Ada hal-hal tak masuk akal yang sering diutarakan oleh salah satu temannya, Sugawara. Dan sesungguhnya, Iwaizumi tidak keberatan mendengarkan karena, toh, ia tahu itu hanyalah guyonan semata. Sesuatu yang tidak perlu dianggap serius.

Kecuali, saat suatu hari temannya mengusulkan begini—

“Mending lo ngadopsi anak.”

Kopi yang sudah melewati bibirnya nyaris ia semburkan keluar begitu mendengar ucapan ringan tersebut. Yang mengusulkan sendiri hanya menopang dagu dengan satu tangan tanpa merasa bersalah. Daichi, yang duduk di samping Sugawara pun, hanya tersenyum kecil sambil mengesap kopi yang baru diantarkan pelayan— seolah tidak terpengaruh sama sekali.

Pantas saja Tuhan memasangkan mereka berdua, pikirnya waktu itu.

“Gila lo,” ucapnya singkat, sembari meletakkan cangkirnya yang isinya belum berkurang banyak, tiba-tiba kehilangan selera. “Kalau lo ngusulin gue ngadopsi kucing atau anjing, gue nggak akan heran. Tapi, lo malah ngusulin gue ngadopsi anak?”

“Loh? Tadi yang ngeluh kesepian karena tinggal sendiri siapa? Sedangkan semua orang juga tau lo nggak suka melihara hewan. Mau nyari pasangan? Hilalnya aja belum ada. Yang terakhir udah lo putusin dua bulan lalu. Ya udah, mending lo punya anak aja buat nemenin di rumah, kan?”

Iwaizumi geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir dengan ide yang melintas di otak temannya tersebut. Bayangan yang berputar di otaknya soal mengadopsi anak sangatlah mengerikan. Memang dikira membesarkan anak itu mudah, seperti merawat tanaman? Mengurus diri sendiri saja ia masih suka lalai, bagaimana jika tiba-tiba harus mengasuh satu makhluk bernyawa lain?

“Nggak, nggak. Usulan lo gila. Lagian apa kata emak bapak gue nanti kalau tiba-tiba mau ngadopsi anak, tapi nggak ada pendampingnya?” Iwaizumi memundurkan tubuhnya secara defensif, agak ngeri dengan pemikiran yang sebenarnya perlahan mulai mengendap di otaknya sendiri. Mengadopsi anak...? Apa itu mungkin?

“Lo lupa ya, gue dulu juga ngadopsi Yuu pas belum sama nih orang, kan?” seloroh temannya sambil menunjuk sang suami yang hanya menyeringai. “Jadi nggak masalah woy, asal lo bisa ngasih tuh anak makan, rumah, pakaian, sama pendidikan yang layak.”

“Kalau soal itu, sih, gue juga tau,” selanya cepat, kali ini berusaha berargumen dengan pikiran jernih. “Yang jadi masalah tuh, gimana kalau gue salah didik? Gimana kalau nanti dia malah jadi anak nakal? Gimana kalau dia nggak mau dengerin kata-kata gue?”

“Lo, kan, athletic trainer, Wa.”

Daichi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kali ini ikut angkat bicara dan mengutarakan fakta yang tak ia pahami korelasinya.

“Terus...?” tanyanya bingung, “apa hubungannya?”

“Lo bisa ngelatih orang-orang. Lo bisa bikin mereka mau dengerin kata-kata lo. Jadi, gue yakin anak lo nanti pasti mau nurut sama lo.”

Iwaizumi menepuk keningnya keras, bahkan Sugawara pun tertawa terbahak-bahak. Tak dipedulikannya tatapan pengunjung kafe yang mungkin berpikiran aneh melihat tiga pria dewasa tengah berkumpul di satu meja dan membicarakan soal mengadopsi anak.

“Aduh, lucu banget sih kamu!” seru Sugawara gemas sembari mencubit pipi sang suami. “Tapi, itu masuk akal! Lo punya bakat alami buat bikin orang-orang mau dengerin kata-kata lo, Wa. Lagian... kalau ngadopsi anak, kan, lo bisa pilih umurnya. Kalau mau tuh anak gampang nurut sama lo, pilih aja umurnya yang udah gedean dikit.”

“Pilih... pilih... lo kira ini kayak main gacha?” balasnya sewot.

“Gacha, kan, isinya random, Wa. Kalau ngadopsi anak, bener masih bisa milih,” tukas Daichi lagi, masih dengan nada kalem yang sama. Iwaizumi hanya memutar bola mata, tak ingin mendengar lebih jauh usulan gila dari kedua orang tersebut.

Pokoknya, ia tidak akan mengadopsi anak. Titik.


Atau seharusnya Iwaizumi tidak bertekad seperti itu karena pada dasarnya, ia hanyalah manusia yang posisinya teramat kecil di hadapan Tuhan.

Atau seperti kata orang— manusia bisa merencanakan, Tuhan yang memutuskan.

Karena beberapa minggu setelah percakapan gila tersebut, tahu-tahu roda mobilnya sudah melaju sendiri ke arah rumah besar yang di depan gerbangnya terdapat plang PANTI ASUHAN RAFAILA. Kartu nama berwarna putih gading yang di pertemuan tempo lalu disodorkan padanya oleh sang teman menjadi panduan dalam menemukan lokasi tersebut. Sugawara menambahkan sebelum mereka berpisah waktu itu, dengan intonasi yang lebih lembut.

“Gue dulu ketemu sama Yuu di sini. Kalau lo emang belum siap, nggak apa-apa. Tapi, nggak ada salahnya, kan, coba-coba main ke sana? Anak-anak di sana nggak seberuntung kita, Wa. Mereka pasti bakalan seneng kalau ada orang dari luar yang mau ngajakin ngobrol sama main. Nih, alamatnya. Ke sananya pas lo lagi senggang aja.”

Dibandingkan dirinya, Sugawara-lah yang sebenarnya selalu memiliki cara untuk membuat orang-orang mendengarkan dan memahami niat baik yang pria itu utarakan. Sulit untuk mengabaikan, apalagi karena ia sendiri telah bertemu dengan Yuu dan melihat bagaimana temannya itu berinteraksi dengan sang anak adopsi. Tidak ada kecanggungan sebagaimana dua orang asing yang dipertemukan. Mereka benar-benar seperti ayah dan anak sejak awal. Memori itulah yang mendorongnya untuk berbuat nekat seperti ini.

Mungkin... ia juga bisa menemukan sesuatu atau seseorang di sana.

Awalnya kakinya melangkah ragu, tetapi netranya keburu bertemu pandang dengan seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu di pekarangan depan. Wanita itu lantas tersenyum dan menyapa dengan ramah.

“Halo, ada yang bisa saya bantu?”

“Oh, halo... selamat sore. Ehm, saya... ke sini mau... eh, saya mau...” Iwaizumi menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung bagaimana harus menjelaskan maksud kedatangannya. “Saya... disaranin ke sini sama temen, namanya Sugawara Koushi...?”

Wanita itu meletakkan sapu di dekat dinding sebelum merespons dengan antusias. “Oh! Mas Suga? Saya kenal, kok, iya. Jadi... mas ini temannya, ya?”

“Iya, bu. Makanya saya ke sini mau... kenalan dulu, mungkin, sama beberapa anak?” ucapnya tak yakin karena ia masih sulit memercayai keputusannya sendiri.

“Boleh, boleh. Silakan masuk. Kalau jam segini, anak-anak lagi pada main di halaman belakang. Mas bisa ajak ngobrol atau main sama mereka. Tapi, nggak perlu dikasih apa-apa, mas. Itu peraturannya.”

Iwaizumi mengangguk, mengikuti langkah pasti sang wanita yang memutari rumah menuju halaman belakang. Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara anak-anak yang tengah ramai bersenda gurau. Tangannya mendadak kebas dan punggungnya mengeluarkan keringat dingin. Ia bukanlah orang yang sering berinteraksi dengan anak kecil. Bagaimana kalau seandainya dirinyalah yang justru tidak disukai oleh anak-anak itu?

“Oh ya, nama mas siapa?” tanya wanita itu dan Iwaizumi bersyukur, ada sesuatu yang mampu mendistraksi pikirannya walau hanya sebentar.

“Saya Iwaizumi. Iwaizumi Hajime.”

Wanita itu mengangguk dengan senyum yang terulas ramah. Tak lama, mereka pun tiba di pekarangan luas yang dikelilingi pohon-pohon rindang, kebun kecil, serta semacam meja piknik yang terletak di pinggir. Iwaizumi menyisiri pemandangan tersebut dengan cepat— menganalisis umur anak-anak yang tersebar di sana. Ia tak melihat banyak remaja, mungkin paling besar berkisar 14 atau 15 tahun, itu pun hanya satu dan dua orang. Sisanya, banyak anak sesuai sekolah dasar yang memenuhi pekarangan.

Seolah bisa membaca pikirannya, wanita itu mulai menjelaskan. “Anak-anak di sini kebanyakan masih duduk di sekolah dasar, mas. Kelas satu sampai kelas 6 ada. Yang paling besar kelas tiga SMP dan yang paling kecil usia balita. Ada yang dulu sejak lahir dititipkan kerabat, yang asal-usulnya kurang kami ketahui dengan jelas, atau... yang menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri. Tapi, semua sama, mas. Semua berusaha kami rawat dengan baik dan pastinya membutuhkan orang yang benar-benar bisa menyayangi mereka sebagaimana orang tua semestinya. Santai aja ngobrol sama mereka, mas. Mereka anak-anak baik, kok. Nanti kalau ada perlu apa-apa atau kalau mas udah selesai, masuk ke dalam aja. Saya bakal nunggu di sana.”

“Oh, iya, bu. Terima kasih banyak.”

Iwaizumi tak begitu memperhatikan kepergian wanita itu. Matanya langsung terfokus pada pandangan yang ada di hadapannya. Beberapa anak sudah menyadari kedatangannya dan menatap ingin tahu. Memutuskan bahwa ia sudah tak bisa mundur lagi, Iwaizumi pun mulai melangkah menuju lapangan yang didominasi oleh anak laki-laki.

“Halo, semua. Om boleh ikutan main?”

Salah satu anak mendongak dan menatapnya dengan penuh semangat. “Om bisa main sepak bola?”

“Bisa, dong,” balasnya percaya diri dan mulai menggulung lengan kemejanya. “Nah, siapa yang mau jadi lawan om?”

Sambutan antusias terdengar dari sekelilingnya. Tahu-tahu, tim sudah terbentuk dan mereka memulai permainan. Walau keahlian sesungguhnya ada di voli, semangat anak-anak itu tidak menghalanginya untuk mengerahkan seluruh kemampuan. Beberapa kali ia dibuat tertawa, bahkan ikut berteriak karena terbawa suasana— lupa bahwa ia ke sini untuk suatu tujuan spesifik. Kendati begitu, saat tanpa terasa 45 menit telah berlalu, Iwaizumi izin untuk undur diri dari permainan. Ia lupa bahwa energinya tidak lagi sebanyak anak-anak itu. Melihat meja piknik yang hanya diduduki beberapa anak, kakinya pun melangkah ke sana. Matanya entah mengapa tertuju pada satu anak laki-laki yang duduk sendirian di bangku panjang. Anak itu hanya menatap lapangan dengan tampang datar— nyaris bosan. Ada bola voli lusuh yang dipangku anak itu dengan penuh sayang. Iwaizumi tersenyum, anak itu sedikit mengingatkan dengan dirinya yang dulu.

“Halo, om boleh duduk di sini?”

Anak itu hanya meliriknya sebentar lalu mengangguk. Iwaizumi pun mengambil tempat di sebelah anak itu seraya membuka kancing teratas kemejanya. Angin sore hari yang sepoi-sepoi cukup untuk menghilangkah letih serta menghapus keringatnya akibat bermain bola barusan. Setelah lima menit berlalu, Iwaizumi baru menyadari tak ada satu pun di antara mereka yang mengeluarkan suara.

“Kamu, kok, nggak ikut main sama anak-anak yang ada di lapangan?” Iwaizumi membuka obrolan, sedikit heran dengan tingkah anak itu yang benar-benar hanya diam di sebelahnya seperti patung. Awalnya pun ia pikir anak itu takkan menjawab karena setelah ditunggu beberapa detik, tak ada balasan yang keluar. Mulutnya baru membuka untuk mencoba bertanya lagi ketika tahu-tahu anak itu bergumam pelan.

“Nggak suka.”

“Nggak suka? Nggak suka apa? Nggak suka main sepak bola?”

Anak itu mengangguk, masih belum menatapnya meskipun Iwaizumi sendiri memperhatikan dengan lekat. Anak itu malah mengeratkan rengkuhan terhadap bola voli yang berada di pangkuan. Iwaizumi memperhatikan gestur tersebut dan mengambil sebuah kesimpulan.

“Kamu sukanya main voli?”

Anak itu mengangguk lagi, kali ini lebih pasti. “Tapi, nggak ada yang mau ikut main.”

“Nggak ada yang mau main voli? Kenapa?” Iwaizumi bertanya hati-hati.

“Katanya susah.”

Iwaizumi bergumam panjang, memikirkan jawaban selanjutnya. “Oh, ya? Padahal main voli asik banget.”

Kaki anak itu bergerak-gerak di atas anah. Sepatu biru yang dikenakan sang anak menendang kerikil kecil sebelum kepala yang dihiasi surai hitam itu mendongak dan kali ini membalas tatapannya.

“Om bisa main voli?”

“Wah, jangan salah. Om gini-gini dulunya jadi ace di sekolah,” ucapnya bangga sembari membusungkan dada— senang karena berhasil menarik perhatian anak itu.

“E...is?” Sang anak yang belum ia ketahui namanya itu melafalkan dengan bingung. Ada ketertarikan di balik netra yang baru Iwaizumi sadari berwarna biru gelap. Mengingatkannya akan warna lautan yang paling dalam.

“A, c, e—ace. Artinya yang paling jago. Dulu posisi om wing spiker. Kamu tau wing spiker?”

Anak itu mengangguk berulang kali. Matanya yang besar berbinar penuh semangat seakan baru saja menemukan harta karun yang berharga. Jarinya yang kecil menunjuk diri sendiri dan berucap penuh semangat, “aku setter!”

“Setter?” Iwaizumi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Untuk anak seusia itu, mengklaim diri sendiri sebagai setter bukanlah hal yang ringan. Tapi, Iwaizumi bisa melihat determinasi yang ada di balik gestur anak itu sehingga mau tak mau ia percaya dan semangatnya pun ikut terpancing.

“Kalau gitu, apa kamu— eh, iya, nama kamu siapa? Om boleh tau?”

Anak itu menunduk kembali dan mulai memutar-mutar bola yang masih berada di pangkuan. Iwaizumi menunggu dengan sabar sampai anak itu menengadahkan kepala.

“Tobio.”

Iwaizumi tersenyum dan menepuk-nepuk celananya yang ternyata sudah bernoda tanah akibat tadi bermain bola. Matanya menyisiri sudut lapangan yang bisa mereka gunakan untuk bermain voli dengan leluasa. Setelah menemukan, ia menunjuk lokasi tersebut sembari menoleh ke arah anak yang masih menatapnya.

“Tobio mau main voli sama om di sana?”


@fakeloveros