Jarak dari sofa tempatnya berbaring menuju pintu apartemen hanya perlu ditempuh dalam tujuh langkah besar.
Namun, selama kakinya menapak lantai, rasanya Oikawa seperti berusaha meraih sesuatu yang amat sangat tidak mungkin— yang begitu di luar jangkauan sehingga ketika telapaknya yang licin oleh keringat menurunkan gagang pintu, lututnya berubah jadi agar-agar manakala mendapati sosok yang ada di hadapannya.
Oikawa takut jika dirinya berkedip satu detik saja, Iwaizumi akan langsung menghilang layaknya pertunjukan sulap.
Pria yang ditatapnya hanya tersenyum kecil— senyuman khas Iwaizumi Hajime yang terakhir dilihatnya secara langsung dua tahun lalu saat mereka harus berpisah ke jalan masing-masing. Mata pria itu menilik dalam-dalam sebelum satu silabel membuka percakapan— menandai bahwa pria di hadapannya seratus persen nyata.
“Tooru.”
Satu nama. Namanya. Dan diucap begitu jelas sehingga Oikawa tak kuasa menahan isak tangis yang sudah berada di ujung pelupuk mata. Ia melemparkan diri ke arah pria yang dengan sigap langsung merengkuhnya erat. Oikawa menumpahkan segala kerinduan di sana seraya menghidu penuh sukacita aroma yang tak pernah gagal mengisi paru-parunya.
“Kamu nangis?” tanya pria yang masih memerangkapnya dalam pelukan. Tangan Iwaizumi naik ke bagian belakang kepalanya, lantas memberi usapan lembut di sana. “Wah, udah lama aku nggak liat kamu nangis. Terakhir kayaknya SMA pas kita kalah habis tanding lawan—”
“Bisa, nggak—” Oikawa menjauhkan kepalanya sejenak untuk memberi kekasihnya tatapan kesal, “kamu jangan ngungkit soal itu lagi? Aku lagi terharu, nih!”
Iwaizumi menyeringai lebar, lalu menarik kepalanya kembali ke antara ceruk leher yang menguarkan campuran aroma woods dan matahari; sungguh tidak berubah, bahkan setelah lebih dari setahun berpisah berpisah.
Mereka berada di posisi yang sama untuk beberapa lama sampai tak ada lagi sisa air mata yang sanggup Oikawa tumpahkan. Ia menarik diri, lalu menatap sang kekasih lekat-lekat.
“Kamu, kok, nggak ngasih tau kalau mau dateng ke sini? Kuliah kamu gimana? Emang lagi libur? Terus ini gimana bisa masuk dari pintu bawah? Emang penjaganya nggak nanyain? Kenapa—”
“Tooru, gimana kalau kita masuk dulu?” potong Iwaizumi dengan setengah tawa yang keluar. “Nggak enak kalau ada yang liat kita berdiri di koridor kayak gini.”
“O-oh, ya! Sini, sini!”
Begitu pintu apartemennya tertutup di belakang, Iwaizumi mulai menjelaskan.
“Aku udah ngerencanain buat dateng ke sini dari lama dan emang pengin bikin kejutan. Aku izin beberapa hari soalnya jatahku masih banyak. Dan aku bisa masuk ke dalem gedung apartemen ini karena dibantu roommate kamu.”
Oikawa mengernyit bingung mendengar penjelasan runtut barusan. “Jadi, roommate aku tau kamu mau dateng?? Kalian ngerencanain ini bareng-bareng?”
Iwaizumi mengangguk sembari melepas topi dan jaket. Pria itu langsung mendudukkan diri di atas sofa dan membuat gestur agar Oikawa datang mendekat. Tanpa berpikir dua kali, Oikawa menurut, lalu sengaja menyamankan diri di atas pangkuan sang kekasih.
“Kalau nggak gitu nanti aku nggak bisa masuk, kan? Eh, rambut kamu kayaknya panjangan dikit, ya?”
Bulu kuduknya berdiri manakala tangan besar Iwaizumi memainkan anak-anak rambut di pangkal lehernya. Pria itu menatapnya penuh afeksi— sesuatu yang kian sering terjadi begitu mereka meresmikan hubungan, tetapi efeknya selalu membuat Oikawa menahan napas. Sepertinya sampai tua nanti pun Oikawa akan sulit membiasakan diri.
“Kalau rambut kamu sama aja.” Perhatian Oikawa tertuju pada potongan spike yang setia menjadi ciri khas sang pria sejak mereka SMA. Tangannya yang sedari awal melingkar di sekitar leher Iwaizumi, mulai ikut memainkan sejumput yang mampu ia raih.
“Enakan gini, biar nggak panas.”
“Emang di Irvine panas?”
“Maksudku pas dulu kita masih di Jepang. Kalau di Irvine, sih, musim panasnya malah keseringan hujan.”
Oikawa tersenyum tatkala mendengar sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui sejak lama. Iwaizumi sendiri pernah bercerita saat pertama kali sampai di negara asing itu. Namun, ia membiarkan karena mendengar secara langsung suara Iwaizumi dari jarak sedekat ini sungguh berbeda dibanding lewat Skype.
“Tooru.”
Suara pria itu tiba-tiba memecah lamunannya.
“Hmm?”
“Aku ke sini mau ngelunasin utang.”
“Utang ap— oh!“
Oikawa mengerjap berulang kali— teringat dengan pembicaraan mereka sebelum ini di aplikasi pesan singkat.
“Kamu... serius?” tanyanya dengan degup jantung yang kembali memompa cepat.
“Kalau nggak serius, mana mungkin aku nekat dateng ke sini?”
Netranya hanya mampu mengikuti ketika Iwaizumi meraih sesuatu dari kantung jaket yang tersampir tak jauh dari sana. Kala pria itu mengeluarkan kotak beludru warna biru gelap, ia terbeliak tak percaya.
“Holy shit. Kamu serius.”
Iwaizumi hanya tertawa pelan. “Aku, kan, udah bilang.”
“Apa kamu bakal berlutut juga?”
“Bisa aja kalau kamu mau.”
Jujur saja, Oikawa tak yakin dirinya sanggup berdiri sekarang.
“Nggak usah,” lirihnya sembari menggeleng gugup. “G-gini aja... Langsung...”
Otaknya bahkan tidak bisa diajak bekerja sama lagi untuk membentuk satu kalimat koheren.
Seakan mengerti, Iwaizumi lagi-lagi hanya tersenyum sebelum membuka kotak kecil tersebut. Di dalamnya ada cincin perak— berkilau di bawah sinar matahari sore yang menyeruak dari balik jendela. Oikawa menatap tak dengan mulut terbuka seolah apa yang tengah dilihatnya adalah salah satu keajaiban dunia.
“Aku minta cincin ini dibuatin khusus soalnya... coba kamu liat.”
Oikawa menunduk dan berusaha melihat apa yang dimaksud Iwaizumi. Matanya menyipit begitu mendapati ada semacam ukiran di dalamnya.
“You are...” Oikawa berusaha membaca tulisannya.
“Worth the wait.”
Iwaizumi menarik tangannya lembut dan menyelipkan cincin itu di jari manis.
“You always are,” tukas pria itu sekali lagi sambil mencium cincin yang sudah melingkar sempurna di jarinya.
Oikawa merasakan berbagai macam luapan emosi hingga dirinya tak sanggup berkata-kata. Matanya terus tertuju pada benda perak yang menghias jarinya bagai sebuah sumpah; bagai sebuah janji tak terucap.
“Jangan nangis lagi,” ledek Iwaizumi tiba-tiba yang sedari tadi hanya memperhatikan reaksinya. Oikawa mendengus dan memukul bahu pria itu pelan. Meski begitu, tangannya memang terangkat untuk menghapus jejak kecil air mata yang sudah berkumpul di ujung.
“Oke. Utang kamu lunas sekarang.”
Iwaizumi terkekeh, lantas menarik kepalanya mendekat. “Great. Now kiss me.”
Jadi, begini; Oikawa bisa membuka ratusan kamus, tapi tak ada satu pun kata dalam bahasa di dunia ini yang mampu mendeskripsikan ciuman mereka. Meski intensitasnya seingat yang Oikawa rasakan terakhir kali, ada sesuatu yang berbeda kala Iwaizumi menyapu bibirnya dan memberi pagutan habis-habisan di sana. Ciuman itu tidak lembut; cenderung penuh urgensi dan dominasi yang membuat kepalanya berputar. Bahkan ketika Oikawa berusaha menarik napas, Iwaizumi langsung mengejarnya bagai tak rela untuk berpisah barang sedetik.
Namun, beginilah cinta mereka. Sejak dulu, hasrat itu tidak pernah berkurang; justru kian bertambah dengan jarak ribuan kilometer yang memisahkan.
Mau ada sebanyak atau serupawan apa pun orang-orang yang mendekatinya, tidak akan ada yang bisa menyamai kedalaman hijau di netra pria itu saat menatapnya. Atau saat bibir sang pria yang kerap kali menyentuh kulitnya, mulai membisikkan kata yang tidak hanya manis, tetapi juga mengobarkan api dalam jantung yang sudah terlahap sepenuhnya.
Kendatipun begitu, semua tidak pernah cukup. Ia menginginkan lebih, lebih, dan lebih hingga apa yang memuaskannya hanyalah jika seluruh makhluk di jagat raya mengetahui siapa pemilik hatinya.
Lantas ketika akhirnya Iwaizumi memberinya kesempatan untuk menghirup udara dan pria itu memverbalisasikan aku cinta kamu di antara setiap tarikan—
Oikawa percaya bahwa malaikat pun turut mengaminkan.
@fakeloveros