Oikawa dengan tergopoh-gopoh keluar dari ruangannya. Lewat langkah cepat, ditambah punggung yang berkeringat dingin, Oikawa memencet tombol lift. Baru dirinya ingin menghela napas lega, ada tangan besar yang tiba-tiba menahan pintu agar tidak langsung tertutup. Oikawa mengumpat dalam hati begitu menyadari siapa yang menahan lift tersebut.

“Malam, Pak...” sapanya seraya memasang senyum palsu begitu pria paruh baya di hadapannya tersenyum, lalu ikut masuk ke dalam. Refleks, Oikawa bergeser sedikit lebih merapat ke arah dinding.

“Kamu belum pulang, Oikawa?” tanya manajernya itu dengan suara yang sengaja dilembutkan. Oikawa mati-matian menahan rasa jijik selagi berusaha tetap bersikap santai.

“Belum, Pak. Hari ini lembur ngurus audit...”

“Ooh, saya juga lembur, nih. Ini kamu mau ke mana ke bawah? Beli makan, ya? Kalau iya, ayo bareng saya aja.”

Oikawa benar-benar harus menahan ringisannya selagi berdoa dalam hati supaya lift yang mereka naiki bergerak semakin cepat. Matanya melirik ke atas dan mengucap syukur manakala tinggal satu lantai lagi yang tersisa.

“Bukan, Pak... saya... mau ketemu orang di lobby,” jawabnya dengan degup jantung yang memompa semakin cepat.

“Oh, ya? Siapa? Temen kamu?”

“Itu... anu...”

TING

Sungguh sebuah mukjizat karena setelahnya, pintu lift langsung terbuka lebar sehingga berhasil memotong pembicaraan mereka. Oikawa bahkan tidak sadar dirinya sedari tadi ternyata menahan napas. Dengan senyum palsu yang masih terpatri di wajah, Oikawa mempersilakan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi darinya itu untuk keluar terlebih dulu.

“Silakan... Bapak duluan aja.”

“Ayo, jalan bareng aja dulu. Siapa temen kamu? Cewek atau cowok?”

Tak ayal, matanya pun sekonyong-konyong menelusuri lobi kantor untuk mencari sosok suaminya. Tidak butuh lima detik sampai netra cokelatnya menemukan figur pria yang tengah duduk di salah satu sofa panjang. Oikawa menelan ludah begitu mendapati tatapan Iwaizumi ternyata sudah mengarah ke dirinya kali pertama. Pria itu menyatukan alis seolah menemukan sesuatu yang janggal dari ekspresinya sekarang.

“O-orangnya udah ada, Pak. Kalau gitu, saya duluan ya, Pak. Permisi...”

Baru Oikawa ingin pergi menjauh cepat-cepat, lengannya tiba-tiba ditahan oleh sang manajer. Oikawa terbeliak dan langsung memutar tubuh sembari menarik tangannya kembali dengan sedikit panik.

“Kamu, kok, sampai kaget begitu? Saya cuma mau bilang, nanti pulangnya kalau udah kemaleman, biar saya anterin aja. Kereta juga udah nggak ada, kan, nanti? Terus daripada naik gojek, mending kamu—”

“Maaf.”

Oikawa tersentak, lagi-lagi ada yang menarik tangannya. Namun, kali ini ia hapal betul pemilik tangan yang menyentuh pergelangannya secara lembut. Oikawa semakin melebarkan mata saat menyadari Iwaizumi tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tidak melihat ke arahnya sama sekali, melainkan sang manajer yang kini tampak sedikit kesal karena pembicaraan mereka terpotong untuk kedua kalinya.

“Saya suaminya. Jadi, saya yang bakal nungguin dan nganterin dia pulang nanti. Terima kasih atas tawaran Anda.”

Iwaizumi mengatakannya dengan artikulasi yang teramat jelas dan sopan— sungguh berlawanan dengan ekspresi, juga tatapan mata menusuk yang mau tak mau ikut membuat Oikawa bergidik pelan. Ia melirik ke arah sang atasan dan mendapati wajah pria paruh baya itu merah padam— entah karena menahan marah atau malu.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Iwaizumi langsung menarik tangannya. Oikawa hanya sempat memberi anggukan singkat ke arah sang atasan sebelum mengikuti langkah super cepat suaminya. Iwaizumi membawa mereka ke arah lounge yang pastinya telah dihapal oleh pria itu. Karena sudah lewat jam pulang, kebetulan sekali tidak ada siapa pun di sana. Iwaizumi membawa langkah mereka menuju kursi paling pojok dan Oikawa mendudukkan diri di salah satunya.

“Siapa yang barusan?” tanya pria itu tanpa berbasa-basi.

“Manajerku...” jawabnya singkat sembari menatap pria itu sedikit ragu.

“Dia yang lagi deketin kamu sekarang?” Ucapan Iwaizumi terdengar semakin tajam seiring dengan peluh yang kian mengaliri pelipisnya. Oikawa menimbang-nimbang opsi terbaik yang dimiliki sekarang, tetapi hasilnya nihil. Dia tidak ingin berbohong pada suaminya dan jelas sekali permasalahan tidak akan berhenti sampai di sana seandainya Oikawa tetap tidak berterus terang.

Jadi, ia terpaksa berkata jujur.

“Kamu duduk dulu, deh... sini aku ceritain.” Oikawa menarik tangan suaminya lembut agar pria yang tadinya berdiri kaku itu mau ikut duduk di seberangnya. Ia pun mulai bercerita; dari awal kepindahan manajer itu ke divisi keuangan hingga situasi yang perlahan muncul. Kerutan di kening Iwaizumi terlihat semakin dalam begitu Oikawa menyertai alasan diamnya selama ini. Sepanjang bercerita, tidak sekalipun Oikawa melepaskan genggaman tangannya di jemari sang suami. Sesekali Oikawa mengusap cincin perak yang melingkar di sana dan Iwaizumi langsung membalas genggamannya.

“Tooru...”

Oikawa menegakkan tubuh— ia tahu, jika Iwaizumi telah menyebut namanya dengan nada seperti itu, berarti dirinya akan diberi nasihat.

“Kalau urusan audit kamu udah beres, aku mau kamu ngambil cuti.”

“Hah?”

Iwaizumi menaikkan satu alis mendengar respons pasifnya. Oikawa membuka dan menutup mulut layaknya ikan yang baru diangkat ke daratan. Otaknya berusaha meregistrasi kalimat di luar dugaan tersebut.

“Cuti? Buat apa?” Setelah sanggup bersuara, Oikawa akhirnya bertanya. Ia merasa sedikit bodoh karena tidak paham akan jalur pemikiran pria di hadapannya. Itu, atau memang sang suami saja yang sulit dimengerti. “Tanggung banget. Nanti akhir tahun juga ada cuti bersama tahun baru, kan?”

“Cuti kamu masih ada sisa, kan, tapi?”

“Ya, ada...” Oikawa dengan cepat menghitung di dalam otak. “Sisa lima hari buat tahun ini.”

“Oke. Segitu cukup, kok. Ambil semuanya.” Iwaizumi memberi titah tanpa memberi ruang untuk dibantah. “Aku mau ngajak kamu liburan.”

“Liburan? Ke mana?? Sama Tobio juga berarti?”

Pertanyaannya tak langsung dijawab. Iwaizumi malah berdiri, lantas mendekatinya yang masih berada dalam posisi duduk. Oikawa mendongak, sementara Iwaizumi meletakkan satu tangan di belakang kursinya manakala ikut menunduk.

“Nggak sama Tobio. Aku mau kita liburan berdua aja.”

Dengan satu tangan yang bebas, Iwaizumi meraih dagunya lembut. Oikawa otomatis memejamkan mata saat pria itu menjatuhkan satu kecupan di bibirnya.

“Kayaknya kamu perlu diingetin soal sesuatu.”

Oikawa mengerjap lambat— ia tidak mengerti maksud ucapan pria itu sama sekali. Meski begitu, tatapan serta gestur posesif yang kini diperlihatkan sang suami sudah cukup untuk membuatnya bungkam.

Kalau begini, Oikawa tidak memiliki pilihan selain mengajukan cuti.


Requested by gundiknya Iwa & Winnerpedia. Karena isi prompt-nya agak-agak mirip, jadi aku memutuskan buat disatuin aja. Prompt punya Winnerpedia agak aku tweak demi mendukung alur cerita... hehe, hope you don't mind!

Buat yg penasaran prompt mereka apa... nanti aku attach di akhir alias iyes, ini belum selesai, kok. Mau nyicil bikin privatternya dulu, hahaha XD

Also, ini terinspirasi dari cc kemarin karena sempet ada yg nanya, Iwa kalau cemburu tuh gimana... dan aku kebetulan pernah foreshadowing gitu di AU Ayah Iwa bahwa Iwa kalau cemburu tuh... hmm, yah, kita lihat saja nanti.

@fakeloveros