Padahal dari awal Oikawa sudah berjanji tidak akan menormalisasi rasa berdebar serta antisipasi tingginya sebelum datang. Premis yang terbentuk di otaknya pun sederhana—
jangan baper dulu, bego.
(Harusnya, sih, sederhana.)
Tapi di bagian mana yang sederhana kalau sekarang saja kepalanya seperti terbagi dua dengan opini berbeda? Satu menyatakan persetujuan bahwa Iwaizumi itu ibarat walking red flag, sedangkan satu lagi mendiamkan segala alarm tanda bahaya dan meyakinkannya bahwa ini kesempatan bagus.
Oikawa bimbang. Dirinya tidak pernah dibuat seperti itu oleh seorang pria. Biasanya, dialah yang selalu menuntun keadaan dan membuat keputusan.
Apa yang membuat situasinya dengan Iwaizumi kali ini berbeda?
Selagi pergumulan itu menyita konsentrasi, tahu-tahu kakinya sudah tiba di depan pintu yang selama seminggu terakhir tak pernah ia lihat. Tanpa ragu, Oikawa membukanya dan langsung disambut oleh pemandangan sang objek penyita pikiran yang sedang melakukan pemanasan seorang diri. Oikawa terpaku di ambang pintu saat mengawasi pria itu meregangkan lengan, membusungkan dada, dan membuat gerakan-gerakan tinju. Matanya menelusuri penuh minat garis dan lekuk otot di setiap inci kulit matahari terbakar tersebut.
Oikawa menelan ludah.
“Hei, baru dateng? Tumben telat?”
Iwaizumi yang sudah menyadari kehadirannya lantas berhenti dan menyapa ringan. Pria itu berkacak pinggang, yang justru membuat keadaan bertambah gawat karena kaus itu kian memperlihatkan bentuk dada bidang si empunya.
Oikawa langsung menyesal kenapa dirinya tidak berpura-pura pingsan saja barusan. Namun, pertanyaan Iwaizumi sedikit banyak memunculkan kembali rasa kesalnya satu jam yang lalu akibat kedatangan mendadak Terushima ke lokasi syuting. Ternyata pria itu termasuk tipe yang keras kepala dengan seenaknya menagih jawaban secara langsung setelah Oikawa— dengan teramat sengaja —tidak membalas chat yang terus masuk.
Terpaksa, minggu ini ia harus menyenangkan hati sang executive producer dengan menyetujui ajakan untuk datang ke premier film sekaligus makan malam bersama.
Dengan seringai yang sedikit dipaksakan keluar, Oikawa menutup pintu di belakangnya dan melangkah maju. Iwaizumi yang masih melakukan peregangan, menangkap langkah hati-hatinya dengan mata menyipit curiga.
“Kenapa kamu jalannya kayak orang takut gitu? Sini, masuk aja.”
Demi menghilangkan kegugupan, netranya menyisiri ruangan, tetapi tidak menemukan satu sosok tambahan seperti yang sudah dijanjikan Iwaizumi sebelumnya.
“Loh, yang kata kamu mau ikut kita latihan mana? Si... Kageyama itu?”
“Lagi keluar sebentar. Aku suruh dia balik ke sini setengah jam sebelum latihan kita selesai. Banyak yang perlu kita catch up sebelum kamu mulai sparring sama dia.”
Mulutnya membentuk tanda O kecil. Entah perasaannya saja, atau Iwaizumi memang terlihat lebih santai hari itu? Oikawa sendiri terus diingatkan dengan kejadian terakhir di rumah sakit sehingga dirinya tidak bisa berlama-lama menatap bibir pria itu.
Oikawa berdeham, lantas mulai membuka jaket yang menjadi lapisan terluar training suit-nya. Tidak menyadari ada iris hijau di belakang punggungnya yang mengikuti setiap gerakan.
“Ternyata bener, ya.”
Baru Oikawa ingin berputar dan bertanya apa maksud pernyataan tiba-tiba pria itu, ada presensi hangat yang melingkupi punggungnya dari belakang. Oikawa berhenti bergerak saat tangan Iwaizumi menyentuh ringan bahunya. Ia menoleh dan mendapati tatapan Iwaizumi seolah tengah meminta izin.
“Bener apanya?” tanyanya dengan suara yang terdengar sedikit parau. Oikawa berdeham lagi beberapa kali. Namun, lidahnya justru dibuat kelu akibat gerak tangan Iwaizumi yang menelusuri lengannya secara perlahan— sesekali memberi remasan lembut di beberapa titik.
“You do have muscles.”
Tiga detik. Oikawa membiarkan keheningan itu lewat selama tiga detik penuh sebelum mendorong Iwaizumi ditemani bibir yang mengerucut ke depan. Pria yang didorongnya hanya tertawa seolah dorongan itu tidak memberikan efek apa pun.
“Ah, ngeledek, ya!”
“Nggak, nggak. Aku baru mau ngasih kamu pujian.”
Oikawa berusaha menyembunyikan rona di wajahnya yang sudah sewarna kepiting rebus. Cepat-cepat dia berjalan ke pinggir dan meletakkan jaketnya di atas bangku panjang.
“Oikawa.”
“Hm?” gumamnya, setengah berbalik dan mendapati pria itu tengah membuat ekspresi menimbang-nimbang.
“Nggak jadi. Nanti aja. Oh, ya, minggu ini kamu ada acara?”
“Minggu ini?” beonya dengan sedikit terkejut. “Eh, aku kebetulan... udah ada janji, sih. Kenapa?”
“Gitu? Tadinya aku mau ngajakin kamu ngelanjutin nonton film yang waktu itu sempet kepotong gara-gara...” Iwaizumi mengerling dengan tatapan penuh arti dan Oikawa harus mengepalkan tangan agar semburat di wajahnya tidak semakin kentara, “tapi kalau kamu udah ada acara, kapan-kapan aja.”
Oikawa mengeluarkan segara sumpah serapah dalam hati. Berengsek. Seandainya Iwaizumi mengajaknya lebih cepat, tentu dia bisa membuat alasan masuk akal untuk menolak tawaran Terushima. Jangan salah paham. Setidaknya menghabiskan waktu tanpa berpura-pura dengan Iwaizumi tentu lebih menyenangkan dibanding harus tersenyum sepanjang malam di depan yang lebih muda.
Benar. Itu saja. Tidak ada alasan lain.
“Kalau gitu, ayo kita mulai latihannya sekarang. Biar nanti pas Kageyama dateng, kamu udah siap,” celetuk pria itu lagi manakala melihat dirinya yang hanya terdiam di tempat. Oikawa buru-buru mengangguk dan mulai melakukan peregangan.
Sepertinya minggu ini akan menjadi yang terpanjang baginya.
Kageyama— kalau Oikawa boleh menjabarkan secara gamblang —bukanlah pribadi yang menyenangkan untuk diajak bersenda gurau. Pria itu bersikap terlalu serius untuk ukuran orang yang lebih muda dua tahun darinya. Netra biru itu menusuknya tajam saat pertama kali mereka saling berkenalan seolah dirinya telah melakukan suatu kesalahan fatal. Dan Oikawa tidak mengerti bagaimana seseorang bisa sehemat itu dalam berbicara.
Namun, Kageyama mendengarkan dengan baik setiap arahan Iwaizumi. Pria itu patuh tatkala Iwaizumi memerintahkan agar tidak melakukan serangan yang terlalu kencang terhadapnya. Ada kalanya Oikawa harus menahan tawa karena pemandangan yang disuguhkan di depan matanya membuat kedua orang itu terlihat seperti ayah dan anak.
“Dia udah berapa tahun di sini?” tanyanya ingin tahu setelah sesi latihan mereka selesai dan Kageyama sudah pamit pulang. Sisa dirinya dan Iwaizumi yang masih berada di sana— duduk di bangku panjang dengan botol minum di tangan masing-masing. Iwaizumi melirik sekilas saat dirinya bertanya sambil membuka penutup botol.
“Udah mau dua tahun,” jawab pria itu sebelum menengadah dan menenggak air mineral yang ada di dalam botol hingga setengahnya. Oikawa mengikuti gerak jakun pria itu yang naik turun bagai ombak dengan matanya. Barulah ketika Iwaizumi mulai menurunkan tangan, Oikawa buru-buru menghilangkan dahaga dari botolnya sendiri.
Bedanya, Iwaizumi memperhatikannya secara terang-terangan.
Oikawa berusaha untuk tidak tersedak— meskipun sulit —karena tatapan intens pria itu dari samping jelas sekali ditujukan untuk siapa.
“Gimana syuting filmnya? Lancar?” Tanpa diduga-duga, Iwaizumi justru membuka topik yang Oikawa pikir tidak akan pernah dibahas sama sekali. Pasalnya, dari awal pria itu terlihat seolah tidak tertarik dengan profesi yang dijalaninya, sekalipun Oikawa merupakan salah satu aktor paling ternama di negara mereka.
“Hmm, so far so good. Nggak ada kendala, sih. Sutradaraku malah ngasih pujian.”
Iwaizumi memberi anggukan singkat. Oikawa berpura-pura tertarik dengan salah satu poster besar yang menempel di dinding. Ia masih belum berani menoleh.
“Kalau... cowok yang suka jalan sama kamu itu siapa? Apa dia aktor juga?”
DUKH. Oikawa tidak sengaja menjatuhkan botol minumnya. Kepalanya menoleh cepat dengan mulut sedikit terbuka saat mendengar pertanyaan tersebut terlontar tanpa aba-aba.
“Cowok...? Siapa?” tanyanya bingung.
Iwaizumi mengedikkan bahu. Ekspresi pria itu tidak berubah.
“Nggak tau. Aku cuma pernah liat foto kalian sekilas di artikel berita. Kalau nggak salah, headline-nya kalian habis sarapan bareng.”
Oh. “Dia... executive producer film yang sekarang ini.”
Manik hijau itu membulat seolah meniliknya lebih dalam. “Kamu deket sama dia?”
“Nggak, tapi... dia emang beberapa kali ngajak makan bareng.”
Iwaizumi mengeluarkan gumaman panjang. “Berarti dia yang deketin kamu?”
Sekarang Oikawa merasa dirinya seperti sedang diinterogasi.
“Ngapain kamu nanya-nanya soal ini?”
Bukannya langsung menjawab, pria itu malah menampilkan senyum kecil.
“Karena,” balas Iwaizumi setelah Oikawa dibuat menunggu dalam beberapa sekon yang terasa begitu panjang, “kalau habis ini kamu bakal jawab iya buat tawaran aku yang waktu itu, aku nggak mau ada orang lain di luar sana.”
Ada keheningan yang menggantung di udara. Oikawa memberengut demi menutupi kegugupannya yang kembali muncul ke permukaan.
“Aku nggak bilang bakal jawab sekarang, kan.”
“Nggak apa-apa, aku tungguin sampai kamu siap jawab,” tukas sang atlet ringan seolah jawabannya sudah terlebih dulu diprediksi. Oikawa menggerutu di bawah napasnya dan Iwaizumi membalas dengan mendengus pelan.
“Kenapa, sih, pake ditunda-tunda segala? Aku tau kamu mau jawab iya.”
“Sok tau.”
Kendati masih dibuat gelagapan, tak ayal, tudingan pria itu membuatnya kesal. Oikawa sungguh ingin tahu apa yang menyebabkan pria itu amat percaya diri dengan mengatakan bahwa dirinya akan menjawab iya.
“Kalau aku jawab nggak, kamu bakal ngapain emang?” tantang Oikawa dengan dagu yang sedikit diangkat. Ia tidak ingin menjadi pihak yang seolah akan dirugikan di sini. Toh, itu hanya tawaran untuk menjalani hubungan friends (atau colleague?) with benefit. Bukan sekali dua kali Oikawa pun pernah terlibat dalam entitas serupa.
Tapi ketika pertanyaan itu tidak langsung digubris, Oikawa menyatukan kedua alisnya dengan heran karena Iwaizumi hanya menatapnya tanpa suara. Pria itu mungkin orang paling sulit untuk dibaca yang pernah Oikawa temui karena ia tidak bisa mengartikan apa pun dari pandangan tersebut.
“Aku bakal berusaha,” Iwaizumi berhenti sejenak, “supaya kamu jawab iya. Karena aku beneran mau bantuin kamu keluar dari rumor-rumor itu.”
Oikawa mengupayakan agar ekspresinya tetap netral meski dalam hati perasaannya campur aduk. Teringat akan peringatan Akaashi tempo lalu, mungkin memang benar Oikawa harus memikirkan persoalan ini matang-matang.
“Minggu ini aku ada janji dateng ke film premiere sekaligus makan malem bareng Teru— maksudku, executive producer yang tadi kamu tanya-tanya.” Oikawa tidak tahu apa alasan persisnya mengumumkan hal tersebut. Tapi ia sungguh ingin melihat reaksi Iwaizumi. “Kalau sampai selesai acara dan nggak ada jawaban apa-apa dari aku, menurutku... itu artinya kamu nggak perlu usaha lagi.”
Begini lebih baik, pikirnya dalam hati. Oikawa harus memainkan kartunya dengan benar. Dia sudah terbiasa menjadi penentu situasi. Ini bukan saatnya dia memasrahkan diri pada keberuntungan yang belum pasti. Ia udah sering membuat lubang untuk para kelinci agar terjatuh ke dalamnya. Tidak mungkin, kan, jika sekarang dialah yang akan menjadi kelinci tersebut?
Sekalipun ada iming-iming wortel yang melimpah ruah di bawah sana.
“Oke. Kayak yang tadi aku bilang, bakal aku tungguin,” balas Iwaizumi dengan kening sedikit berkerut. “Tapi sekali nanti kamu udah jawab iya, nggak peduli ini mau jadi rahasia kita atau bukan, aku harap kamu nggak bakal deket sama orang lain habis itu.”
Oikawa menyeringai. Tampaknya pria itu belum benar-benar mengenal siapa dirinya.
“Justru aku yang harusnya ngomong begitu, Iwaizumi.”
Karena Oikawa paling tidak suka membagi apa yang sudah menjadi miliknya kepada orang lain.
@fakeloveros