satu itu, mending kasih tau aja sekarang. I have nothing to lose juga, kok.”

Jawabannya pastilah terdengar menyedihkan. Oikawa sendiri berusaha menutupinya di balik kedikkan bahu dan raut wajah datar. Walau begitu, Oikawa tidak akan berperangai naif dengan berharap Iwaizumi akan meminta hal lain.

“Nothing to lose, ya...” gumam sang atlet dari sebelahnya diikuti sebuah hela napas berat. “Di saat lo beranggapan nggak akan kehilangan apa pun, gue justru punya banyak hal yang ditakutkan bakal hilang. Lucu, ya, gimana dunia kita berlawanan arah?”

Oikawa tertegun. Saat ia menoleh karena ingin tahu ekspresi macam apa yang ditampilkan oleh si pemilik surai legam, Iwaizumi tengah menyenderkan tubuh dengan mata terpejam seolah seluruh beban dunia ada di bahu pria itu. Oikawa mengamati dan berkesimpulan ternyata bukan hanya dirinya yang merana.

Apakah kejam, jika Oikawa justru bersyukur karena tak merasa sendirian?

“So... lo mau apa dari gue?” tanyanya dengan nada kembali dibuat ringan— berusaha menetralkan suasana agar tak lagi melankolis. “Tapi kalau misalnya lo minta gue naikin fee lo, gue beneran bisa—”

“Lepas topeng lo.”

Oikawa berhenti. “Apa?”

“Gue mau setiap kita ada di sini, pas latihan, lo bisa lepas topeng palsu itu. Gue nggak mau liat Oikawa Tooru yang aktor terkenal atau penuh skandal itu, tapi gue mau liat Oikawa Tooru yang lagi berusaha sekeras mungkin buat mempertahankan passion sekaligus coping mechanism-nya.”

Oikawa tak bergerak— Bukan tak ingin, tetapi ia tak mampu bergerak. Dentuman liar di dadanya semakin mengeras hingga ia yakin mereka tengah berada di atas roller coaster yang siap turun dan bukannya ruangan dengan ring besar di tengah-tengah. Mulutnya membuka, tetapi tak ada suara yang keluar dari sana.

“Gue cuma mau itu. Bukan duit, kuasa, atau bahkan menjadikan lo... pelampiasan,” Iwaizumi mengulangi ditemani satu lirikan singkat sebelum kembali menghadap ke depan. Oikawa mengerjap dan menjilat bibirnya yang terasa sangat kering.

“Kenapa...?”

Hanya satu silabel itu yang mampu ia keluarkan.

Iwaizumi mengedikkan bahu. Sepatu sang pria membuat ketukan di atas lantai yang menimbulkan gema. “No spesific reason. Cuma tingkah laku lo di pertemuan pertama kita kemaren bikin gue gemes aja.”

Oh, wow. “Apa gue senyebelin itu di mata lo?”

Iwaizumi memikirkan pertanyaan itu sepersekian detik sebelum menggeleng singkat.

“Nggak. Tapi gue ngerasa, lo sengaja bertingkah kayak gitu biar keliatan kuat aja. Biar cocok sama image yang selama ini udah dibangun orang-orang. Jadinya, ya, lo keliatan bergantung banget sama persona itu.”

“Dan itu... bikin lo gemes?” bisiknya tak percaya.

Iwaizumi akhirnya menoleh dan dengan alis terpaut bingung, pria itu membenarkan. “Yah, kita bakal ngabisin waktu latihan berdua buat beberapa bulan selama film lo jalan, kan? Jadi, bukannya lebih enak kalau kita sama-sama nyaman?”

Oikawa berusaha meregistrasi pernyataan itu baik-baik. Ia teringat dengan orang-orang yang selama ini selalu setia bekerja dengannya; Akaashi, para stylist-nya, bodyguard, supir, serta orang-orang yang sering ia temui di lokasi syuting atau pemotretan. Meski begitu, tak pernah ada yang melayangkan tawaran seperti ini. Akaashi, mungkin, memang selalu memahari sikapnya yang semena-mena. Namun, manajernya itu pun tak pernah sampai bersikeras. Orang-orang selama ini seolah menerima dengan lapang dada sikapnya yang seperti itu.

“Oke. Gue bakal lakuin itu.”

Oikawa tersenyum dan perasaannya sungguh ringan bagaikan bulu-bulu halus yang berterbangan. Ia memperhatikan Iwaizumi yang sepertinya sudah menganggap pembicaraan itu usai. Netranya mengikuti manakala sang pria meraih plester yang ada di dalam tas.

“Mau gue pasangin?”

Sebelum Iwaizumi sempat menolak, Oikawa buru-buru meraih benda tipis tersebut lantas membukanya. Ia beringsut lebih dekat saat tanpa banyak protes, Iwaizumi memiringkan badan supaya bisa duduk berhadapan dengannya.

“Mau gue pasangin di mana?” tanyanya dengan senyum yang masih terpatri di wajah. Iwaizumi memandangnya beberapa detik sebelum menunjuk satu luka di kening dengan ujung jari.

Oikawa kian mengikis jarak. Matanya terfokus pada kulit terbuka yang masih agak basah dan mengeluarkan sedikit darah.

“Pasti sakit...” lirihnya seraya dengan berhati-hati menempelkan penutup luka di atas sana. Iwaizumi diam saja, tetapi ia bisa merasakan embus napas hangat pria itu menerpa lehernya.

“Kalau luka-luka kayak gini... apa lo selalu ngobatin sendiri?”

“Gue nggak suka ngerepotin yang lain.”

Oikawa bergidik tanpa sadar saat bariton Iwaizumi terdengar amat dekat di telinganya. Ia bahkan mulai merasakan tatapan pria itu manakala tangannya masih berusaha memastikan perekat itu tidak akan terlepas.

“Sekali-kali... nggak apa-apa buat minta tolong ke orang lain, padahal,” tukasnya pelan sebelum melirik ke bawah dan menemukan netra hijau yang berdilatasi dalam bayangannya itu memberi tatapan intens.

“Ke siapa contohnya?”

Oikawa menelan ludah. Ia tidak sadar jaraknya sudah sedekat itu dengan Iwaizumi. Secara samar, dirinya bahkan bisa menghidu aroma sabun yang menguar dari tubuh sang atlet. Itu bukanlah aroma parfum mahal seperti yang sering digunakan olehnya, atau tercium begitu pekat saat tadi Oikawa berada di dalam mobil Terushima. Itu hanya aroma segar seseorang yang baru keluar dari kamar mandi, lalu bercampur dengan wangi maskulin natural milik Iwaizumi.

Hanya perasaannya, atau barusan Iwaizumi memang menatap bibirnya sekilas?

“Ke—”

TRING TRING TRING

Oikawa terlonjak, tubuhnya otomatis beringsut mundur dengan tangan yang panik mencari gawai di dalam kantong jaket. Begitu mengeluarkan benda pipih itu dan membaca pesan beruntun yang datang secara sekilas, erangannya langsung mengisi ruangan.

“Aduh, kayaknya gue harus balik sekarang. Gue ketahuan Akaashi nggak ada di apartemen. Shit. Cepet banget, deh, ketahuannya.”

“Oh, oke.”

Mereka sama-sama berdiri dan berhadapan dengan canggung dalam keheningan. Iwaizumi bagaikan enggan untuk menatapnya, begitu pula Oikawa. Barulah saat Oikawa memberanikan diri untuk bersuara lagi, manik mereka bersibobrok.

“Gue belum bilang selamat secara langsung karena lo udah menang hari ini. Lo keren banget tadi siang! Nanti lo bakal ngajarin gue kayak gitu juga, kan?”

Iwaizumi menyeringai dengan gestur yang terlihat lebih santai. “Yah, kalau lo sanggup, tapi. Karena itu berarti latihannya nggak bakal gampang.”

Oikawa menyunggingkan senyum lebar; kali ini tanpa kepura-puraan sedikit pun.

“Kalau gurunya lo, gue yakin bakal cepet jago.”

Bukan Oikawa Tooru yang seorang aktor terkenal penuh skandal, melainkan Oikawa Tooru yang tengah berusaha bertahan.


@fakeloveros

Ada kalanya Oikawa tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri, padahal banyak yang bilang pria pada umumnya lebih sering menggunakan logika dibanding perasaan.

Yah, bukan berarti perasaannya pun selalu benar.

Namun, acap kali Oikawa lebih mengandalkan insting dibandingkan pikiran jernihnya. Insting tajamnya itu merupakan sesuatu yang sangat ia banggakan hingga terbukti bisa membawanya ke posisi sekarang— ke bawah sorotan lampu yang mengangkat validasi dalam dirinya.

Tapi insting itu juga menjadi bumerang, terutama saat ia berkenalan dengan orang-orang baru.

Seperti begitu ia semakin mengenal Terushima, si Mr. Executive Producer yang agaknya sangat dibenci oleh sang manajer. Oikawa bahkan tidak bisa menyalahkan karena instingnya pun mengatakan demikian; bahwa pria itu mendekatinya hanya untuk mencapai sesuatu.

Sesuatu yang pastinya bisa ia berikan semudah membalikkan telapak tangan.

Sudah tahu alurnya begitu, lantas Oikawa tetap membiarkan. Ibarat kelinci yang jatuh ke lubang besar untuk kesekian kali meski tahu di dasar hanya ada wortel busuk menanti.

Tapi Oikawa bukanlah kelinci. Semua orang tahu itu.

Ia hanya pandai mengenakan topeng kelinci untuk menjerat pemburu, lalu mereka akan jatuh ke lubang yang sama pada akhirnya.

Siklusnya selalu sama sekalipun topengnya perlahan berganti menjadi sesuatu yang lebih ganas. Seolah pemburu-pemburu itu tetap senang menghampiri walaupun kini ada duri di balik bulu halusnya.

Namun, yang namanya manusia itu tidak pernah tahu diri. Mereka yang mendekati, mereka pula yang mengeluh kesakitan setelah tertusuk tajam duri.

Dan Oikawa memperhatikan semua lakon itu di balik topeng— menanti dalam diam sosok pemburu yang tidak akan takut dengan durinya.


Oikawa berjalan mengendap-endap. Ia baru saja diizinkan masuk oleh satpam di luar gedung. Namun, suasana gym yang terlihat sepi pagi hari itu membuat langkahnya sedikit ragu. Iwaizumi memang sudah jelas mengatakan tidak akan ada siapa-siapa di sana, tetapi mendapati isi gedung yang benar-benar kosong, mau tak mau membuat Oikawa memelankan langkahnya.

Oikawa menelusuri koridor dengan langkah hati-hati— seolah bisa ada siapa saja yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Akaashi sudah ia suruh untuk menunggu di luar, atau berjalan-jalan di sekitar dan baru boleh kembali begitu latihannya selesai. Dia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun selama sesi latihan berlangsung.

Karena menurut instingnya, akan sangat menarik menghabiskan waktu berduaan dengan guru barunya itu.

Oikawa meraih gagang pintu yang membawanya menuju ruangan dengan ring besar di tengah-tengah. Ia mendekati ring tersebut dan menelengkan kepala untuk mengamati— dalam hati bertanya-tanya, apakah rasanya sama seperti berdiri di atas panggung?

“Oh, udah dateng?”

Jantungnya nyaris jatuh ke dasar perut saat mendengar sapaan yang bersumber dari belakang. Oikawa berputar dan mendapati Iwaizumi tengah berjalan menghampiri dengan raut wajah datar. Pria itu datang dalam tampilan sederhana; celana pendek hitam dan kaus putih yang amat sangat memperlihatkan otot tubuh. Oikawa tanpa sadar memperhatikan bisep sang atlet lebih lama dari seharusnya.

Iwaizumi berdeham.

“Jadi... Akaashi bilang, syuting film lo bakal dimulai minggu depan? Itu berarti... kita punya waktu seminggu buat latihan dasar. Tapi karena lo cuma punya waktu dua hari dalam seminggu buat latihan... yah, mungkin progress-nya harus lebih dipercepat.”

Oikawa berusaha mendengarkan. Sungguh. Tapi gerak bibir pria itu setiap berbicara entah mengapa lebih menarik untuk diperhatikan.

“Oh ya, peran lo nanti di film kan atlet level middleweights, jadi—”

“Lo serius, ya, ternyata?”

Tahu-tahu, mulutnya sudah membuka sendiri dan melontarkan kalimat tersebut. Iwaizumi menghentikan lajur bicara, lantas menatapnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.

“Maaf?”

“Soal yang kemaren. Lo serius ternyata.” Oikawa mengulangi dengan senyum kecil yang mulai terpatri.

“Soal yang mana, lebih tepatnya?”

“Bagian lo mau menjaga hubungan ini tetap profesional.”

Kepemahaman lewat di netra hijau itu. Oikawa menunggu jawaban kala si pemilik surai hitam hanya menghela napas.

“Apa ada yang salah dari itu?” Iwaizumi bertanya singkat.

“Nggak sih, cuma...” Oikawa memanjangkan jawaban dalam upaya menciptakan jeda, “aneh aja.”

Saat Iwaizumi tidak merespons pernyataannya dan hanya menatap dengan satu alis terangkat tinggi, Oikawa melanjutkan ditemani senyum malas.

“Harusnya yang ngajarin gue itu Bokuto, kan? Karena Akaashi khusus minta ke dia. Tapi kenapa tiba-tiba jadi lo? Coba jawab yang jujur.”

“Karena Bokuto nggak mau.”

Di luar dugaan, Iwaizumi langsung melontarkan jawaban tanpa terlihat berpikir sama sekali.

“Kenapa?”

Iwaizumi mengedikkan bahu. “Mana gue tahu.”

“Terus dia yang nawarin lo, atau...?”

“Gue yang nawarin diri.”

Lagi-lagi jawaban itu datang dengan lugas, membuat Oikawa mengernyitkan kening atas sikap terang-terangan pria tersebut.

“Gara-gara apa?”

Iwaizumi memandanginya lama seakan Oikawa berbicara dalam bahasa luar angkasa.

“Obviously karena gue butuh duit dan dengan ngajarin lo gue dibayar, jadi...”

Alasan itu terdengar sangat masuk akal. Oikawa pun paham. Tetapi anehnya, ia masih dibuat penasaran. Instingnya lagi-lagi mengatakan, ada hal lain yang diincar pria itu dari mengajarinya berlatih.

“Lo udah denger rumor soal gue, kan? Lo nggak kepikiran emang?”

Oikawa mulai berjalan mendekat. Namun, Iwaizumi terlihat seolah tidak terpengaruh dengan pertanyaannya. Sang atlet hanya berdiri diam sementara Oikawa kian menghapus jarak. Netra mereka saling bertemu dalam intensitas yang semakin membuncah.

“Apa lo tahu? Orang bilang gue itu... manis dari luarnya doang. Oh, bahkan ada artikel yang pernah nyebut gue kayak... fox? Choosing subtlety and cunning over brute strength with hunter personalities. Emang lo... nggak khawatir? Sama sekali?”

“Khawatir kenapa?”

Oikawa berhenti melangkah. Ia sudah berhadapan persis dengan pria itu. Tidak ada yang berubah dari sikap si pemilik surai hitam— tetap berdiri tegak layaknya Oikawa bukanlah pemburu yang perlu ditakuti.

“Oikawa.”

Itu pertama kali ia mendengar namanya disebut secara langsung. Dan dalam jarak sedekat itu, Oikawa bisa mendengar dengan jelas bariton rendah yang digunakan saat mereka pertama kali berkenalan.

Juga, detak jantung yang memompa lebih cepat di luar keinginan.

“Nggak semua orang bisa dibodohi sama persona lo itu.”

Oikawa tersentak. Tubuhnya terhuyung mundur. Walau begitu, sebelum ia bisa beringsut lebih jauh, ada gerak tangan yang dengan cepat langsung menahan pergelangannya.

“Gue ngasih lo opsi supaya kita bisa jaga hubungan ini tetap profesional karena gue tahu reputasi lo di luar sana gimana. Dan lo sendiri yang ngasih pilihan gue mau percaya yang mana. Tapi ngeliat sikap lo sekarang... gue justru langsung punya jawabannya.”

Oikawa menahan napas. Pergelangannya dicekal lebih kencang seakan pria itu berusaha meninggalkan tanda pengingat akan pembicaraan ini. Kakinya tidak bisa digerakkan ke mana pun bagaikan dijerat oleh lem tikus. Ingin mengalihkan pandangan pun tidak bisa karena netranya dibuat terpaku ke satu arah.

Manik hijau gelap itu seakan bisa menembus pertahanannya.

“Di mata gue, lo keliatan kayak orang yang lagi nyembunyiin identitas asli di balik topeng. Lo berusaha tegar di situasi sekarang. Situasi di mana lo bergerak sedikit aja, langsung ada ratusan artikel yang muncul. Dan, bukan— itu bukan karena lo sekadar artis terkenal atau aktor yang emang jago akting. Tapi, lo cuma lagi berusaha melindungi diri sendiri karena takut.”

Cekalan di tangannya mengendur. Pria itu mengerjap seakan baru tersadar dengan posisi mereka. Saat tangannya dilepas dan Iwaizumi ingin mengambil langkah mundur, Oikawa refleks menahan pria itu.

“Lanjutin,” bisiknya dengan jantung yang semakin berdentum keras. “Lanjutin kalimat lo barusan. Gue takut kenapa?”

“Oikawa—”

“Eh... permisi?”

Mendadak, ada suara lain yang memecah ketegangan tersebut. Oikawa melepas sentuhan di tangan pria itu dan Iwaizumi menatapnya selama beberapa detik sebelum menoleh ke belakang.

Ada Bokuto, yang berdiri dengan tampang bingung di ambang pintu.

“Di... depan tadi gue ketemu Akaashi, terus... katanya disuruh ngecek apa kalian udah mulai latihan...?”

Oikawa menegakkan tubuh, lantas menjawab dengan suara yang dibuat seceria mungkin. “Oh, ini kita baru mau latihan. Tadi ngobrol-ngobrol dulu sebentar.”

“Oh... oke.” Bokuto mengangguk. Netra pria itu bergulir ke arah pria di hadapannya yang masih berdiri kaku. “Lo kenapa, Wa? Sakit?”

Iwaizumi menggeleng dan akhirnya ikut menetralkan postur.

“Iya, ini baru mau mulai latihan. Lo bisa sampein itu ke Akaashi.”

Begitu Bokuto lagi-lagi mengangguk, lalu bersiap untuk meninggalkan ruangan, suara Iwaizumi menahan langkah pria itu.

“Eh, buat besok gimana? Nomor gue udah keluar?”

“Lah, iya! Tadi gue ke sini sekalian mau ngasih tau pertandingan lo besok dapet nomor urut lima. Jadi, kira-kira... habis makan siang?”

“Besok ada pertandingan?” Oikawa, tanpa bisa menahan diri, ikut bertanya. Saat Iwaizumi kembali menatapnya, Oikawa pura-pura tidak melihat dan lebih memilih untuk berbicara dengan Bokuto. “Pertandingan boxing, kan? Gue bisa nonton, nggak?”

“Bisa aja, sih... kayaknya tiketnya masih bisa dibeli online.”

“Gitu? Nanti bisa lo kasih tau website-nya ke Akaashi? Gue mau nonton.”

Dilihatnya Bokuto sudah membuka mulut, tetapi yang terdengar justru suara tajam Iwaizumi. “Mau ngapain nonton?”

“Mau liat guru gue tanding boxing. Nggak boleh? Kan sekalian buat belajar juga,” jawabnya enteng. Ia tidak memedulikan tatapan menusuk Iwaizumi, kemudian kembali melayangkan perhatian pada Bokuto yang masih berdiri di sana. “Atau lo boleh kasih tau Akaashi sekarang. Dia ada di bawah, kan?”

Setelah Bokuto menyanggupi dan menghilang di balik pintu sehingga meninggalkan mereka kembali berdua di dalam ruangan, Oikawa menyunggingkan seringai lebar seolah tidak ada ketegangan di antara mereka barusan.

“Jadi, bisa kita mulai latihannya sekarang?”


@fakeloveros