“Mana jaketnya?”
Tobio memicingkan mata saat melihat pemuda mungil itu keluar dari rumah dengan langkah ceria. Namun, Hinata hanya mengedikkan bahu, kemudian mengambil helm yang dijulurkan olehnya.
“Lagi dicuci,” jawab pemuda itu singkat.
“Bohong.”
“Beneran.”
“Semuanya?” tanyanya semakin curiga. Tetapi yang ada, Hinata hanya mengangguk sembari menunjukkan raut wajah polos.
“Gue udah boleh naik belum, nih?”
Tobio menghela napas, lalu mengedikkan dagu sebagai gestur memperbolehkan. Hinata menyunggingkan senyum lebar yang membuat mata pemuda itu tinggal segaris, lalu segera naik ke jok belakang.
“Oke! Ayo jalan, Mas!” seru Hinata seraya menepuk bahunya kencang.
“Sialan,” gerutu Tobio pelan meski ada senyum kecil ikut tersungging di wajahnya.
Anehnya, Tobio merasa udara pagi itu tidak sedingin biasanya.
“Jadi, lo udah kenal sama Om Oikawa dari kelas satu SMP? Dan dulu lo pernah ngerjain dia pas lagi deketin ayah lo?”
Tobio mengangguk— sedikit terkekeh saat mengingat memori tersebut. Terkadang ia masih merasa bersalah, tetapi Oikawa sendiri pernah bilang bahwa pria itu menganggap apa yang dilakukan Tobio justru menjadi alasan yang mendekatkan mereka.
Tobio mau tak mau harus setuju dengan alasan tersebut.
“Gila, ada-ada aja lo. Untung Om Oikawa sama ayah lo tetep jadian, ya.”
Tobio melirik ke samping— ke arah Hinata yang kembali sibuk menghabiskan dua potong roti. Hari ini pemuda itu tidak membawakan mereka nasi uduk. Bosan, katanya. Tobio sendiri tidak keberatan. Sejujurnya, dia bahkan tidak peduli. Baginya yang penting mereka bisa duduk berdua di dalam gedung olahraga dengan punggung yang menempel ke dinding. Hanya ada seberkas cahaya yang masuk dari sela-sela pintu, juga jendela besar yang terlampau tinggi untuk mereka raih. Suasana hening menyelimuti seolah mereka berada di dunia berbeda dengan yang ada di balik pintu.
Tobio menyukai ketenangan ini.
Meski begitu, selama beberapa minggu terakhir mengenal Hinata, Tobio mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu jauh dari kata tenang. Malah, sebaliknya. Hinata suka berbicara dengan oktaf yang lebih tinggi. Seolah dengan begitu, energi sang pemilik surai jingga akan tersampaikan, dan menular ke orang di sekitar. Hinata suka tersenyum. Lebar. Sampai Tobio bertanya-tanya, apakah Hinata tidak tersenyum hanya ketika sedang tidur? Hinata pun orang yang ekspresif. Emosi pemuda itu sungguh tergambarkan di wajah. Mau itu sedang senang, kesal, marah, atau kecewa. Tobio hanya tidak pernah melihat Hinata ketika sedang sedih.
Dan ia tidak ingin melihat pemuda itu bersedih.
Dia tidak sering bertemu dengan Hinata kalau sudah di sekolah. Kelas dan ekskul mereka berbeda. Keduanya hanya sesekali bersinggungan di koridor atau kantin. Tetapi lucunya, Hinata merupakan orang pertama selain Ryu dan Yuu yang mengetahui soal keluarganya. Soal Om Oikawa-nya. Untuk suatu alasan, Tobio merasa ia bisa mengatakan apa pun di hadapan sang pemuda tanpa perlu merasa takut akan dihakimi.
Bersama Hinata, Tobio seperti mendapat dorongan untuk bersikap apa adanya.
“Lo pernah pacaran, nggak?”
Seperti ada sebaskom es yang dijatuhkan di atas kepalanya, Tobio terlonjak kaget saat pertanyaan itu terdengar dari mulut yang lebih mungil. Ia menoleh, lantas bertanya curiga.
“Kenapa emang?”
“Nanya aja.” Jawaban Hinata datang terlalu singkat dan cepat— membuat Tobio menyipitkan mata semakin curiga.
“Nggak pernah.” Meski begitu, ia tetap menjawab dengan jujur.
“Serius? Sama sekali?”
Tobio mengangguk, sedikit bingung dengan ekspresi terkejut Hinata yang terlihat begitu kentara. Apakah ia telah dianggap aneh karena di umur segini belum pernah berpacaran?
“Kenapa, sih? Pacaran kan nggak wajib.” Tobio berusaha membela diri.
Hinata menggaruk kepala. Pemuda itu terlihat sedikit bingung.
“Iya sih, gue juga tau. Cuma gue pikir... lo... udah berpengalaman gitu.”
Tobio memiringkan kepala— mengamati wajah Hinata yang terllihat memerah di bawah bayangan.
“Kenapa lo mikir gitu?” tanyanya, mulai penasaran.
“S-soalnya... kemaren...” Hinata terlihat kesulitan mengeluarkan kata-kata. Pemuda itu hanya membuka dan menutup mulut dengan wajah yang semakin memperlihatkan rona.
“Kemaren...?” Tobio mengulangi satu kata itu dengan rasa ingin tahu yang semakin tinggi. Memang kemarin ada apa? Apa yang dilakukannya?
“Ah, udahlah! Males ngomong sama orang nggak peka!”
Tahu-tahu, Hinata berseru lantang sebelum membuat gerakan akan bangkit. Tobio, yang menyadari pemuda itu ingin melarikan diri, refleks menarik pergelangan tangan Hinata hingga si empunya badan jatuh terduduk kembali.
Bedanya, kali ini jarak mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Tobio bisa mendengar suara tarikan napas tercekat milik Hinata. Ia pun terkejut, tetapi langsung berusaha menguasai diri. Tangannya dengan sengaja tidak melepaskan cengkeraman di pergelangan kurus sang pemuda. Kalau memungkinkan, Tobio malah ingin mempereratnya.
“Kenapa gue dibilang nggak peka? Emang gue kemaren ngapain?”
Ada kepanikan tergambar jelas di wajah Hinata. Iris madu itu mengerjap berulang kali seraya menghindari tatapannya. Hinata sedikit memalingkan muka, tetapi gestur seperti itu justru membuat Tobio semakin bertekad untuk mendapatkan jawaban.
“Kalau nggak jawab, tangan lo nggak bakal gue lepas.”
Tobio tahu ia memakai cara licik. Dan ia membuktikan omongannya sendiri dengan mengencangkan cengkeramannya— tidak terlalu kuat sampai bisa melukai Hinata, tetapi juga tidak lembut untuk menunjukkan keseriusannya.
Tatapan Hinata bergulir ke bawah, ke arah kulit mereka yang menempel dengan sengaja untuk pertama kali. Tobio sempat berpikir Hinata akan langsung mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong atau menyingkirkannya. Namun, yang lebih mungil itu malah memperhatikan kulit mereka yang sedang bersentuhan cukup lama, sebelum mendongak perlahan.
Tidak ada lagi kegugupan yang Tobio tangkap di sana. Yang ada, justru Hinata terlihat sama penasaran dengan dirinya. Pupil sang pemuda membesar, sedikit menghilangkan warna madu yang diam-diam sangat disukainya. Hinata membuka mulut, dan melontarkan kalimat dalam oktaf rendah yang baru kali ini didengar olehnya.
“Kemaren lo bilang jangan sampe gue sakit minggu ini supaya bisa dateng ke pertandingan lo.”
Sekarang, giliran Tobio yang menahan napas. Pegangan tangannya mengendur, tetapi Hinata tidak bergerak seincin pun— seolah membiarkan rantai tak kasatmata itu tetap mengikat mereka berdua.
“Kenapa lo mau gue dateng ke sana? Apa alasannya?”
Tobio pun tahu ia memiliki koordinasi yang buruk antara otak dengan bibirnya. Atau mungkin ada suatu energi halus di dalam gedung olahraga sekolah mereka yang selalu membuatnya mengatakan apa pun tanpa berpikir panjang.
“Soalnya gue mau lo dukung gue. Dan kalau tim sekolah kita menang, tadinya gue mau ngajak lo jalan.”
Ada jeda beberapa detik.
“Hah? Ngajak jal— Eh, tapi kan kemaren gue udah— oh, anjrit!“
Tobio menunduk malu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya sementara Hinata justru kembali terlihat seperti orang kebingungan.
“Iya, tapi kemaren gue keduluan sama lo.” Tobio mendesah putus asa sebelum menarik tangannya. Kulit hangat itu tidak lagi berada di bawah sentuhannya, dan ia merasa sangat konyol sekarang. Tobio tidak berani mencari tahu sudah semerah apa wajahnya. Ia bahkan bisa membayangkan, seandainya Ryu dan Yuu mengetahui hal ini, dirinya pasti sudah ditertawai habis-habisan.
“Gue... nggak tau kalau lo...” Hinata masih terbata-bata. “Sori...” ucap pemuda itu pada akhirnya— seakan ikut menyerah.
“Udahlah, bukan apa-apa juga.”
Tobio tak sanggup lagi berada di sana. Rasanya ia ingin cepat-cepat kabur ke kelasnya. Namun, baru mengangkat bokongnya sedikit dari lantai, Hinata tahu-tahu menarik bahunya sampai ia terduduk kembali.
“Apa—”
“Hadiah,” tukas si rambut jingga cepat, kentara sekali sedang berusaha setengah mati menahan malu. “Kalau tim lo besok menang, gue bakal kasih hadiah.”
“Hadiah... apa?” Tobio bertanya, setelah meneguk salivanya dengan gugup. Tangannya mulai berkeringat saat merasakan tatapan intens Hinata di wajahnya.
“Apa aja. Selain jalan boleh... atau kalau lo mau ngajak jalan lagi juga nggak apa-apa.”
Yang terakhir memang tawaran menggoda. Kendatipun begitu, Tobio justru punya ide lain.
“Oke,” balasnya cepat sebelum ada yang berubah pikiran di antara mereka. Sebelum Hinata sendiri berubah pikiran. “Oke,” ulangnya lagi, kali ini dengan memberi sedikit penekanan.
“Oke. Gue bakal bikin tim sekolah kita menang.”
Dan itu bukanlah janji, melainkan determinasi.
@fakeloveros