“Shit. Kayaknya aku mau muntah.”
Iwaizumi tertawa pelan di sebelahnya, dan Oikawa tak habis pikir bagaimana pria itu masih bisa terlihat santai.
“Kok kamu santai banget, sih?” tanyanya dengan tatapan menuduh, seakan tidak rela bahwa hanya dirinya di sini yang rasanya ingin jungkir balik.
“Siapa bilang? Aku juga tegang,” balas pria itu sembari melirik jam di atas dashboard. “Sampai kapan kita mau di mobil?”
“Tadulu, aku tarik napas dulu.”
“Dari tadi kamu udah bilang kayak gitu, sayang.”
Bukannya tenang, perutnya malah semakin melilit.
“Menurut kamu Tobio ke mana? Kamu nggak khawatir sama dia?” Oikawa berupaya mengalihkan topik demi menenangkan jantungnya yang terus berdegup kencang semenjak sampai di depan rumah orang tua si lawan bicara. Mereka belum keluar dari mobil karena Oikawa beralasan ia perlu menenangkan diri sebentar.
Iwaizumi mengedikkan bahu. “Dia bukan tipe yang bakal kabur lama. Aku udah ngajarin dia buat tanggung jawab sama perbuatannya sendiri, dan nerima segala hasil dengan lapang dada.”
Oikawa begumam panjang. Perlahan, sakit perut yang melilit itu mulai memudar. Sepertinya membicarakan Tobio cukup membantu dalam meredakan rasa gugupnya.
“Sebelum ke sini, aku udah nge-chat dia tadi. Aku bilang apa pun hasilnya, aku bakal tetep sayang sama dia.”
“Dan dia juga bakal tetap sayang sama kamu. Mau status kamu berubah pun nggak bakal ada bedanya.”
Setidaknya, Oikawa berhasil meloloskan senyum kecil saat mendengar pernyataan tersebut.
“Kalau buat kamu, bakal ada bedanya, nggak?”
“Selain nantinya setiap malem aku bisa tidur sama kamu? Kayaknya nggak ada juga.”
Oikawa memberengut, sedikit tak terima dengan jawaban ringan tersebut. “Kok kayaknya, sih? Kamu mau nikah sama aku jangan-jangan cuma biar bisa diajak—“
Oikawa tak sempat menyelesaikan omongannya. Bibirnya keburu dipaksa bungkam lewat lumatan yang tak pernah gagal membuainya. Oikawa memejamkan mata, dan menikmati sapuan bibir itu. Tangan Iwaizumi juga ikut membelai mulai dari pipi, rahang, leher, hingga ke ujung jarinya. Saat pria itu melepas pagutan mereka, lalu membawa telapaknya ke depan bibir, ada embusan napas hangat di sana yang membuatnya bergidik pelan.
“Kamu sendiri yang dulu pernah bilang ke Tobio kalau sayangku itu seluas langit. Jadi, sebenernya mau kita direstuin atau nggak pun, semuanya bakal sama. Semuanya tetep buat kamu. Semuanya milik kamu.”
Oikawa menarik napas tercekat. Tanpa bisa menahan diri, ia langsung memeluk pria yang dikasihinya itu. Dan Iwaizumi membalas— pria itu selalu membalas. Hangat dan eratnya pun tetap sama, bahkan setelah tiga tahun berlalu.
“Simpen kata-kata itu buat nanti pas di nikahan kita,” bisiknya di antara ceruk leher sang kekasih yang menguarkan aroma nyaman. Ada usapan lembut di kepalanya seiring gelak tawa dari si pemilik surai hitam.
“Makanya tenang aja. Keluarin semua pesona kamu. Buktinya, Tobio sama aku aja berhasil kena, kan?”
“Damn, right!” Oikawa melepas pelukannya, lalu menyeringai lebar. “Buktinya aku berhasil ngelewatin ujian dari Tobio, terus pacaran sama kamu! Kalau nggak, mungkin sekarang aku cuma masih ngeliatin dari jauh setiap kita beli bubur bareng.”
“Jadi…” Iwaizumi lantas tersenyum miring seraya mengangkat satu tangan untuk merapikan poninya yang sedikit berantakan, “siap buat perang?”
Oikawa menjawab dengan satu anggukan yakin. Ia tak lagi takut, atau ragu karena tahu tidak akan kehilangan apa pun setelah ini. Sayangnya pun akan tetap sama; layaknya langit yang akan kembali cerah setelah hujan besar melanda.
Fin.
@fakeloveros