Oikawa benar-benar pulang malam itu.
Setidaknya perasaannya memang lebih ringan setelah mengatakan yang sejujurnya kepada sang suami. Walau masih merasa bersalah karena telah berbohong, Oikawa bersyukur setidaknya Iwaizumi masih mengharapkannya pulang— tentu saja. Ditambah, Iwaizumi sudah berjanji akan mengutarakan alasan penyebab pria itu tidak langsung menerima usulannya. Dan Oikawa sendiri berjanji dalam hati bahwa dia akan mendengarkan dengan pikiran lebih terbuka. Seandainya memang Iwaizumi dan Tobio benar-benar menganggap berat keputusannya, dia tidak akan memaksa.
Omong-omong soal Tobio…
Oikawa yang baru menutup pintu ruang tamu, sedikit terkejut menemukan anak semata wayangnya sedang duduk sendirian di sofa depan TV. Yang lebih mengejutkan lagi, layar TV menampilkan tayangan dokumenter yang ia tahu hanya disukai oleh sang suami di rumah mereka. Jadi, berani bertaruh bahwa Tobio tidak menonton acara itu sama sekali.
Oikawa berjalan mendekati sang anak yang nampaknya belum menyadari kehadirannya. “Tobio? Ngapain? Kok jam segini belum tidur?”
Yang diajak mengobrol tersentak, lantas mengalihkan tatapan ke arahnya dengan mata terbelalak. “Eh, papa? Kapan balik?”
“Barusan. Emang nggak kedengeran?”
Tobio menggaruk kepala— membuat rambut pemuda itu semakin acak-acakan. “Nggak. Aku… lagi ngelamun kayaknya tadi.”
Oikawa duduk di sebelah anaknya dan menatap penuh rasa ingin tahu. “Tumben ngelamun? Lagi mikirin apaan emang?”
Anaknya itu tak langsung menjawab. Oikawa mengawasi dalam diam ekspresi Tobio yang terlihat risau. Biasanya hanya ada beberapa alasan yang bisa membuat Tobio galau seperti ini. Kalau bukan basket berarti—
“Ada hubungannya sama Hinata?”
Tobio menoleh. Cepat. Pemuda itu baru membuka mulut ketika tiba-tiba satu suara lain memotong mereka.
“Tooru?”
Oikawa ganti mengalihkan atensinya ke sang suami yang tahu-tahu muncul dari arah lorong kamar mereka dan memanggil namanya penuh kelegaan. Bibirnya otomatis menyunggingkan senyum melihat suaminya; baru disadari betapa ia sangat merindukan sosok si pemilik surai hitam tersebut.
“Besok aja, pa. Sekarang aku udah mau tidur.”
“Eh?”
Belum sempat Oikawa menahan anaknya, Tobio terlanjur beranjak dan melesat pergi menuju kamar. Iwaizumi pun hanya menatap bingung sang anak yang lewat begitu saja, sebelum keheningan serta merta melingkupi mereka.
Di saat tinggal berdua seperti itu, kegugupan otomatis menyerangnya. Oikawa memainkan ujung kausnya sembari tersenyum ragu. “Hai? Maaf ya, aku pulangnya malem banget. Tadi ibu ngajakin makan malem dulu soalnya.”
Tanpa diduga, dalam tiga langkah besar, Iwaizumi menghampiri dan menariknya ke dalam pelukan. Oikawa pasrah dan sebagai gantinya menghirup napas dalam— menghidu aroma maskulin dan campuran sabun yang menempel di kaus sang suami. Padahal cuma semalam dia menginap di tempat lain, namun rasanya seperti sudah puluhan tahun dia tidak bertemu Iwaizumi.
Mereka berpelukan seperti itu selama beberapa saat. Oikawa menenggelamkan kepalanya di atas bahu lebar sang suami, tersenyum saat merasakan pria itu menjatuhi ciuman di puncak kepalanya.
“Kamu nggak akan kabur lagi, kan?” Tanya Iwaizumi, yang dijawabnya dengan gelengan kepala selagi masih berada di posisi yang sama.
“Nggak akan nyembunyiin apa-apa lagi dari aku juga?”
Kali ini, Oikawa mengangkat kepala. Ia menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap jelas netra suaminya.
“Tergantung. Kalau kamu juga beneran mau ngasih tau aku alasan soal… itu, aku nggak bakal main rahasia-rahasiaan lagi.”
Iwaizumi mengangguk. Tatapan pria itu kini tampak serius. “Tapi kamu perlu tau juga, walaupun aku punya alasan, bukan berarti aku nolak.”
Oikawa menandang ragu. “Jadi… beneran sebenernya kamu mau?”
“Mau, kok. Apalagi anak cewek. Kamu maunya anak cewek, kan?”
Kepalanya dianggukkan, sedikit tersipu malu. “Yah, terlepas dari alasan utama, bayanginnya seru aja gitu kalau punya anak cewek…”
“Karena bajunya lucu-lucu?” Selidik sang suami sambil tersenyum kecil.
“Eh? Kok tau?”
Iwaizumi memutar kedua bola. “Lupa ya, IG kamu ada di HP aku juga? Pas kamu nge-like banyak postingan baju anak cewek, ya aku sadar, dong.”
Kali ini Oikawa benar-benar tidak bisa menyembunyikan semburat malunya. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena setelahnya ia teringat pula dengan Tobio.
“Eh, tapi Tobio…” Oikawa menggantung ucapannya, dan kepemahaman pun terlintas di mata suaminya.
“Iya, aku tau.” Iwaizumi terdiam sejenak. “Apa gara-gara itu dia pundung dari tadi? Tadi juga aku ajak makan nggak mau, nggak laper katanya.”
Tobio? Nggak laper? Bagi Oikawa, itu konsep yang aneh— karena seingatnya selama ini, nafsu makan tertinggi masih dipegang oleh Tobio di kediaman mereka. Tidak peduli meskipun latihan basketnya tak berjalan lancar atau kalah dalam pertandingan, Tobio pasti tidak akan meninggalkan kata makan. Apalagi jika sudah ada Hinata mampir ke rumah mereka untuk ikut makan, Tobio bisa dalam sekejap melupakan segala masalah.
“Kayaknya bener, deh…” gumam Oikawa pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Pasti ada hubungannya sama Hinata, tambahnya lagi dalam hati.
“Apa? Apa yang bener?” Sahut Iwaizumi, meraih rahangnya dengan kedua tangan agar wajahnya terangkat. “Kamu ngomong apa barusan?”
Oikawa memilih tidak mengatakan apa pun untuk sekarang. Kalau Tobio memang mau membicarakannya, pemuda itu pasti akan datang sendiri nanti.
“Nggak, barusan aku ngomong sendiri, kok. Ngomong-ngomong, aku mandi dulu ya, baru kita lanjutin ngomong di kamar. Oke?” Oikawa mencium suaminya cepat, dan baru akan beranjak manakala Iwaizumi menahan gerakannya. “Apa?”
“Cuma mau bilang…” mulai sang suami, sambil membawa tangannya ke dalam genggaman hangat, “keputusan apa pun nanti, atau mau jadi berapa pun anggota keluarga kita nanti, kamu masih yang paling penting buat aku. Jadi, jangan anggap kamu bukan siapa-siapa di rumah ini. Aku nggak mau kamu mikir kayak gitu.”
Oikawa tak berkutik, teringat dengan pemikiran konyolnya yang merasa dirinya hanyalah pendatang baru. Bagaimana Iwaizumi bisa tahu?
“Kamu inget dulu pernah bilang apa ke Tobio?” Iwaizumi melanjutkan, seolah pura-pura tidak melihat keterkejutannya.
Oikawa menggeleng. Ludahnya diteguk pelan.
“Sayangku buat kamu itu seluas langit,” bisik pria itu, merengkuh wajahnya dengan kedua tangan dan menempelkan kening mereka. “Nggak ada ujungnya, nggak ada batasnya. Bukan cuma buat Tobio, tapi kamu juga.”
Oikawa tertegun, tak menyangka ucapan itu masih diingat oleh suaminya. Ia mengangguk, menahan rasa haru sembari ikut menggenggam tangan Iwaizumi yang masih merengkuh wajahnya.
Seandainya harapannya tidak bisa terkabulkan, Oikawa akan tetap bersyukur karena setidaknya ia tahu langit di atasnya akan selalu utuh.
@fakeloveros