Hinata tidak pernah berjalan secepat itu.
Ia bahkan nyaris tersandung kakinya sendiri saat tengah memakai sandal. Topi yang diraihnya dari atas meja makan pun dipakai secara asal-asalan. Tangannya hanya melambai singkat kepada anjing menggonggong kepunyaan pemilik kafe sebelah gedung apartemennya. Hinata menggenggam ponselnya erat seiring laju detak jantungnya yang kian memompa di setiap langkah cepat yang ia ambil.
Kalau Tobio beneran ada di sini…
Hinata menelan ludahnya gugup. Seandainya sang kekasih sungguh berada di tempat yang sama dengannya, di sini— di Brazil, tempatnya mengejar impian maka itu akan menjadi hadiah ulang tahun paling sempurna. Tapi, kalau pria itu tidak ada dan ternyata semua ini hanya candaan iseng semata (yang mungkin diusulkan oleh Atsumu atau Kuroo), Hinata mungkin tidak akan mau berbicara dengan Tobio selama sebulan.
Karena rindunya bukan main-main; bukan sekadar ucapan tanpa makna yang akan hilang dalam sekejap melalui video call berjam-jam atau teks panjang yang nantinya hanya dibalas satu-dua kalimat oleh sang kekasih.
Hinata sering memendamnya sendiri; tahu bahwa rindu yang diucapkan berulang-ulang hanya akan menjadi beban bagi mereka berdua. Dan ia mendapat firasat Tobio pun melakukan hal yang sama demi berlangsungnya hubungan jarak jauh mereka. Oleh sebab itu, perbuatan seperti ini tentu tak pernah terpikirkan olehnya, terlebih jika memang benar dilakukan oleh seorang Kageyama Tobio.
Hinata menelusuri pantai dengan matanya begitu tiba. Ia berulang kali memastikan dengan foto yang dipasang Tobio di Instagram Story. Kalau pengamatannya benar, seharusnya Tobio berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Napasnya otomatis tertahan saat matanya menangkap sosok jangkung yang luar biasa familier— duduk di atas pasir sambil memainkan bola voli di tangan. Rambut hitam yang mengintip sedikit di bawah topi biru semakin menambah keyakinannya. Jadi, tanpa mengalihkan tatapan sedikit pun, ia mulai menghampiri sosok misterius tersebut.
Ketika tinggal terpisah beberapa jarak, subjek yang ditujunya mengangkat kepala.
Hinata nyaris berlari dan menubrukkan tubuhnya ke pria itu, tapi akibat keterkejutan yang terlalu menguasai, kakinya bahkan tidak sanggup bergerak lebih jauh. Syukurlah Tobio lebih cepat tanggap karena pria itu langsung berdiri dan menghampirinya dalam langkah besar.
“Surprise…?” bisik pria itu— yang lebih terdengar seperti pertanyaan —tepat di depan telinganya ketika tubuhnya diraup dalam rengkuhan erat. Hinata mengeratkan pelukan dan Tobio serta merta mengangkat tubuhnya hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah.
Dan walau memang ada beberapa pengunjung pantai yang melirik penuh rasa ingin tahu ke arah mereka, Hinata bisa mengabaikan karena tidak ada yang lebih penting dibanding kedatangan sang kekasih. Lagi pula, ini Brazil— orang lebih bebas melakukan apa saja di sini tanpa perlu memedulikan tatapan menghakimi dari sekitar.
Jadi, itulah yang dilakukannya begitu kakinya kembali menapak tanah.
Hinata hanya menjauhkan wajahnya sedikit, lantas mencium pria yang masih merengkuhnya tanpa aba-aba. Tidak diperlukan waktu lama hingga Tobio membalas ciumannya— keras dan menuntut. Ada juga rindu yang sama persis karena jarak ribuan kilometer itu akhirnya lenyap; akhirnya bersua dengan sentimen yang sama.
Ada tawa penuh ketidakpercayaan yang terlontar dari bibirnya ketika mereka berdua sama-sama membutuhkan oksigen. “Kamu gila.”
Sang kekasih menyeringai lebar, dan sesungguhnya Hinata bisa terbiasa dengan pemandangan ini; Tobio di bawah sinar mentari sore Brazil yang mulai merayap malu-malu. Dan hanya sebatas itu yang membuatnya kembali berjinjit, lalu menjatuhkan satu kecupan cepat di bibir kekasihnya yang masih tersenyum.
“Selamat ulang tahun,” lirih Tobio, ada semburat merah muda yang membuat Hinata semakin gemas ingin mencium pria itu sekali lagi. “Maaf aku telat ngucapin, lagi di pesawat soalnya.”
Kepalanya menggeleng-geleng, diikuti decak penuh canda. Pipinya mulai sakit akibat senyumnya yang terlalu lebar. Tapi, semua setara dengan apa yang menyambutnya sekarang.
“Kapan kamu ngerencanain ini? Emang gampang dapet tiketnya? Terus jadwal kamu gimana? Berarti ini ngambil cuti, dong?” tanyanya beruntun dengan mata berbinar penuh semangat. Langsung tersusun di otaknya beragam skenario dalam menghabiskan waktu bersama sang kekasih. Tidak mungkin, kan, Tobio ke sini hanya untuk satu-dua hari?
“Dari dua bulan lalu, terus sengaja langsung cari tiket sama minta cuti biar pas udah deket semuanya lancar,” biru netra pria itu mengamatinya lekat dari atas sampai bawah. “Kamu nggak nambah tinggi, ya?”
Kali ini, Hinata tak ragu dalam mencubit pinggang pria yang dilapisi kaus tipis berwarna putih itu hingga menimbulkan pekik kesakitan dari sang empunya.
“Heh! Seenggaknya sekarang aku lebih berotot,” pamernya sambil menunjukkan bisep hasil dari latihan kerasnya selama ini di atas pasir. Tobio mengangguk-angguk, mencondongkan tubuh hingga proksimitas mereka mampu membuatnya mengidentifikasi arti tatapan sang kekasih.
“Keliatan,” balas Tobio singkat. Penuh makna.
Hinata berdeham, lantas memperhatikan tempat yang tadi diduduki Tobio. Tas ransel pria itu masih teronggok di bawah pohon kelapa, ditemani bola voli yang terlupakan dan sebotol air minum. Jelas sekali pria itu langsung ke sini setibanya dari bandara.
“Mau ke tempatku sekarang? Kamu pasti capek.”
Dibilang seperti itu, Tobio meregangkan tubuh— mengangkat kedua tangan ke atas kepala hingga tatapan Hinata otomatis terarah ke abdomen yang nampaknya sangat mengundang untuk disentuh. Hinata harus menelan ludahnya sekali lagi sebelum cepat-cepat mengalihkan tatapan.
Sayang, gerakannya terlalu lambat untuk kecepatan refleks yang dimiliki Tobio berkat profesinya sebagai setter untuk tim nasional. Namun, pria itu tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih meraih tas dan barang lainnya yang tersebar di atas pasir.
“Ayo, deh. Mau cepet-cepet mandi rasanya, panas banget.”
Saat mereka mulai berjalan bersisian, Hinata menuturkan satu pertanyaan yang terlintas di otaknya, “Malem ini enaknya kita ngapain? Kalau kamu nggak capek, ada restoran yang enak banget di pinggir pantai. Nanti kita bisa makan malem di sana, gimana?”
Tobio hanya terus melangkah dengan wajah datar, tapi Hinata tahu pria itu tengah menimbang-nimbang jawaban.
“Besok aja, deh,” akhirnya, kekasihnya itu menjawab.
“Boleh. Kalau sekarang masih jet lag, ya?”
“Nggak juga karena sebenernya aku di pesawat banyak tidur,” gelengan dari Tobio ikut memberi jawaban. “Tapi aku belum ngasih kado ke kamu, kan.”
“Hah?” bibirnya membentuk O dengan bingung. “Emang bukan ini hadiahnya?”
Tobio mengangkat satu alis. “Apa? Aku yang dateng tiba-tiba gini maksudnya?”
Kepalanya dianggukkan tanpa suara.
“Katanya kamu mau dikasih surprise,” mulai pria itu dengan nada yang tak berubah; tetap datar, namun menimbulkan puluhan teka-teki.
“Iya, te… rus? Ini udah, kan? Aku kaget banget, loh, asal kamu tau!”
Tobio terkekeh; suara yang jarang sekali diperdengarkan dan hanya beberapa orang berkesempatan mendapat privilege tersebut. Hinata salah satunya, dan yang paling sering.
“Aku mungkin nggak pinter bikin kejutan, tapi…” salah satu tangan pria itu merangkul pundaknya dari samping selagi mereka tetap berjalan. Tobio menunduk dan menempelkan kening di pelipisnya sehingga pria itu mampu berbisik dengan mudah. “Bukan berarti aku nggak tau cara jadi pacar yang baik.”
Hinata menahan napasnya; tidak berkedip sama sekali untuk beberapa sekon.
Entah apa yang direncanakan sang kekasih, tetapi apa pun itu, Hinata punya firasat ia akan sangat menyukainya.
Berjam-jam setelahnya, ketika malam sudah memberi gelap di dalam ruangan berpendingin udara tersebut, ada dua insan yang terbaring menatap langit-langit. Hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur itu masih terdengar dari luar, menjadi latar pengisi keheningan serta alunan nina bobo yang nyaris membuat matanya terpejam. Namun, sentuhan halus di sepanjang lengannya sukses menggagagalkan niatan tidur tersebut.
Hinata menoleh ke samping— ke arah pria yang sudah mengubah posisi hingga tidur menyamping menghadapnya. Tatapannya sempat bergulir ke bawah karena dada telanjang kekasihnya itu sempat membuatnya sulit memfokuskan atensi— teringat Tobio yang tadi memerangkapnya dalam rengkuh tanpa jarak manakala mereka sama-sama mengejar nikmat.
Tapi, itu bisa direka ulang nanti.
“Sebenernya aku punya satu hadiah lagi.”
Hinata sontak mengerjap tak percaya saat suara Tobio memecah keheningan— ada lagi?
“Ini beneran Tobio bukan, sih? Lama-lama curiga deh Tobio yang asli udah diculik, terus gantinya ini alien yang dateng,” ujarnya tak masuk akal seraya mencubit pipi pria itu. Ia tiba-tiba teringat dengan salah satu film alien yang pernah ditontonnya bersama Oikawa.
Tobio hanya menyingkirkan tangannya lembut sebelum membawanya ke depan bibir untuk dikecup singkat. “Serius, aku ada satu hadiah lagi. Tapi kayaknya besok aja aku kasihnya.”
“Loh, kenapa? Sekarang aja!” Protesnya tak terima. Hinata berusaha menarik tangannya, tapi pria itu tetap menahan di sana.
Kekasihnya hanya menggeleng dua kali. “Besok aja.”
Hinata menunggu, tapi yang lebih jangkung itu tak kunjung memberi alasan. Jadi, ia berpura-pura merajuk dengan menarik paksa tangannya, lalu berputar sehingga hanya punggungnya yang menghadap ke arah Tobio.
“Ya udah, terserah!”
Sesaat, tak ada apa pun yang terdengar kecuali bunyi selimut dan derit kasur. Tahu-tahu, ada hangat yang melingkupi punggungnya dari belakang, diikuti hela napas hangat di ceruk lehernya. Pinggangnya dilingkari dua lengan kokoh yang menarik tubuhnya lebih dekat.
“Kalau aku kasih sekarang, janji kamu nggak akan teriak, ya?”
Hinata menggeliat kegelian saat napas pria itu berderu menyapa telinganya. “Emang kadonya bikin kaget? Atau bikin takut?”
“…Dua-duanya.”
Dan, berhenti di sana— Tobio tak melanjutkan untuk sekadar memberi alasan.
“Kenapa gitu?” pancingnya tak ingin kalah, dikuasai rasa penasaran.
“Kamu bakal kaget dan nuduh aku alien lagi— oh ya, mending kamu nggak bergaul lagi sama Oikawa, kamu mulai diracunin yang aneh-aneh sama dia— terus bakal bikin takut karena kalau udah nerima hadiahnya, kamu nggak boleh pergi ke mana-mana lagi.”
Itu penjelasan yang panjang, namun sulit dimengerti. Hanya perintah untuk berhenti menghabiskan waktu dengan Oikawa-lah yang terigester di otaknya. Dan Hinata yakin bukan itu poin terpentingnya.
“Aku janji nggak akan teriak,” tukasnya yakin, diikuti anggukan mantap. Kepalanya ditolehkan sedikit untuk menatap sang kekasih. “Janji.”
Walau Tobio menatapnya tak percaya, ada rasa puas yang bermain di balik iris warna blueberry tersebut. Hinata mengira, memang itulah jawaban yang diharapkan Tobio keluar dari mulutnya.
“Kalau gitu, tutup mata kamu. Aku ambil dulu hadiahnya— eh, jangan coba-coba ngintip, ya.”
Hinata mengikuti perintah tersebut dan menenggelamkan wajahnya ke atas bantal sehingga sekalipun ia membuka mata, hanya gelap yang akan terlihat. Ia menunggu dengan jantung berdebar keras sementara bunyi-bunyi seperti langkah kaki, ritsleting tas yang dibuka, lalu langkah kaki lagi, kemudian derit kasur mengisi telinganya. Saat keadaan kembali hening, Hinata menahan napas selagi menunggu.
“Sho,” panggil Tobio dari sisinya— pelan, tapi penuh kepastian, “coba buka mata kamu.”
Dan Hinata membuka mata.
Ia membuka mata.
@fakeloveros