“Kalau bener kamu ngerencanain sesuatu, aku bakal ngambek selama seminggu penuh.”
Pria yang diancamnya malah tertawa selagi menarik pinggangnya mendekat. “Cuma seminggu?”
“Apa? Cuma? Emang kamu mau lebih?!”
Iwaizumi menjatuhkan kecupan ringan di pipinya, mengabaikan pertanyaan konyolnya.
“Kamu udah siap?”
Oikawa menunjuk ke arah lantai dan sang kekasih mengikuti arah tunjuknya.
“Nih, aku beneran pake running shoes sesuai yang kamu suruh!”
Iwaizumi mengangguk-angguk, ada senyum kecil terlukis di wajah tampan pria itu. Walaupun masih merasa curiga, Oikawa lebih memilih untuk tidak menanyakan apa pun lagi— tahu persis bahwa usahanya akan sia-sia karena sang atlet profesional pun sama keras kepalanya dengan dia. Oikawa hanya berharap tidak ada satu pun paparazzi yang akan benar-benar mengenali dan mengejar mereka.
“Manajerku udah reserve di ruangan privat pake nama dia. Ada kenalannya juga ternyata yang kerja di sana, jadi nggak perlu khawatir,” ujar Iwaizumi selagi mereka melangkah menuju tempat parkir. Oikawa setengah mendengarkan karena sibuk membenarkan topi dan kacamatanya. Iwaizumi sendiri mengenakan hoodie dan masker yang menutupi nyaris setengah wajah. Seharusnya dengan dandanan seperti ini tidak akan ada yang sadar mereka siapa. Namun entah mengapa, beberapa hari belakangan media mulai curiga akan hubungan mereka— seorang model dan atlet boxing papan atas. Demi keberlangsungan profesi masing-masing, turun perintah dari agensinya untuk merahasiakan hubungan walaupun awalnya Oikawa menolak keras. Ia justru ingin semua orang tahu karena bagaimanapun, perjalanan kisah asmara mereka tidak terbilang mudah. Dan semua itu diawali dari pertemuan yang sebenarnya sangat konyol jika diingat-ingat lagi.
Tapi lambat laun, Iwaizumi sendiri akhirnya menyetujui syarat dalam hubungan mereka. Oikawa sebenarnya masih mempertanyakan hal itu sampai sekarang, tapi selama hubungan mereka berjalan lancar, ia hanya menyimpannya dalam hati.
Mereka tidak menghabiskan banyak waktu di jalanan, mengingat itu belum memasuki jam pulang kerja. Saat mereka disambut sopan oleh pelayan, Oikawa menggulirkan matanya ke penjuru restoran— sejauh ini, tidak ada yang terlihat mencurigakan.
“Silakan ke sebelah sini,” tukas pelayan wanita yang menyambut mereka sambil menunjuk ke satu arah. Oikawa yang mulai rileks pun mengikuti langkah Iwaizumi yang berjalan di depannya.
Setelah masuk ke ruangan privat yang disediakan dan memesan beberapa menu, Oikawa segera mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar sang manajer. Namun, saat sedang membaca beberapa pesan masuk, ketukan dari atas meja berulang kali mengalihkan fokusnya. Iwaizumi yang merasa tepergok langsung menarik tangan, berdeham, dan memperhatikan lukisan di dinding dengan penuh minat.
“Kamu kenapa, sih?” tanyanya, yang merasa heran melihat kelakuan tak biasa sang kekasih. “Kok keliatan nervous gitu?”
“Siapa yang nervous?”
Jawaban cepat itu justru menimbulkan kecurigaan dalam dirinya yang tadi sempat hilang. Oikawa meletakkan ponsel lalu memperhatikan pria di hadapannya dengan mata memicing.
“Ayo ngaku, kamu habis ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain, kok.”
Beruntung, pria itu diselamatkan oleh dua pelayan yang masuk mengantarkan pesanan. Perutnya yang lapar pun terpaksa membuat sesi interogasi itu ditunda. Meski begitu, bukan berarti Oikawa tidak mengawasi gerak-gerik kekasihnya, bahkan selama makan. Iwaizumi kerap kali melirik ke arah ponsel seakan menunggu seseorang menghubungi. Oikawa tidak mengungkit hal tersebut dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan makan sembari sesekali mengajak ngobrol sang kekasih.
Begitu makanan di atas meja telah tandas dan mereka sedang menunggu pelayan membawakan bill, Oikawa mencondongkan tubuh dan menatap Iwaizumi tepat di manik mata.
“Aku tau kamu nyembunyiin sesuatu. Ya, kan?”
Pria yang sedang memasukkan ponsel ke dalam kantung celana itu menghentikan gerakan sesaat lalu menatapnya balik. “Nyembunyiin apa? Nggak, kok.”
“Jangan bohong,” tuduhnya tajam. “Emang dari tadi kamu kira aku nggak merhatiin apa? Lagi makan aja kamu ngeliatin HP terus kayak nungguin chat atau telpon dari seseorang. Siapa, tuh? Ada urusan apa?”
“Tooru,” Iwaizumi menghela napas keras, “aku nggak lagi nungguin chat atau telpon dari siapa-siapa. Beneran.”
“Tapi, dari tadi kamu—”
Ucapannya terhenti akibat pelayan yang tiba-tiba membuka pintu dan menyerahkan bill. Oikawa melirik kesal ke arah sang kekasih, tetapi bibirnya terpaksa dikatupkan rapat. Setelah menyelesaikan proses pembayaran dan bersiap keluar, Oikawa bertekad akan mendiamkan Iwaizumi sampai pria itu mau berkata jujur lalu—
“Shit.”
Umpatan keras dari pria di belakangnya membuat Oikawa menoleh. Keningnya mengerut bingung melihat Iwaizumi yang nampak pucat. Bukan melihat ke arahnya, melainkan ke satu arah di mana…
“ITU MEREKA! OIKAWA SAMA IWAIZUMI!”
…ada segerombolan paparazzi yang berdiri di dekat pintu masuk restoran.
Oikawa belum sempat memproses apa yang terjadi, tetapi Iwaizumi sudah keburu menarik tangannya hingga ia terpaksa berlari. Beberapa pejalan kaki menoleh ke arah mereka, nampak terkejut dengan aksi kejar mengejar yang terjadi di tengah kota. Oikawa sempat menoleh dan menghitung ada tujuh orang berkacamata hitam dan mengenakan masker tengah mengejar mereka. Keningnya mengernyit karena entah mengapa, ada sesuatu yang familier dari ketujuh orang tersebut.
“Tooru! Ke sini!”
Tarikan yang terasa di pergelangannya membuat fokusnya kembali ke depan. Langkah cepat Iwaizumi menuntun mereka masuk ke jalanan yang lebih kecil, jauh dari jalur pejalan kaki dan mobil yang lalu-lalang. Dadanya mulai kesulitan mengambil napas hingga ia berusaha menarik tangan Iwaizumi agar memperlambat lari. Namun, apalah tenaganya dibanding seorang atlet boxing yang terbiasa memukul mundur lawan-lawannya.
Iwaizumi mungkin bisa merasakan langkahnya yang melambat. Pria itu menoleh ke arahnya dan berteriak sambil tersenyum.
Eh? Tersenyum?
“Ayo! Sedikit lagi!”
Oikawa ingin bertanya, ke mana tujuan pria itu sebenarnya? Tapi saat mulutnya terbuka, yang keluar hanyalah deru napas liar. Dengan sisa-sisa tenaganya, Oikawa memaksa agar kakinya terus bergerak— persetan dengan orang-orang yang masih mengejar mereka di belakang.
Tiba-tiba, lingkungan di sekitar mereka terlihat sungguh tidak asing.
Otaknya berputar cepat— berpikir kapan ia pernah melewati toko kelontong berwarna biru cerah itu atau rumah di tikungan yang memiliki kotak surat dengan patung burung hantu kecil di atasnya. Taman kecil yang barusan mereka lewati pun seperti tidak asing. Begitu pula dengan—
“T-tunggu! Stop!”
Oikawa refleks berseru lantang manakala semua terpasang pas di memorinya, seperti potongan puzzle yang menemukan tempat masing-masing. Iwaizumi berhenti dengan napas terengah begitu mendengar teriakannya. Oikawa memutar tubuh dan memperhatikan lingkungan yang masih persis sama seperti dalam ingatannya dua tahun lalu.
Ia ingat pernah kabur dari kejaran paparazzi juga di jalan ini, tapi malah tak sengaja memukul seseorang.
“Astaga! Kamu lari terus dan nggak sengaja malah bawa kita ke sini! Ih, kamu inget tempat ini? Ini, kan, tempat pas kita ketemu pertama kali! Inget, nggak? Waktu itu aku lagi dikejar-kejar paparazzi, terus tau-tau kamu muncul dari tikungan situ, bikin kaget aku, dan taunya aku malah nggak sengaja mukul kamu! Ya ampun, aku bahkan masih inget tampang bete kamu waktu itu soalnya—”
“Tooru…”
“Dan manajer aku nyari-nyariin, tapi baterai HP-ku habis jadi terpaksa minjem punya kamu. Dan pas itu pun kamu masih bete gara-gara kamu nganggap aku cerewet banget! Terus—”
“Tooru.”
“Tapi, kan, bukan salahku wajah kamu jadi memar! Siapa suruh kamu muncul tiba-tiba! Dan habis itu aku baru tau ternyata kamu atlet boxing! Jadi, harusnya kamu udah biasa, dong, nerima pukulan kayak gitu. Kenapa waktu itu kamu malah—”
“Oikawa Tooru.”
Oikawa berhenti begitu nama lengkapnya disebut. Ia tidak sadar dari tadi sudah meracau panjang lebar. Untunglah Iwaizumi hanya memutar kedua bola mata sembari tersenyum maklum. Pria itu maju, lantas mengusap salah satu pipinya lembut dengan ibu jari.
“Nggak berubah. Kamu masih cerewet kayak dua tahun lalu.”
“Eh, siapa bilang!” protesnya tidak terima. Namun, bibirnya segera mengatup kembali begitu ada ciuman yang mendarat di keningnya.
“Tapi, buat dua menit aja, gantian aku yang jadi cerewet sekarang.”
Bibirnya membuka untuk kesekian kali, tapi tatapan memperingatkan Iwaizumi membuatnya diam.
Kekasihnya menarik napas panjang.
“Aku juga masih inget jelas pertemuan pertama kita di sini. Waktu itu, aku lagi nyari rumah temen, tapi malah nyasar ke jalan kecil yang lumayan sepi ini. Aku muter ke sana kemari, tapi nggak ada satu pun orang yang bisa ditanya. Jadi, bayangin seberapa kagetnya aku pas tau-tau malah ketemu cowok yang lebih tinggi dari aku, rambut cokelat, pake jaket denim dan kacamata item, terus teriak kenceng banget sebelum ninju aku keras.”
Oikawa merona malu, tapi nampaknya, sang kekasih belum selesai berbicara.
“Aku nggak begitu suka nonton TV, jadi nggak langsung tau cowok itu siapa. Baru setelahnya, aku liat wajah dia di papan iklan yang ada di pinggir jalan, di cover majalah, di poster depan jendela minimarket, juga di… mana-mana. Cowok itu ada di mana-mana selama ini dan aku baru sadar setelah dipukul dia.”
Oikawa mendengus, masih belum paham alasan Iwaizumi membicarakan soal itu sekarang. Ia ingin segera memotong, tapi Iwaizumi yang paham langsung melatakkan telunjuk di atas bibirnya— mendiamkan secara halus.
“Tunggu, aku belum selesai,” bisik pria itu, dengan senyum yang kian merekah.
“Tapi ini udah lebih dari dua menit…” keluhnya sembari menyingkirkan telunjuk pria itu dari atas bibirnya. “Kamu ngapain ngomongin ini sekarang, sih? Kita bukannya lagi dikejar—”
“Lucunya, habis kejadian dipukul itu, aku nggak bisa berhenti mikirin dia.”
Iwaizumi seolah tidak mendengarnya dan terus melanjutkan cerita. Oikawa otomatis terdiam setelah mendengar kalimat barusan.
“Aku nggak tau itu karena first impression dia kuat banget, atau karena aku selalu liat wajah dia di mana-mana, atau itu sekadar feeling.”
“Feeling?” Oikawa mengulangi— bingung sekaligus tidak percaya.
“Feeling,” angguk sang lawan bicara, terlihat amat yakin. “Feeling bahwa sekalinya aku kenal dia, ngobrol, makan bareng, atau jalan bareng— semua itu nggak bakalan bikin aku puas. Aku pasti bakal mau lebih, lebih, dan lebih sampai dia ngerasain hal yang sama. Sampai dia juga mau terus kenal aku, ngobrol, makan dan jalan bareng. Sampai dia bisa cerita tentang semua hal ke aku, nangis ke aku, seneng-seneng sama aku, dan nyaman di aku. Aku mau dia ngerasain itu juga sampai kata ‘mau’ berubah jadi ‘butuh’. Sampai kita nggak bisa hidup tanpa satu sama lain.”
Oikawa, yang terkenal tak pernah diam dalam hidupnya, kini bahkan terlalu terkejut untuk mengeluarkan satu patah kata. Terlebih, saat Iwaizumi mulai mengambil jarak, meraih tangannya dan mengeluarkan kotak beludru berwarna navy dari dalam kantung hoodie.
“Oikawa Tooru, will you marry me?”
Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. Iwaizumi masih menatapnya— menunggu. Kendati pria itu terlihat tenang, ada gugup yang bermain di balik iris hijaunya. Oikawa sendiri tidak bisa menebak seperti apa ekspresinya kini. Terkejut? Jelas. Terharu? Apalagi. Senang? Luar biasa.
Tapi, mereka bahkan masih merahasiakan hubungan dari mata publik. Bagaimana jadinya kalau tiba-tiba mereka menikah sekarang? Bukankah itu akan lebih menjadi omongan…?
Iwaizumi Hajime pastilah seorang cenayang.
“Hal lain bisa kita pikirin nanti,” jari yang mengusap lembut di atas miliknya masih belum berhenti, “yang penting sekarang…” Iwaizumi menarik napas dalam, kelopak pria itu ikut mengerjap beberapa kali, “kalau kamu nggak mau liat aku kena serangan jantung di sini, mending cepetan kasih jawaban.”
Oikawa tertawa renyah. Ada lapisan tipis air yang menggenang di pelupuk matanya. Ia menghapusnya dengan telunjuk sebelum tersenyum cerah ke arah pria itu.
“Well, kalau kamu mikir aku bakalan jawab nggak, kayaknya aku yang bakal kena serangan jantung di sini,” jawabnya lugas. “So, yes, I’ll marry you.”
Dari bibirnya lolos pekikan riang saat Iwaizumi tiba-tiba meraihnya dan menciumnya keras. Bibir sang kekasih menekannya dengan jutaan emosi yang mampu ia terka— puas, lega, dan bahagia. Oikawa mengalungkan lengannya di sekitar leher pria itu, ikut memberikan sentimennya sendiri dari tautan bibir yang mulai melembut. Terakhir, saat Iwaizumi membisikkan kata cinta di ujung bibirnya, barulah momen persetujuan itu terasa begitu nyata.
Itu sebelum tiba-tiba terdengar suara jepretan kamera dari belakang punggungnya.
Oikawa menengok dengan panik— mendapati paparazzi yang mengejar mereka tadi ternyata sudah berada di belakangnya. Ia baru akan menarik tangan Iwaizumi untuk mengajak kabur, sebelum berhenti ketika salah satu paparazzi membuka topi dan kacamata gelap yang dikenakan.
“YOHOOOO!!! SELAMAT BUAT PASANGAN BARU KITA!!”
“CONGRATS, YAA! AKHIRNYA BAKAL NIKAH JUGA KALIAN!”
“UDAHLAH NGGAK USAH BACKSTREET LAGI! CEPETAN UMUMIN TANGGALNYA!”
Dan sorakan lain dari orang-orang yang jelas dikenalnya dalam lingkup pertemanan sang kekasih. Matsukawa dan Hanamaki berdiri paling depan, memimpin sorak sorai itu. Kunimi dan Watari berdiri di samping, sibuk memotret mereka dengan kamera besar yang entah didapat dari mana. Kindaichi dan Yahaba membuat gerakan-gerakan aneh dengan tangan mereka selagi ikut menghebohkan suasana. Sedangnya Kyoutani hanya berdiri sambil melipat kedua tangan, mengawasi dengan tampang galak kendati ada sedikit senyum yang terpatri di sana.
Bukannya ikut terkejut, Iwaizumi malah tertawa terbahak-bahak di sebelahnya. Oikawa memproses cepat, kemudian tersadar bahwa semua ini pastilah telah direncanakan.
“Pantesan aja kamu nyuruh aku pake running shoes! Ternyata udah tau kita bakalan dikejar sama… mereka!” sungutnya dengan bibir mengerucut maju. “Dari kapan kamu ngerencanain ini, hah?”
Dengan sisa tawa di bibir pria itu, Iwaizumi meraih tangannya kembali dan menyelipkan sebuah cincin perak di sana. Kekesalannya lantas terlupakan— mengagumi indahnya cincin itu di atas kulitnya. Iwaizumi membawa jari yang dilingkari cincin itu, kemudian mengecupnya lembut.
“Dari pertama kali aku ketemu kamu.”
Walaupun Oikawa tahu jelas-jelas itu mustahil, setidaknya ia bisa paham sekarang apa maksud dari feeling yang dimaksud Iwaizumi di awal. Namun, yang perlu ia pusingkan sekarang tinggal bagaimana mengumumkan pertunangannya di hadapan publik.
Mungkin sambil mencari tanggal yang tepat.
@fakeloveros