contents warning: heavy make out scene

Begitu Oikawa keluar dari kamar mandi, dilihatnya Iwaizumi sudah berada di atas tempat tidur dengan punggung yang menyender di kepala kasur. Entah apa yang dilihat pria itu di layar ponsel hingga begitu fokus dan baru mengangkat kepala saat dirinya bertanya, “Kamu kalau tidur lampunya dinyalain atau dimatiin?”

Iwaizumi tertawa, suaranya membuat Oikawa menelan ludah. Sebenarnya ia mengeluarkan pertanyaan apa saja demi mengalihkan perhatian matanya dari Iwaizumi yang bertelanjang dada. Pria itu nampak nyaman hanya dengan mengenakan sweatpants berwarna hitam. Oikawa rasanya ingin berteriak— sungguh tidak adil seseorang bisa terlihat semenawan itu dalam penampilan yang amat minimalis. Matanya melirik sedikit ke arah kaca, menilai penampilannya sendiri yang mengenakan setelan andalan baju tidurnya— kaus putih kebesaran dan celana pendek. Tapi celana itu sudah ia kenakan bertahun-tahun, bahkan ketika tingginya terus bertambah. Tidak heran kalau kini ujung celana itu bahkan tidak mencapai setengah pahanya.

Dan Oikawa tidak melewatkan, bagaimana mata Iwaizumi menelusuri tungkai kakinya sebelum menjawab ringan, “Aku bisa dua-duanya, kok.”

“Berarti matiin aja nggak apa-apa, kan? Aku nggak bisa tidur kalau ada cahaya soalnya,” tukasnya sambil memalingkan mukanya yang terasa panas. Rasa-rasanya ia tidak sanggup menatap mata Iwaizumi sekarang.

“Nggak apa-apa.”

Oikawa mengangguk lalu berjalan menuju tasnya dan berpura-pura sibuk mencari sesuatu. Badannya membelakangi pria itu, tapi ia masih bisa merasakan tatapan di punggungnya.

“Boleh aku nanya sesuatu?”

Pertanyaan itu mengejutkannya sehingga ia langsung menoleh ke belakang. “Mau nanya apa?”

“Kenapa kamu mau-mau aja aku ajak ke Bandung?”

“Kenapa nggak?” Balasnya bingung. Tangannya berhenti, tak lagi berpura-pura mencari sesuatu dari dalam tas.

“Maksudku, kita baru kenal beberapa bulan, kan. Emang kamu nggak takut kita bakal canggung atau gimana?”

Oikawa mengerutnya keningnya. Ia pun berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur. Setelah mengambil posisi ternyaman dengan ikut menyenderkan punggung di kepala kasur, Oikawa berpikir sejenak.

“Istilahnya kita emang baru mulai ngobrol dan jalan beberapa bulan terakhir, tapi kita udah saling kenal pas awal masuk kantor, kan, jadi…” Oikawa mengangkat bahu, “aku sih nggak ngerasa canggung. Lagian kamu yang nawarin mau traktir aku, masa rejeki ditolak?” Tambahnya lagi sambil menyeringai lebar.

Iwaizumi mendengus dan meletakkan ponsel di atas nakas. Pria itu mengubah posisi hingga menghadap sedikit ke arahnya. “Gimana kalau ternyata aku ngajak kamu ke sini karena punya niat aneh?”

“Gaji kita sama, apa yang kamu mau curi dari aku?” Ucap Oikawa dengan sedikit jenaka. “Terus kalau kamu mau bunuh aku… hmm…” Oikawa meneruskan sambil menggelengkan kepala. “Nggak ada untungnya juga deh kayaknya buat kamu selain bisa dapet penginapan gratis di penjara.”

“Emang mukaku nggak kayak orang jahat, ya?”

Oikawa tergelak, ikut memiringkan badannya hingga mereka saling berhadapan. “Muka kamu serem sih kalau lagi diem, tapi nggak sampai level orang jahat juga.”

“Kalau niat anehku kayak gini gimana?”

Tiba-tiba, dalam satu kedipan mata, Iwaizumi mencondongkan tubuh hingga menyisakan mereka dalam jarak satu jengkal. Gerakan pria itu sangat mendadak sampai Oikawa secara otomatis menahan napas. Wajah mereka teramat dekat, ia bisa merasakan hembusan napas pria itu menerpa lehernya.

“Kayak gini nggak apa-apa?” Iwaizumi nampaknya berusaha memancing agar dirinya beraksi, bukannya terdiam seperti patung. Tapi pria itu pasti tidak tahu betapa cepat jantungnya berdegup sekarang sampai ia takut akan kedengaran. Dan bukannya tidak ingin bersuara juga, tapi lidahnya amat kelu sehingga tidak ada kata-kata yang mampu terlontar.

“Kita bisa kayak gini semaleman,” lirih pria itu membuat Oikawa menelan ludah dan menjilat bibir. Iwaizumi mengikuti gerakan kecil itu dengan matanya sebelum kembali beradu pandang. “Atau kamu bisa ngangguk…”

Suaranya terdengar serak saat bertanya, “Emang kenapa kalau aku ngangguk?”

“Mungkin aku bisa…” Pria itu sengaja menggantungkan kalimat selagi menatap bibirnya, kali ini secara terang-terangan, “bikin kamu jadi lebih rileks.” Iwaizumi mengangkat sudut bibir, membentuk senyuman miring. “Soalnya kamu keliatan tegang banget sekarang.”

Tidak diragukan lagi, suara debar jantungnya pasti sudah terdengar sekarang. Oikawa sesungguhnya tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Bisikan pria itu seperti menghipnotis, jadi ia pun mengangguk pelan.

Oikawa tadinya ingin menghitung sampai tiga di kepala seraya menunggu apa yang akan dilakukan pria itu. Tapi, baru angka satu terucap di kepalanya, matanya keburu dipejamkan saat merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Oikawa tidak berani bernapas, takut merusak suasana tersebut atau tahu-tahu ia terbangun dari mimpi yang sangat indah.

“Jangan tahan napas.”

Kata-kata Iwaizumi benar-benar bagai menghipnotis— Oikawa langsung menghela napas dan mengambil pasokan udara baru untuk mengisi paru-parunya yang terasa panas. Selama itu, Iwaizumi mengangkat tangan dan mengelus rahangnya lembut.

Setelah napasnya kembali normal, Oikawa baru berani menatap mata sang lawan bicara. Iwaizumi tersenyum kecil dan beringsut maju untuk kedua kalinya.

Kali ini, Oikawa sudah lebih siap menerima ciuman itu.

Walau masih terasa lembut dan penuh kehati-hatian, pagutan Iwaizumi menjadi lebih dalam. Pria itu tidak seperti ragu saat menjilat bagian terluar bibirnya hingga membuatnya terkesiap. Oikawa harus mencari pegangan, dan tahu-tahu tangannya menemukan apa yang dicari di sekitar leher pria itu. Kulit bertemu dengan kulit. Tangan Iwaizumi masih merengkuh wajahnya, namun yang satu lagi berada di pinggangnya untuk menariknya lebih dekat.

Kepalanya terasa pening. Ia membutuhkan udara, tapi di satu sisi tidak ingin berhenti. Gerakan mereka semakin cepat, seperti berkompetisi siapa yang akan menyerah duluan.

Tekadnya langsung lenyap begitu merasakan sentuhan panas yang meyusup ke balik kausnya.

Oikawa mendesah. Keras. Dan matanya langsung terbelalak begitu menyadari apa yang baru saja dilakukannya, tetapi Iwaizumi seperti tidak menaruh peduli dan terus menciuminya. Bibir pria itu berusaha mencapai semua yang bisa diraih; sudut bibir, pipi, rahang, dan turun ke lehernya. Namun, posisi mereka yang sedikit aneh di atas kasur membuat Oikawa kesulitan mendongakkan kepala.

Seolah bisa membaca pikirannya, Iwaizumi langsung menarik pinggangnya dan memosisikannya di atas pangkuan pria itu. Oikawa lagi-lagi terkesiap karena Iwaizumi begitu mudah memindahkannya seakan-akan berat tubuhnya tidaklah seberapa. Namun, dengan posisi yang lebih sugestif itu, membuat Oikawa bisa merasakan sesuatu yang keras di bawahnya.

“Maaf…” Iwaizumi berbisik rendah diiringi napas berderu saat melihat tatapannya mengarah ke mana. Oikawa buru-buru menggeleng dan menarik wajah pria itu agar bibir mereka kembali dipertemukan.

Sekujur tubuhnya sekarang terasa panas. Sesak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang bergejolak dan menuntut akan sesuatu. Tapi, Oikawa tidak tahu bagaimana harus menyuarakannya. Ia terlalu terlena oleh segara friksi yang diciptakan pria itu sehingga pikirannya dengan mudah teralihkan.

Tapi bukan berarti tubuhnya tidak bisa menyampaikan keinginan tersebut.

Iwaizumi menggigit bibirnya saat pinggulnya tidak sengaja menekan ke bawah, tepat di atas tonjolan yang bergesekan dengannya. Oikawa menekan lagi karena gerakan kecil barusan menimbulkan gelenyar nikmat yang belum pernah ia rasakan. Rengkuhan yang ada di pinggangnya menguat sesaat dan Iwaizumi mengeluarkan geraman kecil.

“Oikawa…” pria itu menyebut namanya susah payah, “kalau kamu terus-terusan begitu, aku nggak bakal bisa nahan diri.”

“Jangan,” selorohnya cepat sambil dengan sengaja membuat gerakan menekan dan memutar. Iwaizumi mendesah keras di atas bibirnya. “Jangan ditahan.”

“Kamu yakin?”

Oikawa mengangguk frantik. Ia tahu apa yang diinginkannya dan kebahagiannya sekarang sungguh tak terkira karena mengetahui Iwaizumi menginginkan hal yang sama. Jadi kali ini, ia bertekad tidak akan melewatkan kesempatan yang hadir di depan mata.

“Kalau gitu,” Iwaizumi berbisik tepat di atas telinganya, menghantarkan panas lewat suara yang membuatnya bergerak tak sabar, “anggap ini hadiah ulang tahunku buat kamu.”

@fakeloveros