“Bo, coba lo cek jadwal tahun baru nanti, siapa aja yang kosong. Kan member baru harus siap-siap buat dapetin license B.”
Ucapan Saeko yang sedikit teredam syal membuat Bokuto harus mendongak dari aktivitas mengikat tali sepatunya. Ruangan di belakang mereka yang sudah gelap, mengindikasikan bahwa tidak apa siapa pun lagi di sana. Malam itu terasa lebih hening karena satu-satunya orang yang biasa tinggal lebih lama, kini sedang izin beberapa hari.
“Ooh, oke. Besok gue cek,” jawabnya singkat seraya menegakkan tubuh dan membetulkan letak tas selempangnya. Saeko yang sudah berjalan lebih dulu, lantas kembali berbicara.
“Hmm, terus… si Iwa izin sampai kapan, deh?”
“Dia nggak ngasih tau lo?”
Wanita berambut pendek itu hanya mengedikkan bahu. “Kayaknya kelupaan tuh orang. Yah, nggak apa-apa, sih, gue tau dia pasti lagi repot ngurusin ibunya. Eh, tapi berarti dia juga izin ngajar Oikawa, dong?”
“Harusnya, sih—“
Perkataan selanjutnya berhenti di pangkal tenggorokan. Pupilnya membesar manakala mendapati sosok tak asing berdiri di parkiran luar— menyender di sebuah mobil sedan seraya memperhatikan langit seakan hitam polos di sana merupakan pemandangan yang amat menarik. Bokuto menarik napas dalam, dan mengerjap sekali lagi.
Akaashi masih berdiri di sana.
“Loh? Itu bukannya manajer Oikawa? Ngapain dia ke sini malem-malem?” Saeko menyuarakan pertanyaannya lebih dulu berbarengan dengan si objek yang dibicarakan menengok ke arah mereka. Pria itu langsung menegakkan tubuh dan membungkukkan badan begitu Saeko menghampiri.
“Selamat malam…” sapanya halus sembari menyunggingkan senyum kecil.
“Halo, malam! Akaashi ada apa ke sini? Kamu bukan mau nganterin Oikawa latihan, kan?” tanya Saeko dengan kepala yang dijulurkan seakan mencari kehadiran sang aktor ternama.
“Oh, bukan. Saya tau, kok, Iwaizumi lagi izin ngajar. Saya ke sini mau… ketemu sama Kak Bokuto.”
Bokuto yang sedari tadi hanya berdiri diam di belakang Saeko, sedikit tertegun saat mendengar namanya disebut. Tatapannya bertemu manik gelap di balik bingkai kacamata tersebut— menguncinya dalam izin tak terlisan. Bokuto harus menahan tawa karena— mana mungkin dia menolak?
“Ooh, gitu?” Saeko menggumam penuh kontemplasi sebelum menyeringai lebar. “Oke deh, kalau gitu! Bo, gue balik duluan, ya. Jangan lupa pesen gue tadi. Akaashi, duluan ya, daah!”
Dirinya hanya melambai kala sang wanita melenggang santai hingga menghilang di tikungan jalan. Sesaat, tak ada yang berusaha menginterupsi atmosfer sunyi tersebut seolah suara sekecil apa pun dapat membuat salah satu menghilang.
“Ada kafe di deket sini. Mau ke sana?” Bokuto-lah yang pada akhirnya menguraikan senyap tersebut. Ajakannya disambut anggukan dari yang lebih muda, serta kerlingan mata penuh rasa ingin tahu.
“Kakak nggak nanya kenapa aku ke sini tiba-tiba?”
Bokuto bergumam panjang sebelum mematri senyum di wajahnya sendiri.
“Nanti juga kamu bakal cerita, kan? Tapi kalau nggak mau cerita juga nggak masalah. Aku bakal tetep nemenin kamu.”
Bahkan seandainya kamu minta sampai pagi.
Bokuto menambahkan dalam hati. Senyumnya belum hilang tatkala mengedikkan dagu ke arah jalanan yang ada di depan mereka.
“Mau jalan sekarang?”
Tangan lentik itu berkali-kali menaikkan bagian tengah kacamata agar tidak melorot hingga ke ujung hidung. Bokuto diam-diam tersenyum di balik cangkirnya melihat gestur kecil tersebut— sebuah kebiasaan baru yang baru didapatinya sekarang karena dulu penglihatan pria itu masih sesempurna dirinya.
Sama seperti sebelumnya, Bokuto hanya menyimpan opini tersebut dalam hati. Tahu betul bahwa batasan itu masih ada meski lidahnya gatal ingin mengeluarkan ratusan pertanyaan.
Akaashi belum mengatakan apa pun selain ketika menyebutkan pesanan kopi mereka di meja kasir. Setelah dua cangkir yang masih mengepulkan asap tipis itu datang, si pemilik surai hitam hanya menyesap pelan dengan iris tertuju pada pemandangan di luar jendela. Lantunan lagu mendayu dari penyanyi pria yang tak Bokuto ketahui namanya seakan ikut andil dalam mendukung suasana tersebut.
(I start to imagine a world where we don’t collide.)
Bokuto membiarkan karena tahu Akaashi pastilah membutuhkan waktu— untuk apa pun itu.
“Dulu terakhir kita ketemu juga pas musim dingin.”
Netranya yang sempat teralih untuk memperhatikan interior kafe, kembali ke depan saat suara halus itu terdengar. Akaashi tak lagi menatap ke luar jendela. Pria itu meletakkan cangkir dengan hati-hati di atas meja, lalu mengangkat kepala hingga tatapan mereka bersibobrok.
“Kata kebanyakan orang, sepuluh tahun itu harusnya cukup buat ngelupain seseorang,” imbuh Akaashi dengan suara yang tak lebih dari sekadar bisikan. Bokuto tertegun seraya menunggu kelanjutan kalimat tersebut, tetapi bibir milik pria di hadapannya justru terbungkam semakin rapat.
“Berarti kebanyakan orang itu nggak termasuk aku,” balas Bokuto dengan dada yang perlahan menyempit— entah karena kekecewaan yang kembali muncul ke permukaan, atau rindu terpendam yang memaksa untuk keluar.
Akaashi mengeluarkan tawa getir.
“Kakak pasti marah sama aku.”
(If we can’t stop the bleeding, we don’t have to fix it.)
“Awalnya iya,” mulai Bokuto dengan hati-hati. Dirinya menunggu hingga yang lebih muda kembali menatapnya. “Tapi lama-lama... aku paham, kenapa kamu pergi waktu itu.”
Atau kenapa kamu bilang nggak.
“Aku egois banget, ya, Kak?”
Bokuto tak menjawab. Pikirnya, itu sesuatu yang tak berhak ia beri validasi. Setiap orang selalu memiliki alasan untuk pergi dan kembali. Walau ironi karena hubungan mereka sendiri berakhir bahkan sebelum ada kata mulai yang terucap dari bibir masing-masing.
Meski begitu, dirinya tak bisa menyangkal atas salah siapa katastrofe itu muncul dalam hidupnya.
“Kamu boleh egois.”
Bokuto merangkai kalimat tersebut dalam kesadaran penuh— membuat Akaashi terpekur lama dan itu ia jadikan kesempatan untuk menyelami obsidian favoritnya.
Tentu tidak hanya manik gelap itu yang menjadi favoritnya.
(And it’s making me sick, but we’ll heal and the sun will rise.)
“Kalau aku... mau egois lagi sekarang, apa boleh?”
Tidak perlu menjadi seorang Einstein untuk memahami nada penuh harap di balik pertanyaan tersebut. Seperti ada efek pantul, kini dirinya yang termenung lama menatap pria di hadapannya— pria yang dulu sekali pernah memberinya harapan sebesar gulungan ombak, sekaligus menenggelamkannya setelah terantuk batu karang.
Pria yang pernah membuatnya takut menutup mata karena yakin mimpinya akan dipenuhi sosok bersurai hitam dengan suara selembut beludru.
Pria yang membuatnya yakin bahwa sepuluh tahun itu — omong kosong — takkan pernah cukup untuk membantunya lupa.
Karena Bokuto selalu ingat.
Keiji-nya. Si pemilik netra yang sewarna dengan langit malam.
Dan mungkin, tanpa keduanya sadari, mereka adalah dua orang yang sama-sama egois.
“Boleh, Keiji.”
Bibirnya membuka, lalu tersenyum saat si yang bersangkutan mengerjap lambat.
“Kamu boleh egois kalau sama aku.”
(I will love you either way.)
@fakeloveros