Ada sepasang tangan yang langsung menariknya begitu pintu itu dibuka. Setengah buta, Iwaizumi membuka sepatunya terburu-buru sebelum punggungnya didorong ke dinding, dan bibirnya mendapat serangan mendadak. Terdengar hela napas lega seiring bibir mereka yang menyapu satu sama lain dalam lambat sensual. Iwaizumi ikut memejamkan mata, dan membiarkan Oikawa untuk mengambil alih sementara.
Toh, itu tidak akan bertahan lama.
“Hmmh—“ Oikawa tak sengaja meloloskan satu desah kecil saat bibirnya menelusuri garis rahang pria itu. Ia menunduk, dan Oikawa otomatis mendongakkan kepala untuk memberi akses lebih banyak. Iwaizumi sengaja berlama-lama mencium satu titik di ceruk leher sang kekasih yang ia tahu pasti akan membuat si penerima mengeratkan pegangan di bahunya dengan mata terpejam penuh ekstasi. Ia lantas menghidu dalam-dalam aroma adiktif yang menguar di sana berbarengan dengan tangannya yang mulai menyusup ke balik kaus tipis milik si surai cokelat. Iwaizumi bisa merasakan Oikawa berjengit saat tangannya yang dingin akibat terpapar udara malam di perjalanan mulai membuat pola abstrak di abdomen mulus sang kekasih. Tak ada bagian dari Oikawa yang tak pernah gagal membuatnya gila. Selalu, selalu, dan selalu ingin ia tandai agar pria itu tahu siapa yang memiliki.
Barulah saat itu, Iwaizumi menyadari ada suara lain yang terdengar di dalam apartemen.
“Invisible String?” gumamnya pelan di atas kulit hangat Oikawa. Bibirnya mulai memberi gigitan-gigitan kecil, dan Oikawa meloloskan lagi satu desah yang membuat celananya kian sesak.
“Kamu tau lagu ini?” Oikawa membalas susah payah— tergambar jelas bahwa pria itu tengah kesulitan untuk berbicara.
“Pacar mana yang nggak tahu lagu dari penyanyi kesukaan pacarnya sendiri?”
Oikawa terkekeh, tetapi reaksi itu tidak bertahan lama karena digantikan dengan napas tercekat saat tangan Iwaizumi mulai bermain ke belakang— ke bokong sintal sang pria yang hanya dilapisi bokser berwarna hitam. Iwaizumi memberi remasan apresiasi saat menyadari sang kekasih menyambutnya dengan setel pakaian yang tak begitu menutupi. Berkebalikan dengannya yang masih lengkap dengan pakaian berkendara.
“Kamu utang cerita ke aku,” ucap Oikawa di tengah napas yang memburu. “Soal invisible string itu.”
“Nanti aja.” Balasannya sendiri terdengar tidak jelas mengingat kesibukan apa yang tengah menyita konsentrasinya— memberi pijatan-pijatan lembut sebelum jari tengahnya disambut hangat. Oikawa seperti kehilangan daya, dan memasrahkan semua beban tubuh dengan bersender di dadanya. Deru napas pria itu menerpa keras, dan membuat Iwaizumi mempercepat gerakan.
“Tapi aku mau denger sekarang…”
Harus Iwaizumi akui, Oikawa sungguh hebat masih bisa melontarkan kalimat di saat ia sendiri rasanya ingin langsung menghilangkan kemampuan koherensi pria itu kecuali meneriakkan namanya.
“Jadi,” Iwaizumi memulai, mendadak terpikirkan ide untuk menguji kesabaran sang kekasih. “Cuma orang-orang beruntung yang dikasih kesempatan buat punya invisible string itu sama pasangannya. Misal kamu lahir di kutub utara pun kita bakal tetep ketemu juga.”
Iwaizumi sengaja mulai memperlambat gerak tangannya. Tidak dipedulikannya rengek Oikawa, maupun putaran pinggul sang surai cokelat yang berusaha mencari friksi. Ia terus melanjutkan penjelasan yang tak sengaja dibacanya di sebuah situs internet sambil memosisikan kejantanannya sendiri yang sudah mengeras. Iwaizumi bahkan harus memberi jeda selama sepersekian detik untuk menarik napas.
“Karena invisible — nggak keliatan — jadi nggak akan ada yang bisa mutusin. Kecuali Tuhan sendiri, mungkin. Lewat kematian.”
Oikawa mengeluarkan suara yang terdengar antara campuran tawa dan rintihan. Pegangan tangan pria itu di lengannya mengeras, dan Iwaizumi harus mengerahkan seluruh tenaga untuk tidak segera melucuti pakaian mereka.
“Tapi apa gila, seandainya masuk neraka pun aku masih pengen dipertemuin sama kamu?”
Keinginan itu ia bisikkan tepat di telinga Oikawa hingga sang empunya bergidik pelan. Pria itu mengangkat wajah dari ceruk lehernya, lantas menatapnya dengan sorot mata sayu.
“Yang gila itu,” Oikawa berhenti, dan menggigit bibir saat Iwaizumi dengan sengaja memasukkan digit kedua secara perlahan, “kalau kita nggak ke kamar aku sekarang dan — fuck — nyelesein ini.”
“Ide bagus.” Iwaizumi menyetujui tanpa perlu berpikir panjang. “Tapi apa kamu ada pertanyaan? Soal Invisible String?”
Layaknya seorang guru, Iwaizumi bertanya meski berada di tengah libido yang kian membuncah karena Oikawa baru saja menyelipkan satu tangan di balik jeans-nya. Ia menggeram penuh ancaman saat sang kekasih hanya menyentuhnya dengan gerakan malas.
“Kalau nggak ada, let’s fuck then.”
Setelahnya, yang terdengar hanyalah suara samar seorang penyanyi lain dari speaker di ruang tamu. Namun, dengan cepat lagu itu teredam oleh suara lenguhan panjang, serta bisikan nama penuh puja sepasang kekasih yang agaknya tidak akan berhenti meskipun fajar menyingsing.
Di tengah semua euforia itu, Iwaizumi bersumpah tidak akan melepaskan tali tak kasatmata yang mengikat mereka berdua.
Karena di kehidupan selanjutnya pun, ia akan tetap mengejar Oikawa sampai ke ujung dunia.
@fakeloveros