Kalau orang-orang mengira Kageyama adalah orang yang pendiam, pemuda itu akan jadi jauh lebih pendiam manakala mereka tengah berada di kerumunan atau sekelompok teman.
Awalnya Hinata masih berusaha membuat pemuda itu sedikit berbicara— “nggak apa-apa, jb jb aja.” —tapi, toh, usahanya tetap sia-sia karena si surai hitam itu sendiri mengaku lebih suka mendengarkan daripada ikut membuka suara. Akhirnya, sekarang setiap berkumpul dengan teman-teman kuliah yang sama-sama mereka kenal, Kageyama hanya akan duduk diam di sebelahnya sambil sesekali mengangguk dan baru menjawab jika ditanya.
Hinata tak keberatan. Lagi pula, hanya dirinyalah yang mengetahui bisa sevokal apa Kageyama kalau mereka sudah berduaan.
Itu, dan maksudnya Kageyama justru bisa menjadi orang yang amat cerewet.
“Pake jaket kamu, di luar dingin.”
“Jangan pulang kemaleman. Inget, kereta hari ini cuma sampai jam 11.”
“HP kamu charge dulu baterainya sebelum pergi. Kebiasaan, nanti nggak bisa aku hubungin kayak waktu itu.”
Dan segala macam titah yang terkadang membuat Hinata hanya memutar kedua bola mata. Tapi, ia tahu Kageyama begitu karena dirinya disayang.
“Kamu aslinya cerewet, ya, ternyata.”
Katanya suatu hari, setelah Kageyama memberikan ultimatum agar dirinya jangan naik motor kalau tugas kelompoknya selesai sampai larut malam.
(”Kamu nginep aja di rumah Yamaguchi, baliknya besok pagi.”)
Pemuda itu hanya mendengus sebelum kembali menghabiskan vanilla shake yang sudah dipesan hingga sisa setengah. Ini juga yang lucu, yang sering disalahpahami oleh banyak orang— walaupun memiliki tampang masam, aslinya sang kekasih menyukai minuman dan makanan manis. Sangat kontra dengan dirinya yang justru lebih menyukai Americano di balik pribadi penuh energi.
“Kamu orangnya cepet ngantuk. Nanti kalau di jalan kenapa-kenapa, gimana?”
Hinata terpekur. Lama. Padahal itu kalimat biasa (dan harus diakui memang sesuai fakta), tetapi jantungnya tak ayal berdetak lebih cepat saat mendengarnya.
(Hinata merasa disayang.)
“Permisi, Anda pesan satu americano?”
Suara dari pelayan yang datang mengalihkan atensi keduanya. Pelayan itu tersenyum sekilas selagi meletakkan secangkir minuman pekat itu di depan Kageyama. Kekasihnya mengangkat satu alis, tetapi tidak mengatakan apa pun untuk mengoreksi.
Hinata menyeringai lebar.
Begitu pelayan telah pergi, Hinata menjulurkan tangan— bermaksud meraih cangkir kopi tersebut ke arahnya. Namun, tangan Kageyama terjulur lebih dulu ke tumpukan gula batu yang ikut diletakkan di piring kecil sebelah cangkir. Jari lentik kekasihnya mengambil dua sembari bertanya,
“Gulanya dua, kan?”
Tanpa menunggu jawaban, gula itu dimasukkan ke dalam cangkir yang masih mengeluarkan asap tipis lalu diaduk pelan.
Hinata mengerjap. Tangannya perlahan kembali ke pangkuan.
“Pokoknya,” Kageyama tiba-tiba kembali bersuara sambil mendorong cangkir kopi tersebut ke arahnya, “kamu mending nginep aja atau kalau nggak mau ngerepotin Yamaguchi, kamu bisa telepon aku buat minta jemput.”
“Tapi nanti yang ada aku malah ngerepotin kamu.”
Kening mulus milik sang kekasih berkerut dalam dan biner biru itu menatapnya tajam.
“Ngerepotin apa, sih? Kalau kamu kenapa-kenapa, itu baru namanya ngerepotin.”
Hinata tak membantah. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyuman penuh arti.
“Apa?” tanya Kageyama, agaknya paham ada sesuatu yang tidak langsung dikatakannya.
“Kamu perhatian banget, ya, ternyata.”
Lawan bicaranya mendengus pelan. Kendati begitu, Hinata bisa melihat ujung telinga Kageyama sedikit memerah.
“Cuma ke kamu,” gumam sang kekasih. Pelan. Karena memang hanya ditujukan untuk dirinya.
Hinata tak pernah lagi berusaha membuat Kageyama berbicara di depan orang banyak karena pemuda itu memang pendiam.
Tetapi sayang yang diberikan untuknya, terdengar begitu keras.
Prompt 64. It's two sugars, right?
@fakeloveros