“Gue disuruh cari guru boxing.”
Pengumuman itu ia lontarkan tak lama setelah pelayan berlalu dari meja mereka. Jarinya mengetuk-ngetuk meja tanpa sadar saat suara Patrick Droney berputar pelan melalui pengeras suara restoran— mengingatkannya sedikit terhadap pria yang khusus memasukkan beberapa lagu milik penyanyi asal Lancaster tersebut ke dalam playlist-nya.
Sebelum memori itu semakin menguasai, Oikawa buru-buru menambahkan, “lo punya kenalan yang bisa boxing, nggak?”
Akaashi tak langsung menjawab, pria itu sibuk mengetikkan sesuatu di layar iPad dengan wajah penuh konsentrasi. Oikawa memutar bola mata, lantas berusaha menarik perhatian yang lebih muda dengan melambaikan tangan secara heboh.
“Akaashi~ heeey! Dengerin, dong! Gue harus cari guru!”
“Emang belajar dari Youtube aja nggak bisa?” balas Akaashi datar tanpa mengangkat wajah sama sekali, seolah gerutunya dianggap angin lalu.
“Lo sendiri yang bilang ini big project,” tukasnya kesal seraya membuat tanda kutip dengan kedua tangan di dua kata terakhir, “tapi masa belajarnya lewat Youtube? Bisa diketawain gue nanti.”
Yang diajak berbicara hanya bergumam pelan sebelum akhirnya meletakkan benda mutakhir itu di atas meja, dan benar-benar memberinya atensi. Oikawa tersenyum lebar, lalu menunggu dengan sabar jawaban si pemilik surai hitam.
“Gue punya... kenalan, sih.”
Oikawa memiringkan kepalanya beberapa derajat ke kiri, mengamati selama sepersekian detik ekspresi ragu yang terpatri di wajah pria berkacamata itu. Sang manajer yang biasanya selalu tegas, dan tidak pernah ragu dalam menyuarakan isi pikiran, kini terlihat sebaliknya.
Setidaknya, Oikawa cukup bijaksana untuk tidak menyuarakan rasa keingintahuan yang membuncah tiba-tiba.
“Oh, ya? Siapa?” Sebagai gantinya, ia hanya bertanya ringan.
“Hmm... kakak kelas gue dulu pas di SMA,” jawab Akaashi, sedikit tidak fokus karena dicakapkan berbarengan dengan pelayan yang mengantarkan minuman mereka. Lagu sudah berganti kembali, dan kali ini Oikawa langsung mengenali suara John Mayer— tak ayal mengingatkannya akan suatu kenangan di Milan beberapa bulan lalu.
“Apa sekarang dia masih aktif?” tanyanya cepat, sebagai upaya untuk meredam pikirannya sendiri yang semakin berkelana.
“Harusnya sih masih...” jawaban Akaashi terdengar semakin pelan seiring lirik Never on The Day You Leave yang mulai masuk ke bagian reff. Hampir saja Oikawa mengeluarkan hela napas frustrasi kalau bukan diselamatkan oleh pelayan yang datang kembali untuk mengantarkan makanan mereka.
“Well? Kontak dia, dong. Bilang gue butuh guru. Gue males kalau sama orang asing, tapi ini kan kenalan lo. Jadi...” Oikawa menggantungkan kalimat untuk menunjukkan maksud tersiratnya. Suara John Mayer terdengar semakin samar begitu ia bisa memfokuskan pikiran ke arah lain; makanan.
Akaashi terlihat seperti tengah berkutat dengan sesuatu yang tidak Oikawa pahami. Dan di detik ini, dirinya tersadar betapa sedikitnya hal yang ia ketahui mengenai sang manajer. Namun, seperti ombak yang akhirnya surut, Akaashi memasang kembali ekspresi datar yang telah menjadi pemandangan Oikawa sehari-hari.
“Oke. Nanti gue coba kontak orangnya. Tapi lo yakin, kan, mau belajar langsung?”
Oikawa mengangguk, dan menemukan perasaannya berangsur membaik begitu lagu familier itu memasuki bagian akhir. Ia mengangkat garpunya, lantas menunjuk Akaashi dengan seringai lebar terpatri di wajah.
“Let's get this big project done.”
@fakeloveros