Rasanya Oikawa bisa menghitung dengan jari berapa kali dia pernah mengunjungi Pulau Dewata yang kini tengah diinjaknya bersama sang suami. Sesampainya di bandara, mereka langsung disambut hangatnya udara yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan cuaca di ibu kota. Meski begitu, keberagaman yang jelas lebih terlihat di depan mata tak ayal berhasil meningkatkan spiritnya. Liburan yang awalnya meninggalkan kesan terlalu mendadak sehingga dirinya justru dipenuhi oleh kecamasan berlebih, menguap bagaikan gelembung sabun begitu Iwaizumi memimpin langkah mereka keluar dari bandara.

Sekarang, ia justru dibuat penasaran oleh rencana suaminya itu.

“Kamu masih nggak mau ngasih tau kita bakal nginep di mana?” tanyanya selagi berusaha menyamai langkah si surai hitam di antara lalu-lalang manusia. Mungkin karena mendekati akhir tahun, bandara terlihat sangat ramai hari itu.

Iwaizumi hanya menggeleng singkat sebelum meraih sikunya agar tidak bertubrukan dengan orang dari arah berlawanan.

“Emang kenapa, sih, dirahasiain banget? Kalau kamu ngasih tau nama hotelnya juga aku nggak bakal tau, kan?” Oikawa masih belum menyerah untuk mengorek informasi dari pria yang masih mengatupkan bibir secara rapat tersebut. Bahkan sebelum mereka pergi, ia sempat membujuk Tobio untuk mencari tahu rencana rahasia sang Ayah, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Pria itu bagaikan batu di tepi pantai yang tetap berdiri kokoh meski diterjang oleh banyak ombak.

“Tinggal tunggu sampai kita ke tempatnya aja, kan? Nanti juga kamu bisa liat sendiri.”

Begitu balasan Iwaizumi seraya mengerling singkat ke arahnya sebelum dengan sengaja mempercepat langkah. Oikawa mengembuskan napas kesal dan menarik kopernya dengan sedikit paksaan— berharap pria itu menerima sinyal rasa frustrasinya.

Tapi, bisa apa Oikawa melawan batu? Sang suami bahkan bisa lebih keras kepala dibanding dirinya jika sudah bertekad akan sesuatu.

“Tooru.”

Panggilan dari bariton khas tersebut berhasil mengenyahkan lamunannya. Tangannya diraih begitu tiba di sebelah pria yang sedari tadi sudah menunggu di pintu keluar.

“Kamu kalau lagi jalan tuh jangan sambil ngelamun,” omel pria itu sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Oikawa tersenyum dalam hati karena mau sudah berhubungan berapa lama pun, perhatian pria itu terhadapnya selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Rasa kesalnya perlahan menghilang dan digantikan dengan antisipasi tinggi.

Lagi pula, kapan lagi dia bisa melihat sisi Iwaizumi yang seperti ini?


Terkejut mungkin bukan kosakata yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang Oikawa rasakan saat ini. Mulutnya menganga menatap sekeliling ruangan sementara telinganya setengah mendengarkan percakapan antara suaminya dengan pemilik airbnb tempat mereka menginap. Fokusnya langsung tersita penuh begitu menginjakkan kaki ke dalam rumah tersebut. Namun, dibandingkan itu, ada hal lain yang membuatnya terpekur lama.

“Oke. Jadi, nanti kalau perlu apa-apa, silakan hubungi nomor saya saja langsung. Tempat tinggal saya juga nggak jauh dari sini, kok,” ucap pria yang nampaknya memiliki umur tak jauh berbeda dari mereka. Pria itu terlihat sangat bersemangat menjelaskan segala fasilitas di dalam rumah yang bisa mereka gunakan— sedikit mengingatkan Oikawa akan Hinata, pacar Tobio, yang memiliki energi serupa.

Oikawa samar-samar mendengar Iwaizumi menanyakan hal lain selagi mengantarkan sang pemilik akomodasi ke luar. Langkahnya pelan menelusuri lantai tatkala bunyi pintu terdengar jauh di belakang. Netranya terangkat dan otomatis menyipit ketika terik matahari menembus melalui jendela besar yang berada tepat di langit-langit kamar.

Tak beberapa lama, ada sepasang lengan yang melingkari pinggangnya erat.

“Gimana?”

Oikawa bergidik pelan manakala ada embusan napas hangat menerpa telinganya. Hidung sang suami menyentuh lehernya dan membuat gerakan naik turun di sana.

“Nggak gampang booking-nya, loh. Soalnya ini high demand,” sambung Iwaizumi saat dirinya masih diam saja. Oikawa menyenderkan tubuhnya dengan lebih rileks ke dada pria itu dan merasakan rengkuhan di pinggangnya mengerat.

“Bagus. Aku suka,” tukasnya sambil menyeringai lebar, “cuma biar apa deh kita nginep di tempat kayak gini? Bukannya aku keberatan, ya, tapi di hotel biasa juga—”

Omongannya terhenti saat tangan Iwaizumi meraih dagunya, dan ditolehkan ke belakang. Bibir pria itu menyapu miliknya dengan lembut walau tak membutuhkan waktu lama sebelum ciuman itu berubah menjadi lebih menuntut. Oikawa menyambut dengan senang hati seraya memutar tubuhnya agar bisa mengalungkan lengan di sekitar leher sang suami.

“Mmhm—” Desahnya ditelan oleh pagutan yang kian menelan kemampuan bersuara. Padahal sudah berkali-kali, ratusan malah, tetapi gerak lihai sang pria yang mengeksplorasi setiap inci rongga mulutnya tak pernah gagal membuatnya melepas hela penuh kepuasan.

Ketika Oikawa hampir yakin mereka takkan berhenti di sana, Iwaizumi mendadak melepas ciuman beserta lengan yang sejak awal memerangkap layaknya lilitan ular. Oikawa mengerjap saat tahu-tahu dirinya memeluk udara, dan pria itu sudah melangkah kembali ke ruang utama.

“Gimana kalau kita ganti baju dulu sekarang? Habis itu cari makan. Kamu pasti udah laper, kan?”

Iwaizumi bertanya dengan sangat ringan seolah beberapa menit lalu pria itu tidak habis melumat bibirnya bagai kelaparan. Ia ingin menghentakkan kaki, lalu meraih pria itu agar menuntaskan apa yang telah dimulai. Namun, melihat ekspresi penuh determinasi sang suami, membuat Oikawa mengurungkan niat tersebut.

Sepertinya Iwaizumi memiliki rencana lain dan untuk pertama kalinya, Oikawa tidak keberatan menjadi pihak yang dikejutkan.


@fakeloveros