Sudah setengah jam berlalu Iwaizumi menonton temannya melayangkan tinju demi tinju sebagai pelepasan emosi. Setidaknya, ia tahu temannya itu masih membatasi kekuatan karena kalau tidak, samsak di gym mereka mungkin bisa benar-benar hancur sekarang. Bokuto sendiri tidak memintanya untuk tinggal, tetapi sekembalinya pria itu tadi sore, terasa ada yang janggal sehingga Iwaizumi memutuskan untuk melewatkan jam pulangnya.
Seperti yang diduga, begitu gym telah kosong, Bokuto mulai meluapkan apa pun itu yang dirasakan terhadap samsak di salah satu ruangan. Iwaizumi hanya duduk bersender pada dinding selagi menerka apa yang telah terjadi.
“Mantan gebetan lo beneran ngasih undangan nikah?” tembaknya asal begitu Bokuto bersiap untuk pindah ke samsak kedua. Pria yang sehari-hari selalu menampakkan senyum lebar, kini terlihat serius layaknya setiap akan bertanding.
Bokuto menggeleng, dan meregangkan badan sedikit.
“Terus?”
Padahal, Iwaizumi bukan tipe yang senang mencampuri urusan orang lain. Tapi sekali lihat pun ia tahu bahwa Bokuto perlu ditemani. Walau dari luar terlihat selalu ceria, sebenarnya pria itu menyimpan banyak hal yang ditanggung sendiri.
Hampir sama seperti dirinya. Bedanya, dia tidak menutupinya di balik senyuman.
“Kan lo sendiri yang bilang gue lagi patah hati,” jawab Bokuto sekenanya tanpa menoleh sedikit pun.
“Ngasal aja sih itu.”
“Tapi, beneran.” Bokuto menukas cepat berbarengan dengan samsak yang dipukul kencang.
BUGH
“Gue emang patah hati. Lagi.”
Iwaizumi menggaruk kepalanya yang tidak gatal— mulai bingung bagaimana harus menghibur orang yang sedang patah hati.
“Dia bilang kejadian yang pernah ada dulu mendingan dilupain supaya kita… bisa mulai lembaran baru. Sebagai temen baik.”
Bokuto terengah. Peluh mengalir deras di sepanjang punggung sang pria. Iwaizumi masih mendengarkan dalam diam kala temannya itu mulai berjalan mengambil botol minum yang diletakkan tak jauh dari sana.
“Gue bilang, itu ide bagus. Gue bersedia jadi temen baik dia lagi. Toh, gue juga nggak mau bahas apa yang udah lama. Tapi gue nggak terima… pas dia bilang gue nggak boleh suka lagi sama dia. Seakan-akan ngilangin perasaan itu segampang muter telapak tangan?!”
Bokuto menghempaskan tubuh di atas lantai, lalu bertelentang dan menatap langit-langit. Nada pria itu memelan seolah semua kekuatan sudah terkuras habis, dan yang tersisa tinggal kepasrahan.
“Gimana bisa gue nggak suka lagi sama dia kalau perasaan yang dulu aja nggak pernah ilang?”
Bokuto menutup wajah dengan salah satu tangan, dan Iwaizumi nyaris bertanya apakah pria itu sedang menangis. Selama beberapa menit, yang terdengar hanyalah bunyi jarum jam, serta kesibukan ibu kota di luar sana. Bokuto berbaring tak bergerak, dan Iwaizumi hampir mengira pria itu ketiduran atau apa seandainya tidak ada tarikan napas yang tiba-tiba terdengar.
“Dan dia… ngajak gue ketemuan ternyata cuma buat minta tolong.”
“Minta tolong apa?” Iwaizumi berusaha dengan canggung mengalihkan topik karena tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Bokuto sebelumnya.
Lagi pula, mungkin itu pertanyaan retoris.
“Si Oikawa Tooru, gue nggak tahu lo udah denger apa belum, mau main film baru yang temanya boxing. Dan katanya mereka lagi cari guru buat ngajarin Oikawa.”
Iwaizumi tak langsung menjawab. Namun, ia langsung menegakkan tubuh begitu mendengar berita tersebut. Pikirannya otomatis melayang ke ucapan adiknya tempo lalu.
Sungguh suatu kebetulan yang tak terduga.
“Jadi? Mau lo yang ngajarin dia?” Oikawa berupaya memastikan.
“Kenapa? Lo mau?”
Bokuto tak lagi menutup wajah, dan kini mulai mengambil posisi duduk seraya beringsut mendekatinya.
“Bakal dibayar sih katanya, cuma gue belum nanya berapa.”
Tak dapat dipungkiri, telinganya terpasang lebih tajam saat mendengar kata dibayar. Kalau hanya perlu mengajarkan seorang aktor terkenal… seharusnya mudah, bukan? Dan Iwaizumi yakin bayaran yang ditawarkan tidak mungkin memiliki nominal rendah.
Mungkin, dia juga bisa sekalian meminta tanda tangan untuk diberikan kepada adiknya.
“Gue tau lo lagi mikirin apa,” ucap Bokuto tiba-tiba sembari menggeleng dengan raut wajah tak setuju. “Tapi lupain aja, kayaknya mau gue tolak.”
“Jangan.”
Jawaban itu datang sangat cepat, tidak hanya mengagetkan Bokuto, tapi juga dirinya sendiri.
“Jangan ditolak. Kasih ke gue aja. Gue mau.”
“Lo yakin? Ini… ngajarin Oikawa Tooru, loh? Aktor paling terkenal di negara kita, yang punya banyak skandal itu sama mantan-mantannya.”
Iwaizumi mengangguk. Dalam sekejap, keteguhannya telah menjadi begitu bulat. Apa pun akan ia lakukan demi mendapat tambahan uang sehingga bisa secepatnya melunasi utang keluarga yang ditinggalkan sang ayah.
Bokuto masih menatapnya skeptis, tetapi pria itu tidak melontarkan argumen lebih panjang, dan memilih untuk kembali bangkit.
“Kalau gitu, coba nanti gue hubungin lagi manajernya.”
Bokuto memutar badan, dan menatapnya ragu sepersekian detik sebelum memberi peringatan.
“Tapi asal lo tau aja. Mungkin habis ini istilahnya lo bakalan masuk sarang singa. Bukannya gue lebay atau gimana, ya.”
“Nggak apa-apa.” Iwaizumi ikut bangkit, lalu membersihkan debu yang menempel di celana. Ada sedikit getaran dari dalam kantung, yang mengingatkan Iwaizumi bahwa ia belum menghubungi adiknya malam itu.
“Lagian, bakal seliar apa sih singanya?”
@fakeloveros