Oikawa sesungguhnya tak begitu terkejut melihat anak lelakinya itu belum tidur dan malah muncul di ruang tamu dengan tampang risau yang sama. Mungkin anaknya mendengar dia membuka pintu kamar sehingga ikut keluar dan menghampirinya seperti sekarang. Sugawara yang tengah menanti setengah mati ceritanya bisa menunggu, tapi—
Tapi tidak untuk Tobio.
“Sori, kamu kebangun gara-gara papa, ya?” Mulutnya mengeluarkan pertanyaan seperti itu— berpura-pura tidak tahu.
Tobio menggeleng, terlihat sedikit ragu sebelum mengambil tempat di sebelahnya seperti sebelum Iwaizumi menginterupsi mereka. “Pa…”
“Hm?”
“Papa, kan, bilang alasan mau ngadopsi anak lagi biar nggak kesepian kalau misalnya ayah ada dinas luar…”
Oikawa berhenti berpura-pura melihat layar ponselnya. Ini awal percakapan yang berada di luar ekspektasinya. “Hmm… itu salah satu alasannya, sih. Kenapa emang?”
“Kalau udah ada yang nemenin… emang papa nggak bakal kangen sama ayah?”
Oikawa diam— memperhatikan figur anaknya dari samping yang, tanpa ia sendiri sadari, telah tumbuh menjadi lebih dewasa. Hilang ekspresi polos yang dulu sering menyambutnya di depan pintu, walau sorot mata yang menampilkan kesan cuek itu masih ada. Oikawa sering merasa lucu karena meskipun Tobio jelas-jelas diadopsi, sifat anak itu amat mirip dengan Iwaizumi.
Kendati begitu, ada kalanya Tobio lebih sulit dibaca dibanding suaminya. Oikawa terkadang harus lebih berhati-hati dalam memilih perkataan, terutama dalam situasi seperti ini.
“Jangankan pas lagi dinas luar, ayah kamu lagi kerja aja papa masih kangen,” Oikawa sedikit terkekeh, “jadi… walaupun ada yang nemenin, papa bakal tetep kangenlah. Lagian ayah kamu, kan, bakal tetep pulang juga. Nahan kangen beberapa hari doang mah papa bisalah,” tukasnya sambil membusungkan dada.
“Kalau lebih dari setahun, pa?”
Oikawa mengerjap dan bahunya otomatis turun. “Apa?”
“Kalau ayah perginya lebih dari setahun atau dua tahun, papa bakal tetep bisa tahan?”
Sekarang, Oikawa benar-benar merasa harus tahu masalah apa yang sedang menimpa anaknya.
“Kalau perginya emang karena alasan kerja…” Oikawa meneliti Tobio dari samping, masih berusaha menerka, “papa pasti bakalan nunggu.”
Tobio nampak seperti kesulitan memilih kata-kata selanjutnya. Dan Oikawa lagi-lagi dibuat sadar, inilah yang sedikit membedakan sang anak dengan suaminya. Tatkala Iwaizumi takkan ragu menyuarakan keberatan atau kesulitan dengan sendirinya, Tobio punya tendensi untuk menyimpannya sendiri kecuali mendapat dorongan.
“Kalau papa boleh tau…” Oikawa memulai kala menyadari Tobio takkan membuka mulut dalam waktu dekat, “siapa emang yang mau pergi?”
Meski tanpa perlu dijawab, Oikawa mampu menebak jawabannya sekarang.
“Shoyou—“ Tobio berhenti, tangannya memainkan ujung kaus tanpa henti, “katanya mau kuliah di luar negeri.”
“Oh.
Hanya itu reaksi yang bisa dia berikan.
Manakala dirinya masih diliputi keterkejutan, Tobio melanjutkan, “Katanya dia cuma iseng daftar habis disaranin guru olahraga… Dia cuma ngikutin step-stepnya, tapi tau-tau keterima. Habis lulus nanti… dia bisa langsung berangkat.”
Oikawa tidak tahu harus mengatakan apa. “Apa dia… nggak bilang ke kamu sebelumnya kalau mau daftar di luar?”
Tobio menggeleng. “Nggak bilang karena katanya dia sendiri yakin nggak bakal lolos.”
Oikawa menelan ludah. Ruang tamu itu lantas diselimuti keheningan. Ia berusaha membayangkan, bagaimana jadinya jika dia yang berada di posisi Tobio sekarang? Bagaimana kalau Iwaizumi yang akan pergi selama itu? Walau tadi ia bilang akan tetap menunggu, Oikawa tahu betapa kata-kata seringnya lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan.
“Kamu… nggak nyakin bisa nunggu selama itu?” Tanyanya hati-hati. Kalian, kan, masih bisa LDR— Oikawa ingin menambahkan, tetapi langsung menahannya begitu mendengar hela napas keras dari sebelahnya.
“Nggak tau, pa,” jawab anaknya pelan. “Padahal aku udah ngerencanain semuanya. Aku sama dia bakal kuliah bareng, lulus bareng, kerja, terus…” Oikawa seolah bisa mendengar nada frustrasi yang digunakan anaknya, “nggak tau. Sekarang aku nggak tau lagi.”
Oikawa ingin menjulurkan tangan dan memberi tepukan di bahu untuk sekadar menenangkan anak semata wayangnya. Tapi ia tahu, sebagaimana hari-harinya menghadapi Tobio, anak itu perlu diberi waktu— diberi ruang untuk berpikir.
Dan mendadak, persoalan mengadopsi anak menjadi yang terakhir dipikirkannya.
@fakeloveros