Oikawa menunggu kedatangan Tobio dengan jantung berdegup kencang. Tangannya yang berkeringat, berulang kali ia gesekkan di atas celana. Ada beberapa butir pasir yang masih tertinggal di sana sehingga senyumnya otomatis mengembang. Meski begitu, pengalaman tak terlupakan yang tadi didapatnya di panti asuhan tidak mampu menutupi kegugupan yang melandanya sekarang.

Bagaimana kalau ternyata Tobio menolak idenya tersebut?

Oikawa tidak sempat memikirkan kemungkinan itu lebih lanjut ketika tiba-tiba kursi di hadapannya ditarik dan duduklah sosok pemuda yang ditunggunya sedari tadi. Tobio muncul dalam balutan seragam SMA yang ditutupi oleh jaket berwarna biru. Tampang anaknya itu datar seperti biasa, tetapi Oikawa bisa menangkap sekelebat rasa penasaran begitu Tobio sudah memberinya atensi penuh.

“Kamu mau pesen dulu?” mulainya, berusaha menjaga nadanya tetap netral. Namun, Tobio menggeleng selagi merapatkan jaket.

“Masih kenyang, pa,” jawab anaknya itu singkat.

“Oh, oke.”

“Papa mau ngomongin apa, sih?”

Sungguh khas Tobio— pikirnya seraya mengeluarkan hela napas kecil. Anaknya itu memang paling tidak suka berbasa-basi, selalu to the point. Tapi, mungkin memang lebih baik ia mengutarakan langsung tanpa perlu berputar-putar.

“Sebenernya… papa kepikiran sesuatu,” cakapnya hati-hati. “Dan papa mau tau pendapat kamu gimana. Jadi, jawab yang jujur, ya.”

Tobio mengangguk tanpa suara.

“Papa… kepikiran buat ngadopsi anak lagi.”

Hening. Tapi, ada sedikit keterkejutan bermain di netra gelap anaknya.

“Papa udah bilang soal ini juga ke ayah kamu, cuma… kayaknya ayah kamu masih ragu. Tapi, biar itu jadi urusan papa sama ayah. Yang penting sekarang papa mau tau dulu pendapat kamu gimana…”

Suaranya menghilang seiring kesunyian yang terus melingkupi mereka. Tobio diam tak bergerak seperti patung. Oikawa hanya tahu anaknya itu masih memproses ucapannya dilihat dari napas yang ditarik dan dikeluarkan perlahan.

“Itu yang bikin kalian berantem?” tembak anaknya tiba-tiba, membuat Oikawa tertegun sesaat.

“Eh… papa sama ayah nggak sampai berantem, sih…” Tangannya memainkan tisu yang ada di atas meja dengan sedikit gugup. “Kita cuma… belum ngobrolin ini lebih jauh.”

Tobio membetulkan posisi duduk. Kening pemuda itu terlihat mengerut dalam. “Apa yang bikin ayah nggak langsung nge-iya-in?”

Bahunya terangkat otomatis. “Jujur, papa belum nanya. Ayah kamu cuma bilang papa perlu mikirin soal itu sekali lagi.” Kini, giliran keningnya yang berkerut tak paham. “Apa menurut kamu juga… kemauan papa itu aneh? Nggak tepat?”

Tobio tak langsung menjawabnya. Tatapan pemuda itu turun dan nampak memperhatikan meja kayu yang memisahkan mereka. Oikawa menunggu dengan sabar, walau detik yang kian berlalu justru menambah rasa waswasnya.

“Kenapa?”

Satu pertanyaan itu membuat Oikawa mengerjapkan mata. “Apa?”

“Kenapa papa mau ngadopsi anak lagi?”

Oikawa tentu sudah memikirkan alasannya, jauh sebelum ia mengutarakan hal itu kepada suaminya sendiri. Dan mungkin ini akan terdengar aneh, tapi ia sendiri tidak memiliki alasan persis. Oikawa hanya sering membayangkan kehadiran satu orang lagi tentu akan menambah keramaian di rumah mereka dan itu tervisualisasi sangat menyenangkan di benaknya. Ia sendiri tumbuh besar sebagai anak tunggal, dan walau hal itu tetap dia syukuri, Oikawa seringkali membayangkan kehadiran kakak atau adik yang bisa menemaninya.

Jadi, ia pikir Tobio pun pernah merasakan hal yang sama. Namun, alasan itu rasanya sulit ia jabarkan secara langsung.

“Soalnya…” Oikawa memutar otak, mencari kalimat yang tepat, “bukannya asik kalau rumah kita ketambahan satu orang lagi? Ada yang bisa nemenin papa juga pas ayah kamu lagi dinas luar atau kamu ada training camp. Kamu juga bisa punya temen ngob—”

“Jadi,” Tobio tiba-tiba memotongnya, “papa mau ngadopsi anak lagi cuma biar nggak kesepian di rumah?”

Oikawa membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi tak ada suara yang keluar. Hanya perasaannya kah, atau memang nada Tobio terdengar menuduh?

“Emangnya ada ayah sama aku aja kurang, pa? Harus banget kita nambah anggota keluarga baru? Kalau papa nggak mau sendirian, kan bisa ke rumah oma. Toh, tinggal jalan kaki. Atau bisa juga ke rumah Om Suga, kan? Lagian akhir-akhir ini ayah juga udah jarang dinas luar. Aku juga udah kelas tiga, udah nggak bisa lagi ikut training camp.”

Oikawa mengerjap-ngerjap, berusaha melenyapkan selaput tipis air yang tanpa sadar membuat penglihatannya mengabur. Ia berdeham dan berusaha tersenyum, walau ada sesak yang mulai menghimpit dadanya. Oikawa menarik napas dalam sebelum kembali bersuara.

“Oke, jadi…” sial— suaranya terdengar gemetar, “apa itu artinya kamu nggak setuju?”

Tobio memalingkan muka, mungkin sadar dengan kekecewaan yang melingkupi nada dari pertanyannya. Oikawa lantas memainkan jari-jarinya dengan gelisah, menunggu jawaban final si anak semata wayang.

Karena kalau Tobio tidak setuju maka tidak ada yang bisa dilakukannya lagi.

“Aku… bakal coba pikirin lagi.”

Oikawa mengembuskan napas yang ditahannya sedari tadi. Setidaknya, itu lebih baik dibanding penolakan frontal. Untuk sekarang.

“Oke,” Oikawa berupaya kembali menyunggingkan senyum. “Nanti kasih tau papa, ya, keputusan fix kamu,” ucapnya selembut mungkin, meski sesak di dadanya belum juga berkurang.

Saat Tobio mengangguk, Oikawa menyenderkan punggungnya di sandaran kursi dengan lelah. Matanya tanpa sengaja menangkap kembali butir-butir pasir yang masih mengotori celananya. Ia menatap butiran itu lama— teringat kembali dengan senyum ceria seorang anak perempuan yang ditemuinya di panti asuhan.

Mungkin, itu memang hanya akan menjadi kenangan tak terlupakannya.


@fakeloveros