“Oke. Jadi, di sini aja?”

Pertanyaan yang muncul dari pria di sebelahnya berhasil memecah lamunan Oikawa. Ia menoleh, lantas memasang senyum termanisnya begitu sang executive producer balik menatapnya lekat.

“Iya, di sini aja. Makasih ya, Teru. Sorry banget jadi ngerepotin.”

Pria yang lebih muda itu tertawa, lalu menjulurkan satu tangan ke arah Oikawa untuk membetulkan letak kerah jaketnya yang sedikit miring. Oikawa tetap memasang muka riang walau dalam hati ia meringis pelan.

“It's okay. Yang penting, kan, nanti malem acara dinner kita tetep jadi...?”

Oikawa mengangguk, netranya kali ini bergulir ke arah lingkungan di sekitar gym yang tampak hening— memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana. Namun, untuk berjaga-jaga, sengaja dirinya menghubungi Terushima untuk diantarkan ke tempat ini. Karena kalau tidak begitu, bisa lebih gawat apabila dirinya ketahuan datang ke tempat ini sendirian.

Lebih baik ada rumor soal Oikawa Tooru yang ketahuan pergi malam-malam dengan executive producer-nya dibandingkan memunculkan kecurigaan bahwa ia punya affair baru di tempatnya berlatih boxing— persis seperti yang ditakutkan Akaashi. Setidaknya untuk sekarang, Oikawa ingin bermain aman.

“Oke. Kayaknya aman, nih. Aku turun dulu, ya,” pamitnya kepada si pengemudi sebelum membuka pintu mobil. Dengan langkah cepat, Oikawa segera masuk ke dalam bangunan. Untungnya barusan pesannya sempat dibalas oleh Iwaizumi sehingga tidak perlu khawatir kedatangannya akan menjadi sia-sia.

Masih dengan langkah yang sama, Oikawa menaiki tangga dan menelusuri koridor yang kini telah terpatri jelas di otaknya. Pun, ia tidak mencemaskan akan bertemu secara tak sengaja dengan orang lain karena Iwaizumi sendiri lagi-lagi telah meyakinkan bahwa hanya ada pria itu di sana.

Oikawa tidak tahu apa yang merasukinya. Padahal pertemuan terakhirnya dengan pria itu berujung pada suatu ketegangan yang belum terselesaikan. Meski begitu, Oikawa justru berjalan dengan jantung berdegup penuh antisipasi. Entah kenapa, ia justru ingin cepat-cepat bertemu dengan sang atlet— sesuatu yang tidak pernah terjadi di hidupnya, bahkan dengan pria lain.

Oikawa membuka pintu sedikit lebih bersemangat dari yang diinginkan. Matanya tak perlu menelusuri lebih jauh karena pemandangan Iwaizumi yang sedang duduk di kursi panjang dekat dinding langsung menarik perhatiannya. Namun, senyumnya sedikit memudar begitu menyadari apa yang tengah dilakukan pria itu.

Kala masih memutuskan kalimat apa yang sebaiknya diucapkan pertama kali, netra hijau milik sang atlet tak ayal jatuh ke arahnya. Oikawa, yang masih berdiri ragu di ambang pintu, hanya mengangkat tangan untuk memberi lambaian pelan. “Eh... hai? Halo?”

“Masuk aja,” balas pria itu singkat tanpa menghentikan gerakan tangan saat mengobati luka-luka lebam di wajah. Oikawa pun akhirnya mendekati pria itu seraya mengamati kondisi yang begitu terpeta jelas.

“Itu... nggak apa-apa diobatin sendiri? Emang nggak perlu ke rumah sakit?”

Iwaizumi mendengus. Tangan sang pria menyingkirkan beberapa barang dari atas kursi sebelum mengedikkan dagu ke arah sisi kosong tersebut.

“Tuh, duduk.”

Oikawa patuh dan mendudukkan diri di sana tanpa mengalihkan atensi sama sekali dari pria yang terlihat tenang meski memiliki begitu banyak luka di wajah.

“Dan, nggak, ini nggak perlu sampai dibawa ke rumah sakit. Mungkin iya, kalau gue udah sampai patah tulang,” sambung pria itu tak beberapa lama kemudian.

“Tapi apa lo pernah sampai patah tulang?” tanya Oikawa tanpa bisa menahan diri.

“Kalau pernah, gue nggak akan ada di sini sekarang, ngobrol sama lo.”

Oikawa mengatupkan bibir, dalam hati membenarkan ucapan pria tersebut.

“Ngapain lo nyariin gue jam segini? Apa manajer lo tahu kalau lo ke sini?”

Pertanyaan gamblang Iwaizumi sedetik kemudian membuat Oikawa bergerak tidak nyaman. Tangannya naik dan secara refleks membetulkan rambutnya— sebuah kebiasaan yang kerap terjadi apabila dirinya sedang dilanda gugup. Ia berdeham beberapa kali sebelum melontarkan jawaban yang memang menjadi tujuan kedatangannya malam itu.

“Lo, kan, menang taruhan. Tapi lo sendiri belum bilang kita taruhan apa di sini.”

“Dan lo masih setuju? Gimana kalau gue minta yang aneh-aneh?”

Oikawa menurunkan tangannya perlahan. Netranya terpaku pada permukaan mengkilap ring besar berwarna biru yang lagi-lagi menimbulkan pertanyaan dalam dirinya, apakah berdiri di sana sama seperti berada di atas panggung? Apakah sama seperti berdiri di bawah sorotan lampu? Apakah sama seperti menerima ekspektasi dari orang-orang?

Oikawa sesungguhnya ingin bertanya, tetapi Iwaizumi yang masih menunggu jawabannya, lagi-lagi membangkitkan suatu perasaan asing. Dalam diam, pria itu seakan mendorongnya untuk melontarkan apa pun itu yang selama ini telah ia pendam sendirian.

“Aneh-anehnya lo... paling apa, sih?” Oikawa tertawa hambar. “Gue udah biasa sama orang-orang yang minta banyak hal— entah itu duit, posisi penting, atau sekadar pelampiasan. Jadi, kalau apa yang lo mau emang ada di salah satu itu, mending kasih tau aja sekarang. I have nothing to lose juga, kok.”

Jawabannya pastilah terdengar menyedihkan. Oikawa sendiri berusaha menutupinya di balik kedikkan bahu dan raut wajah datar. Walau begitu, Oikawa tidak akan berperangai naif dengan berharap Iwaizumi akan meminta hal lain.

“Nothing to lose, ya...” gumam sang atlet dari sebelahnya diikuti sebuah hela napas berat. “Di saat lo beranggapan nggak akan kehilangan apa pun, gue justru punya banyak hal yang ditakutkan bakal hilang. Lucu, ya, gimana dunia kita berlawanan arah?”

Oikawa tertegun. Saat ia menoleh karena ingin tahu ekspresi macam apa yang ditampilkan oleh si pemilik surai legam, Iwaizumi tengah menyenderkan tubuh dengan mata terpejam seolah seluruh beban dunia ada di bahu pria itu. Oikawa mengamati dan berkesimpulan ternyata bukan hanya dirinya yang merana.

Apakah kejam, jika Oikawa justru bersyukur karena tak merasa sendirian?

“So... lo mau apa dari gue?” tanyanya dengan nada kembali dibuat ringan— berusaha menetralkan suasana agar tak lagi melankolis. “Tapi kalau misalnya lo minta gue naikin fee lo, gue beneran bisa—”

“Lepas topeng lo.”

Oikawa berhenti. “Apa?”

“Gue mau setiap kita ada di sini, pas latihan, lo bisa lepas topeng palsu itu. Gue nggak mau liat Oikawa Tooru yang aktor terkenal atau penuh skandal itu, tapi gue mau liat Oikawa Tooru yang lagi berusaha sekeras mungkin buat mempertahankan passion sekaligus coping mechanism-nya.”

Oikawa tak bergerak— Bukan tak ingin, tetapi ia tak mampu bergerak. Dentuman liar di dadanya semakin mengeras hingga ia yakin mereka tengah berada di atas roller coaster yang siap turun dan bukannya ruangan dengan ring besar di tengah-tengah. Mulutnya membuka, tetapi tak ada suara yang keluar dari sana.

“Gue cuma mau itu. Bukan duit, kuasa, atau bahkan menjadikan lo... pelampiasan,” Iwaizumi mengulangi ditemani satu lirikan singkat sebelum kembali menghadap ke depan. Oikawa mengerjap dan menjilat bibirnya yang terasa sangat kering.

“Kenapa...?”

Hanya satu silabel itu yang mampu ia keluarkan.

Iwaizumi mengedikkan bahu. Sepatu sang pria membuat ketukan di atas lantai yang menimbulkan gema. “No spesific reason. Cuma tingkah laku lo di pertemuan pertama kita kemaren bikin gue gemes aja.”

Oh, wow. “Apa gue senyebelin itu di mata lo?”

Iwaizumi memikirkan pertanyaan itu sepersekian detik sebelum menggeleng singkat.

“Nggak. Tapi gue ngerasa, lo sengaja bertingkah kayak gitu biar keliatan kuat aja. Biar cocok sama image yang selama ini udah dibangun orang-orang. Jadinya, ya, lo keliatan bergantung banget sama persona itu.”

“Dan itu... bikin lo gemes?” bisiknya tak percaya.

Iwaizumi akhirnya menoleh dan dengan alis terpaut bingung, pria itu membenarkan. “Yah, kita bakal ngabisin waktu latihan berdua buat beberapa bulan selama film lo jalan, kan? Jadi, bukannya lebih enak kalau kita sama-sama nyaman?”

Oikawa berusaha meregistrasi pernyataan itu baik-baik. Ia teringat dengan orang-orang yang selama ini selalu setia bekerja dengannya; Akaashi, para stylist-nya, bodyguard, supir, serta orang-orang yang sering ia temui di lokasi syuting atau pemotretan. Meski begitu, tak pernah ada yang melayangkan tawaran seperti ini. Akaashi, mungkin, memang selalu memahari sikapnya yang semena-mena. Namun, manajernya itu pun tak pernah sampai bersikeras. Orang-orang selama ini seolah menerima dengan lapang dada sikapnya yang seperti itu.

“Oke. Gue bakal lakuin itu.”

Oikawa tersenyum dan perasaannya sungguh ringan bagaikan bulu-bulu halus yang berterbangan. Ia memperhatikan Iwaizumi yang sepertinya sudah menganggap pembicaraan itu usai. Netranya mengikuti manakala sang pria meraih plester yang ada di dalam tas.

“Mau gue pasangin?”

Sebelum Iwaizumi sempat menolak, Oikawa buru-buru meraih benda tipis tersebut lantas membukanya. Ia beringsut lebih dekat saat tanpa banyak protes, Iwaizumi memiringkan badan supaya bisa duduk berhadapan dengannya.

“Mau gue pasangin di mana?” tanyanya dengan senyum yang masih terpatri di wajah. Iwaizumi memandangnya beberapa detik sebelum menunjuk satu luka di kening dengan ujung jari.

Oikawa kian mengikis jarak. Matanya terfokus pada kulit terbuka yang masih agak basah dan mengeluarkan sedikit darah.

“Pasti sakit...” lirihnya seraya dengan berhati-hati menempelkan penutup luka di atas sana. Iwaizumi diam saja, tetapi ia bisa merasakan embus napas hangat pria itu menerpa lehernya.

“Kalau luka-luka kayak gini... apa lo selalu ngobatin sendiri?”

“Gue nggak suka ngerepotin yang lain.”

Oikawa bergidik tanpa sadar saat bariton Iwaizumi terdengar amat dekat di telinganya. Ia bahkan mulai merasakan tatapan pria itu manakala tangannya masih berusaha memastikan perekat itu tidak akan terlepas.

“Sekali-kali... nggak apa-apa buat minta tolong ke orang lain, padahal,” tukasnya pelan sebelum melirik ke bawah dan menemukan netra hijau yang berdilatasi dalam bayangannya itu memberi tatapan intens.

“Ke siapa contohnya?”

Oikawa menelan ludah. Ia tidak sadar jaraknya sudah sedekat itu dengan Iwaizumi. Secara samar, dirinya bahkan bisa menghidu aroma sabun yang menguar dari tubuh sang atlet. Itu bukanlah aroma parfum mahal seperti yang sering digunakan olehnya, atau tercium begitu pekat saat tadi Oikawa berada di dalam mobil Terushima. Itu hanya aroma segar seseorang yang baru keluar dari kamar mandi, lalu bercampur dengan wangi maskulin natural milik Iwaizumi.

Hanya perasaannya, atau barusan Iwaizumi memang menatap bibirnya sekilas?

“Ke—”

TRING TRING TRING

Oikawa terlonjak, tubuhnya otomatis beringsut mundur dengan tangan yang panik mencari gawai di dalam kantong jaket. Begitu mengeluarkan benda pipih itu dan membaca pesan beruntun yang datang secara sekilas, erangannya langsung mengisi ruangan.

“Aduh, kayaknya gue harus balik sekarang. Gue ketahuan Akaashi nggak ada di apartemen. Shit. Cepet banget, deh, ketahuannya.”

“Oh, oke.”

Mereka sama-sama berdiri dan berhadapan dengan canggung dalam keheningan. Iwaizumi bagaikan enggan untuk menatapnya, begitu pula Oikawa. Barulah saat Oikawa memberanikan diri untuk bersuara lagi, manik mereka bersibobrok.

“Gue belum bilang selamat secara langsung karena lo udah menang hari ini. Lo keren banget tadi siang! Nanti lo bakal ngajarin gue kayak gitu juga, kan?”

Iwaizumi menyeringai dengan gestur yang terlihat lebih santai. “Yah, kalau lo sanggup, tapi. Karena itu berarti latihannya nggak bakal gampang.”

Oikawa menyunggingkan senyum lebar; kali ini tanpa kepura-puraan sedikit pun.

“Kalau gurunya lo, gue yakin bakal cepet jago.”

Bukan Oikawa Tooru yang seorang aktor terkenal penuh skandal, melainkan Oikawa Tooru yang tengah berusaha bertahan.


@fakeloveros