“Enaknya nanti gue manggil dia apa, ya? Anda? Kamu? Kak? Pelatih?”
“Aku-kamu harusnya nggak apa-apa, sih... kalian seumuran ini. Atau gue-lo aja sekalian biar nggak kaku banget.”
Oikawa mengangguk-angguk. Matanya sibuk menelusuri ruang tunggu MSBY GYM yang di sepanjang dinding ditempeli oleh poster dan beberapa sertifikat berpigura. Ia juga melihat banyak piala ikut dipajang, sekaligus foto-foto yang nampaknya berisi sejarah gym itu sejak pertama kali didirikan.
Oikawa menyenggol bahu Akaashi yang duduk di sebelahnya dengan mata tertuju pada layar iPad. “Mana kakak kelas lo? Katanya sebentar lagi nyampe? Ini kok belum dateng ju—”
CEKLEK
“Hei, halo! Maaf saya sedikit terlambat. Tadi di jalan mampir dulu ke...” Sosok seorang pria tiba-tiba masuk dan menyapa dengan cukup heboh— mengejutkan mereka berdua. Namun, Oikawa lebih terkejut lagi saat si pria asing mendekati Akaashi, lalu menyerahkan sebuah paper cup (dari aromanya, sih, isinya kopi) dengan lambang yang tak asing.
“Cafe ini,” lanjut si pria dengan figur tegap tersebut. “Semoga kamu masih suka caramel latte?”
Oikawa hanya mampu melongo saat mendapati semburat merah yang muncul di wajah manajernya. Mendadak, ia merasa seperti nyamuk di sana.
“Masih, kok... makasih ya, Kak Bokuto,” jawab manajernya sembari menerima uluran gelas tersebut dalam suara pelan.
“Akaashi doang yang dikasih? Saya nggak, nih?”
Kedua orang itu menoleh ke arah Oikawa seakan baru menyadari kehadirannya di sana. Oikawa tertawa, lantas bangkit dan menjulurkan tangan ke arah pria yang jelas sekali identitasnya siapa sekarang.
“Kamu pasti kakak kelasnya Akaashi dulu, ya? Kenalin, saya Oikawa. Makasih karena udah mau bantuin saya cariin guru.”
Pria itu menyambut jabatan tangannya dengan senyum penuh rasa bersalah tersungging kecil. Akaashi juga ikut bangkit dengan postur sedikit kikuk. Oikawa memperhatikan keduanya diam-diam, dan langsung yakin bahwa hubungan dua orang itu bukanlah kakak dan adik kelas semata.
Kini penyebab Akaashi bersikap sedikit sensi padanya waktu itu mulai terasa masuk akal. Ia harus menginterogasi manajernya itu nanti, pikir Oikawa seraya membuat catatan mental.
“Halo, gue Bokuto. Santai aja ngomongnya, kita seumuran, kok. Dan nggak mungkin di negara kita ini ada yang nggak tahu lo.”
Oikawa tersenyum, sudah terlalu sering menerima pujian semacam itu. “Semoga gue dikenal buat yang baik-baiknya aja, tapi, ya.”
“Oh, jelas, dong! Gue suka nonton film lo. Akting lo bagus banget!”
Anehnya, pujian Bokuto justru terdengar tulus di telinganya sehingga mau tak mau, Oikawa ikut melebarkan senyum kala pria itu menjawab dengan antusias.
“Makasih... hmm, terus... mana, nih, calon guru gue?”
“Oh!” Bokuto menepuk tangan seakan baru teringat tujuan mereka berkumpul di sana. “Dia udah dateng dari tadi sebenernya, tapi lagi latihan sekarang soalnya mau ada match. Gue belum ngasih tau kalian udah dateng. Sebentar ya, gue panggil—”
“Eh, tunggu, tunggu!” Oikawa menghentikan pria itu sebelum sempat melangkah menuju pintu. “Nggak apa-apa, biarin aja. Kalau boleh... gue mau sekalian liat dia latihan? Biar ada bayangan juga latihan boxing tuh gimana.”
Akaashi yang sedari tadi hanya diam, ikut menyumbang suara setelah mendengar idenya barusan. “Oh, boleh juga. Kita boleh liat latihannya, kan?” tanya sang manajer, kali ini beralih menatap si atlet boxing yang tersenyum kian lebar. Oikawa menaruh kecurigaan bahwa kehadirannya di sana benar-benar dianggap seperti nyamuk.
“Wah, boleh banget, dong! Ayo, kalau gitu kita ke tempat latihannya langsung,” sambut Bokuto dengan penuh semangat sebelum memimpin jalan mereka. Oikawa mengikuti tepat di belakang, disusul Akaashi yang mengekori. Setelah melewati koridor, mereka masuk ke ruangan dengan banyak kardus sebelum Bokuto membuka satu dari dua pintu yang ada di seberang. Matanya sedikit melebar begitu disambut pemandangan peralatan olahraga, berderet-deret samsak, juga tentunya para atlet yang tengah berlatih. Beberapa langsung menyapa Bokuto, serta menyadari kehadirannya. Namun, mereka tidak mengatakan apa pun dan kembali ke latihan masing-masing.
Sungguh aneh rasanya bertemu dengan sekelompok orang yang menganggap kehadirannya biasa saja. Sebagai public figure yang senantiasa dielu-elukan, sikap tak acuh yang diterimanya ini... justru memunculkan senyum kecil di bibirnya— mendadak penasaran apakah calon gurunya pun akan memiliki reaksi yang sama.
Bokuto membawa mereka masuk ke dalam satu ruangan lagi, tetapi pria itu langsung berhenti di dekat pintu masuk, lantas menunjuk ke satu arah dengan kedikkan dagu.
“Tuh, orangnya lagi latihan.”
Oikawa menoleh, dan memperhatikan dua orang yang berada di atas ring dengan kedua alis menyatu bingung. Salah satu mengenakan sarung tinju berwana merah, dan satu lagi berwarna hitam. Keduanya sama-sama kekar dan memiliki postur yang bagus. Meski begitu, matanya seakan tak bisa lepas dari petarung dengan warna kulit lebih gelap. Pria itu membelakangi mereka sehingga Oikawa tidak bisa melihat dengan lebih jelas wajah si penerima atensi. Namun, setiap gerakan yang diluncurkan pria itu terlihat sigap sekaligus tertata layaknya sebuah tarian— membuat Oikawa mendadak tak sabar ingin cepat-cepat berlatih.
“Iwaizumi itu... yang mana?”
Oikawa sungguh berharap pria dengan model rambut spiky itulah calon gurunya.
“Yang pake sarung tinju item. Bentar, gue panggil orangnya— WOY! IWA! BERHENTI DULU SEBENTAR! INI ADA TAMU!”
Kedua orang itu otomatis berhenti setelah mendengar teriakan Bokuto. Dada mereka naik turun secara liar diiringi deru napas yang terdengar hingga ke ujung ruangan. Orang yang mengenakan sarung tinju berwarna merah mendekati si lawan, lantas membisikkan sesuatu sebelum turun terlebih dulu dari ring.
“Weh, bos, si Iwa butuh lawan baru tuh buat ronde habis makan siang nanti.”
“Gampang. Ada Aone nanti,” jawab Bokuto sembari mengibaskan tangan dengan santai kepada pria yang memiliki potongan rambut cukup aneh; setengah berdiri dan sebagian lainnya turun. Oikawa melirik, dan netra mereka bertemu selama beberapa saat, tetapi pria itu hanya menyunggingkan seringai lebar.
“WA! CEPETAN TURUN! KATANYA MAU MINTA TANDA TANGAN BUAT ADEK LO!”
Pria yang tadi bertemu pandang dengannya tiba-tiba memutar badan dan ikut meneriakkan panggilan kepada orang yang mereka nantikan. Oikawa mengalihkan kembali perhatiannya ke depan dan—
Dan ia menahan napas.
Pria yang sedari tadi dipanggil ternyata sudah turun dan tengah berjalan menghampiri mereka. Sarung tinju hitam itu tidak terlihat lagi sehingga memperlihatkan tangan sang atlet yang tengah melepas semacam lilitan perban. Oikawa sulit menahan diri untuk tidak menggulirkan tatapan ke arah abdomen dengan lekuk otot yang tercipta begitu kasatmata. Saat matanya sudah kembali ke tempat seharusnya, ada manik hijau gelap yang balik menyambut. Raut wajah pria itu bisa dibilang cukup datar meski terselip kilat penasaran yang Oikawa berhasil tangkap selama sepersekian detik. Mereka berpandangan cukup lama sebelum Bokuto memecah suasana.
“Oikawa, kenalin, ini Iwaizumi Hajime. Dan dia yang bersedia ngajarin lo.”
Jikalau Oikawa bukanlah seorang aktor ulung, dia pasti sudah berteriak kegirangan sekarang.
Namun, Oikawa hanya menyunggingkan senyum termanisnya sebelum menjulurkan tangan.
“Halo, aku Oikawa. Salam kenal.”
Uluran tangannya tidak langsung disambut— tidak seperti Bokuto. Pria itu menatap tangannya yang mengambang di udara dengan pandangan sulit diartikan. Oikawa mengangkat satu alis— apa ada sesuatu yang menyebabkan pria itu enggan bersentuhan dengannya?
Saat sinyal keraguan itu semakin terkirim jelas, dan Oikawa bersiap untuk menarik uluran, tangannya tiba-tiba menerima sentuhan balik.
Oikawa pikir, ia akan menerima jabatan tangan yang sama seperti dari Bokuto— sigap dan kuat. Khas seorang atlet. Namun, betapa terkejut dirinya saat menerima genggaman tangan yang cukup lembut, sekalipun kulit yang menyentuhnya jauh terasa lebih kasar dibandingkan Bokuto.
“Halo, saya Iwaizumi.”
Bariton pria itu terdengar sangat rendah di telinganya. Mata mereka lagi-lagi bertemu, dan untuk sedetik yang sangat cepat, Oikawa yakin jantungnya berdetak lebih kencang.
Agaknya ini akan menjadi suatu permulaan yang menarik.
@fakeloveros