Oikawa nyaris tidak bisa merasakan getar yang ada di dalam kantungnya— terima kasih kepada hujan di luar sana yang berhasil membuat tubuhnya gemetar kedinginan. Namun, seharusnya ia sudah memperkirakan cuaca buruk yang tiba-tiba datang tepat di jam pulang kerja mengingat beberapa hari belakangan memang sering turun hujan di kala petang. Dirinya saja yang terlalu keras kepala (Oikawa tidak mau mengakui bahwa sebenarnya dia malas) hingga menolak untuk membawa payung. Padahal, Iwaizumi sudah menasihatinya berulang kali untuk membawa benda yang sering diletakkan di depan pintu apartemen mereka. Sekarang dialah yang harus menanggung akibat dari kelalaiannya tersebut.

Omong-omong soal sang kekasih, ia yakin panggilan serta denting notifikasi yang dari tadi masuk ke ponselnya berasal dari pria itu. Namun, Oikawa hanya ingin cepat-cepat sampai ke apartemen sehingga ia terpaksa mengabaikan semua itu. Setelah menyeringai lebar kepada penjaga keamanan di bangunan apartemennya— yang hanya menatapnya penuh simpati melihat keadaan tubuhnya sekarang —Oikawa buru-buru masuk ke lift dan memencet tombol lantai 17. Tangannya mengeratkan jaketnya yang basah seolah itu akan membantu memberi kehangatan.

Setelah lift berhenti, kakinya yang berat berusaha menyeret tubuhnya secepat mungkin. Ia tidak sabar untuk segera melepas baju dan berdiri di bawah pancuran air mandi yang hangat. Mungkin, dia juga bisa membujuk kekasihnya untuk membuatkan segelas cokelat hangat.

Bayangan itu sungguh menakjubkan di kepalanya hingga Oikawa tidak sadar pintu apartemennya terbuka duluan di saat tangannya bersamaan menyentuh gagang. Kepalanya hampir saja terbentur kalau dirinya tidak segera melangkah mundur. Ia nyaris mengumpat kalau bukan karena lebih dulu melihat Iwaizumi berdiri di ambang pintu dengan payung dan kunci mobil di tangan kanan. Kening pria itu berkerut dalam dan ada kekhawatiran tersirat di balik iris hijau yang menatapnya terkejut.

“Tooru?”

Nada pria itu terdengar lebih terkejut lagi, terutama saat memperhatikan penampilannya yang pastinya terlihat seperti anjing kecebur got.

“Loh, aku baru mau jemput kamu! Kenapa teleponku nggak diangkat?” tanya sang pemilik suara seraya membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan dirinya masuk. Oikawa mengerang selagi menyambut kehangatan apartemen dengan penuh sukacita.

“Sori, sori. Soalnya tadi udah di jalan dan aku cuma pengen cepet-cepet sampai makanya nggak sempet jawab telepon kamu,” jawabnya cepat sembari menjatuhkan tas ke atas lantai dan mulai melepas satu per satu kain yang menempel di kulitnya. “Bentar ya, kamu boleh marahin aku nanti, tapi aku mau mandi dulu!”

Ia tidak sempat mendengar jawaban sang lawan bicara karena pintu kamar mandi keburu menjadi penghalang di antara mereka berdua. Oikawa cepat-cepat menyalakan shower dan mendesah puas saat air hangat yang keluar mulai menghilangkan jejak dingin di kulitnya. Kendati begitu, ia tidak ingin berlama-lama di kamar mandi. Setelah memastikan tubuhnya sudah cukup hangat, ia keluar dan melihat satu setel pakaian bersih diletakkan di atas kabinet kamar mandi. Oikawa mengeringkan tubuhnya, lantas mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek yang ia yakini disediakan oleh sang kekasih. Oikawa tersenyum manakala keluar dari kamar mandi dan disambut oleh pemandangan Iwaizumi yang sudah berada di balik selimut dengan punggung menyender di kepala kasur. Pria itu tidak mengangkat wajah dari layar ponsel, sekalipun Oikawa sudah ikut bergabung. Barulah ketika Oikawa meringkuk mendekat dan melingkarkan tangan di sekitar pinggang serta menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Iwaizumi, pria itu angkat bicara.

“Lain kali jangan lupa bawa payung.”

Oikawa menggumam pelan dan hanya mengeratkan pelukannya sembari menghidu aroma maskulin si pemilik netra hijau lebih dalam.

“Kalau lupa lagi, seenggaknya jangan nekat pulang dulu, apalagi kalau hujannya lebat. Minta jemput aja apa susahnya, sih?”

Yang terakhir, diucapkan dengan sedikit menggerutu. Meski begitu, Oikawa hanya menyeringai tanpa rasa bersalah di atas kulit hangat kekasihnya.

“Kamu anget,” tukasnya, sambil menarik pria itu seolah jarak yang terkikis di antara mereka belumlah cukup. Iwaizumi tidak membalas, hanya mengangkat tangan kanan untuk mengusap kepalanya dan bermain di antara surai cokelatnya.

Oikawa menghela napas nyaman dan memejamkan mata agar dapat lebih menikmati gestur lembut tersebut. Beberapa menit kemudian, telinganya menangkap bunyi barang diletakkan di atas nakas sebelum tiba-tiba ada dua tangan yang kini ganti menariknya lebih erat.

“Sini.”

Oikawa tersenyum senang manakala perintah halus itu terdengar. Tangan Iwaizumi tak lagi bermain di rambutnya, melainkan membuat gerakan maju mundur di atas kulit pahanya yang terpamerkan berkat celana pendek yang ia kenakan. Oikawa sengaja menaikkan salah satu tungkai kakinya di atas pangkuan sang kekasih. Seperti biasa. Dan walau Iwaizumi sering mengeluh berat, pria itu tidak pernah mendorongnya menjauh sama sekali.

Oikawa tidak tahu sejak kapan dirinya jatuh tertidur, tetapi saat merasakan sentuhan di kening dan pipinya, ia membuka matanya sedikit.

“Kamu udah ngantuk?”

Pertanyaan itu dibisikkan pelan seolah keheningan yang ada belum cukup membantu. Oikawa menganggukkan kepala seiring kelopaknya yang terpejam kembali.

“Nggak mau aku bikinin cokelat panas dulu?”

Oikawa tersenyum dalam tidurnya. Mana mungkin dia menolak tawaran menggiurkan tersebut?

“Mau,” gumamnya di antara kantuk yang masih menguasai. Samar, ia bisa merasakan selimut disingkap dan beban yang mulai berkurang dari atas kasur. Namun, sebelum Iwaizumi benar-benar mampu beranjak, tangannya meraih pria itu tanpa sadar.

“Cium dulu.”

Apa Oikawa melafalkan dua kata itu dengan jelas? Atau ia perlu mengulangi? Karena setelahnya, tidak ada apa pun yang terjadi. Baru ia ingin membuka mulut untuk kembali berucap, sudah ada lembut bilah bibir yang mendiamkannya.

Ciuman itu singkat dan hanya sedikit tenaga yang bisa ia keluarkan untuk membalas. Meski begitu, tak ada yang bisa mengalahkan manisnya.

Sekalipun lawannya adalah cokelat panas yang disukainya.


Prompt 70. You're Warm

@fakeloveros