“Kalau tangan yang disilang itu ada namanya juga, nggak?”
“Oh, itu sebutannya cross-guard. Jadi, lo nyilangin dua tangan depan dada buat ngelindungin bahu. Coba liat deh, postur lo juga harus dibuat agak bungkuk gitu karena kalau berdiri tegak nanti yang ada malah gampang goyah.”
Oikawa menganggukkan kepala seraya memperhatikan layar TV dengan saksama. Iwaizumi yang duduk di sebelahnya kerap kali menjelaskan beberapa istilah dengan sabar. Oikawa pun rajin menanyakan beberapa hal yang masih terlihat asing. Inilah yang membuatnya senang; Iwaizumi menjelaskan dengan sangat terperinci menggunakan bahasa yang sangat mudah sehingga Oikawa tidak perlu berpikir keras.
“Eh, eh, itu kok bisa begitu?! Emang boleh, ya?”
Terdengar suara tawa kecil dari pria di sebelahnya sebelum diganti dengan penjelasan singkat.
“Boleh, kok. Itu namanya dive. Jadi, lawan bisa pura-pura jatuh kayak udah K.O gitu, padahal sebenernya belum.”
“Ohhh... wow! Keren! Apa lo pernah pake trik itu juga?” Oikawa menoleh dan mendapati Iwaizumi tengah meraih botol minum yang ada di atas meja. Pria itu menggeleng sekilas sebelum pemandangan Oikawa berubah menjadi sesuatu yang menyegarkan; Iwaizumi yang menengadah saat minum. Padahal itu pemandangan yang biasa saat berlatih, tetapi dari jarak sedekat ini, Oikawa harus menelan ludah susah payah saat netranya tanpa sadar mengikuti satu tetes air yang tak sengaja mengalir sampai dagu sang atlet.
“Belum pernah dan kayaknya nggak akan. Gue lebih suka pake serangan langsung daripada trik kayak gitu.” Iwaizumi memperjelas seraya menyeka mulut dan melirik ke arahnya. Oikawa langsung mengalihkan fokusnya kembali ke depan; sedikit merona karena rasanya seperti tertangkap basah ia baru saja menelan pria itu bulat-bulat dengan tatapannya yang lekat.
Setelahnya, tak ada lagi yang mengeluarkan suara. Meski begitu, perhatian Oikawa tetap teralih ke hal lain. Ia menimbang-nimbang selama beberapa menit sembari menilik situasi yang ada. Mereka sudah berada di ruangan kecil itu selama hampir dua jam. Popcorn yang ada di atas meja pun sudah setengahnya habis (kebanyakan hanya dimakan olehnya). Di luar tidak ada siapa-siapa karena seperti biasa, mereka berlatih hanya saat gym sudah kosong.
Praktis, tidak akan ada yang mengganggu keduanya.
“Gue boleh nanya sesuatu, nggak?” Oikawa melontarkan kalimat tersebut dalam satu tarikan napas sebelum berubah pikiran.
“Itu aja lo udah nanya.”
Oikawa mengerucutkan bibir walau dalam hati sedikit terkejut karena Iwaizumi ternyata bisa juga diajak bercanda. Ia meninju pelan bahu pria itu sebelum menukas dengan kesal, “serius nih gue.”
“Mau nanya apa?”
“Kenapa lo mau jadi atlet boxing? Emang enak punya kerjaan dipukulin kayak gitu?”
“Bukan dipukulinlah. Beda.” Iwaizumi terkekeh pelan, kemudian terdiam agak lama. “Alasannya simpel. Karena gue mau ngelindungin orang-orang yang gue sayang. Dulu gue pikir, satu-satunya cara, ya, harus jadi kuat. Bisa... ngelawan gitu istilahnya. Tapi sekarang...”
“Tapi sekarang...?” Oikawa mengulang penuh rasa ingin tahu karena Iwaizumi terdiam kembali dengan ekspresi sendu.
“Tapi sekarang gue sadar bahwa ada hal lain yang diperluin selain jadi kuat buat ngelindungin orang-orang yang gue sayang.” Iwaizumi mengungkapkan dengan tegas sembari menoleh ke arahnya. Oikawa tertegun karena untuk sedetik penuh ia seperti bisa menangkap kilat kebencian di balik iris hijau gelap tersebut.
“Hal lain? Contohnya...?” Oikawa bertanya meski untuk suatu alasan yang sulit dimengerti, ia justru takut mendengar jawaban yang akan diuraikan oleh pria itu.
“Uang.”
Oikawa mengerjap lambat dalam keterkejutannya.
“Tanpa uang, lo nggak bisa ngelakuin apa-apa. Lo nggak punya power buat ngelawan. Percuma jadi kuat kalau ujung-ujungnya lo bakal tetep dianggap remeh karena nggak punya harta berharga sepeser pun.”
Tidak hanya melalui tatapan mata, nada dan postur tubuh si pemilik surai hitam kini memperlihatkan kebencian yang amat sangat— entah terhadap apa, atau siapa. Oikawa mengawasi pemandangan tersebut dengan bibir terkatup rapat. Ia tidak berani mengatakan apa pun karena khawatir mafhumnya tidaklah sejalan.
Baginya, uang bukanlah masalah.
“Maaf,” Iwaizumi tiba-tiba menggumam pelan setelah keheningan yang cukup panjang, “kalau gue ngagetin lo dengan kata-kata barusan. Itu... nggak ada maksud apa-apa, kok.”
Oikawa menunduk; memikirkan faktor apa yang sampai membuat Iwaizumi berapi-api seperti barusan. Pastilah ada kaitannya dengan masalah pribadi, dan itu merupakan ranah yang belum berani Oikawa jajah.
Di luar kuasanya, Oikawa mulai membandingkan kehidupan mereka yang amat sangat berbeda.
“Gue punya uang.”
Ucapannya pastilah sekilas terdengar arogan karena dari sudut matanya, Oikawa menangkap gerak tersentak pria itu.
“Gue punya uang,” Oikawa mengulangi, kali ini sembari mengangkat wajah, “tapi gue tetep nggak punya power buat ngelawan.”
Suara dari layar TV terus mengisi ruangan seolah jika mereka sama-sama tidak berbicara, ketegangan itu akan berkurang. Meski begitu, suara pertandingan dan sorak sorai penonton tetap tidak bisa mengalahkan degup jantungnya sendiri. Mereka saling bertatapan; diam-diam berusaha menyelami pikiran masing-masing dan mencari apa yang membuat perbedaan dalam hidup keduanya bisa memunculkan sentimen yang sama.
Keputusasaan. Kesepian. Kebencian.
“Apa yang mau lo lawan?” bisik pria itu dengan netra yang justru kian memaku intens. “Karena dari sudut pandang gue, lo keliatan udah punya segalanya.”
Oikawa mendengus, lantas disusul dengan tawa pahit. “Bukannya itu yang sering bikin orang salah paham? Mereka cuma ngeliat apa yang ada di permukaan. Kalau lo tanya gue, lo sendiri kayak nggak punya masalah apa-apa. Karena dari apa yang gue liat, lo keliatan enjoy sama kerjaan ini, dikelilingi temen-temen yang baik dan pasti keluarga yang selalu nunggu di rumah. Iya, kan?”
Iwaizumi tak perlu menjawab, tetapi Oikawa tahu tebakannya tepat sasaran.
“Oh, well, kenapa juga kita jadi ngomongin hal berat kayak gini? Kita kan harusnya cuma—”
“Gue bisa bantu lo, Oikawa.”
Tangannya yang tadi ingin mengambil bungkus popcorn, kini mengambang di udara karena ucapan mendadak tersebut. Saat menoleh ke samping, Oikawa merasakan bulu kuduknya berdiri begitu menangkap tatapan Iwaizumi terhadapnya.
“Bantu... apa?” tanyanya hati-hati karena firasatnya mengatakan mereka sedang tidak membicarakan urusan boxing.
“Apa pun,” jawab pria itu singkat, masih dengan tatapan lekat yang sama.
“Gue... nggak paham maksud lo apa.”
“Lo bilang walaupun punya uang, lo tetep ngerasa nggak punya power. Asumsi gue, itu yang bikin lo berlindung di balik topeng kayak sekarang. Skandal-skandal itu nggak mungkin muncul tanpa alasan. Dan gue emang nggak tahu sebenernya apa yang lagi lo cari, tapi kalau gue bisa bantu, kenapa nggak?”
Oikawa berkedip. Satu kali. Dua kali. Dan kalimat itu masih terasa layaknya mimpi baginya.
“Kalau gue terima,” Oikawa berucap lirih, “apa balesan yang harus gue kasih ke lo?”
“Nggak ada.”
Jawaban itu dilontarkan terlalu cepat dan terlampau tegas sehingga responsnya pertama kali adalah mengeluarkan tawa hambar.
“Jangan bohong. Setiap orang yang deketin gue, pasti selalu ada maunya. Gue udah hapal sama kebiasaan itu. Gue udah pernah bilang sama lo pas kita pertama kali latihan, kan?”
“Tapi,” Iwaizumi menyela cepat diikuti oleh tubuh yang perlahan ikut maju, “gimana kalau gue bener-bener nggak mengharapkan apa-apa? Gimana kalau niat gue buat bantu lo itu tulus?”
“Bullshit. Lo pikir gue bakal percaya? Lagian siapa di awal yang pengen hubungan ini tetep profesional? Lo amnesia atau gimana?”
“Kalau gue berubah pikiran? Apa lo bakal tetep nolak?”
Berlawanan dengan penyangkalannya yang bertubi-tubi, akibat setiap silabel yang keluar dari bibir pria itu maupun inci yang kian terkikis di antara mereka, keteguhannya justru mulai goyah. Ia tidak ingin percaya. Ia tidak boleh percaya. Pasalnya, tidak pernah ada yang mendekatinya secara tulus. Semua selalu memiliki motif di belakang sehingga lambat laun Oikawa ikut memanfaatkan situasi tersebut.
Kalau memang orang lain hanya ingin memanfaatkannya, lantas kenapa dirinya tidak boleh melakukan hal yang sama? Toh, ia tidak memiliki apa pun untuk dibuang.
Sayangnya, kenyataan itu membuatnya takut jikalau suatu hari akhirnya memiliki sesuatu untuk dijaga, dirinya akan tetap ditinggalkan.
Dan tawaran Iwaizumi barusan terdengar persis seperti ketakutannya selama ini.
Keterdiamannya yang cukup panjang mungkin dianggap sebagai lampu hijau oleh pria di hadapannya. Barulah saat jarak di antara bibir mereka tinggal sejengkal, Oikawa refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Iwaizumi berhenti— manik hijau pria itu naik ke miliknya sendiri yang semakin berdilatasi dalam kepanikan. Mereka bertatapan cukup lama sebelum Iwaizumi meraih pergelangannya dengan lembut, lalu menurunkannya perlahan.
Oikawa tidak melawan.
“Bilang nggak dan gue bakalan mundur.”
Ada sirene dalam kepalanya yang berbunyi nyaring. Alam bawah sadarnya memberi peringatan bahwa ini salah— mereka salah. Oikawa tidak seharusnya jatuh semudah ini. Bibirnya seharusnya membuka untuk mengucapkan kata penolakan yang sudah berada di ujung. Tangannya seharusnya tidak bergetar dalam cengkeraman halus pria itu. Kelopaknya seharusnya tidak ikut terpejam saat ada deru napas yang menerpa bibirnya hangat.
“Bilang nggak, Oikawa.”
Terlambat.
Karena Oikawa tidak melawan.
@fakeloveros