24 jam 12 menit 16 detik.

Bukannya Oikawa menghitung atau apa, tetapi batasan waktu yang baginya tidak wajar itu ternyata cukup menyita perhatiannya seharian. Akaashi sampai harus mengulangi pertanyaan hingga tiga kali manakala Oikawa hanya memperhatikan layar handphone, berikut menantikan pesan dari seseorang yang tak kunjung tiba.

“Nanti malem juga ketemu, kan. Nggak usah ditungguin gitu.”

Adalah omongan sang manajer yang diutarakan dengan kesal saat Oikawa menghela napas besar untuk kesekian kalinya. Oikawa mengernyit, tetapi meletakkan juga benda mutakhir itu di dalam kantung.

Sebenernya yang lebih sibuk gue atau dia, sih?

Pasalnya, kalau ini merupakan langkah retaliasi yang diambil pria itu maka Oikawa harus memberikan standing applause paling meriah karena berhasil membuatnya termenung, terutama akan arti dari ciuman mereka tempo lalu. Ia sudah bosan melemparkan pertanyaan kenapa juga gue nyium dia balik? terhadap dirinya sendiri sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan sekarang hanyalah mempertanyakan aksi pria itu. Sulit dipercaya bahwa ada seseorang yang dengan sangat percaya diri mengatakan akan membuktikan dirinya salah.

Apa Oikawa sebodoh itu hingga percaya ada orang yang mendekatinya tanpa pamrih? Atau memang rasa percayanya saja yang sudah setipis benang?

Kecuali, jika Iwaizumi telah jatuh hati padanya. Tentu itu akan menjadi cerita lain.

Oikawa mendengus tanpa sadar hingga mengundang tatapan penuh tanya dari asisten yang tengah merias wajahnya.

Bahkan kemungkinan itu terdengar jauh lebih mustahil dibanding Terushima yang tiba-tiba tidak bersikap seperti buaya.


“Oikawa, gue dapet chat dari Kak Bokuto.”

Oikawa baru saja merebahkan diri di atas sofa setelah seharian diisi sesi syuting serta interview untuk suatu majalah ketika pengumuman itu terdengar dari mulut sang manajer. Letihnya dalam sedetik terlupakan. Oikawa menegakkan diri, lantas mengunci sang manajer dalam tatapannya.

“Apa? Lo di-chat apa? Soal Iwaizumi?”

Meski lagi-lagi memperlihatkan kernyitan tak suka, Akaashi tetap mengangguk.

“Katanya Iwaizumi nggak bisa ngajar hari ini—”

“Kenapa?!”

“....soalnya ibunya masuk rumah sakit.”

Akaashi mendongak dan menunggu responsnya sambil mengangkat satu alis.

“Oh...” Oikawa hanya sanggup bergumam singkat. Di bawah tatapan elang milik Akaashi, ia berusaha menjaga ekspresinya senetral mungkin.

“Berarti dia emang lagi sibuk aja ngurusin ibunya makanya belum sampe bales chat lo.”

Oikawa mengangguk. Meski begitu, pikirannya mulai diisi oleh banyak pertanyaan— ibunya sakit apa? Apa sakitnya parah? Sampai kapan Iwaizumi bakal izin mengajar? Apa pria itu baik-baik saja?

“Ya udah, berarti schedule lo beres habis ini. Nanti malem pake aja buat istirahat.”

Suara Akaashi terdengar begitu jauh seakan dirinya mulai menghilang ke dunia yang berbeda. Oikawa hanya menatap pantulan dirinya dalam kaca sementara samar-samar ada bunyi langkah kaki mendekatinya.

“Lo kenapa? Kok ngelamun?” Akaashi menyentuh bahunya selagi menatap khawatir. “Capek, ya? Mau balik sekarang?”

“Boleh, nggak,” Oikawa memotong cepat sebelum berubah pikiran, “gue minta nomor Bokuto?”

Ada keheningan yang membungkus atmosfer.

Oikawa dengan panik berusaha membuat alasan di dalam kepala seandainya Akaashi bertanya. Ia sendiri berkali-kali meyakinkan bahwa ini dilakukan hanya karena ingin memastikan latihannya akan tetap berjalan lancar. Kalau Iwaizumi tidak ingin membalas pesannya, mungkin Bokuto bisa membantunya nanti.

Setelah keheningan tak berujung tersebut, Akaashi mengetikkan sesuatu di layar handphone sebelum ada bunyi notifikasi yang berasal dari miliknya sendiri.

“Tuh, udah gue kirim. Gue keluar dulu ya, mau ngabarin yang lain kalau kita mau balik sekarang.”

Tanpa berbasa-basi lebih jauh, Akaashi melenggang santai menuju pintu. Oikawa menatap punggung sang manajer dengan mulut sedikit terbuka. Agaknya, saat pria itu mengatakan sudah lelah mengurusinya, mungkin inilah yang dimaksud.

Oikawa tidak tahu harus menyikapi hal itu sebagai berita baik atau buruk.

Beberapa menit ia habiskan dengan terbengong-bengong sebelum tersadar ada yang harus dilakukannya detik itu juga.

Ia menyimpan kontak yang sudah diberikan, lantas tanpa ragu memencet simbol berwarna hijau. Begitu sambungannya diterima, Oikawa menghela napas lega.

“Halo, Bokuto?”


“Gue nggak akan masuk artikel berita, kan?”

Suara panik itu melontarkan pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya. Oikawa memutar kedua bola mata dengan lelah tanpa langsung memberikan jawaban. Kendati begitu, tangannya tetap terangkat untuk merapatkan topi dan syal yang menutupi hampir setengah wajahnya kala mereka berjalan bersisian menuju suatu bangunan berwarna putih.

“Kalaupun masuk, terima aja. Toh, digosipinnya sama gue ini,” jawabnya tenang setelah jarinya memastikan kacamata hitamnya masih berada di tempat yang sama.

“Lo gila, ya?” Suara Bokuto justru terdengar kian panik.

Oikawa mendecak sebal, lantas mempercepat langkah. “Kalau gitu, ayo buruan jalannya.”

Berlawanan dengan perkataannya, Oikawa sebenernya merasakan kepanikan itu sendiri. Berulang kali rasanya ia ingin memutar langkah dan meminta Bokuto untuk mengantarnya kembali ke apartemen. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan cara yang bisa ia lakukan hanyalah membuat bubur itu menjadi lebih enak.

Ia sendiri tidak menyangka rencana impulsifnya ini disetujui oleh Bokuto. Awalnya, Oikawa hanya berbasa-basi menanyakan keadaan Iwaizumi setelah sang ibu dirawat. Namun, Bokuto malah menawarkan untuk mengantarnya langsung ke rumah sakit jika Oikawa benar-benar ingin bertemu langsung.

“Jangan salah paham,” ucap pria itu melalui sambungan telepon sore tadi. “Gue tau lo perlu ngobrol sama Iwaizumi soal... masalah kemaren. Mungkin ini emang bukan waktu yang bener-bener pas, tapi kalau semakin ditunda, kalian sendiri nanti yang bakal susah.”

Oikawa sedikit banyak paham alasan Akaashi memiliki sejarah dengan pria bertubuh kekar tersebut. Lidahnya sungguh gatal ingin bertanya, tapi biarlah itu disimpan untuk lain waktu.

“Iwaizumi bener ada di rumah sakit, kan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. Ia tidak ingin kedatangannya menjadi sia-sia.

Bokuto mengangguk mantap. “Udah gue chat sebelum ke sini. Katanya dateng aja kalau mau nengokin.”

Oikawa menggigit bibir dengan ragu sebelum menguraikan pertanyaan selanjutnya. “Ibunya... emang udah dari lama sakit-sakitan gitu, ya?”

“Lumayan,” Bokuto memulai, “tapi seinget gue, mulai sering begini tuh semenjak ketahuan mendiang suaminya ninggalin utang banyak. Dan sekarang itu jadi beban Iwaizumi buat ngelunasin semuanya.”

Oikawa tidak berani bertanya apa-apa lagi. Dia hanya mengikuti langkah cepat Bokuto menuju meja resepsionis. Meski perawat yang menyambut sempat menatapnya curiga, keduanya tetap diperbolehkan masuk tanpa masalah. Mengingat langit di luar sudah gelap, mereka hanya memiliki sedikit waktu sebelum jam besuk berakhir.

Berakting di depan kamera selama bertahun-tahun ternyata tetap tidak mampu menghilangkan rasa gugupnya.

“E-eh, tunggu sebentar!” Oikiawa berbisik panik tatkala mereka sudah tiba di depan pintu dengan nomor yang dimaksud. Tangannya menahan kepalan Bokuto yang sudah terangkat setengah. Pria itu tidak jadi mengetuk, lantas menoleh ke arahnya dengan bingung.

“Apa?”

“B-bisa, nggak, lo aja yang masuk... terus suruh Iwaizumi keluar?”

Bokuto mengerjap pelan. Dalam bayangannya, pria itu terlihat seperti burung hantu berbulu putih dengan iris emas yang menyapunya penuh teliti. Oikawa bergerak impulsif karena belum tahu apa yang akan dikatakannya kepada Iwaizumi saat bertemu nanti.

“Lo nggak mau sekalian nengok ibunya?”

“Bukannya nggak mau. Gue—”

“Kak Bokuto?”

Mereka sama-sama menoleh ketika ada suara halus dari seorang perempuan terdengar dari samping. Matanya menangkap sosok gadis remaja dengan rambut sebahu yang bagian puncaknya diikat beberapa. Gadis itu sepertinya mengenal Bokuto karena yang dipanggil pun langsung menyapa dengan penuh semangat.

“Hitoka! Halo!”

Hitoka? Oikawa menelengkan kepala ke kiri, merasa tidak asing dengan nama tersebut.

“Halo...” Yang bersangkutan menjawab sopan seraya membungkuk beberapa derajat. Netra sang gadis bergulir ke arahnya dengan sedikit ragu. “Kak Bokuto mau jenguk ibu?”

“Oh, iya! Tapi sekalian mau ketemu sama kakak kamu, nih. Ada di dalem, kan?”

Dan kepemahaman langsung melintas di otaknya.

Kakak adek, kok, tapi nggak mirip, ya...? Apa jangan-jangan mereka—

“Oh, kakak tadi lagi keluar sebentar juga, katanya mau beli minum. Harusnya sih sekarang udah balik...”

Berbarengan dengan kalimat terakhir tersebut, matanya tak sengaja menangkap sosok ber-hoodie hitam yang berjalan ke arah mereka. Irisnya melebar begitu mengenali sosok tegap tersebut. Kegugupannya yang tadi sempat lenyap, kini muncul lagi ke permukaan.

Saat Iwaizumi mengangkat wajah, pandangan mereka langsung bertemu.

“Loh, itu dia! Weh, Iwa!” Bokuto melambaikan tangan penuh semangat seakan baru bertemu pria itu setelah sekian lama. Iwaizumi tidak membalas, tetapi pria itu sempat menatapnya lama sebelum beralih ke Bokuto dan sang adik yang ikut berdiri di depan pintu.

“Udah dateng, toh.”

Padahal hanya tidak bertemu sehari, tetapi Oikawa rasanya sudah hampir melupakan suara pria itu.

“Kenapa pada berdiri di luar? Masuk aja,” sambung pria itu lagi saat dilihat tak ada satu pun yang bergerak. Hitoka buru-buru mengangguk dan lagi-lagi meliriknya penuh rasa ingin tahu sebelum menghilang di balik pintu. Oikawa bertanya-tanya dalam hati, sebagus itukah penyamarannya hingga adik Iwaizumi (yang notabene salah satu penggemarnya) sampai tidak mengenali? Bokuto kemudian menyusul setelah memberi anggukan singkat padanya. Bibir pria itu membentuk kata se-ma-ngat yang mau tak mau memunculkan sedikit senyum di wajahnya.

Kini tinggal Oikawa dan Iwaizumi yang berada di luar.

“Ngapain lo ikut ke sini? Manajer lo mana?”

Pertanyaan itu sukses membuat Oikawa kembali ke realitas. Jalannya kaku ketika menyingkir dari depan pintu, tetapi tekadnya bulat manakala sudah berhadapan dengan si pemilik surai hitam.

“Akaashi nggak tahu gue ke sini,” tukasnya hati-hati. “Lo nggak bales chat gue, sedangkan kita perlu ngobrol. Gue ngerti kalau ini mungkin bukan waktu yang pas. Kalau lo emang belum bersedia, gue bisa tunggu. Tapi, please, seenggaknya lo bisa bales chat gue, kan?”

Ketegangan itu menggantung di udara— mencekat napas dan menceloskan jantung seakan Oikawa tengah dilempar dari jurang yang teramat tinggi. Kakinya menyuruhnya untuk kabur dari sana, tetapi hatinya menetapkan untuk tinggal dan mendengar jawaban pria itu.

“Apa yang perlu diomongin? Bukannya lo nggak percaya sama kata-kata gue?” Balasan pria itu terdengar sedikit sinis selagi mendudukkan diri di salah satu kursi panjang. Oikawa mengikuti karena menangkap gestur tersebut sebagai persetujuan untuk berbincang.

“Boleh gue tanya sesuatu?”

Iwaizumi mengangguk. Netra pria itu tertuju pada lantai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantung. Oikawa memiringkan tubuhnya sedikit; ada déjà vu yang mengingatkannya ke suatu adegan saat mengobati luka pria itu.

“Lo bilang mau bantuin gue... itu maksudnya gimana?”

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu seolah sudah menebak pertanyaan itu akan datang. “Daripada lo main-main sama banyak cowok di luar sana sambil pasang topeng dan makin munculin banyak gosip, kenapa nggak... settle aja sama satu orang?”

Oikawa yakin mulutnya sudah terbuka lebar.

“Dan orangnya itu... lo?”

Iwaizumi melipat kedua tangan di depan dada. “Iya. Gue.”

“Lo lagi bercanda, kan?”

“Menurut lo sendiri,” seloroh pria itu tiba-tiba sembari mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya, “kenapa malem itu lo nggak bisa nolak?”

Oikawa membuka mulut, tetapi menutupnya kembali sedetik kemudian saat tak menemukan jawaban yang tepat.

“Mau gue kasih tahu jawabannya?”

Tahu-tahu, pria itu beringsut maju hingga Oikawa bisa memeta dengan jelas hijau yang hampir menghilang di balik bayangan. Netranya sekilas menangkap tatapan sang pria yang mengarah ke bibirnya sebelum kembali naik.

“Soalnya lo ngerasain juga. Iya, kan?”

“Ngerasain apa?” Oikawa bertanya balik sembari membetulkan posisi duduknya. Entah ini hanya khayalannya, atau pria itu memang terlihat semakin dekat? “Gue nggak ngerti maksud lo.”

Iwaizumi tersenyum tipis. “Gue yakin lo nggak bodoh sampai harus didiktein semuanya satu-satu.”

Oikawa menggeleng. Napasnya tercekat di tenggorokan. Tidak. Tidak. Tidak. Dia tidak mau mengaku.

“Kalau lo nggak ngerasain apa-apa, harusnya lo nggak usah repot-repot dateng ke sini. Lo bahkan bisa minta ke Akaashi buat langsung ganti guru. Lo nggak akan ketemu sama gue lagi, dan semua masalah bakalan beres.”

“Tapi lo bisa aja... nyebarin soal kita ke media—”

Tawa yang keluar dari mulut Iwaizumi secara instan mendiamkannya. Namun, tidak ada humor sama sekali di dalam sana. Oikawa tertegun dan mengawasi dengan waspada saat pria itu kian memajukan badan.

“Oikawa, apa gue keliatan kayak orang yang suka nyebarin gosip? Lo nggak liat sekarang ibu gue lagi dirawat di rumah sakit? Ada banyak hal yang lebih penting buat gue urusin sekarang daripada itu.”

Oikawa menyetujui, meski tak menyuarakannya secara gamblang.

“Nggak apa-apa, pikirin aja dulu tawaran gue. Gue tau yang kemaren emang kesannya terlalu maksa. Maaf kalau itu udah bikin lo kaget.”

Dirinya mana menyangka Iwaizumi tiba-tiba akan melontarkan permintaan maaf. Untuk pertama kalinya, pria itu pun terdengar benar-benar tulus hingga Oikawa tidak bisa menemukan celah untuk memberi penyanggahan.

“Dan lo bilang... nggak bakal minta apa-apa buat bantuin gue?” lirihnya terasa bergaung di koridor walau yang bisa mendengar tetaplah pria di hadapannya. Iwaizumi terdiam beberapa saat dan Oikawa harus menahan keterkejutan manakala tangan pria itu terangkat untuk membelai pipinya lembut.

“Apa lo sebegininya nggak percaya sama orang? Sampai ada yang mau bantuin aja, lo tanyain dulu niat di baliknya? Nggak semuanya punya maksud buruk waktu nawarin bantuan, Oikawa. Lo harus belajar soal itu.”

Oikawa tak sanggup berkata-kata sementara permukaan kasar kulit tangan pria itu tetap bergerak lambat di atas miliknya. Mereka berada di posisi tersebut untuk waktu yang cukup lama sebelum bibirnya bergerak di luar kesadaran penuh.

“Oke. Gue bakal pikirin tawaran itu.”

“Bagus.”

Lawan bicaranya tersenyum puas sembari menciptakan jarak. Oikawa menghela napas dan menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering. Entah apa yang baru saja terjadi, tapi rasanya seperti memasukkan kedua kaki ke dalam permukaan air dingin dan ia tahu bisa terjatuh kapan saja tanpa aba-aba.

“Boleh gue tanya sesuatu?”

Oikawa mengangguk, hampir saja dirinya tersenyum karena itu pertanyaan yang sama persis dilontarkannya di awal.

“Apa gue boleh cium lo lagi? Buat mastiin aja jawaban lo nanti nggak akan berubah.”

Padahal hanya ada dua pertanyaan, tetapi otaknya sungguh sulit meregistrasi sehingga dirinya hanya mampu tergagap.

“H-hah? Kan lo belum tahu gue bakal jawab apa!”

“Tahu, kok. Udah keliatan dari sekarang. Tapi nggak apa-apa, gue bakal tetep ngasih lo waktu buat mikir.” Pria itu berseloroh santai sembari menjulurkan tangan untuk melepas kacamata penyamarannya. “Hebat banget nyamarnya, Hitoka sampe nggak ngenalin lo.”

Oikawa tak menjawab. Lidahnya seperti dicuri kucing malam itu. Matanya hanya mengikuti gerak tangan sang pria yang kini ikut menurunkan syal miliknya.

“Boleh?” Iwaizumi bertanya sekali lagi. Senyum yang barusan sempat terpatri telah memudar. Jika kali pertama persetujuan darinya ditanya dalam penuh tuntutan, kali ini hanya kesabaran yang terlihat di wajah lelah milik pria itu. Oikawa baru menyadari, Iwaizumi memiliki kantung mata yang cukup tebal. Pastilah pria itu sangat kelelahan karena harus bekerja sekaligus bertanggung jawab atas keluarga demi melunasi utang yang ditinggalkan sang ayah.

Anggukan itu ia berikan tanpa berpikir lebih jauh.

Persetan, ucapnya dalam hati seraya merasakan jarak itu tertutup dengan bibirnya yang dikulum lambat. Ada rasa kopi yang bisa ia kecap secara samar menyatu dengan napas bergetarnya ketika pria itu memiringkan kepala untuk memperdalam ciuman mereka. Tangan pria itu lagi-lagi terangkat untuk merengkuh salah satu sisi wajahnya.

Ini sungguh berbeda dengan ciuman pertama mereka yang sudah mengabur di dalam ingatan karena cepatnya kejadian itu berlangsung. Untuk kali ini, amat terasa bahwa Iwaizumi bertindak lebih berhati-hati seakan dirinya adalah keramik yang cepat rapuh.

Saat sengalnya menjadi pertanda untuk memisahkan diri sejenak, Iwaizumi berpindah ke telinganya, lalu membisikkan ultimatum di sana.

“Aku tunggu jawaban kamu.”


@fakeloveros