Oikawa keluar dari lift dan berjalan cepat menuju lobi utama gedung kantornya. Saat mendapati tidak ada siapa pun yang berdiri di dekat meja resepsionis, dirinya langsung melangkah menuju deretan sofa yang berada di dekat pintu masuk. Sofa-sofa beralaskan karpet itu memang biasanya dijadikan tempat untuk bertemu tamu dari luar atau pengantar makanan serta kiriman lain. Dan benar saja, dalam sekali lihat dia bisa langsung menemukan kekasihnya duduk di salah satu sofa. Pria itu langsung berdiri menyambutnya begitu langkahnya kian mendekat.

“Kamu udah di sini dari tadi?” tanyanya begitu sang kekasih melepas rengkuhan terhadap dirinya. Oikawa melirik tidak enak ke sekitar, tetapi sepertinya tidak ada yang begitu memperhatikan aksi PDA kecil itu.

“Nggak, kok. Aku nge-chat kamu pas banget baru nyampe di sini.” Iwaizumi menjawab selagi memperhatikan wajahnya dengan saksama. “Kenapa kamu keliatan kayak orang tegang gitu? Apa aku udah ganggu dengan dateng ke sini tiba-tiba?”

“Eh, kata siapa!” Oikawa buru-buru menyanggah. “Aku cuma kaget aja. Beneran.” Oikawa memperhatikan sekilas penampilan pria itu dan kembali bertanya sebelum Iwaizumi melayangkan kecurigaan lain. “Kamu udah makan siang? Kalau belum, mau ke kantin aja? Biar kita ngobrolnya juga bisa lebih enak di sana. Gimana?”

“Boleh, tapi tunggu sebentar. Temenku juga katanya lagi jalan ke sini.”

Oikawa meneguk ludah tanpa sadar. “Oh... yang namanya Ushijima itu?”

“Iya,” sang kekasih mengangguk lalu menatapnya dengan kedua alis saling menyatu. “Ngomong-ngomong, kamu yakin belum pernah ketemu dia? Pas aku tanya katanya dia pernah ketemu kamu, ngobrol sebentar juga bahkan.”

Apa?

“Masa, sih? Apa aku aja yang nggak inget, ya...” Oikawa menggaruk kepalanya yang tidak gatal selagi berusaha mengingat-ingat. Mungkin dia memang lupa pernah bertemu karena jika belum sama sekali, tentunya nama itu tidak akan terdengar sedikit familier.

“Bisa jadi.” Iwaizumi mengangguk singkat sebelum mengambil satu langkah lebih dekat untuk meraih pergelangan tangannya. “Hari ini masih ada yang ngirimin kamu bunga?”

Aduh, sial.

“Eh... hari ini—”

“Ehem.”

Belum sempat Oikawa memutuskan akan berbohong atau tidak, terdengar suara dehaman pria dari belakangnya. Ia ingin berbalik, tetapi Iwaizumi masih menahan pergelangan tangannya.

“Baru dateng?” tanya pria yang bunyi sepatunya terdengar mendekati mereka. “Maaf ya, tadi gue ada urusan dulu sebentar.”

“No problem. Gue juga nggak buru-buru mau balik, kok,” jawab Iwaizumi ringan sembari mengubah cengkeraman halus di pergelangan tangannya menjadi tautan antar telapak tangan. “Sekalian gue mau ngenalin lo juga sama pacar gue karena katanya dia nggak inget pernah ketemu sama lo di sini.”

“Oh, ya?”

Oikawa melirik ke samping begitu presensi pria asing itu tiba di dekat mereka. Teman kekasihnya itu tinggi dan berbadan cukup besar. Surai pria itu berwarna cokelat gelap dengan warna iris nyaris serupa. Pria itu tidak menampilkan ekspresi apa pun dan begitu netra mereka bersibobrok, Oikawa meloloskan satu desah terkejut.

“Oh!”

Dua pria di hadapannya sama-sama mengangkat satu alis.

“Oikawa, kan? Oikawa Tooru?” ucap Ushijima disusul seulas senyum miring— seolah tidak mengindahkan sama sekali ekspresi malunya setelah itu. Sekilas, Oikawa mampu merasakan genggaman tangan Iwaizumi mengerat untuk sepersekian detik.

“Aku— eh, saya inget! Kita waktu itu ketemu pas lagi di lantai tiga sebelum rapat divisi, kan? Eita yang waktu itu ngenalin kita.”

Ushijima mengangguk seraya menjulurkan tangan. “Kita bisa kenalan sekali lagi biar kamu inget. Saya Ushijima, temen kuliahnya Iwaizumi dulu di Irvine. Baru pindah ke sini sekitar sebulan lalu, jadi wajar kalau kamu sempet nggak inget saya.”

“Ooh, halo... salam kenal,” sambutnya dengan satu tangan yang bebas. Ushijima melirik sejenak ke arah tangannya yang masih digenggam erat oleh Iwaizumi, tetapi begitu Oikawa ingin memastikan sekali lagi, tatapan pria itu telah kembali ke arahnya.

“Kamu di bagian Marketing, kan? Saya juga beberapa kali ke sana karena ada keperluan dan kita pernah ketemu. Tapi kayaknya kamu juga nggak inget, ya?”

Oikawa menggeleng. Mungkin di beberapa kesempatan itu ia sedang terburu-buru hingga tak sempat mengingat kehadiran Ushijima. Bagaimanapun, ada ratusan pegawai di kantor mereka. Meski begitu, ada yang tak asing dari cara pembawaan diri pria dengan manik cokelat tersebut. Rasanya seperti mengingatkan Oikawa akan sesuatu yang ia sendiri tak tahu itu apa. Ushijima pun terus menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Namun, kentara sekali ada setitik kilat penasaran di balik ekspresi datar itu seakan tengah menunggunya mengungkapkan sesuatu.

“Kalau gitu, nanti saya—”

“Gimana kalau kita lanjutin nanti?” Iwaizumi tiba-tiba memotong, tahu-tahu sudah berdiri di depannya seakan berusaha menghalangi pandangan, meskipun percuma karena Oikawa masih lebih tinggi. Kendati begitu, nada yang digunakan kekasihnya terdengar begitu dingin hingga bulu kuduknya sedikit berdiri. “Kita bisa ngomongin soal reuni minggu depan pas lagi sama-sama luang di tempat lain. Gue rasa kalau di sini... agak susah suasananya.”

“Oke. Boleh aja.” Tak disangka, Ushijima menyetuji dengan santai. Oikawa mengangkat wajah dan lagi-lagi pandangannya dengan pria itu bertemu. “Nanti lo chat gue aja bisanya kapan dan di mana,” imbuh pria itu tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun. Oikawa bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Ia tidak menyukai tatapan pria itu maupun genggaman tangan sang kekasih yang kian meremukkan. Rasanya ia ingin cepat-cepat pergi dari sana.

“Hajime...” bisiknya pelan sembari agak menarik lengannya— mengirim sinyal bahwa punggung tangannya mulai merasaka sakit. Iwaizumi nampaknya paham karena genggaman tangan mereka langsung dilonggarkan, meskipun aksi itu tidak mengurangi sama sekali kegugupan yang dirasakannya.

“Nanti gue kabarin,” balas Iwaizumi, kemudian dengan cepat langsung berputar dan mulai berjalan. Oikawa hanya sempat mengangguk singkat kepada Ushijima yang memperhatikan dalam diam sebelum terpaksa mengikuti langkah cepat sang kekasih. Raut wajah Iwaizumi terlihat tidak mengenakkan dan Oikawa memiliki firasat akan menerima banyak wejangan setelah ini.

Ia pun memiliki firasat reuni minggu depan tidak akan berjalan dengan begitu menyenangkan.


@fakeloveros