sua

“Enaknya nanti gue manggil dia apa, ya? Anda? Kamu? Kak? Pelatih?”

“Aku-kamu harusnya nggak apa-apa, sih... kalian seumuran ini. Atau gue-lo aja sekalian biar nggak kaku banget.”

Oikawa mengangguk-angguk. Matanya sibuk menelusuri ruang tunggu MSBY GYM yang di sepanjang dinding ditempeli oleh poster dan beberapa sertifikat berpigura. Ia juga melihat banyak piala ikut dipajang, sekaligus foto-foto yang nampaknya berisi sejarah gym itu sejak pertama kali didirikan.

Oikawa menyenggol bahu Akaashi yang duduk di sebelahnya dengan mata tertuju pada layar iPad. “Mana kakak kelas lo? Katanya sebentar lagi nyampe? Ini kok belum dateng ju—”

CEKLEK

“Hei, halo! Maaf saya sedikit terlambat. Tadi di jalan mampir dulu ke...” Sosok seorang pria tiba-tiba masuk dan menyapa dengan cukup heboh— mengejutkan mereka berdua. Namun, Oikawa lebih terkejut lagi saat si pria asing mendekati Akaashi, lalu menyerahkan sebuah paper cup (dari aromanya, sih, isinya kopi) dengan lambang yang tak asing.

“Cafe ini,” lanjut si pria dengan figur tegap tersebut. “Semoga kamu masih suka caramel latte?”

Oikawa hanya mampu melongo saat mendapati semburat merah yang muncul di wajah manajernya. Mendadak, ia merasa seperti nyamuk di sana.

“Masih, kok... makasih ya, Kak Bokuto,” jawab manajernya sembari menerima uluran gelas tersebut dalam suara pelan.

“Akaashi doang yang dikasih? Saya nggak, nih?”

Kedua orang itu menoleh ke arah Oikawa seakan baru menyadari kehadirannya di sana. Oikawa tertawa, lantas bangkit dan menjulurkan tangan ke arah pria yang jelas sekali identitasnya siapa sekarang.

“Kamu pasti kakak kelasnya Akaashi dulu, ya? Kenalin, saya Oikawa. Makasih karena udah mau bantuin saya cariin guru.”

Pria itu menyambut jabatan tangannya dengan senyum penuh rasa bersalah tersungging kecil. Akaashi juga ikut bangkit dengan postur sedikit kikuk. Oikawa memperhatikan keduanya diam-diam, dan langsung yakin bahwa hubungan dua orang itu bukanlah kakak dan adik kelas semata.

Kini penyebab Akaashi bersikap sedikit sensi padanya waktu itu mulai terasa masuk akal. Ia harus menginterogasi manajernya itu nanti, pikir Oikawa seraya membuat catatan mental.

“Halo, gue Bokuto. Santai aja ngomongnya, kita seumuran, kok. Dan nggak mungkin di negara kita ini ada yang nggak tahu lo.”

Oikawa tersenyum, sudah terlalu sering menerima pujian semacam itu. “Semoga gue dikenal buat yang baik-baiknya aja, tapi, ya.”

“Oh, jelas, dong! Gue suka nonton film lo. Akting lo bagus banget!”

Anehnya, pujian Bokuto justru terdengar tulus di telinganya sehingga mau tak mau, Oikawa ikut melebarkan senyum kala pria itu menjawab dengan antusias.

“Makasih... hmm, terus... mana, nih, calon guru gue?”

“Oh!” Bokuto menepuk tangan seakan baru teringat tujuan mereka berkumpul di sana. “Dia udah dateng dari tadi sebenernya, tapi lagi latihan sekarang soalnya mau ada match. Gue belum ngasih tau kalian udah dateng. Sebentar ya, gue panggil—”

“Eh, tunggu, tunggu!” Oikawa menghentikan pria itu sebelum sempat melangkah menuju pintu. “Nggak apa-apa, biarin aja. Kalau boleh... gue mau sekalian liat dia latihan? Biar ada bayangan juga latihan boxing tuh gimana.”

Akaashi yang sedari tadi hanya diam, ikut menyumbang suara setelah mendengar idenya barusan. “Oh, boleh juga. Kita boleh liat latihannya, kan?” tanya sang manajer, kali ini beralih menatap si atlet boxing yang tersenyum kian lebar. Oikawa menaruh kecurigaan bahwa kehadirannya di sana benar-benar dianggap seperti nyamuk.

“Wah, boleh banget, dong! Ayo, kalau gitu kita ke tempat latihannya langsung,” sambut Bokuto dengan penuh semangat sebelum memimpin jalan mereka. Oikawa mengikuti tepat di belakang, disusul Akaashi yang mengekori. Setelah melewati koridor, mereka masuk ke ruangan dengan banyak kardus sebelum Bokuto membuka satu dari dua pintu yang ada di seberang. Matanya sedikit melebar begitu disambut pemandangan peralatan olahraga, berderet-deret samsak, juga tentunya para atlet yang tengah berlatih. Beberapa langsung menyapa Bokuto, serta menyadari kehadirannya. Namun, mereka tidak mengatakan apa pun dan kembali ke latihan masing-masing.

Sungguh aneh rasanya bertemu dengan sekelompok orang yang menganggap kehadirannya biasa saja. Sebagai public figure yang senantiasa dielu-elukan, sikap tak acuh yang diterimanya ini... justru memunculkan senyum kecil di bibirnya— mendadak penasaran apakah calon gurunya pun akan memiliki reaksi yang sama.

Bokuto membawa mereka masuk ke dalam satu ruangan lagi, tetapi pria itu langsung berhenti di dekat pintu masuk, lantas menunjuk ke satu arah dengan kedikkan dagu.

“Tuh, orangnya lagi latihan.”

Oikawa menoleh, dan memperhatikan dua orang yang berada di atas ring dengan kedua alis menyatu bingung. Salah satu mengenakan sarung tinju berwana merah, dan satu lagi berwarna hitam. Keduanya sama-sama kekar dan memiliki postur yang bagus. Meski begitu, matanya seakan tak bisa lepas dari petarung dengan warna kulit lebih gelap. Pria itu membelakangi mereka sehingga Oikawa tidak bisa melihat dengan lebih jelas wajah si penerima atensi. Namun, setiap gerakan yang diluncurkan pria itu terlihat sigap sekaligus tertata layaknya sebuah tarian— membuat Oikawa mendadak tak sabar ingin cepat-cepat berlatih.

“Iwaizumi itu... yang mana?”

Oikawa sungguh berharap pria dengan model rambut spiky itulah calon gurunya.

“Yang pake sarung tinju item. Bentar, gue panggil orangnya— WOY! IWA! BERHENTI DULU SEBENTAR! INI ADA TAMU!”

Kedua orang itu otomatis berhenti setelah mendengar teriakan Bokuto. Dada mereka naik turun secara liar diiringi deru napas yang terdengar hingga ke ujung ruangan. Orang yang mengenakan sarung tinju berwarna merah mendekati si lawan, lantas membisikkan sesuatu sebelum turun terlebih dulu dari ring.

“Weh, bos, si Iwa butuh lawan baru tuh buat ronde habis makan siang nanti.”

“Gampang. Ada Aone nanti,” jawab Bokuto sembari mengibaskan tangan dengan santai kepada pria yang memiliki potongan rambut cukup aneh; setengah berdiri dan sebagian lainnya turun. Oikawa melirik, dan netra mereka bertemu selama beberapa saat, tetapi pria itu hanya menyunggingkan seringai lebar.

“WA! CEPETAN TURUN! KATANYA MAU MINTA TANDA TANGAN BUAT ADEK LO!”

Pria yang tadi bertemu pandang dengannya tiba-tiba memutar badan dan ikut meneriakkan panggilan kepada orang yang mereka nantikan. Oikawa mengalihkan kembali perhatiannya ke depan dan—

Dan ia menahan napas.

Pria yang sedari tadi dipanggil ternyata sudah turun dan tengah berjalan menghampiri mereka. Sarung tinju hitam itu tidak terlihat lagi sehingga memperlihatkan tangan sang atlet yang tengah melepas semacam lilitan perban. Oikawa sulit menahan diri untuk tidak menggulirkan tatapan ke arah abdomen dengan lekuk otot yang tercipta begitu kasatmata. Saat matanya sudah kembali ke tempat seharusnya, ada manik hijau gelap yang balik menyambut. Raut wajah pria itu bisa dibilang cukup datar meski terselip kilat penasaran yang Oikawa berhasil tangkap selama sepersekian detik. Mereka berpandangan cukup lama sebelum Bokuto memecah suasana.

“Oikawa, kenalin, ini Iwaizumi Hajime. Dan dia yang bersedia ngajarin lo.”

Jikalau Oikawa bukanlah seorang aktor ulung, dia pasti sudah berteriak kegirangan sekarang.

Namun, Oikawa hanya menyunggingkan senyum termanisnya sebelum menjulurkan tangan.

“Halo, aku Oikawa. Salam kenal.”

Uluran tangannya tidak langsung disambut— tidak seperti Bokuto. Pria itu menatap tangannya yang mengambang di udara dengan pandangan sulit diartikan. Oikawa mengangkat satu alis— apa ada sesuatu yang menyebabkan pria itu enggan bersentuhan dengannya?

Saat sinyal keraguan itu semakin terkirim jelas, dan Oikawa bersiap untuk menarik uluran, tangannya tiba-tiba menerima sentuhan balik.

Oikawa pikir, ia akan menerima jabatan tangan yang sama seperti dari Bokuto— sigap dan kuat. Khas seorang atlet. Namun, betapa terkejut dirinya saat menerima genggaman tangan yang cukup lembut, sekalipun kulit yang menyentuhnya jauh terasa lebih kasar dibandingkan Bokuto.

“Halo, saya Iwaizumi.”

Bariton pria itu terdengar sangat rendah di telinganya. Mata mereka lagi-lagi bertemu, dan untuk sedetik yang sangat cepat, Oikawa yakin jantungnya berdetak lebih kencang.

Agaknya ini akan menjadi suatu permulaan yang menarik.


@fakeloveros

“Shit. Kayaknya aku mau muntah.”

Iwaizumi tertawa pelan di sebelahnya, dan Oikawa tak habis pikir bagaimana pria itu masih bisa terlihat santai.

“Kok kamu santai banget, sih?” tanyanya dengan tatapan menuduh, seakan tidak rela bahwa hanya dirinya di sini yang rasanya ingin jungkir balik.

“Siapa bilang? Aku juga tegang,” balas pria itu sembari melirik jam di atas dashboard. “Sampai kapan kita mau di mobil?”

“Tadulu, aku tarik napas dulu.”

“Dari tadi kamu udah bilang kayak gitu, sayang.”

Bukannya tenang, perutnya malah semakin melilit.

“Menurut kamu Tobio ke mana? Kamu nggak khawatir sama dia?” Oikawa berupaya mengalihkan topik demi menenangkan jantungnya yang terus berdegup kencang semenjak sampai di depan rumah orang tua si lawan bicara. Mereka belum keluar dari mobil karena Oikawa beralasan ia perlu menenangkan diri sebentar.

Iwaizumi mengedikkan bahu. “Dia bukan tipe yang bakal kabur lama. Aku udah ngajarin dia buat tanggung jawab sama perbuatannya sendiri, dan nerima segala hasil dengan lapang dada.”

Oikawa begumam panjang. Perlahan, sakit perut yang melilit itu mulai memudar. Sepertinya membicarakan Tobio cukup membantu dalam meredakan rasa gugupnya.

“Sebelum ke sini, aku udah nge-chat dia tadi. Aku bilang apa pun hasilnya, aku bakal tetep sayang sama dia.”

“Dan dia juga bakal tetap sayang sama kamu. Mau status kamu berubah pun nggak bakal ada bedanya.”

Setidaknya, Oikawa berhasil meloloskan senyum kecil saat mendengar pernyataan tersebut.

“Kalau buat kamu, bakal ada bedanya, nggak?”

“Selain nantinya setiap malem aku bisa tidur sama kamu? Kayaknya nggak ada juga.”

Oikawa memberengut, sedikit tak terima dengan jawaban ringan tersebut. “Kok kayaknya, sih? Kamu mau nikah sama aku jangan-jangan cuma biar bisa diajak—“

Oikawa tak sempat menyelesaikan omongannya. Bibirnya keburu dipaksa bungkam lewat lumatan yang tak pernah gagal membuainya. Oikawa memejamkan mata, dan menikmati sapuan bibir itu. Tangan Iwaizumi juga ikut membelai mulai dari pipi, rahang, leher, hingga ke ujung jarinya. Saat pria itu melepas pagutan mereka, lalu membawa telapaknya ke depan bibir, ada embusan napas hangat di sana yang membuatnya bergidik pelan.

“Kamu sendiri yang dulu pernah bilang ke Tobio kalau sayangku itu seluas langit. Jadi, sebenernya mau kita direstuin atau nggak pun, semuanya bakal sama. Semuanya tetep buat kamu. Semuanya milik kamu.”

Oikawa menarik napas tercekat. Tanpa bisa menahan diri, ia langsung memeluk pria yang dikasihinya itu. Dan Iwaizumi membalas— pria itu selalu membalas. Hangat dan eratnya pun tetap sama, bahkan setelah tiga tahun berlalu.

“Simpen kata-kata itu buat nanti pas di nikahan kita,” bisiknya di antara ceruk leher sang kekasih yang menguarkan aroma nyaman. Ada usapan lembut di kepalanya seiring gelak tawa dari si pemilik surai hitam.

“Makanya tenang aja. Keluarin semua pesona kamu. Buktinya, Tobio sama aku aja berhasil kena, kan?”

“Damn, right!” Oikawa melepas pelukannya, lalu menyeringai lebar. “Buktinya aku berhasil ngelewatin ujian dari Tobio, terus pacaran sama kamu! Kalau nggak, mungkin sekarang aku cuma masih ngeliatin dari jauh setiap kita beli bubur bareng.”

“Jadi…” Iwaizumi lantas tersenyum miring seraya mengangkat satu tangan untuk merapikan poninya yang sedikit berantakan, “siap buat perang?”

Oikawa menjawab dengan satu anggukan yakin. Ia tak lagi takut, atau ragu karena tahu tidak akan kehilangan apa pun setelah ini. Sayangnya pun akan tetap sama; layaknya langit yang akan kembali cerah setelah hujan besar melanda.

Fin.


@fakeloveros

Sumpah serapah tidak pernah berhenti keluar dari mulut Hinata kala siang itu. Kakinya yang menjejak tanah, terus dipaksakan untuk bergerak meski napasnya sendiri memproteskan hal sebaliknya. Ia sudah mengelilingi sekolah sejak sepuluh menit lalu, tetapi tidak juga ditemukan sosok jangkung bersurai hitam yang sedari tadi dicarinya.

Yuu, yang ikut mencari Kageyama bersamanya, hanya mampu bersandar ke dinding dengan napas tersengal. “Ta... udah nggak usah dipaksa, lo kan masih sakit.”

Kalimat itu berdering seperti alarm pengingat bahwa suhu tubuhnya masih di atas normal. Namun, otak gilanya menyanggah bahwa itu hanya akibat dari adrenalin yang memompa.

“Tuh anak ke mana ya, anjir... kata ayahnya juga tadi langsung nggak keliatan pas pertandingan selesai. Apa langsung balik ke rumah dia?” Yuu mengimbuhkan seraya menghapus peluh yang semakin mengalir. Hinata berjongkok selagi memegang kepalanya yang terasa kian berputar. Tenggorokannya kering, dan dari punggungnya mengalir keringat dingin.

“Pasti gara-gara gue...”

“Apa?”

“Gara-gara gue nggak dateng...” bisiknya dengan mata terpejam. Ia berusaha untuk tidak memedulikan ratusan jarum tak kasatmata yang tengah menusuk-nusuk kepalanya. Hinata punya firasat, jika tidak bisa bertemu Kageyama hari ini untuk menjelaskan perihal ketidakhadirannya maka dia tidak akan memiliki kesempatan kedua.

“Ta, jujur aja, nih. Kalau gue jadi nyokap lo juga gue nggak bakalan ngebolehin lo pergi sekarang. Lo masih sakit, gila! Tapi tetep maksain buat pergi. Terus ini juga kita janjinya ke nyokap lo cuma setengah jam, kan? Tapi ini aja udah mau 20 menit! Tobio juga nggak mau ngangkat telepon. Nggak jelas banget tuh orang!”

Hinata menghela napas, teringat dengan perjuangan dirinya sejak pagi dalam meyakinkan ibunya agar diperbolehkan pergi. Ternyata hal tersebut tidak mudah, dan akibatnya dia jadi datang terlambat, bahkan tidak menonton pertandingan sama sekali.

Hinata tahu, Kegayama pasti merasa sangat kecewa— terhadap diri sendiri, maupun dirinya yang sudah berjanji untuk datang.

“Gue... cari ke kelas-kelas, deh,” ucap Hinata pada akhirnya, mengusahakan diri untuk bangkit. “Siapa tau dia ada di sana...”

Yuu ikut menegakkan diri, lantas memandangnya skeptis. “Kelas-kelas bukannya pada dikunci, ya?”

Hinata mengedikkan bahu. “Siapa tahu.”

“Gue ke kantin dulu deh, beli minum. Eh, kalau si Tobio nggak ada juga di kelas-kelas, lo susul gue ya ke kantin. Kita langsung balik aja,” tukas Yuu dengan ekspresi yang dibuat segalak mungkin. Hinata mengangguk— dalam hati berjanji bahwa jika benar-benar tidak bisa menemukan Kageyama, dirinya akan langsung pulang.

Setelah membalas lambaian tangan Yuu, Hinata tidak membuang-buang waktu, dan segera menyuruh kakinya untuk kembali bergerak. Kali ini, ia langsung menaiki tangga dan menelusuri koridor kelas sepuluh. Hinata melongok melalui jendela sembari berdoa dalam hati semoga ada sosok Kageyama di dalam salah satu kelas. Kendatipun begitu, semakin Hinata menemukan kelas kosong, semakin pelan juga langkahnya hingga ia hanya sanggup berjalan dengan bertumpu pada dinding terdekat.

Tetapi agaknya benar apa kata orang— kalau sudah berusaha dan berdoa maka Tuhan tinggal mengabulkan.

Hinata mengerjap berulang kali sebagai upaya untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya nyata. Ia berdiri di seberang koridor, dan dari jendela yang transparan, Hinata mendapati Kageyama berada di dalam kelasnya. Sendirian. Pemuda itu duduk di salah satu meja dengan punggung yang membelakangi pintu. Meski Hinata tidak bisa melihat wajah dari sosok jangkung itu, ia yakin apa yang tengah diperhatikannya bukan sekadar oasis di tengah padang pasir.

Dengan sisa kekuatannya, Hinata segera berlari menuju kelas yang — entah bagaimana — tidak terkunci. Mungkin Kageyama sendiri yang meminta kunci ruangan kelas itu ke satpam. Entahlah. Hinata tidak perlu tahu. Ia hanya ingin segera berbicara dengan Kageyama.

Namun, langkahnya terhenti dengan ragu begitu sudah berdiri di ambang pintu. Napasnya yang berderu liar tidak mungkin tidak sampai ke telinga si penghuni kelas. Meski begitu, pemuda yang nampaknya sudah berganti baju dari seragam basket tersebut tidak menengok sedikit pun ke arahnya.

“Kageyama...” Hinata mencoba memanggil dalam desibel yang tak lebih dari bisikan. Ia mulai melangkah ke dalam dengan hati-hati. Rasanya seperti sedang mendekati singa yang tertidur. “Maaf, gue... nggak sempet dateng ke pertandingan lo. Gue—”

Hinata berhenti. Mendadak ia ragu untuk mengutarakan alasan yang sebenarnya. Apakah dengan melontarkan alasan sakit bisa membuat kekecewaan Kegayama berkurang? Apakah itu bisa membuatnya mendapatkan kesempatan kedua?

Hinata terus menimbang-nimbang hingga tidak menyadari bahwa Kageyama tahu-tahu sudah berbalik, lantas menatapnya lekat.

DRAAK

Suara kaki meja yang tiba-tiba beradu dengan lantai secara kasar memecah keheningan. Hinata mendongak, dan mendapati Kegayama sudah berdiri menjulang. Netra biru gelap sang pemuda terbuka lebar.

“Lo... kenapa?”

“Hah?” Hinata mengucap bodoh, tidak yakin dengan apa yang dimaksudkan Kageyama.

“Lo pucet banget.” Seakan ingin memastikan lebih jelas, Kageyama mulai berjalan mendekatinya. Hinata hanya diam di tempatnya berdiri tanpa melontarkan sepatah kata pun. Matanya sedikit ditundukkan karena ia tidak— belum berani menghadapi kekecewaan yang pastinya akan terlihat jelas di ekspresi sang lawan bicara.

Meski begitu, tidak ada yang mempersiapkan Hinata untuk menerima sebuah sentuhan.

“Lo demam.” Kageyama berucap terkejut saat menyadari suhu tubuhnya yang masih tinggi. Namun, mengingat kini ada telapak tangan sang pemuda yang menempel di keningnya, membuat Hinata tak tahu harus merespons apa.

“Kenapa nggak bilang kalau lo sakit?”

Pertanyaan itu terlontar tajam, dan nyaris membuat Hinata melangkah mundur kalau tidak ada tangan yang segera menahannya.

“Kalau sakit, harusnya lo bilang ke gue! Jadi gue juga nggak akan mikir macem-macem dan bakal nyuruh lo istirahat aja di rumah!”

“S-sori... h-habisnya gue kan udah janji sama lo...”

Hinata tidak bisa menghindar. Lengannya masih dicengkeram kuat oleh Kageyama yang terlihat sangat marah. Baru kali ini ia melihat Kageyama menampilkan raut wajah seperti itu.

“Gue nggak apa-apa lo nggak dateng asal ngasih kabar, Hinata! Apalagi tahu lo sakit begini! Menurut lo, gue bakal seneng kalau lo dateng tapi lagi kayak begini?!”

Hinata tersentak. Kepalanya terasa kian melayang mendengar bentakan keras dari pemuda di hadapannya. Namun, sebelum mengeluarkan semacam pembelaan, lengannya yang masih dicengkeram oleh Kageyama tiba-tiba ditarik hingga ia nyaris terjerembap.

“Eh, Kage—”

Protesnya tertelan sia-sia. Tubuhnya yang memang jauh lebih mungil, ditambah sedang dalam keadaan tidak berdaya, membuat Hinata tertarik dengan pasrah. Napasnya tersangkut di tenggorokan, dan pikirannya mendadak kosong.

Kageyama sedang memeluknya.

Selama beberapa menit, Hinata tidak berani mengeluarkan suara. Tangannya pun hanya dibiarkan menggantung di kedua sisi tubuh. Ada deru napas hangat yang menerpa lehernya, dan Hinata yakin setelah ini ia akan benar-benar jatuh pingsan.

“Kage—”

“Gue nyariin lo.”

Hinata menutup rapat-rapat bibirnya. Tak jadi memanggil nama pemuda itu.

“Gue nyariin lo di bangku itu selama pertandingan. Yang lain nggak bilang apa-apa, tapi gue yakin mereka kecewa karena gue keliatan nggak fokus banget di lapangan. Padahal ayah sama Om Oikawa juga dateng, dan gue mau buktiin ke mereka hasil latihan selama ini... tapi yang ada, gue malah ngacauin semuanya.”

“Lo nggak—”

“Tapi,” Kageyama lagi-lagi memotongnya, dan entah pemuda itu sadar atau tidak, tetapi lengan yang melingkari punggungnya mengerat. Kakinya bahkan mulai terangkat sedikit. “Tapi, gue bakalan lebih nyesel kalau nggak ketemu lo hari ini. Gue sempet mikir, apa lo nggak dateng karena... ini hasil taruhan? Karena kalau iya, gue janji nggak bakal gangguin lo lagi habis ini.”

Hinata lelah mendengarkan praduga satu arah tersebut. Dia juga ingin mengatakan sesuatu.

“Bisa, nggak, lo dengerin gue juga?” ujarnya sedikit kesal karena belum juga mendapatkan kesempatan. Mendadak, pusingnya terlupakan dan yang ia inginkan hanya menegaskan sesuatu.

“S-sori...”

Kageyama melepas pelukan mereka, wajah pemuda itu terlihat seperti kepiting rebus. Mata sewarna blueberry itu menghindari tatapannya selagi sang empunya berusaha mencipatakan jarak.

Namun, Hinata tidak membiarkan. Ia menarik ujung kaus yang dikenakan si pemilik surai hitam, kemudian mendongak untuk menatap wajah pemuda itu lekat.

“Gue nggak terpaksa dateng ke sini. Meskipun hasil taruhan, tapi gue juga pengin banget buat dateng. Kalau nggak, mana mungkin gue tetep bela-belain dateng, padahal lagi sakit? Mungkin habis ini gue bakal kena hukuman dari nyokap, tapi kalau nggak ketemu lo, gue juga pasti bakalan nyesel.”

Manik biru itu melebar tak percaya mendengar pengakuannya. Hinata memperkirakan, sudah ada rona yang tak kalah merah di pipinya sekarang. Dan iya percaya itu bukan akibat demam.

“Jadi...”

“Jadi...”

Netra mereka bersibobrok canggung saat satu kata itu diucap bersamaan. Namun, entah mengapa Hinata menemukan situasi ini begitu lucu hingga tanpa sadar bibirnya meloloskan kekehan kecil. Kageyama menatapnya bingung untuk sesaat sebelum ikut tertawa pelan.

“Jadi... kita nggak bisa nonton hari ini kayaknya,” ucap Hinata terlebih dulu begitu bisa menenangkan diri. Ia tidak sadar tangannya masih memegang ujung kaus Kageyama, tetapi pemuda itu sepertinya tidak keberatan, dan malah beringsut maju seakan refleks.

“Iyalah, lo kan lagi sakit. Tadi ke sini bareng Yuu, kan? Nanti pulang sama gue aja.”

Kageyama mengatakannya begitu ringan, seakan itu memang penyelesaian paling wajar.

“Kayaknya gue sakit gara-gara nggak pake jaket waktu itu.”

Ada kerutan dalam terukir di kening yang lebih jangkung. “Kan gue udah bilang, kalau pagi pake jaket. Anginnya kenceng kalau lo naik motor. Nanti pake jaket gue aja, atau lo mau gue pesenin taksi sekalian...?”

Hinata menggeleng. Setelah susah payah bisa bertemu dengan Kageyama seperti ini, rasanya dia tidak ingin langsung berpisah.

“Nggak mau. Bareng lo aja.”

Kageyama tak langsung menyetujui, dan Hinata pikir pemuda itu akan bersikeras untuk menyuruhnya pulang naik taksi. Namun, betapa terkejut Hinata saat jemarinya yang masih bertengger di kaus milik sang pemuda tiba-tiba diraih dan digenggam erat.

“Kalau nanti lo udah sembuh... masih mau, kan, nonton sama gue?”

Kageyama masih perlu nanya, ya? pikir Hinata dalam hati. Tangannya ikut menggenggam balik begitu ia mulai merasa semakin nyaman.

“Mau,” jawabnya cepat, dan sebelum Kageyama mengutarakan hal lain, Hinata buru-buru menambahkan, “asal itu nggak jadi kencan pertama sekaligus terakhir kita aja.”

Kageyama memasang raut wajah datar, dan kalau tidak mengetahui dengan baik, Hinata pasti mengira pemuda itu tidak menyukai ucapannya sama sekali. Tapi sekarang ia paham, Kageyama hanya gugup hingga tak bisa berkata apa pun. Setidaknya, rona yang mewarnai kedua sisi wajah si pemilik surai hitam itu tidak bisa berbohong sama sekali.

Lucu banget, monolognya lagi-lagi mengambil alih sementara Hinata mulai memikirkan berbagai skenario untuk membuat Kageyama tersipu seperti itu untuk ke depannya.

Dan satu ide sudah terpikirkan olehnya sekarang.

“Eh, Kageyama, nunduk dikit, deh.”

Saat sang pemuda mengikuti permintaannya tanpa banyak tanya, Hinata memanfaatkan jarak dekat mereka untuk menjatuhkan kecupan cepat di pipi si yang lebih tinggi. Sebelum menyesali perbuatannya, Hinata langsung memutar badan demi menyembunyikan wajahnya yang memanas. Namun, ia tidak lupa mengatakan—

“Walaupun gue nggak liat pertandingan lo hari ini, gue yakin lo udah ngeusahain yang terbaik. Lagian... masih bakal ada pertandingan selanjutnya, kan?”

Tak ada suara yang membalas. Hinata hampir menoleh, tetapi gerakannya terhenti saat tiba-tiba ada sebuah jaket melingkupi pundaknya dari belakang.

“Pasti bakal ada, dan lo wajib nonton. Makanya, tolong jangan sakit lagi.”

Hinata cukup tertegun saat kalimat itu dilontarkan begitu halus— terdengar seperti perintah, sekaligus permohonan. Ada aroma baru yang menguar dari sekelilingnya, dan ia tahu itu berasal dari jaket Kageyama.

Mendadak, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

“Ya, udah. Ayo balik sekarang. Lo harus cepet-cepet istirahat.”

Hinata tidak mengeluarkan protes sama sekali saat tangannya tiba-tiba ditarik lembut untuk dibawa kembali ke dalam genggaman. Ia menikmati tautan hangat pemuda itu, lalu berpikir, pantesan orang pacaran suka pegangan tangan...

Atau mungkin, Hinata menyukai saat hanya Kageyama yang menyentuhnya.


@fakeloveros

Sudah setengah jam berlalu Iwaizumi menonton temannya melayangkan tinju demi tinju sebagai pelepasan emosi. Setidaknya, ia tahu temannya itu masih membatasi kekuatan karena kalau tidak, samsak di gym mereka mungkin bisa benar-benar hancur sekarang. Bokuto sendiri tidak memintanya untuk tinggal, tetapi sekembalinya pria itu tadi sore, terasa ada yang janggal sehingga Iwaizumi memutuskan untuk melewatkan jam pulangnya.

Seperti yang diduga, begitu gym telah kosong, Bokuto mulai meluapkan apa pun itu yang dirasakan terhadap samsak di salah satu ruangan. Iwaizumi hanya duduk bersender pada dinding selagi menerka apa yang telah terjadi.

“Mantan gebetan lo beneran ngasih undangan nikah?” tembaknya asal begitu Bokuto bersiap untuk pindah ke samsak kedua. Pria yang sehari-hari selalu menampakkan senyum lebar, kini terlihat serius layaknya setiap akan bertanding.

Bokuto menggeleng, dan meregangkan badan sedikit.

“Terus?”

Padahal, Iwaizumi bukan tipe yang senang mencampuri urusan orang lain. Tapi sekali lihat pun ia tahu bahwa Bokuto perlu ditemani. Walau dari luar terlihat selalu ceria, sebenarnya pria itu menyimpan banyak hal yang ditanggung sendiri.

Hampir sama seperti dirinya. Bedanya, dia tidak menutupinya di balik senyuman.

“Kan lo sendiri yang bilang gue lagi patah hati,” jawab Bokuto sekenanya tanpa menoleh sedikit pun.

“Ngasal aja sih itu.”

“Tapi, beneran.” Bokuto menukas cepat berbarengan dengan samsak yang dipukul kencang.

BUGH

“Gue emang patah hati. Lagi.”

Iwaizumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal— mulai bingung bagaimana harus menghibur orang yang sedang patah hati.

“Dia bilang kejadian yang pernah ada dulu mendingan dilupain supaya kita… bisa mulai lembaran baru. Sebagai temen baik.”

Bokuto terengah. Peluh mengalir deras di sepanjang punggung sang pria. Iwaizumi masih mendengarkan dalam diam kala temannya itu mulai berjalan mengambil botol minum yang diletakkan tak jauh dari sana.

“Gue bilang, itu ide bagus. Gue bersedia jadi temen baik dia lagi. Toh, gue juga nggak mau bahas apa yang udah lama. Tapi gue nggak terima… pas dia bilang gue nggak boleh suka lagi sama dia. Seakan-akan ngilangin perasaan itu segampang muter telapak tangan?!”

Bokuto menghempaskan tubuh di atas lantai, lalu bertelentang dan menatap langit-langit. Nada pria itu memelan seolah semua kekuatan sudah terkuras habis, dan yang tersisa tinggal kepasrahan.

“Gimana bisa gue nggak suka lagi sama dia kalau perasaan yang dulu aja nggak pernah ilang?”

Bokuto menutup wajah dengan salah satu tangan, dan Iwaizumi nyaris bertanya apakah pria itu sedang menangis. Selama beberapa menit, yang terdengar hanyalah bunyi jarum jam, serta kesibukan ibu kota di luar sana. Bokuto berbaring tak bergerak, dan Iwaizumi hampir mengira pria itu ketiduran atau apa seandainya tidak ada tarikan napas yang tiba-tiba terdengar.

“Dan dia… ngajak gue ketemuan ternyata cuma buat minta tolong.”

“Minta tolong apa?” Iwaizumi berusaha dengan canggung mengalihkan topik karena tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Bokuto sebelumnya.

Lagi pula, mungkin itu pertanyaan retoris.

“Si Oikawa Tooru, gue nggak tahu lo udah denger apa belum, mau main film baru yang temanya boxing. Dan katanya mereka lagi cari guru buat ngajarin Oikawa.”

Iwaizumi tak langsung menjawab. Namun, ia langsung menegakkan tubuh begitu mendengar berita tersebut. Pikirannya otomatis melayang ke ucapan adiknya tempo lalu.

Sungguh suatu kebetulan yang tak terduga.

“Jadi? Mau lo yang ngajarin dia?” Oikawa berupaya memastikan.

“Kenapa? Lo mau?”

Bokuto tak lagi menutup wajah, dan kini mulai mengambil posisi duduk seraya beringsut mendekatinya.

“Bakal dibayar sih katanya, cuma gue belum nanya berapa.”

Tak dapat dipungkiri, telinganya terpasang lebih tajam saat mendengar kata dibayar. Kalau hanya perlu mengajarkan seorang aktor terkenal… seharusnya mudah, bukan? Dan Iwaizumi yakin bayaran yang ditawarkan tidak mungkin memiliki nominal rendah.

Mungkin, dia juga bisa sekalian meminta tanda tangan untuk diberikan kepada adiknya.

“Gue tau lo lagi mikirin apa,” ucap Bokuto tiba-tiba sembari menggeleng dengan raut wajah tak setuju. “Tapi lupain aja, kayaknya mau gue tolak.”

“Jangan.”

Jawaban itu datang sangat cepat, tidak hanya mengagetkan Bokuto, tapi juga dirinya sendiri.

“Jangan ditolak. Kasih ke gue aja. Gue mau.”

“Lo yakin? Ini… ngajarin Oikawa Tooru, loh? Aktor paling terkenal di negara kita, yang punya banyak skandal itu sama mantan-mantannya.”

Iwaizumi mengangguk. Dalam sekejap, keteguhannya telah menjadi begitu bulat. Apa pun akan ia lakukan demi mendapat tambahan uang sehingga bisa secepatnya melunasi utang keluarga yang ditinggalkan sang ayah.

Bokuto masih menatapnya skeptis, tetapi pria itu tidak melontarkan argumen lebih panjang, dan memilih untuk kembali bangkit.

“Kalau gitu, coba nanti gue hubungin lagi manajernya.”

Bokuto memutar badan, dan menatapnya ragu sepersekian detik sebelum memberi peringatan.

“Tapi asal lo tau aja. Mungkin habis ini istilahnya lo bakalan masuk sarang singa. Bukannya gue lebay atau gimana, ya.”

“Nggak apa-apa.” Iwaizumi ikut bangkit, lalu membersihkan debu yang menempel di celana. Ada sedikit getaran dari dalam kantung, yang mengingatkan Iwaizumi bahwa ia belum menghubungi adiknya malam itu.

“Lagian, bakal seliar apa sih singanya?”


@fakeloveros

Ada sepasang tangan yang langsung menariknya begitu pintu itu dibuka. Setengah buta, Iwaizumi membuka sepatunya terburu-buru sebelum punggungnya didorong ke dinding, dan bibirnya mendapat serangan mendadak. Terdengar hela napas lega seiring bibir mereka yang menyapu satu sama lain dalam lambat sensual. Iwaizumi ikut memejamkan mata, dan membiarkan Oikawa untuk mengambil alih sementara.

Toh, itu tidak akan bertahan lama.

“Hmmh—“ Oikawa tak sengaja meloloskan satu desah kecil saat bibirnya menelusuri garis rahang pria itu. Ia menunduk, dan Oikawa otomatis mendongakkan kepala untuk memberi akses lebih banyak. Iwaizumi sengaja berlama-lama mencium satu titik di ceruk leher sang kekasih yang ia tahu pasti akan membuat si penerima mengeratkan pegangan di bahunya dengan mata terpejam penuh ekstasi. Ia lantas menghidu dalam-dalam aroma adiktif yang menguar di sana berbarengan dengan tangannya yang mulai menyusup ke balik kaus tipis milik si surai cokelat. Iwaizumi bisa merasakan Oikawa berjengit saat tangannya yang dingin akibat terpapar udara malam di perjalanan mulai membuat pola abstrak di abdomen mulus sang kekasih. Tak ada bagian dari Oikawa yang tak pernah gagal membuatnya gila. Selalu, selalu, dan selalu ingin ia tandai agar pria itu tahu siapa yang memiliki.

Barulah saat itu, Iwaizumi menyadari ada suara lain yang terdengar di dalam apartemen.

“Invisible String?” gumamnya pelan di atas kulit hangat Oikawa. Bibirnya mulai memberi gigitan-gigitan kecil, dan Oikawa meloloskan lagi satu desah yang membuat celananya kian sesak.

“Kamu tau lagu ini?” Oikawa membalas susah payah— tergambar jelas bahwa pria itu tengah kesulitan untuk berbicara.

“Pacar mana yang nggak tahu lagu dari penyanyi kesukaan pacarnya sendiri?”

Oikawa terkekeh, tetapi reaksi itu tidak bertahan lama karena digantikan dengan napas tercekat saat tangan Iwaizumi mulai bermain ke belakang— ke bokong sintal sang pria yang hanya dilapisi bokser berwarna hitam. Iwaizumi memberi remasan apresiasi saat menyadari sang kekasih menyambutnya dengan setel pakaian yang tak begitu menutupi. Berkebalikan dengannya yang masih lengkap dengan pakaian berkendara.

“Kamu utang cerita ke aku,” ucap Oikawa di tengah napas yang memburu. “Soal invisible string itu.”

“Nanti aja.” Balasannya sendiri terdengar tidak jelas mengingat kesibukan apa yang tengah menyita konsentrasinya— memberi pijatan-pijatan lembut sebelum jari tengahnya disambut hangat. Oikawa seperti kehilangan daya, dan memasrahkan semua beban tubuh dengan bersender di dadanya. Deru napas pria itu menerpa keras, dan membuat Iwaizumi mempercepat gerakan.

“Tapi aku mau denger sekarang…”

Harus Iwaizumi akui, Oikawa sungguh hebat masih bisa melontarkan kalimat di saat ia sendiri rasanya ingin langsung menghilangkan kemampuan koherensi pria itu kecuali meneriakkan namanya.

“Jadi,” Iwaizumi memulai, mendadak terpikirkan ide untuk menguji kesabaran sang kekasih. “Cuma orang-orang beruntung yang dikasih kesempatan buat punya invisible string itu sama pasangannya. Misal kamu lahir di kutub utara pun kita bakal tetep ketemu juga.”

Iwaizumi sengaja mulai memperlambat gerak tangannya. Tidak dipedulikannya rengek Oikawa, maupun putaran pinggul sang surai cokelat yang berusaha mencari friksi. Ia terus melanjutkan penjelasan yang tak sengaja dibacanya di sebuah situs internet sambil memosisikan kejantanannya sendiri yang sudah mengeras. Iwaizumi bahkan harus memberi jeda selama sepersekian detik untuk menarik napas.

“Karena invisible — nggak keliatan — jadi nggak akan ada yang bisa mutusin. Kecuali Tuhan sendiri, mungkin. Lewat kematian.”

Oikawa mengeluarkan suara yang terdengar antara campuran tawa dan rintihan. Pegangan tangan pria itu di lengannya mengeras, dan Iwaizumi harus mengerahkan seluruh tenaga untuk tidak segera melucuti pakaian mereka.

“Tapi apa gila, seandainya masuk neraka pun aku masih pengen dipertemuin sama kamu?”

Keinginan itu ia bisikkan tepat di telinga Oikawa hingga sang empunya bergidik pelan. Pria itu mengangkat wajah dari ceruk lehernya, lantas menatapnya dengan sorot mata sayu.

“Yang gila itu,” Oikawa berhenti, dan menggigit bibir saat Iwaizumi dengan sengaja memasukkan digit kedua secara perlahan, “kalau kita nggak ke kamar aku sekarang dan — fuck — nyelesein ini.”

“Ide bagus.” Iwaizumi menyetujui tanpa perlu berpikir panjang. “Tapi apa kamu ada pertanyaan? Soal Invisible String?”

Layaknya seorang guru, Iwaizumi bertanya meski berada di tengah libido yang kian membuncah karena Oikawa baru saja menyelipkan satu tangan di balik jeans-nya. Ia menggeram penuh ancaman saat sang kekasih hanya menyentuhnya dengan gerakan malas.

“Kalau nggak ada, let’s fuck then.”

Setelahnya, yang terdengar hanyalah suara samar seorang penyanyi lain dari speaker di ruang tamu. Namun, dengan cepat lagu itu teredam oleh suara lenguhan panjang, serta bisikan nama penuh puja sepasang kekasih yang agaknya tidak akan berhenti meskipun fajar menyingsing.

Di tengah semua euforia itu, Iwaizumi bersumpah tidak akan melepaskan tali tak kasatmata yang mengikat mereka berdua.

Karena di kehidupan selanjutnya pun, ia akan tetap mengejar Oikawa sampai ke ujung dunia.


@fakeloveros

“Gue disuruh cari guru boxing.”

Pengumuman itu ia lontarkan tak lama setelah pelayan berlalu dari meja mereka. Jarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar saat suara Patrick Droney berputar pelan melalui pengeras suara restoran— mengingatkannya sedikit terhadap pria yang khusus memasukkan beberapa lagu milik penyanyi asal Lancaster tersebut ke dalam playlist-nya.

Sebelum memori itu semakin menguasai, Oikawa buru-buru menambahkan, “lo punya kenalan yang bisa boxing, nggak?”

Akaashi tak langsung menjawab, pria itu sibuk mengetikkan sesuatu di layar iPad dengan wajah penuh konsentrasi. Oikawa memutar bola mata, lantas berusaha menarik perhatian yang lebih muda dengan melambaikan tangan secara heboh.

“Akaashi~ heeey! Dengerin, dong! Gue harus cari guru!”

“Emang belajar dari Youtube aja nggak bisa?” balas Akaashi datar tanpa mengangkat wajah sama sekali, seolah gerutunya dianggap angin lalu.

“Lo sendiri yang bilang ini big project,” tukasnya kesal seraya membuat tanda kutip dengan kedua tangan di dua kata terakhir, “tapi masa belajarnya lewat Youtube? Bisa diketawain gue nanti.”

Yang diajak berbicara hanya bergumam pelan sebelum akhirnya meletakkan benda mutakhir itu di atas meja, dan benar-benar memberinya atensi. Oikawa tersenyum lebar, lalu menunggu dengan sabar jawaban si pemilik surai hitam.

“Gue punya... kenalan, sih.”

Oikawa memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kiri, mengamati selama sepersekian detik ekspresi ragu yang terpatri di wajah pria berkacamata itu. Sang manajer yang biasanya selalu tegas, dan tidak pernah ragu dalam menyuarakan isi pikiran, kini terlihat sebaliknya.

Setidaknya, Oikawa cukup bijaksana untuk tidak menyuarakan rasa keingintahuan yang membuncah tiba-tiba.

“Oh, ya? Siapa?” Sebagai gantinya, ia hanya bertanya ringan.

“Hmm... kakak kelas gue dulu pas di SMA,” jawab Akaashi, sedikit tidak fokus karena dicakapkan berbarengan dengan pelayan yang mengantarkan minuman mereka. Lagu sudah berganti kembali, dan kali ini Oikawa langsung mengenali suara John Mayer— tak ayal mengingatkannya akan suatu kenangan di Milan beberapa bulan lalu.

“Apa sekarang dia masih aktif?” tanyanya cepat, sebagai upaya untuk meredam pikirannya sendiri yang semakin berkelana.

“Harusnya sih masih...” jawaban Akaashi terdengar semakin pelan seiring lirik Never on The Day You Leave yang mulai masuk ke bagian reff. Hampir saja Oikawa mengeluarkan hela napas frustrasi kalau bukan diselamatkan oleh pelayan yang datang kembali untuk mengantarkan makanan mereka.

“Well? Kontak dia, dong. Bilang gue butuh guru. Gue males kalau sama orang asing, tapi ini kan kenalan lo. Jadi...” Oikawa menggantungkan kalimat untuk menunjukkan maksud tersiratnya. Suara John Mayer terdengar semakin samar begitu ia bisa memfokuskan pikiran ke arah lain; makanan.

Akaashi terlihat seperti tengah berkutat dengan sesuatu yang tidak Oikawa pahami. Dan di detik ini, dirinya tersadar betapa sedikitnya hal yang ia ketahui mengenai sang manajer. Namun, seperti ombak yang akhirnya surut, Akaashi memasang kembali ekspresi datar yang telah menjadi pemandangan Oikawa sehari-hari.

“Oke. Nanti gue coba kontak orangnya. Tapi lo yakin, kan, mau belajar langsung?”

Oikawa mengangguk, dan menemukan perasaannya berangsur membaik begitu lagu familier itu memasuki bagian akhir. Ia mengangkat garpunya, lantas menunjuk Akaashi dengan seringai lebar terpatri di wajah.

“Let's get this big project done.”


@fakeloveros

“Mana jaketnya?”

Tobio memicingkan mata saat melihat pemuda mungil itu keluar dari rumah dengan langkah ceria. Namun, Hinata hanya mengedikkan bahu, kemudian mengambil helm yang dijulurkan olehnya.

“Lagi dicuci,” jawab pemuda itu singkat.

“Bohong.”

“Beneran.”

“Semuanya?” tanyanya semakin curiga. Tetapi yang ada, Hinata hanya mengangguk sembari menunjukkan raut wajah polos.

“Gue udah boleh naik belum, nih?”

Tobio menghela napas, lalu mengedikkan dagu sebagai gestur memperbolehkan. Hinata menyunggingkan senyum lebar yang membuat mata pemuda itu tinggal segaris, lalu segera naik ke jok belakang.

“Oke! Ayo jalan, Mas!” seru Hinata seraya menepuk bahunya kencang.

“Sialan,” gerutu Tobio pelan meski ada senyum kecil ikut tersungging di wajahnya.

Anehnya, Tobio merasa udara pagi itu tidak sedingin biasanya.


“Jadi, lo udah kenal sama Om Oikawa dari kelas satu SMP? Dan dulu lo pernah ngerjain dia pas lagi deketin ayah lo?”

Tobio mengangguk— sedikit terkekeh saat mengingat memori tersebut. Terkadang ia masih merasa bersalah, tetapi Oikawa sendiri pernah bilang bahwa pria itu menganggap apa yang dilakukan Tobio justru menjadi alasan yang mendekatkan mereka.

Tobio mau tak mau harus setuju dengan alasan tersebut.

“Gila, ada-ada aja lo. Untung Om Oikawa sama ayah lo tetep jadian, ya.”

Tobio melirik ke samping— ke arah Hinata yang kembali sibuk menghabiskan dua potong roti. Hari ini pemuda itu tidak membawakan mereka nasi uduk. Bosan, katanya. Tobio sendiri tidak keberatan. Sejujurnya, dia bahkan tidak peduli. Baginya yang penting mereka bisa duduk berdua di dalam gedung olahraga dengan punggung yang menempel ke dinding. Hanya ada seberkas cahaya yang masuk dari sela-sela pintu, juga jendela besar yang terlampau tinggi untuk mereka raih. Suasana hening menyelimuti seolah mereka berada di dunia berbeda dengan yang ada di balik pintu.

Tobio menyukai ketenangan ini.

Meski begitu, selama beberapa minggu terakhir mengenal Hinata, Tobio mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu jauh dari kata tenang. Malah, sebaliknya. Hinata suka berbicara dengan oktaf yang lebih tinggi. Seolah dengan begitu, energi sang pemilik surai jingga akan tersampaikan, dan menular ke orang di sekitar. Hinata suka tersenyum. Lebar. Sampai Tobio bertanya-tanya, apakah Hinata tidak tersenyum hanya ketika sedang tidur? Hinata pun orang yang ekspresif. Emosi pemuda itu sungguh tergambarkan di wajah. Mau itu sedang senang, kesal, marah, atau kecewa. Tobio hanya tidak pernah melihat Hinata ketika sedang sedih.

Dan ia tidak ingin melihat pemuda itu bersedih.

Dia tidak sering bertemu dengan Hinata kalau sudah di sekolah. Kelas dan ekskul mereka berbeda. Keduanya hanya sesekali bersinggungan di koridor atau kantin. Tetapi lucunya, Hinata merupakan orang pertama selain Ryu dan Yuu yang mengetahui soal keluarganya. Soal Om Oikawa-nya. Untuk suatu alasan, Tobio merasa ia bisa mengatakan apa pun di hadapan sang pemuda tanpa perlu merasa takut akan dihakimi.

Bersama Hinata, Tobio seperti mendapat dorongan untuk bersikap apa adanya.

“Lo pernah pacaran, nggak?”

Seperti ada sebaskom es yang dijatuhkan di atas kepalanya, Tobio terlonjak kaget saat pertanyaan itu terdengar dari mulut yang lebih mungil. Ia menoleh, lantas bertanya curiga.

“Kenapa emang?”

“Nanya aja.” Jawaban Hinata datang terlalu singkat dan cepat— membuat Tobio menyipitkan mata semakin curiga.

“Nggak pernah.” Meski begitu, ia tetap menjawab dengan jujur.

“Serius? Sama sekali?”

Tobio mengangguk, sedikit bingung dengan ekspresi terkejut Hinata yang terlihat begitu kentara. Apakah ia telah dianggap aneh karena di umur segini belum pernah berpacaran?

“Kenapa, sih? Pacaran kan nggak wajib.” Tobio berusaha membela diri.

Hinata menggaruk kepala. Pemuda itu terlihat sedikit bingung.

“Iya sih, gue juga tau. Cuma gue pikir... lo... udah berpengalaman gitu.”

Tobio memiringkan kepala— mengamati wajah Hinata yang terllihat memerah di bawah bayangan.

“Kenapa lo mikir gitu?” tanyanya, mulai penasaran.

“S-soalnya... kemaren...” Hinata terlihat kesulitan mengeluarkan kata-kata. Pemuda itu hanya membuka dan menutup mulut dengan wajah yang semakin memperlihatkan rona.

“Kemaren...?” Tobio mengulangi satu kata itu dengan rasa ingin tahu yang semakin tinggi. Memang kemarin ada apa? Apa yang dilakukannya?

“Ah, udahlah! Males ngomong sama orang nggak peka!”

Tahu-tahu, Hinata berseru lantang sebelum membuat gerakan akan bangkit. Tobio, yang menyadari pemuda itu ingin melarikan diri, refleks menarik pergelangan tangan Hinata hingga si empunya badan jatuh terduduk kembali.

Bedanya, kali ini jarak mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya.

Tobio bisa mendengar suara tarikan napas tercekat milik Hinata. Ia pun terkejut, tetapi langsung berusaha menguasai diri. Tangannya dengan sengaja tidak melepaskan cengkeraman di pergelangan kurus sang pemuda. Kalau memungkinkan, Tobio malah ingin mempereratnya.

“Kenapa gue dibilang nggak peka? Emang gue kemaren ngapain?”

Ada kepanikan tergambar jelas di wajah Hinata. Iris madu itu mengerjap berulang kali seraya menghindari tatapannya. Hinata sedikit memalingkan muka, tetapi gestur seperti itu justru membuat Tobio semakin bertekad untuk mendapatkan jawaban.

“Kalau nggak jawab, tangan lo nggak bakal gue lepas.”

Tobio tahu ia memakai cara licik. Dan ia membuktikan omongannya sendiri dengan mengencangkan cengkeramannya— tidak terlalu kuat sampai bisa melukai Hinata, tetapi juga tidak lembut untuk menunjukkan keseriusannya.

Tatapan Hinata bergulir ke bawah, ke arah kulit mereka yang menempel dengan sengaja untuk pertama kali. Tobio sempat berpikir Hinata akan langsung mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong atau menyingkirkannya. Namun, yang lebih mungil itu malah memperhatikan kulit mereka yang sedang bersentuhan cukup lama, sebelum mendongak perlahan.

Tidak ada lagi kegugupan yang Tobio tangkap di sana. Yang ada, justru Hinata terlihat sama penasaran dengan dirinya. Pupil sang pemuda membesar, sedikit menghilangkan warna madu yang diam-diam sangat disukainya. Hinata membuka mulut, dan melontarkan kalimat dalam oktaf rendah yang baru kali ini didengar olehnya.

“Kemaren lo bilang jangan sampe gue sakit minggu ini supaya bisa dateng ke pertandingan lo.”

Sekarang, giliran Tobio yang menahan napas. Pegangan tangannya mengendur, tetapi Hinata tidak bergerak seincin pun— seolah membiarkan rantai tak kasatmata itu tetap mengikat mereka berdua.

“Kenapa lo mau gue dateng ke sana? Apa alasannya?”

Tobio pun tahu ia memiliki koordinasi yang buruk antara otak dengan bibirnya. Atau mungkin ada suatu energi halus di dalam gedung olahraga sekolah mereka yang selalu membuatnya mengatakan apa pun tanpa berpikir panjang.

“Soalnya gue mau lo dukung gue. Dan kalau tim sekolah kita menang, tadinya gue mau ngajak lo jalan.”

Ada jeda beberapa detik.

“Hah? Ngajak jal— Eh, tapi kan kemaren gue udah— oh, anjrit!

Tobio menunduk malu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya sementara Hinata justru kembali terlihat seperti orang kebingungan.

“Iya, tapi kemaren gue keduluan sama lo.” Tobio mendesah putus asa sebelum menarik tangannya. Kulit hangat itu tidak lagi berada di bawah sentuhannya, dan ia merasa sangat konyol sekarang. Tobio tidak berani mencari tahu sudah semerah apa wajahnya. Ia bahkan bisa membayangkan, seandainya Ryu dan Yuu mengetahui hal ini, dirinya pasti sudah ditertawai habis-habisan.

“Gue... nggak tau kalau lo...” Hinata masih terbata-bata. “Sori...” ucap pemuda itu pada akhirnya— seakan ikut menyerah.

“Udahlah, bukan apa-apa juga.”

Tobio tak sanggup lagi berada di sana. Rasanya ia ingin cepat-cepat kabur ke kelasnya. Namun, baru mengangkat bokongnya sedikit dari lantai, Hinata tahu-tahu menarik bahunya sampai ia terduduk kembali.

“Apa—”

“Hadiah,” tukas si rambut jingga cepat, kentara sekali sedang berusaha setengah mati menahan malu. “Kalau tim lo besok menang, gue bakal kasih hadiah.”

“Hadiah... apa?” Tobio bertanya, setelah meneguk salivanya dengan gugup. Tangannya mulai berkeringat saat merasakan tatapan intens Hinata di wajahnya.

“Apa aja. Selain jalan boleh... atau kalau lo mau ngajak jalan lagi juga nggak apa-apa.”

Yang terakhir memang tawaran menggoda. Kendatipun begitu, Tobio justru punya ide lain.

“Oke,” balasnya cepat sebelum ada yang berubah pikiran di antara mereka. Sebelum Hinata sendiri berubah pikiran. “Oke,” ulangnya lagi, kali ini dengan memberi sedikit penekanan.

“Oke. Gue bakal bikin tim sekolah kita menang.”

Dan itu bukanlah janji, melainkan determinasi.


@fakeloveros

Satu tahun.

⠀ ⠀ ⠀ ⠀⠀ Satu tahun.

Satu tahun.

Satu tahun.

Satu tahun la—

⠀ ⠀⠀ “Tooru?”

Suara itu— panggilan itu, memecah lamunannya. Kepalanya menengok ke arah sumber suara. Namun, belum sempat bibirnya melontarkan sesuatu, sudah ada sepasang lengan kokoh yang memeluknya dari belakang.

“Dingin,” keluh pria itu singkat, sedikit teredam karena disuarakan di antara perpotongan bahu dan ceruk lehernya. Oikawa menggeliat kegelian, lantas mengangkat satu tangan untuk mengusap kepala dengan surai hitam tersebut.

“Kamu mau teh?” tawarnya, yang disambut dengan kernyitan sarat protes dari sang pria. Oikawa tertawa pelan melihat reaksi tersebut. Tangannya yang bebas otomatis terjulur untuk mengambil satu gelas lagi. “Oke, kopi kalau gitu.”

Ada kecupan lembut mendarat di atas bahunya sebelum gumaman panjang terdengar di sana.

“Kamu lagi mikirin apa barusan?” tanya Iwaizumi, terdengar sedikit parau karena jam di atas dinding baru menunjukkan pukul enam pagi. Udara dingin mulai menyusup melalui berbagai sela pintu dan jendela, membuat Oikawa bergidik tanpa sadar. Iwaizumi pun mengeratkan rengkuhan, menganggap gesturnya barusan muncul akibat cuaca.

“Apa?” Oikawa malah balik bertanya. Otaknya masih belum sepenuhnya meregistrasi maksud pertanyaan tersebut.

“Kamu tadi lagi mikirin sesuatu, aku liat. Mikirin apa?”

Oh...

Bukannya langsung menjawab, dirinya malah berpura-pura sibuk menuang takaran bubuk kopi ke dalam gelas satunya. Walau begitu, bukan Iwaizumi namanya kalau tidak bisa bersabar menunggu.

Keheningan pun lewat sampai air yang sedang direbus olehnya mendidih. Begitu ia mematikan kompor, ada embusan napas besar yang menerpa lehernya.

“Tooru...” Iwaizumi memanggil namanya pelan— terdengar sedikit menuntut, walau tanpa paksaan di dalamnya.

”...Satu tahun.”

Rengkuhan di tangannya membeku untuk sepersekian detik.

“Aku lagi mikirin nasib kita satu tahun lagi.”

Tidak ada yang terdengar setelahnya. Pegangan di pinggangnya perlahan mengendur, dan ada dingin yang kembali menyusup. Namun kali ini, Oikawa yakin itu bukan berasal dari tiupan angin musim gugur yang berusaha masuk. Matanya turun, tidak berani menerka reaksi dari sang Alpha.

Tahu-tahu, pinggangnya diputar lembut sebelum ada tangan yang menyentuh dagunya. Wajahnya diangkat, lantas ada kecupan yang mendarat di atas bibirnya. Oikawa refleks memejamkan mata, dan menikmati sentuhan familier tersebut. Bibirnya dilumat amat pelan, sungguh berbeda dengan gerak frantik sang Alpha yang biasa menghilangkan kewarasannya. Kali ini, Iwaizumi seolah tengah berusaha menyampaikan bahwa—

mereka memiliki seluruh waktu di dunia ini.

“Mau setahun lagi, enam bulan lagi, tiga, atau besok, nggak akan ada bedanya buat aku,” bisik pria itu di atas bibirnya. “Karena yang penting ada kamu.”

Oikawa tidak bisa menahan senyumnya yang terpatri saat Iwaizumi kembali menyapu bibirnya lembut. Ciuman itu berlangsung lebih lama, dan lebih dalam— membuat kepalanya terdorong hingga ke belakang. Oikawa melarikan setiap ujung jarinya di sepanjang abdomen sang Alpha yang terekspos. Meski sudah sering mengapresiasi, rasanya tidak pernah cukup. Oikawa meloloskan satu desah panjang saat Iwaizumi membenamkan hidung dan bibir di lehernya— mencapai satu titik tempat tandanya berada, dan dengan sengaja menciumnya lama di sana.

“Aku tau kamu bakal bilang gitu,” tukasnya di antara deru napas yang berlomba-lomba saat mereka berhenti sejenak untuk meraup oksigen. Kendatipun begitu, gerakan bibir sang Alpha belum berhenti, dan kini malah naik ke sepanjang garis rahangnya. “Tapi...”

“Tapi?”

Iwaizumi mengambil jeda di atas daun telinganya. Pria itu memberi gigitan kecil sebelum kembali bertanya. “Tapi apa?”

“Tapi gimana kalau aku tetep kepikiran? Soalnya buatku sekarang, kita kayak lagi jalan di atas bom waktu. Padahal aku tau meledaknya bakal satu tahun lagi, tapi rasanya kayak aku harus hati-hati setiap hari, terus—”

“Tooru, hei— cariño.”

Sayang. Iwaizumi membisikkan satu kata itu dengan nada penuh urgensi. Tangan sang pria menggapai kedua sisi wajahnya sampai netra mereka saling bersibobrok. Oikawa menghentikan racauannya, dan menarik napas dalam-dalam.

Setelah dirasa dirinya cukup tenang, Iwaizumi berbicara dengan raut wajah penuh keseriusan.

“Aku tau nyuruh kamu buat nggak mikirin ini kedengerannya gampang banget. Bohong kalau bilang aku juga nggak kepikiran. Satu tahun lagi emang bukan waktu yang lama, dan aku pun ngerasain hal yang sama. Kadang, aku suka kebangun tengah malem terus panik sendiri. Aku takut kalau tiba-tiba tanda dari kamu udah nggak ada. Atau ternyata kamu mutusin buat pergi.”

Rentetan kalimat itu terdengar sangat putus asa, tetapi anehnya, apa yang dikatakan Iwaizumi barusan justru memberinya ketenangan—

serta kesadaran bahwa bukan hanya dirinya yang ketakutan.

“Tapi setiap pagi aku selalu bangun di samping kamu. Tanda kita masih ada. Kamu nggak pergi, dan aku bisa cium kamu kayak gini.”

Seolah ingin membuktikan omongan, Iwaizumi menjatuhkan ciuman cepat di ujung bibirnya. Pupil sang pria terlihat sedikit membesar, menyembunyikan sebagian hijau di balik bayang-bayang.

Persetan sama tanda itu, Tooru. Mau ada atau nggak, aku bakal tetep sayang kamu kayak gini.” Iwaizumi menyunggingkan senyum kecil sebelum membisikkan kata-kata selanjutnya. “Usted es el único en mi vida, cariño. Kamu udah tau artinya, kan?”

Oikawa tertawa, lalu mengangguk. Tangannya ganti meraih wajah pria itu, dan sang Alpha langsung membenamkan wajah di telapaknya. Pria itu menarik napas dalam dengan kelopak yang terpejam.

“Menurutku, ada persepsi yang salah soal konsep soulmate ini.”

Oikawa mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, menunggu penjelasan dari pria yang masih memejamkan mata seolah tengah menyimpan baik-baik suatu memori.

“Orang terlalu bergantung sama konsep itu sampai lupa kalau kita juga bisa milih. Dan kadang, emang bukan suatu kebetulan bahwa apa yang kita pilih ternyata... soulmate kita juga.”

“Kayak kita?”

“Kayak kita.”

Oikawa menarik wajah sang Alpha hingga kembali selevel dengannya. Ia menatap fitur di hadapannya lekat, sebelum tersenyum lebar. Sinar matahari terlihat menerobos di balik jendela yang berada di belakang soulmate-nya. Menyilaukan. Namun, keyakinan pria itu terhadap dirinya — terhadap mereka — jauh lebih mencuri perhatian.

“Aku suka konsep yang itu,” tukasnya setelah beberapa saat. “Maaf ya, pagi-pagi aku udah mikir yang nggak-nggak.”

Iwaizumi tidak berkata banyak, lagi-lagi hanya memerangkap pinggangnya dalam satu tarikan cepat sebelum memagut bibirnya penuh-penuh.

“Justru bukan kamu namanya kalau setiap hari nggak overthinking kayak gini,” goda pria itu, dan dilanjutkan dengan tawa berderai karena Oikawa langsung menjatuhkan pukulan keras di atas bahu sang Alpha.

“Aku nggak overthinking!” balasnya kesal. “Cuma kepikiran. Beda!”

“Oke, oke,” Iwaizumi berucap ringan sembari menyelipkan satu tangan di balik kausnya. Pria itu mulai membuat pola melingkar di atas kulitnya yang tak lagi bergidik akibat udara dingin. “Kamu nggak kedinginan? Gimana kalau kita balik ke kamar?”

Oikawa memutar bola mata. Tangannya terpaksa naik untuk berpegangan pada bahu pria itu saat ujung kakinya terangkat sedikit akibat remasan yang diterima bokongnya.

“Kamu nggak liat aku lagi bikin teh sama kopi buat kita?” tanyanya penuh sarkasme.

“Nggak. Aku cuma liat kamu.”

Dan Iwaizumi benar-benar menatapnya— dengan hangat yang mengalahkan bara api, serta terang yang mengaburkan cahaya mentari. ⠀ ⠀ ⠀⠀⠀⠀ Di sanalah Oikawa tahu, bahwa satu tahun lagi itu takkan ada bedanya.


@fakeloveros

“Padahal Om cuma bercanda waktu bilang kamu curhat jangan ke Ayah, tapi ke Om aja.”

Mereka tengah duduk bersila di atas lantai kamar Tobio yang beralaskan karpet, ditemani berbagai camilan bertebaran di sekitar. Tobio mengerutkan kening seraya menjulurkan tangan untuk mengambil salah satu camilan kesukaannya.

“Kenapa gitu?”

Oikawa bergumam panjang dengan ekspresi yang terlihat tengah menimbang-nimbang.

“Kamu sendiri kenapa nggak mau cerita ke Ayah?”

“Malu, Om.”

Tobio membisikkan jawaban itu pelan seraya menunduk. Dari peripheral-nya, ia menangkap gerakan tangan Oikawa yang berhenti di udara.

“Malu kenapa?”

Tobio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saking banyaknya yang terjadi hari ini, dia sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Menurutnya, pilihannya sangatlah tepat untuk mencoba curhat ke Oikawa dibandingkan ke ayahnya. Jangan salah— Tobio sangat menyayangi sang Ayah, tetapi jika harus menceritakan hal sekrusial ini... bisa-bisa dirinya pingsan di tempat saking malunya.

“Malu aja,” gumamnya sambil memainkan keripik kentang di tangannya— masih belum berani mengangkat wajah. “Soalnya ini tentang... Hinata.”

Ada hening sebentar.

“Oh.” Oikawa terdengar sangat terkejut hingga Tobio terpaksa mendongak. “Oh.”

“Om...” Tobio mengerang, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sudah menduga akan mendapatkan reaksi seperti ini. “Jangan ledekin aku dulu...”

“Om cuma bilang oh, kok.” Balasan Oikawa terdengar seolah pria itu sedang menahan tawa. Tobio menghela napas, dan semakin menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan.

“Ya udah, sini coba cerita. Jangan tutup muka terus, dong,” bujuk Oikawa, kali ini benar-benar sambil terkekeh kecil. “Om nggak bakal ngeledekin kamu, kok.”

“Janji?”

Oikawa mengangguk, lantas membuat gerakan menutup mulut dengan ritsleting. Kekasih ayahnya itu mengubah mimik wajah menjadi lebih serius.

Tobio mengembuskan napas besar untuk kesekian kalinya. Ia menegakkan tubuh, dan mencoba mengesampingkan rasa malunya untuk beberapa menit.

Kemudian, Tobio mulai bercerita.

Oikawa menepati janji selama dirinya bercerita. Yang lebih tua itu tidak memotong sama sekali meski beberapa kali di tengah-tengah sudah membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Oikawa hanya mengedikkan dagu sebagai gestur agar Tobio tetap melanjutkan ceritanya.

Dan Tobio benar-benar mengakhiri semuanya di kejadian tadi pagi, saat melihat wajah tercengang Hinata yang tak bisa memukul servisnya.

Juga, kalimat yang dilontarkan Tobio setelahnya.

Tobio menundukkan wajahnya kembali, mulutnya tak lagi mengunyah karena semua camilan ini seakan bisa membuat perutnya semakin melilit. Bahkan, lidahnya sudah terasa pahit sekarang. Ada keringat yang mengalir di pelipisnya meskipun pendingin udara sudah menyala. Saat mengingat kejadian tadi pagi, Tobio pikir ia sudah gila karena berani-beraninya melontarkan hal seperti itu pada Hinata.

“Jadi...” Suara Oikawa terdengar memecah keheningan di kamarnya, “kamu... nyuruh Hinata buat dateng ke pertandingan nanti?”

“Ngajakin, Om. Bukan nyuruh,” Tobio memberi koreksi dengan rona yang mulai muncul di kedua sisi wajah.

“Loh, kamu bilangnya tuh, gue mau lo dateng ke pertandingan basket gue nanti. Itu tuh namanya nyuruh, Tobio, bukan ngajak.”

Tobio kehilangan kata-kata.

“Tapi Om penasaran...” Oikawa mencondongkan tubuh dengan raut wajah penuh ingin tahu, “kalau Hinata dateng ke pertandingan basket nanti, emang kamu mau ngapain?

Ini dia pertanyaan yang sedari tadi Tobio harapkan tidak akan muncul.

“Kamu mau nembak dia, ya?”

“HAH? NGGAK, KOK!” Tobio otomatis berseru kaget mendengar pertanyaan gamblang pria itu. Kepalanya menggeleng cepat sebagai usaha untuk meyakinkan.

“Kamu kan suka dia,” Oikawa menukas santai seolah sanggahannya hanya dianggap sebagai angin lalu, “masa nggak ada rencana buat nembak?”

Tobio memikirkan pertanyaan itu sebelum berbisik malu, “emang... nggak bakal kecepetan?”

Oikawa mendengus, lantas menyenderkan tubuh ke sandaran kaki tempat tidur. “Ayah kamu baru beberapa minggu kenal Om aja udah ngajak pacaran.”

“Tapi Ayah butuh waktu tiga tahun buat ngelamar Om,” timpalnya refleks.

Dilihatnya senyum pria itu sedikit memudar sebelum membalas sambil memutar bola mata, “ngajak pacaran sama nikah kan beda cerita, Tobio. Emang kamu mau langsung serius apa sama Hinata?”

Tobio tidak menjawab meski dari ujung lidahnya hampir terlontar kata ya.

“Nggak taulah, Om. Aku pusing. Kayaknya aku udah kerasukan tadi pagi.”

Oikawa terkekeh lagi. Mereka menikmati kesunyian selanjutnya sebelum Oikawa kembali bertanya, “Hinata bilang apa pas kamu nyuruh dia nonton pertandingan nanti?”

“Dia keliatan bingung, sih... tapi cuma jawab oke.”

“Yah... dia nggak mungkin nolak juga, kan?”

Tobio mengerucutkan bibir dengan kesal. “Jadi, menurut Om, Hinata terpaksa?”

Jelas sekali Oikawa terlihat berusaha menahan tawa mendengar pertanyaan tersebut.

“Om baru ketemu sama Hinata sekali, sih... tapi dari situ aja udah keliatan.”

“Hah? Keliatan apa?”

TOK TOK

Terdengar suara pintu kamar yang diketuk pelan sebelum kepala ayahnya melongok.

“Sibuk amat nih berdua, sampai nggak sadar Ayah udah pulang. Ada martabak tuh di meja. Kalau nggak mau, Ayah habisin nih sendirian.”

Tobio melirik ke arah jam dinding, dan baru menyadari ayahnya pulang 45 menit lebih telat hari ini.

“Ayah kok baru pulang?”

Ayahnya ikut masuk ke dalam kamar, lalu mendudukkan diri di atas kasurnya. “Iya, tadi tumben-tumbenan macet di jalan. Eh, ini lagi pada ngapain, sih? Kok ayah nggak diajak?”

Sebelum Tobio dapat membuka mulut, Oikawa langsung berdiri dan menghampiri ayahnya. “Mau tau aja deh kamu. Sana, mandi dulu! Sampai kecium baunya.”

“Bau gini juga kamu tetep sayang.”

Tobio membuat suara ingin muntah, lantas berjalan terlebih dulu menuju ruang makan. Tidak ia pedulikan suara dua orang dewasa di belakangnya yang tengah saling bercanda. Lagi pula, ia masih memikirkan soal keputusan nekatnya menyuruh Hinata untuk datang ke pertandingan basket, juga pertanyaan Oikawa barusan—

Kamu mau nembak dia, ya?

Nggak, nggak, Tobio menggeleng kepada dirinya sendiri. Setidaknya ia yakin bahwa dirinya masih membutuhkan waktu.

Kalau Hinata dateng ke pertandingan basket nanti, emang kamu mau ngapain?

Apa yang dia inginkan sebenarnya?

Tobio menatap martabak di atas meja dengan tatapan menerawang. Tangannya meraih gawai yang ada di kantong, lalu membuka pesan terakhirnya dengan Hinata. Ia mengetuk-ngetukkan jari di atas meja sebelum cepat-cepat mengetikkan sederet pertanyaan, lalu mengirimnya.

“Loh, kok belum dimakan martabaknya?” Oikawa tahu-tahu sudah masuk ke dalam ruang makan, dan segera mengambil tempat di seberangnya. Tangan yang lebih tua terjulur lebih dulu untuk mengambil makanan yang masih terasa hangat tersebut.

“Om,” panggil Tobio pelan dengan mata yang terpaku ke atas layar. Dilihatnya sederet titik-titik yang menandakan Hinata tengah mengetikkan balasan.

“Hm?”

“Aku udah tau mau ngapain nanti pas Hinata dateng ke pertandingan basket.”

(Lucunya, Tobio tidak sadar bahwa dia tidak menyanggah saat Oikawa menuduh bahwa dirinya menyukai Hinata.)


@fakeloveros


cw // smoking, slight nsfw, slight angst


Dari sudut pandangnya, ada sesuatu yang… sangat menyihir tentang Iwaizumi. Mau pria itu menarik napas pun, Oikawa selalu dibuat tercekat seolah udara di dalam rongga dadanya sendirilah yang diraup sampai habis. Pria itu tidak banyak bertutur kata, tetapi setiap silabel yang keluar seakan mampu membuatnya bertekuk lutut. Pria itu bukan makhluk Adam tertampan yang pernah Oikawa temui, tetapi netranya tak pernah rela meninggalkan sosok berkulit terbakar matahari tersebut barang sedetik pun.

Pria itu bukan figur yang diidamkan oleh para pujangga etika, tetapi Oikawa selalu menemukan dirinya kembali ke tempat yang sama tanpa memedulikan larangan dari orang di sekitar.

Pria itu mengaku tidak tahu apa arti kata cinta, tapi, persetan— bahkan Oikawa pun tak peduli jikalau perasaannya ini dianggap semu.

“Nggak capek?”

Pertanyaan itu terlontar di tengah keheningan malam dengan latar suara kendaraan terdengar nun jauh di sana. Oikawa mengerjap, ada semburat yang otomatis muncul di wajahnya mendengar pertanyaan dengan makna yang sama-sama mereka ketahui tersebut.

“Nggak,” jawabnya pelan meski bokongnya justru meneriakkan hal sebaliknya. Iwaizumi tersenyum miring seakan mampu mendeteksi dusta yang barusan keluar dari bibirnya. Untuk membuktikan omongannya, Oikawa berusaha bangkit seraya melongok ke sekeliling kasur demi mencari kausnya yang terlempar entah ke mana.

“Pake aja kaos gue.”

Oikawa menoleh, lantas mengikuti arah pandang pria itu. Dengan sedikit ragu, tangannya terjulur meraih kaus putih yang ditelantarkan oleh sang empunya di sudut kasur. Begitu Oikawa memakainya, ada berbagai aroma khas yang menyerbu indra penciumannya— aroma detergen yang bercampur dengan parfum, juga—

“Maaf kalau bau rokok.”

Ucapan itu lagi-lagi membuat Oikawa menoleh ke sumber suara. Namun, Iwaizumi tak lagi menatapnya, dan malah memfokuskan atensi ke arah pemandangan luar dari jendela yang dibiarkan terbuka setengah. Itulah alasan yang membuatnya mencari kain untuk menutupi abdomennya. Meski begitu, sang lawan bicara sepertinya tidak keberatan menerima paparan udara malam— dilihat dari sosok Iwaizumi yang tetap santai menghembuskan asap rokok dengan setengah bertelanjang.

“Itu... enak?” tanyanya tanpa sadar selagi memperhatikan gerakan luwes pria bersurai hitam tersebut. Padahal pria itu hanya sedang merokok, tapi di mata Oikawa, sosok Iwaizumi yang berdiri di pinggir jendela dengan ditemani cahaya lampu dari luar membuat lukisan Rembrandt milik ibunya tidak bernilai apa pun.

Terdengar suara dengusan rendah sebelum Iwaizumi menengok kembali ke arahnya.

“Kenapa? Lo mau coba?”

“Boleh?”

Iwaizumi mengedikkan bahu. “Gue nggak ngeliat alasan kenapa anak orang kaya nggak boleh merokok.”

Oikawa meringis. Bahkan hingga sekarang, ia masih belum bisa membedakan antara nada serius atau bercanda pria itu. Namun, kalimat barusan pun tidak terdengar seperti ejekan. Jadi, Oikawa perlahan bangkit dari duduknya (ia berusaha mati-matian agar tidak meringis), lalu menghampiri sosok yang kini bersender di ambang jendela. Mata Iwaizumi secara terang-terangan menelusuri tungkainya yang tidak ditutupi sehelai benang pun.

Rona di pipinya semakin terang mewarnai wajah. Kalaupun melihat, Iwaizumi tidak mengatakan apa-apa, dan lebih memilih untuk mengulurkan rokok ke arahnya. Oikawa menerima benda pipih tersebut dengan ragu, lantas menelitinya selama beberapa saat.

“Lo tau caranya?” tanya Iwaizumi, yang sedari tadi masih menatapnya lekat dari samping. Oikawa menggeleng, semakin ragu untuk melanjutkan.

“Pertama, basahin dulu bibir lo biar rokoknya nggak nempel.” Iwaizumi mulai memberi arahan seakan tengah mengajari anak kecil belajar membaca, dan bukannya melakukan hal semacam... ini. Kendatipun begitu, Oikawa tetap patuh, dan menjilat bibirnya beberapa kali.

Iwaizumi memperhatikan gerakan itu dengan kelopak yang tak berkedip.

Oikawa berdeham, lalu sedikit menaikkan dagunya. “Terus?”

“Pas rokoknya udah dipasang, hirup udara ke dalem mulut, tapi jangan sampai ke paru-paru. Itu yang biasanya bikin orang-orang langsung batuk. Kalau udah, tahan sebentar, terus napas kayak biasa sampai udaranya nyampe paru-paru. Nah, baru habis itu lo keluarin udaranya.”

Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali— berusaha mencerna proses yang dijelaskan pria itu dengan tenang. Setelah meneguk ludahnya dengan kasar akibat gugup, ia pun mulai mengangkat benda pipih itu ke bibirnya.

Baru tiga detik, Oikawa sudah terbatuk heboh.

Ada kekeh kecil yang terdengar di antara keributan yang dibuatnya di tengah malam tersebut. Di antara matanya yang berair, ia melihat Iwaizumi sudah mengambil kembali rokok tersebut dan mengisapnya santai.

Setelah batuknya sedikit reda, Oikawa melontarkan pertanyaan yang terlintas olehnya pertama kali.

“Kenapa orang-orang suka ngerokok?”

“Karena bisa bikin seseorang ngerasa nyaman.”

Jawaban otomatis pria itu membuatnya tertegun. Iwaizumi sendiri tak menatapnya, dan hanya menerawang jauh seolah tengah mengingat sebuah memori.

“Karena bisa bikin seseorang ngelupain rasa sakit walaupun sebentar.”

Oikawa memperhatikan sisi wajah pria itu yang dibayangi oleh cahaya lampu. Ia tidak tahu sekarang jam berapa. Ia tidak peduli seandainya keluarganya tengah mencarinya sekarang. Ia pun tidak peduli dengan relung hatinya yang semakin diisi oleh pria itu meski tahu tidak akan mendapat balasan yang sama.

Namun, berada bersama pria itu juga memberinya kenyamanan, serta membuatnya lupa akan sakit hati yang diciptakan oleh orang-orang terdekatnya. Padahal banyak yang mengatakan bahwa harta melimpah bisa membuat siapa pun bahagia— semua masalah akan terselesaikan asal memiliki uang. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa dibutuhkan pengorbanan senilai harga diri ataupun nyawa untuk mendapatkan kekayaan tersebut.

Dan Oikawa bencibenci bahwa harga dirinyalah yang terpaksa dikorbankan seakan-akan apa yang membuatnya berdiri sekarang tak lebih dari onggokan kertas dengan deretan angka.

“Terus gimana buat orang yang nggak suka ngerokok?”

“Masih ada cara lain,” jawab pria itu tanpa berpikir seraya mematikan puntung rokok di ambang jendela. Iwaizumi menoleh kembali hingga netra kontras mereka beradu dalam intensitas.

“Contohnya?” tanyanya ingin tahu.

“Women, alcohol, sex,” tukas pria itu ringan dengan tatapan sarat makna. Oikawa menggigit bibir, sadar betul pria itu menekankan kata sex di antara rangkaian objek yang barusan disebutkan.

“I do love wine,” ucap Oikawa, yang dengan bodoh memastikan dalam hati terlebih dulu bahwa wine masih termasuk alkohol.

“And sex?”

“And...” Oikawa mulai merasakan ada keringat yang mengalir dari pelipisnya, “and sex...”

Iwaizumi lagi-lagi menyunggingkan senyum kecil. Mood pria itu terlihat sedang baik malam ini. Mau tak mau, hatinya pun ikut menghangat melihat pemandangan tersebut.

“Good. Karena aku juga suka.”

Oikawa terpekik kaget saat tiba-tiba pinggangnya ditarik ke depan, dan bibirnya dibuat bungkam seketika. Kelopaknya tertutup tanpa protes, sementara tangannya diangkat untuk dilingkarkan di sekitar leher pria itu. Tubuh mereka menempel tanpa jarak, dan Oikawa bisa merasakan degup jantung yang saling berpacu.

Ada aroma dan rasa rokok yang menyatu di bibirnya. Meski masih terasa asing, Oikawa membuka bibirnya lebih lebar untuk merasai lebih dalam. Iwaizumi pun menyambut dengan senang hati karena lidah pria itu langsung mengambil alih secara dominan.

“Apalagi kalau sama kamu, Oikawa Tooru.”

Pria itu berbisik pelan di bibirnya sebelum akal sehatnya dibuat menguap di udara dengan gerakan yang semakin tak mengikuti ritme. Oikawa mendesah saat bibir Iwaizumi membuat jejak basah di sepanjang rahang dan lehernya. Ia tak memikirkan apa pun lagi, dan hanya menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan dengan sukacita. Iwaizumi seakan sudah hapal betul setiap titik sensitifnya. Barulah saat tangan pria itu mulai menyusup ke balik kausnya, Oikawa membuka mata.

“Kalau gitu... pake aku lagi. Pake aku buat ngelupain rasa sakit kamu.”

Iwaizumi seperti orang yang telah dibutakan oleh nawa nafsu. Begitu mendengar kalimat yang diucapkannya dengan susah payah, pria itu langsung mengangkat pinggulnya. Oikawa refleks menautkan tungkainya di sekitar pinggang Iwaizumi agar tidak terjatuh. Selama melangkah kembali ke kasur, Oikawa membalas perlakuan pria itu sebelumnya dengan menjatuhi setiap inci kulit yang mampu diraihnya dengan ciuman-ciuman kecil. Selanjutnya, tak dibutuhkan waktu lama bagi Oikawa untuk merasakan ereksi pria itu yang mulai mengeras.

Oikawa merintih pelan. Ia sendiri sudah termakan oleh libido yang semakin sulit untuk ditahan.

Saat dirinya dijatuhkan ke atas kasur, dan Iwaizumi mulai melucuti kaus beserta boksernya yang nyaris tak menutupi apa pun, Oikawa sekali lagi memikirkan hal yang sama seperti di awal.

Ada sesuatu yang sangat menyihir tentang Iwaizumi.

Pria itu bukan berasal dari keluarga berada, dan menjalani hidup dengan kebebasan yang tidak dimiliki Oikawa. Pria itu memiliki pandangan yang tidak pernah diajarkan oleh setiap gurunya di sekolah. Namun, pria itulah yang mengajarkan Oikawa tentang melupakan rasa sakit— tentang apa itu sex dan bagaimana tubuhnya pantas untuk dipuja sebagaimana mestinya.

Di saat yang sama, pria itu jugalah yang mengenalkan Oikawa pada patah hati pertamanya.

Karena bagaimanapun, tidak ada cinta yang pantas untuk meredam rasa sakit.


@fakeloveros

Pesan sponsor: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan & janin.