Satu tahun.

⠀ ⠀ ⠀ ⠀⠀ Satu tahun.

Satu tahun.

Satu tahun.

Satu tahun la—

⠀ ⠀⠀ “Tooru?”

Suara itu— panggilan itu, memecah lamunannya. Kepalanya menengok ke arah sumber suara. Namun, belum sempat bibirnya melontarkan sesuatu, sudah ada sepasang lengan kokoh yang memeluknya dari belakang.

“Dingin,” keluh pria itu singkat, sedikit teredam karena disuarakan di antara perpotongan bahu dan ceruk lehernya. Oikawa menggeliat kegelian, lantas mengangkat satu tangan untuk mengusap kepala dengan surai hitam tersebut.

“Kamu mau teh?” tawarnya, yang disambut dengan kernyitan sarat protes dari sang pria. Oikawa tertawa pelan melihat reaksi tersebut. Tangannya yang bebas otomatis terjulur untuk mengambil satu gelas lagi. “Oke, kopi kalau gitu.”

Ada kecupan lembut mendarat di atas bahunya sebelum gumaman panjang terdengar di sana.

“Kamu lagi mikirin apa barusan?” tanya Iwaizumi, terdengar sedikit parau karena jam di atas dinding baru menunjukkan pukul enam pagi. Udara dingin mulai menyusup melalui berbagai sela pintu dan jendela, membuat Oikawa bergidik tanpa sadar. Iwaizumi pun mengeratkan rengkuhan, menganggap gesturnya barusan muncul akibat cuaca.

“Apa?” Oikawa malah balik bertanya. Otaknya masih belum sepenuhnya meregistrasi maksud pertanyaan tersebut.

“Kamu tadi lagi mikirin sesuatu, aku liat. Mikirin apa?”

Oh...

Bukannya langsung menjawab, dirinya malah berpura-pura sibuk menuang takaran bubuk kopi ke dalam gelas satunya. Walau begitu, bukan Iwaizumi namanya kalau tidak bisa bersabar menunggu.

Keheningan pun lewat sampai air yang sedang direbus olehnya mendidih. Begitu ia mematikan kompor, ada embusan napas besar yang menerpa lehernya.

“Tooru...” Iwaizumi memanggil namanya pelan— terdengar sedikit menuntut, walau tanpa paksaan di dalamnya.

”...Satu tahun.”

Rengkuhan di tangannya membeku untuk sepersekian detik.

“Aku lagi mikirin nasib kita satu tahun lagi.”

Tidak ada yang terdengar setelahnya. Pegangan di pinggangnya perlahan mengendur, dan ada dingin yang kembali menyusup. Namun kali ini, Oikawa yakin itu bukan berasal dari tiupan angin musim gugur yang berusaha masuk. Matanya turun, tidak berani menerka reaksi dari sang Alpha.

Tahu-tahu, pinggangnya diputar lembut sebelum ada tangan yang menyentuh dagunya. Wajahnya diangkat, lantas ada kecupan yang mendarat di atas bibirnya. Oikawa refleks memejamkan mata, dan menikmati sentuhan familier tersebut. Bibirnya dilumat amat pelan, sungguh berbeda dengan gerak frantik sang Alpha yang biasa menghilangkan kewarasannya. Kali ini, Iwaizumi seolah tengah berusaha menyampaikan bahwa—

mereka memiliki seluruh waktu di dunia ini.

“Mau setahun lagi, enam bulan lagi, tiga, atau besok, nggak akan ada bedanya buat aku,” bisik pria itu di atas bibirnya. “Karena yang penting ada kamu.”

Oikawa tidak bisa menahan senyumnya yang terpatri saat Iwaizumi kembali menyapu bibirnya lembut. Ciuman itu berlangsung lebih lama, dan lebih dalam— membuat kepalanya terdorong hingga ke belakang. Oikawa melarikan setiap ujung jarinya di sepanjang abdomen sang Alpha yang terekspos. Meski sudah sering mengapresiasi, rasanya tidak pernah cukup. Oikawa meloloskan satu desah panjang saat Iwaizumi membenamkan hidung dan bibir di lehernya— mencapai satu titik tempat tandanya berada, dan dengan sengaja menciumnya lama di sana.

“Aku tau kamu bakal bilang gitu,” tukasnya di antara deru napas yang berlomba-lomba saat mereka berhenti sejenak untuk meraup oksigen. Kendatipun begitu, gerakan bibir sang Alpha belum berhenti, dan kini malah naik ke sepanjang garis rahangnya. “Tapi...”

“Tapi?”

Iwaizumi mengambil jeda di atas daun telinganya. Pria itu memberi gigitan kecil sebelum kembali bertanya. “Tapi apa?”

“Tapi gimana kalau aku tetep kepikiran? Soalnya buatku sekarang, kita kayak lagi jalan di atas bom waktu. Padahal aku tau meledaknya bakal satu tahun lagi, tapi rasanya kayak aku harus hati-hati setiap hari, terus—”

“Tooru, hei— cariño.”

Sayang. Iwaizumi membisikkan satu kata itu dengan nada penuh urgensi. Tangan sang pria menggapai kedua sisi wajahnya sampai netra mereka saling bersibobrok. Oikawa menghentikan racauannya, dan menarik napas dalam-dalam.

Setelah dirasa dirinya cukup tenang, Iwaizumi berbicara dengan raut wajah penuh keseriusan.

“Aku tau nyuruh kamu buat nggak mikirin ini kedengerannya gampang banget. Bohong kalau bilang aku juga nggak kepikiran. Satu tahun lagi emang bukan waktu yang lama, dan aku pun ngerasain hal yang sama. Kadang, aku suka kebangun tengah malem terus panik sendiri. Aku takut kalau tiba-tiba tanda dari kamu udah nggak ada. Atau ternyata kamu mutusin buat pergi.”

Rentetan kalimat itu terdengar sangat putus asa, tetapi anehnya, apa yang dikatakan Iwaizumi barusan justru memberinya ketenangan—

serta kesadaran bahwa bukan hanya dirinya yang ketakutan.

“Tapi setiap pagi aku selalu bangun di samping kamu. Tanda kita masih ada. Kamu nggak pergi, dan aku bisa cium kamu kayak gini.”

Seolah ingin membuktikan omongan, Iwaizumi menjatuhkan ciuman cepat di ujung bibirnya. Pupil sang pria terlihat sedikit membesar, menyembunyikan sebagian hijau di balik bayang-bayang.

Persetan sama tanda itu, Tooru. Mau ada atau nggak, aku bakal tetep sayang kamu kayak gini.” Iwaizumi menyunggingkan senyum kecil sebelum membisikkan kata-kata selanjutnya. “Usted es el único en mi vida, cariño. Kamu udah tau artinya, kan?”

Oikawa tertawa, lalu mengangguk. Tangannya ganti meraih wajah pria itu, dan sang Alpha langsung membenamkan wajah di telapaknya. Pria itu menarik napas dalam dengan kelopak yang terpejam.

“Menurutku, ada persepsi yang salah soal konsep soulmate ini.”

Oikawa mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, menunggu penjelasan dari pria yang masih memejamkan mata seolah tengah menyimpan baik-baik suatu memori.

“Orang terlalu bergantung sama konsep itu sampai lupa kalau kita juga bisa milih. Dan kadang, emang bukan suatu kebetulan bahwa apa yang kita pilih ternyata... soulmate kita juga.”

“Kayak kita?”

“Kayak kita.”

Oikawa menarik wajah sang Alpha hingga kembali selevel dengannya. Ia menatap fitur di hadapannya lekat, sebelum tersenyum lebar. Sinar matahari terlihat menerobos di balik jendela yang berada di belakang soulmate-nya. Menyilaukan. Namun, keyakinan pria itu terhadap dirinya — terhadap mereka — jauh lebih mencuri perhatian.

“Aku suka konsep yang itu,” tukasnya setelah beberapa saat. “Maaf ya, pagi-pagi aku udah mikir yang nggak-nggak.”

Iwaizumi tidak berkata banyak, lagi-lagi hanya memerangkap pinggangnya dalam satu tarikan cepat sebelum memagut bibirnya penuh-penuh.

“Justru bukan kamu namanya kalau setiap hari nggak overthinking kayak gini,” goda pria itu, dan dilanjutkan dengan tawa berderai karena Oikawa langsung menjatuhkan pukulan keras di atas bahu sang Alpha.

“Aku nggak overthinking!” balasnya kesal. “Cuma kepikiran. Beda!”

“Oke, oke,” Iwaizumi berucap ringan sembari menyelipkan satu tangan di balik kausnya. Pria itu mulai membuat pola melingkar di atas kulitnya yang tak lagi bergidik akibat udara dingin. “Kamu nggak kedinginan? Gimana kalau kita balik ke kamar?”

Oikawa memutar bola mata. Tangannya terpaksa naik untuk berpegangan pada bahu pria itu saat ujung kakinya terangkat sedikit akibat remasan yang diterima bokongnya.

“Kamu nggak liat aku lagi bikin teh sama kopi buat kita?” tanyanya penuh sarkasme.

“Nggak. Aku cuma liat kamu.”

Dan Iwaizumi benar-benar menatapnya— dengan hangat yang mengalahkan bara api, serta terang yang mengaburkan cahaya mentari. ⠀ ⠀ ⠀⠀⠀⠀ Di sanalah Oikawa tahu, bahwa satu tahun lagi itu takkan ada bedanya.


@fakeloveros