Kepalanya sakit luar biasa.

Padahal, mau menghabiskan dua atau tiga botol pun biasanya tak masalah. Tapi kali ini, Satoru tahu kesadarannya sudah berada di ambang batas sehingga yang bisa ia lakukan hanya menelungkupkan wajah di lipatan tangan yang diletakkan di atas meja. Samar, telinganya bisa menangkap ingar-bingar musik serta percakapan teman-temannya. Namun, semua itu bagai angin lalu karena hanya ada muak yang menyelimutinya.

Ia ingin pulang.

Ia ingin merebahkan diri di atas kasur.

Ia juga ingin bertemu Suguru.

Niatnya malam ini adalah melupakan pria itu. Tapi bahkan dalam keadaan seperti ini, alam bawah sadarnya masih mengingat jelas rupa sang sahabat— senyumnya, tawanya, surai panjangnya yang terayun lembut saat tertiup angin. Semuanya.

Satoru benci merasa bahwa hanya ia satu-satunya yang membutuhkan Suguru, sedangkan pria itu bisa bersenang-senang dengan orang lain. Mereka sudah bersama-sama sejak kecil. Jadi, bukankah baru bisa dikatakan adil jika mereka bisa bersama hingga akhir?

Satoru meloloskan tawa kecil. Ia tahu itu pemikiran egois— ingin memiliki Suguru tanpa perlu berbagi dengan orang lain. Terlebih, karena dirinya tahu pasti bukan itu yang diinginkan Suguru. Jadi, lebih baik dia kabur seperti ini daripada keegoisannya mengambil alih.

Toh, Suguru lama-lama pasti akan lelah juga mencarinya.

Diiringi erangan kecil, Satoru mengangkat kepala. Matanya perlu mengerjap beberapa kali terlebih dulu sebelum bisa fokus ke satu titik. Ia melihat punggung Sukuna, temannya itu nampak sedang berbicara dengan seseorang. Baru mulutnya membuka untuk minta diambilkan air, tapi temannya itu keburu menyingkir dan pergi. Satoru menutup mulutnya dengan kecewa dan berniat akan mencari teman lain yang dikenalnya ketika orang yang barusan diajak berbincang Sukuna terlihat di depan mata. Satoru pikir ia mabuk berat sampai berkhayal seperti itu.

Karena mana mungkin, kan, Suguru tiba-tiba ada di sini?

Suguru dalam khayalannya itu berjalan mendekat. Tampang pria itu dipenuhi oleh berbagai emosi yang baru kali ini ia temui— marah, kecewa, bingung, dan… sedih?

Kenapa Suguru merasa sedih? Bukankah pria itu harusnya merasa senang karena sudah memiliki kekasih? Suguru dalam khayalannya sungguh aneh, begitu pikir Satoru selagi netra sayunya mengikuti gerak pria itu.

“Gue nyariin lo ke mana-mana.”

Sampai suaranya aja mirip…

“Udah minum berapa banyak lo?”

Satoru mengernyitkan kening. Saat Suguru khayalan itu duduk di sampingnya, semua terasa begitu nyata hingga ia perlu menegakkan diri dan mengucek mata berulang kali. Begitu Suguru khyalan tak hilang juga dari pandangan, ia menyuarakan kebingungannya.

“Lo… beneran Suguru?”

Yang ditanya pun ikut mengerutkan kening, seolah apa yang dilontarkannya barusan sangatlah konyol.

“Lo ngomong apa, sih? Udah mabok banget, ya?”

Satoru beringsut mendekat, tangannya terangkat tanpa ragu menyentuh wajah pria yang mirip sahabatnya itu. Suguru yang ada di depannya meringis pelan, tetapi langsung terdiam begitu jarinya menelusuri setiap inci. Mata gelap pria itu mengunci tatapannya yang tak berkedip.

“Lo bukan Suguru khayalan?” tanyanya bodoh. “Beneran Suguru yang annoying itu?”

Ganti tangan pria itu yang terangkat lalu menarik pergelangan tangannya secara halus. Meski tangannya diturunkan, tatapan pria itu masih belum beranjak darinya. “Ini beneran gue.”

Satoru meneguk ludahnya— bingung, senang, marah, dan sedih mendadak bercampur jadi satu. Otomatis ia melepaskan cengkeraman pria itu kasar dan segera berdiri. Namun, linglung yang menguasai sontak membuat kepalanya berputar hingga ia nyaris terjungkal. Untungnya segera ada dua lengan kokoh yang menangkapnya sebelum kepalanya membentur meja. Suguru terlihat khawatir, tetapi Satoru terlalu kesal untuk berterima kasih dan langsung melepaskan pria itu sekali lagi. Tanpa memedulikan teriakan Suguru yang memanggil namanya, ia membelah kerumunan dan keluar dari pintu belakang. Tak dipedulikannya pula teman-temannya yang entah berada di mana.

Saat udara malam sudah terhirup olehnya, Satoru menoleh ke belakang. Suguru sepertinya tidak mengikuti karena batang hidung pria itu tidak nampak sama sekali. Satoru lanjut berjalan, walau langkahnya sedikit terseok karena pusing yang masih menyerang. Namun setidaknya, ia bisa melihat lebih jernih tanpa adanya asap rokok atau kerumunan yang menghalangi. Tangannya merogoh ke dalam kantung untuk mencari ponselnya, tapi justru nihil yang ia temukan. Ia mengumpat— karena mana mungkin dirinya kembali ke dalam sekarang.

Tiba-tiba, ada tangan yang menariknya kuat hingga badannya terputar 180 derajat ke belakang.

“Lo mau pergi ke mana?! HP lo ada di gue! Jangan pergi jauh-jauh kalau lagi mabok kayak gini!”

Satoru memejamkan mata— kenapa Suguru berhasil mengejarnya secepat ini?

Dan kenapa pria itu terlihat peduli?

“Lepasin. Gue bisa jalan sendiri,” ucapnya lantang sembari berupaya melepaskan pegangan kuat yang menahan langkahnya. Saat Suguru tak menjawab ataupun bergerak seinci pun, Satoru mulai kehilangan kesabaran. Kalau tidak sedang dikuasai alkohol, dia pasti bisa melawan lebih kuat.

“Gue bilang lepas—”

“Tunggu sebentar,” potong Suguru cepat. “Kita perlu ngomong.”

“Mau ngomongin apa?” tanyanya, seraya memutar kedua bola— Satoru harap, ekspresinya sudah cukup menjelaskan. “Gue nggak pengen ngomong apa-apa tuh?”

Suguru seakan tidak memedulikan ucapannya. “Kenapa lo ngehindarin gue dari minggu kemaren? Gue udah bikin salah apa sama lo?”

Satoru mencoba menarik tangannya untuk kedua kali dan barulah Suguru melepaskan. Tapi, tatapan pria itu terlihat tajam seolah mengancamnya tanpa suara bahwa ia takkan dibiarkan kabur lagi.

“Siapa yang ngehindar? Biasa aja, kok. Gue lagi banyak revisi aja makanya nggak sempet bales chat lo,” kilahnya, walau tahu alasan itu tidak akan bekerja terhadap Suguru.

“Gue nggak bego, Ru. Gue bahkan udah nanya langsung ke dosbing lo, tapi katanya lo bahkan izin beberapa hari nggak ikut bimbingan karena alasan sakit. Gue juga udah dateng ke kos-an lo, tapi pasti lo nggak ada di sana terus. Gue udah ngelilingin satu kampus, bahkan sampai datengin fakultas sepupu lo, si Yuuta, buat nanyain lo ada di mana, tapi dia juga nggak tau. Kalau lo masih ngeles juga, gue nggak bakal ngebiarinin lo balik sampai ngaku.”

Satoru menghela napas lelah— mungkin di sinilah ujung dari usahanya untuk menghindar. Lagi pula, seharusnya dia tahu bahwa Suguru pasti akan terus mencarinya untuk menuntut jawaban.

Kalau sudah begini, apa yang harus dikatakannya?

Satoru menyenderkan punggungnya ke dinding yang kebetulan masih menjadi bagian gedung club malam yang ia datangi barusan. Matanya menelusuri sekitar, tapi tak banyak ia dapati kecuali beberapa orang yang tengah merokok di dekat pintu masuk. Lalu, ia mengalihkan pandangan ke arah langit yang malam itu tak berbintang sama sekali. Satoru tahu Suguru masih menunggu jawaban, tapi ia pun perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian.

“Lo tau kita udah bareng dari orok, kan? Dari SD, SMP, SMA, bahkan kuliah sekarang kita juga bareng-bareng terus. Semua yang kenal gue, pasti kenal lo, dan gitu juga sebaliknya. Gue seneng karena orang-orang tau kita sahabatan. Tapi kadang, gue juga benci sama label itu.”

Suguru terlihat terkejut, tapi Satoru pura-pura tak memperhatikan. Matanya masih tertuju pada langit polos di atas mereka.

“Makanya gue suka bercanda— karena gue pikir, lo bakal anggap serius candaan gue itu suatu hari nanti. Tapi kayaknya, gue yang berharap terlalu banyak. Padahal jelas-jelas lo nganggep gue cuma sebagai sahabat. Ya, kan?” imbuhnya, kini menurunkan tatapan lalu menyeringai lebar saat dilihatnya Suguru bagai orang yang baru saja tersambar petir. “Soal yang waktu itu lupain aja. Lagian buat lo itu juga cuma candaan, kan?”

Satoru menegakkan tubuh lalu bersiap untuk beranjak dari sana. Tapi belum sempat kakinya melangkah, tangannya keburu kembali ditahan. Jantungnya refleks memompa cepat karena ia pikir Suguru pada akhirnya akan—

“Gue bakal anter lo balik ke kos-an.”

Satoru mengangguk pasrah— kecewa dengan reaksi pasif pria itu. Mungkin ini memang benar-benar final dari usahanya berlari dan mengejar. Suguru pun langsung memalingkan wajah sehingga sulit baginya untuk membaca ekspresi sang empunya. Namun, tak perlu disuarakan secara lantang pun, Satoru sudah tahu dari gestur pria itu jawaban yang diterimanya.

Kendati begitu, Satoru bersyukur ia masih bisa menikmati tautan hangat tangan Suguru yang tak pernah melepaskannya malam itu.


@fakeloveros