“Padahal Om cuma bercanda waktu bilang kamu curhat jangan ke Ayah, tapi ke Om aja.”

Mereka tengah duduk bersila di atas lantai kamar Tobio yang beralaskan karpet, ditemani berbagai camilan bertebaran di sekitar. Tobio mengerutkan kening seraya menjulurkan tangan untuk mengambil salah satu camilan kesukaannya.

“Kenapa gitu?”

Oikawa bergumam panjang dengan ekspresi yang terlihat tengah menimbang-nimbang.

“Kamu sendiri kenapa nggak mau cerita ke Ayah?”

“Malu, Om.”

Tobio membisikkan jawaban itu pelan seraya menunduk. Dari peripheral-nya, ia menangkap gerakan tangan Oikawa yang berhenti di udara.

“Malu kenapa?”

Tobio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saking banyaknya yang terjadi hari ini, dia sampai tidak tahu harus memulai dari mana. Menurutnya, pilihannya sangatlah tepat untuk mencoba curhat ke Oikawa dibandingkan ke ayahnya. Jangan salah— Tobio sangat menyayangi sang Ayah, tetapi jika harus menceritakan hal sekrusial ini... bisa-bisa dirinya pingsan di tempat saking malunya.

“Malu aja,” gumamnya sambil memainkan keripik kentang di tangannya— masih belum berani mengangkat wajah. “Soalnya ini tentang... Hinata.”

Ada hening sebentar.

“Oh.” Oikawa terdengar sangat terkejut hingga Tobio terpaksa mendongak. “Oh.”

“Om...” Tobio mengerang, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia sudah menduga akan mendapatkan reaksi seperti ini. “Jangan ledekin aku dulu...”

“Om cuma bilang oh, kok.” Balasan Oikawa terdengar seolah pria itu sedang menahan tawa. Tobio menghela napas, dan semakin menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangan.

“Ya udah, sini coba cerita. Jangan tutup muka terus, dong,” bujuk Oikawa, kali ini benar-benar sambil terkekeh kecil. “Om nggak bakal ngeledekin kamu, kok.”

“Janji?”

Oikawa mengangguk, lantas membuat gerakan menutup mulut dengan ritsleting. Kekasih ayahnya itu mengubah mimik wajah menjadi lebih serius.

Tobio mengembuskan napas besar untuk kesekian kalinya. Ia menegakkan tubuh, dan mencoba mengesampingkan rasa malunya untuk beberapa menit.

Kemudian, Tobio mulai bercerita.

Oikawa menepati janji selama dirinya bercerita. Yang lebih tua itu tidak memotong sama sekali meski beberapa kali di tengah-tengah sudah membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, Oikawa hanya mengedikkan dagu sebagai gestur agar Tobio tetap melanjutkan ceritanya.

Dan Tobio benar-benar mengakhiri semuanya di kejadian tadi pagi, saat melihat wajah tercengang Hinata yang tak bisa memukul servisnya.

Juga, kalimat yang dilontarkan Tobio setelahnya.

Tobio menundukkan wajahnya kembali, mulutnya tak lagi mengunyah karena semua camilan ini seakan bisa membuat perutnya semakin melilit. Bahkan, lidahnya sudah terasa pahit sekarang. Ada keringat yang mengalir di pelipisnya meskipun pendingin udara sudah menyala. Saat mengingat kejadian tadi pagi, Tobio pikir ia sudah gila karena berani-beraninya melontarkan hal seperti itu pada Hinata.

“Jadi...” Suara Oikawa terdengar memecah keheningan di kamarnya, “kamu... nyuruh Hinata buat dateng ke pertandingan nanti?”

“Ngajakin, Om. Bukan nyuruh,” Tobio memberi koreksi dengan rona yang mulai muncul di kedua sisi wajah.

“Loh, kamu bilangnya tuh, gue mau lo dateng ke pertandingan basket gue nanti. Itu tuh namanya nyuruh, Tobio, bukan ngajak.”

Tobio kehilangan kata-kata.

“Tapi Om penasaran...” Oikawa mencondongkan tubuh dengan raut wajah penuh ingin tahu, “kalau Hinata dateng ke pertandingan basket nanti, emang kamu mau ngapain?

Ini dia pertanyaan yang sedari tadi Tobio harapkan tidak akan muncul.

“Kamu mau nembak dia, ya?”

“HAH? NGGAK, KOK!” Tobio otomatis berseru kaget mendengar pertanyaan gamblang pria itu. Kepalanya menggeleng cepat sebagai usaha untuk meyakinkan.

“Kamu kan suka dia,” Oikawa menukas santai seolah sanggahannya hanya dianggap sebagai angin lalu, “masa nggak ada rencana buat nembak?”

Tobio memikirkan pertanyaan itu sebelum berbisik malu, “emang... nggak bakal kecepetan?”

Oikawa mendengus, lantas menyenderkan tubuh ke sandaran kaki tempat tidur. “Ayah kamu baru beberapa minggu kenal Om aja udah ngajak pacaran.”

“Tapi Ayah butuh waktu tiga tahun buat ngelamar Om,” timpalnya refleks.

Dilihatnya senyum pria itu sedikit memudar sebelum membalas sambil memutar bola mata, “ngajak pacaran sama nikah kan beda cerita, Tobio. Emang kamu mau langsung serius apa sama Hinata?”

Tobio tidak menjawab meski dari ujung lidahnya hampir terlontar kata ya.

“Nggak taulah, Om. Aku pusing. Kayaknya aku udah kerasukan tadi pagi.”

Oikawa terkekeh lagi. Mereka menikmati kesunyian selanjutnya sebelum Oikawa kembali bertanya, “Hinata bilang apa pas kamu nyuruh dia nonton pertandingan nanti?”

“Dia keliatan bingung, sih... tapi cuma jawab oke.”

“Yah... dia nggak mungkin nolak juga, kan?”

Tobio mengerucutkan bibir dengan kesal. “Jadi, menurut Om, Hinata terpaksa?”

Jelas sekali Oikawa terlihat berusaha menahan tawa mendengar pertanyaan tersebut.

“Om baru ketemu sama Hinata sekali, sih... tapi dari situ aja udah keliatan.”

“Hah? Keliatan apa?”

TOK TOK

Terdengar suara pintu kamar yang diketuk pelan sebelum kepala ayahnya melongok.

“Sibuk amat nih berdua, sampai nggak sadar Ayah udah pulang. Ada martabak tuh di meja. Kalau nggak mau, Ayah habisin nih sendirian.”

Tobio melirik ke arah jam dinding, dan baru menyadari ayahnya pulang 45 menit lebih telat hari ini.

“Ayah kok baru pulang?”

Ayahnya ikut masuk ke dalam kamar, lalu mendudukkan diri di atas kasurnya. “Iya, tadi tumben-tumbenan macet di jalan. Eh, ini lagi pada ngapain, sih? Kok ayah nggak diajak?”

Sebelum Tobio dapat membuka mulut, Oikawa langsung berdiri dan menghampiri ayahnya. “Mau tau aja deh kamu. Sana, mandi dulu! Sampai kecium baunya.”

“Bau gini juga kamu tetep sayang.”

Tobio membuat suara ingin muntah, lantas berjalan terlebih dulu menuju ruang makan. Tidak ia pedulikan suara dua orang dewasa di belakangnya yang tengah saling bercanda. Lagi pula, ia masih memikirkan soal keputusan nekatnya menyuruh Hinata untuk datang ke pertandingan basket, juga pertanyaan Oikawa barusan—

Kamu mau nembak dia, ya?

Nggak, nggak, Tobio menggeleng kepada dirinya sendiri. Setidaknya ia yakin bahwa dirinya masih membutuhkan waktu.

Kalau Hinata dateng ke pertandingan basket nanti, emang kamu mau ngapain?

Apa yang dia inginkan sebenarnya?

Tobio menatap martabak di atas meja dengan tatapan menerawang. Tangannya meraih gawai yang ada di kantong, lalu membuka pesan terakhirnya dengan Hinata. Ia mengetuk-ngetukkan jari di atas meja sebelum cepat-cepat mengetikkan sederet pertanyaan, lalu mengirimnya.

“Loh, kok belum dimakan martabaknya?” Oikawa tahu-tahu sudah masuk ke dalam ruang makan, dan segera mengambil tempat di seberangnya. Tangan yang lebih tua terjulur lebih dulu untuk mengambil makanan yang masih terasa hangat tersebut.

“Om,” panggil Tobio pelan dengan mata yang terpaku ke atas layar. Dilihatnya sederet titik-titik yang menandakan Hinata tengah mengetikkan balasan.

“Hm?”

“Aku udah tau mau ngapain nanti pas Hinata dateng ke pertandingan basket.”

(Lucunya, Tobio tidak sadar bahwa dia tidak menyanggah saat Oikawa menuduh bahwa dirinya menyukai Hinata.)


@fakeloveros