Heart’s in Atrophy
cw // smoking, slight nsfw, slight angst
Dari sudut pandangnya, ada sesuatu yang… sangat menyihir tentang Iwaizumi. Mau pria itu menarik napas pun, Oikawa selalu dibuat tercekat seolah udara di dalam rongga dadanya sendirilah yang diraup sampai habis. Pria itu tidak banyak bertutur kata, tetapi setiap silabel yang keluar seakan mampu membuatnya bertekuk lutut. Pria itu bukan makhluk Adam tertampan yang pernah Oikawa temui, tetapi netranya tak pernah rela meninggalkan sosok berkulit terbakar matahari tersebut barang sedetik pun.
Pria itu bukan figur yang diidamkan oleh para pujangga etika, tetapi Oikawa selalu menemukan dirinya kembali ke tempat yang sama tanpa memedulikan larangan dari orang di sekitar.
Pria itu mengaku tidak tahu apa arti kata cinta, tapi, persetan— bahkan Oikawa pun tak peduli jikalau perasaannya ini dianggap semu.
“Nggak capek?”
Pertanyaan itu terlontar di tengah keheningan malam dengan latar suara kendaraan terdengar nun jauh di sana. Oikawa mengerjap, ada semburat yang otomatis muncul di wajahnya mendengar pertanyaan dengan makna yang sama-sama mereka ketahui tersebut.
“Nggak,” jawabnya pelan meski bokongnya justru meneriakkan hal sebaliknya. Iwaizumi tersenyum miring seakan mampu mendeteksi dusta yang barusan keluar dari bibirnya. Untuk membuktikan omongannya, Oikawa berusaha bangkit seraya melongok ke sekeliling kasur demi mencari kausnya yang terlempar entah ke mana.
“Pake aja kaos gue.”
Oikawa menoleh, lantas mengikuti arah pandang pria itu. Dengan sedikit ragu, tangannya terjulur meraih kaus putih yang ditelantarkan oleh sang empunya di sudut kasur. Begitu Oikawa memakainya, ada berbagai aroma khas yang menyerbu indra penciumannya— aroma detergen yang bercampur dengan parfum, juga—
“Maaf kalau bau rokok.”
Ucapan itu lagi-lagi membuat Oikawa menoleh ke sumber suara. Namun, Iwaizumi tak lagi menatapnya, dan malah memfokuskan atensi ke arah pemandangan luar dari jendela yang dibiarkan terbuka setengah. Itulah alasan yang membuatnya mencari kain untuk menutupi abdomennya. Meski begitu, sang lawan bicara sepertinya tidak keberatan menerima paparan udara malam— dilihat dari sosok Iwaizumi yang tetap santai menghembuskan asap rokok dengan setengah bertelanjang.
“Itu... enak?” tanyanya tanpa sadar selagi memperhatikan gerakan luwes pria bersurai hitam tersebut. Padahal pria itu hanya sedang merokok, tapi di mata Oikawa, sosok Iwaizumi yang berdiri di pinggir jendela dengan ditemani cahaya lampu dari luar membuat lukisan Rembrandt milik ibunya tidak bernilai apa pun.
Terdengar suara dengusan rendah sebelum Iwaizumi menengok kembali ke arahnya.
“Kenapa? Lo mau coba?”
“Boleh?”
Iwaizumi mengedikkan bahu. “Gue nggak ngeliat alasan kenapa anak orang kaya nggak boleh merokok.”
Oikawa meringis. Bahkan hingga sekarang, ia masih belum bisa membedakan antara nada serius atau bercanda pria itu. Namun, kalimat barusan pun tidak terdengar seperti ejekan. Jadi, Oikawa perlahan bangkit dari duduknya (ia berusaha mati-matian agar tidak meringis), lalu menghampiri sosok yang kini bersender di ambang jendela. Mata Iwaizumi secara terang-terangan menelusuri tungkainya yang tidak ditutupi sehelai benang pun.
Rona di pipinya semakin terang mewarnai wajah. Kalaupun melihat, Iwaizumi tidak mengatakan apa-apa, dan lebih memilih untuk mengulurkan rokok ke arahnya. Oikawa menerima benda pipih tersebut dengan ragu, lantas menelitinya selama beberapa saat.
“Lo tau caranya?” tanya Iwaizumi, yang sedari tadi masih menatapnya lekat dari samping. Oikawa menggeleng, semakin ragu untuk melanjutkan.
“Pertama, basahin dulu bibir lo biar rokoknya nggak nempel.” Iwaizumi mulai memberi arahan seakan tengah mengajari anak kecil belajar membaca, dan bukannya melakukan hal semacam... ini. Kendatipun begitu, Oikawa tetap patuh, dan menjilat bibirnya beberapa kali.
Iwaizumi memperhatikan gerakan itu dengan kelopak yang tak berkedip.
Oikawa berdeham, lalu sedikit menaikkan dagunya. “Terus?”
“Pas rokoknya udah dipasang, hirup udara ke dalem mulut, tapi jangan sampai ke paru-paru. Itu yang biasanya bikin orang-orang langsung batuk. Kalau udah, tahan sebentar, terus napas kayak biasa sampai udaranya nyampe paru-paru. Nah, baru habis itu lo keluarin udaranya.”
Oikawa mengerjapkan matanya berulang kali— berusaha mencerna proses yang dijelaskan pria itu dengan tenang. Setelah meneguk ludahnya dengan kasar akibat gugup, ia pun mulai mengangkat benda pipih itu ke bibirnya.
Baru tiga detik, Oikawa sudah terbatuk heboh.
Ada kekeh kecil yang terdengar di antara keributan yang dibuatnya di tengah malam tersebut. Di antara matanya yang berair, ia melihat Iwaizumi sudah mengambil kembali rokok tersebut dan mengisapnya santai.
Setelah batuknya sedikit reda, Oikawa melontarkan pertanyaan yang terlintas olehnya pertama kali.
“Kenapa orang-orang suka ngerokok?”
“Karena bisa bikin seseorang ngerasa nyaman.”
Jawaban otomatis pria itu membuatnya tertegun. Iwaizumi sendiri tak menatapnya, dan hanya menerawang jauh seolah tengah mengingat sebuah memori.
“Karena bisa bikin seseorang ngelupain rasa sakit walaupun sebentar.”
Oikawa memperhatikan sisi wajah pria itu yang dibayangi oleh cahaya lampu. Ia tidak tahu sekarang jam berapa. Ia tidak peduli seandainya keluarganya tengah mencarinya sekarang. Ia pun tidak peduli dengan relung hatinya yang semakin diisi oleh pria itu meski tahu tidak akan mendapat balasan yang sama.
Namun, berada bersama pria itu juga memberinya kenyamanan, serta membuatnya lupa akan sakit hati yang diciptakan oleh orang-orang terdekatnya. Padahal banyak yang mengatakan bahwa harta melimpah bisa membuat siapa pun bahagia— semua masalah akan terselesaikan asal memiliki uang. Tapi tidak ada yang mengatakan bahwa dibutuhkan pengorbanan senilai harga diri ataupun nyawa untuk mendapatkan kekayaan tersebut.
Dan Oikawa benci— benci bahwa harga dirinyalah yang terpaksa dikorbankan seakan-akan apa yang membuatnya berdiri sekarang tak lebih dari onggokan kertas dengan deretan angka.
“Terus gimana buat orang yang nggak suka ngerokok?”
“Masih ada cara lain,” jawab pria itu tanpa berpikir seraya mematikan puntung rokok di ambang jendela. Iwaizumi menoleh kembali hingga netra kontras mereka beradu dalam intensitas.
“Contohnya?” tanyanya ingin tahu.
“Women, alcohol, sex,” tukas pria itu ringan dengan tatapan sarat makna. Oikawa menggigit bibir, sadar betul pria itu menekankan kata sex di antara rangkaian objek yang barusan disebutkan.
“I do love wine,” ucap Oikawa, yang dengan bodoh memastikan dalam hati terlebih dulu bahwa wine masih termasuk alkohol.
“And sex?”
“And...” Oikawa mulai merasakan ada keringat yang mengalir dari pelipisnya, “and sex...”
Iwaizumi lagi-lagi menyunggingkan senyum kecil. Mood pria itu terlihat sedang baik malam ini. Mau tak mau, hatinya pun ikut menghangat melihat pemandangan tersebut.
“Good. Karena aku juga suka.”
Oikawa terpekik kaget saat tiba-tiba pinggangnya ditarik ke depan, dan bibirnya dibuat bungkam seketika. Kelopaknya tertutup tanpa protes, sementara tangannya diangkat untuk dilingkarkan di sekitar leher pria itu. Tubuh mereka menempel tanpa jarak, dan Oikawa bisa merasakan degup jantung yang saling berpacu.
Ada aroma dan rasa rokok yang menyatu di bibirnya. Meski masih terasa asing, Oikawa membuka bibirnya lebih lebar untuk merasai lebih dalam. Iwaizumi pun menyambut dengan senang hati karena lidah pria itu langsung mengambil alih secara dominan.
“Apalagi kalau sama kamu, Oikawa Tooru.”
Pria itu berbisik pelan di bibirnya sebelum akal sehatnya dibuat menguap di udara dengan gerakan yang semakin tak mengikuti ritme. Oikawa mendesah saat bibir Iwaizumi membuat jejak basah di sepanjang rahang dan lehernya. Ia tak memikirkan apa pun lagi, dan hanya menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan dengan sukacita. Iwaizumi seakan sudah hapal betul setiap titik sensitifnya. Barulah saat tangan pria itu mulai menyusup ke balik kausnya, Oikawa membuka mata.
“Kalau gitu... pake aku lagi. Pake aku buat ngelupain rasa sakit kamu.”
Iwaizumi seperti orang yang telah dibutakan oleh nawa nafsu. Begitu mendengar kalimat yang diucapkannya dengan susah payah, pria itu langsung mengangkat pinggulnya. Oikawa refleks menautkan tungkainya di sekitar pinggang Iwaizumi agar tidak terjatuh. Selama melangkah kembali ke kasur, Oikawa membalas perlakuan pria itu sebelumnya dengan menjatuhi setiap inci kulit yang mampu diraihnya dengan ciuman-ciuman kecil. Selanjutnya, tak dibutuhkan waktu lama bagi Oikawa untuk merasakan ereksi pria itu yang mulai mengeras.
Oikawa merintih pelan. Ia sendiri sudah termakan oleh libido yang semakin sulit untuk ditahan.
Saat dirinya dijatuhkan ke atas kasur, dan Iwaizumi mulai melucuti kaus beserta boksernya yang nyaris tak menutupi apa pun, Oikawa sekali lagi memikirkan hal yang sama seperti di awal.
Ada sesuatu yang sangat menyihir tentang Iwaizumi.
Pria itu bukan berasal dari keluarga berada, dan menjalani hidup dengan kebebasan yang tidak dimiliki Oikawa. Pria itu memiliki pandangan yang tidak pernah diajarkan oleh setiap gurunya di sekolah. Namun, pria itulah yang mengajarkan Oikawa tentang melupakan rasa sakit— tentang apa itu sex dan bagaimana tubuhnya pantas untuk dipuja sebagaimana mestinya.
Di saat yang sama, pria itu jugalah yang mengenalkan Oikawa pada patah hati pertamanya.
Karena bagaimanapun, tidak ada cinta yang pantas untuk meredam rasa sakit.
@fakeloveros
Pesan sponsor: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan & janin.