“Wow... Bagus banget...”

Walau pujian tersebut sudah terlontar lebih dari tiga kali dari mulutnya, rasanya tetap tidak cukup untuk mengekspresikan kekaguman terhadap pemandangan di depan matanya. Kelopaknya mengerjap berulang kali sebagai upaya untuk memastikan bahwa spektrum yang terhampar di depannya tidak akan berubah.

“Kalau dibuka dikit lagi, lalat bisa masuk, tuh.”

Oikawa buru-buru mengatupkan bibir seiring tawa pelan yang terdengar dari pria di hadapannya. Kakinya bergerak untuk menendang Iwaizumi dari bawah meja, tetapi aksinya itu malah mengundang tawa yang lebih kencang dari sang suami.

“Jangan gitu, dong! Udah lama tau aku nggak ke pantai kayak gini,” belanya sambil mendengus kesal. Tangannya meraih gelas berisi cairan berwarna putih yang tinggal seperempat dan di seberangnya, Iwaizumi hanya tersenyum selagi menatapnya lekat.

Oikawa mengalihkan perhatiannya kembali ke arah pantai. Terkadang, manik pria itu bisa membuatnya panas-dingin seolah-olah mereka masih remaja berusia belasan tahun. Padahal, keduanya sudah menikah hampir selama dua tahun. Jadi, bukankah seharusnya Oikawa sudah terbiasa dengan atensi tak terbagi pria itu terhadapnya?

“Mood kamu kayaknya udah mendingan, ya, sekarang?” tanyanya tanpa bisa menahan diri.

“Maksudnya?”

“Maksudnya...” Oikawa mengeja dengan lambat; berusaha memprediksi reaksi pria itu setelahnya, “semenjak... kejadian di kantor aku waktu itu, kamu keliatan tegang banget soalnya.”

Pernyataannya tidak langsung menerima balasan. Iwaizumi lagi-lagi hanya menatapnya meski senyum di wajah pria itu sedikit memudar. Cahaya remang-remang yang menemani acara makan malam mereka di salah satu restoran tepi pantai itu justru menambah kesan maskulin si pemilik surai hitam. Oikawa tidak yakin, apakah bulu kuduknya yang berdiri merupakan hasil dari terpaan angin laut, atau pandangannya yang masuk ke perangkap pria itu.

Oikawa berusaha tidak tersentak saat tangan Iwaizumi meraih miliknya yang berada di atas meja. Ia pikir pria itu hanya akan menggenggamnya seperti biasa, tetapi tatkala telapaknya yang dingin dibawa ke salah satu sisi wajah, lalu Iwaizumi menelengkan kepala dan menghidu dalam bagai mencari sumber oksigen, barulah Oikawa menahan napas.

Seandainya public display of affection merupakan hal yang lumrah bagi mereka, Oikawa pasti sudah memafhumi sikap suaminya sekarang ini.

Begitu Iwaizumi membuka mata yang sempat terpejam dan untuk kesekian kali mengobservasi tanpa suara seakan Oikawa adalah objek paling menarik dari segala pemandangan, barulah bibir pria itu ikut berfungsi.

“Seandainya ada cara yang lebih efektif selain ini,” Iwaizumi menyentuh cincin perak yang melingkar manis di jarinya sebagai penekanan di silabel terakhir, “buat nunjukin kalau kamu itu punya aku, pasti manajer kamu itu nggak akan berani macem-macem.”

Oikawa menggigit bibir. Ia mengerahkan usaha paling keras agar tidak mengeluarkan reaksi yang bisa mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Oikawa bagai diingatkan bahwa ada maksud tersembunyi yang belum diketahuinya dari liburan kali ini. Namun, pertanyaan atau pembelaan apa pun yang tadinya ingin ia lontarkan, tertelan begitu saja manakala sang suami ganti meraih pipinya dan memberi usapan lembut di sana.

“Wajah kamu merah banget. Aku takut kamu bakal masuk angin kalau kita kelamaan di sini. Gimana kalau kita balik sekarang?”

Padahal itu pertanyaan biasa— hanya maksud harfiah yang tidak akan diartikan macam-macam olehnya di hari biasa. Tapi ini Iwaizumi yang berbicara— terlebih di suasana seperti sekarang —dan bodoh sekali nampaknya apabila Oikawa tidak mengerti arti tatapan di balik iris hijau tersebut.

Oikawa terbatuk. Tidak kencang. Tapi cukup untuk membuat salah satu sudut di bibir Iwaizumi melengkung naik seakan reaksinya sangat menghibur.

“Kamu mau balik sekarang?” Oikawa dengan bodohnya malah balik bertanya.

Iwaizumi bergumam panjang, lantas melirik ke arah langit yang memang sudah menampilkan warna obsidian. “Boleh. Lagian udah mulai muncul bintang juga tuh di langit.”

Ada pertanyaan apa hubungannya? yang sudah menempel di ujung lidah. Tapi rasa-rasanya, Oikawa lebih baik tidak mengetahui maksud omongan tersebut, atau senyum misterius yang lagi-lagi terpatri di wajah tampan sang suami.

“Oke. Ayo balik sekarang.”

Oikawa tidak bisa mencari alasan. Pun, tidak tahu mengapa instingnya mengatakan ia tidak seharusnya semudah itu memberi persetujuan. Kendati begitu, ketika Iwaizumi berdiri tanpa sekalipun melepas tautan tangan mereka, Oikawa sadar ia bukan merasa takut ataupun tegang.

Antisipasi itu muncul kembali ke permukaan. Kali ini lebih kuat dan membuatnya tubuhnya dikelilingi panas untuk alasan yang belum ia yakini seratus persen.

Puncaknya adalah begitu mereka sudah berada di dalam taksi dan Iwaizumi duduk merapat di sampingnya. Oikawa nyaris saja kehilangan komposur manakala sang suami menggigit telinganya pelan, lalu dilanjutkan dengan bisik yang justru menelan segala suara di sekitar mereka.

“Nanti pas kita sampai, bakal aku tunjukin caranya ke kamu.”

Oikawa tidak perlu bertanya, cara apa yang dimaksudkan oleh Iwaizumi.


Kasian deh digantung lagi...

@fakeloveros