Ada kalanya Oikawa tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri, padahal banyak yang bilang pria pada umumnya lebih sering menggunakan logika dibanding perasaan.
Yah, bukan berarti perasaannya pun selalu benar.
Namun, acap kali Oikawa lebih mengandalkan insting dibandingkan pikiran jernihnya. Insting tajamnya itu merupakan sesuatu yang sangat ia banggakan hingga terbukti bisa membawanya ke posisi sekarang— ke bawah sorotan lampu yang mengangkat validasi dalam dirinya.
Tapi insting itu juga menjadi bumerang, terutama saat ia berkenalan dengan orang-orang baru.
Seperti begitu ia semakin mengenal Terushima, si Mr. Executive Producer yang agaknya sangat dibenci oleh sang manajer. Oikawa bahkan tidak bisa menyalahkan karena instingnya pun mengatakan demikian; bahwa pria itu mendekatinya hanya untuk mencapai sesuatu.
Sesuatu yang pastinya bisa ia berikan semudah membalikkan telapak tangan.
Sudah tahu alurnya begitu, lantas Oikawa tetap membiarkan. Ibarat kelinci yang jatuh ke lubang besar untuk kesekian kali meski tahu di dasar hanya ada wortel busuk menanti.
Tapi Oikawa bukanlah kelinci. Semua orang tahu itu.
Ia hanya pandai mengenakan topeng kelinci untuk menjerat pemburu, lalu mereka akan jatuh ke lubang yang sama pada akhirnya.
Siklusnya selalu sama sekalipun topengnya perlahan berganti menjadi sesuatu yang lebih ganas. Seolah pemburu-pemburu itu tetap senang menghampiri walaupun kini ada duri di balik bulu halusnya.
Namun, yang namanya manusia itu tidak pernah tahu diri. Mereka yang mendekati, mereka pula yang mengeluh kesakitan setelah tertusuk tajam duri.
Dan Oikawa memperhatikan semua lakon itu di balik topeng— menanti dalam diam sosok pemburu yang tidak akan takut dengan durinya.
Oikawa berjalan mengendap-endap. Ia baru saja diizinkan masuk oleh satpam di luar gedung. Namun, suasana gym yang terlihat sepi pagi hari itu membuat langkahnya sedikit ragu. Iwaizumi memang sudah jelas mengatakan tidak akan ada siapa-siapa di sana, tetapi mendapati isi gedung yang benar-benar kosong, mau tak mau membuat Oikawa memelankan langkahnya.
Oikawa menelusuri koridor dengan langkah hati-hati— seolah bisa ada siapa saja yang tiba-tiba muncul di balik pintu. Akaashi sudah ia suruh untuk menunggu di luar, atau berjalan-jalan di sekitar dan baru boleh kembali begitu latihannya selesai. Dia benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapa pun selama sesi latihan berlangsung.
Karena menurut instingnya, akan sangat menarik menghabiskan waktu berduaan dengan guru barunya itu.
Oikawa meraih gagang pintu yang membawanya menuju ruangan dengan ring besar di tengah-tengah. Ia mendekati ring tersebut dan menelengkan kepala untuk mengamati— dalam hati bertanya-tanya, apakah rasanya sama seperti berdiri di atas panggung?
“Oh, udah dateng?”
Jantungnya nyaris jatuh ke dasar perut saat mendengar sapaan yang bersumber dari belakang. Oikawa berputar dan mendapati Iwaizumi tengah berjalan menghampiri dengan raut wajah datar. Pria itu datang dalam tampilan sederhana; celana pendek hitam dan kaus putih yang amat sangat memperlihatkan otot tubuh. Oikawa tanpa sadar memperhatikan bisep sang atlet lebih lama dari seharusnya.
Iwaizumi berdeham.
“Jadi... Akaashi bilang, syuting film lo bakal dimulai minggu depan? Itu berarti... kita punya waktu seminggu buat latihan dasar. Tapi karena lo cuma punya waktu dua hari dalam seminggu buat latihan... yah, mungkin progress-nya harus lebih dipercepat.”
Oikawa berusaha mendengarkan. Sungguh. Tapi gerak bibir pria itu setiap berbicara entah mengapa lebih menarik untuk diperhatikan.
“Oh ya, peran lo nanti di film kan atlet level middleweights, jadi—”
“Lo serius, ya, ternyata?”
Tahu-tahu, mulutnya sudah membuka sendiri dan melontarkan kalimat tersebut. Iwaizumi menghentikan lajur bicara, lantas menatapnya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
“Maaf?”
“Soal yang kemaren. Lo serius ternyata.” Oikawa mengulangi dengan senyum kecil yang mulai terpatri.
“Soal yang mana, lebih tepatnya?”
“Bagian lo mau menjaga hubungan ini tetap profesional.”
Kepemahaman lewat di netra hijau itu. Oikawa menunggu jawaban kala si pemilik surai hitam hanya menghela napas.
“Apa ada yang salah dari itu?” Iwaizumi bertanya singkat.
“Nggak sih, cuma...” Oikawa memanjangkan jawaban dalam upaya menciptakan jeda, “aneh aja.”
Saat Iwaizumi tidak merespons pernyataannya dan hanya menatap dengan satu alis terangkat tinggi, Oikawa melanjutkan ditemani senyum malas.
“Harusnya yang ngajarin gue itu Bokuto, kan? Karena Akaashi khusus minta ke dia. Tapi kenapa tiba-tiba jadi lo? Coba jawab yang jujur.”
“Karena Bokuto nggak mau.”
Di luar dugaan, Iwaizumi langsung melontarkan jawaban tanpa terlihat berpikir sama sekali.
“Kenapa?”
Iwaizumi mengedikkan bahu. “Mana gue tahu.”
“Terus dia yang nawarin lo, atau...?”
“Gue yang nawarin diri.”
Lagi-lagi jawaban itu datang dengan lugas, membuat Oikawa mengernyitkan kening atas sikap terang-terangan pria tersebut.
“Gara-gara apa?”
Iwaizumi memandanginya lama seakan Oikawa berbicara dalam bahasa luar angkasa.
“Obviously karena gue butuh duit dan dengan ngajarin lo gue dibayar, jadi...”
Alasan itu terdengar sangat masuk akal. Oikawa pun paham. Tetapi anehnya, ia masih dibuat penasaran. Instingnya lagi-lagi mengatakan, ada hal lain yang diincar pria itu dari mengajarinya berlatih.
“Lo udah denger rumor soal gue, kan? Lo nggak kepikiran emang?”
Oikawa mulai berjalan mendekat. Namun, Iwaizumi terlihat seolah tidak terpengaruh dengan pertanyaannya. Sang atlet hanya berdiri diam sementara Oikawa kian menghapus jarak. Netra mereka saling bertemu dalam intensitas yang semakin membuncah.
“Apa lo tahu? Orang bilang gue itu... manis dari luarnya doang. Oh, bahkan ada artikel yang pernah nyebut gue kayak... fox? Choosing subtlety and cunning over brute strength with hunter personalities. Emang lo... nggak khawatir? Sama sekali?”
“Khawatir kenapa?”
Oikawa berhenti melangkah. Ia sudah berhadapan persis dengan pria itu. Tidak ada yang berubah dari sikap si pemilik surai hitam— tetap berdiri tegak layaknya Oikawa bukanlah pemburu yang perlu ditakuti.
“Oikawa.”
Itu pertama kali ia mendengar namanya disebut secara langsung. Dan dalam jarak sedekat itu, Oikawa bisa mendengar dengan jelas bariton rendah yang digunakan saat mereka pertama kali berkenalan.
Juga, detak jantung yang memompa lebih cepat di luar keinginan.
“Nggak semua orang bisa dibodohi sama persona lo itu.”
Oikawa tersentak. Tubuhnya terhuyung mundur. Walau begitu, sebelum ia bisa beringsut lebih jauh, ada gerak tangan yang dengan cepat langsung menahan pergelangannya.
“Gue ngasih lo opsi supaya kita bisa jaga hubungan ini tetap profesional karena gue tahu reputasi lo di luar sana gimana. Dan lo sendiri yang ngasih pilihan gue mau percaya yang mana. Tapi ngeliat sikap lo sekarang... gue justru langsung punya jawabannya.”
Oikawa menahan napas. Pergelangannya dicekal lebih kencang seakan pria itu berusaha meninggalkan tanda pengingat akan pembicaraan ini. Kakinya tidak bisa digerakkan ke mana pun bagaikan dijerat oleh lem tikus. Ingin mengalihkan pandangan pun tidak bisa karena netranya dibuat terpaku ke satu arah.
Manik hijau gelap itu seakan bisa menembus pertahanannya.
“Di mata gue, lo keliatan kayak orang yang lagi nyembunyiin identitas asli di balik topeng. Lo berusaha tegar di situasi sekarang. Situasi di mana lo bergerak sedikit aja, langsung ada ratusan artikel yang muncul. Dan, bukan— itu bukan karena lo sekadar artis terkenal atau aktor yang emang jago akting. Tapi, lo cuma lagi berusaha melindungi diri sendiri karena takut.”
Cekalan di tangannya mengendur. Pria itu mengerjap seakan baru tersadar dengan posisi mereka. Saat tangannya dilepas dan Iwaizumi ingin mengambil langkah mundur, Oikawa refleks menahan pria itu.
“Lanjutin,” bisiknya dengan jantung yang semakin berdentum keras. “Lanjutin kalimat lo barusan. Gue takut kenapa?”
“Oikawa—”
“Eh... permisi?”
Mendadak, ada suara lain yang memecah ketegangan tersebut. Oikawa melepas sentuhan di tangan pria itu dan Iwaizumi menatapnya selama beberapa detik sebelum menoleh ke belakang.
Ada Bokuto, yang berdiri dengan tampang bingung di ambang pintu.
“Di... depan tadi gue ketemu Akaashi, terus... katanya disuruh ngecek apa kalian udah mulai latihan...?”
Oikawa menegakkan tubuh, lantas menjawab dengan suara yang dibuat seceria mungkin. “Oh, ini kita baru mau latihan. Tadi ngobrol-ngobrol dulu sebentar.”
“Oh... oke.” Bokuto mengangguk. Netra pria itu bergulir ke arah pria di hadapannya yang masih berdiri kaku. “Lo kenapa, Wa? Sakit?”
Iwaizumi menggeleng dan akhirnya ikut menetralkan postur.
“Iya, ini baru mau mulai latihan. Lo bisa sampein itu ke Akaashi.”
Begitu Bokuto lagi-lagi mengangguk, lalu bersiap untuk meninggalkan ruangan, suara Iwaizumi menahan langkah pria itu.
“Eh, buat besok gimana? Nomor gue udah keluar?”
“Lah, iya! Tadi gue ke sini sekalian mau ngasih tau pertandingan lo besok dapet nomor urut lima. Jadi, kira-kira... habis makan siang?”
“Besok ada pertandingan?” Oikawa, tanpa bisa menahan diri, ikut bertanya. Saat Iwaizumi kembali menatapnya, Oikawa pura-pura tidak melihat dan lebih memilih untuk berbicara dengan Bokuto. “Pertandingan boxing, kan? Gue bisa nonton, nggak?”
“Bisa aja, sih... kayaknya tiketnya masih bisa dibeli online.”
“Gitu? Nanti bisa lo kasih tau website-nya ke Akaashi? Gue mau nonton.”
Dilihatnya Bokuto sudah membuka mulut, tetapi yang terdengar justru suara tajam Iwaizumi. “Mau ngapain nonton?”
“Mau liat guru gue tanding boxing. Nggak boleh? Kan sekalian buat belajar juga,” jawabnya enteng. Ia tidak memedulikan tatapan menusuk Iwaizumi, kemudian kembali melayangkan perhatian pada Bokuto yang masih berdiri di sana. “Atau lo boleh kasih tau Akaashi sekarang. Dia ada di bawah, kan?”
Setelah Bokuto menyanggupi dan menghilang di balik pintu sehingga meninggalkan mereka kembali berdua di dalam ruangan, Oikawa menyunggingkan seringai lebar seolah tidak ada ketegangan di antara mereka barusan.
“Jadi, bisa kita mulai latihannya sekarang?”
@fakeloveros