Sumpah serapah tidak pernah berhenti keluar dari mulut Hinata kala siang itu. Kakinya yang menjejak tanah, terus dipaksakan untuk bergerak meski napasnya sendiri memproteskan hal sebaliknya. Ia sudah mengelilingi sekolah sejak sepuluh menit lalu, tetapi tidak juga ditemukan sosok jangkung bersurai hitam yang sedari tadi dicarinya.
Yuu, yang ikut mencari Kageyama bersamanya, hanya mampu bersandar ke dinding dengan napas tersengal. “Ta... udah nggak usah dipaksa, lo kan masih sakit.”
Kalimat itu berdering seperti alarm pengingat bahwa suhu tubuhnya masih di atas normal. Namun, otak gilanya menyanggah bahwa itu hanya akibat dari adrenalin yang memompa.
“Tuh anak ke mana ya, anjir... kata ayahnya juga tadi langsung nggak keliatan pas pertandingan selesai. Apa langsung balik ke rumah dia?” Yuu mengimbuhkan seraya menghapus peluh yang semakin mengalir. Hinata berjongkok selagi memegang kepalanya yang terasa kian berputar. Tenggorokannya kering, dan dari punggungnya mengalir keringat dingin.
“Pasti gara-gara gue...”
“Apa?”
“Gara-gara gue nggak dateng...” bisiknya dengan mata terpejam. Ia berusaha untuk tidak memedulikan ratusan jarum tak kasatmata yang tengah menusuk-nusuk kepalanya. Hinata punya firasat, jika tidak bisa bertemu Kageyama hari ini untuk menjelaskan perihal ketidakhadirannya maka dia tidak akan memiliki kesempatan kedua.
“Ta, jujur aja, nih. Kalau gue jadi nyokap lo juga gue nggak bakalan ngebolehin lo pergi sekarang. Lo masih sakit, gila! Tapi tetep maksain buat pergi. Terus ini juga kita janjinya ke nyokap lo cuma setengah jam, kan? Tapi ini aja udah mau 20 menit! Tobio juga nggak mau ngangkat telepon. Nggak jelas banget tuh orang!”
Hinata menghela napas, teringat dengan perjuangan dirinya sejak pagi dalam meyakinkan ibunya agar diperbolehkan pergi. Ternyata hal tersebut tidak mudah, dan akibatnya dia jadi datang terlambat, bahkan tidak menonton pertandingan sama sekali.
Hinata tahu, Kegayama pasti merasa sangat kecewa— terhadap diri sendiri, maupun dirinya yang sudah berjanji untuk datang.
“Gue... cari ke kelas-kelas, deh,” ucap Hinata pada akhirnya, mengusahakan diri untuk bangkit. “Siapa tau dia ada di sana...”
Yuu ikut menegakkan diri, lantas memandangnya skeptis. “Kelas-kelas bukannya pada dikunci, ya?”
Hinata mengedikkan bahu. “Siapa tahu.”
“Gue ke kantin dulu deh, beli minum. Eh, kalau si Tobio nggak ada juga di kelas-kelas, lo susul gue ya ke kantin. Kita langsung balik aja,” tukas Yuu dengan ekspresi yang dibuat segalak mungkin. Hinata mengangguk— dalam hati berjanji bahwa jika benar-benar tidak bisa menemukan Kageyama, dirinya akan langsung pulang.
Setelah membalas lambaian tangan Yuu, Hinata tidak membuang-buang waktu, dan segera menyuruh kakinya untuk kembali bergerak. Kali ini, ia langsung menaiki tangga dan menelusuri koridor kelas sepuluh. Hinata melongok melalui jendela sembari berdoa dalam hati semoga ada sosok Kageyama di dalam salah satu kelas. Kendatipun begitu, semakin Hinata menemukan kelas kosong, semakin pelan juga langkahnya hingga ia hanya sanggup berjalan dengan bertumpu pada dinding terdekat.
Tetapi agaknya benar apa kata orang— kalau sudah berusaha dan berdoa maka Tuhan tinggal mengabulkan.
Hinata mengerjap berulang kali sebagai upaya untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya nyata. Ia berdiri di seberang koridor, dan dari jendela yang transparan, Hinata mendapati Kageyama berada di dalam kelasnya. Sendirian. Pemuda itu duduk di salah satu meja dengan punggung yang membelakangi pintu. Meski Hinata tidak bisa melihat wajah dari sosok jangkung itu, ia yakin apa yang tengah diperhatikannya bukan sekadar oasis di tengah padang pasir.
Dengan sisa kekuatannya, Hinata segera berlari menuju kelas yang — entah bagaimana — tidak terkunci. Mungkin Kageyama sendiri yang meminta kunci ruangan kelas itu ke satpam. Entahlah. Hinata tidak perlu tahu. Ia hanya ingin segera berbicara dengan Kageyama.
Namun, langkahnya terhenti dengan ragu begitu sudah berdiri di ambang pintu. Napasnya yang berderu liar tidak mungkin tidak sampai ke telinga si penghuni kelas. Meski begitu, pemuda yang nampaknya sudah berganti baju dari seragam basket tersebut tidak menengok sedikit pun ke arahnya.
“Kageyama...” Hinata mencoba memanggil dalam desibel yang tak lebih dari bisikan. Ia mulai melangkah ke dalam dengan hati-hati. Rasanya seperti sedang mendekati singa yang tertidur. “Maaf, gue... nggak sempet dateng ke pertandingan lo. Gue—”
Hinata berhenti. Mendadak ia ragu untuk mengutarakan alasan yang sebenarnya. Apakah dengan melontarkan alasan sakit bisa membuat kekecewaan Kegayama berkurang? Apakah itu bisa membuatnya mendapatkan kesempatan kedua?
Hinata terus menimbang-nimbang hingga tidak menyadari bahwa Kageyama tahu-tahu sudah berbalik, lantas menatapnya lekat.
DRAAK
Suara kaki meja yang tiba-tiba beradu dengan lantai secara kasar memecah keheningan. Hinata mendongak, dan mendapati Kegayama sudah berdiri menjulang. Netra biru gelap sang pemuda terbuka lebar.
“Lo... kenapa?”
“Hah?” Hinata mengucap bodoh, tidak yakin dengan apa yang dimaksudkan Kageyama.
“Lo pucet banget.” Seakan ingin memastikan lebih jelas, Kageyama mulai berjalan mendekatinya. Hinata hanya diam di tempatnya berdiri tanpa melontarkan sepatah kata pun. Matanya sedikit ditundukkan karena ia tidak— belum berani menghadapi kekecewaan yang pastinya akan terlihat jelas di ekspresi sang lawan bicara.
Meski begitu, tidak ada yang mempersiapkan Hinata untuk menerima sebuah sentuhan.
“Lo demam.” Kageyama berucap terkejut saat menyadari suhu tubuhnya yang masih tinggi. Namun, mengingat kini ada telapak tangan sang pemuda yang menempel di keningnya, membuat Hinata tak tahu harus merespons apa.
“Kenapa nggak bilang kalau lo sakit?”
Pertanyaan itu terlontar tajam, dan nyaris membuat Hinata melangkah mundur kalau tidak ada tangan yang segera menahannya.
“Kalau sakit, harusnya lo bilang ke gue! Jadi gue juga nggak akan mikir macem-macem dan bakal nyuruh lo istirahat aja di rumah!”
“S-sori... h-habisnya gue kan udah janji sama lo...”
Hinata tidak bisa menghindar. Lengannya masih dicengkeram kuat oleh Kageyama yang terlihat sangat marah. Baru kali ini ia melihat Kageyama menampilkan raut wajah seperti itu.
“Gue nggak apa-apa lo nggak dateng asal ngasih kabar, Hinata! Apalagi tahu lo sakit begini! Menurut lo, gue bakal seneng kalau lo dateng tapi lagi kayak begini?!”
Hinata tersentak. Kepalanya terasa kian melayang mendengar bentakan keras dari pemuda di hadapannya. Namun, sebelum mengeluarkan semacam pembelaan, lengannya yang masih dicengkeram oleh Kageyama tiba-tiba ditarik hingga ia nyaris terjerembap.
“Eh, Kage—”
Protesnya tertelan sia-sia. Tubuhnya yang memang jauh lebih mungil, ditambah sedang dalam keadaan tidak berdaya, membuat Hinata tertarik dengan pasrah. Napasnya tersangkut di tenggorokan, dan pikirannya mendadak kosong.
Kageyama sedang memeluknya.
Selama beberapa menit, Hinata tidak berani mengeluarkan suara. Tangannya pun hanya dibiarkan menggantung di kedua sisi tubuh. Ada deru napas hangat yang menerpa lehernya, dan Hinata yakin setelah ini ia akan benar-benar jatuh pingsan.
“Kage—”
“Gue nyariin lo.”
Hinata menutup rapat-rapat bibirnya. Tak jadi memanggil nama pemuda itu.
“Gue nyariin lo di bangku itu selama pertandingan. Yang lain nggak bilang apa-apa, tapi gue yakin mereka kecewa karena gue keliatan nggak fokus banget di lapangan. Padahal ayah sama Om Oikawa juga dateng, dan gue mau buktiin ke mereka hasil latihan selama ini... tapi yang ada, gue malah ngacauin semuanya.”
“Lo nggak—”
“Tapi,” Kageyama lagi-lagi memotongnya, dan entah pemuda itu sadar atau tidak, tetapi lengan yang melingkari punggungnya mengerat. Kakinya bahkan mulai terangkat sedikit. “Tapi, gue bakalan lebih nyesel kalau nggak ketemu lo hari ini. Gue sempet mikir, apa lo nggak dateng karena... ini hasil taruhan? Karena kalau iya, gue janji nggak bakal gangguin lo lagi habis ini.”
Hinata lelah mendengarkan praduga satu arah tersebut. Dia juga ingin mengatakan sesuatu.
“Bisa, nggak, lo dengerin gue juga?” ujarnya sedikit kesal karena belum juga mendapatkan kesempatan. Mendadak, pusingnya terlupakan dan yang ia inginkan hanya menegaskan sesuatu.
“S-sori...”
Kageyama melepas pelukan mereka, wajah pemuda itu terlihat seperti kepiting rebus. Mata sewarna blueberry itu menghindari tatapannya selagi sang empunya berusaha mencipatakan jarak.
Namun, Hinata tidak membiarkan. Ia menarik ujung kaus yang dikenakan si pemilik surai hitam, kemudian mendongak untuk menatap wajah pemuda itu lekat.
“Gue nggak terpaksa dateng ke sini. Meskipun hasil taruhan, tapi gue juga pengin banget buat dateng. Kalau nggak, mana mungkin gue tetep bela-belain dateng, padahal lagi sakit? Mungkin habis ini gue bakal kena hukuman dari nyokap, tapi kalau nggak ketemu lo, gue juga pasti bakalan nyesel.”
Manik biru itu melebar tak percaya mendengar pengakuannya. Hinata memperkirakan, sudah ada rona yang tak kalah merah di pipinya sekarang. Dan iya percaya itu bukan akibat demam.
“Jadi...”
“Jadi...”
Netra mereka bersibobrok canggung saat satu kata itu diucap bersamaan. Namun, entah mengapa Hinata menemukan situasi ini begitu lucu hingga tanpa sadar bibirnya meloloskan kekehan kecil. Kageyama menatapnya bingung untuk sesaat sebelum ikut tertawa pelan.
“Jadi... kita nggak bisa nonton hari ini kayaknya,” ucap Hinata terlebih dulu begitu bisa menenangkan diri. Ia tidak sadar tangannya masih memegang ujung kaus Kageyama, tetapi pemuda itu sepertinya tidak keberatan, dan malah beringsut maju seakan refleks.
“Iyalah, lo kan lagi sakit. Tadi ke sini bareng Yuu, kan? Nanti pulang sama gue aja.”
Kageyama mengatakannya begitu ringan, seakan itu memang penyelesaian paling wajar.
“Kayaknya gue sakit gara-gara nggak pake jaket waktu itu.”
Ada kerutan dalam terukir di kening yang lebih jangkung. “Kan gue udah bilang, kalau pagi pake jaket. Anginnya kenceng kalau lo naik motor. Nanti pake jaket gue aja, atau lo mau gue pesenin taksi sekalian...?”
Hinata menggeleng. Setelah susah payah bisa bertemu dengan Kageyama seperti ini, rasanya dia tidak ingin langsung berpisah.
“Nggak mau. Bareng lo aja.”
Kageyama tak langsung menyetujui, dan Hinata pikir pemuda itu akan bersikeras untuk menyuruhnya pulang naik taksi. Namun, betapa terkejut Hinata saat jemarinya yang masih bertengger di kaus milik sang pemuda tiba-tiba diraih dan digenggam erat.
“Kalau nanti lo udah sembuh... masih mau, kan, nonton sama gue?”
Kageyama masih perlu nanya, ya? pikir Hinata dalam hati. Tangannya ikut menggenggam balik begitu ia mulai merasa semakin nyaman.
“Mau,” jawabnya cepat, dan sebelum Kageyama mengutarakan hal lain, Hinata buru-buru menambahkan, “asal itu nggak jadi kencan pertama sekaligus terakhir kita aja.”
Kageyama memasang raut wajah datar, dan kalau tidak mengetahui dengan baik, Hinata pasti mengira pemuda itu tidak menyukai ucapannya sama sekali. Tapi sekarang ia paham, Kageyama hanya gugup hingga tak bisa berkata apa pun. Setidaknya, rona yang mewarnai kedua sisi wajah si pemilik surai hitam itu tidak bisa berbohong sama sekali.
Lucu banget, monolognya lagi-lagi mengambil alih sementara Hinata mulai memikirkan berbagai skenario untuk membuat Kageyama tersipu seperti itu untuk ke depannya.
Dan satu ide sudah terpikirkan olehnya sekarang.
“Eh, Kageyama, nunduk dikit, deh.”
Saat sang pemuda mengikuti permintaannya tanpa banyak tanya, Hinata memanfaatkan jarak dekat mereka untuk menjatuhkan kecupan cepat di pipi si yang lebih tinggi. Sebelum menyesali perbuatannya, Hinata langsung memutar badan demi menyembunyikan wajahnya yang memanas. Namun, ia tidak lupa mengatakan—
“Walaupun gue nggak liat pertandingan lo hari ini, gue yakin lo udah ngeusahain yang terbaik. Lagian... masih bakal ada pertandingan selanjutnya, kan?”
Tak ada suara yang membalas. Hinata hampir menoleh, tetapi gerakannya terhenti saat tiba-tiba ada sebuah jaket melingkupi pundaknya dari belakang.
“Pasti bakal ada, dan lo wajib nonton. Makanya, tolong jangan sakit lagi.”
Hinata cukup tertegun saat kalimat itu dilontarkan begitu halus— terdengar seperti perintah, sekaligus permohonan. Ada aroma baru yang menguar dari sekelilingnya, dan ia tahu itu berasal dari jaket Kageyama.
Mendadak, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
“Ya, udah. Ayo balik sekarang. Lo harus cepet-cepet istirahat.”
Hinata tidak mengeluarkan protes sama sekali saat tangannya tiba-tiba ditarik lembut untuk dibawa kembali ke dalam genggaman. Ia menikmati tautan hangat pemuda itu, lalu berpikir, pantesan orang pacaran suka pegangan tangan...
Atau mungkin, Hinata menyukai saat hanya Kageyama yang menyentuhnya.
@fakeloveros